
"Gua ngga papa, Lo jangan khawatir." Kata Shita.
"Diam!, Lo emang gila Ta, Lo orang gila yang pernah Gua temuin." Sahut Rendra memandang Shita dengan mata berkaca-kaca.
"Kita akan ke RS, Lo sabar ya, Lo akan baik-baik aja, percaya sama Gua." Sambung Rendra.
-
-
-
Mobil terparkir di depan loby RS.
Rendra turun dari mobil dan segera meminta tolong dokter.
Shita di bawa ke ruang UGD.
Di depan ruangan itu, semua orang sudah cemas.
Rendra dan Raina yang paling cemas.
Mereka duduk tak tenang berdiri pun tak tenang.
"Ren?, Lo obati dulu gih luka di muka Lo, tuh Gua udah minta suster bantuin Lo." Kata Panji.
Rendra mengangguk.
Dia pergi bersama suster itu dan mengobati lukanya.
"Kenapa Kakaknya sendiri jahat gitu?." Tanya Alfi.
"Abang dia aja yang gila harta." Jawab Andi.
"Gua pengen dia dapet ganjarannya." Geram Raina.
"Kamu tenang aja Rain, dia udah aman sama pihak berwajib." Kata Bang Rafa.
1 jam sudah Shita masuk ruang UGD.
Tapi dokter belum keluar juga.
Rendra sudah kembali dari perawatan lukanya 10 menit yang lalu.
Keadaan semua orang sedah kacau.
Terutama buat Rendra.
Sunyi.
Satu kata itu yang mewakili ruang tunggu UGD.
"Kalian mendingan pulang aja istirahat." Suruh Rendra memecah kesunyian.
"Terus yang jaga Adek Gua sape?." Tanya Raina.
"Gua ada kan?, mendingan pulang gih, apalagi tadi habis dari air terjun, pasti capek, untuk semua Om, Tante, dan lainnya, mohon maaf untuk kejadian ini, mohon maaf atas ketidak nyamanan ini, semoga tidak kapok pernah berkunjung kesini." Ucap Rendra dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Ngga papa Ren, kita kan ngga bisa memprediksi peritiwa apa yang akan terjadi hari ini, kita juga senang bisa bantu menyelesaikan." Kata Papa Abhi yang di angguki semua orang.
"Gini aja, kita semua akan pulang kalo sudah tau kondisi Shita dulu." Putus Mama Rafa.
"Baiklah kalo begitu." Jawab Rendra dengan tersenyum manis.
5 menit kemudian dokter keluar dari ruangan UGD.
Semua orang berbondang-bondong mengampiri.
"Gimana keadaan Adik saya dok?." Tanya Raina cepat.
"Tulang punggung pasien mengalami ketetakan, yanhg alhamudulillah tidak terlalu serius." Beri tahu dokter.
"Pasien sangat kuat, in syaa allah tidak akan lama lagi dia sembuh." Sambung dokter.
"Apa sudah boleh di jenguk dok?." Tanya Rendra.
"Sebentar lagi pasien akan pindah ke ruang rawat, dan semuanya bisa melihatnya." Terang dokter.
Semu orang bernafas lega.
"Saya permisi kalo gitu." Pamit dokter.
"Iya silahkan, terima kasih dok." Ucap semua orang.
"Sudah menjadi tugas saya mengobati pasien yang terluka." Jawab dokter kemudian dia pergi.
Shita di pindahkan ke ruang rawat inap.
Mama Rafka menyarakan ruang VVIP.
Tapi Raina tidak mau.
Jadi hanya di tempatkan di ruang rawat biasa.
Ruang Mina 8.
Itulah nama ruang inap Shita.
Di dalam ruangan itu, semua sudah berkumpul melihat Shita.
"Huhhh, untung aja pukulannya ngga terlalu kuat." Ucap syukur Akifa.
"Tetep aja ini semua karena Anton." Sungut Raina geram.
"Udah, dia juga sekarang sedang mendekam di penjara, moga-moga aja sampe mati." Doa Andi.
Semua orang duduk di berbincang membicarakan Anton.
Sedangkan pemuda yang sedang duduk tertunduk dan memegang tangan Shita, dia menangis tanpa suara.
"Maafin Gua." Suaranya lirih serak karena menangis.
Punggungnya bergetar menandakan dia terluka melihat orang yang sangat dia cintai terluka.
