
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Sabar Yang, udah." Lerai Rendra sambil menenang kan sang istri.
"Kalian ber dua ayo ke masjid, ini area sepi ngapain kaluan di sini? Ber dua an lagi, Mau buat mesum yah? Halal dulu lah baru boleh gitu an." Cerocos Rendra tak membiar kan Panji atau pun Alifia berbicara untuk menjelas kan.
"Diem Lu cerewet! Kita di sini cuma duduk sambil liat bintang noh, jangan negatif thinking napa, kita masih mau hidup di sini, kagak mau di usir dari desa." Jelas Panji panjang lebar.
"Ouh... lain kali kalo ke sini bawa temen, kagak enak di liat tetangga cuy, kalian bukan mahram soal nya." Shita menjelas kan.
"Kalo belum mahram ya tolong dong di mahromin." Seru Andi yang berlalu pergi dari lokasi perbicangan. Alifia nalu mendengar omongan Andi.
"Iya bener banget tuh." Cetus Dini menimpali.
"Segala nasihatin orang, Lu sendiri gih mahramin nih si Dini." Seru Panji menjawab. Dini menunduk malu mendengar seruan Panji.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Udah jan ribut! Kalian berdua sama aja! Sama-sama gantungin anak orang, ngasih harapan palsu anak orang ngga tau kapan mau pasti in! Jangan banyak cing cong pulang! Bersiap buat sholat terawih sana!." Usir Shita tegas pada para teman laki-laki nya.
"Iya Mak ini juga mau pulang sabar." Jawab Panji dengan suara di buat semanis mungkin.
Shita yang di panggil 'Mak' oleh Panji mendelik kan mata nya tajam.
Sedang kan Panji mengejek Shita dengan menjulur kan lidah nya dan berlari secepat kilat agar tak mendapat pukulan dari istri tercinta Rendra itu.
Pukul 20.00 malam terawih di masjid dekat perumahaan Rafka Zarine baru selesai.
Di jalan pulang ke rumah.
"Tadi uztadz Ariz lama banget ceramah nya, ampe ada yang ngantuk-ngantuk loh tadi di barisan perempuan pas denger Uztadz Ariz ceramah, hahaha... ." Tawa Akifa terdengar pelan.
"Bukan cuma di barisan cewek aja yang ngantuk-ngantuk, di barisan cowok juga para bapak-bapak itu nguap terus." Cerita Abdiel mengalir.
"Ceramah Uztadz Ariz sebener nya seru, tapi karena kelamaan jadi gitu deh." Imbuh Abhi menimpali obrolan suami istri itu.
"Ok lupa in ceramah Uztadz Ariz! Ayo pulang dan cari sate sama es buah." Binar bahagia terang-terangan muncul di mata Zarine.
"Hah... bener tuh, ayo!." Seru Alfi dengan semangat 45-nya.
'Lah? Masih inget aja sama sate dan es buah.' Batin para pria itu dengan saling pandang dan terkekeh.
Sesuai janji, sampai di rumah Rafka Zarine, setelah meletak kan mukenah di dalam kamar, 4 keluarga junior itu keluar rumah untuk membeli sate dan es buah.
Di dalam mobil.
"Es buah nya emang masih ada kalo jam segini?." Tanya Bang Idan tak yakin penjual es buah nya ada.
"Bismillah semoga aja ada." Seru Tika berdoa.
"Sesuai kesepakatan tadi sore, es buah tapi ngga usah es loh yah." Tegas Abdiel memperingat kan.
"Yah... kira in dah lupa." Kecewa Akifa dengan menekuk wajah nya.
"Ngga ada tawar menawar lagi, kalo ngga setuju kita beli sate nya aja, es buah nya ganti sirup buah di rumah ada sebotol." Cetus Rafka yang membuat bibir para wanita maju beberpa centi.
"Jangan pada di maju in gitu bibir nya, mau samaan ama Bebek?." Celutuk Bang Idan di iringi kekehan nya di akhir kata nya.
Di luar jendela di dekat Tika, istri Bang Idan itu melihat se sosok wanita yang amat sangat di kenal nya, wanita itu ialah orang yang hampir merebut Bang Idan dari nya, Gissel.
Terlihat di seberang jalan sana rambut panjang nan indah kemilau milik Gissel di tarik oleh seorang wanita dengan keras.
"Astaghfirullah." Terkejut Tika melihat itu semua, Bang Idan dan lain nya menoleh ke arah nya dan menatap dengan tanda tanya banyak di kepala mereka semua.
