
AKU MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.
******************************
-
-
"Huuuuu ngeles ae Lu jemuran baju." Sorak Andi sambil melempar kacang yang hendak dia makan.
"Biarin, wlekkk!." Panji menjulur kan lidah nya, kacang yang di lempar Andi tadi dia tangkap dan memakan nya dengan memasang muka konyol.
"Panji jorok, Panji gila!." Umpat Shita.
"Hahahaha... udah udah, jan berantem." Lerai Kak Raina.
Mereka pun berbincang dengan sangat bahagia sampai tak ingat waktu, lalu pukul setengah 9 malam, Kak Raina memutus kan menyudahi vidoe call nya bersama sang sepupu.
Setelah itu, para orang tua memutus kan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Para keluarga junior pun sama, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah Rafka Zarine, tepat nya di dalam kamar.
"Yang? Kamu setuju ngga kalo resepsi nya di laksanakan di rumah kaya Rendra Shita?." Tanya Rafka sambil duduk bersandar di kelapa ranjang dan mengelus pucuk kepala Zarine yang tengah memeluk pinggang nya.
"Setuju aja sih, malah enak, ngga ribet." Jawab Zarine.
"Hmmm... kamu bener juga, ya udah lah kita bahas abis ujian aja, pusing nih kepala aku gara-gara mikir lain nya selain ujian." Tukas Rafka.
Dia pun kemudian merosot ikut berbaring di ranjang sebelah Zarine, memeluk istri tercinta nya kemudian mereka berdua tidur dengan lelap dan nyenyak nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
'Allahu Akbar... Allahu Akbar... .'
Suara adzan subuh menggemah di telinga semua orang.
Di kediaman Rafka Zarine.
"Yang? Aku sholat di masjid yah." Pamit Rafka pada istri tercinta nya.
"Iya, hati-hati di jalan, langsung pulang habis dari sana, jangan nongkrong dulu." Petuah Zarine.
"Emang aku pernah nongkrong-nongkrong kaya gitu?." Kata Rafka sambil mencubit hidung Zarine lembut, sang empu hidung hanya cengengesan sambil menampil kan gigi putih dan rapi nya.
"Ya udah aku berangkat dulu, kamu juga harus sholat, assallammu'allaikum." Salam Rafka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine sambil mencium punggung tangan Rafka.
Setelah kepergian Rafka, Zarine juga bersiap untuk sholat subuh di kamar.
Di rumah Bang Idan Tika.
'Hoek... Hoek... .'
Tika terpaksa mengeluar kan isi perut nya meski belum di isi oleh makanan apa pun.
"Yang? Kamu kenapa? Nhga usah sekolah dulu deh, kita ke dokter dulu aja nanti." Kata Bang Idan.
"Aku ujian Yang hari ini, awal ujian, kalo ngga masuk terus aku ngga lulus bisa-bisa ngulang dari awal, aku ngga mau ngulang, aku mau cepet lulus." Tika menolak untuk libur sekolah.
"Tapi kamu lagi sakit gini loh." Cemas Bang Idan.
'Hoek... hoek... .'
Tika kembali memuntah kan isi perut nya yang kosong.
Bang Idan memijit tengkuk Tika pelan.
'Hah... hah... .' Tika mengatur nafas nya yang tak teratur, dia membersih kan wajah nya dan menyiram wastafel tempat dia muntah tadi.
"Ayo sholat subuh keburu lewat ini entar." Ajak Tika yang kemudian di angguki Bang Idan.
2 sejoli ini sudah siap untuk sholat.
"Yang? Kalo mau sholat di masjid pergi aja, aku ngga papa kok sholat sendiri." Kata Tika.
"Engga! Aku mau sholat di rumah aja sama kamu." Tegas Bamg Idan menolak.
"Iya deh terserah." Pasrah Tika.
"Ayo atur shaf nya Yang." Pinta Bang Idan.
Dan sholat pun terlaksana dengan khusyuk.
