Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tigapuluh dua


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™.


******************************


-


-


"Tante! Kalo kerja jangan ghibah, kalo tau Pak Zaidan tau bisa-bisa gaji nya di potong loh." Tika menakut-nakuti.


"Tante Tante, kita belum setua itu yah!." Sungut salah satu dari mereka.


"Masa sih? Tapi di wajah kalian penuh garis penuaan loh, apa lagi dengan make up tebal bak ondel-ondel itu, makin tampak tua nya, hahaha... ." Tawa Tika pecah.


Byur!!.


Tiba-tiba seorang wanita di antara mereka mengguyur kepala Tika dengan air mineral.


"Yang?!." Pekik Bang Idan keras.


Secepat kilat Bang Idan menghampiri Tika dan melepas jas nya dan memakai kan nya pada badan Tika.


"P... Pak Zaidan?!." Gelagapan 5 karyawan wanita ini menyebut nama atasan nya itu.


Tatapan mata tajam Bang Idan mengintimidasi 5 karyawan nya itu.


Dia melihat ke ID Card yang menggantung di leher mereka, Bang Idan mengingat tempat mereka bertugas.


'Devisi keuangan.' Batin Bang Idan berucap.


"Kembali ke ruangan kalian sekarang!." Tegas Bang Idan.


Dan dengan langkah cepat mereka kembali ke ruangan.


Pantry sepi, para OB sedang sibuk hari ini, hingga pantry kosong tak ada orang sama sekali.


"Kita pulang sekarang." Dingin suami Tika berucap.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Tika tak mengeluar kan suara sama sekali, menyahut omongan sang suami saja tidak, dia hanya diam menunduk dengan tangan terkepal erat.


Tanpa kata Bang Idan menggendong Tika dan membawa nya keluar dari gedung kantor nya, semua karyawan yang melihat itu terheran-heran.


Pasal nya baru beberapa menit yang lalu 2 pasangan ini masuk dengan senyum mengembang menyapa mereka.


Tapi saat keluar, kondisi Tika berantakan dengan kepala basah, dan wajah Bang Idan memancarkan aura yang menyeram kan.


"Itu... Pak Zaidan kenapa? Tatapan nya tajem banget, nusuk sampe ke ulu hati rasa nya." Bisik-bisik karyawan.


"Iya cewek nya juga berantakan banget, basah lagi tuh rambut nya." Kata lain nya manyahut.


"Udah jan pada gosip! Kerja!." Putus teman yang sadar bahwa ghibah atau gosip itu ngga baik, apa lagi ghibahin atasan sendiri๐Ÿ˜‚.


Dalam mobil perjalanan pulang ke rumah, tak ada perbincangan sama sekali antara sepasang suami istri ini.


Setelah sampai di rumah, Bang Idan kembali menggendong Tika masuk ke dalam kamar, memandi kan Tika dan membantu memakai kan baju.


Tika tak membuka suara sama sekali, Bang Idan juga tak terbawa nafsu sama sekali melihat tubuh polos istri nya yang menggoda iman itu.


Bang Idan hanya ingin segera menyelesai kan para karyawan yang keterlaluan di kantor tadi.


"Kamu rebahan aja di sini, aku mau pergi dulu, ngga lama kok cuma bentaran, aku bakal pulang cepet." Kata Bang Idan.


"Jangan pecat mereka." Pesan Tika, dia memang marah tapi tak mau membuat orang menderita.


"Aku ngga janji, mereka ber 4 udah hina kamu, terutama tadi yang sebelah karyawan berjilbab, dia sampe nyiram kamu, maaf Yang aku ngga bisa janji kalo ngga pecat mereka." Ucap Bang Idan.


Saat Tika akan menyahuti omongan sang suami, Bang Idan sesegera mungkin pergi.


"Aku pergi dulu, jangan keluar kamar kalo aku belum balik, assallammu'allaikum." Bang Idan pergi setelah mengecup kening dan bibir Tika.


