
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Hihi... maaf-maaf, udah dari pada kita ngga jelas gini, mending kita tidur aja, para pria di sana, kita para wanita di sini." Pembagian wilayah telah di atur sedemikian rupa oleh Kristal yang di angguki pasrah oleh para pria.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Ke esok kan hari nya.
Pukul 08.00 di teras rumah Daddy Rafka dan Mommy Za.
~Catatan Author: Maaf mencerita kan satu hari sampe beberapa episode, asli beberapa hari ini Author sibuk, bantu Mamak buat lontong😂, melayani saudara-saudara yang datang😣, terus bantu in Kakak ku bungkusin krupuk nya buat di jual, inti nya sibuk banget deh, maaf kalo satu hari sampe beberapa episode, aku udah usahain buat pagi-pagi udah ngetik tetep aja ngga bisa, sibuk cuy😩 maaf yah sekali lagi🙏😭.~
Back to story.
Di sana 7 serangkai tengah duduk di teras dengan di dampingi sepiring nastar dan teh hangat buatan Mommy Za tentu saja.
Sebener nya yang duduk di teras bukan 7 serangkai, melain kan hanya 5 orang, karena Agnez dan Angkasa sibuk bersepeda.
Angkasa mengajari Agnez bersepeda untuk menghilang kan semua kenangan di masa lalu nya yang selalu di bully lantaran tak bisa menaiki kendaraan roda dua itu.
Halaman rumah Daddy Rafka dan Mommy Za kan luas, jadi Agnez tak pelu keluar rumah untuk belajar sepeda, di halaman rumah saja sudah cukup.
"Guys?! Kita ngemall yuk siang ini! Kangen nih borong diskon di toko-toko." Ajak Wulan antusias.
"Wah boleh tuh Mbak!." Sahut Agnez tanpa menatap Wulan, mata nya fokus menatap jalan nya sepeda yang ia coba kendali kan itu.
"Aku sih setuju aja, tapi kita mau borong apa di mall?." Tanya Kristal yang mulut penuh dengan nastar.
"Abisin dulu yang di mulut itu Kris! Jorok kamu ah!." Seru Damar mengingat kan.
Dengan cepat Kristal menelan semua nastar yang ada di dalam mulut nya dan kembali berbicara.
"Kita beli apa di sana? Kalo di sana ngga ada tujuan mending rebahan aja di rumah." Kata Kristal malas.
"Kita keliling-keliling aja deh." Timpal Wulan memberi ide.
"Tuh kan ngga ada tujuan, mending di lurusin dulu kita mau beli apa biar di mall ngga bingung." Kembali Kristal berucap.
Para pria tak ada yang menjawab, mereka lebih memilih diam mendengar kan saja.
Tiba-tiba saat Wulan hendak membuka suara kembali, ada suara benda di lempar terdengar nyaring di iringi dengan teriak kan yang tak kalah nyaring.
"Udah! Agnez nyerah ndak mau belajar! Agnez ndak bisa naik kendaraan ini, mending aku mlaku wae to! Ben wes meski sikil ku pegel lan linu-linu sing penting dengkul ku ora babras mergo sepeda kui." Agnez mengomel dengan mengguna kan bahasa Jawa nya yang kental, dan membuat Angkasa juga lain mengerut kan dahi nya bingung arti dari perkataan Agnez.
Agnez mengomel dengan berjalan meninggal kan sepeda nya dan Angkasa, duduk di sebelah Wulan dengan muka jengkel alis menyatu bak angry bird.
Pamungkas yang Bunda nya dari Jawa saja ngga tau apa arti yang di omongin Agnez tadi, semua orang menatap Agnez bingung.
Agnez yang sadar situasi nya yang hening, dia menoleh ke kanan dan ke kiri menatap Angkasa, Kristal, Damar Wulan, Albhi dan Pamungkas bergantian.
"Loh?! Lah kok podo nguasno aku iki ono opo to?!." Tanya heran Agnez dengan pandangan polos nya.
