
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.
******************************
-
-
"Abdiel, Rafka, Abhi melarang kami para perempuan sekolah, kalo masalah ada pengumaman biar mereka nanti yang informasi in ke kita." Jelas Tika.
"Emmm gitu toh." Singkat Bang Idan.
"Ouh iya nanti malam Rafka ajak makan malam, kata nya buat ngerayain hari kebebasan setelah ujian." Beri tahu Tika yang di tanggapi angguk kan oleh Zaidan.
Jam terus berputar, menit demi menit berlalu dengan cepat dan malam pun telah tiba.
Ba'da isya' 5 keluar junior berkumpul di ruang makan rumah Rafka Zarine dengan Bunda juga di sana.
"Bosen tau makan gini an terus, mending kita BBQ an aja." Ajak Akifa.
"Bahan nya ngga siap Mak Ipah, lagi an kita ngga janji an tadi kan, udah makan aja ini se ada nya, nanti kalo udah ujian dah rampung semua, baru kita BBQ an, in syaa allah." Ucap Rafka.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Bunda pikir ujian dah selesai." Bunda ikut menyahuti perbincangan anak-anak nya.
"Belum Bun, besok aja kita harus sekolah lagi, kata nya ada pengumaman, mungkin soal jadwal ujian praktik itu dan juga pesta anak kelas 12." Duga Abdiel.
"Tapi besok hanya kami bertiga aja Bun yang sekolah, 4 ciwi-ciwi nih biarin dah ngga masuk, apa lagi Tika mau ke-." Belum selesai berbicara Abdiel sudah mendapat delik kan mata dari Bang Idan.
'Aduh hampir aja keceplosan! Duh nih bibir kagak bisa diem emang.' Batin Abdiel sambil menepuk-nepuk bibir nya pelan.
"Mau kemana Diel?." Tanya Bunda yang penasaran.
"Mau... mau ke... mau itu ke... ." Gelagapan Abdiel berucap.
"Mau ke rumah Sari Bun." Sela cepat Tika.
"Ah iya Bun, mau ke rumah Sari, maaf Bun Abdiel lupa hehehe... ." Dengan wajah tanpa dosa nya Abdiel nyengir kuda menampak kan deretan gigi putih dan rapi nya.
Setelah perbincangan yang membuat beberapa orang di meja makan ini tegang, makan malam terlaksana dengan suasana tenang, hanya suara dentingan sendok garpu yang terdengar di sana.
Lalu selesai makan, 5 keluarga junior memutus kan untuk pulang dan istirahat di rumah masing-masing.
Ke esok kan hari nya.
Sesuai kesepakatan kemarin, 7 serangkai hari ini yang sekolah hanya para pria yang.
Pagi hari, tak jauh beda dari kemarin, tapi beda nya kali ini rumah Rafka Zarine sedikit berisik karena teriak kan Rafka yang menanya kan barang-barang sekolah nya.
"Yang? Ini kaos kaki hitam ku mana?!." Tanya Rafka nyaring ke seluruh penjuru rumah.
"Ada di situ Raf! Coba cari bener-bener!." Suara Zarine tak kalah nyaring, dia hari ini ingin memasak jadi tugas dapur dia kali ini yang menghandle.
Bunda yang sedang duduk di meja makan hanya menggelang kan kepala sambil tersenyum kecil mendengar teriak kan anak juga menantu nya ini.
'Mereka persis kita Yah.' Bunda mengingat masa lalu nya bersama Ayah.
"Ketemu Raf?!." Tanya Zarine.
"Ketemu! Terus sekarang, jam tangan aku yang warna coklat dimana Yang?." Tanya Rafka.
"Cari di laci biasa nya! Semua nya ada di sana!." Kata Zarine.
Suasana hening sesaat.
Beberapa saat kemudian, Rafka berjalan santai ke arah dapur dengan penampilan tak karuan, seragam tak terkancing, dan masih mengguna kan celana boxer pula.
