Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Twenty-four


__ADS_3

"Kita fokus lagi sama Zarine." Ucap Bang Rafa dengan muka mulai serius lagi.


"Gimana rencana kita selanjutnya?." Tanya Abdiel.


----------------


"Rencana." Beo Papa Abhi.


"7 hari lagi 4 keluarga akan menyatu, kita jaga-jaga supaya mereka berdua ngga ngerusak acara." Kata Ayah Zarine.


"Tapi apa rencananya?." Tanya Mama Rafka.


"Gini aja... ." Semuanya mendengerkan ucapan Ayah Zarine dengan seksama.


Setelah 1 jam pembicaraan, 6 keluarga itu sepakat dengan usulan Ayah Zarine.


Pukul 23.00 6 keluarga pulang kerumah masing-masing.


Sedangkan di kediaman Fathan, semuanya masuk kekamar masing-masing dan tidur.


Pagi harinya.


Seluruh anggota keluarga Fathan duduk dimeja makan.


"Raf? Meeting kemarin gimana? Jadi kerja samanya?." Tanya Papa Rafka.


"Alhamdulillah jadi Pa." Jawab singkat Rafka.


"Assallammu'allaikum." Salam seseorang dengan ceria.


"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang dimeja makan.


"Bang Idan?! Kebiasaan kamu ya Bang, kalo pulang kasih kabar dong." Sungut Mama kesal.


"Hehehe, surprise!." Seru Bang Idan dengan terkekeh pelan.


Bang Idan menyalami seluruh keluarga yang ada dimeja makan.


Lalu Bang Idan duduk di sebelah Papa.


"Ouh iya tadi Gua nemu-."


"Ahhh itu punya Mama Bang, makasih yaaaa, kemarin Mama pesen sesuatu dari OlShop." Potong Mama cepat dengan merebut kado ditangan Bang Idan.


"Tapi itu untuk-."


"Iya Bang itu punya Mama, orang Gua sendiri kemarin yang pesenin." Serobot Rafka cepat.


Bang Idan heran, dia memandang Mama, Papa, dan Adiknya bergantian meminta perjelasan.


"Nanti kita jelasin." Bisik Papa pelan yang hanya bisa didengar Bang Idan.


"Yok lanjut makannya, ayo Bang ikut makan." Ajak Mama.


"Abang makan roti aja Ma." Kata Bang Idan.


Setelah sarapan Mama, Papa, dan Bang Idan duduk dikursi taman belakang.


Rafka Zarine duduk diayunan dekat kolam renang.


"Maksud Mama Papa apa soal kado itu?." Tanya Bang Idan.


"Kamu buka aja sendiri." Kata Mama dengan menyerahkan kado itu.


Bang Idan menerimanya dan kemudian membukanya.


"Astaghfirullah!." Kejut Bang Idan.


"Apaan nih maksudnya?!." Seru Bang Idan pelan tapi dengan nada emosi.


"Udah 1 minggu an kita dapet kado itu." Beritahu Mama pada Bang Idan.


"Siapa pelakunya?." Tanya Bang Idan lagi.


"Sari dan Rendy." Jawab Papa.

__ADS_1


"Dasar Medusa." Umpat Bang Idan.


Pasalnya dia tau siapa Sari yang dimaksud Papanya.


"Dan siapa Rendy itu Pa?." Sambung Bang Idan.


"Tetangga Zarine waktu di Surabaya dulu, dia mencintai Zarine, tapi Zarine hanya menganggapnya Kakak." Jelas Papa lagi.


"Terus gimana kelanjutannya?." Tanya Bang Idan.


Papa memberi tau semua rencana yang sudah 6 keluarga susun kemarin malam.


"Tenang aja Pa, Idan bakal ikut andil dalam semua ini, Za itu ngga pernah ngusik orang, dasar Medusa itu aja yang iri sama Za." Geram Bang Idan tersulut emosi.


Di ayunan dekat kolam renang.


Zarine bersandar pada pundak Rafka, dan Rafka mendorong ayunan dengan kakinya.


"Yang?." Panggil Rafka lembut.


"Iya?." Jawab Zarine dengan memperbaiki duduknya.


"Ada sesuatu yang mau aku omongin." Kata Rafka serius.


"Apa? Omongin aja." Jawab Zarine mempersilahkan.


"Yang? Mama Papa nyuruh kita pindah kesini, tinggal satu rumah dengan beliau, alasannya biar Mama bisa deket kita terus dan biar ada temen kalo dirumah sendirian." Jelas Rafka panjang lebar.


Rafka tidak sepenuhnya berbohong, memang Mamanya merasa kesepian jika semua anggota keluarga pergi bekerja dan Mama tinggal dirumah sendirian.


Meski ada para ART, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Kamu setuju kan?." Tanya Rafka.


Zarine memandang mata Rafka dalam.


Kemudian Zarine tersenyum manis dengan menggenggam tangan Rafka lembut.


"Kemanapun kamu membawa aku, aku bakal ikut asalkan kamu juga ada disamping aku." Kata Zarine.


