Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventy-seven


__ADS_3

Sudah 7 hari sejak ke tiada an Ayah Zarine.


Semua orang sudah melakukan kegiatan seperti biasanya.


Tidak ada lagi orang yang bersedih atau menangis.


Bunda juga sudah meng ikhlas kan Ayah pergi, beliau berpikir 'tak ada makhluk hidup yang abadi, semua makhluk pasti akan kembali ke pada sang pencipta'.


Beliau sekarang ada ikut tingga di rumah Rafka Zarine, dan jika butuh teman saat anak menantunya pergi sekolah, Bunda datang ke rumah Bang Rafa mengobrol dengan Raina.


Rumah Bunda yang lama di rawat oleh para pelayan, beliau tidak berniat menjualnya karane rumah itu banyak kenangan dan merupakan peninggalan berharga dari almarhum.


Rabu pagi yang indah ini Rafka Zarine sudah siap dan sedang memakai sepatu di kursi teras rumah.


Bunda berdiri di pintu rumah berbincang dengan Zarine.


"Nanti Bunda kalo butuh temen ke rumah Kak Rain aja ya." Pesan Zarine.


"Iya, emmm ini lainnya kemana?." Tanya Bunda celingak celinguk.


"Bentar lagi juga dateng Bun." Jawab Rafka.


"Yuhuuuu?!!, selamat pagi Bunda, Zarine, Rafka?." Sapa Akifa heboh, Abdiel menggelengkan kepalanya pelan dan mengikuti langkah sang istri dari belakang.


"Sesuai dugaan dah." Celutuk Rafka, yang di tanggapi kekehan oleh Zarine dan Bunda.


"Pagi juga Akifa." Sapa balik Bunda Zarine.


"Pagi juga Mak Ipah." Rafka mengejek Akifa.


Akifa men delik kan matanya lebar.


"Awas lepas mata nya Neng." Celutuk Alfi dari samping Akifa.


Semua orang terkekeh.


"Gua mau tanya sama kalian, kenapa sekarang kalian malah sering numpang di mobil Gua?." Tanya Rafka.


"Rumah kita deket Raf, kita juga satu sekolah, bawa mobil sendiri-sendiri itu ribet, kalo kita mau kemana-kemana ngga enak aja gitu rasanya." Alasan Abdiel panjang lebar.


"Kali ini Gua setuju ana si Andiel." Kata Abhi menyahut.


"Tapi sebaik kalian mobilnya gantian, kalo mobil kalian diam di garasi ngga di pake bisa-bisa rusak, kan sayang." Kata Bunda.


"Hmmm, bener juga kata Bunda, ya udah besok kita pake mobil yang ada di garasi Gua aja." Ucap Abdiel yang di angguki lainnya pertanda setuju.


Dati arah selatan.


Terlihat Tika berjalan cepat dan Bang Idan berusaha menggapai tangan nya.


Sampai di halaman rumah Rafka.


"Morning all, Raf? Ayo segera berangkat." Ajak Tika dengan nada ceria dah semangat.


"Morning." Jawab semua orang menjawab.


"Iya bentar lagi kita berangkat." Kata Rafka.


Bang Idan yang ada di sebelah Abhi menatap nanar sang istri.


Suasana menjadi canggung dengan ke datangan 2 manusia yang di perkirakan oleh Bunda, Rafka Zarine, dan lainnya, mereka sedang perang dingin.


"Iya ayo berangkat." Ajak Alfi.


Rafka dan lainnya berpamitan mencium punggung tangan Bunda.


Tika menyalami sang suami dengan kebisuan tak berbicara apa pun.


Kemudian dia masuk ke dalam Mobil Rafka tak menoleh pada Bang Idan sedikit pun.


"Raf, Gua titip Tika." Ucap Bang Idan.


"Iya beres, kalo bisa Lo pulang cepet dari kantor hari ini, susul dia pulang sekolah entar dan selesai kan masalah Lo ama dia." Kata Rafka.


"Gua usaha in buat pulang cepet nanti." Jawab Bang Idan.


"Gua berangkat dulu, Bunda kita berangkat assallammu'allaikum." Salam Rafka pada 2 orang di teras ini.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dan Bang Idan bersamaan.


7 orang itu pun pergi ke sekolah.


Di dalam mobil suasana sangat canggung.


Tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun.


Sampai... .


"Nanti pulang sekolah jan balik dulu yah." Pinta Tika.