Semua orang melihat kearah Rendra dengan tatapan kasihan.
Raina mendekat ke arah Rendra.
"Ini yang bikin Gua tambah yakin untuk jauhin kalian berdua." Ucap Raina.
Deg!.
Rendra diam memandang Raina.
"Dia salalu aja terluka kalo ada di samping Lo." Sambung Raina.
Rendra masih diam.
5 menit lamanya dia diam menadang Shita yang belum sadar dari tidurnya.
"Lo bener, dia selalu terluka kalo sama Gua." Ucap Rendra setelah lama diam.
"Lo boleh bawa dia pergi dari sisi Gua kapan pun itu, tapi Gua akan nemuin dia dan setelah itu, Lo harus janji buat ngerestuin kita suatu saat nanti, bisa?." Tanya Rendra.
"Bisa!, asal Lo beneran serius sama adek sepupu Gua." Tegas Raina.
"Pasti!." Kata Rendra tak kalah tegas.
"Mending sekarang Lo balik." Suruh Raina.
"Untuk malam ini, biarain Gua yang jaga dia." Pinta Rendra.
"Ok, kita semua mau pulang dulu, nanti maleman Gua kesini." Kata Raina.
"Iya." Singkat Rendra.
"Ayo semua kita pulang dan istirahat." Ajak Raina.
7 keluarga senior, 3 keluarga junior, serta 4 orang calon pasangan dan Andi, Panji pamit pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah.
Raina pergi kerumah sebelah tempat penginapan.
Andi dan Panji pulang ke rumah masing-masing, mereka berdua juga ditugaskan Rendra menjelaskan semuanya pada Ibu Rendra.
Di ruang santai penginapan, semuanya duduk berkumpul.
"Gila sih asli, Gua ngga pernah liat kekuatan cinta segitu hebatnya." Celutuk Akifa.
"Gua juga ngga nyangka ternyata harta itu bisa membutakan segalanya, sampa adek kandung sendiri mau dibunuh." Sahut Bang Idan.
"Hemmmm, dunia ini emang kejam kek Mak Tiri." Timpal Abdiel.
"Kalo mau nglawak liat kondisi dong Diel." Jengkel Alfi.
Semua orang sudah terkekah geli mendengar perkataan Abdiel.
"Gua kagak ngelawak Markonah, emang bener kan? Yang namanya Mak Tiri tuh kejam, udah kek setan." Lanjut Abdiel.
"Ngga semua Diel." Sahut Abhi.
"Masa sih?." Ragu Abdiel.
"Ini kenapa malah bahas Mak Tiri?." Tanya Papa Abdiel.
"Anak Papa tuh yang mulai." Kata Akifa.
"Jangan lupa Fa, dia suami kamu." Kata Mama Akifa.
"Hehehe." Akifa hanya menyengir kuda.
Setelah berbincang, mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beriatirahat.
Di dalam kamar Rafka Zarine.
Zarine duduk melamun di depan meja rias sembari menyiris rambutnya.
Rafka yang melihat itu mendekati sang istri dan memeluknya.
"Hai?, lagi mikirin apa sih." Tanya Rafka lembut.
"Ngga mikirin apa-apa." Jawab Zarine tersenyum manis.
"Mikirin Shita Rendra tadi ya?." Tanya Rafka.
"Hehehe, aku cuma heran aja, kok ada cewek kaya Shita, padahal kata Kak Raina waktu cerita kemarin, dulu Shita sama Rendra itu musuhan." Kekeh Zarine.
"Dari pada bahas mereka mending bahas kita aja." Kata Rafka mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa yang perlu dibahas?." Tanya Zarine dengan menghadap Rafka sambil tersenyum.
"Kamu seneng ngga liburan ke sini?." Tanya Rafka.
"Seneng dan nambah pengalaman juga." Jawab Zarine.
Rafka tersenyum lalu memeluk tubuh mungil Zarine.
Lalu mereka ber dua duduk di sofa kamar dan saling bersandar menikmati cuaca sore hari yang dingin.
Malam hari setelah ba'da isya' penghuni tempat penginapan itu tertidur pulas karena kelelahan.
Mereka tidak ikut Raina ke RS.
Raina juga paham bahwa mereka semua lelah.
Hanya Bang Rafa yang ikut menemani Raina ke RS.
Di RS.
Bang Rafa dan Raina masuk lalu menuju ruang Mina 8.
