Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventy


__ADS_3

"Emang Mentari itu kemana?." Tanya Dini.


"Di jemput Allah." Jawab Andi.


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


"Ouh, ma... maaf Kak." Ucap Dini.


"It's ok." Singkat Andi menjawab.


Suasana berganti hening dan sangat canggung untuk Dini.


Dini menatap Andi iba, dia paham perasaan Andi yang kehilangan.


"Kakak harus tetep semangat, Allah pasti cari kan pengganti terbaik untuk Kakak." Bijak Dini berucap.


"Hahaha, kamu bener, aku udah ikhlas kok." Sambung Andi sambil tersenyum menatap Dini.


Dini tak berkedip menatap senyum manis Andi.


"Udah kek dunia punya berdua, lainnya pada numpang." Bisik Shita pada lainnya.


'Senyum nya manis banget, indahnya cipataanmu ini Ya Allah.' Batin Dini berucap memuji ke tampanan Andi.


"Ehem, kamu asli orang sini kah Dini?." Tanya Raina memecah lamunan Dini yang asyik menatap Andi.


"Eh... i... iya Kak, aku asli orang sini." Gagap Dini menjawab.


Dia tersipu malu karena ketahuan menatap Andi intens.


'Duh, malu banget.' Batinnya.


"Kalo kakak pasti dari kota ya?." Tebak Dini.


"Iya, kita semua dari kota." Jawab Zarine.


Mereka asyik berbincang hingga seseorang memanggil Dini dari kejauhan.


"Dini?!!, pulang Nak!!." Seorang wanita paruh baya memanggil Dini menguruh pulang.


"Iya Bu!!." Sahut Dini pada wanita di sana.


Wanita itu pergi.


"Emmm... ya sudah kalo tidak ada hal yang ingin di bicarakan lagi, aku pamit dulu semuanya, assallammu'allaikum, permisi." Dini pamit pulang.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati Din." Jawab Rafka Zarine dan lainnya sambil memberi pesan pada Dini.


Dini mengangguk lalu berbalik ingin berjalan.


Tapi tiba-tiba... .


"Tunggu Din!." Panggil Andi.


Dini berbalik dan... .


'Grep.'


Andi memeluk Dini erat.


Shita menepuk keningnya perlahan.


"Dasar ngga bisa kontrol diri." Sungutnya.


Sedangkan Dini, dia diam terpaku di pelukan Andi.


Saat mulai tersadar, dia mulai berontak dan memaksa lepas dari pelukan Andi.


"Kak Andi, lepas Kak!." Ronta Dini.


Andi mulai melepas pelukannya.


"Maaf udah lancang memelukmu." Ucap Andi.


Dini tak menggubris dia berlalu pergi menjauh dengan berlari.


Di dalam hati, Dini menggerutu kesal pada dirinya sendiri.


'Gimana ceritanya aku bisa nyaman sama pelukan Kak Andi tadi, dasar hati bo**h.' Umpat Dini pada hatinya sendiri.


Di tempat Andi.


"Keterlaluan Lo Ndi, kaget tau anak orang tadi." Sungut Shita.


"Gua tau, pas Gua peluk tadi dia tegang gitu." Jawab Andi cepat.


"Kontrol diri Lo Ndi." Nasihat Rendra pada sahabatnya ini.


"Dia mirip banget sama Mentari, Gua gagal berpikir jernih." Keluh Andi pada dirinya sendiri.


"Ya ini tantangan buat Lo, ingat!! Dia udah ngga ada, jangan bikin dia di sana sedih dengan keadaan terpuruk Lo ini." Nasihat Panji.


'Huuuuffffffh.' Helaan nafas lelah terdengar dari hidung Andi.


Keheningan tercipta.


Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kalo boleh tau, si Mentari Mentari itu karena apa meninggalnya?." Tanya Abdiel hati-hati pada Andi.


Andi malah memejamkan matanya pertanda tak mau menjelaskan.


"Biar Gua yang jelasin, boleh kan Ndi?." Shita meminta persetujuan Andi.


Andi hanya mengangguk kan kepala pelan.


"Dia meninggalkan karena kecelakaan, waktu itu umur dia tepat 17 tahun, kalo ngga salah hari Rabu tanggal 22 Februari." Jelas Shita.


'Ohh.' Semua yang mendengar penjelasan Shita.


