Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Two


__ADS_3

Mereka ber 6 sekolah di SMA Merdeka. Sekolah favorite yang muridnya selalu membawa pulang piala atau medali emas saat lomba akedemik maupun non akudemik.


Sekolah swasta itu adalah milik Ayah Rafka, tapi murid disana tidak tau, hanya para Guru dan sahabat yang tau. Walau anak pemilik sekolah, Ayah Rafka meminta untuk memperlakukan Rafka seperti murid umumnya dan tidak memberi perlakuan istimewa apapun.


Gedung SMA Merdeka ini terdiri dari 4 lantai. Lantai dasar untuk ruang para duewan guru dan kepala sekolah, ada juga lapangan yang terdiri lapangan basket outdoor indoor, sepakbola, futsal, dan voli. Sebelah lapangan sepakbola ada masjid khusus sekolah, ada juga 2 kantin dipojok sekolah, lantai 1 untuk kelas 10 IPA 1-7 dan IPS 1-7 pula dilengkapi dengan kamar kamar mandi pria wanita, tangga, juga 1 lift, dilantai 2 kelas 11 dan 3 kelas 12, fasilitasnya sama dengan lantai 1.


Dengan gedung yang mewah dan megah. Orang tua murid juga tidak membayar sedikit untuk biaya anaknya sekolah.


Maka dari itu para Guru selalu mengingatkan untuk tak menyia-menyiakan kesempatan bersekolah.


---Kembali ke Zarine dan Rafka---


Zarine, Rafka dan lainnya ditempatkan dikelas 11 IPS 1, mereka semua memang menyukai IPS.


---Bel istirahat berbunyi---


"Guys kantin yok?." Ajak Abdiel.


"Jangan kantin deh rame males desakan Gua, ngap." Kata Alfi yang diangguki Akifa.


"Beli siomay didepan aja gimana?." Tanya Zarine.


"Ngga!." Tegas Rafka.


"Kenapa?." Tanya Zarine dengan memasang wajah sedihnya.


"Kamu udah sering makan itu, lainnya aja ya?." Kata Rafka dengan nada lembut sembari mengelus kepala Zarine yang tertutup kerudung.


"Hareudang..... hareudang..." Kata Abdiel yang hadiah i jitakan pelan dari Akifa.


"Bilang aja Lo iri Bambank." Kata Akifa dengan muka mengejek.


"Kayak Lo ngga aja Maysaroh." Balas Abdiel dan mendapat pelototan mata dari Akifa.


"Kalian ngga capek perang mulu?." Tanya Alfi dengan wajah malasnya melihat kelakuan 2 anak manusia itu.


"Ngga." Jawab Abdiel dan Akifa bersamaan dan itu membuat semuanya menahan tawa.


"Awas jodoh loh." Kata Zarine yang sukses membuat Abdiel dan Akifa melotot kaget.


Sebernya semuanya sudah tau kalo Abdiel dan Akifa saling mencintai, hanya saja tidak tau caranya mengungkapkan. Sama halnya dengan Alfi dan Abhi semuanya sudah tau, tapi karena sifat mereka yang sama-sama seperti batu es mereka memilih memendamnya.


Setelah pertengkaran itu Zarine, Rafka dan lainnya keluar kelas dan menuju kedai siomay didepan sekolah dan jajan disana.


Ditempat siomay pun sama, Abdiel dan Akifa berebut siomay.


"Siomay Lo kok enak benget sih Fa?." Tanya Abdiel dengan menusuk 1 siomay Akifa.


"Sama aja kok rasanya ama punya Lo." Kata Akifa menusuk siomay Abdiel.


"Punya Lo lebih enak, tuker ya?." Pinta Abdiel dengan mengangkat piring Akifa.


"Eh, enak aja, ogah!! Udah itu makan punya Lo sendiri." Kata Akifa menahan piringnya.


Dan terjadilah perang berebut siomay yang membuat Zarine, Rafka, Alfi, dan Abhi geleng kepala pusing melihat tingkah mereka.


---Pulang sekolah pukul 15.30 setelah menunaikan sholat Ashar.---


Mereka ber 6 tidak langsung pulang, tapi mereka bermain basket sebentar, hanya Zarine yang ngga ikut.


Zarine duduk ditribun basket, tiba-tiba dari atas ada yang menyiramnya menggunakan air jus jeruk dan mengotori jilbabnya.


"Allahu Akbar." Kaget Zarine.


Kejadian itu dilihat oleh Rafka dan dia langsung berlari dan memeluk Zarine.