"Terus?, kita mau kemana?." Tanya Akifa.


"Gua punya tempat yang enak buat ngumpul, sejuk juga udaranya di sana." Kata Tika.


"Dimana?." Tanya Alfi.


"... ." Tika tak menjawab dan malah memejamkan mata nya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah.


-


-


-


Pukul 09.30 pagi di kantor Bang Idan.


Hari ini Bang Idan di kantor sama sekali tak bersemangat.


'Tok... tok... tok... .' Pintu ruangannya ada yang mengetuk.


"Masuk!." Seru nya.


"Assallammu'allaikum, selamat pagi Pak Zaidan." Sapa formal Bang Rafa.


"Ada apa Lo ke sini?." Tanya Bang Idan to the point.


"Uyy keras brayyy." Goda Bang Rafa.


'Huuffffh.' Helaan nafas lelah terdnegar dari Bang Idan.


"Ada apa?, Lo kenapa?, kaya capek gitu?." Tanya Bang Rafa beruntun.


"Lo masih inget ngga sama cewek yang namanya Gisell?." Tanya Bang Idan.


"Gisell?." Beo Bang Rafa.


Bang Rafa berpikir keras untuk mengingat-ingat gadis pemilik nama itu.


"Ouh iya Gua inget, yang waktu dulu ngejar-ngejar Lo di SMA itu kan?." Tanya Bang Rafa.


"Ya, dia." Jawab Bang Idan.


"Gua denger dia jadi model internasional sekarang, bahkan lagi naik daun." Kata Bang Rafa.


"Hmmm." Gumam Bang Idan.


"Lo kenapa tanya dia?, inget Dan Lo udah-." Ucapan Bang Rafa terpotong.


"Gua cuma mencintai Tika sekarang, nanti, dan selamanya." Tegas Bang Idan.


"Ya ya ya Gua percaya." Kata Bang Rafa.


"Akhir Desember kemarin dia datang lagi ngericuh di hidup Gua." Cerita Bang Idan.


"What?!, dia tau dari mana kalo Lo balik ke sini?." Tanya Bang Rafa.


"Entahlah Gua juga kurang ngga tau." Jawab Bang Idan.


"Apa... bini Lo tau?." Tanya Bang Rafa hati-hati.


"Baru tau kemarim malam." Kata Bang Idan.


"Lo ngasih tau dia kah?." Tebak Bang Rafa.


"Kemarin malam dia ngirimin Gua pesan dan Tika yang buka, dia ngirimin Gua foto tubuhnya yang telanjang." Jelas Bang Idan.


"Serius Lo?!." Kejut Bang Idan.


"Si ***** itu udah Gua peringatin buat menjauh, nomer dia udah sering kali Gua blok, tapi dia selalu chat Gua pakek nomer baru." Terpampang jelas raut lelah dari wajah Bang Idan.


"Lo tau sendiri tabiat dia gimana Dan, dia itu akan melakukan apa pun untuk mendapatkan Lo." Kata Bang Rafa.


Bang Idan diam dan memijit pangkal hidungnya, dia sedang di landa pusing.


"Lo ngga coba jelasin sama si Tika?." Tanya Bang Rafa


"Gua baru tau dia buka pesan Gisell pas dia udah tidur, Gua semalem sibuk banget ngurusin berkas kantor, Gua ambil HP di tangan Tika karena Gua mau telepon Radit, Gua juga ngga buka whatsapp sama sekali selamem " Jelas Bang Idan panjang lebar.


"Dia juga udah Gua ancam tadi pagi, Radit sama Gua lagi cari bukti-bukti buat ngancurin dia." Sambung Bang Idan.


Bang Rafa mengangguk kan kepala paham.


"Kalo Tika cerita ama 6 serangkai bisa di tamat si Gisell." Gumam Bang Rafa.


"6 serangkai?, Alfi?!." Seru Bang Idan.


"Semoga aja Tika ngga cerita ya Allah." Doa Bang Rafa.


"Aamiin." Bang Idan menjawab dengan tangan di usap kan ke wajahnya.


"Lo tenang dulu, nanti kita pikirin sama-sama soal Gisell ini, Gua pamit mau balik ke kantor, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa.


"Hmmm, wa'allaikum sallam." Jawab Bang Idan lesu.


Bang Rafa pergi dan menyisakan Bang Idan sendiri di ruangannya.