"Cerita Lo ngga lengkap Ta." Celutuk Andi menyahut.


"Emang bener kan kaya gitu." Kata Shita.


"Kurang lengkap." Keukeuh Andi.


"Lo masih mau nyalain diri Lo sendiri?!, ini namanya takdir Ndi, bukan salah Lo!!, dah lah males debat Gua." Putus Shita.


Dia berjalan meninggalkan tempat mereka duduk tadi.


"Emaang kenyataannya gitu kan kejadiannya!." Seru Andi ke pada Shita.


Lalu Andi ikut meninggalkan tempat duduk.


'Huuffffh.' Rendra dan Panji mengehela nafas lelah.


"Pusing Gua mikir mereka." Keluh Rendra.


"Emang gimana ceritanya Mentari sama Andi?." Tanya Raina.


"Lo kenal sama Mentari kan Rain?." Tanya Rendra.


"Kenal banget lah, dia anak panti asuhan Harapan kan?." Tebak Raina.


"Yaa." Jawab Rendra.


"Gini, 2 tahun lalu, Mentari ngga ada karena kecelakaan tabrak lari." Ungkap Panji.


"Apa yang di cerita in Shita tadi udah lengkap, yang Andi maksud ngga lengkap adalah, Shita ngga menceritakan Andi di sana." Kata Rendra.


"Maksudnya?." Tanya Rafka.


"Andi nyalahin dirinya sendiri kalo mengenang hari itu, waktu itu... Andi lagi nyebrang jalan buat samperin si Mentari, Dia ngga hati-hati saat nyebrang, dari arah selatan ada truk besar yang melintas dengan kecepatan maksimal, dan... ." Penjelasan Rendra tak ia teruskan.


"Kalian pasti paham kan?, bukan nya Andi yang ketabrak, malah Mentari yang kena, Sejak saat itu... Andi... dia... menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Mentari." Sambung Panji.


"Shita udah bilang ribuan kali kalo ini semua takdir, bukan salah dia, tapi Andi ngga mau denger seakan menulikan pendengarannya." Kata Rendra.


"Andi baru bisa bangkit saat 1 tahun ketiadaan Mentari." Jujur Rendra.


"Cukup lama kalo gitu dia terpuruknya." Celutuk Abdiel.


"Yaaaaa, seperti itulah." Kata Panji.


"Kasian." Sahut Akifa iba.


"Namanya juga takdir Yang." Sahut Abdiel sang suami sambil memeluk Akifa di pundaknya.


"Gua atas nama Andi mau ngucapin banyak minta maaf sama kalian semua karena ganggu kabahagiaan kalian." Ucap Rendra dengan mengatupkan kedua tanggannya.


"Gak papa kok Dra, ngga berat juga." Jawab Bang Idan.


"Tetep aja kita ngga enak." Kata Rendra.


"Ngga papa, mending kita cari Andi sama Shita." Ajak Bang Rafa.


"Ayo." Setuju semua nya.


Mereka beranjak dari gubuk dan berjalan mencari Shita dan Andi.


Tak lama mereka berjalan, Rafka Zarine dan lainnya menemukan 2 orang yang mereka cari.


Shita dan Andi duduk bermain air di tepi sungai dengan menjaga jarak masing-masing 3 meter.


"Di sini kalian rupanya." Sapa Panji.


Dia dan lainnya memilih posisi untuk duduk sambil bermain air juga.

__ADS_1


"Udah ngga berantem?." Tanya Rendra pada dua sahabatnya ini.


"Udah, temen Lo tuh bikin naik darah." Dengus Shita menunjuk Andi dengan dagunya.


"Iya iya Gua kan udah minta maaf sama Lo." Sahut Andi dengan mennyiramkan air ke muka Shita.


"Andi gila, enyah Lo!." Umpat Shita.


"Hahaha." Tawa semua nya bahagia.


"Untuk hari ini, mari kita main air sepuasnya, hilangin dulu yang namanya beban hidup." Ajak Bang Rafa.


"Kuy main air!!!." Seru Akifa.


3 keluarga junior, 2 calon suami istri yang akan menikah besok, Rendra, Shita, Andi, dan Panji turun ke sungai dan bermain air bak anak kecil.


Sungai ini lumayan luas dan lebar jadi lebih puas bermain.


Setelah bermain di sungai, mereka bermain di sawah mencari belut.


