
"Tolong Pak." Terdengar suara perempuan disana.
"Sari?." Panggil Pak kelapa sekolah terkejut, beliau membeku sesaat.
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...T A D I . . ....
...S A R I ♡ R O Y <\=\=\=> S T O R Y . . ....
-
-
-
"Iya Pak betul ini saya." Ucap Sari.
"Sari?, kamu sembuh?." Kata itu yang keluar dari bibir Pak Kepala sekolah.
"Tito Mangunkusomo!!! Jaga bicaramu!!." Teriak Roy dari sana.
"Maaf Pak Roy, maaf kan ke lancangan mulut saya." Ucap Pak Tito kepala sekolah SMA Merdeka.
Di tempat Sari dan Roy.
Roy sengaja men speaker obrolan Sari dengan Pak Tito karena ingin mendengar apa yang di katakan Pak Tito ketika Sari menyapa.
Dan benar, perkataan Pak Tito sangat membuat Sari sedih walau dia tak mengatakan nya.
Sari membisukan panggilan.
Kemudian dia menasehati Roy yang tadi teriak-teriak bak di hutan.
"Roy apa an sih, jangan teriak-teriak ini rumah bukan hutan!, dan lagi beliau lebih tua dari kita, kita yang muda harus menghormatinya." Sari melototkan mata nya pada Roy.
"Aku ngga suka kalo kamu di tanya kaya gitu, kamu sehat ngga sakit ke sana cuma buat netralin emosi bukan lainnya!." Seru Roy panjang lebar.
"Iya, udah dong jangan marah minta maaf nanti sama beliau." Perkataan Sari melunak dan melembut.
Dia juga memeluk Roy sebentar dan berniat melanjut kan obrolan nya dengan Pak Tito.
Di tempat Pak Tito.
"Duh dasar mulut tak tau tata krama, kalo sampe Pak Roy mengadu pada pemilik sekolah, bisa ambyar jabatan ku, huhuhu, tapi pertanyaan ku kan benar." Celutuk nya
"Pak Tito?." Panggil Sari lagi.
"Oh Sari, Maaf kan perkataan saya tadi, maaf." Ucap Pak Tito.
"Iya ngga papa Pak." Jawab Sari.
"Saya juga minta maaf Pak karena berteriak kepada anda tadi." Ucap Roy.
"Hahaha tidak masalah Pak Roy, ouh iya dan untuk per ijin nan mengundurkan jam KBM bisa Pak, jam berapa Pak Roy akan kemari?." Pak Tito bertanya.
"Emmm, jam setengah 8 kita ke sana Pak, untuk pengumpulan para murid di kumpulkan di aula saja pukul 8 tepat." Jelas Pak
"Oh baik kalo gitu, saya tunggu kedatangan Pak Roy dan Sari." Balas Pak Tito.
"Pak tolong di rahasikan kedatangan kami." Pinta Roy.
"Siap Pak." Jawab Pak Tito.
"Terima kasih Pak, saya tutup dulu, assallammu'allaikum." Pamit Roy.
"Sama-sama Pak Roy, wa'allaikum sallam." Jawab Pak Tito.
Telepon terputus.
Di rumah Sari.
"Dasar Tito gila." Umpat Roy.
"Huts!! Ngga baik tau ngomong kaya gitu." Ucap Sari.
"Huuuuuu iya deh iya." Roy mengalah.
"Siap-siap gih sana kita bentar lagi berangkat udah jam 07.15 nih." Suruh Roy.
Sari naik ke kamar nya dan bersiap meninggalkan Roy di ruang keluarga.
Mama Sari berangkat ke tempat kerja nya 10 menit setelah Papa pergi.
Dan Roy datang 5 menit setelah Mama pergi.
Jadi Roy tidak mendapat pertanyaan macam-macam dari ke dua orang paruh baya itu.
Hanya butuh waktu 5 menit Sari sudah selesai bersiap.
Mereka meluncur ke SMA Merdeka.
Sesampai nya di tempat tujuan.
"Sepi bat yak?." Kata Sari.