"Yang? Dengerin aku dulu! Yang?!." Panggil Tika yang sayang nya tak di hirau kan Bang Idan.


"huufffhhhh, wa'allaikum sallam." Jawab Tika di iringi helaan nafas pasrah.


Di ruangan dimana 5 orang karyawati membully Tika, mereka sedang gelisah.


Kerja mereka tak fokus karena di rundung rasa takut.


"Gua deg deg an nih kenapa yah? Semoga Pak Zaidan ngga bakal pecat kita semua." Doa karyawati yang berjilbab tadi.


"Gua juga takut sih, tapi semoga aja engga." Bak seringan dia bernafas perempuan yang menyiram Tika tadi tak ada rasa bersalah sama sekali.


"Lo ngga merasa bersalah gitu?." Tanya teman yang ikut membully Tika tadi.


"Ngapain? Pasti dia cuma simpenan Pak Zaidan, ngga bakal sayang-sayang amat lah beliau ke wanuta murahan tadi." Acuh nya tak peduli.


"Duh! Nih jantung makin kenceng aja detak nya, kaya bakal ada yang terjadi deh, semoga ngga mengeri kan ya allah." Doa wanita berjilbab.


Di parkiran kantor Bang Idan.


"Lily? Kumpul kan semua pegawai di aula kantor, 10 menit lagi aku akan datang, pasti kan semua nya berkumpul dengan formasi lengkap!." Perintah Bang Idan dengan nada tegas nya kepada sang sekeretaris.


"Baik Pak." Sahut Lily cepat.


Smabungan telepon pun terputus.


"Kalo aku diem terus, bisa-bisa 4 wanita itu menyebar kan berita tak benar pada se isi kantor tentang Tika." Kata Bang Idan.


Di Aula kantor Bang Idan.


"Kita kenapa di kumpulin di sini?." Bisik-bisik karyawan.


"Apa kita buat salah yah?." Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka.


"Pasti bakal ada berita menggempar kan se isi kantor nih." Heboh karyawan yang hobi menggosip.


Sedang kan 4 wanita di pojok ruangan ini saling meremas tangan mulai khawatir.


"Perasaan Gua ngga enak nih." Kata salah satu dari mereka.


"Sama Gua juga ngerasa in kaya gitu." Jawab teman sebelah kanan nya.


"Apa... ini... gara-gara di pantry tadi?." Tanya teman sebelah kiri.


Wanita yang menyiram Tika menggigit kuku jari nya kuat-kuat.


Seluruh ruangan tiba-tiba senyap tak ada suara.


Terlihat di podium Bang Idan tengah berdiri menatap seluruh karyawan nya dengan pandangan tajam dan dingin.


"Selamat pagi semua nya." Sapa Bang Idan.


"Pagi Pak." Jawab seluruh orang di aula.


Hening. Tak ada suara di sana, membuat para karyawan menyentuh tengkuk nya merasa kan hawa dingin yang sangat kental di aula ini.


"Pasti kalian bingung mengapa saya kumpul kan kalian di jam kerja seperti ini." Bang Idan berbasa basi.

__ADS_1


Tak da yang berniat menjawab karena memang Bang Idan tak butuh jawaban.


"To the point aja, saya kecewa dengan 4 orang di antara kalian." Ungkap Bang Idan.


Dan mereka yang merasa semakin takut dan cemas.


'Apa ini akhir Gua kerja di sini?.'


'Apa cewek tadi beneran cewek nya Pak Zaidan?.'


'Apa Gua bakal di eksekusi bentar lagi?.'


'Emak!!! Tolong lah anak mu yang lagi berhadapan ama masalah!!.'


Seperti itu lah isi pikiran karyawan yang membully Tika waktu di pantry tadi.


"Tadi di ruangan kalian semua pasti ada yang berkunjung, seorang gadis dengan dres lengan panjang berwarna merah maroon, saya benar?." Tanya Bang Idan.


"Jawab pertanyaan Pak Zaidan." Tegas Lily berucap.