"Ada apa Yang? Kamu liat apa?." Tanya Bang Idan.
Mobil mereka berhenti di karena kan lampu merah.
"Itu di seberang sana Gissel bukan sih?." Tanya Tika yang membuat Zarine, Akifa, Alfi melongok kan kepala menatap luar mobil yang di tunjuk Tika.
Bang Idan dan lain nya pun sama, mereka penasaran dengan apa yang di lihat Tika.
Lampu berubah hijau. Rafka kembali melaju kan mobil nya. Semua kembali duduk di kursi masing-masing.
"Iya tadi itu Gissel." Jawab Bang Idan dengan nada datar dan dingin.
"Gila woy! Tadi yang narik rambut nya itu loh, pengen bantu in Gua hahahaha... ." Tawa jahat Akifa terdengar.
"Kenapa yah? Kok bisa sih? Dia kan wanita yang menurut ku tahan banting, saat Bang Idan ancurin karir dan perusahaan Papa nya dia ngga lemah kok, cuma nangis sambil teriak 'Aku akan kembali membalas kan dendam ku pada kalian!' Gitu." Jelas Tika jika mengingat kejadian dulu di atap kantor Bang Idan di bawah langit senja yang indah menawan, eak😂.
"Udah! Lebih baik kita jangan bahas masa lalu, dan yang paling penting jangan ngomongin orang apa lagi mencampuri urusan mereka, ngga guna, buang waktu dan tenaga." Cetus Bang Idan menghenti kan obrolan tentang Gissel ini.
"Tapi... kasian loh tadi, dia sampe meringis-meringis gitu, kira-kira apa masalah nya yah?." Kepo Zarine.
__ADS_1
"Mungkin aja beliau istri dari Daddy sugar nya si Gissel? Udah ah jan bahas bener kata Bang Idan jan ikut campur urusan orang." Peringat Alfi yang di angguki oleh Tika, Akifa, Zarine.
Beberapa menit perjalanan dalam berburu sate dan es buah, mereka pun menemukan 2 makanan itu di tempat yang sama.
"Ciwi-ciwi? Jangan ada yang keluar mobil." Tegas Rafka berbicara.
"Ck! Kenapa? Ayo dong Yang kita juga mau liat luar." Rengek Zarine pada sang suami.
"Bener tuh ayo lah." Akifa mengikuti jejak Zarine.
"Tega banget kalian ngurung kita di mobil." Tika mendramatisir.
"Bener tuh, kita juga pengen keluar." Alfi ikut-ikut an.
Rafka, Abhi, Abdiel, dan Bang Idan menggeleng kan kepala sembari memejam kan mata dan sedikit memijit batang hidung oertanda pusing atas rengek kan 4 wanita itu.
"Ayo kalo gitu ikut keluar, tapi jangan lepas gandengan dari kami para suami, awas!." Ancam Bang Idan dengan mendelik kan mata nya tajam bak silet.
Para wanita meciut dan mengangguk kan kepala kompak.
'Hahaha... boleh ketawa ngakak ngga sih? Mereka kalo gitu lucu banget, muka polos nya natural banget.' Batin para pria bersamaan, menghindari tertawa ngakak, mereka melipat bibir menahan tawa.
4 pasang keluarga junior itu keluar mobil sambil bergandengan tangan erat.
Bahkan para wanita hendak melepas genggaman itu tak mampu, karena bukan hanya genggaman lembut yang di beri kan para pria, tapi juga sedikit remasan dan genggaman erat.
'Astaghfirullah... puanya suami possesive nya kebangetan ya Allah.' Batin para wanita kompak tanpa bekerja sama.
Di kedai penjual sate.
"Kita beli berapa tusuk nih?." Tanya Abdiel berbisik di telinga Rafka.
"Beli 40 tusuk deh, in syaa allah cukup dah tuh." Ujar Rafka membalas bisik kan Abdiel.
"Bang? Sate nya 40 tusuk yah." Pesan Abdiel yang di jawab acungan jempol oleh Abang penjual sate.
"Mohon di tunggu yah Mas." Ucap Abang sate itu yang dia ngguki Rafka juga lain nya.
"Gua yang beli es buah nya, berapa bungkus nih?." Tanya Bang Idan.
"Tentu in sendiri deh, secukup nya aja." Ujar Rafka pada Abang kandung nya ini.
Bang Idan menganguk meng iya kan, kemudian dia berdiri dengan sedikit menyeret Tika sang istri agar mengikuti nya ke kedai es buah tepat sebelah penjual sate.