"Ya kan mereka lagi pelajaran Yang, markas nya anak bolos itu biasa nya di kantin atau atab, ini kan tempat parkir." Jawab Roy.
"Hafal banget, sering bolos ya pas sekolah." Sari mengatai Roy.
"Ya kan aku cowok wajar lah kalo bolos." Bela Roy.
"Mana ada kaya gitu." Celutuk Sari.
"Ada lah, aku bukti nya." Ucap Roy dengan bangga nya.
"Idih pinter bolos aja bangga." Ledek Sari.
"Udah ayo turun dan menuju ruang KepSek." Ajak Roy mengalihkan pembicaraan.
Sari mengangguk, dia sudah akan membuka pintu mobil tapi... .
"Jangan buka dulu, pake ini." Roy memberikan kaca mata hitam, topi hitam, dan masker pada Sari.
Dia menurut dan memakai nya.
Setelah itu mereka keluar.
2 sejoli ini berjalan menyusuri koridor yang sepi nan sunyi.
Semua murid fokus pada pelajaran yang di terang kan oleh guru di kelas.
"Ngga kangen sekolah kah?." Tanya Roy tepat di telinga Sari.
Sari yang sibuk melihat-lihat setiap ruang kelas yang dia lewati terkejut dengan bisikan Roy.
"Aku memang kangen sama suasana kelas, tapi keputusan ku ngga akan berubah dari sebelum nya sekali berenti maka tetap itu yang akan terjadi." Kata Sari tegas.
"Ok, aku cuma bisa megikuti aja, tapi kalo kamu berubah pikiran, bilang aja sama aku, nanti aku cari in guru privat buat kamu." Kata Roy serius.
Sari hanya mengangguk meng iya kan.
"Roy?, makasih udah mau nerima aku apa adanya dan selalu ngedukung apa pun keputusan aku." Ucap Sari tulus kepada Roy yang berpredikat calon suami Sari.
"Sudah tugas ku untuk melakukan itu." Jawab Roy.
Mereka pun sampai di ruangan Pak Tito.
'Tok... tok... tok... .' Roy mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
'Ceklek.' Pak Tito membuka kan pintu.
"Assallammu'allaikum Pak Tito." Salam Roy dan Sari kompak.
"Wa'allaikum sallam, mari silahkan masuk Pak Roy, Sari." Jawab Pak Tito sambil mempersilahkan 2 tamu nya ini masuk.
Roy dan Sari masuk dan duduk di sofa yang tersedia.
"Ada yang bisa saya bantu Pak Roy?, kenapa tiba-tiba anda berkunjung ke sekolah ini dan meminta untuk mengumpulkan siswaz-siswi kelas 12 khusus nya perempuan?." Tanya Pak Tito sopan dan to the point.
Roy ingin membuka mulut tapi Sari menyentuh tangan nya sebagai kode bahwa di yang ingin berbicara.
"Emmmmm, sebenarnya yang punya ke perluan di sini adalah saya Pak Tito." Jawab Sari.
"Ohh... ada apa Sari?, apa kamu mau masuk sekolah lagi?." Tanya Pak Tito.
"Tidak Pak, saya ke mari hanya ingin meminta maaf pada rekan-rekan kelas 12 saya yang sudah pernah saya sakiti dulu." Jelas Sari.
"Hmmmm... seperti itu, bak kalo begitu saya akan mengumpulkan nya sekarang di aula sekolah." Kata Pak Tito.
"Pak Tito tolong untuk Rafka, Zarine, Akifa, Abdiel, Abhi, Alfi dan Tika, jangan di ikut kan dalam kumpulan ini." Pinta Sari pada Pak Tito.
"Baik." Jawab beliau cepat.
Pak Tito melakukan apa yang di minta Roy dan Sari.
Di kelas 12 IPS 1.
"Perhatian, untuk semua kelas 12 IPA dan IPS khusus perempuan mohon berkumpul di aula, untuk yang bernama Zarine, Akifa, Alfi, dan Tika di kecuali kan, lalu ada tambahan lagi, untuk KBM di undur sampai pukul 10 nanti, terima kasih." Suara kepala sekolah menggema di seluruh sekolah.