-


-


-

__ADS_1


Sore ini SMA Merdeka pulang pukul 15.10 lebih awal 20 menit dari biasanya.


Siswa siswi pulang setelah sholat asyar berjamaah.


"Kita jadi nih ikut ke suatu tempat yang Tika mau?." Tanya Abhi.


"Kaya nya Kakak Ipar kita lagi butuh temen curhat deh, kita dengerin aja keluh kesah nya, dia juga sering banget bantu kita kalo lagi punya masalah." Kata Zarine.


"Ok deh, ayo kita dengerin dia nanti." Seru Alfi semangat.


"Hai guys?, jadi ke tempat yang Gua maksud kan?." Tika menyapa dan bertanya dengan ceria.


"Jadi dong... kuy berangkat." Kata Akifa.


Di jalan menuju tempat parkir Rafka berbisik pada Zarine.


"Chat Bang Idan sama Bunda kalo kita pulang sorean, bilang sama beliau berdua kita mau pergi jalan-jalan ke suatu tempat." Kata Rafka.


"Iya." Jawab Zarine.


Dia melakuka perintah sang suami.


Saat menghubungi Bang Idan, proses nya agak lama karena Bang Idan banyak bertanya.


"Udah Yang?." Tanya Zarine.


"Bang Idan tanya ke suatu tempat di mana?, aku harus jawab apa?." Bingung Zarine.


"Duh tuh Kakak Tua cerewet juga yak, bilangin jangan khawatir Kak kita bakal pulang sebelum jam 5 sore." Suruh Rafka.


Zarine mengetik dengan cepat di keyboard ponselnya.


"Segera offline biar dia ngga cerewet." Suruh Rafka.


Zarine hanya menurut pada kata sang suami.


Di kantor Bang Idan mengacak rambut frustasi karena Zarine yang tiba-tiba off.


"Aahkkhhh!!!." Teriak Bang Idan di ruangannya.


Bang Idan hanya bisa membiarkan Tika pergi bersama 6 serangkai untuk membuat sang istri tenang tak bersedih lagi.


Di tempat parkir mobil SMA Merdeka.


7 serangkai masuk ke dalam mobil bergantian.


Lalu mereka semua kemudian pergi ke tempat yang Tika maksud.


20 menit perjalanan, mereka sampai pada sebuah tanah berumput yang terdapat banyak angin di sana.


"Ini... bukan nya lapangan bola ya?." Tebak Zarine.


"Iya, ini lapangan bola jawab Tika." Tika membenarkan ucapan adik ipar nya ini.


"Huuuu!!!, asli banyak banget angin nya di sini, semua sisi lapangan di kelilingi sawah, bikin angin nya tambah kenceng." Kata Abdiel.


"Lo tau dari mana di sini ada lapangan bola Tik?." Tanya Alfi.


"Gua dulu sering goes ke sini sama Sari, udah sejak kelas 7 SMP Gua tau tempat ini." Jelas Tika.


Mereka ber 7 duduk di atas rumput sambil menatap ke arah sawah dan beberapa orang yang sedang beraktivitas di sekitar lapangan.


"Tik?, maaf kalo Gua lancang, Lo lagi... ." Pertanyaan Akifa menggantung karena tak enak melanjutkan nya.


'Huuuhhhh.' Hembusan nafas dari mulut Tika terdengar.


"Kemarin malam, Gua nerima chat hal yang ngga senonoh dari seorang perempuan di handphone nya Bang Idan, dia bukan nya jelasin malah cuma ngrebut handphone nya dan pergi ke ruang kerjenya." Cerita Tika mengalir lengkap dengan air matanya.


"Lo inget nomer yang chat Bang Idan ngga?." Tanya Alfi cepat.


"Inget, Gua sempet catet di handphone Gua sendiri." Kata Tika.


"Sini in Gua liat handphone Lo." Pinta Alfi.


Tika memberikan ponselnya pada Alfi dan melihat nomer itu.


"Itu photo profilnya kok kaya model yang terkenal yang namanya... siapa sih aduh lupa Gua." Kata Akifa.


"Gisell." Ungkap Tika ikut melihat foto nya.


"Coba Lo chat ngaku aja sebagai istri nya Bang Idan." Kata Alfi.


Tika menurut.


Dia mengirim pesan pada Gisell.


'Ini bener nomer nya Gisell yang super model itu kan?.' Basa basi Tika.


