
Sesuai janji tadi sore.
Ba'da isya' 7 keluarga senior datang ke kediaman Rafka Zarine.
Beliau semua duduk di sofa ruang santai dengan di temani berbagai camilan dan minuman pelengkapnya yang telah di sediakan oleh tuan rumahnya.
Kali ini Rendra sebagai bahan pembicaraan.
"Kamu berapa hari di sini Ren?." Tanya Mama Akifa.
"3 sampai 4 hari aja Te." Jawab Rendra.
"Bentar banget, ngga mau keliling-keliling Jakarta dulu?." Tanya Bunda Zarine.
"Hehehe, Ibu kami ngga ada yang jagain Te, kasian beliau bertiga juga sudah setengah tua, tetangga memang ada, tapi kami tetap belum tenang jika meninggalkan terlalu lama?." Jelas Panji panjang lebar.
"Wah tipe sayang Ibu yaa." Puji Mami Alfi.
3 cowok itu hanya tersenyum menanggapi para orang tua ini.
"Kalo boleh tau orang tua laki-laki kalian kemana?." Tanya Papa Rafka.
Panji, Rendra, dan Andi tersenyum miris mendapat pertanyaan itu.
"Ayah saya tiada saat usia saya 10 tahun Om." Jawab Rendra.
"Kalo Ayah saya... pergi meninggalkan ibu dan saya sama selingkuhannya ke kota ini." Jujur Panji.
"Dan kalo Ayah saya pergi setelah berceria dengan Ibu, kalo tidak salah usia saya baru 7 tahun." Panji mengatakan itu jujur.
__ADS_1
"Maaf telah mengungkit masalah keluarga kalian." Ucap Papa Rafka sendu.
"Tak masalah Om, di desa kami juga ini sudah jadi rahasia umum." Jelas Rendra.
Shita mengusap pundak Rendra berniat memberi kekuatan.
Rendra tersenyum ke arah Shita dan menggenggam tangannya yang ada di pundak.
3 cowok itu tidak malu menceritakan masalah keluarga mereka karena memang benar yang di katakan Rendra, semua yang mereka bertiga ucapkan bukan lagi rahasia pribadi, tapi sudah menjadi rahasia umum.
Siapa yang tidak mengetahui nasib ke tiga lelaki menginjak dewasa ini di desa Singo Joyo?, semuanya mengetahuinya.
Untuk Andi, dia sebenarnya tidak mau di ajak ke Jakarta oleh Rendra, tapi demi temannya itu, dia rela ikut ke kota yang dia benci ini.
"Emmm, Andi maaf kalo Ayah lancang, tapi apa Andi tidak mau mencari Ayah Andi?." Tamya Ayah Zarine.
"Buat apa saya mencarinya Om?, laki-laki brengsek itu tak sudah tak mempedulikan saya dan Ibu saya lagi, saya berdoa dia meninggal di sini, maaf saja jika saya durhaka, tapi luka yang di berikan dia ke Ibu saya tak kan cukup jika di bayar nyawanya sekalipun." Gamblang Andi mengutarakan kebenciannya.
Mereka semua merasakan kemarahan Andi yang sangat dalam.
"Maaf saya merusak momen, silahkan lanjutkan pembicaraannya." Ucap Andi dengan tersenyum ke arah semua orang.
"Ok karena hari semakin larut, mari kita mulai pembicaraannya." Ayah Zarine mengalaihkan pembicaraan.
"Begini, besok pagi pukul setengah 6 kita berangkat ke villa di Puncak." Beri tahu Papa Rafka.
"Semuanya di sana sudah siap, besok ijab qobul jam 7 pagi terlaksana, setelah itu di lanjut acara-acara lainnya." Sambung Papa Tika.
"terus kita pulangnya ba'da asyar." Jelas Papa Rafka.
__ADS_1
"Besok kita boleh keliling-keliling dulu ngga Pa?." Tanya Tika antusias.
"Boleh, kalian bebas keliling di sana besok." Kata Papa Rafka.
Setelah pembicaraan itu mereka mengobrol dengan berbagai topik.
Hingga pukul setengah 10 malam, para orang tua memutuskan masuk ke dalam kamar dan tidur.
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
Maap keun up nya cuma 500 kata🙏.
__ADS_1
Author buntu ngga dapet ide😭.