Pukul 06.00 pagi, 6 serangkai sudah berkumpul di rumah Rafka Zarine, mereka hanya tinggal berangkat karena memang mobil sudah siap, tapi kendala nya ada pada Tika yang belum keluar rumah.
"Ngga biasa nya si Tika telat." Ujar Akifa tiba-tiba.
"Udah tunggu in aja." Imbuh Zarine dengan sabar.
"Eh? Kalian kok masih pada di sini?." Tanya Kak Raina yang tiba-tiba datang.
"Lagi nunggu Tika Kak." Jawab Alfi.
"Ouh... bentar lagi juga muncul, Kakak masuk ke dalam rumah dulu yah, udah di tunggu Bunda soal nya." Pamit Kak Raina.
"Iya silahkan Kak." jawab Zarine sopan.
Kak Raina pun pergi.
Tak berselang lama, Tika datang dengan... seperti nya sedang berdebat dengan Bang Idan.
Sayup 6 serangkai mendengar perdebatan itu.
"Udah deh kamu ngga usah ujian dulu, besok aja." Pinta Bang Idan lembut.
"Yang? Ini hari pertama aku ujian, aku ngga papa, kalo aku ngga ikit ujian aku ngga lulus, dan berakhir ngulang lagi di tahun berikut nya." Panjang Tika menjelas kan.
"Mereka ada apa?." Tanya Akifa kepo.
"Entah lah, udah jan di liatin, pura-pura tuli dan buta aja, ngga baik tau nguping perdebatan orang lain." Zarine menghenti kan acara gosip mereka.
Terlihat oleh mata 6 serangkai, Tika berjalan ke arah mereka.
"Guys? Sory telat, ayo kita berangkat." Ajak Tika.
"Ayo." Balas Rafka.
Mereka masuk dalam mobil secara bergantian.
"Aku berangkat dulu, doa in aku lancar dan ngga ngalamin hal-hal aneh nanti di sekolah, Love You My Husband." Ucap Tika sambil mencium punggung tangan Bang Idan dan sekilas mengecup bibir Bang Idan.
"Assallammu'allaikum." Salam Tika.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bang Idan.
Tika naik ke dalam mobil.
Bang Idan menghampiri Rafka yang duduk di kursi kemudi.
"Raf? Gua nitip si Tika, dia lagi ngga enak badan soal nya, kalo ada apa-apa Lo langsung telepon Gua aja." Pinta Bang Idan.
"Iya beres deh, gampang kalo itu dia bakal kita jaga in, Lo fokus kerja aja." Rafka menganggupi Bang Idan untuk menjaga Tika.
"Ya udah kita berangkat dulu, Lo juga musti berangkat kan, assallammu'allaikum." Salam Rafka.
"Wa'allaikum salllam, hati-hati Dek!." Pesan Bang Idan yang di tanggapi Rafka dengan membunyi kan klason mobil nya.
Di perjalanan di dalam mobil.
"Tik? Lo ok kan?." Tanya Akifa menatap wajah Tika yang bermata sayu juga wajah sedikit pucat.
"Gua ngga papa kok." Elak Tika, dia tak mau membuat para sahabat nya khawatir.
"Jujur aja apa susah nya sih Tika." Pinta Alfi.
"Gua ngga papa beneran deh." Tika berusaha menyakin kan para sahabat-sahabat nya ini.
"Kalo ngga papa kenapa muka Lo pucet?." Kesal Akifa.
__ADS_1
'Huuffhhh.' Helaan nafas pasrah terdengar dari hidung Tika.
"Gua mual dan muntah tadi pagi subuh." Jujur Tika.
Zarine menyentuh kening Tika.
"Ngga panas tuh." Ucap Zarine.
"Apa lagi yang Lo rasa in?." Tanya detail Akifa.
"Lesu, males makan, capek, ngantuk, semua rasa yang ngga enak deh pokok nya." Tika menjabar kan keluhan nya.
"Gejala kamu saya kaya yang kita alami waktu lalu." Cetus Zarine.