"Eh, kita belum ijin Lo sama yang punya, ngga papa ini?." Tanya Zarine.


"Kita ijin dulu ayolah." Ajak Akifa.


"Duh, dasar orang kota, gini yak, kalian mau ijin ke siapa?, emang kenal sama yang punya sawah?, engga kan?, udah sekali kali bandel napa sih, kagak bakal ada yang tau juga, udah ayo turun, banyak belutnya ini sawah, percaya deh." Kata Rendra.


"Emang ini tempatnya belut Dra." Celutuk Panji.


"Gini deh, kalo kalian mau Gua ijin, ok nih ijin, Pak?!, Buk?!, belut yang di sawahnya saya minta!!!." Teriak Rendra.


"Iya Nak ambil aja!!!." Sahut Andi dengan suara di buat seperti Bapak-bapak.


'Hahaha.' Semuanya tertawa terbahak melihat tingkah kocak Andi Rendra.


Tapi Beda dengan Shita, dia menepuk dahinya pelan.


"Dasar aliran sesat Lo." Umpat Shita dengan mencubit lengan Rendra.


"Aush, sakit Ta." Ringis Rendra dengan nyengur kuda.


"Hahaha, ngga papalah sesekali ikut ajaran sesat." Kata Abdiel dengan ikut turun ke sawah.


"Penasaran serunya cari belut Gua, biasanya Gua cuma bisa liat di tv." Kata Bang Idan, dia juga ikut turun.


Kemudian di susul Bang Rafa, Rafka, Abhi, dan Andi.


"Hati-hati sawah ini tanah sama airnya gatel loh." Peringat Shita yang di angguki para lelaki.


Shita menggulung celana panjanganya, dia juga mau ikut turun, tapi tiba-tiba Rendra berbicara yang membuat Shita mengurungkan niatnya.


"Ikut turun?!, jangan harap aku kasih barangnya!." Seru Rendra mengancam Shita.


Shita yang sudah mau menginjak kan kaki dengan terpaksa menghentikan niatnya.


Dia menatap Rendra dengan wajah kecut.


"Bagus, jadi anak baik, duduk situ aja." Kata Rendra.


Lainnya yang melihat Shita dan Rendra hanya tertawa cekikan.


"Kalo bukan karena barang itu, males Gua nurut sama Lo." Dengus Shita.


"Lo aja, cewek tapi pecicilan, orang nyebur sumur Lo mau ikut?." Tanya Rendra gemas dengan fokus mencari belut.


"Iyo, tapi kudu kowe disek sing nyebur (iya, tapi harus kamu dulu yang nyebur).^ Jawab Shita menggunakan bahasa Jawanya.


"Lah lapo aku sek?!, kowe ae kono (lah ngapain aku dulu?, kamu aja sana)." Jawab Rendra dengan bahasa yang sama.


Shita diam tak menjawab lagi, dia duduk di dekat Zarine dan para perempuan lainnya yang tidak ikut mencari belut.


"Kalian ngomong apa an sih?, kagak paham Gua." Sungut Abdiel dengan tertawa pelan.


Rafka Zarine dan lainnya memang tidak paham dengan obrolan Shita Rendra, tapi yang mereka semua dengar sepertinya Shita Rendra sedang berdebat.


"Ngomong bahasa alien, cuma Rendra, Shita, Andi, Panji, Raina yang tau." Sahut Bang Rafa menyahut dengan tertawa juga.


"Hahaha." Tawa semua orang pecah.


Kini di sawah yang entah milik siapa, para laki-laki muda itu mencari belut dengan begitu serunya.


"Ini kalo sampe yang punya sawah tau, bakal habis kita di teriakin, hahaha." Tawa Abdiel.


"Hehehe, bentar lagi kita balik ke villa, belutnya juga udah dapet lumayan banyak." Kekeh Rendra.


"Kalian ber tiga biasa cari gini an di sawah?." Tanya Rafka pada Rendra, Andi, Panji.


"Ya, bahkan hampir tiap hari." Jawab Andi.


"Kita ngga hanya ber 3 tapi ber 4, noh cewek pecicilan tuh ikut, kalo ngga diajak, ngambek tuh bocah." Tunjuk Rendra pada Shita yang sibuk bercanda dengan Raina dan lainnya.


"Hahaha." Tawa para cowok pelan.


Tiba-tiba dari jarak 5 meter seseorang berteriak.