Dia melewati meja makan, tersenyum manis menyapa Bunda, sedang kan Ibu Mertua nya ini membalas nya dengan senyuman pula, bukan senyuman sebener nya, tapi bibir yang berusaha menahan tawa karena penampilan Rafka yang amburadul.
Sampai di dapur.
"Yang? Mana? Ngga ketemu." Ujar Rafka.
"Ada Yang di la-, Ya Allah Rafkaaaa! Kenapa masih belum siap Yang? Ngapain aja kamu dari tadi hah?!." Seru Zarine sambil berkacak pinggang dan mendelik kan mata nya ke arah Rafka.
Yang di pelototi hanya menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal sambil nyengir kuda.
"Jangan nyengir kaya orang ngga punya dosa gitu, ayo ke kamar aku bantu bersiap! Masa tanpa aku aja kamu ngga bisa sih Raf." Rungut Zarine.
"Bi? Tolong selesai in masak kan saya dong." Pinta Zarine.
"Siiap Non." Singkat sang ART menjawab.
"Ayo!." Ajak Zarine sambil mendorong tubuh kekar Rafka pergi dari dapur.
Saat melewati meja makan.
"Di urusin dulu gih Big Baby nya, kasian siap-siap sendiri." Bunda mnggoda ke dua anak nya ini.
"Iya Bun, Bunda tunggu sebentar, ngga lama lagi sarapan nya siap kok." Ucap Zarine yang di angguki oleh Bunda.
"Big Baby? Ayo Mommy bantu bersiap." Ajak Zarine.
"Ok Mommy." Sahut Rafka yang membuat Bunda tak kuasa lagi tuk menahan tawa.
Sampai di kamar.
"Astaghfirullah... Allahu Akbar... ." Zarine menyebut nama Allah sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
Dia menatap Rafka dengan memicing kan mata nya tajam.
"Semua nya udah aku siapin di atas ranjang loh tadi Yang, seragam, sama kawan-kawan nya udah lengkap ada di sini." Zarine dengan suara lembut nya memberi tahu.
"Iya aku tau semua nya udah lengkap." Jawab Rafka cuek.
"Terus kalo udah tau, kenapa kamar nya bisa berantakan kaya kapal pecah gini?." Tanya Zarine.
"Males tau Yang siap-siap sendiri, aku mau nya di siapin kamu." Manja Rafka meminta.
"Adoy... asli ngga paham mau kamu aku Raf, ya udah ayo aku bantu." Pening Zarine terhadap Rafka.
Selesai membantu suami nya bersiap untuk ke sekolah, Zarine merapi kan kamar nya yang bak kapal pecah ini.
"Ini juga handuk kenapa bisa ada di lantai kaya gini sih Yang? Ngga sekalian aka kamu lempar ke rumah Bang Rafa." Sungut Zarine jengkel.
"Ya ngga lagi-lagi berantakin kamar deh, in syaa allah." Ucap Rafka.
'Khemmm... Huufffhh.' Helaan nafas pasrah terdengar dari hidung Zarine.
Pukul 06.00 Rafka Zarine baru keluar kamar lagi dan langsung menuju meja makan untuk sarapan.
Kemudian di jam 06.20 Rafka berangkat sekolah bersama Abdiel dan Abhi.
Di rumah Bang Idan Tika, tepat nya dalam kamar.
__ADS_1
2 sepasang suami istri ini masih belum bangun dari tidur nya, mereka bangun siang karena semalam mereka berdua lembur (Pasti paham lah yah😂 #AuthorGesrek).
"Kamu ngga kerja?." Tanya Tika yang masih dengan asik dan nyaman nya bergumul dengan selimut tebal nya.
"Kita kan mau ke dokter Lexa, aku ngga kerja hari ini, biar aja asisten sama sekretaris ku yang ngerja in." Seringan dia bernafas Bang Idan ngomong nya.
"Kalo mereka butuh tanda tangan kamu gimana?." Tanya Tika lagi.