"Assallammu'allaikum." Salam Raina dan Bang Rafa.
"Wa'allaikum sallam." Jawab penghuni ruang Mina 8.
Di dalam ruangan ada 3 pria, yaitu Rendra yang sudah berganti baju, Andi, dan Panji.
"Ren?, Lo pulang tadi?." Tanya Raina.
__ADS_1
"Ngga, Gua nitip Andi tadi ambil baju." Jawab Rendra.
"Lo udah makan?." Tanya Bang Rafa.
"Belum, Gua ngga nafsu." Kata Rendra.
"Makan Ren, kesehat-."
"Iya nanti." Sela Rendra.
"Udah capek kita Kak nasehatin dia, kita juga udah beli in nasi padang, jangankan di sentuh, di liat aja engga." Jelas Andi.
"Biarain aja, kalo Shita sembuh gantian dia yang sakit." Sahut Panji.
Rendra diam.
"Makan Ren, Lo bakal kena timpuk Shita kalo ngga makan entar." Kata Raina.
Rendra menghela nafas pasrah.
Lalu dia mengambil bungkusan di atas nakas sebelah ranjang Shita.
Rendra pergi ke kamar mandi, 2 menit kemudian kembali dan menyantap nasi padang kesukaannya.
"Dia dari tadi belum sadar?." Tanya Shita pada Rendra.
"Belum, kata dokter mungkin besok pagi dia sadar." Jelas Rendra.
Hening.
"Ren?." Panggil Raina.
"Hm." Sahut Rendra.
"Bener Lo mau nikah sama Siska?." Tanya Raina.
"Engga." Jawab Rendra.
"Masa?, jangan bohong Ren." Kata Raina bernada menagncam
"Gua ngga suka sama dia." Terang Rendra.
"Siska juga ngga ada di sini Kak." Beri tahu Andi.
"Kemana?." Tanya Raina.
"Lari sama pacarnya, dia hamil anak pacarnya." Jelas Rendra.
"Lah?!, kalian nikah karena di jodohin ceritanya?." Tebak Raina.
"Iya, Ayah yang mau Gua nikah sama dia." Kata Rendra.
"Ok, lupain tentang Siska, gimana perasaan Lo sama Shita?." Tanya Raina.
'Uhuk.. uhuk.. .' Rendra tersedak makanannya.
"Nih." Panji memberikan air mineral pada Rendra.
Rendra meminum hingga setengahnya.
2 menit menunggu jawaban.
"Gua udah minta restu sama Lo Kak Raina, dan Lo ngerestuin, Lo paham maksud Gua kan?." Terang Rendra dengan menekan kata 'Kak'.
"Iya yak, ahahaha lupa Gua." Tawa Raina pelan.
"Jangan panggil Gua Kakak, geli Gua dengernya tau." Sungut Raina.
Rendra, Andi, dan Panji terkekeh.
Bang Rafa yang heran pun bertanya.
"Kenapa kamu marah di panggil Kak?." Tanya Bang Rafa.
"Aku sama Rendra se umuran, aneh kan rasanya kalo di panggil Kakak, kecuali Shita yang manggil aku Kakak." Terang Raina.
Ruangan hening.
"Inget Ren, dia udah lama mencintai Lo, kalo Lo cuma mau main sama dia, mending minggir." Tegas Raina memecah keheningan.
"Gua tau, Gua paham, dan perlu Lo pahami Kak Raina, Gua serius sama dia, bener-bener serius." Kata Rendra.
Rendra bangkit dari duduknya.
Dia membuang sampah bekas makannya dan juga mencuci tangan di wastafel.
Lalu dia kembali ke dalam ruangan lagi.
"Kalian berdua jangan kemaleman pulangnya." Pesan Rendra pada Raina Bang Rafa.
"Kenapa?." Tanya Bang Rafa.
"Malem-malem gini, setan biasa keyapan, kalo tiba-tiba Kak Rafa khilaf, bisa hamil nih cewek." Rendra menjelaskan dengan santai.
Raina mendelikkan matanya menatap Rendra jengkal.
"Buset dah, pikirannya jelek banget Lo Dra?!, Gua ini cowok baik-baik, bukan cowok brengsek kaya yang Lo bilang." Sungut Bang Rafa.
Rendra hanya menaik kan bahu acuh.
"Hahaha, Kak Rafa ngga usah nanggepin Rendra, dia hobi ngomong ngawur emang." Tawa Panji pelan.