"Nes? Kamu ngomong apa sih? Kita ngga paham, kenapa kamu tadi marah-marah sampe melempar sepeda?." Tanya Wulan dengan pelan dan lemah lembut.
'Khemmmm huufffhhh... .' Helaan nafas penenang untuk diri sendiri keluar dari hidung Agnez.
"Aku ndak marah-marah sama siapa-siapa di sini, aku iki kesel karo sepeda kui loh Mbak! sepeda e ndak bisa di ajak kompromi! Males ah aku ndak mau belajar lagi, aku lebih baik jalan aja dari sini ke rumah dari pada harus naik roda dua itu, nyusahin!." Seru Agnez yang masih berbicara bahasa Jawa.
"Ngomong pake bahasa Indo ya sayang, kita ngga ada yang paham." Pinta Angkasa dengan berjalan ke arah Agnez dan duduk di sebelah nya.
"Iya iya, maaf Mbak, Mas ngomel ndak jelas pake bahasa Jawa, aku ndak jengkel sama siapa-siapa kok, cuma jengkel ama sepeda itu, aku ndak mau belajar lagi, mendingan aku jalan kaki aja dari pada naik roda dua itu, nyusahin, Agnez ndak bisa, Agnez nyerah!." Jelas Agnez panjang.
"Ouh... gitu to, aku pikir kamu ngomel apa tadi ada kata nguasno apa itu Nez?." Tanya Wulan di iringi wajah penuh penasaran semua orang.
"Nguasno itu bahasa Indo nya melihat Mbak." Jelas Agnez dengan di akhiri cengiran bak orang tanpa soda, eh dosa maksdu Author tuh😂 mangap salah, eh maaf salah😂.
"Lagian belajar sepeda roda dua itu ndak wajib kan Mbak? Jadi meski pun Agnez ndak bisa ndak papa kan?." Tanya Agnez pada Wulan dan Kristal.
"Ya ngga wajib sih emang, tapi kalo bisa itu ngenakin kamu nya juga, jadi ngga capek kalo kemana-mana dan ngga bisa naik motor." Lembut Angkasa menasihati.
Bukan Wulan atau Kristal yang menjawab, malah Angkasa yang bersuara.
"Udah ah Agnez tetep ndak mau belajar, tapi buat Mas Angkasa makasih yah udah mau ngajarin Agnez dengan suabar pake buanget, makasih banyak-banyak loh, hihi." Ucap tulus terlontar dengan lancar dari bibir manis Agnez di iringi dengan peluk kan hangat Agnez dari samping untuk Angkasa.
Cowok tampan anak dari Mama Tika dan Papa Zaidan itu menegang terkejut mendapat peluk kan tiba-tiba dari Agnez tanpa dia minta atau paksa.
Saking terkejut nya, Angkasa sampe menegang di tempat dan memandang Agnez dengan pandangan teduh.
Kristal, Damar Wulan, Albhi, juga Pamungkas saling pandang kemudian tertawa pelan.
"Si Angkasa salah tingkah di peluk mendadak sama Agnez." Kata Pamungkas.
"Hahaha... maklum aja, Agnez kan hampir ngga pernah nyentuh Angkasa secara berlebihan kaya gini contoh nya." Cetus Damar menimpali.
"Udah ah ayo selesai in drama mereka, kita siap-siap ke mall." Ujar Kristal masih dengan sisa-sisa tawa nya.
"Nez? Ayo siap-siap ke mall." Ajak Wulan yang langsung Agnez angguki.
"Angkas? Tolong sepeda nya taruh di garasi yah." Pinta Damar yang juga di angguki langsung Angkasa.
Agnez melepas peluk kan nya dan masuk ke dalam mengikuti Wulan dan Kristal untuk bersiap ke mall.
Sedang kan Angkasa masih seperti orang linglung memasuk kan sepeda ke garasi.
"Gila! Si Angkasa kaya orang linglung gitu cuma karena di peluk ama Agnez secara mendadak." Tutur Pamungkas sambil terkekeh geli sendiri.