"Aden??!!!, Non??!!!, aduhhh!!!, kalian ngapain nyebur ke sawah????, cari apa?!." Tanya seorang lelaki paruh baya yang menghampiri Rafka Zarine dan lainnya dengan berlari.


"Astughfirullah, bukannya Aden dua ini besok mau nikah ya?." Tanya Bapak itu menunjuk Bang Rafa dan Bang Idan.


"Iya Pak." Jawab Bang Rafa dan Bang Idan kompak.


"Naik gih sekarang semuanya, nanti gatel-gatel loh kaki sama tangannya." Suruh Bapak.


"Bentar lagi Pak nanggung." Tolak Abdiel.


"Beli aja kan bisa Den belutnya." Kata Bapak.


"Kalo beli ngga bisa seru kaya gini dong Pak." Celutuk Andi.


"Hmmmm, jadi ini Aden semua nyebur sawah cuma mau dapet serunya?." Tanya Bapak.


"Hehehe, iya pak." Cemgir semua para laki-laki yang ada di dalam sawah


"Emmm Pak?, Bapak tau ngga ini yang punya sawah siapa?." Tanya Shita dari arah belakang Bapak itu.


"Kenapa emangnya Non?." Tanya balik Bapak.


"Kita belum minta ijin, sekalian mau tanggung jawab sama sawahnya yang udah kita buat rusak kaya gini." Jelas Rendra.


"Ouh, yang punya sawah pasti ngebolehin Den." Jawab Bapak.


"Bapak kenal sama yang punya?." Tanya Shita sekali lagi.


"Hehehe, gimana ngga kenal Non, yang punya saya sendiri." Kekeh Bapak itu.


"Eh?, Bapak ngga marah sawahnya kita buat main kaya gini?." Tanya Abhi.


"Hahaha, ngapain marah?, kan nanti bisa di bajak lagi." Kata Bapak.


"Bapak namanya siapa?." Tanya Tika.


"Dito." Jawab Pak Dito.


"Pak Dito, maaf yaaa, sawahnya kita rusakin." Ucap Shita dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Ngga papa Non, lagi pula padinya belum saya tanam, saya ngga marah, memang di lokasi sawah saya ini banyak belutnya, saya cuma khawatir kalian semua gatel-gatel habis keluar dari sawah." Kata Pak Dito.


"Pak tapi tetep bakal kita ganti smeua kerugainnya." Ucap Shita keukeuh sambil memberi Pak Dito uang


"Ngga usah Non, saya ngga papa beneran, ngga usah." Tolak Pak Dito.


"Tap-." Ucapan Shita terpotong.


"Ngga papa Non, saya ngga marah." Jawab cepat Pak Dito.


"Terima aja Pak, ini sudah rejeki Bapak." Kata Zarine memberi tahu.


'Huuufffffh.' Pak Dito menghela nafas.


"Ya sudah kalo gitu, Bapak terima ya, semoga kalian semua murah rejeki, sehat selalu, selalu bahagia, dan di mudahkan dalam menghadapi ujian, aamiin." Doa Pak Dito tulus.


"Aamiin." Jawab Para muda-muda kompak.


"Bapak tau dari mana kalo kita berdua besok nikah?." Tanya Bang Idan.


"Aden dan Non semua yang keluarganya tinggal di villa itu kan?." Tebak Pak Dito.


"Iya." Jawab mereka kompak.


"Saya tukang kebun di sana Den, Non." Ungkap Pak Dito.


"Ouhhhh, pantes aja tau." Gumam Bang Idan.


"Ini ngomong-ngomong, belutnya dapet banyak kah?." Tanya Pak Dito.


"Lumayan Pak." Jawab Rendra.


"Bapak mau belut?." Tawar Andi.


"Hahaha, Bapak udah bosen makan itu Den, makasih deh untuk tawarannya." Tolak Pak Dito halus.


"Ouh iya, Bapak yang punya sawah, jelas aja kalo udah bosen." Kata Panji.


"Hahaha." Tawa Paal Dito pecah.


"Emmmm, mending sekarang Aden dan Non semua pulang, bentar lagi dzuhur soalnya." Suruh Pak Dito.


"Iya Pak Dito bener, ini udah jam 11 kurang 20 menit." Kata Shita.


Para laki-laki keluar dari sawah, naik ke daratan.


Pak Dito celingak celinguk mencari sesuatu.