"Ayo yang merasa perempuan segera kesana, untuk 3 nama yang di sebut tadi tetap ada di kelas." Suruh Bu Astutik Guru Bahasa Indonesia yang kebetulan sedang mengajar di kelas IPS 1.
Semua siswi berdiri dan berjalan menuju aula.
"Saya tinggal dulu, jangan keluar kelas kalian semua, kerjakan soal dari saya tadi." Pamit Bu Astutik dengan di akhiri perintah.
__ADS_1
Setelah beliau keluar, kelas jadi ramai dengan segala pertamyaan.
'Ada apa?.' Yap 2 kata itu yang memenuhi kelas IPS 1 atau lebih tepat nya seluruh sekolah.
Di bangku 6 serangkai.
"Kok kita doang yang engga sih?, ada apa ini sebenernya?." Tanya Akifa, semua diam tak menjawab.
'Tring.' Ponsel Alfi berbunyi tanpa pesan masuk.
Dia memeriksa ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
Tika : 'Ini ada apa sih sebenernya?, Gua takut woy!!.'
Alfi : 'Read.'
"Siapa?." Tanya Akifa.
"Tika kirim pesan di grup, dia tanya ini ada apa sebenernya, kata nya dia takut." Jelas Alfi.
"Kita nyusul ke aula aja kuy." Ajak Akifa.
"Udah lah Yang ngga usah panik, siapa tau penguman buat kalian ada sendiri." Abdiel menenangkan sang istri.
Semua orang bingung.
Di aula.
Semua murid sudah berkumpul duduk rapi di sana.
"Yang?, kamu siap?." Tanya Roy.
'Khemmm... huufffh.' Sari menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, kemudian dia mengangguk.
Sari mulai naik ke podium, melepas semua atribut penyamaran nya.
Satu aula tercengang melihat Sari yang berdiri sambil tersenyum.
"Sari." Gumam Anika.
"Ngapain Lo ke sini?!, udah sembuh penyakit jiwa Lo itu?!." Seru Anika bertanya pada Sari.
Tangan Roy sudab mengepal erat, dia emosi.
'Udah.' Ucap Sari tanpa suara dan dia menyentuh tangan Roy.
"Assallammu'allaikum semuanya." Salam Sari.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua siswi di aula.
"Hai guys? Apa kabar kalian semua?." Sapa Sari ceria.
"Alhamdulillah kita semua baik-baik saja beberapa bulan ini karena ngga ada Lo." Jawab Anika.
"Hehehe... kedatangan Gua ke sini mau minta maaf sama kalian semua, beberapa bulan Gua ada di RS, hati dan pikiran Gua mulai sadar, buat kalian yang udah Gua sakitin, mohon maaf yang sebesar-besar nya, kalo kaian ngga bisa atau ngga mau maafin Gua itu semua keputusan kalian." Ucap Sari panjang lebar.
Semua penghuni aula diam mendengarkan.
Pandangan Sari tertuju ke arah Anika.
"Buat Lo Anika, apa yang Lo liat dulu, itu bukan kenyataan nya, antara Gua dan Tunangan Lo ngga ada apa-apa, Lo salah paham, Gua pernah suka sama dia, dan asal Lo tau Gua ama dia ngga saling kenal." Sari menjelaskan kronologi tentang diri nya dan tunangan Anika.
"Kenapa Lo ngga jelasin waktu itu?." Tanya Anika dengan mata berkaca-kaca menatap Sari.
"Mau jelasin gimana?, Lo ngga dengerin Gua ngomong dan malah menjauh." Kata Sari.
Anika tak memabalas omongan Sari.
"Gau minta maaf sama kalian semua yang ada di sini, tolong maafin Gua." Ucap Sari tulus.
"... ." Hening tak ada jawaban.
Sari tersenyum, lalu menunduk dia ingin turun dari podium.
Tapi... .
'Grep!.' Seseorang memeluk Sari dengan erat.
"Maafin Gua juga, Gua juga salah." Ucap Anika sambil sesenggukan.