"Ya maklum aja lah, Agnez meluk nya dadak kan, siapa coba yang ngga kaget, aku yakin kita semua bakal kaya Angkasa kalo di gitu in sama cewek yang kita suka." Panjang Damar berucap dengan melangkah ke dalam rumah.
Pamungkas dan Albhi mengikuti dengan di tangan nya membawa piring bekas camilan dan nampan berisi gelas bekas teh mereka.
Di dalam rumah, tepat nya di ruang santai.
"Kalian mau ke mall yah?." Tanya Mommy Za menatap 3 pria tampan yang sedang berjalan ini.
Damar kemudian duduk di sofa dekat Mommy nya sedang kan Pamungkas dan Albhi ke dapur menaruh piring dan nampan di dekat cucian piring.
"Iya Momm, kita mau ke mall Adek yang ngajak." Jawab Damar jujur.
Mommy Za dan para tetuah lain nya mengangguk kan kepala nya paham.
"Damar? Angkasa mana?." Tanya Mama Tika celinguk kan mencari anak nya.
Damar, Albhi, dan Pamungkas yang baru datang dari arah dapur terkekeh pelan mendengar pertanyaan Mama Tika.
"Kenapa tertawa?." Tanya Papa Zaidan heran melihat 3 pria itu.
"Angkasa lagi masukin sepeda ke bagasi Ma." Jawab Pamungkas menjawab pertanyaan Mama Tika.
__ADS_1
"Kita ketawa karena tadi Angkasa di peluk sama Agnez secara mendadak eskpresi nya kaget gitu kaya orang linglung, geli banget kita liat nya Pa, hahaha... ." Tawa Damar sambil menjelas kan secara singkat.
Setelah perkataan Damar selesai, Angkasa masuk ke ruang santai dengan pandangan mata masih seperti orang linglung, tapi kini bertambah dengan senyum manis nya.
Persis sudah, seperti orang gila, hahaha... .
"Liat tuh Ma, dia linglung kaya orang gila." Bisik Damar di telinga Mama Tika.
"Hus! Ngga baik bilang gitu." Tegur Mama Tika.
"Angkasa?!." Sapa Mama Tika pada anak nya itu dengan sedikit meninggi kan suara nya agar Angkasa sadar dari linglung nya.
Angkasa tersentak dan menatap sang Mama dengan cengiran bak orang tanpa dosa.
"Ada apa Ma?." Tanya Angkasa, dia berjalan dan duduk di karpet tepat di kaki sang Ibunda.
"Nanti di mall jagain Agnez, kamu tau sendiri kan, dia masih belum tau kawasan mall pasti nya, jangan lepas pandangan." Pesan Mama Tika panjang.
"Iya Ma Angkasa bakal jagain, Mama tenang aja percaya sama Angkasa." Balas Angkasa penuh keyakinan.
Dari arah tanggal 3 gadis muncul dengan penampilan casual dan sangat manis.
Semua orang di ruang santai menatap nya tanpa kedip, mereka tampak sangat cantik.
"Cus berangkat." Ajak para gadis itu.
"Ngga usah deh." Cetus Damar acuh.
"Kita belum siap-siap." Ringan Angkasa berucap.
"Ngapain aja tadi?! Kenapa ngga siap-siap?!." Pekik Kristal jengkel.
"Ngga ada tunda atau ngga jadi! Ayo berangkat! Siap-siap sana!." Suruh Wulan tak menerima bantahan.
"Udah sana jangan di batalin mulu main nya, kasian juga tau anak-anak Mami nih." Suruh Mami Alfi pada anak-anak bujang nya ini.
Dengan berat hati 4 pria tampan itu berdiri dari duduk nya dan menuju kamar untuk bersiap.
'Kenapa coba mereka ber tiga cantik banget?! Kagak ikhlas Gua kalo mereka di liatin orang banyak di mall nanti, haisshh! Tau gitu Gua nolak tadi pas di ajak ke mall, hah! Au ah gelap!.' Dengus 3 pria yaitu, Angkasa, Damar, dan Albhi di dalam hati nya.