"Mereka kan tau rumah kita di sini Yang, tinggal bawa aja ke sini dokumen nya pun selesai di tanda tangani." Ringan Bang Ida menjelas kan.
"Hmmm... iya deh iya aku percaya, aku tadi kan cuma tanya." Cetus Tika.
"Sekarang berhenti tanya-tanya, mari kita mandi habis itu kita ke dokter Lexa." Ahak Bang Jdan, dia bangun dari tidur dan menggendong Tika ke kamar mandi.
"Yang? Kamu udah bikin janji sama dokter?." Tanya Tika di sela mandi mereka.
"Udah, kita berangkat pukul setengah 9 ke sana entar." Jawab Bang Idan yang di angguki oleh Tika.
Jam terus berputar, tak terasa sudah pukul setengah 9 saja, kini Bang Idan Tika bersiap untuk berangkat ke rumah sakit tempat dokter Lexa praktik.
"Kita nanti ke kantor sekalian, aku ada kerjaan sedikit." Bang Idan memberi tahu.
"Aku ngikut kamu aja." Pasrah Tika.
Beberapa menit perjalanan, mobil Bang Idan sampai di parkiran rumah sakit.
2 sejoli muda ini turun dari mobil dan berjalan ke lobby rumah sakit.
Saat melangkah menuju ruangan dokter Lexa, mereka berpapasan dengan beliau.
"Eh? Bang Idan? Dan... ." Dokter Lexa menunjuk Tika maksud nya menanyakan nama nya.
"Tika Dok." Sebut Tika sambil mengangguk kan kepala sekali memberi hormat.
"Ouh iya Tika, kebetulan yang sangat pas yah, saya baru aja datang juga loh, ayo langsung ke ruangan saya." Ajak Dokter Lexa.
Di ruangan dokter Lexa.
"Asisten nya kemana dok?." Tanya Bang Idan.
"Belum datang, tadi ijin datang terlambat, anak nya sakit, jadi sedikit rewel kata nya." Jelas Dokter Lexa.
"Dok? Mengasuh anak tuh susah ngga sih?." Tanya Tika tiba-tiba.
"Mengasuh yah? Ya susah-susab gampang lah, kalo udah berani membuat dan melahir kan maka harus tanggung jawab dengan cara mengasuh, iya kan?." Kata Dokter Lexa.
"Hehehe... dokter bener banget." Sahut Tika cepat.
"Ngga susah-susah amat kok Tika, kalo susah nya itu cuma kalo lagi sakit, rewel nya minta ampun dan ngga bisa di tinggal." Detail Dokter menjelas kan.
"Bisa di tinggak kalo udah tidur, bener ngga sih Dok?." Tanya Bang Idan.
"Iya, Bang Idan bener banget." Balas Dokter.
Suasana ruangan hening beberapa saat, sebelum Tika melayang kan pertanyaan lagi.
"Dok? Kalo melahir kan... sakit banget kah?." Tanya nya.
Dokter diam dan sesaat menghenti kan aktivitas nya mempersiap kan alat-alat untuk USG.
"Kalo menurut Tika sendiri gimana?." Tanya balik Dokter.
"Sakit." Singkat Tika menjawab.
"Kita bisa lakukan melahir kan secara-." Ucapan Bang Idan tak berlanjut karena Tika memotong.
"Aku mau melahir kan normal dok, pengen ngerasa in sakit mya seorang Ibu berjuang yang sesungguh nya." Tegas Tika.
"Semua itu tergantung dari kondisi fisik sang Ibu, sudah pernah dengar dan tau dong tentang resiko hamil di usia muda." Ujar dokter Lexa.
"Hmm... sudab dok." Angguk Tika dan Bang Idan bersamaan.
"Ayo rebah kan tubuh kamu di sini Tika." Perintah dokter.
"Beberapa hari yang lalu Bang Rafa sama Raina datang, usia kehamilan Raina sudah 2 minggu lama nya, dan saya berharao semoga yang ini berjarak, karena kalo bersamaan, bisa-bisa lahiran massal di rumah sakit ini." Kelakar Dokter Lexa.