"Benar Pak tadi ada gadis tersebut berkeliling kantor, melihat kami bekerja dan menyapa serta berbincamg dengan kami." Jawab salah satu karyawan.


"Dan pasti kalian bertanya-tanya siapa gadis itu, iya kan?." Tanya lagi Bang Idan.


"Benar Pak." Jawab salah satu karyawan.


"Dia adalah Tika Ajeng Bram, Putri tunggal dari pemilik Bram Grup, istri saya." Ungkap Bang Idan pada seluruh karyawan nya.


Kontan saja semua orang di aula terkejut tak percaya, ada yang sampai menutup mulut nya pakai tangan saking tak percaya nya.


"Saat di pantry tadi istri saya di hina sebagai perempuan murahan yang menjual tubuh nya karens uang, saya kecewa pada karyawan tersebut, ada tamu bukan nya berlaku sopan malah menghina." Dingin dan sangat menusuk perkataan yang di lontar kan Bang Idan.


Semua oramg diam tak berani menjawab.


"Apa begitu cara kalian menyambut tamu? Saya sudah berniat ingin memecat karyawan yang kurang ajar tersebut, tapi keneruntungan sedang memihak kalian saat ini, istri saya tak memperboleh kan saya memecat kalian." Panjang Bamg Idan menjelas kan.


Terlihat oleh Bang Idan yang berdiri di atas podium 4 karyawan yang membully Tika tadi menghembus kan nafas lega.


"Tapi jangan senang dulu." Ucapan yang penuh ancaman Bang Idan lontar kan kapada mereka, Bang Idan memang tidak menyebut nama, tapi 4 karyawan nya merasa jika perkataan itu untuk mereka.


Dalam hati para karyawan lain nya mereka bergumam bertanya-tanya siapa gerangan karyawan kurang ajar itu.


"Untuk 4 karyawan itu, saya mau mereka minta maaf pada istri saya dan mereka akan di pindah tugas kan di kanyor cabang ya ada di Surabaya." Hukuman yang cocok ubtuk mereka, begitu lah pikiran Bang Idan.


"Dan untuk kalian para karyawan lain nya, jadi kan ini pelajaran, kalian harus sopan kepada tamu yang datang ke kantor ini, dan yang lebih utama, jangan bergosip ketika sedang bekerja." Peringatan keras dari Bang Idan untuk seleruh karyawan nya.


"Baik Pak, kedepan nya kami akan lebih sopan dan tidak akan menggosip ketika sedang bekerja." Jawab satu karyawan mewakili lain nya.


"Baiklah kalo begitu, perkumpulan singkat ini saya akhiri, untuk 4 karyawan yang akan pindah tugas nanti asisten saya yang akan mengurus semua nya, bila ada keperluan tanya kan saja pada nya." Kata Bamg Idan.


"Selamat pagi dan silah kan lanjut kan pekerjaan kalian masing-masing." Pamit Bang Idan dan dia pun pergi dari aula.


Seleruh karyawan membubar kan diri dengan kepala penuh dengan pertanyaan terutama 'Siapa 4 karyawan yang dengan sangat kurang ajar berlaku tidak sopan pada tamu?' Ya seperti itu lah kurang lebih.


Di sisi lain, 4 karyawan itu mengikuti asisten Bang Idan, mereka di giring masuk ke ruangan nya.


"Duduk!." Tajam beliau berucap.


Asisten Bang Idan yang satu ini seorang pria yang lebih menakut kan dari pada atasan nya, ia bernama Lion, biasa di panggil Asisten Li.


Asisten Li menatap 4 karyawati ini dengan pandangan tajam mata sangat tajam.


"Apa kalian sudah bosan bekerja di sini?." Tanya nya setelah lama diam.


"Tidak Asisten Li, kami masih betah ada di sini." Jawab spontan 4 wanita ini.


"Kalau kalian masih betah, kenapa beryungkah bodoh?! Dan kalian seharus nya tak bersikap seperti itu kepada tamu, siapa pun itu, baik kenal mau pun yang tidak kenal." Tekan Asisten Li di setiap kata terakhir nya.