"Belutnya mana Den?." Tanya Pak Dito.


"Tadaaaaaa!!." Tunjuk Andi pada barang di tangan kanannya.

__ADS_1


"Kemeja Gua Nyet!." Seru Panji.


"Pinjem bentar jan pelit-pelit kuburannya sempit loh nanti." Kata Andi dengan wajah tanpa dosa.


"Lo pinjem kagak bilang, mana buat tempat belut lagi." Sungut Panji.


Andi hanya nyengir kuda menunjuk kan gigi rapi dan putihnya.


"Udah ayo pulang." Ajak Raina.


"Pak Dito, makasih yaaa." Ucap mereka kompak.


"Sama-sama." Jawab Pak Dito.


"Kita pamit Pak, permisi, Assallammu'allaikum." Salam Rafka Zarine dan lainnya.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Pak Dito.


3 keluarga junior dan lainnya pulang sambil berlari dnegan pelan.


Sampai di depan villa.


"Astaughfirullah!!!!, kalian dari mana ini?!." Tanya Mama Rafka.


"Ma tolong bawa in ember ke sini." Pinta Bang Idan tanpa menjawab pertanyaan sang Ibu.


"Iya tunggu bentar." Kata Mama Rafka.


3 kemudian Beliau sampai dengan ember sedang dan diberikan pada Bang Idan.


"Taruh sini Ndi." Suruh Bang Idan.


Andi meletak kan belut itu di sana.


"Allahu Akbar, cuma demi belut aja kalian sampe kaya gini?!, ampun ya allah!." Sungut Mami Alfi.


"Hehehe, seru banget tapi Te." Cerita Abdiel.


"Nih Papa tambahi biar makin seru!." Kata Papa Rafka.


'Byurrrr.' Kran air di semprotkan oleh beliau ke arah para muda-muda.


"Hujan!!!." Teriak Akifa.


"Bukan!!, ini kran air, tuh Om Yusuf yang semprot." Kata Abdiel sambil menunjuk pelaku.


Papa Rafka menyemprotkan air dengan tertawa kecil dan beliau makin mengencangkan deras air yang keluar dari selang penyemprot yang di pegangnya.


"Pa udah Pa, stop!!." Seru Rafka.


Sesuai permintaan Rafka, acara semprot menyemprot pun selesai.


"Ini belut dari mana?." Tanya Ayah Zarine.


"Nyari di sawahnya Pak Dito tukang kebun villa ini Yah." Jawab Bang Rafa.


"Kurang kerjaan banget sih kalian." Mama Tika berbicara sambil tertawa kecil.


"Ihhh, liat, muka kalian memerah tuh terlalu banyak main panasan, masuk lewat pintu belakang sana, mandi, terus nanti bajunya, biar para pelayan yang anterin, syuh syuh sana pergi." Perintah Mama Rafka sambil mengusir.


"Emang kita ayam apa pakek di syuh syuh." Gerutu Bang Idan.


"Mama denger loh sayang!." Sahut Mama Rafka.


"Iya Ma ini juga mau mandi di belakang." Bang Idan bergegas ke belakang dengan berlari.


Di teras depan villa.


"Enak nih kalo di masak, biar aku aja yang bawa ke dapur, biar nanti para pelayan yang bersihin dan goreng." Kata Papa Abdiel.


"Iya deh sana." Kata Mama Akifa.


Para orang tua ikut masuk ke dalam rumah.


Papa Abdiel meminta pelayan untuk menggorengkan belut yang di dapat para muda-muda tadi.


Dan Mama Rafka mengambil baju satu per satu dari kamar muda-muda untuk di berikan pada mereka sebagai baju ganti mandi.


Adzan dzuhur berkumandang.


Semua orang berbondong-bondong masuk ke mushollah yang ada di villa untuk menunaikan kewajibannya kepada Allah.


Ada juga yang menetap memasak di dapur, mereka adalah pelayan yang sedang tanggal merah tidak bisa sholat.


Di dapur.


"Ini anak-anaknya Ibu dan Bapak kok mau ya cari ginian, padahal di sana panas loh." Kata pelayan satu.


"Hahaha, di kota kan ngga ada sawah, jadi yaaa mereka penasaran gimana serunya cari ginian." Jawab teman nya.


"Tapi ini banyak banget loh, emang mereka habis makan segini banyaknya belut goreng?." Tanya nya lagi.