"Saya berharap jarak nya juga lumayan jauh dok." Sahut Bang Idan.
"Bismillah, saya mulai yah." Kata dokter.
"Iya dok silah kan." Jawab Bang Idan.
Gaun Tika di naik kan ke atas lalu perut nya di oleh dengan jel, lalu dokter mulai mencari-cari janin di dalam rahim Tika.
"Usia Baby nyaa... 5 minggu, beberapa anggota tubuh sudah mulai terbentuk, dan jantung nya sudah mulai berdetak, tapi maaf maish sulit mendeteksi nya." Jelas Dokter mendetail.
Beberapa menit berlalu, pemeriksaan pun selesai.
"Dok? Isyri saya kalo pagi muntah-muntah, apa ngga ada obat nya dok?." Tanya Bang Idan.
"Obat? Kalo untuk memghenti kan ngga bisa Bang, tapi kalo untuk meredekan nya ada." Terang dokter.
"Ngga bisa hilang kah dok?." Tanya Bang Idan.
"Itu emang bawa an wanita hamil Bang, nama nya morning sickness, biasa terjadi di three semester awal, kalo sudah 4 bulan sampai 9 bulan, sesekali ada tapi tak sesering three semester awal." Papar Dokter Lexa.
"Hmmm... ya sudah lah, resep kan obat pereda mual itu aja deh dok." Putus Bang Idan akhir nya.
Dokter mengangguk kan kepala meng iya kan.
"Di jaga pola makan nya ya Tika, walau pun kamu ngga berselera makan, kamu harus tetap makan, soal nya sekarang bukan hanya kamu yang butuh nutrisi, Baby nya juga butuh, pake banget." Jelas Dokter Lexa dengan di selingi candaan.
"Iya dok pasti." Jawab Tika.
"Nih obat yang saya resep kan, setiap satu bulan sekali rutin deh datang kemari bareng aja sama Zarine, Akifa, Alfi, Raina, kita akan melakukan pemeriksaan, tapi untuk USG tidak boleh di lakukan sering-sering, nanti jika usia Baby nya sudah sekitar 4, 5, 6 an kita lakukan lagi." Jelas Dokter panjang banget bak kereta api😂.
Bang Idan Tika setelah itu pamit dan berjalan ke tempat apotik rumah sakit, sesudah menebus obat, mereka langsung meluncur meninggal kan gedung rumah sakit.
Melaju kan mobil ke arah kantor Bang Idan.
Di dalam mobil Tika melamun, mata nya memandang jalan di depan dengan pandangan kosong, Bang Idan yang berusaha mengajak nya bicara tak ia hirau kan.
"Yang?!." Panggil Bang Idan dengan menyikut lengan Tika pelan.
"Hm?." Spontan Tika menoleh kan wajah nya ka arah Bang Idan.
"Iya? Ada apa Yang? Udah sampe kah?." Tanya Tika.
"Kamu kenapa?." Tanya balik Bang Idan.
Mobil Bang Idan berhenti karena lampu sedang berwara merah.
"Aku ngga papa." Singkat Tika menjawab sambil menunjuk kan senyum manis nya.
"Kamu nyesel kah udah mengandung anak ku?." Tanya Bang idan dengan nada suara yang datar.
"Kamu ngomong apa an sih?! Ngaco tau ngga!." Nada tak suka keluar dari jawaban Tika, dia menatap sang suami di sebelah nya yang tengah mengendali kan kemudi dengan tatapan datar nya.
"Terus kenapa kamu diem aja? Ngelamun gitu." Lembut Bang Idan bertanya.
"Aku... takut aja." Jawab Tika dengan suara lirih.
"Takut kenapa sih Yang?." Tanya Bang Idan lagi.
Mobil telah melaju kembali membelah jalanan yang sedikit lenggang karena ini memang masih jam kerja.