"Bukan waktu lalu aja si, kadang-kadang juga kita ber tiga ngerasain hal kaya gitu." Ucap Alfi.
"Apa jangan-jangam Tika hamil juga?!." Seru Abdiel.
"Mungkin." Sahut Abhi.
"Gini deh, Lo cobak ajak Bang Idan periksa ke dokter dulu, atau Lo bisa cek sendiri pake test pack." Saran Alfi.
"Kaya nya Bang Idan punya deh alat itu." Kata Rafka ikut berbicara.
"Punya alat itu? Buat apa? Kapan beli nya? Kok aku ngga tau?." Beruntun Tika bertanya.
"Beberapa bulan lalu, yang waktu Gua beli testoack buat Zarine, Bang Idan beli juga, bahkan Bang Rafa juga beli." Ungkap Rafka.
"Buat apa?." Tanya Tika.
"Kata nya buat jaga-jaga, biar kalo Lo butuh ngga usah pwrgi beli." Itu suara Abdiel yang menjawab.
"Nanti coba deh Gua tanya in." Kata Tika.
"Kamu tadi udah sarapan belum?." Tanya Zarine sambil merapi kan rambut Tika.
"Udah, tapi cuma 5 suap, aku ngga terlalu menu sarapan nya tadi." Keluh Tika.
"Yang masak siapa emang?." Tanya Abdiel.
"Aku." Jawab singkat Tika.
"Lah?!, kok bisa? Lo yang masak tapi ngga mau makan." Seru Akifa.
"Aku tadi masak nya antusias banget, pikiran ku tadi bilang enak, eh tapi pas masakan nya udah jadi, perut aku nolak makan." Lesu Tika mengadu.
"Terus Lo mau makan apa sekarang? Sebelum ujian di mulai Lo harus sarapan, apa lagi nanti mata pelajaran yang di uji kan bakal banyak nguras energi." Suara Rafka tegas berucap.
"Makan baso aja lah." Ucap Akifa.
"Enak tuh kaya nya." Timpal Tika.
"Gua nawarin Tika yang nyahut demit yang doyan makan." Gumam lirih Rafka yang ternyata masih bisa di dengar oleh Zarine.
"Hehehehe... aku denger loh Yang." Kata nya memberi tahu.
"Denger apa? Aku ngga ngomong apa-apa." Elak Rafka.
"Hahaha... ." Tawa Zarine terdengar pelan.
"Lo kenapa Za?." Tanya Alfi heran.
"Ngga papa, cuma ke inget kejadian lucu aja, hihi." Ringis Zarine malu.
Alfi dan Alifa percaya dan hanya mengangguk kan kepala sambil membentuk bibir nya menjadu huruf O.
Pukul 06.25 mobil sampai di area parkir khusus siswa SMA Merdeka.
7 orang di dalam nya bergegas turun dan langsung menuju kantin.
Mereka duduk di bangku pojok seperti biasa, sebelum duduk mereka sudah memesan baso dan teh manis hangat.
"Kita bakal kangen sama nih bangku bentar lagi." Kata Tika yang diangguki oleh 6 orang yang duduk di sekeliling nya ini.
"Udah 3 tahun lama nya, rasa nya baru kemarin Gua nginjak nih sekolah, tapi sekarang udah mau pergi aja." Tambah Akifa.
"Kan emang udah waktu nya, masa iya ngga mau lulus." Imbuh Alfi.
"Kapan kan kita bisa ke sini, contoh nya kalo ada pengambilan Ijazah, atau cap tiga jari, kan bisa kita mampir ke bangku ini dan nostalgia." Zarine menenang kan para sahabat nya.
"Bener banget tuh, Gua setuju." Timpal Akifa.
Lalu di tengah mereka berbincang, baso pesanan sampai, yang makan sebenar nya bukan mereka semua, tapi hanya Tika, Zarine, Akifa, dan Alfi.
"Enak banget loh baso nya, kalian bertiga yakin ngga mau makan?." Tanya Tika pada Rafka, Abdiel, dan Abhi.
