
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Apa kalian bawa handphone?." Tanya Papi Alfi.
Rafka dan lain nya mencari benda pipih persegi panjang itu.
"Engga." Jawab semua nya kompak setelah tak menemu kan benda itu.
"Kenapa memang nya Pi?." Tanya Abhi.
"Mau hubungi Mami mu." Jawab Papi singkat.
"Kenapa? Ada apa?." Tanya Abdiel kepo.
"Kangen suara nya." Datar Papi Alfi menjawab.
"Adoyyy bucin nya Oom udah ngalah-ngalahin kita yang muda-muda yah, kita baru beberapa menit di sini Om, udah kangen aja." Cetus Abdiel sambil menggeleng-geleng kan kepala nya tak percaya dengan perkataan Papi Alfi.
5 menit kemudian, Asisten nya Rafka masuk ruang rapat sambil memawa setelan jas.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Assallammu'allaikum." Ucap Asisten nya Rafka itu sambil menenteng jas.
"Wa'allaikum sallam." Balas semua orang di dalam ruang rapat itu.
"Kamu taruh di dalam ruangan nya Rafka saja." Pinta Papa Rafka pada Asisten anak nya ini.
"Baik Tuan." Ujar nya membalas sopan, lalu dia kepercayaan Rafka itu pun keluar ruangan lagi menuju ruangan Rafka di lantai teratas gedung ini.
Waktu terus berputar.
Tak terasa adzan dzuhur berkumandang indah dari masjid terdekat gedung kantor Rafka.
Semua orang berbondong-bondong untuk ke masjid atau mushollah untuk menunai kan ibadah sholat dzuhur berjamaah.
Rafka, dan lain nya juga melakukan hal yang sama, mereka kini tengah duduk di berbaris di dalam nushollah kantor.
Kemudian, selang beberapa menit berlalu, iqomah bersenandung tanda sholat akan di mulai.
Kali ini Rafka yang menjadi imam untuk sholat dzuhur di kantor nya.
Para karyawan perempuan berbisik walau Rafka tak mendengar jelas, tapi dia tau kalo sedang menjadi bahas gosipan.
Mereka berbisik 'Tumben banget Pak Rafka mau jadi imam sholat kali ini?.' Ya semua nya berbisik seperti itu, yang hanya di balas oleh angkat bahu oleh lain nya yang memang tak tau apa pun.
Wajar kalau karyawan terheran-heran Rafka menjadi imam sholat mereka, kenapa? Karena Rafka hampir tak pernah sampai dzuhur kalo ke kantor, biasa nya hanya sampai pukul 10.45 setelah itu dia pulang.
Beberapa menit berlalu, sholat selesai di tutup doa oleh Abdiel.
Selesai Sholat, Rafka dan lain nya memutus kan makan siang bersama di kantin kantor.
"Bentar lagi kita berangkat, semua nya sudah siiap kan?." Tanya Papi Alfi.
"In syaa allah, semua nya siiap Pi." Balas Abhi sang menantu.
"Ini beneran kita bawa pengacara?." Tanya Papa Abdiel.
"Ya beneran lah Pa, kalo boongan ngga bakal ngomong kita." Ujar Abdiel masih saja bercanda.
"Ish kebiasaan kalo di ajak serius malah becanda!." Sungut Papa Abdiel jengkel pada sang anak 'Anak siapa sih kamu?.' Beliau bahkan punya pikiran seperti itu.
"Hahaha... ok gini Pa, kita sengaja pake acara bawa pengacara, soal nya biar ngga ada tuduhan kita palsuin buku nikah, kalo tuduhan itu tetep melayang ke kita, pengacara akan ikut bicara, gitu loh." Jelas Abdiel panjang lebar.
Makan siang selesai.
Asisten nya Abhi datang menjeput tuan nya yang sedang makan siang itu.
Dia berbisik dengan berkata "Tuan? Mohon bersiap kita akan ke lokasi jumpa pers nya." Begitu lah kira.
Setelah mendapat bisik kan itu, Abhi mengajak semua nya untuk bersiap.
Pukul 12.55 Rafka dan lain nya berangkat ke lokasi jumpa pers.
Sesampai nya di sana dia di sambut oleh sorotan kamera di segala arah.
Di rumah Rafka Zarine.
"Wihhhh keren banget mereka." Pekik Zarine senang.
"Hahaha... aku tau nih kenapa mereka ngga ngajak kita." Ujar Akifa.
"Kenapa?." Tanya Tika kepo.
"Karena suami kita ngga mau kita ke sorot kamera, dan di tonton banyak orang." Yakin Tika menjawab.
