
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
Sampai setelah Kristal menyudahi kegiatan mencuci tangan nya baru Damar berbicara.
"Jangan pernah sentuh cowok lain, kalo sampe kamu laku in itu, aku bakal suruh kamu cuci tangan 7 kali sekalian ama pasir!." Tegas Damar berucap memperingati Kristal.
"Iya maaf." Balas Kristal sambil memanyun kan bibirnya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
'Damar mau nya apa sih? Kadang cuek, kadang bodo amat, kadang juga possesive, terus kadang perhatian, semua sifat nya itu bikin merinding alias menakut kan.' Batin Kristal menjerit.
Sampai di dalam mobil.
Kristal duduk bersama Wulan di bangku belakang, dan Damar duduk di belakang kemudi siap untuk meluncur meninggal kan sekolah.
"Mau kemana nih kita? Langsung pulang kah?." Tanya Damar pada 3 orang di dalam mobil nya ini.
"Kita ke Cafe ZAARA aja." Kata Albhi.
"Iya ayo ke sana." Antusias Wulan menyahuti omongan Albhi.
"Ok, meluncur ke sana." Balas Damar. Dia menghidup kan mesin mobil dan bersiap meluncur meninggal kan gedung SMA Merdeka.
Di dalam mobil ramai dengan suara Wulan dan Kristal yang menyanyi mengikuti radio dalam mobil yang tadi di hidup kan oleh Albhi.
Sampai pada Cafe ZAARA suara mereka masih saja terdengar, Damar dan Albhi hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala heran melihat 2 gadis di depan nya ini, ceriwis nya itu loh, apa mereka ngga capek seharian ngomong terus? Itu yang Damar dan Albhi pikir kan.
Tapi mereka akan kesepian jika 2 gadis ini diam, aneh memang, kadang suara nya bisa ngangenin, bisa juga menjengkel kan. Dan Damar juga Albhi selalu ingin mendengar suara mereka.
Hingga saat akan memasuki Cafe, baru 2 gadis ini berhenti bersenandung.
"Assallammu'allaikum." Salam 4 serangkai itu pelan saat memasuki Cafe.
"Wah Cafe nya rame yah, padahal ini belum makan siang loh." Ucap Wulan antusias.
"Ayo bantu in Mbak-mbak kerja." Ajak Kristal semangat.
"Ngga mau." Tolak Wulan sambil bersedakep dada dan menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa?." Tanya Kristal sambil menaik kan sebelah alis nya ke atas.
"Tadi di pakiran, Bang Albhi janji in aku ABC, dia mau buatin aku ABC, dan aku menagih nya sekarang, lagian tujuan Bang Albhi ke sini pengen buatin aku ABC." Panjang Wulan bercerita.
"Kalian duduk aja di meja bar Cafe, jangan ke mana-mana." Suruh Damar pada 2 gadis cantik ini.
Wulan dan Kristal mengangguk kan kepala paham.
"Kamu mau ke mana Dam?." Tanya Kristal pada pria yang ia cintai ini.
"Ikut Albhi bikin ABC buat kamu." Jawab Damar datar, lalu dia berlalu meninggal kan 2 gadis ini memuju dapur Cafe bersama Albhi.
Sepeninggalan 2 cowok itu.
"Cieee Kristal." Goda Wulan pada teman sebaya nya ini.
"Ish! Apa an sih, ayo duduk, aku pegel berdiri mulu." Ajak Kristal dengan muka merah malu nya karena di goda Wulan.
Setelah sampai di meja bar Cafe.
"Hai Mbak Arel." Sapa Wulan pada pegawai ZAARA Cafe yang bertugas menjaga kasir ini.
"Hai juga Wulan, Kristal, loh? Kok udah pulang sekolah aja sih?." Tanya Mbak Arel.
"Iya Mbak, awal ajaran baru ngga ada perlajaran Mbak, baru ada besok lusa hari rabu." Jawab Wulan menjelas kan panjang lebar.
"Hmmm... gitu toh, ok ok Mbak paham... eh? Mau di buatin minuman apa nih?." Tanya Mbak Arel mengalih kan topik.
"Ngga usah Mbak makasih, kita lagi nunggu ABC nih dari Bang Damar sama Bang Albhi." Tolak Wulan halus.
"Ouh ok kalo gitu, selamat menunggu, Mbak tinggal layanin pelanggan dulu yah, kalian jangan ke mana-mana, udah duduk manis situ aja." Kata Mbak Arel yang di balas acungan jempol oleh Wulan dan Kristal.
Di dapur.
"Lu ke manain tuh coklat?." Tanya Damar pada Albhi sang sahabat.
