Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Eleven


__ADS_3

Fajar diufuk timur menghangatkan siapa pun yang mengenai sinarnya.


Pagi yang hangat ini memang cocok dimanfaatkan untuk berolahraga.


"Udahan yuk Za, aku capek." Kata Rafka yang terduduk ditrotoar taman.


"Ayo satu kali lagi Raf." Jawab Zarine sambil lari ditempat.


"Capek Yank, udah kamu duduk sini aja sama aku, ngga usah lari lagi." Kata Rafka sambil menarik tangan Zarine, reflek karena terkejut Zarine langsung jatuh diatas Rafka.


Mereka berdua saling menatap dengan jantung yang tak karuan.


Padahal sudah menikah tapi tetap rasanya mereka masih gugup jika dalam posisi seperti ini.


Beberapa detik berlalu, Zarine tersadar, dia langsung beringsut duduk disebelah Rafka.


"Makanya Raf jangan tarik-tarik." Kata Zarine yang menunuduk menyembunyikan wajah malunya.


'Grep.'


"Hehehe ada yang malu nih." Kata Rafka menggoda Zarine yang semakin memerah saja wajanya.


"Udah ah, aku mau pulang aja." Kata Zarine dengan berusaha melepas pelukan.


"Ihhh istri aku lucu banget kalo lagi malu." Rafka berkata dengan uyel-uyel pipi Zarine.


Untung keadaan taman ditempat mereka tidak terlalu ramai karena letaknya agak dibelakang.


Jadi mereka agak sedikit bebas jika bermesraan seperti sekarang.


"Haduhhh ngga liat tempat ya kalo peluk-peluk an." Kata seseorang memecah keromantisan mereka berdua.


"Lah?! Kalian ngapain sampai didaerah sini?." Kata Rafka masih memeluk Zarine.


"Cari suasana baru buat jogging, eh malah ketemu yang bikin jiwa jomblo meronta." Balas seseorang tadi, Akifa.


Akifa, Abdiel, Alfi, & Abhi. Mereka semua ada ditaman dekat dengan apart Rafka untuk berolahraga


"Kalo Lo mau nikah aja Fa." Suruh Alfi.


"Mana ada yang mau ama dia Al?." Balas Abdiel yang ditertawai Rafka dan lainnya.


"Ada kok, tapi nanti." Kata Akifa.


"Udah! Ini masih pagi, jan berantem." Lerai Abhi.


"Si Abdiel nih." Tunjuk Akifa jengkel.


"Eh, kalian semua udah pada sarapan belum?." Tanya Akifa mengalihkan topik.


"Belum." Jawab semuanya kompak.


"Pas banget! Kuy makan Soto Ayam." Ajak Akifa dengan mata berbinar.


"Lo traktir?." Tanya Abdiel.


"Ya ngga lah! Bayar sendiri semua!." Seru Akifa dengan malas.


"Kirain Lo mau bayarin." Balas Abdiel nyengir selebar cengiran kuda.


Mereka semua berjalan mencari penjual Soto Ayam disekitar taman.


Sampai tiba-tiba.


"Hai Raf." Sapa Sari dengan bergelayut manja pada lengan Rafka.


"Lepas!!." Seru Rafka dengan menghempaskan lengan Sari.


"Yank?." Tegur Zarine.


"Gua pulang." Kata Rafka dengan menyeret tangan Zarine kasar.


"Assallammu'allaikum." Salam Zarine dari jauh agak berteriak.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Abdiel dan lainnya.

__ADS_1


Masih ditempat kejadian.


Alfi, Abhi, Akifa, & Abdiel menatap Sari dengan wajah kesal.


"Apa mau Lo An**ng." Marah Alfi dengan mencekal tangan Sari kuat.


"Auww, lepas gila!!." Keluh Sari kesakitan.


"Al udah, kalo dia luka kamu dapet masalah nanti." Kata Abhi melerai dengan menarik Alfi agak kencang dan memuluknya.


"Lepas Bhi!! Biar aku cekik dia sampe mati." Ronta Alfi.


"Lo pulang sana, ganggu aja!." Usir Akifa.


"Dasar Cewek gila!." Seru Sari dengan pergi menjauh dari Alfi.


"Pengecut Lo Sar, sini Lo!! Lepas Bhi!!." Teriak Alfi dengan meronta.


Merasa menjadi tontonan, segera mereka meminta maaf dan pergi dari taman untuk pulang kerumah.


Diapart Rafka Zarine.


"Raf? Lepas Yank, sakit!." Ringis Zarine.


Seperti tersadar Rafka melepas cekalannya dan tampaklah pergelangan tangan Zarine yang agak membiru.


"Ma... ma... maaf Yank, maaf aku emosi tadi." Kata Rafka.


Dia segera beranjak kedapur mengambil bongkahan es untuk mengompres pergelangan istrinya.


"Maaf Yank, maaf banget." Kata Rafka lagi dengan pandangan menyesal sembari mengompres Zarine.


"Masih sakitkah?." Tanya Rafka khawatir.


"Alhamdulillah udah mendingan, makasih Yank." Balas Zarine.


"Maaf ya Yank, gara-gara aku kamu memar kek gini." Kata Rafka penuh penyesalan.


"Iya ngga papa kok Yank udah aku maafin sebelum kamu memintanya sekalipun." Balas Zarine.


Posisi Rafka yang duduk dibawah Zarine yang sedang duduk disofa ruang santai, membuat Rafka lebih mudah rebahan dipaha istrinya ini.