"Tapi mereka bilang karena takut di hujat." Polos Zarine menampik omongan Tika sang Kakak Ipar istri Bang Idan ini.
"Itu cuma alasan Za, mereka kan gitu, kalo berbau kita rada sensitif." Kata Tika memberitahu Zarine.
"Ngga tua ngga yang muda sama aja." Ujar Mami Alfi.
"Hah? Maksud Mami?." Tanya Alfi heran.
"Dulu, waktu pertama kali Papi, Papa, juga Ayah kalian sukses dan banyak media yang minta wawancara, mereka ngga mau bawa kita, padahal media minta kita para istri ikut juga, tapi ngga di bolehin, alasan nya classik, nanti kecapek an." Panjang Mami Alfi bercerita.
"Hahaha... bener banget, aku inget benget masa itu, sampe sekarang kalo inget bikin ketawa sendiri." Timpal Mama Rafka menambahi.
'Selamat siang semua, kehadiran kami di sini untuk mengklarifikasi masalah yang tengah viral di instagram, tentang putra-putri kami.' Itu suara Papi Alfi pembukaan di jumpa pers yang sedang di tonton semua orang ini.
Zarine dan lain nya sekarang fokus ke arah TV.
'Kalian pasti sudah tau berita tentang putra-putri kita di media sosial yang tengah viral itu.' Kata Papa Rafka yang di iya kan oleh para wartawan.
"Tuan? Apa benar kalau 3 putri-putri anda hamil di luar nikah?." Tanya Wartawan satu.
"Semua yang di beritakan di media sosial itu hoax, kalau memang benar, putri-putri kamu hamil di luar nikah seharus nya sudah geger di hari-hari yang lalu, nyata nya, putri kita tidak hamil di luar nikah." Jelas Papa Akifa tegas.
"Apa benar putra-putri Tuan sudah menikah sejak masih duduk di kelas 11 SMA? Kenapa memilih menikah di usia muda? Dan kenapa di rahasia kan?." Tanya beruntun salah satu wartawan lagi.
"Biar saya yang jawab." Ujar Rafka.
Semua kamera mengarah ke wajah Rafka.
"Benar, kami memang sudah menikah sejak kelas 11 SMA, masalah menikah muda, itu pilihan kami semua, dan untuk soal di rahasia kan, karena kami tak mau kegiatan sehari-hari kita terganggu." Panjang lebar Rafka menjelas kan segalanya.
"Pak? Apa boleh jika kami bertanya tentang Pak Rafa juga Pak Zaidan sekali?." Tanya wartawan di depan Rafka.
"Silah kan." Ujar Rafka mempersilah kan.
Bang Idan dan Bang Rafa maju berdiri di tempat Rafka berdiri tadi.
"Tuan Rafa dan Tuan Zaidan, apa anda juga menikah secara diam-diam seperti adik, juga teman-teman adik anda?." Tanya sang wartawa.
__ADS_1
"Pertanyaan bagus." Cetus Bang Rafa pada para wartawan di hadapan nya ini.
"Iya, kami juga sudah menikah." Jawab Bang Idan tegas.
"Apa istri Tuan juga hamil seperti istri adik anda? Dan siapa istri nama istri anda itu?." Tanya mereka lagi.
"Saat ini istri kami juga tengah hamil, nama istri saya adalah Tika Ajeng Bram." Jawab Bang Idan lantang.
"Dan nama istri saya adalah Raina." Singkat Bang Rafa menjawab di iringi senyum di bibir nya saat menyebut nama Kak Raina.
"Dari keluarga mana Tuan?." Tanga para wartawan.
"Apa penting nya untuk kalian? Masalah dari keluarga mana, itu urusan kami, orang luar tidak perlu tau!." Dingin Bang Rafa berucap.
"Ok, jadi semua nya sudah jelas, istri kami tidak hamil di luar nikah, berita yang beredar di sosial media itu adalah hoax!." Seru Abdiel berbicara.
"Dan kami minta, dalam waktu 24 jam berita itu harus hilang, karena kami bisa saja menuntut kalian pembuat berita palsu itu karena kita punya bukti kuat." Tambah Abhi dengan suara datar dan dingin nya.
'Bip.' TV di mati kan oleh Akifa.
"Kenapa di mati in? Belum ending itu Fa." Ujar Kak Raina jengkel.
"Aku yakin itu udah selesai, berita itu udah ngga ada pasti udah di hapus sama oknum-oknum gila itu." Kata Akifa lagi.
Kak Raina diam menghadap ke depan dengan tatapan kosong.
Bunda yang tau kalo menantu nya itu sedang kepikiran dengan kata-kata wartawan tadi, beliau memeluk Kak Raina dari samping.