Rafka pun memeluk Zarine dan mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan sayang.


"Kita ambil kapan barang-barang kita di apart?." Tanya Zarine.


"Sekarang aja gimana? Mumpung masih pagi." Kata Rafka dengan melepas pelukannya pada Zarine dan beralih melihat jam yang melingkar pergelangan tangan kirinya.


"Masih jam setengah sembilan, ayo kita ambil sekarang." Ajak Rafka.


Rafka menggandeng tangan Zarine dengan erat.


Lalu Rafka meminta ijin kepada Mama Papanya untuk kembali ke apart sebentar.


Mama Papa Rafka mengijinkan asal berangkat dengan supir.


Rafka meng iya kan lalu bergegas keluar rumah dan berangkat.


25 menit perjalanan mereka berdua sampai di parkiran apart.


"Pak, tunggu disini ya, cuma sebentar kok." Pinta Zarine.


Sampai di dalam apart.


Mereka berdua menuju kamar dan menata semuanya kedalam koper besar.


30 menit kemudian semuanya sudah siap.


Rafka membawa koper keluar dan menuju parkiran apart.


"Pak? Tolong." Pinta Rafka pada sang supir yang sedang menunggu.


Setelah memasukkan koper kedalam bagasi mobil.


Rafka, Zarine dan Pak Supir muluncur pulang kerumah Rafka.


Sesampainya dirumah Zarine menata pakaian dilemari dibantu Rafka.

__ADS_1


"6 hari lagi Abhi Alfi dan Akifa Abdiel nikah, ahahahaha lucu ya, kita nikah sama sahabat sendiri." Kata Rafka dengan tawa pelan.


Mereka saat ini sedang rebahan diatas kasur dengan Zarine menyandar didada bidang Rafka.


"Alhamdulillah, kita semua makin nyatu dan in syaa allah ngga akan berpisah, persahabatan kita ngga akan putus." Ucap Zarine.


"Aamiin." Balas Rafka.


"Yang?." Panggil Rafka.


"Hm?." Jawab Zarine dengan mendongak menatap Rafka.


"Aku mencintai kamu." Ungkap Rafka tulus dengan memandang mata Zarine lembut.


"Aku juga mencintai kamu." Balas Zarine.


Rafka makin mengeratkan pelukannya dan Zarine menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rafka.


Mereka berdua tertidur dengan nyeyak sampai adzan Dzuhur berkumandang.


Malam Hari.


6 keluarga kembali berkumpul dirumah Rafka.


"Abdiel?! Itu ayam Gua Bambank." Teriakan Akifa menggema.


"Ambil lagi sih Fa, masih banyak juga itu dimangkok." Kata Abdiel tanpa dosa.


"Itu udah Gua gigit, balikin!! Elah." Sengut Akifa jengkel.


"Udah Lo gigit? Ini juga udah Gua gigit." Jawab Abdiel lagi.


"Dasar kebiasaan." Umpat Akifa.


"Haduh, ada ya pasangan kaya kalian, mau nikah bukannya romantis, ribut aja hobinya." Keluh Mama Akifa.


"Ahahahaha, mereka itu langkah Ra, kamu ngga akan paham." Kata Mama Abdiel dengan tertawa pelan.


"Udah biarin mereka ribut, selama masalahnya kecil dan ngga memicu badai, biarin aja buat meramaikan meja makan." Timpal Papa Akifa dan membuat seluruh meja makan tertawa.


Pukul 20.00 malam 6 keluarga masih berkumpul ruang keluarga.


6 serangkai, Rafka, Zarine, Akifa, Abdiel, Abhi, dan Alfi duduk di ruang TV.


Kalau Bang Rafa dan Bang Idan duduk diteras luar.


"Lo udah tau tentang adek Gua kan Dan?." Tanya Bang Rafa.


"Udah, kurang kerjaan banget orang itu." Geram Bang Idan.


'Hufffh.' "Gua juga ngga paham, setau Gua Za ngga pernah ganggu orang." Kata Bang Rafa.


"Orang neror itu bukan hanya karena punya salah Raf, teror itu juga bisa dateng karena iri." Jelas Bang Idan.


"Ya Lo bener." Bang Rafa membenarkan ucapan Bang Idan.


Pukul 22.30 semua keluarga pulang ke kediamannya masing-masing dan istirahat untuk mengembalikan tegana agar besok kembali semangat.


Bersambung...


Hai... hai... Readers tersayang😍


Like dan komen karya ku yaaa😋


Jangan bosen-bosen baca ceritaku yang jauh dari kata bagus ini


Aku ngga bisa balas satu-satu komen kalian, maaf🙏


Tapi untuk yang minta mampir balik ke karya kalian udah aku laksanain walau ngga semua


Tetap semangat ya para Author yang komen dan baca karyaku


Satu hal yang pengen aku bilang ke kalian


Tak Ada Sukses Tanpa Proses☺.

__ADS_1


__ADS_2