"Ada tadi di tas, mau Gua kasih ke Mami atau kalo engga ke Mommy." Balas Albhi datar.
"Hmmmm... ok, terus Gua bikin apa nih?." Tanya Damar yang langsung mendapat perhatian Albhi.
"Bikin pancake aja, biar Gua yang bikin ABC nya." Kata Albhi memberi saran.
Damar mengangguk dan segera melaksana kan intruksi dari Albhi, sebelum memasak mereka mencuci tangan terlebih dahulu.
Di dapur, Albhi dan Damar tak hanya berdua, di snaa juga ada chef yang sedang memasak untuk pesanan pengunjung.
Kita kembali ke meja bar Cafe.
3 wanita paruh baya keluar muncul dari lantai dua Cafe ini dan menyapa Wulan juga Kristal.
"Loh? Kalian udah pulang?." Tanya Mama Akifa (Mama Kristal) dengan nada lembut.
"Assallammu'allaikum Mommy, Mama, Mami." Salam 2 gadis cantik ini kompak, mereka berganti an mencium punggung tangan 3 wanita cantik ini.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine, Alfi, dan Akifa.
"Iya Ma, kita udah sekitar 10 menitan si sini." Jawab Kristal sambil menampil kan senyum manis nya.
"Bang Damar sama Bang Albhi mana Sayang?." Tanya Mami Alfi pada Wulan lembut.
"Lagi bikinin kita ABC Mi." Jawab Wulan dengan cengiran khas nya.
"ABC? Bikin salah apa lagi tuh anak?." Alfi bergumam lirih bertanya-tanya pada diri nya sendiri.
"Udah ngga usah di pikirin, mereka ber 4 nih aneh emang hubungan nya." Bisik Akifa yang mendengar gumanan lirih sahabat nya ini.
"Iya udah biarin aja." Timpal Zarine ikut berbisik.
Kristal dan Wulan saling pandang bingung melihat Mommy, dan Mama mereka berbisik-bisik.
Dan dari pada mereka bingung sendiri, mereka pun bertanya.
"Mommy, Mama, sama Mami bisik-bisik apa?." Tanya Wulan sambil memiring kan sedikit kepala nya ke kiri menatap 3 wanita oaruh baya itu.
Kristal hanya menganggukkan kepala atas pertanyaan Wulan.
"Hahahaha... ngga ada apa-apa kok sayang." Jawab Mommy Zarine.
Wulan memasang wajah tak percaya dan menatap 3 wanita paruh baya ini aneh.
"Ah iya nanti pukul 3 sore Bang Angkasa sama Bang Pamungkas dateng loh." Akifa mengalih kan pembicaraan.
"Wah!." Binar bahagia dari mata 2 gadis ini terpancar dengan jelas.
"Kita boleh ikut jemput ngga Momm?." Tanya Wulan meminta ijin.
__ADS_1
"Minta ijin sama Daddy aja yah sayang, kalo Mommy sih iya-iya aja, tapi entah kalo Daddy." Balas Zarine yang kontan saja mendatang kan mimik wajah mendung di wajah Wulan.
"Dah jangan mendung gitu nanti biar Mommy bantu bilang sama Daddy." Hibur Zarine yang langsung mendapat senyuman manis Wulan.
"Mama mau ke mana nih?." Tanya Kristal pada sang Ibunda.
"Mau pulang, kalian kalo udah langsung pulang ke rumah, ngga ada keluyuran lagi." Pesan Akifa pada anak perempuan semata wayang nya ini.
"Siap Mama!." Seru Kristal sembari memberi hormat pada Ibubda tersayang nya.
"Ya udah Mommy, Mama, sama Mami, mau pergi dulu, asaallammu'allaikum." Salam Zarine.
"Wa'allaikum sallam, hati-hati." Pesan Wulan dan Kristal.
10 menit setelah kepergian Zarine, Akifa, Alfi. Damar dan Albhi muncul dari arah dapur sambil membawa nampan di tangan masing-masing yang di atas nya berisi ABC dan pancake.
Wulan dan Kristal bahagia melihat nya.
Damar dan Albhi duduk di hadapan Wulan, juga Kristal, jadi posisi dua gadis itu saling memunggungi.
"Wih pancake." Senang Wulan.
"Cuci tangan dulu habis itu makan." Suruh Albhi yang langsung di angguki dan di laksana kan.
4 menit kemudian. Setelah mencuci tangan dan membaca doa makan, 2 gadis itu makan di suapi oleh 2 cowok di depan nya.
Setelah menerima suapan ke 4 Wulan berbicara.