Rafka memasang wajah dingin dan datarnya pada orang yang menyiram Zarine. Abhi dan lainnya sudah ada didekat Rafka dan menatap kaget pada Zarine, lalu menatap pelaku penyiram dengan wajah kesal.


"Maksud Lo apa nih?!." Tanya Akifa dengan alis menukik tajam.


"Itu pelajaran buat Cewek sok alim tapi penggoda, dasar jala-." Belum sempet selesai bicara, tiba-tiba leher Cewek itu dicekik oleh Alfi dan membuatnya terbatuk.

__ADS_1


"Jaga ucapan Lo!!." Kata Alfi penuh amarah.


Seketika Abhi menarik tangan Alfi lalu memeluknya agar tak mendekat pada Cewek itu lagi.


Cewek itu lalu dihampiri temannya dan mengajaknya pergi tapi dia tidak mau.


"Lepasin Gua Tik, Gua belom puas!!." Kata Cewek itu pada temannya yang bernama Tika.


"Lo tuh kurang kerjaan ya Sari?!, Lo mau disiram kayak Zarine ha!!." Kata Akifa menatap tajam Cewek yang bernama Sari itu.


Sari, Cewek 11 IPS 4 yang terobsesi dengan Rafka.


"Salah dia sendiri ngapain dia nempel-nempel ama Rafka satu bulanan ini?!." Seru Sari dengan berusaha melepaskan diri dari cekalan Tika.


"Ya wajar dong nempel, mereka punya hubungan, apa hak Lo nglarang mereka deket? Emang Lo siapanya Rafka? Buang obsesi ngga guna Lo itu Sar, sadar Sar, Lo itu udah ditolak ama Rafka, jadi gak usah mimpi ketinggian." Kata Akifa dengan menekan kata 'ditolak'.


"Ngga!! Gua ngga terima!." Seru Sari dengan masih berusaha lepas dari tahanan Bella.


"Tika, bawa pergi." Pinta Abhi dingin dan diangguki Bella.


Tika pun menyeret Sari untuk pulang dan Sari meronta menolak dengan memaki Zaline juga lainnya.


"Kamu ngga papa kan Yang." Tanya Rafka dengan pandangan lembut dan dibalas gelengan kepala dengan senyum manis oleh Zarine.


"Ayo pulang." Kata Abhi dan diangguki lainnya.


Sekolah sudah sepi dan jam pun sudah menunjukkan pukul 16.00 sore.


Zarine dibawa oleh Rafka dengan digendong.


"Aku bisa jalan Yang." Protes Zaline lembut dengan wajah merah malu dengan perlakuan Zarine.


"Udah diem, huts." Kata Rafka.


Zarine pun menenggelamkan wajahnya didada bidang Rafka menyembunyikan pipi merahnya dan itu membuat Rafka terkekeh geli.


---Malam hari diapart pukul 19.00 dibalkon kamar.---


"Sari." Jawab Rafka singkat.


"Dia dulu pacar kamu?." Tanya Zarine ingin penjelasan.


"Bukan dan ngga akan pernah bisa jadi." Jawab Rafka tegas dan dengan mengeratkan pelukannya.


"Tapi aku liat-."


"Aku ngga peduli ama perasaannya, dia orangnya penuh obsesi, aku gak suka dia, dan malah jijik liat tingkah dia tadi." Kata Rafka menyela ucapan Zarine dengan nada dingin serta tegas.


"Jangan ngomongin dia lagi, mending ngomongin tentang kita aja." Lanjut Rafka dengan mencium pipi Zarine.


"Yang, kamu mau ngga kalo kita punya baby?." Tanya Rafka tiba-tiba.


Zarine tersenyum mendengar pertanyaan itu, lalu dia berbalik menghadap Rafka dan melingkarkan tangannya pada leher suaminya.


Sekarang Zarine hanya memakai baju tidur lengan panjang tanpa mengenakan hijabnya.


"Kalo kamu sendiri gimana?." Tanya Zarine balik.


"Kalo Aku pengen." Kata Rafka.


"Tapi kita masih kelas 11 SMA, kalo kamu hamil otomatis kamu berhenti sekolah." Lanjut Rafka dengan menekuk kepala sedih.


"Ya gak papa, aku ikhlas kok kalo memang harus berhenti." Kata Zarine dengan mengangkat dagu suaminya.


"Engga! Kalo kamu berhenti Aku juga akan berhenti, tunggu kita lulus aja, aku ngga mau egois." Kata Rafka dengan tersenyum.