"Iya, in syaa allah aku akan terus percaya sama kamu, kamu mandi gih sana, ini udah jam setengah 9 kita belum mandi dan sarapan." Kata Zarine dengan nada lembut.


"Ok." Balas Rafka singkat dengan berdiri dari duduk lalu mengecup kening Zarine kemudian naik kelantai dua tempat kamarnya dan Zarine untuk mandi.


Zarine juga memutuskan mandi dikamar mandi dekat dapur.


Setelah Rafka dan Zarine selesai mandi, Zarine meminta pada Rafka membeli makanan saja untuk sarapan mereka yang tertunda.


"Yank besok kita sekolah, ngga mau belanja ke mall buat persiapan?." Tanya Rafka.


"Emmm, aku pakek buku yang lama aja deh Yank, masih banyak yang kosong." Tolak Zarine.


"Kenapa ngga beli aja? Mau pengiritan?." Canda Rafka yang diakhiri kekehan khasnya.


"Ya ngga gitu juga Yank, kalo masih bisa dipake baiknya ngga usah beli, mubazir kalo dibuang." Terang Zarine.


"Iya sih." Balas Rafka.


"Ayolah Yank, kita nge mall dari pada dirumah suntuk." Ajak Rafka memaksa.


"Emmm, oklah! Ayo." Kata Zarine mengiyakan.


Mereka berdua bersiap-siap menuju mall.


20 menit sampailah mereka di mall.


"Kita main aja Yank aku ngga tau mau belanja apa, mending main gimana?." Tawar Zarine.


"Ok, ayo." Seru Rafka dengan menggenggam tangan Zarine erat.


Rafka dan Zarine bermain sampai tak terasa Dzuhur telah tiba.


Mereka menghentikan permainan lalu berjalan mencari mushollah kemudian memutuskan makan siang sebelum pulang.

__ADS_1


Hari beranjak menuju malam yang dingin.


Setelah makan malam dan sholat Isya' tadi.


Rafka dan Zarine berbaring diatas kasur dengan menyandarkan punggung kesandaran ranjang.


Tiba-tiba dipintu apart mereka, seseorang mengetuk pintu pelan.


'Tok tok tok.'


"Yank? Denger ngga?." Tanya Zarine.


"Siapa malam-malam begini bertamu? Kurang kerjaan aja." Gerutu Rafka dengan bangun dari kasur ingin membukakan pintu tamu yang tak diundang itu.


"Kamu tunggu sini Yank, jangan keluar." Pesan Rafka yang diangguki Zarine.


Rafka turun dari lantai 2 kemudian berjalan kearah pintu.


'Ceklek.'


"Bha!!!." Kejut seseorang yang sayangnya tak meimbulkan reaksi apapun pada Rafka.


"Ngga kaget, ngapain malam-malam kesini?." Tanya Rafka ketus.


"Et dah buset, selow brother, ngga disuruh masuk dulu nih?." Tanya seseorang itu.


"Cepet!." Seru Rafka dengan melebarkan pintu rumahnya.


Seseorang itu masuk dan tanpa disuruh tiba-tiba duduk disofa ruang tamu.


"Ada apa? Ngga usah basa-basi." Suruh Rafka lagi.


"Gua baru datang Raf, tega banget Lo ngga kasih Gua minum dulu." Kata orang itu dengan wajah memelas.


Rafka kemudian pergi kedapur lalu tak berapa lama kembali dengan segelas air putih.


"Ngga ada-."


"Berhenti basa basi Abdiel!." Jengkel Rafka.


"Ok ok." Pasrah Abdiel yang kemudian meminum air putih yang dibawa Rafka tadi.


Orang yang bertamu malam saat ini adalah Abdiel.


"Ada apa Lo kesini?." Tanya Rafka to the point.


"Dia udah tidurkan." Tanya Abdiel celingukan mencari Zarine.


"Udah, apa an sih?." Tanya Rafka mulai kesal.


"Ini nyangkut tadi pagi ditaman." Kata Abdiel lirih bahkan hampir tak terdengar.


Ketajaman pendengaran Rafka membuatnya menggeram kesal jika mengingat kejadian pagi tadi.


"Kenapa lagi tuh Cewek?." Tanya Rafka dengan mengepalkan tangan.


"Hati-hati ama dia Bro, dia keknya mau ngerencana in hal besar." Terang Abdiel.


"Sama siapa?." Tanya Rafka yang alhamdulillah kali ini Abdiel paham maksudnya.


Tapi meski tau maksudnya apa, Abdiel tak berniat menjawab dan malah menatap Rafka intens.


"Roy." Lirih Rafka dengan wajah geram.


"Kita bicarain lagi besok, dan sekarang Lo pulang aja deh, ini udah jam 9 malam, jangan balik kemalaman digodain waria Lo entar." Kata Rafka menakut-nakut i Abdiel.


"Hiii anceman Lo ngeri banget, oklah Gua balik dulu. Assallammu'allaikum." Salam Abdiel langsung keluar dari apart Rafka dan terbirit menuju parkir bergegas pulang.


"Wa'allaikum salla, digitu in aja langsung lari." Kata Rafka.


Rafka kembali kekamar dan merebahkan tubuhnya disebelah Zarine.


Zarine sudah menyelami alam mimpi, Rafka menatap wajah tenang dan teduh milik istrinya itu.


Kemudian dia merapatkan tubuh istrinya kearahnya dengan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


'Ngga akan Gua biarin sesuatu terjadi, Lo dah balik ternyata dari penjara.' Batin Rafka lalu dia mulai tidur menyusul Zarine.



__ADS_2