"Kamu kepikiran yah sama pertanyaan wartawan tadi?." Tanya Bunda basa basi.
Kak Raina menatap Bunda sekilas lalu dia tersenyum dan menggeleng pelan.
"Denger Rain, kita juga dulu ngga sukses kaya gini, Bunda, Ayah, Tante, dan Om ini asal nya dari panti semua." Cetus Bunda menjelas kan.
"Kita dulu juga sekolah ngandelin bea siswa, kita juga ngga tiba-tiba jadi berada kaya gini." Timpal Mama Akifa.
"Benar kan Bunda, almarhum Ayah juga lain nya dari panti?." Tanya Raina tak percaya.
"Ya, kami dari panti, semua orang bahkan tau asal usul kita semua." Enteng Mami Alfi menjawab.
"Ngga usah kamu tanggepin si wartawan kepo itu, abai kan aja." Kata Mama Tika.
"Hem, bener tuh, ngga guna tau Kak mikirin kaya gitu an, kita terima Kakak apa ada nya, kita ngga mandang Kakak punya apa, kita tulus sayang sama Kakak, jangan pernah mikir aneh-aneh." Tika ceramah panjang lebar.
"Makasih semua nya, dari dulu, waktu kenal sama Rafa, dan suka sama Rafa, aku pikir ngga akan bisa sampe nikah, atau cinta ku bertepuk sebelah tangan, aku ngga ada berharap sampe sini sama Rafa, ya karena aku sama dia beda, maka nya aku ngga berharap, bisa temanan sama dia aja aku dulu seneng nya minta ampun." Panjang Raina bercerita sampai dengan menetes kan air mata nya.
"Jangan nangis dong, nanti Baby nya ikut sedih." Ujar Zarine menghibur, dia memeluk Kakak Ipar nya ini dari samping.
"Kita sayang sama kamu tulus Rain, jadi jangan mikir aneh-aneh." Ucap Mama Tika ikut menenang kan Kak Raina yang tersedu-sedu.
Kemudian semua orang berpeluk kan.
"Terima kasih semua nya, Raina beruntung punya kalian." Ucap Raina tulus dari hati.
"Sama-sama, kita juga senang dan bahagia satu keluarga kaya gini sama kamu." Ucap Zarine dan lain nya terharu.
(Drama). AuthorGesrek.
(Iri bilang bosss). Alfi.
(😒). AuthorGesrek.
Di tempat para pria.
"Ayo kita pulang." Ajak Papi Alfi.
"Buru-buru banget sih Pi?." Tanya Abhi.
"Mau ngapain lagi emang kita di sini? Mau bantu tukang bersih-bersih ngepel lantai? Kamu aja sana, Papi mau pulang, ketemu Mami." Ujar Papi Alfi yang bucin nya udah sampai ke ubun-ubun meski udah tau, eh tua maksud nya, wkwkwkwk.
"Dih?! Bucinnnnnnnnnnnnnn." Ujar Abdiel dengen memanjang kan huruf N.
Rafka juga para pria dewasa lain nya keluar ruangan untuk menuju tempat parkir.
Di depan pintu masih banyak wartawan yang masih kepo bahkan sampe hal yang sangat tak penting di tanya kan, untung saja Rafka sedia bodyguard sebelum hujan, wkwkwkwk, jadi mereka terbebas dengan mudah dari cercaan pertanyaan wartawan itu.
Setelah masuk ke dalam mobil, mereka pulang kembali ke kediaman Rafka Zarine.
Rafka yang sedari tadi memperhati kan Abang Ipar nya itu pun menegur.
"Bang Rafa?! Lu kenapa?." Tanya Rafka sambil berseru.
"Hem?." Bang Rafa terperanjat kaget bertanya balik pada Rafka.
"Kamu kenapa Raf?." Tanya Papa Rafka.
"Ngga papa kok Pa, Bang Rafa baik-baik." Jawab Abang Zarine ini dengan tersenyum manis.
"Lu kepikiran pertanyaan wartawan tentang Kak Rain tadi yah?." Tebak Abdiel yang tepat sasaran.
Bang Rafa diam tak menjawab hanya bisa tersenyum simpul.
"Ngga usah kepikiran lah Bang, toh kamu udah nutup semua info tentang Raina dan segala nya yang berbau dia kan?." Tanya Papa Abdiel.
"Iya sih udah, aku udah nutup rapet banget, apa lagi info tentang Shita, udah aku tutup semua." Ujar Bang Rafa menjelas kan.
"Ya udah berarti kan ngga ada yang perlu di khawatirin lagi Bang." Cetus Abhi.