Rafka mendekatkan wajahnya dengan wajah Zarine, lalu mengecup bibirnya sekilas, karena tak ada penolakan, Rafka ******* bibirnya pelan, Zarine membalas dan membuka mulutnya, Rafka langsung menelusupkan lidahnya menjelajahi isi mulut Zarine. Setelah mereka hampir kehabisan nafas mereka melepaskan bibir masing-masing lalu menyatukan kening mereka sebentar. Dan setelah itu Rafka menggendong Zarine dan menidurkan Zarine dikasur lalu ia sendiri berbaring disamping Zarine memeluk Zarine lalu tidur.


---Keesoakan harinya, pukul 06.20 Rafka dan Zarine sudah ada dikelas dan sedang mengobrol dengan Abdiel dan lainnya.---


Hari ini adalah hari Kamis tanggal 20 Agustus. Dan hari ini pelajaran pertama adalah olahraga, murid kelas 11 IPS 1. Satu kelas kompak memakai training dan kaos olahraga sekolah.

__ADS_1


"Hari ini kayaknya olahraga digabung ama kelas IPS 4 deh." Kata Abdiel.


"Kata siapa?." Tanya Alfi.


"Gua liat anak IPS 4 pada pakek olahraga semua." Kata Abdiel.


"Mending ngga ikut deh Gua kalo iya." Kata Alfi lagi.


"Awas aja tuh Lampir cari gara-gara." Kata Akifa dengan alis angrybirdnya.


"Belum puas Gua sebenarnya kemarin." Sambung Alfi.


"Bisa masuk penjara kamu kalo diterusin." Kata Abhi.


"Gak peduli! Lampir itu yang ngajak duluan!." Sungut Alfi.


"Udah lupain aja, akunya juga gak papa kan? Gak usah diperpanjang gak baik juga nyimpen dendam." Kata Zarine menenangkan.


Semunya menganggukkan kepala pertanda setuju.


Bel masuk berbunyi.


Setelah berdoa dan mendapat perintah dari guru olahraga bernama Pak Billy kelas 11 IPS 1 keluar kelas menuju lapangan basket.


Dan benar perkataan Abdiel, kelas 11 IPS 4 juga ikut olahraga.


"Gua gak ikut deh." Kata Alfi yang akan pergi tapi tangannya dicekal oleh Abhi.


"Hari ini penilaian." Katanya lembut.


"Ck, iya iya." Decak Alfi sebal.


Disebrang 11 IPS 1 Sari menatap Rafka dan Zaline dengan kesal karena melihat tangan mereka yang bergandengan.


"Ngga usah bikin ulah Sar, mereka aja ngga ganggu Lo." Kata Tika yang dapat menebak pikiran kotor Sari.


"Gua benci apapun yang mengusik milik Gua." Kata Sari.


"Sadar Sar, Rafka udah nolak Lo, bahkan berkali-kali." Kata Tika mengingatkan.


"Jangan bikin diri Lo rendah." Tambah Tika setelah itu dia melenggang pergi.


"Awas aja Lo penggoda." Kata Sari dengan senyum jahatnya.


Setelah berdoa dan senam agar tidak cedera saat olahraga. Penilaian basketpun dimulai. Semuanya melakuakan dengan baik.


Dan kini giliran Sari yang mendribell bola lalu memasukkan kering.


Awalny semua lancar, tapi saat akan memasukkan bola kering, Sari menjegal Zarine dan berakibat Zarine jatuh terngkurap dengan kaki terkilir.


"Allahu Akbar!." Seru Zarine dengan melempar bola dan mengenai ring yang membuat Rafka dan lainnya terkejut.


"Zarine!." Seru Rafka dan lainnya.


Rafka berlari dan menghampiri Zarine.


"Apanya yang luka Yang?." Tanya Rafka penuh kekhawatiran.


Dia menatap tajam Sari yang terlihat tersenyum tipis lalu memasang wajah sok bersalahnya.


"Kaki Aku rasanya terkilir Raf." Kata Zarine.


"Zarine maaf-."


"Bullshit! Jauh-jauh Lo Medusa." Kata Akifa tajam.


Rafka menggendong Zarine dengan melemparkan tatapan tajam pada Sari, yang ditatap memasang wajah kesal karena melihat Zarine digendong Rafka.


"Belum puas Lo ama yang kemarin? Mau tambah? Sini! Tangan Gua udah gatel soalnya." Kata Alfi ingin memcekik leher Sari lagi tapi ditahan oleh Abhi.


"Udah! Ayo ini dilanjut dulu, Zarine akan dirawat sama penjaga UKS, ayo yang belum penilaian lanjut." Kata Pak Billy.

__ADS_1



__ADS_2