Pembully Tika hanya diam, menunduk tak berani berbicara.


"Kalian harus berterima kasih kepada Nona Tika, karena beliau, kalian tidak jadi di pecat, tapi cuma di pindah tugas kan ke Surabaya, itu masih tergolong ringan." Asisten Li menjeda ucapan nya.


"Tapi ingat! Jika kalian di sana masih mengulangi lagi kesalahan di sini, jangan harap kan saya menolong kalian, bahkan Pak Zaidan bisa saja memblack list kalian." Peringatan Asisten Li.


"Huufffhh jika seperti ini kalia diam tak berbicars, seharus nya tadi waktu ada Nona Tika masuk ke pantry kalian juga harus diam, beresi semua barang-barang kalian, sore ini pesawat kalian akan bernagkat ke Surabaya."Beri tahu Asisten Li.


"Baik Asisten Li." Jawab mereka kompak.


'Pendek akal." Umpat Asisten Li pada 4 karyawan itu.


Jam dinding menunjuk angka 10.30 siang Bang Idan pulang bersamaan dengan mobil Rafka.


"Dari mana Lu Bang?." Sapa Abdiel.


"Dari kantor." Jawab singkat Bang Idan, wajah nya masih terpampang kekesalan di sana.


"Ngga ke RS?." Tanya Abhi.


"Udah dateng dari tadi jam setengah 10." Kembali Bang Idan menjawab dengan cepat.


"Kaya nya nih orang lagi mode marah, kita lanjut nanti malam aja grebek rumah nya." Putus Abdiel sambil berbisik lirih kepada 2 rekan nya ini.


Rafka dan Abhi mengangguk setuju.


"Bang? Kita pulang dulu, malam ini, kita mau ke rumah Lo ada hal penting yang mau kita sampe in ke Tika." Pamit Rafka.


"Iya, nanti malam dateng aja sekalian makan malem bareng kita." Setuju Bang Idan.


Suami Tika itu pun masuk ke dalam rumah, begitu pun Rafka, Abdiel, Abhi, mereka masuk ke dalam rumah Rafka karena para istri-istri mereka sedang berkumpul di sana.


Di rumah Bang Idan, dia langsung naik ke lantai dua menuju kamar nya.


Saat membuka pintu kamar, terlihat di mata nya Tika sedang tidur meringkuk bak Baby, Big Baby lebih tepat nya, Bang Idan terkekeh dengan pikiran nya sendiri.


Lalu tanpa mandi, janga kan mandi, Bang Idan tidak mengganti baju nya hanya melepas sepatu nya dia menating kan diri di sebelah Tika dan ikut tidur sambil memeluk tubuh mungil istri nya ini.


"Aku udah selesai in masalah kantor, dan tadi aku nurutin permintaan kamu, aku ngga pecat mereka." Kata Bang Idan memberi tahu Tika.


Karena sedang tidur tentu saja Ibu Ratu Bang Idan ini tak menyahut.


"Uhhh... nyenyak banget sih Ibu Ratu kalo lagi tidur, aku jahilin ngga papa kali yah." Cetus Bang Idan dengan terkikik geli.


Sesuai isi otak nya, Bang Idan mengganggu tidur nyenyak Tika.


Dari mulai menoel-noel pipi, buka tutup mata nya Tika, sampai yang paling parah menciumi bibir Tika.


Calom Ibu muda tersebut terusik seperti nya, dia mengerut kan dahi nya sambil memaling kan wajah nya ke arah lain.


"Hehehe... maaf Yang, ok aku berenti deh milih tidur aja ketemuan di alam mimpi." Bang Idan berenti menggangu Tika dan tidur.


Malam hari ba'da isya' 5 keluarga junior berkumpul di meja makan rumah Bang Idan Tika, Bunda tak mau ikut, beliau memilih makan malam di rumah dengan para ART.


"Kita makan malam dulu, nanti setelah selesai baru bahas jadwak kalian." Kata Bang Idan yang di angguki setuju oleh lain nya.