'Hehmm.' Dengus Bang Rafa kesal.
"Adanya Lo Dra, jangan apa-apa in si Shita." Kata Bang Rafa.
"Kalo cinta berarti menjaga bukan merusak." Jawab Rendra.
"Skak mat!." Seru Andi.
Bang Rafa menatap tajam Andi.
"Hehehehe, peace Kak." Kekeh Andi dengan menunjuk kan jarinya berbentuk V.
"Pulang gih, ini udah jam setengah 9 malam." Suruh Rendra dengan melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Kalian ber tiga nginep?." Tanya Raina.
"Lah?!." Seru Andi dan Panji protes.
"Pulang aja kalian ber 4." Suruh Rendra.
"Ngusir nih Lo ceitanya nyet?." Tanya Panji bersungut-sungut.
"Tunggu setengah jam lagi lah." Kata Raina.
"Terserah, tapi setelah itu kalian harus pulang." Tegas Rendra.
"Iya, kek Mak-mak aja Lo, cerewat." Ledek Raina.
Rendra tak menanggagpi.
Ruangan hening kembali.
"Betah banget sih Ta Lo tidur?." Tanya Rendra lirih.
Orang sekitarnya yang mendengar tersenyum.
"Dia bakal sadar, tapi besok pagi, Lo sabar aja." Kata Bang Rafa dengan menepuk pundak Rendra memberi semangat.
"Iya thanks." Ucap tulus Rendra.
"Ouh iya, kalian lanjut liburan kah besok?." Tanya Panji.
"Kayanya engga deh, hari ini udah nguras tenaga banyak banget, mungkin lusa mulai lagi liburannya." Jelas Bang Rafa.
"Kalo lusa jalan-jalan, Panji sama Andi nanti yang bakal tunjukin jalannya." Kata Rendra.
"Yoi, tenang aja, kita ber dua siap jadi pemandu wisata yang baik." Jawab Andi.
Pukul setengah 10 malam.
Andi, Bang Rafa, dan Raina pulang ke rumah.
Panji menetap di RS untuk menemani Rendra.
Mereka berdua duduk di sofa ruangan.
"Panji?." Panggil Rendra dengan memejamkan matanya lelah.
"Em?." Sahut Panji yang bermain game di ponselnya.
"Gimana kabar Anton?." Tanya Rendra.
"Dia di kantor polisi, kata polisi yang berjaga, kondisi dia kacau, dia semenjak dateng cuma nangis dan nangis." Jelas Panji.
"Semoga aja dia kagak gila." Doa Rendra.
"Gimana sama Ibu?." Tanya Rendra kembali.
"Nyokap Lo syok, tapi kemudian beliau kembali tenang." Jawab Panji.
Ruangan hening dan sunyi.
"Ren?, kalo Shita jadi di bawa ke Jakarta, Lo mau kemana?." Tanya Panji.
"Tetep di sini sambil ningkatin usaha yang udah Ayah kelolah." Jawab Rendra.
"Terus Lo bakal nyari dia kalo udah sampe tahap apa tu usaha?." Tanya Panji lagi.
"Sampe tahap... entahlah Gua ngga bisa prediksi." Kata Rendra.
"Pulang kemana Lo kalo udah nikah ama dia?." Tanya Panji.
"Lo kenapa Pan?, tumben cerewet nanya mulu?." Tanya balik Rendra.
"Gua takut kalo Lo sukses Lo bakal lupain Gua sama Andi." Kata Panji.
"Kek cewek aja." Cibir Rendra.
"Ya jelas lah Gua takut Dra, pasalnya kita itu udah barenga ber 3 sejak usia kita masih kecil banget, apa-apa bareng, susah seneng bareng, dalam semua hal juga kita selalu bareng." Jelas Panji.
"Alasan Lo masuk akal juga sih, denger Pan, Gua ngga akan lupa sama kenangan kita itu, lagi pula rencana Gua mau nikah masih lama, kalau soal sukses, tenang aja Gua ngga akan ngelupain kalian, temen susah seneng Gua." Jelas Rendra.
Mereka berdua tidur setelah pembicaraan tadi.
-
-
-
pagi menjelang.
Pukul 08.00 dokter datang memeriksa Shita.
Panji pulang ba'da subuh tadi untuk sarapan dan mangabarkan bahwa Shita sudah sadar.
Shita sadar pukul 5 pagi tadi.