"Ya kita semua juga maafin Lo kok Sar, bener kata Tika, Lo tuh sebenernya baik, cuma ketutup ama sikap angkuh dan arogan Lo." Itu suara Mila anak kelas 12 IPS 5 temen Tika.
"Makasih buat kalian semua yang udah mau maafin Gua." Kata Sari juga ikut menangis bersama Anika.
15 menut acara permohonan maaf pun selesai, kemudian acara ini di tutup oleh Roy.
"Ok semua nya karena waktu akan berlalu, saya tutup perkumpulan ini dengan ucapan terima kasih, dan saya minta, tolong jangan ada yang buka mulut tentang apa yang telah terjadi di aula ini khususnya untuk 6 serangkai dan Tika, paham kan?." Kata Roy.
"Paham!!." Seru semua siswi.
"Ya sudaah silahkan bubar, Assallammu'allaikum." Salam Roy.
'Tring... ring... ring... .' Bel istirahat berbunyi.
Para siswi itu keluar kelas dengan tertib.
Di atas podium Anika dan Sari masih berpelukan dan menangis sesenggukan.
Sari meminta maaf hanya kepada teman sebaya nya khusunya perempuan.
Karena memang Sari tak pernah puny masalah dengan Kakak kelas atau pada siswa laki-laki SMA Merdeka, dengan para guru pun tidak pernah, Sari ini termasuk jajaran murid cerdas sebenarnya, tapi dia tak terlalu memperhati kan malah sibuk dengan ambisi serta obsesi nya tuk mendapat kan Rafka.
"Udah jan nangis, kita sama-sama belajar aja sekarang, bahwa apa yang kita lihat tak selamanya itu kebenaran." Sari melepas pelukan, mengusap air mata Anika sambil mengeluarkan kata-kata bijak nya.
"Iya Lo bener, Gua juga sebenernya udah sadar sejak lama, tapi... Gua nunggu Lo sendiri yang cerita, dan semua doa Gua terkabul, Gua seneng kita udah balik temenan." Ucap Anika.
"Ehem... maaf... waktu nya pergi." Kata Roy merusak suasana haru ke dua wanita itu sambil menunjuk kan angka pada jam tangan nya.
"Iya tunggu bentar, Anika?, Gua pamit dulu, sorry ngga bisa lama, bodyguard Gua udah ngga sabaran noh di belakang." Bisik Sari pelan tepat di telinga Anika.
"Bodyguad apa bodyguard?." Goda Anika.
"Hahaha, udah ah, Gua pamit dulu, assallammu'allaikum." Salam Sari.
"Wa'allaikum sallam, undangannya Gua tunggu Sar!." Teriak Anika sedikit kencang karena Sari sudah berjalan menjauh.
"Apa an sih Anika!." Balas Sari malu.
"Hahahaha." Tawa Anika terdengar.
Sari kembali mengenakan atribut penyamaran nya dan berjalan ke arah tempat parkir dengan cepat.
Sesampainya di mobil.
"Apa maksud undangan tadi?." Tanya Roy kepo.
"Hiiii kepoooo." Ejek Sari.
"Kamu sama dia ngomongin aku ya tadi?." Tebak Roy.
"Hiiii ke pe-de an." Elak Sari.
"Kamu bilang apa sama dia?." Tanya Roy.
"Ya aku bilang aja kamu bodyguard aku." Jujur Sari.
"Tega amat sih Yang, jadi cuma di anggap bodyguard aja nih?." Roy mengerucut kan bibir nya merajuk.
"Ih jangan di manyunin jelek tau jadinya, hahahaha." Kata Sari dengan tawa menggelegar.
"Ketawa aja terus!." Sungut Roy.
"Ok ngga." Balas Sari berusaha menghenti kan tawa nya.
"Kita nunggu di sini stau pulang kerumsh nih?." Tanya Roy masih dengan bibir manyun.
Tiba-tiba... .
'Cup.' Pipi Roy di kecup oleh Sari pelan.
"Masih mau ngambek kah?." Tanya Sari.
"Sekali lagi yang sebelah nya belum." Manja Roy meminta Sari untuk mencium pipi nya.