"Bang Albhi ngga makan juga?." Tanya Wulan.
"Lagi males makan manis, Bang Damar bikin emang buat kamu sama Kristal." Ucap Albhi jelas yang di angguki Wulan.
"Kata Mami Alfi, nanti jam 3 sore Bang Angkasa sama Bang Pamungkas tiba di sini." Beri tahu Wulan senang. Albhi mengangguk kan kepala sebagai jawaban pemberitahuan gadis mungil nya ini.
"Tadi ketemu sama Mami? Sama Mommy dan Mama Akifa ketenu juga?." Tanya Albhi yang di jawab angguk kan cepat oleh Wulan.
"Setelah makan ABC nya kita harus pulang." Ujar Damar tiba-tiba.
"Siap!." Seru Kristal dan Wulan kompak.
Tak sampai waktu 20 menit untuk menghabis kan pancake dan ABC yang ada di depan mata ini, setelah semua nya habis 4 serangkai berniat pulang ke rumah.
Saat perjalanan pulang.
Pandangan mata Wulan ke arah langit yang mendung gelap.
"Ini bulan apa?." Tanya Wulan tiba-tiba pada 3 orang di dalam mobil ini.
"Bulan Juli, emang kenapa sih Lan?." Tanya Kristal balik.
"Liat deh di luar, kok mendung? Bukan nya udah masuk musim kemarau yah?." Tanya heran Wulan, pandangan nya masih mengarah pada langit.
"Hujan di bulan Juli berarti." Balas Albhi datar.
Dan... .
Hujan turun begitu deras nya (Ngga aku serta in bunyi nya bingung jabarin nya, wkwkwkwk).
"Wah beneran hujan, ayo turun kita main." Ajak Wulan antusias bak Bocah yang mendapat apa yang ia mau.
"Ngga ada turun di jalan! Kita main hujan di rumah, itu pun setelah dapat ijin Mommy, Mama, sama Mami." Tegas Damar dan Albhi kompak.
'Khem!.' Wulan dan Kristal mendengus jengkel pada ucapan 2 pria ini.
Dan dengan berat hati, 2 gadis itu pun hanya bisa bermain air lewat kaca jendela mobil yang di buka sedikit.
Setelah sampai garasi mobil rumah Mommy Zarine, dan Daddy Rafka, 4 remaja ini masuk melewati pintu yang ada di garasi, dan itu menembus ke pintu dapur.
"Assallammu'allaikum." Salam 4 remaja itu kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab para ART sopan.
"Bi? Mommy, Mama, sama Mami udah sampe rumah kah?." Tanya Wulan.
"Sudah Nona, bahkan 1 jam 25 menit yang lalu sampai nya." Jawab ART itu jelas.
Para ART hanya mengangguk kan kepala sebagai jawaban.
Tepat di masuk dan sampai ruang santai.
"Assallammu'allaikum semua?! Kami pulang!!." Seru Wulan semangat.
"Wa'allaikum sallam." Balas Zarine, Alfi, Akifa tak kalah semangat menjawab salah anak-anak mereka.
"Mommy? Boleh ngga kalo kita main hujan?." Wulan meminta ijin pada Ibu Ratu.
Mommy Zarine melihat jam yang menempel di dinding rumah nya dengan eskpresi tak terbaca.
"Engga." Mommy Zarine tak memberi ijin pada anak-anak nya.
"Tapi-." Ucapan Wulan terhenti karena mendapat selaan lagi dari Mommy Za.
"Ngga boleh main ujan sayang, kalo kamu sakit gimana?." Kata Mommy Za jelas di raut wajah nya terdapat kecemasan.
Kalo Wulan ngga bisa bujuk Mommy, giliran Kristal bujuk Mama Ifah, pandangan Ibu dan anak itu bertemu, Kristal menampil kan wajah memohon nya lengkap dengan puppy eyes nya.
"Jawaban Mama sama kaya Mommy, engga!." Tegas Ifah pada sang anak.
"Gini deh, nunggu ba'da dzuhur aja main nya, habis sholat, habis makan, baru boleh main." Hibur Mami Alfi pada 2 gadis di depan nya ini.
Mata Kristal dan Wulan berbinar terang.
Dengan angguk kan semangat, 2 gadis ini pun menyetujui perkataan Mami Alfi, kemudian setelah perbincangan meminta ijin itu selesai, Wulan menggandeng tangan Kristal menarik nya untuk ikut naik ke kamar nya.
Dan dengan senang hati Kristal mengikuti.
Sepeninggalan Wulan dan Kristal.