"Apa aku bisa jadi Ibu yang baik nanti? Apa aku mampu mendidik dan merawat nya? Kalo aku gagal gimana? Terus kamu-."
"Huttttsss!!." Seru Bang Idan menghenti kan perkataan Tika yang belum ia selesai kan itu.
"Jangan mikir aneh-aneh, kamu kan ngga sendiri an, ada aku di samping kamu, kita bakal merawat, mendidik, dan menjaga nya bersama." Bang Idan memberi angin segar pada Tika.
"Aku ngga akan biarin kamu susah sendiri Yang, kita akan akan bersama-sama liat Baby tumbah dan berkembang, aku ngga mau melewat kan nya walau cuma satu peristiwa aja." Sambung Bang Idan lagi.
__ADS_1
"Hm... aku percaya sama kamu." Kata Tika sambil menaut kan tangan kanan nya pada tangan kiri Bang Idan, jari saling menggenggam erat seakan tak kan pernah terlepas walau sesaat.
Beberapa menit kemudian, Bang Idan Tika telah sampai di kantor, mereka masih ada di parkiran.
"Yang? Kamu naik dulu aja deh ke ruangan, aku mau jalan-jalan liat-liat kantor kamu." Pinta Tika.
"Aku suruh anak-anak temenin kamu dulu." Ucap Bang Idan.
"Ngga usah! Aku mau jalan-jalan sendiri!." Tegas Tika.
Dengan perasaan terpaksa, Bang Idan pun menyetujui nya.
Bang Rafa dan Tika berpisah di lift, seluruh karyawan yang ada di lobby hanya melihat saja tak peduli, selagi Pak Boss mereka sendiri yang membawa Tika masuk kantor maka mereka tak kan mengusik wanita itu.
Apa lagi sang respsionis tau siapa wanita yang bersama Bang Idan atasan nya ini, Bang Idan memperingat kan bahwa jangan sampai ada yang menyebar kan nya, jika saat nya nanti dia sendiri yang akan mengatakan pada karyawan nya di kantor ini.
Tika menyusuri ruang tiap ruang di kantor sang suami tercinta nya ini.
"Kalo mausk ke gedung ini jadi inget si Gisell, hahaha... gimana yah kabar nya dia? Semoga sehat dan selalu bahagia deh." Doa Tika.
Lama dia berjalan menyapa di sapa oleh para karyawan dan tak sekali dua kali juga dia di tanya 'Sedang apa di sini Dek?' dan jawaban Tika ialah 'Hehehe lagi main aja Kak' Setelah mengtakan itu Tika buru-buru pergi agar tak di tanya lagi.
Tentu saja para karyawan menatap nya aneh, tapi tak berani menegur karena beberapa orang mengatakan 'Dia di bawa oleh Tuan Zaidan, biar kan saja di sini, dia tak akan mengganggu' begitu kalimat panjang nya.
Lalu penjelajahan kantor Bang Idan terakhir adalah pantry, Tika hendak masuk ke sana, tapi tak jadi karena mendengar para karyawan bergosip tentang nya dan Bang Idan.
"Pak Zaidan tadi Gua liat bawa cewek loh." Kata karyawan 1.
"Temen nya kali." Sahut satu nya lagi.
"Pak Zaidan mana ada temen cewek sih? Kan biasa nya cuma Pak Rafa aja yang hobi nya ke sini jengukin beliau." Cetus satu nya lagi ikut berbicara.
"Pacar nya mungkin, udah lah biarin aja beliau mau bawa siapa aja jangan kepo, ngga baik tau." Nasihat karyawan yang memakai jilbab.
"Tapi masalah nya, cewek nya tuh kaya masih duduk di bangku SMA gitu." Seru karyawan di sebelah wanita berjilbab tadi.
"Masa sih? Simpenan nya kali, Lo kan tau anak-anak SMA cewek jaman sekarang suka jual diri cuma demi uang dan hidup enak tanpa susah payah, cuma modal body, wajah, ama rayuan dapet deh duit." Cetus salah satu dari mereka lagi.