Tak butuh waktu lama dokter memeriksa kondisi Shita.
"Gimana dok?." Tanya Rendra.
"Alhamdulillah sudah membaik, tapi kalau untuk duduk belum diperbolehkan." Terang dokter.
"Terima kasih dok." Ucap Rendra.
Dokter keluar dari ruangan.
"Pagi." Sapa Shita.
Rendra diam tak menjawab.
"Lo kenapa diemin Gua?." Tanya Shita.
Hening.
'Hehmm!.' Shita mendengus kesal.
__ADS_1
Selang 5 menit kepergian dokter.
Raina dan lainnya datang dengan heboh.
"Shita?!, dasar cewek bodoh!." Seru Raina dengan nada bicara jengkel.
Dia juga hampir memukul Shita jika tangan Bang Rafa tak menghentikannya.
"Jangan dipukul pake tangan, pukul aja pake rotan." Celutuk Rendra.
Shita memasang wajah kecut.
"Tau gitu biar aja kemarin pata sekalia." Gumam Shita yang di di dengar oleh semua orang.
Rendra beranjak berdiri dari duduknya dan pergi ke luar ruangan.
"Kamu kalo ngomong jangan ngawur Ta." Sungut Raina.
"Biarain aja, dia dari tadi cuekin aku, tanya ngga di jawab, malah di diemin." Jawab Shita.
"Ouh iya, gimana sama acara liburan nya?." Tanya Shita.
"Biarin kita nanti yang tunjukin mereka jalan nya Ta, Lo istirahat pulihin punggung aja, tenang-tenang di sini." Jawab Andi.
"Aku harap Om, Tante, sama lainnya ngga kapok main ke Lumajang, maafin kejadian kemarin yang kacau, semua jadwal liburan kalian rusak gara-gara aku, mohon maaf semuanya." Ucap Shita dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Ngga papa kok Nak Shita, ini kan udah rencana Allah, kita juga ngga kapok kesini, malah pengennya ngga pulang." Jawab Mama Rafka.
Shita tersenyum senang.
Sejujurnya Shita merasa tidak enak pada para rombongan tamu yang dibawa Raina ini.
Tapi memang kejadian ini diluar prediksinya, jadi dia hanya bisa meminta maaf.
Semua orang berbincang dengan banyak topik yang nyleneh tapi membuat orang tertawa.
"Shita?." Panggil Mama Rafka.
"Iya Te?." Sahut Shita.
"Kamu kan penulis novel, bolah kah Tante beli buku novel langsung dari kamu dan meminta tanda tangan nya?." Tanya Mama Rafka dengan menyengir kuda.
"Ya, kami juga mau novel dan tanda tangan kamu Ta." Sahut Mami Alfi yang diangguki lainnya.
"Hehehe, kayanya stok novelnya ngga banyak deh, cuma ada beberapa, kalo buat Tante dan lainnga aku kasih aja deh." Kata Shita.
"Kita tetap bayar, tidak ada diskon karena kita bilangnya beli, bukan minta." Keukeuh Mama Abdiel.
"Hehehe, ok setelah pulang dari sini nanti bukunya ya." Kata Shita.
"Iya." Jawab Para orang tua perempuan.
Waktu berlalu cepat.
Jam sudah menunjuk kan pukul 11.30.
Adzan dzuhur berkumadang.
Semua orang ke masjid untuk sholat.
Diruangan hanya ada Rendra dan Shita yang tertidur.
Rendra kembali 5 menit sebelum semua orang berangkat ke masjid dekat rumah sakit.
Sesudah sholat Rafka dan lainnya makan siang di kantin Rumah sakit.
Mereka makan dengan berbincang santai.
Tempat duduk para orang tua dan para muda-muda terpisah.
Di tempat para muda-muda, suasana sangat bising dengan kelakuan Akifa Abdiel.
"Dasar Abdiel gila!." Seru Akifa.
"Eh ngga boleh nglawan, mau jadi durhaka?." Ancam Abdiel.
"Yang itu punya ku, ya Allah...!!!." Geram Akifa lemah.
"Duh, ngga di rumah ngga di sini, berantem terus kerjaannya, berenti bentaran napa sih kalian ber dua." Kesal Alfi.
"Udah Yang biarin aja." Tenang Abhi.
"Ini tempat umum, apa mereka ngga malu di liat orang!?." Sungut Alfi kembali.