"Udah ngga ada tambah-tambah an." Giliran Sari yang cemberut.
Pipi nya bersemu merah saat Roy meminta nya mencium pipi kanan nya.
"Hahaha ok-ok ngga deh, aku juga udah ngga ngambek kok." Kata Roy dengan tersenyum.
"Kita nunggu 6 serangkai sama Tika di rumah aja sekalian makan siang." Kata Sari.
"Sesuai perintan Ibu Ratu." Ucap Roy bak kusir kerajaan.
Sesampai nya di rumah.
"Assallammu'allaikum." Salam kedua nya kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Mama Papa.
"Udah selesai acara nya?." Suara Papa bertanya.
"Udah Pa dan alhamdulillah lancar." Jawab Roy.
"Kemana lagi setelah ini?." Tanya Mama.
"Sari belum minta maaf sama 6 serangkai sama Tika, Sari juga mau minta penjelasan Tika yang nikah tanpa memberi kabar." Jelas Sari.
"Ketemu an di mana nanti?." Tanga Papa.
"Di... di mana ya enak nya?, emmm... Roy kamu ada ide ngga?." Tanya Sari.
__ADS_1
"Gimana kalo di rooftop sekolah kamu aja?." Usul Roy.
Sari menimbang-nimbang.
"Di rooftop suasana nya indah, cocok banget kalo di jadi in tempat ngumpul." Celutuk Mama.
"Ok deh, kita ketemuan dan ngumpul di sana aja." Putus Sari.
Roy mengangguk lalu menghubungi 6 serangkai dan Tika.
Di kantin sekolah.
"Ayo dong Ika cerita in ada kejadian apa di aula?." 7 serangkai sedang mengintrogasi Anika saat ini di bangku kantin favorite mereka.
"Sory guys, Gua ngga bisa cerita, kaya nya dia bakal dateng ke kalian secara langsung dan pribadi deh." Beri tahu Anika.
"Iya tapi dia itu siapa?." Gemas Akifa.
"Ada deh... mau Lo sogok Gua pakek jajanan apa pun atau lainnya Gua ngga bakal buka mulut." Keukeuh Anika menutup mulut.
Pasal nya 7 serangkai ah ralat maksudnya Zarine, Akifa, Alfi, dan Tika menyogok Anika dengan berbagai macam makanan, benda, hingga uang, tapi Anika tetap tutup mulut tak mau berbicara.
"Ayo dong Ika... kasih tau yak?." Bujuk Akifa bersikeras.
"Gua ngga mau Fa, Diel bini Lo nih, tolongin Gua oy kalian para cowok diem-diem bae, Gua dikroyok ini!." Anika meminta tolong pada Abdiel, Abhi, dan Rafka.
Sedari Anika keluar dari kelas 4 cewek ini menghadang nya dan menggiring nya ke arah kantin lalu menduduk kan nya di bangku dengan paksa.
Dia di introgasi habis-habis an, tapi Anika tak menjawab dan malah asik memakan bakso nya dan minum jus jeruk nya.
"Mending makan deh bakso kalian, keburu dingin, ini enak banget tau, ummmm." Suruh Anika.
4 cewek itu menurut dan memilih diam tak mengintrogasi lagi.
'Ting!.' Ponsel Abhi berbunyi.
Dia mengecek ponsel nya.
Roy : 'Tolong dateng ke rooftop sekolah Lo jam 15.30 tepat, ada seseorang yang pengen ketemu ama kalian ber 6 dan Tika.
Abhi : 'Siapa?.'
Roy : 'Seseorang.' Singkat Roy.
Setelah itu Abhi hanya membaca tak penasaran lagi siapa seseorang itu.
"Siapa?." Tanya Alfi.
"Roy, dia minta kita dateng ke rooftop sore ini setelah sekolah bubar." Info Abhi.
"Seseorang siapa?, kenapa hari ini banyak banget orang main teka teki ke kita sih?!." Rungut Akifa jengkel.
"Kita temui aja nanti sore." Kata Zarine.