"Apa Gua kalo hamil bakal kaya kalian ber tiga?." Tika bertanya-tanya.
"Kaya kita ber tiga? Gimana tuh maksud nya?." Akifa bertanya balik.
"Ya gini, nafsu makan bertambah, dan jujur yah, pipi kalian bertiga makin cabby." Tika dengan mulut tak bisa di kontrol nya.
"Yah... kita sadar itu sih, tapi I Don't Care lah, aku malah suka pipi aku berisi kaya gini." Binar bahagia terpancar dari mata Zarine.
Akifa dan Alfi mengangguk cepat dengan antusias sambil mengunyah baso.
"Udah jan ngomong mulu, lekas selesai in tuh makan kalian, habis tuh kita antar kalian masuk kelas." Abdiel memutus obrolan 4 wanita itu.
"Aku pengen protes sama Kepala Sekolahh!!." Seru Akifa.
"Lah?! Udah sih Yang, dari pada ribut perkara ruangan mending ayo kita pergi dari sini, bentar lagi bel masuk mau bunyi." Ajak Abdiel sekaligus menenang kan Ibu Ratu nya.
Akifa mengerucut kan bibir nya kesal tapi menuruti omongan suami nya.
Setelah membayar baso dan teh manis hangat tadi 7 orang ini masuk ke dalam kelas.
SMA Merdeka hanya di huni oleh anak kelas 12 saja untuk minggu ini, kareka anak kelas 10 dan 11 di libur kan.
Saat berjalan masuk ke ruangan.
"Tik? Lo kalo ada apa-apa chat kita aja di grup." Pesan Rafka.
"Iya, thanks udah mau jagain Gua guys." Ucap tulus Tika.
"Lo kan istri nya Abang Gua, ya otomatis dong Lo juga Kakak Gua, apa lagi tadi Gua di amanahin sama Bang Idan buat jaga in Lu, sebener nya tanpa di amanahin pun Gua bakal Lo sama 3 cewek lain nya, terutama Zarine." Panjang Rafka menjelas kan.
4 wanita di sana yang mendengar penuturan Rafka tersenyum, kalo Zarine, dia langsung memeluk lengan Rafka manja, dan di balas oleh Rafka dengan membelai lembut kepala Zarine.
Para cowok terlebih dahulu mengantar para cewek ke dalam ruangan ujian nya masing-masing.
Setelah itu baru para cowok masuk ke dalam ruangan mereka sendiri.
'Tring... ring... ring... .' Bel tanda masuk berbunyi.
Di hari ujian tidak ada upacara bendera.
Guru masuk kelas, para murid kemudian membaca doa sebelum melaksanakan ujian.
Lalu pukul 07.30 ujian di mulai.
Se isi kelas di buat tegang, ujian pertama kali ini adalah mata pelajaran Matematika.
Bisa di bilang mata pelajaran paling di takuti dan palimg di benci.
Tak jarang satu ruangan saling melenpar pandang meminta jawaban saat pengawasan guru sedang teralih kan.
Walau pun beliau sudah mengatakan jangan ada yang mencontek, tetap saja mereka bandel (Kalian waktu ujian pasti juga gitu kan?😂 aku juga sama kok😂 #AuthorGesrek).
Di tempat yang agak jauh dari SMA Merdeka, 2 sejoli tak beranjak dari dalam kamar, mereka masih bermanja-manja di atas ranjang.
"Yang? Kamu kenapa sih? Aku udah telat tau ke kantor nya, bisa di kritik sama karyawan aku kalo ngga hadir ke kantor." Ujar Bang Rafa memperingati Raina sang istri dengan nada lembut dan mengusap surai hitam nya.
"Ngga usah kerja deh, temenin aku aja di rumah, yah?." Pinta Raina dengan mata berbinar terang.
"Hari ini anak-anak ada laporan dan harus aku yang tanda tangan Yang, kamu sama Bunda dulu aja yah, temenin Bunda dulu, nanti sepulang kerja baru manja-manja an lagi sama aku." Bujuk Bang Rafa lembut menyuntuh kalbu😂.