"Yang utama ngga Lo sebutin?." Tanya teman nya.
"Ouh iya, modal ngangkang juga jangan lupa." Sahut nya cepat dan mereka tertawa kecuali wanita berjilbab.
"Ngga semua kaya gitu, ya siapa tau cewek tadi emang pacar nya Pak Zaidan? Udah jangan kepo, atau nanti kalian rugi sendiri, ghibah tuh ngga baik, udah pada stop ghibah!." Tegas wanita berjilbab.
"Halah... selama Pa Boss dan cewek yang kita ghibahin ngga tau, kita bebas ngomongin?" Acuh teman wanita berjilbab.
4 wanita dari 5 wanita yang ada di pantry ini memghibahi Bang Idan dan Tika.
1 wanita saja yang ngga ikut menghibah, ia adalah wanita berjilbab, dia malah berusaha menghenti kan teman-teman nya ghibah tapi tak di respon.
Tanpa mereka sadari Tika berdiri di pintu masuk di belakang mereka dengan tangan di lipat kebelakang, dan tanpa Tika sadari juga, Bang Idan ikut berdiri di belakang nya.
"Mereka udah keterlaluan." Gumam Tika, Bang Idan yang mendengar nya hanya diam sambil menyungging kan senyum nya, dia tak berniat turun tangan karena ingin melihat sejauh apa isyri nya ini marah.
Lama mendengar kan ocehan 4 wanita ini, Tika berinisiatif memghenti kan, Bang Idan yang menyadari gelagat Tika yang sudah ingin beraksi memilih bersembunyi.
"Seru nih, hahaha... maaf Yang, nanti kalo udah di situasi yang genting banget, baru aku bakal turun tangan sendiri." Ucap Bang Idan lirih.
"Ehem!." Suara deheman Tika membuat 5 wanita di sana diam tak bersuara lagi.
Mereka kompak menoleh ke arah belakang lalu mata nya melotot dengan sempurna.
"Apa kalian di sini hanya untuk bergosip?." Dingin Tika bertanya.
"Apa urusan nya dengan mu? Ngapain juga sih anak bayi ada di sini?." Tanya salah satu wanita yang ghibahin Tika.
"Anak bayi? Wah makasih loh, berarti wajah aku ngga bosenin dan bikin orang selalu kengan, makasih loh Te." Ucap Tika dengan senyum manis nya.
"Jangan terlalu percaya diri." Sinis teman satu nya menjawab.
"Tante! Kalo kerja jangan ghibah, kalo tau Pak Zaidan tau bisa-bisa gaji nya di potong loh." Tika menakut-nakuti.
"Tante Tante, kita belum setua itu yah!." Sungut salah satu dari mereka.
"Masa sih? Tapi di wajah kalian penuh garis penuaan loh, apa lagi dengan make up tebal bak ondel-ondel itu, makin tampak tua nya, hahaha... ." Tawa Tika pecah.
Byur!!.
Tiba-tiba seorang wanita di antara mereka mengguyur kepala Tika dengan air mineral.
"Yang?!." Pekik Bang Idan keras.
Secepat kilat Bang Idan menghampiri Tika dan melepas jas nya dan memakai kan nya pada badan Tika.
"P... Pak Zaidan?!." Gelagapan 5 karyawan wanita ini menyebut nama atasan nya itu.
Tatapan mata tajam Bang Idan mengintimidasi 5 karyawan nya itu.
Dia melihat ke ID Card yang menggantung di leher mereka, Bang Idan mengingat tempat mereka bertugas.
'Devisi keuangan.' Batin Bang Idan berucap.
"Kembali ke ruangan kalian sekarang!." Tegas Bang Idan.
Dan dengan langkah cepat mereka kembali ke ruangan.
Pantry sepi, para OB sedang sibuk hari ini, hingga pantry kosong tak ada orang sama sekali.
"Kita pulang sekarang." Dingin suami Tika berucap.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.