Mami Alfi mendapat tatapan datar baik dari 2 sahabat nya mau pun dengan dua anak bujang nya.
"Apa? Salah kah?." Tanya Mami Alfi dengan wajah tanpa dosa.
"Ngapain Mami ngasih harapan?." Tanya Albhi tak suka.
Mami Alfi terkekeh pelan mendengar pertanyaan dari anak kandung nya itu.
"Mereka berdua tuh orang nya pikunan, pasti habis sholat dan makan mereka akan langsung tidur, jadi ngga akan inget ama ujan." Kata Mami Alfi percaya diri.
"Kalo beneran di tagih, awas kamu Fi." Ancam Mommy Zarine.
"Hehehe... ngga berani jamin sih kalo mereka ngga nagih." Kekeh Mami Alfi lagi.
"Dah lah bolehin aja kalo di tagih, asal nanti pake jas ujan." Putus Mama Akifa akhir nya.
"Ini anak-anak Mami yang bujang kenapa masih di sini? Sana ganti baju, mandi sekalian bentar lagi dzuhur kita sholat jamaah, Bang Bhibhi imam nya." Kata Mami Alfi menyuruh anak-anak nya ini bersiap sholat dzuhur.
"Jangan panggil Bang Bhibhi Mi." Protes Albhi tak suka.
"Kenapa ngga boleh? Wulan sah-sah aja tuh panggil kamu gitu." Tanya Mami Alfi jahil.
"Udah ah, permisi semua kami pergi dulu." Pamit Albhi mengalih kan topik perbincangan.
Albhi dan Damar pun ke kamar mereka masing-masing.
Di ruang santai.
"Anak kalian yang cowok tuh cuek-cuek mau, gemes aku liat nya." Kata Akifa pada Alfi dan Zarine.
"Ngga tau juga deh, pusing sendiri kalo mikirin mereka, seberjalan nya aja deh, kalo jodoh ngga bakal kemana." Balas Alfi acuh.
"Dari pada bingung mending kita bantu Bibi masak di dapur, jangan ngerumpi in anak-anak biarin aja mereka." Kata Mommy Zarine mengajak Mama Akifa dan Mami Alfi.
Hujan di luar masih belum reda, di garasi terdengar 3 suara mobil baru memasuki nya.
"Kaya nya Rafka, Abdiel, ama Abhi nih yang pulang." Tebak Akifa yang di angguki oleh Zarine dan Alfi.
"Udah lanjut aja masak nya." Kata Alfi pada ke dua sahabat nya.
Rafka, Abdiel, dan Abhi masuk lewat pintu dapur.
__ADS_1
"Assallammu'allaikum." Salam mereka bertiga kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab 3 wanita yang tengah masak ini, di dapur tidak ada ART karena Zarine tadi menyuruh mereka untuk beristirahat saja.
3 wanita itu langsung memcium punggung tangan suami masing-masing dan segera menyruh mereka ke kamar untuk bersiap-siap sholat dzuhur berjamaah.
Ba'da dzuhur pukul 12.30 siang.
6 serangkai para tetuah dan 4 serangkai para muda-muda sedang santap siang di atas meja makan yang luas dan panjang ini.
"Dek? Di makan dong brokoli nya, kenapa malah di oper ke Abang semua?." Tanya Damar pada Wulan sang adik.
"Wulan kan ngga suka sayur hijau itu Abang Damar, jadi Abang aja yang makan yah." Ucap Wulan sambil cengengesan menampil kan senyum 5 jari nya.
"Ya deh taruh aja." Jawab Damar pasrah.
Mommy Za dan Daddy Rafka melihat kelakukan anak perempuan nya ini hanya menggeleng kan kepala tak paham.
Sedari kecil Wulan memang tak menyukai sayuran yang bernama brokoli ini entah lah apa alasan nya, Za sang Ibu saja tak tau, tapi dengan sayur yang bernama pare Wulan sangat suka, aneh memang, tapi itu kenyataan nya.
Setelah selesai memindah kan semua brokoli ke piring Damar sang Abang, saat akan kembali melanjut kan makan, tepat di depan mulut Wulan terdapat satu suapan brokoli yang di beri kan oleh Albhi.
"Buka mulut." Perintah Albhi tegas.
"Ngga mau." Tolak Wulan mentah-mentah.
"Ini enak Lan, percaya deh." Bujuk Albhi pada gadis mungil nya ini.
Bukan nya terbujuk, Wulan malah merapat kan mulut nya sambil memggeleng kan kepala cepat pertanda tak mau.
"Satu suap." Kata Albhi masih berusaha.