"Yaaa kan kita semua ada, mereka ngga pelit tau, kalo di rasa masakan yang kita masak kebanyakan kadang di suruh bawa pulang makan sama lainnya." Jawab teman nya itu lagi.


"Makan sisa gitu?." Tanya pelayan 3 yang sedari tadi diam.


"Bukan lah, kalo sisa itu makanan yang habis di gigit terus di kasih ke kita, mereka itu kalo makan tau adab tau, mereka ngga pernah sia-sia in makanan, intinya kalo makan ngga pernah ada kata sisa di piring, dan meja ngga pernah berantakan selesai mereka makan." Jelas Teman pelayan 1 dan 3.


"Kok kamu hafal banget?." Tanya pelayan 3.


"Aku udah 3 kali sekarang ngelayanin mereka semua." Jawabnya.


"Pantes." Singkat teman-temannya.


"Udah jan nge ghibah mulu." Putus pelayan 2.


Dari arah pintu dapur Mama Rafka dateng mengecek masakan yang dimasak pelayan.


"Waduh banyak banget ini?, kalian jangan lupa ambil yak nanti, kami semua satu orang satu belut aja udah puas, kasih juga yang lain, sediain di meja makan secukupnya aja, paham kan?." Jelas Mama Rafka.


"Jelas Bu." Jawab 3 pelayan kompak.


"Ya udah saya tunggu di meja makan kalo gitu." Pamit Mana Rafka, dan kemudian dia pergi.


"Tuh kan apa aku bilang?, beliau itu baik, royal lagi, ngga pelit sama apa pun, ayo kita sajikan yang dipiring ini ke meja makan." Puji pelayan 2 dan mengajak teman-temannya meletak kan makanan di meja makan.


Di meja makan semuanya telah duduk di kursi masing-masing degan formasi lengkap.


"Nah ini nih, menu utama kita, Belut Goreng." Kata Mama Rafka.


Beliau menerima piring yang pelayan berikan padanya.


"Kalian udah ambil tadi kan?." Tanya Mama Rafka berbisik.


"Sudah Bu, terima kasih ya Bu." Ucap pelayan tulus.


"Sama-sama, kalo udah selesai, suruh juga semuanya makan." Pesan Mama Rafka.


"Iya Bu, ya sudah kami kembali ke dapur dulu Bu, permisi." Pamit Pelayan yang dibalas anggukan dan senyuman manis dari Mama Rafka.


"Ayo semuanya makan, baca doa dulu." Peringat Mama Rafka.


7 keluarga senior, 3 keluarga junior, Bang Rafa, Bang Idan, Tika, Raina, Shita, Rendra, Andi, dan Panji memakan makan siangnya dengan lahap.


Mereka semua merasakan sensasi baru yaitu makan belut yang ternyata rasanya enak, gurih dan crispi.


"Wah, baru tau rasanya kalo se enak ini." Puji Abdiel.


"Hehehe, baru pertama makah kah semuanya?." Tanya Andi.


"Jujur, iya, kita semua baru makan." Jawab Rafka.


"Ini di pasar biasanya banyak yang jual loh." Beri tahu Shita.


"Masa sih?." Tak percaya Abhi.


"Iya, di pasar ada banyak." Jawab Panji.


Semuanya mengguk kan kepala paham, dan kembali memakan makanan nya.


Selesai makan mereka bersantai di ruang santai villa di lantai atas.


"Perias besok dateng pagi, kalian yang cewek-cewek harus siap pagi banget, jangan sampe telat." Beei tahu Mama Rafka.


"Di rias semua ini ceritanya Te?." Tanya Akifa.


"Iya, wajib dong sayang." Jawab Mama Rafka.


"Dan untuk kalian para cowok khususnya yang jadi mempelai, jangan sampe bangun telat, ngga jadi nikah baru tau rasa kalian berdua." Ancam Mama Tika.


"Sadis amat Mama ngomongnya." Celutuk Tika.


"Bercanda sayang." Kata Mama Tika dengan terkekeh pelan.


Pukul 1 siang, mereka semua, para muda-muda dan para orang tua masuk kamar masing-masing untuk tidur siang.


Khususnya para muda-muda yang cowok, mereka lelah sehabis cari belut di sawah.


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏


Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


Hari ini up nya jam 14.53 loh, doain lancar terus idenya biar bisa up jam segini terus☺.


__ADS_2