"Yang? Sekalian minum di sini satu." Pinta Tika berbisik di telinga Bang Idan.
"Ngga ada, nanti aja di rumah." Tolak Bang Idan mentah-mentah.
Tika langsunh cemberut memasang wajah ngambek nya.
Bang Idan yang kala itu memakai topi melepas topi nya dan memakai kan nya ke kepala sang istri dengan menurun kan topi itu menutupi wajah ngambek menggemas kan milik Tika agar tak di lihat orang.
"Ck! Apa an sih!." Seru Tika dan hendak melepas Bang Idan berbisik dan mengancam Tika dengan mengatakan "Kalo di lepas, siap-siap nanti malam kamu ngga tidur semalaman." Tika membeku seketika, dia mengurung kan niat nya untuk melepas topi yang sedang dia pakai di kepala nya.
Bang Idan menyungging kan senyum kemenangan karena sang istri menuruti nya.
'Hahahaha... ancamam Gua tadi ampuh juga yah, maaf Yang, kalo kamu ngga di gitu in aku yang bakal marah, wajah kamu yang ngambek tuh bikin orang gemes, ngga ikhlas bagi-bagi kegemesan kamu aku nya tuh.' Batin Bang Idan berucap.
"Makan kacang rebus enak nih." Cetus Tika.
"Makan siomay juga ngga kalah enak." Zarine menimpali perkataan Tika sang kakak ipar.
"Bakso juga enak." Akifa ikut-ikut an.
"Makan bakpau lebih enak, manis rasa nya." Imbuh Alfi ikut berbicara.
Para pria yang pusing akhir nya membawa 4 bumil itu berpisah untuk makan apa yang mereka ingin kan.
Di Rafka Zarine.
"Bungkus boleh ngga Yang?." Pinta Zarine pada Rafka.
"Jangan lapar mata, kita nimbun makanan entar siapa yang makan? Makan secukup nya aja." Rafka memberi pengertian pada istri kesayangan nya ini.
"Ok deh." Jawab Zarine sedikit kecewa.
Rafka yang tau Zarine kecewa, dia tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Zarine yang berbalut hijab itu.
4 kekuarga junior ini jalan-jalan malam sampai pada pukul 22.00 malam.
Di waktu yang lumayan singkat itu, para wanita menghabis kan waktu ber 4 tanoa menghirau kan keberadaan suami masing-masing, karena memang niat nya mereka mau menghabis kan waktu dengan Tika.
Dalam mobil perjalanan pulang, para bumil itu ketiduran di pundak suami mereka.
"Mereka habisin waktu dengan sangat baik banget, sampe kita suami nya ngga di anggap ada tadi." Cetus Abdiel sambil menggeser kepala Akifa agar nyaman bersandar.
"Besok mereka bakal pisah dan entah sampe kapan Gua kagak bisa menentu kan juga, maklum aja sih kalo mereka kaya tadi." Bang Idan mengerti maksud hati dari para wanita yang asik bermain tadi.
Sampai di rumah.
Para pria mengangkat wanita mereka masing-masing dan membawa nya ke dalam kamar, merebah kan tubuh mereka di atas ranjang empuk dengan sangat perlahan agar tak terkejut dan terbangun.
Mereka juga melepas kan sepatu di kaki istri masing-masing dan juga membantu mengganti baju mereka.
Setelah selesai, mereka keluar kamar dan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Kalian udah pulang?." Tanya Mama Rafka yang membuat Rafka, Bang Idan, Abdiel, juga Abhi terkejut hampir saja gelas di tangan mereka jatuh dan pecah.
"Ma?! Bisa ngga sih kalo jalan ada suara nya? Ampir aja nih gelas jatuh." Rungut Bang Idan pada sang Mama.
"Ya maaf, hehehe... ini para ciwi-ciwi kemana?." Tanya Mama Rafka.
"Pada udah tepar di kamar, kacapekan tadi jalan di taman kota, sambil icip jajan makan ini makan itu." Jelas Abhi yang mendapat angguk kan paham dari para tetauh.
"Ini kenapa belum pada tidur? Udah malem loh ini." Cetus Abdiel sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya.
"Iya ini kita udah mau tidur." Balas Mama Abdiel berbicara.
"Dari mana ini tadi?." Tanya Abhi.
__ADS_1
"Duduk di taman belakang sambil ngobrol, semua nya masih ada di sana tuh." Tunjuk Mama Abhi ke arah belakang.
4 muda-muda itu mengangguk paham.
Tiba-tiba... .