Dan sekali lagi Wulan menggeleng kan kepala cepat.
'Huuufffhhh... .' Albhi pun pasrah dan menjauh kan sendok nya dari mulut Wulan.
"Apa alasan nya kamu ngga suka sayur itu?." Tanya Albhi.
"Bentuk nya aneh, rasa nya juga ngga suka." Wulan menjabar kan kondisi fisik dan rasa sayur brokoli itu dengan sedikit mengedik kan bahu nya.
Para orang tua dan Kristal juga Damar yang melihat tingkah 2 sejoli ini terkekeh pelan.
Si pria meyakin kan si cewek bahwa brokoli itu enak, tapi si cewek bilang sebalik nya, sampai di cowok pun mengalah dan tak memperdebat kan lagi masalah brokoli.
Kejadian di meja makan seperti ini sudah sering kali terjadi, dan siapa lagi pelaku nya kalo bukan Wulan dan Albhi, Kristal Damar jarang berdebat karena memang mereka tak menyukai adu mulut yang akan membuat kepala pusing.
Sehabis makan siang seluruh keluarga berkumpul di ruang santai.
Hujan di luar masih terdengar lebat.
Wulan dan Kristal sampai membawa selimut untuk di guna kan menghalau hawa dingin.
Mereka berdua sudah lupa dengan rencana ingin main hujan dan sekarang mereka tengah bermain dengan selimut di temani bolu pandan dan segelas teh hangat.
"Daddy, Papa, sama Papi ngga balik ke kantor?." Tanya Wulan sambil asik memakan bolu nya sambil sesekali menyuapi Albhi, Bang Damar nya dan juga Kristal bergantian.
"Engga, besok aja, di kantor juga ngga ada meeting penting, jadi masih bisa di urus sama Asisten dan sekretaris." Balas Daddy Rafka panjang.
Wulan menyahuti dengan angguk kan kepala paham.
"Em... Daddy?." Panggil Wulan pada sang Ayah.
"Why baby?." Sahut Rafka pada anak nya itu.
"Boleh ngga kalo kita ikut jemput uncle Rafa dan uncle Idan?." Wulan meminta ijin pada Daddy nya dengan wajah penuh harap nya ini.
"Wulan sama Kristal nunggu di rumah aja sama Bang Damar dan Bang Albhi." Rafka mengelus pucuk kepala Wulan dengan sayang, bermaksud menolak dengan bahasa halus.
"Nanti Mommy, Mama Akifa, sama Mami Alfi ngga ikut jemput uncle." Imbuh Daddy menghibur sang anak.
"Ya udah kita ngga ikut, tapi bawa in Wulan sama Kristal martabak manis pulang nya." Pinta Wulan yang di angguki semangat oleh Kristal.
"Ok boleh." Balas Daddy Rafka menyanggupi.
Waktu terus berputar, pukul 14.10 siang hujan reda dan 4 serangkai tertidur di bawah selimut hangat membungkus mereka bak kepompong.
Para tetauh yang melihat 4 serangkai tertidur pulas merasa damai.
Mommy Za melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya.
"Udah jam 2 lebih jemput gih Bang Idan di bandara, bentar lagi Bang Rafa pasti sampe juga." Suruh Mommy Za pada Rafka dan juga Abdiel, Abhi.
3 pria dewasa itu mengguk kan kepala meng iya kan.
Tepat pukul 15.00 bersamaan sengan adzan ashar Bang Rafa Kak Raina juga anak mereka yang bernama Pamungkas dan Bang Idan Tika bersama anak nya yang bernama Angkasa tiba di kediaman Rafka Zarine.
"Tolong jangan keras ngucapin salam nya, anak-anak tidur di ruang santai soal nya." Pinta Zarine sebagai seorang Ibu dan di angguki oleh mereka yang baru datang ini.
"Assallammu'allaikum." Salam mereka kompak.
"Wa'allaikum sallam." Balas Zarine, Akifa, Alfi.
"Kalian bersiap gih sana bentar lagi kita sholat ashar jamaah." Suruh Alfi pada para tamu ini.
"Raf? Diel? Jangan masuk kamar dulu, angkat Wulan sama Kristal ke kamar nya." Perintah Akifa yang langsung di angguki Rafka Abdiel.
Damar dan Albhi di bangun kan dengan ulah jahil Angkasa dan Pamungkas.
"Ck! Kalian yah, baru dateng udah ngacau aja, masuk kamar sana, bersih-bersih! Ngga usah ganggu in orang tidur!." Tika dan Kak Rain kompak memerintah.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Yuhu... puasa tinggal 2 hari lagi nih.
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1