"Ya ngapain malu, kita kan pake baju, iya kan Yang." Kata Abdiel dnegan menyuapkan nasi ke mulut Akifa sang istri.
"He em." Jawab Akifa dengan sibuk mengunyah.
"Dih." Kesal Alfi.
"Mending kamu tenang kaya Rafka Zarine, liat itu di sebelah kamu." Tunjuk Abhi.
Rafka Zarine makan saling suap dan tertawa mengacuhkan sekelilingnya.
"Buset, udah kek dunia milik ber dua aja." Celutuk Abdiel.
Tika, Raina, Andi, dan Panji hanya menatap ke 3 keluarga junior itu dengan cekikikan.
Lalu Panji berdiri dari duduknya dan berjalan ke Ibu Kantin.
"Bu, pesen satu bungkus nasi." Ucap Panji.
"Lo belum puas makan nya Pan?." Tanya Andi.
"Rendra belum makan." Kata Panji.
"Hahaha Gua lupa kalo ada dia." Tawa Andi garing.
Setelah memesan makanan Panji membawanya ke kamar rawat Shita.
"Ren?, nih nasi buat Lo, makan jangan di liatin aja?." Suruh Panji.
"Iya nanti." Kata Rendra.
"Gua tinggal lagi." Pamit Panji.
Tanpa menunggu jawaban Rendra, Panji berlalu pergi.
Semua orang setelah makan siang pamit akan pulang.
Rafka dan lainnya pun pulang ke rumah.
-
-
-
Sudah 5 hari Shita di rumah sakit.
Pemulihan dia begitu cepat karena Shita mendengarkan perintah dokter dengan seksama.
Dia sudah boleh duduk tapi untuk berjalan belum boleh.
Dia hari ini pulang.
Rendra masih belum mau berbicara pada Shita.
Saat sudah sampai di rumah.
Rendra mendorong kursi roda Shita menuju kamarnya.
Rendra juga mengangkat Shita dari kursi roda ke atas ranjang.
Saat akan pergi dari kamar.
Shita mencekal lengan kokoh Rendra.
"Udah 5 Hari sejak Gua sadar Lo ngga mau ngomong sama Gua." Kata Shita lesu.
Suasana kamar Shita belum ada orang.
Mereka semua sudah ada di depan lamar sebenarnya.
Tapi mereka memilih menunggu dulu.
"Gua punya salah kah sama Lo?." Tanya Shita.
Hening.
Rendra diam tak bergeming.
"Rendra!." Seru Shita.
"Kenapa?." Tanya Rendra.
"Apanya?." Tanya balik Shita.
"Kenapa Lo korban buat gua?." Tanya Rendra.
"Lo tau jawabannya Ren, dan Gua males bahas ini, yang Gua tanyakan adalah, kenapa Lo diemin Gua?." Kata Shita.
"Hukuman." Jawab singkat Rendra.
"Kalo Lo ada di posisi Gua, liat orang yang Lo cinta mau mati, apa yang akan Lo lakuin?." Tanya Shita.
".... ." Rendra bungkam.
"Jawab Rendra!." Desis Shita.
'Grep.' Rendra memeluk Shita.
"Maafin Gua." Kata Rendra dengan mengeratkan pelukannya.
Di belakang pintu.
Semua orang yang melihat adegan itu terharu dan tersenyum ikut bahagia melihat Rendra Shita udah baikan.
"Kita ngga usah ganggu dulu aja deh, biarin mereka menghabiskan waktu bersama, ayo pergi aja." Ajak Mama Rafka.
Semuanya menurut dan pergi dari pintu kamar Shita.
Rafka dan lainnya beralih duduk di ruang keluarga rumah Shita Raina.
"Waktu kita di sini udah ngga banyak, mau jalan kemana lagi nih kita?." Tanya Bang Idan
"Mama pengen liat B29." Kata Mama Rafka antusias.
"Bolehlah kita kesana lagi." Sahut Abdiel.
"Aku sebenarnya penasaran sama Hutan Bambu." Celutuk Zarine.
"Hahaha, kalo ada waktu deh kita kesana." Tawa Kak Raina.
"Tapi Shita ngga akan ikut, dia takut sama monyet di sana." Timpal Panji.
Semua orang membicarakan acara liburan selanjutnya.
Sedangkan di kamar Shita.
Rendra duduk di kursi di sebelah ranjang menemani Shita tidur.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.