"Yang aku takutin bukan masalah info itu, tapi Kak Raina nya, dia pasti sedih banget dengar pertanyaan kaya gitu dari wartawan." Kata Bang Rafa yang sangat tampak raut gelisah di wajah nya.
"Di sana kan ada Bunda kamu sama lain nya juga Bang, ngga usah takut lah, mereka pasti nenangin Raina bahkan mencerita kan kisah kita juga." Tutur Papa Rafka menenang kan.
"Iya juga sih." Bang Rafa membenar kan omongan Papa mertua Zarine ini.
Suasana mobil hening, dan kini mobil tengah berhenti lampu merah.
"Kalian jangan banyak berantem yah, gini aja terus, yang akur, saling jaga Mama dan Bunda kalian." Ujar Papa Rafka tiba-tiba.
"Papa ngomong apa an sih ngaco deh!." Cetus Bang Idan tak suka.
"Ya kan di dunia ini ngga ada yang akhir nya gimana Bang." Sahut Papa Abhi.
"Hem bener tuh, kalian jangan sampai lupa kan sholat, jaga Ibu kalian." Ujar Papa Tika menimpali.
"Udah ah ini kok pada ngaco semua pembahasan nya, jangan bahas lagi." Seru Abhi yang menghenti kan pembicaraan yang agak melantur itu.
"Hahaha... di dunia ini kan ngga ada yang tau gimana kedepan nya Bhi, kita harus kuat sama tantangan masa depan, jangan sampai terjebak di zona keterpuruk kan atau lain nya, kita harus bangkit tanpa penyemangat sekali pun." Papa Abdiel serius berucap.
"Papa tumben kata-kata nya kaya samudra gitu dalam nya?." Tanya Abdiel terheran-heran.
"Ya kan sehumoris apa pun orang itu, tetap akan ada serius nya Diel, contoh nya aja kamu tadi pas ngomong di atas podium." Papa Abdiel memberi contoh.
"Dah sampe... ." Kata Rafka tiba-tiba menghenti kan obrolan mereka semua.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumah, kemudian langsung masuk ke dalam dan saat akan mengucap salam dengan teriak Mama Rafka menghenti kan nya.
"Assallammu'allaikum." Salam mereka lirih.
"Wa'allaikum sallam." Jawab para tetuah perempuan.
"Ini kenapa bisa teler semua?." Tanya Papi Alfi yang menduduk kan bokong nya di sofa dekat istri nya.
"Mereka habis nangis bareng tadi, maka nya jadi gini." Jelas Mami Alfi menerangkan.
"Gara-gara tadi wawancara ya Te?." Tanya Bang Rafa sambil langkah nya mendekat ke arah Raina.
"Iya, awal nya itu, terus habis itu mereka nangis bareng, habis nangis bareng, ketawa bareng, mugkin saking capek nya sampe akhir nya tidur berjamaah gini." Ujar Mami Alfi itu.
"Gendong gih sana ke kamar masing-masing biar mereka tidur nya enak." Suruh Bunda pada anak-anak nya ini.
Tanpa di suruh 2 kali, 5 pria ini berjalan dengan menggendong istri masing-masing ke dalam kamar.
"Permisi semua nya, kami masuk dulu." Pamit Rafka pada para tetuh mereka ini.
"Iya sana deh." Usir Mama Rafka.
Di dalam kamar Rafka Zarine.
Saat membaring kan sang istri di atas ranjang, tiba-tiba dia terbangun.
__ADS_1
"Kamu kapan pulang?." Tanya Zarine.
"Eh? Kamu bangun kenapa? Keganggu kah? Maaf yah." Ucap tulus Rafka merasa bersalah pada Zarine.
"Sini baring di sini, aku mau peluk kamu." Pinta Zarine tak menggubris ucapan maaf dari Rafka tadi.
Sesuai permintaan Ibu Ratu, Rafka naik ke ranjang setelah melapas jas, dasi, dan juga sepatu nya.
"Gimana tadi aku tampil di TV ganteng ngga?." Tanya Rafka narsis, dia tertawa sendiri dengan pertanyaan nya yang menurut nya juga konyol.
"Hahaha... pasti dong, suami ku gitu loh." Jawab Zarine sambil tertawa, dia menenggelam kan wajah nya di dada bidang Rafka.
Kebiasaan Zarine sejak hamil adalah, menghirup aroma tubuh Rafka yang menurut nya sangat wangi meski dalam berkeringat sekali pun.
Malah menurut Zarine, keringat Rafka jauh lebih wangi dari parfum nya, adoyy entah apa yang merasuki Zarine hingga berpikiran seperti itu.
