Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Twenty-six


__ADS_3

Flashback


-


-


"Kuliti dia!, ahahahahaha!!." Perintah seorang pria dengan tawa keras seperti seorang penjahat sadis.


Seorang gadis kecil dibawah kolong meja hampir berteriak.


Gadis itu membekap mulutnya sendiri agar dia tidak ketahuan oleh penjahat itu.


"Ahhhhhk!!!!! Tolong lepaskan aku Tuan!!." Teriak kesakitan sang korban.


"Ahahahaha!!!." Tawa menggelegar tak peduli semakin terdengar memekak kan telinga.


Gadis itu, adalah Zarine, dia terduduk lemas dibawah kolong meja tempat persembunyiannya.


Dia menangis tanpa bisa bersuara.


-


Kejadian beberapa menit yang lalu.


-


Zarine kecil masih berusia 4 tahun, tadi bermain petak umpet dengan Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, dan Alfi.


Dia bersembunyi cukup jauh dari rumahnya.


Saat ini memang 6 keluarga berkumpul dirumah Ayah Zarine.


Lebih tepatnya sekarang Zarine bersembunyi disebuah gudang tua tak terawat dan terpencil.


Didaerah perumahan kawasan rumah Zarine masih banyak lahan kosong tak terawat dan gudang yang terbengkalai.


"Hehe, selamat mencariku kalian semua." Kata Zarine kecil senang, karena mengira tempat sembunyinya paling aman.


Memang aman.


Sampai dia tidak sadar bahwa telah masuk kedalam bahaya yang bisa mengguncang keras kondisi psikisnya nanti.


Selang 2 menit dia bersembunyi didalam gudang tua itu.


Tiba-tiba 5 orang datang dengan pakaian serba hitam.


"Seret dia!." Perintah pria yang muncul dari arah belakang dengan menggunakan kemeja Merah dan celana kain hitam.


"Siapa mereka?." Tanya Zarine pelan.


"Ampun Tuan, mohon lepaskan aku." Pinta tahanan yang diseret dengan kasar oleh orang berpakaian hitam tadi.


"Kenapa Om-om itu dijahatin? Kasihan." Ucap Zarine kecil iba.


"Ahahahahaha!!! Melepaskanmu? Kau sudah berkhianat dengan istriku! Dan semudah itu kau berucap? Dalam mimpimu aku akan melepaskanmu." Kata pria yang Zarine kecil kira adalah pemimpin orang pakaian hitam.


"Kuliti dia! Ahahahaha!!." Pria kejam itu tertawa keras.


"Baik Tuan." Jawab para pria berpakaian hitam.


Kembali ke seorang pria yang disayat kulitnya.


Zarine hanya bisa membulatkan matanya takut melihat pemandangan menyeramkan itu.


Jeritan serta tawa keras dari korban dan pelaku bercampur jadi satu berputar dikepalanya.


Zarine makin tersiksa dan takut.


Badannya bergetar hebat karena ketakutan.


"Bunda?." Lirih Zarine dengan tangis pelan.


Dia berusaha mengontrol tangisannya agar tidak pecah.


Zarine kecil takut ketahuan oleh pria kejam didepannya jika menangis dan takut jika dia juga mendapat siksaan yang sama.


"Penggal kepalanya! Ahahahaha!!!." Perintah Pria kejam itu dengan tertawa keras.


'Shattt.' (Anggap aja itu suaranya😅).


Zarine makin terbelalak dan akhirnya pingsan.


"Ahahahaha!!, sudah biarkan dia disini, ayo pergi!." Kata pria kejam itu.


Selang 5 menit dari kepergian para penjahat itu.


Diluar gudang orang tua Zarine mencarinya dan meneriakkan nama Zarine lantang.


"Zarine?!!." Panggil Bunda khawatir.


"Zarine? Keluar Sayang, petak umpetnya selesai." Teriak Ayah.


"Kemana kita akan mencari? Kita sudah berkeliling." Putus asa Papa Rafka.


"Pa? Coba kita kesana." Tunjuk Rafka kecil pada sebuah gudang.


"Ok ayolah." Ajak Papa Abdiel.


Mereka semua berlari kearah gudang.


Saat memasuki gudang.


"Allahu akbar!." Kejut semua orang.


"Telepon polisi!!." Suruh Papi Alfi.


Ayah Zarine mengangguk lalu menelpon pihak berwajib.


30 menit menunggu, polisi pun datang dan mulai memeriksa gudang.


"Pak, tolong carikan anak kami juga, dia tadi bermain petak umpet belum kembali, kita sudah berkeliling tapi belum ketemu." Jelas Ayah Zarine.


"Baik Pak, mohon ditunggu." Jawab Pak Polisi.


Dari dalam gudang datang anggota Polisi.