Makan malam terlaksana dengan sangat hitmat, tak ada perbincangan, hanya ada suara dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring.


Tak banyak waktu untuk menghabis kan makanan yang ada di piring masing-masing, mereka telah selesai makan tapi masih berkumpul di meja makan.


"Tik? Nih jadwa ujian praktik besok senin." Rafka memberi selembar kertas pada Tika.


"Kalo kalian para cewek tanya kapan liburan, kata nya Kepala Sekolah tadi... setelah ujian praktik selesai, kata nya sih, tapi ngga tau lagi deh, kalo ada perubahan jadwal yah... otomastis liburna di tunda." Jelas Abdiel.


"Thanks info nya guys." Ucap Tika tulus.


"Sama-sama." Jawab Rafka, Abdiel, dan Abhi.


"Ehem! Bang Idan?." Panggil Abdiel.


"Apa an?." Tanya nya.


"Lo... tadi siang kenapa? Kaya marah gitu raut muka nya." Tanya suami Akifa yang kepo nya astaghfirullah itu.


"Ada masalah di kantor biasa... karyawan yang kurang ajar." Jawab Bang Idan dengan teka teki.


"Kamu ngga pecat mereka kan?." Tanya Tika sambil memicing kan mata nya tajam menatap sang suami.


"Niat nya aku pecat, tapi berubah pikiran, aku cuma memindah tugas kan mereka ke Surabaya dan harus minta maaf ke kamu, tapi ngga usah deh, kaya nya mereka udah berangkat ke Surabaya." Kata Bang Idan menjelas kan.

__ADS_1


"Huuffhh." Helaan nafas lega bebas berhembus dari hidung Tika.


"Ouy? Kalian ngomong sendiri, kita di anggap apa di sini?." Sungut Abdiel jengkel.


"Tau nih." Timpal Akifa.


"Hahahaha... sorry guys terlalu asik sendiri Gua nya." Tawa Bang Idan pecah.


"Coba cerita in yang terjadi di kantor Lu tadi Bang." Pinta Alfi.


"Gini... ." Mengalir lah cerita di kantor Bang Idan yang di cerita kan oleh Tika sendiri.


"Wah... wah... parah bat tuh 4 karyawan Lu, kalo Gua jadi Lu udah Gua hempas mereka dari kantor, kalo perlu black list dari perusahaan biar kagak bisa daper kerja lagi, biarin aja nganggur sampe tua." Jengkel Alfi pandangan mata tajam nya.


"Fua juga niat nya gitu Al, tapi nih si Tika bilang nya ngga usah." Tunjuk Bang Idan oada istri nya.


"Ya kan aku kasian sama mereka Yang, coba kalo posisi mereka kita puter, kita di pihak dia pasti sedih banget kan, busa-bisa mereka dendam loh sama kita." Jelas Tika.


"Bener juga apa kata Tika." Celutuk Zarine membenar kan perkataan Kakak ipar nya ini.


"Eh? Kalian tadi ke dokter kan? Gimana pemeriksaan nya?." Tanya Alfi antusias.


"Bang Rafa ama Raina aja dulu yang jelasin." Kata Bang Idan.


"Kandungan Raina menginjak usia 2 minggu, sehat alhamdulillah, dan dokter nyuruh buat ngga capek-capek soal nya hamil muda rentan sama yang nama nya keguguran." Jelas Bang Rafa.


Semua mengangguk kan kepala paham.


"Tika? Gimana sama kamu?." Tanya Zarine.


"Sehat alhamdulillah, usia nya 5 minggu, dan kata dokter Lexa belum boleh 'main' hahaha... ." Tawa Tika pecah, dan itu sukses membuat wajah Bang Idan tertekuk dalam.


"Bukan Lo doang kali Bang, kita semua puasa juga." Sahut Bang Rafa lesu.


"Kita bertiga juga gitu kali." Cetus Abdiel.


Sontak saja oara wanita tertawa sampai mengeluar kan setitik air mata.