"Masalah kita udah selesai." Beri tahu Rafka, dia memeluk Zarine dan menciumi pucuk kepala nya yang tertutup kerudung itu berkali-kali.
"Hem aku tau." Jawab Zarine yang suara nya terredam oleh dada bidang Rafka.
"Yang?." Panggil Rafka lembut.
Zarine tak menjawab dan hanya mendongak kan kepala menghadap Rafka.
"Apa?." Tanya Zarine yang sedari tadi menunggu sang suami bersuara tapi tak kunjung berbicara.
Bukan nya menjawab pertanyaan Zarine, Rafka malah melepas kerudung Zarine dan meletak kan nya di atas nakas.
"Kenaoa sih Yang?." Tanya Zarine heran dengan menaik kan sebelah alis nya ke atas.
Rafka kembali tak menjawab.
Dia malah mencium bibir Zarine lembut, awal nya hanya menempel, kemudian berubah menjadi lu**tan lembut.
Setelah nafas ke dua nya tersnegal, baru Rafka melepas ciu**n lembut mereka.
Rafka kembali beraksi dengan leher putih mulus Zarine di depan nya ini.
"Yang?." Panggil Zarine dengan nada suara parau.
Rafka masih diam.
"Aku pengen." Ujar Rafka ambigu.
"Hah? Pengen? Pengen apa?." Zarine yang masih loading tak paham maksud nya.
"Ayo." Kata Rafka, dia sudah berada di atas Zarine saat ini, sedang memandang Zarine dengan tatapan penuh kabut gairah nya.
"Ini masih siang loh Yang, ngga mau nanti malem aja?." Tawar Zarine yang sebenar nya juga ingin melakukan hal 'itu'.
"Aku mau nya sekarang, ayo lah Yang." Bujuk Rafka dengan hidung dan bibir nya berwisata di wajah juga di leher Zarine.
"Cuma sekali deh." Rafka kembali membujuk sang istri agar mau melakukan kegiatan hareudang itu.
"Jangan bilang sekali kalo ternyata ngga sesuai." Ketus Zarine memperingat kan suami tercinta nya ini.
"Hehehe... ya udah lah Yang, yah mau yah, please." Pinta Rafka dengan memasang wajah memelas nya.
"Hem... aku ikut aja deh." Pasrah Zarine yang memang tak berniat menolak, hahahaha... malu tapi mau tuh.
Dengan senang hati Rafka melakukan kegiatan hareudang di tengah cuaca yang sedikit terik itu.
Sesuai perkataan Rafka tadi, bahwa dia hanya melakukan nya sekali, dan dia menepati perkataan itu.
"Jangan kemana-mana." Manja Zarine berucap pada sang suami dengan nafas masih sedikit tersengal.
"Aku ngga kemana-mana, aku di sini, di samping kamu." Balas Rafka lembut.
Mereka berdua tidur dengan sangat nyenyak karena kelelahan.
Tepat pukul 15.30 sore, Rafka bangun terlebih dahulu.
"Udah ashar aja." Monolog Rafka.
Mata nya menoleh ke arah Zarine.
"Hehehe... istri aku lucu banget kalo lagi tidur gini, damai deh liat nya." Ujar Rafka dengan tangan nya menyibak rambut Zarine yang menutupi wajah nya.
"Yang?." Panggil Rafka lembut tepat di telinga Zarine.
Tapi sang empu nama tak bergerak asik tidur.
"Sayang?Udah ashar ayo bangun, kita belum sholat ashar." Bisik Rafka lagi.
"Emhh." Zarine melenguh dan mata nya mulai terbuka perlahan.
"Emang udah jam berapa?." Tanya Zarine lesu.
"Setengah 4, ayo bangun, kita harus mandi dan sholat ashar." Cetus Rafka mengajak.
Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban Zarine, Rafka menggendong Zarine ala bridal.
Pukul 16.15 sore Rafka Zarine baru keluar kamar menghampiri Bunda dan lain nya di taman belakang.
"Assallammu'allaikum, selamat sore everybody?." Sapa Zarine heboh.
"Wa'allaikum sallam, selamat sore juga Za, Raf." Sapa balik Bunda dan lain nya.
Zarine duduk di sebelah Akifa.
"Kalian berdua udah sholat ashar belum?." Tanya Bunda.
"Udah tadi Bun." Jawab Rafka dengan di sertai senyuman manis nya.
Di tempat Zarine.
"Kamu kok lama banget ngga keluar-kelura kamar? Ngapain aja?." Tanya Akifa kepo sambil menaik turunkan alisnya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.