"Huuuhhh... ." Dengus Raina dengan wajah cemberut nya.
"Kamu kenapa sih Yang? Kok tumben manjaaaa banget sama aku." Tanya Bang Rafa.
"Aku juga heran sama diri aku sendiri, ngga mau jauh dari kamu aku tuh rasa nya, pengen peluk kamu seharian." Jelas Raina.
Dia memang merasa aneh dengan perasaan nya sendiri, sangat aneh menurut nya, karena Raina bukan tipe istri yang manja berlebihan, tapi hari ini entah ada angin dari mana sikap Raina berubah.
Bang Rafa terkekeh geli, lalu dia melepas peluk kan Raina dan melangkah menuju kamar mandi.
15 menit kemudian Bang Rafa keluar dari kamar ganti dengan pakaian rapi nya.
Dia berjalan ke arah meja belajar nya yang ada di kamar, di sana dia melihat kalender haid sang istri.
Bang Rafa mengernyit kan alis nya, kemudian dia mengangkat kalender itu dan menatap Raina seksama.
"Yang?." Panggil Bang Rafa yang masih fokus menatap kalender.
"Hem?, ada apa Yang?." Tanya Raina.
"Kalender ini kok tumben ngga kamu coretin? Biasa nya dicoretin buat tanda kamu haid." Tanya heran Bang Rafa.
__ADS_1
"Ouh itu, aku ngga haid bulan kemarin." Jawab tak sadar Raina.
"Hah?! Maksud nya? Kamu telat gitu?." Tanya Bang Rafa terkejut.
"Iya, kok bisa yah? Padahal aku ngga ngelakuin hal aneh-aneh loh, tapi kok bisa aku nga haid bulan kemarin." Keluh Raina.
"Biasa nya tengah bulan kan?." Tanya Bang Rafa.
"Ha a, sekitar tanggal 20 lah." Singkat Raina menjawab.
Suasana kamar tiba-tiba hening setelah Raina mengatakan jawaban singkat dari pertanyaan Bang Rafa.
"Tunggu deh Yang!." Seakan tersadar dari keterkejutan Raina berseru.
"Apa?." Tanya Bang Rafa.
"Apa jangan-jangan aku hamil?." Antusias Raina.
Senyum kebahagiaan muncul di kedua sudut bibur Bang Rafa.
"Tapi sebaik nya kita jangan berharap banyak Yang, kita berdoa aja sama Allah semoga dugaan kita benar." Ucap Bang Rafa.
"Terus gimana? Kita ke dokter?." Tanga Raina.
"Kita uji pake test pack dulu aja, beberapa bulan lalu aku beli bareng sama Rafka juga lain nya." Kata Bang Rafa.
Dia berjalan ke arah ruang ganti.
2 menit kemudian dia kembali dengan membawa 5 macam test pack dengan berbagai merk.
Bang Rafa menyerah kan benda panjang itu ke tangan Raina.
Kak Raina membelalak kan mata nya sambil berucap "Banyak banget kamu beli nya Yang?."
"Hehehe... udah lah simpen aja, buat persediaan." Kata BangRafa sambil cengengesan.
"Semoga hasil nya ngga bikin kecewa." Gumam lirih Raina, yang sayang nya masih bisa di dengar oleh Bang Rafa.
Suami tercinta Raina itu berjalan ke arah nya dan berjongkok mensejajar kan tubuh nya dengan tubuh Raina yang tengah duduk manis di tepi ranjang.
Bang Rafa mengangkat dagu Raina yang tertunduk untuk menghadap ke tepat ke mata nya.
"Kalo hasil nya negatif kita masih punya banyak waktu produksi nya, iya kan?." Goda Bang Rafa sambil menaik turun kan alis nya.
"Uh apa an sih Raf." Raina malu, pipi nya sudah merah merona bak kepiting rebus.