"Udah jan ketawa mulu ah kalian para cewek, kita ke lagi sedih kalian malah ketawa ngakak, dosa tau ketawain suami yang lagi susah." Kata Rafka memperingat kan.


"Oho... gitu yah, ok ok kita berenti ketawa deh." Putus Zarine, dan benar saja, mereka para perempuan berhenti tertawa.


"Kalian kasih tau ke keluarga besar kapan?." Tanya Rafka pada mereka yang sedang berbahagia ini.


"In syaa allah secepat nya, mungkin besok kita kumpul di rumah Lo aja ya Raf." Pinta Bang Rafa.


"Ok dah beres." Jawab Rafka.


5 keluarga junior ini berkumpul sampai pukul 20.30 malam, setelah itu mereka pulang dan tidur mengistirahat kan tubuh lelah masing-masing agar besok bisa beraktivitas seperti biasa nya.


Cahaya matahari menampak kan diri secara malu-malu dari ufuk timur.


"Huaaa... sejuk banget!." Teriak Akifa.


"Ngga mau pulang!." Seru Zarine.


"Aku juga sama!." Kata Tika.


"Eh? Kok ngga mau pulang sih? Kita di sini udah dari tadi pukul 5 pagi loh, ayo pulang." Ajak para pria.


"Ngga mau." Kini Alfi yang berucap.


"Ayo dong pulang, suami kalian nih pada laper tau, ngga kasian apa kalian?." Abdiel berbicara dengan nada memelas.


"Huuuu... ok ayo pulang deh, guys? Kuy lah." Ajak Akifa.


"Aku lagi enak-enak nya tau Yang ada di sini." Sungut Alfi ketus sambil cemberut.


"Besok kita ke sini." Kata Abhi.


"Bener yah?!." Seru Alfi senang.


"He em in syaa allah." Ucap Abhi.


Pagi yang indah nan cerah ini mereka sedang ada di lapangan dekat perumahan sednag melihat matahari terbit, jika di lihat dari sana sangat lah indah maka nya mereka rela datang oagi buta demi melihat kuasa Allah yang cantik itu.


"Kita main kuy nanti siang." Ajak Tika.


"Ayo." Sahut cepat 4 wanita lain nya.


"Engga!." Seru para pria kompak.


"Yaaa... kenapa?." Protes Kak Raina.


"Kita bakal ke kantor ngurus beberapa kerjaan." Jawab Bang Rafa.


"Lah? Hari sabtu masih aja ngurus kerjaan." Cetus Tika.


"Ya harus dong Yang, ini juga buat kalian juga, udah yah ini para ciwi-ciwi stop protes." Tegas Bang Idan berucap.


"Giman kalo kita jalan-jalan sendiri kalian kerja aja?." Tawar Akifa.


"Ngga ada tawar menawar Sayang kuuu... ." Lembut Abdiel menyahut.


"Au ah terserah." Para wanita merajuk, mereka tak menawar lagi, berjalan mendahului para pria sambil menghentak-hentak kan kaki nya jengkel.


"Uhuyyy... ngembek nih yee!." Goda Abdiel.


Dan dengan kompak nya para wnaita menoleh kan wajah nya sambil menatap tajam Abdiel juga lain nya.


"Hehehe... becanda girl's, peace." Abdiel menunjuk kan 2 jari nya membentuk huruf V.


"Lo sih, tau mereka ngambek Lo becanda in, jan nambahin marah nya mereka Diel." Bisik Rafka pelan.


"Ya sorry, Gua kan niat nya becanda Guys." Ucap Abdiel ikut berbisik.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys๐Ÿ˜.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf kalo garing๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf typo di mana-mana๐Ÿ™๐Ÿ˜ข.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan๐Ÿ˜ข.


Maaf gantung cerita nya๐Ÿ˜‚.


Di lanjut besok ya readers๐Ÿ˜‚.


Jangan marah karena di gantung yak guys๐Ÿ˜‚.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya๐Ÿ˜Š.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa๐Ÿ˜.


__ADS_2