'Tring... ring... ring... .' Suara panggilan dari telepon Bang Idan terdengar.
Buru-buru suami Tika itu merogoh saku celana nya dan mengambil benda pipih di sana.
"Bang Rafa telepon nih, pasti ngasih kabar kalo udah sampe di Surabaya, ayo kita ke taman belakang kita ngobrol ama lain nya." Ajak Bang Idan.
Di taman belakang, Bang Idan mengangkat telepon nya dan menspeaker suara Bang Rafa di seberang sana.
"Assallammu'allaikum Bro." Salam Bang Rafa setelah Bang Idan menggeser ikon hijau ke kanan di layar ponsel nya itu
"Wa'allaikum sallam, udah sampe Bang?." Tanya Bang Idan dan para tetuah lain nya kompak.
"Wah pada ngumpul toh? Kok belum tidur?." Tanya balik Bang Rafa.
"Iya nih kita pada ngumpul." Jawab Bang Idan cepat.
"Lu sempe jam berapa di sana?." Tanya Abdiel.
"Baru 25 menit yang lalu aku sama Rain sampe." Jawab Bang Rafa.
"Mana Rain Bang?." Tanya Bunda yang menanya kan menantu nya itu.
"Pas tiba tadi dia langsung tepar di kasur Bun, capek banget kaya nya, padahal kita tadi banyak berhenti nya loh." Cetus Bang Rafa menjelas kan.
"Ya maklum orang hamil gampang capek." Kata Bunda memberi pengertian pada Bang Rafa.
"Kok ngga ada suara Zarine, Akifa, Alfi, Tika sih? Mana mereka?." Tanya Bang Rafa.
"Mereka juga udah tepar di kasur, capek habis jalan-jalan tadi di taman kota." Rafka memberi tahu kegiatan mereka tadi.
"Ouh, eh iya, Bang Idan? Gua minta maaf ye kagak bisa nganterin Lu ke bandara besok, sory banget, tadi aku dapet laporan dari Asisten aku yang ada di sini, kata nya perusahaan kena tipu, duit buat ngerja in proyek di bawa kabur ama salah satu karyawan sini, dan lagi pabrik pembuatan alat-alat medis di sini juga kebarakan yang parah lagi kebakaran itu makan korban jiwa sebanyak 2 orang." Jelas Bang Rafa panjang tentang musibah yang menimpa diri nya.
"Asraghfirullah, innalillah, yang sabar yah Bang." Semua orang memberi kan kata-kata penyemangat untuk Bang Rafa.
"Soal nganterin Gua ke bandara, Gua ngga papa kok ngga Lu anterin, yang penting Lu di sana doa in Gua selamat sampai tujuan." Kata Bang Idan menghibur Bang Rafa sang sahabat itu.
"Hahaha... itu pasti lah Bang Idan tenang aja, kagak usah Lu suruh Gua pasti doa in Lu sampai sana dengan selamat, dan maaf kaya aku ngga bisa balik ke Jakarta lebaran ini Bun, maaf banget yah." Ucap Bang Rafa tulus dsri hari yang paling terdalam.
Semua orang ngobrol dengan Bang Rafa lewat panggilan suara lumayan lama sampai pukul 23.00 malam, 5 menit kemudian panggilan selesai dan semua orang memutus kan untuk tidur, karena beberajam lagi waktu sahur akan tiba.
Di kamar Rafka Zarine.
Terlihat di ranjang istri Rafka itu duduk sambil makan buah dalam muka yang tertekuk cemberut.
"Eh? Istri aku kok bangun sih? Udah dari tadi kah?." Tanya Rafka sambil mendarat kan tubuh nya di empuk nya kasur king size di dalam kamar itu.
"Dari mana kamu?." Tanya Zarine ketus dengan memanyun kan bibir nya.
"Hahahaha... ngambek yah? Utututu... lucu banget bibir nya kalo lagi ngambek gitu." Goda Rafka dengan tawa nya.
"Aku bangun kamu udah ngga ada, kemana aja?." Tanya Zarine tak mengindah kan goda an dari sang suami.
"Dari duduk di taman belakang sama para tetuah, Bang Rafa tadi juga telepon ngasih kabar kalo dia udah sampe di tujuan." Beri tahu Rafka detail.
Zarine meletak kan piring berisi buah dari depan perut nya beralih ke meja nakas di sebelah nya.
Badan nya melorot ikut berbaring di sebelah Rafka.
"Alhandulillah deh kalo Bang Rafa udah sampe, ayo peluk aku, ngantuk." Pinta Zarine amat manja.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.