"Pak? Lapor! Saya menemukan gadis kecil pingsan dibawah kolong meja, diduga mungkin dia syok melihat pembunuhan ditempat." Lapor anak buah Pak Polisi.


Dari dalam seorang PolWan menggendong gadis kecil berhijab.

__ADS_1


"Zarine?!." Seru semuanya.


"Terima kasih Bu." Ucap Bunda Zarine kepada PolWan itu, beliau mengambil alih tubuh lemas Zarine kedalam pelukannya.


"Terima kasih Pak, kita pamit mau kerumah sakit dulu, assallammu'allaikum." Pamit Ayah Zarine.


"Wa'allaikum sallam." Jawab seluruh Pak Polisi.


Sejak melihat kejadian pembunuhan dan siksaan saat itu, Zarine sangat takut pada darah.


Dia akan berteriak histeris saat melihat benda cair kental berwarna merah itu.


-


-


-


Flashback off.


-


-


-


Adzan subuh berkumandang.


Zarine mengerjapkan matanya kemudian menelisik setiap inci ruangan yang temaram disekitarnya.


"Ehmmm." Erang Zarine dengan memegang kepalanya.


"Alhamdulillah, kamu udah sadar, ayo minum dulu." Kata Rafka dengan mengambilkan istrinya air putih dan membantunya minum.


"Yang? Apa kita masih ada di Villa puncak?." Tanya Zarine.


"Iya, kata Papa hari rabu aja kita pulangnya." Jawab Rafka.


"Ouh... emmmm, Yang? Aku mau mandi." Pinta Zarine.


"Ayo aku bantu." Kata Rafka.


"Ngga usah! Aku sendiri aja." Kata Zarine dengan menyembunyikan wajah merahnya karena malu.


"Hehehe, aku cuma nganterin kamu kedepan pintu aja Sayang, lagian sah-sah aja sih kalo aku bantuin kamu mandi, kan kita mahram." Rafka makin menggoda istrinya.


Zarine makin tertunduk malu.


"Ahahaha, lucu banget sih istri aku, ayo aku bantu sampe didepan kamar mandi." Tawa pelan Rafka.


Zarine turun dari ranjang dengan digendong Rafka lalu dia diturunkan depan kamar mandi.


"Mandi gih, kalo butuh aku, teriak aja." Pesan Rafka yang diangguki istrinya.


Zarine masuk kekamar mandi.


20 menit kemudian Zarine keluar dari kamar mandi.


"Aku udah, sana gantian." Kata Zarine pada Rafka.


"Iya, tunggu aku selesai ya, kita subuh jamaah sebentar lagi." Pinta Rafka.


Tak butuh waktu lama untuk Rafka mandi.


Pukul 04.05 Rafka Zarine berjamaah subuh.


Dikamar lainnya pun melakukan hal yang sama.


Rafka tadi saat Zarine ada didalam kamar mandi sudah mengabari lainnya jika Zarine sudah sadar.


Semuanya mengucapkan alhamdulillah.


Mentari muncul malu-malu dari ufuk timur.


Zarine turun dengan Rafka dimeja makan.


"Gimana kabar kamu Za?." Tanya Ayah dengan menghampiri Zarine putrinya.


"Alhamdulillah udah sehat Yah." Jawab Zarine.


"Zarine mau kedapur dulu Yah, bantu lainnya." Pamit Zarine.


"Ngga usah kesana deh Za, pasti nanti kamu disuruh balik kesini." Cegah Papa Abdiel.


"Hehehe, enak disana Om, ada teman sesama perempuan." Kata Zarine dengan terkekeh.


"Ya sudah kalo gitu." Putus asa Papa Abdiel.


Zarine berjalan kedapur.


Saat tiba.


"Assallammu'allaikum." Sapa Zarine.


"Zarine? Alhamdulillah." Kata semua perempuan didapur.


"Ngapain kamu kesini Sayang?." Tanya Mama Rafka.


"Kalo Za dimeja makan yang ada obrolannya nyleneh." Kata Zarine dengan diakhiri kekehan pelan.


"Apa yang bisa aku bantu? Ah bawang itu pasti mau dipotong kan? Sini biar aku yang-."


"Ngga!." Seru Akifa dan Alfi bersamaan sambil merebut pisau ditangan Zarine.


"Sini, kamu duduk sini aja." Papah Mami Alfi pada Zarine untuk menduduk kannya pada kursi yang dibawanya tadi.


"Tapi Zarine udah ngga papa Te." Kata Zarine menyakinkan.


"Udah Lo duduk aja, biar kita yang masak." Celutuk Alfi dengan memegang centong sayur.


Zarine pun pasrah hanya duduk menonton semuanya memasak.


Kadang-kadang juga mencicipi masakan atas instruksi Mama Rafka dan menyebutkan kekurangan rasanya.