Hanya menunggu 2 menit Gisell pun menjawab.


'Iya, ini dengan siapa?.' Tanya Gisell.


'Tolong jauhin suami aku!.' Jari Tika lincah mengetik di atas layar.


'Ini siapa?, suami Mbak siapa?.' Tanya Gisell.


'Suami ku adalah Zaidan Fathan, jauhi dia!!.' Tegas Tika.


"Ngga nyangka ya semudah ini kita chating sama model papan atas." Kata Akifa takjub.


"Percuma model papan atas tapi tingkahnya kaya *****." Seru Tika.


"Bener juga sih." Gumam Akifa.


Di tempat lain, tepatnya kamar Gisell.


Wanita muda itu sedang berbaring di atas kasur nya sambil memperhatikan foto seorang gadis SMA yang ternyata adalah foto profil whatsapp Tika.


Kebetulan hari ini Gisell senggang jadi dia bisa bersantai di rumah nya.


"Cih, masih SMA ngaku-ngaku udah bersuami." Sinis nya.


Gisell memeperhatikan lebih detail lagi muka gadis di foto.


"Diia cantik juga sih." Gumam Gisell.


"Tapi masa kecil-kecil udah nikah?, ini ngga masuk akal, Gua ngga akan termakan kibulan anak SMA." Kata Gisell.


Dia membalas pesan Tika.


'Jangan ngarang adik kecil, kamu masih SMA ngga mungkin jika Zaidan Fathan adalah suami mu, halu nya jangan ketinggian!." Ejek Gisell.


Tika mendapat balasan tersebut tersulut emosi.


Dia tak menjawab pesan Gisell dan beralih mengirim pesan pada Bang Idan.


'Suruh perempuan yang nge chat kamu kemarin malam dateng ke kantor kamu sekarang!!.' Perintah Tika tegas.


Bang Idan di kantor terkejut dengan perintah sang istri.


' Kak Zaidan ini perintah, aku ngga nerima bantahan, kita selesai kan semua masalah kita sekarang juga!!.' Pesan Tika pada Bang Idan lagi.


Bang Idan menurut dan meminta sekeretaris nya menghubungi Gisell.


Di lapangan.


"Kita pergi ke kantor Kak Zaidan sekarang, kita selesai kan semua nya di sana." Ajak Tika.


Mereka segera meluncur ke lokasi.


Sedangkan Gisell dia sangat senang mendapat undangan ke kantor Bang Idan.


Mobil Rafka sampai di kantor Bang Idan tepat menit ke 25.


Tika masuk dengan berlari sampai tak menghiraukan sapa an karyawan.


Sampai di ruangan.


"Kita biacara di atab kantor, kalian juga ikut, ayo." Ajak Tika dingin pada sang suami.


Di jalan menuju atap.


"Lo kenapa ngga jelasin tadi malam sih Bang?!." Bisik Akifa.


"Gua ngga tau kalo dia liat pesan nya si ***** itu, taunya pas Gua buka Whatsapp saat Tika udah tidur, dan pagi nya Gua udah mau jelasin, Tika nya malah menghindar dari Gua." Jelas Bang Idan.


Sampai dia atab.


Bang Idan mengirim pesan pada Lili sang sekretris untuk mengantar kan Gisell ke atab jika sudah sampai nanti.


Gisell sudah sampai di kantor Bang Idan.


Lili segera melakukan tugasnya.


Di atab, 7 serangkai bersembunyi di bagian paling pojok.


Gisell sudah sampai di atab dan sedang memandang Bang Idan dari belakang.


Gisell punya niatan memeluk Bang Idan dari belakang, tapi... .


'Bruk.'


"Auhhh." Pekik Gisell kesakitan, dia jatuh terduduk sebab di dorong oleh Tika.


"Rasain Lo." sungut Akifa yang menonton dari kejauhan.


Mereka ber 6 sudah menjaga jarak sangat jauh, agar tak mendengar pembicaraan, tapi bisa melihat adegan pertengkaran 2 wanita beda usia ini.


Di tempat kejadian.


Gisell berdiri dari jatuh nya dan menandang Tika dari atas hingga bawah.


'Dia bukan nya yang tadi berkirim pesan dengan ku?.' Batin Gisell berucap.


'Sial!, kalo memang benar aku kalah saing, dia lebih cantik dari ku.' Umpat Gisell mengakui paras cantik Tika.