"Aku kan bener Yang, jangan patah semangat yah, Allah ngga suka sama orang yang patah semangat, dan lagi... usaha tak pernah menghianati hasil, kamu harus percaya itu." Bang Rafa memgeluar kan kata-kata bijak nya terhadap sang istri tercinta.
Raina tersenyum mengangguk kan kepala nya membenar kan ucapan sang suami.
"Udah yah, aku pamit mau kerja dulu, kamu mending ke rumah Bunda gih, kasian beliau sendiri di rumah Rafka Zarine." Suruh Bang Rafa.
"Aku ijin mau jalan-jalan sama Bunda boleh yah Raf?." Ucap Raina berharap di ijin kan oleh Bang Rafa.
"Ok boleh-boleh aja sih kalo aku mah." Setuju Bang Rafa sambil mengusap surai istri nya.
Bang Rafa bersiap untuk berangkat ke kantor.
Raina mengantar kan dia ke pintu depan, tepat di depan rumah, dia mencium punggung tangan kanan Bang Rafa yang di balas kecupan seluruh wajah oleh Bang Rafa.
"Kamu hati-hati di jalan." Pesan Raina.
"Kamu juga harus hati-hati kalo jalan-jalan sama Bunda, kalo ada apa teriak minta tolong atau telepon aku juga bisa, atau telepon anak-anak lain nya juga bisa." Petuah Bang Rafa pada Raina.
"Iya pasti aku akan hati-hati." Jawab Raina.
"Alu berangkat, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa.
"Wa'allaikum sallam, jumpa nanti sore Raf!." Seru Raina sambil melambai kan tangan nya.
Setelah kepergian Bang Rafa, Raina juga pergi ke rumah Rafka Zarine untuk mengajak Ibu Mertua nya jalan-jalan.
Dan tanpa pikir panjang, beliau menyetujui nya lalu mereka pun pergi dengan di antar supir.
Sebelum pergi Bunda mengirim pesan terlebih dahulu pada Rafka untuk mengabari bahwa beliau pergi.
Kita kembali pada 7 serangkai di sekolah.
Jam berputar dan berganti waktu.
Sekarang sudah menunjuk kan angka 10.30 siang, saat nya ujian hari pertama usia.
"Ayo semua nya waktu ujian sebentar lagi akan selesai!." Seru semua pengawas di setiap ruangan memperingat kan.
Siswa siswi yang belum menyelesai kan beberapa soal kelimpungan mendengar peringatan sang pengawas.
"Ok! Ujian akan berakhir dalam hitungan 3... 2... 1... selesai dan kirim kan." Ucap Pengawas.
'Tring... ring... ring... .' Kalimat terakhir sang pengawas tepat bersamaan dengan bunyi bel tanda ujian selesai.
Satu kelas bersama an mengirim jawaban dari ujian nya.
'Semoga ngga mengecewakan ya Allah.' Doa para siswa siswi dalam hati.
"Kita berdoa dulu sebelum keluar ruangan, mari berdoa menurut kepercayaan masing-masing, berdoa... mulai." Intruksi sang pengawas.
Satu ruangan memejam kan mata sambil menunduk kan kepala.
3 menit kemudian.
"Selesai!." Seru Pengawas.
"Udah boleh keluar kah Pak?." Tanya salah satu siswa.
"Jangan dulu, saya mau cek apa sudah terkirim semua atau belum." Kata Pengawas.
10 menit mereka tinggal di dalam ruangan, pukul 10.50 baru mereka boleh keluar kelas.
7 serangkai bertemu di kantin dan duduk di bangku favorite.
"Huhuhu... ." Queen drama muncul, siapa kah dia?.
"Lo kenapa Fah?." Tanya Tika.
"Takut ngga memuas kan nilai nya." Ujar Akifa, yah Queen drama adalah Akifa😂.
"Optimis Fah, jangan pesimis, ngga baik." Peringat Zarine.
"Kuy lah kita pulang terus belajar buat ujian besok." Ajak Alfi.
Mereka pun beranjak dari tempat duduk.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1