Para perempuan didapur ramai dengan candaan dan tertawa renyah.


30 memasak akhirnya selesai sudah dan tersaji diatas meja makan.


"Kalian tadi masak apa melawak didapur? Tawanya sampe pecah gitu." Tanya Papa Abdiel pada para perempuan.

__ADS_1


"Rahasia." Jawab Mama Abdiel.


"Udah ayo makan, keburu dingin ini nanti." Sahut Mama Rafka menghentikan pertanyaan selanjutnya dari suami sahabatnya.


Semuanya pun makan dengan tenang.


Ditengah-tengah kegiatan Papa Rafka memberi pengumuman.


"Kita pulang sore ini." Beritahu Papa Rafka.


"Oklah kalo gitu, makin cepat makin bagus." Balas Papa Abhi dingin.


Lalu mereka melanjutkan makan lagi tanpa bicara.


Sore telah datang.


Kini semuanya telah berkumpul dihalaman Villa.


Mini bus telah datang.


Semuanya naik kedalam dan duduk menurut pasangannya.


"Akhirnya kita pulang juga." Kata Abhi.


"Ouh ya, kalian pengantin baru mau pulang kemana setelah tiba dirumah?." Tanya Papa Abhi.


"Kalian ngga usah keluar dari rumah." Dingin Papi Alfi.


Semuanya paham dengan perkataan dingin Papi Alfi kecuali Zarine.


Setelah pembicaraan soal tempat tinggal itu berakhir semuanya yang didalam mini bus itu diam.


'Kring... ring... ring... ring... .'


Bunyi ponsel Papa Rafka memecah keheningan bus.


"Halo?." Sapa Papa Rafka pada seseorang diseberang telepon.


"...."


"Besok saja kita semua yang disini pergi ketempatmu, jaga saja dia dengan benar." Jawab Papa Rafka dengan nada datar dan dingin pada orang diseberang telepo.


"...."


"Hmmm." Jawab Papa Rafka menghakhiri sambungan.


Zarine mulai curiga dengan sifat beberapa orang yang berubah dingin.


'Ada apa dengan mereka semua? Seperti ada yang disembunyikan.' Batin Zarine.


"Yang?." Panggil Rafka.


"Hmm?." Jawab Zarine.


"Kamu kenapa?." Tanya Rafka karena melihat istrinya melamun.


"Kenapa beberapa orang dibus ini sifatnya berubah dingin? Ada kejadian apa di Villa?." Tanya Zarine balik.


Ini hal yang disyukuri oleh Rafka dan lainnya.


Setelah Zarine pingsan karena phobianya dia akan melupakan semua kejadian yang berhubungan dengan phobianya itu.


"Ngga ada apa-apa kok Yang, mereka biasa aja kok, kamunya aja kali yang kecapek an, sini sandar dibahu aku dan tidur deh biar relax." Kata Rafka.


Zarine tersenyum lalu merebahkan kepalanya dibahu Rafka.


Tak lama dia terlelap dengan nyenyaknya.


"Huuuffh." Rafka menghela nafas lega.


"Kenapa Raf?." Tanya Ayah Zarine.


"Jangan pernah bicara dingin saat Zarine masih ada disekitar kita." Kata Rafka datar dan dingin.


"Gimana Pa sama si Medusa?." Tanya Rafka.


"Besok kita kesana, kekantor polisi, orang tuanya sudah dikabari juga sama pihak berwajib kemarin." Jelas Papa Rafka.


"Kenapa cepet banget dibawa kekantornya? Aku belum mencekiknya." Geram Alfi marah.


"Kamu mau dipenjara? Udah ngga usah aneh-aneh, mangsa kita tinggal 1, hemat tenaga buat tangkap dia." Kata Abhi memperingatkan.


"Loh dia ngga ikut ketangkep?." Tanya Abdiel.


"Ngga! Dia lolos dengan cara licik." Jawab Bang Rafa.


"Apa masalah antara Zarine dan Sari itu sebenarnya?." Tanya Bunda Zarine.


"Biasalah Zah, obsesi, anaknya si Dewi obsesi sama menantu kamu itu." Jelas Mami Alfi pada Bunda Zarine.


'Huuffh.' Helaan nafas lelah terdengar dari seluruh penumpang mini bus itu.


Setelah perjalanan melelahkan.


6 keluarga telah sampai dirumah masing-masing dan langsung tidur untuk memulihkan tenaga yang terkuras habis hari ini.


-


-


-


-


-


-


-


...Bersambung......


...Like & komennya ditunggu😍...


...Maaf ngga nyambung😢🙏...


...Jangan bosen-bosen baca karyaku😋...


...Sehat selalu ya readers sayang😚.-----------...

__ADS_1


__ADS_2