"Gua kasih tau sedikit deh tentang seseorang itu." Celutuk Anika seperti memberi angin segar kepada Zarine, Akifa, Alfi, dan Tika.
"Apa an?." Antusias Tika.
"Ehem... seseorang itu perempuan." Singkat Anika lalu dia berlalu pergi sambil berlari dan berteriak.
"Raf?!!, tolong bayarin bakso dan minuman Gua, thanks yak!!." Kata Anika.
"Anika gila!." Sahut Akifa.
"Hahahaha." Tawa Anika pecah, dia pun berlalu dari kantin.
"Pusing Gua mikirin hari ini." Keluh Akifa.
"Kita tanya sama Pak Tito aja gimana?." Usul Zarine.
"Huuuu... Anika aja ngga mau ngaku, temen sekelas kita aja ngga mau ngaku, apa lagi Pak Tito, beliau pasti di beri pesan agar tak memberi tau kita." Jelas Tika lelah.
"Ya udah deh tunggu nanti sore aja, sabar dulu sekarang," Kata Rafka.
Semua mengangguk setuju.
Waktu pulang sekolah telah tiba.
Pukul 15.30 ba'da asyar selesai sholat berjamah di masjid sekolah semua murid pulang.
Ada juga yang menetap di sekolah karena ada kegiatan seperti ekstra kurikuler.
7 serangkai sudah ada di rooftop sekolah menanti Roy.
"Dia yang minta ketemuan, dia juga yang telat." Gerutu Akifa.
"Sabar Yang." Abdiel menenangkan.
Dari pintu masuk Roy datang seorang diri tapi sebenarnya bersama Sari.
Karena tubuh Roy yang kekar, tegap, dan besar jadi tubuh Sari tertutup tak terlihat.
"Assallammu'allaikum." Salam Roy.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.
Zarine, Akifa, Alfi, dan Tika celingukan mencari seseorang yang disebut Roy tadi saat memberi pesan.
"Mana?." Tanya Tika.
"Apanya?." Tanga balik Roy pura-pura tak mengerti.
"Lo belum pernah kena timpuk sepatu ya?." Kata Akifa lembut.
"Hahaha, ngga sabaran banget sih." Tawa Roy pecah.
Lalu Roy menggeser posisi tubuhnya dan tampak lah sosok sari yang disebut Roy sebagi seseorang tadi.
"Sari?!." 4 cewek di depan Sati terdiam membeku di tempat.
Sari tersenyum manis menatap 6 serangkai yang kini berubah menjadi 7 serangkai.
"Hai guys?." Sapa Sari.
Mereka masih diam belum merespon.
Tanpa aba-aba Zarine dan Tika berlari memeluk Sari dengan berurai air mata kebahagaian.
Kemudian Alfi, Akifa, Abdiel, Abhi, dan Rafka sadar dari ketekejuatan mereka.
"Kamu apa kabar?, kapan pulang dari sana?." Tanya Zarine beruntun.
"Aku sehat alhamdulillah, aku pulang nya kalo ngga salah hari minggu sore." Jawab Sari.
Mereka melepas pelukan dan mengusap air mata yang mengalir di pipi.
"Gua ikut seneng Lo udah pulang." Ucap Alfi tulus sambil menepuk pundak Sari.
"Makasih." Ucap Sari senang.
"Gua seneng Lo udah berubah." Kata Akifa menimpali.
"Gua sadar setelah beberapa bulan di sana, dan kedatangan Gua kesini... mau minta maaf sama kalian ber 7 khusunya Rafka Zarine, gara-gara Gua kalian kecelekaan dan beberapa hari ada di RS, Gua menyesali segala perbuatan Gua ke kalian." Sari mengucapkan kata demi kata dengan tulus dan di sertai air mata penyesalan.
"Kita semua maafin Lo kok, asal jangan pernah ulangin hal bodoh kaya gitu lagi."
-
-
-
...M A A F...
...K A L A U...
...P A R T...
...I N I...
...B A N Y A K...
...M E M B A H A S...
...S A R I & R O Y . . ....
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf ngga dapet feel nya
Maaf kalo garing😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Maaf typo di mana-mana🙏😢
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1