"Mukanya cantik tapi sayang hobi ngrebut suami orang." Sinis Tika berucap.


"Apa buktinya kalo kalian nikah?!." Seru Gisell meminta bukti.


Bang Idan dan Tika menunjuk kan cincin pernikahan mereka.


Tak sampai itu juga, dia juga menunjuk kan buku nikah dan bukti kuat lainnya.

__ADS_1


"Sudah puas pelakor?." Tanya Tika sambik tersenyum miring.


Gisell gelapan tak bisa menjawab.


'Sial! Bukti di depan nyata, apa yang harus aku lakukan?.' Batin Gisell gelisah.


"Bi... bi... bisa saja ka... kalian memalsukan nya kan?." Bantahan Gisell terdengar.


"Apa perlu aku membawa pengacara kemari untuk membuktikan segalanya?, sekalian aku akan jebloskan kau kepenjara." Kata Bang Idan dingin.


"Jauhi suami ku, kalo kau tak mau hancur sehancur hancurnya di tangan ku." Tika mengancam dengan sorot mata dingin dan tajam nya.


"Dia Tika?, beneran Tika istri Gua atau bukan sih, serem amat, belum pernah Gua liat di seserem ini.' Batin Bang Idan sambil bergidik ngeri. (Masih sempet aja, padahal lagi ganas-ganasnya suasana😂, ups! Maaf in Author yang ketawa dan tiba-tiba muncul yak😅).


"Ini pasti boong kan, ini tipu an kamu kan Zaidan?!." Gisell tak percaya.


'Ring... ring... ring... .' Ponsel Gisell berbunyi.


Dia merogoh tas jinjingnya dan mengangkat telepon nya.


"Hallo?." Sapa Gisell.


"... ."


Entah apa yang di bicarakan orang di seberang telepon sana.


Ekspresi Gisell seperti terkejut dan dia menatap Bang Idan dengan gemetaran.


"Aku akan segera kesana." Kata Gisell dan dia memutus sambungan telepon.


"Dasar Zaidan kepa**t!! Apa yang kamu perbuat pada perusahaan Ayah ku bang**t?!!." Tanya Gisell penuh dengan emosi.


Bang Idan menampilkan senyum manakutkannya dan menatap Gisell datar.


"Melakukan yang semestinya harus di lakukan." Jawab entang Bang Idan.


"Awas saja kalian berdua, aku akan membalasnya!!." Ancam Gisell.


"Apa yang bisa kau lakukan? Meminta tolong pada Dady Sugar mu?." Sini menghujam.


'Duarr!!.' Bak di sambar petir di siang bolong.


'Gimana dia bisa tau?, apa dia menyelidiki semua tentangku?, Oh ya Tuhan aku lupa sedang berurusan dengan siapa, tentu saja dia tau.' Batin Gisell.


Gisell gemetaran dan mundur selangkah demi selangkah.


"Gua pikir Lo bisa jadi model karena emang Lo berbakat, tapi ternyata... cih... ." Perkataan Bang Idan menancap tepat hati Gisell.


"Lo persiapkan mental aja biar ngga masuk RS, ngga lama lagi sesuatu juga terjadi ama karir Lo." Bang Idan menatap Gisell datar.


Gisell menggelengkan kepala sambil gemetaran.


"Gua akan kembali dengan segala sakit ini Zaidan!!!, camkan itu!!." Ancam Gisell.


"Gua tunggu!!, tapi hal itu akan terjadi kalo Lo punya kekuatan buat bangkit dari keterpurukan, hahahaha." Tawa mengerikan terdengar dari bibir tebal Bang Idan.


Gisell berlari dengan sangat kencang meninggalkan Bang Idan dan Tika di atab.


"Suasana udah mulai melunak nih, ayo kita balik, biarin Tika balik sama Bang Idan." Ajak Rafka.


"Bener kata Rafka, ayo pulang kita mesra-mesra an sendiri aja di rumah masing-masing." Celutuk Abdiel dengan berjalan menuju pintu keluar atab.


"Dasar Abdiel gila!, bisa ngga sih kalo ngomong di kontrol?!." Sungut Akifa dengan muka memerah malu.


"Yang?, ngga boleh durhaka ama suami loh." Tegur Abdiel.


"Hahaha." Tawa pelan Alfi dan Zarine terdengar.


"Udah ayo, jangan ketawa in Gua mulu." Delik Akifa pada 4 sahabat nya ini.


6 serangkai pergi.


Sebelum keluar dari atab merek ber pamitan pada Bang Idan dan Tika dengan berteriak.


"Oyyy Ketiak?!, kita pulang dulu nanti Lo pulang ama Bang Idan yak." Kata Abdiel.


"Heyy?! Gua ikut ka-." Ucapan Tika terpotong.


"Bye Ketiak!!!, assallammu'allaikum." Akifa berteriak dengan melambaikan tangannya dan berlalu dari atab.


Suasana di atab hening.


Tika diam memandang langit yang menginjak petang.


'Grep.' Bang Idan memeluk Tika.


"Maaf... maafin aku." Ucap Bang Idan serak.


"... ." Tika tak bergeming.


Dia diam membisu dengan pandangan lurus ke depan.


"Yang?, ngomong dong, jangan cuekin aku please." Bang Idan memelas.


'Hiks... hiks... .' Suara tangis Tika terdengar.


Bang Idan membalik kan tubuh Tika dan memeluk nya dengan erat.


"Jangan nangis... aku minta maaf ok." Ucap Bang Idan sambil mengusap air mata di pipi Tika.


"Kenapa Kak Zaidan ngga jelasin kemarin malam?." Tanya Tika dengan sesenggukan.


"Aku kemarin sibuk Yang, aku baru tau kalo kamu baca chat si ***** itu pas kamu udah tidur." Jelas Bang Idan.


"Dan pagi tadi aku mau jelasin kamu nya malah menghindar dari." Lanjut Bang Idan berbicara sambil menunduk sedih.


"Maafin aku juga udah ke kanakan dan ngga mau dengerin kamu." Ucap Tika dengan menunduk tak berani menatap suaminya.


Bang Idan menyentuh dagu Tika dan mengangkatnya.


Dia mengecup bibir Tika pelan.


"Kiat berdua sama-sama saling memaafkan ok, kita sama-sama belajar dari masalah ini, dan perlu kamu tau Yang, aku ngga pernah dan ngga akan pernah berpaling, jangan melakukannya, berpikir kaya gitu aja aku ngga ada." Tagas Bang Idan.


Tika mengangguk kan kepalanya cepat.


"Kamu percaya sama aku kan?." Tanya Bang Idan.


"Percaya sepenuhnya." Jawab Tika.


Mereka berdua berpelukan.


Adzan maghrib berkumandang.


"Ayo kita masuk dan sholat dulu, habis itu kita makan malam bersama dan pulang, aku mau ambil jatah." Bisik Bang Idan menggoda Tika.


"Ish!, apa an sih Kak Idan, malu tau." Kata Tika, pipinya sudah bersemu merah.


"Malu sama siapa?, di sini ngga ada CCTV dan ngga ada orang lain juga." Bang Idan menoleh kan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Udah ayo." Ajak Tika.


"Ciee ngga sabar." Makin gercar Bang Idan menggoda.


"Uhhh, apa an sih." Tika berlari meninggalkan Bang Idan dan turun menuju ruangan Bang Idan.


Sebelum sholat Tika memutuskan untuk mandi juga mengganti baju nya.


Selesai sholat, mereka makan malam di restaurant di dekat kantor.


"Kamu mau makan apa Yang?." Tanya Bang Idan.


"Sama in aja deh." Kata Tika.


Mereka makan berdua dengan romantis, se isi restaurant memandang iri ke pada dua pasangan ini.


Pukul 19.30 mereka baru sampai rumah setelah melaksanakan sholat isya' di masjid.


Di kamar.


"Yang?." Panggil Tika.


"Hmm?." Sahut Bang Idan.


"Makdunya kamu dady sugar itu-." Ucapan Tika tehenti.


"Udah aku ngga mau bahas dia, aku mau ambil jatah aku." Rengek Bang Idan memeluk Tika.


Bang Idan memulai dari bibir tipis nan mungil milik Tika, beralih pada leher dan sekitarnya.


Setelah lama menjelajah di sana, mereka mulai melepas satu per satu pakaian dan melakukan penyatuan.


Suara de**han Tika menggema di kamar dan membuat Bang Idan menggila.


Bang Idan melakukan penyatuan secara beberapa ronde, sampai Tika lelah dan jatuh dalam alam mimpi.


Sang suami memeluk erat tubuh Tika lalu ikut tidur.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf ngga dapet feel nya


Maaf kalo garing😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2