Kenapa Pamungkas tak ikut membatin? Ya simple aja jawaban nya, cewek nya Pamungkas kan ngga ada di sana, hahaha... kasian kamu Pamungkas.
Beberapa menit kemudian, para pria sudah siap.
Mereka turun tangga dengan berbagai ekspresi, ekspresi paling menyedih kan adalah punya Pamungkas tentu saja.
Bunda Raina tau akar kesedihan anak semata wayang nya itu.
Beliau pun tersenyum kemudian mengangkat suara nya.
"Ada yang punya nomer nya Kak Rain?." Tanya Bunda Rain dengan senyum manis nya.
Se akan mendapat nyawa nya kembali, Pamungkas tersenyum se cerah mentari pagi yang baru terbit.
"Kenapa ngga kepikiran mau telpon sih!." Kata Pamungkas pada diri nya sendiri.
"Cepet telpon kalo gitu, biar kamu ngga ngenes di mall nanti, kita gandengan kamu nontonin, kasian." Ejek Angkasa yang tak ada habis nya.
"Iya ini aku telpon." Jawab Pamungkas berkutat dengan ponsel nya mencari nomor telpon atas nama Kak Rain.
Panggilan tersambung.
Pamungkas sengaja mengeras kan volume suara agar semua orang mendengar nya.
'Tutttt... tut... tut... .' Suara telpon tersambung.
"Bunda? Nanti bantu in Pamungkas bujuk Kak Rain biar ikut yah?." Pinta Pamungkas, di mata nya sangat kental terlihat pria tampan itu tengah memohon pada sang Ibunda.
"Iya-iya Bunda pasti bantu in." Kata Bunda Raina dengan senyum geli nya.
Tentu saja pancaran kebahagiaan dan keceriaan muncul di wajah Pamungkas.
Setelah menunggu 3 menit panggilan Pamungkas pun terjawab.
"Halo Kak Rai, wa'allaikum sallam, ini Pamungkas Kak." Balas Pamungkas di iringi senyum bahagia nya.
"Ouh hai Pamungkas, ada apa? Maaf ngga kenalin suara kamu." Kata Kak Rain lebih ramah lagi.
"Hehehe ngga papa kok Kak, emmm... itu Kak, Pamungkas telpon mau ngajakin Kakak main ke mall, mau ngga?." Ajak Pamungkas, lebih tepat nya bertanya.
"Ouh ke mall, sa-." Belum selesai Kak Rain bersuara mengutara kan isi hati nya, Pamungkas sudah mencela nya.
"Pamungkas ngga ngajakin Kak Rain pergi berdua kok, ada Damar Wulan sama lain nya juga, bahkan ada Agnez nih." Kata Pamungkas cepat.
Di seberang sana Kak Rain terkekeh pelan mendengar jawaban cepat Pamungkas.
Dalam hari Kak Rain berucap, 'Nih berondong lucu banget sih.'
"Mau kan Kak Rain?." Tanya Pamungkas yang merasa tak tenang karena mendengar kekehan Kak Rain.
"Di mall mana?." Tanya balik Kak Rain.
"Di mall xxx." Sebut Pamungkas semangat.
"Ok deh Kakak mau, udah lama juga nih ngga jalan-jalan keliling mall, kita ketemuan di sana langsung aja, di Cafe atau di tempat parkir kamu aja tentu in Pamungkas." Kata Kak Rain panjang.
"Kak? Kalo tunggu-tunggu an tuh ngga enak, mending Kakak kasih tau alamat rumah Kakak aja biar kita jemput berangkat bareng nanti pulang nya juga bareng." Papar Pamungkas mengutara kan ide nya.
"Ngga usah di Pamungkas, kita ketemuan nya di mall nya aja langsung bawa kendaraan masing-masing." Tolak Kak Rain secara halus.
Pamungkas menatap sang Ibunda meminta bantuan.
Sedari tadi, Pamungkas berbicara pada Kak Rain di saksi kan banyak orang memang.
Bunda Raina yang paham tatapan meminta bantuan dari sang anak, beliau langsung turun tangan.
"Kak Rain?." Panggil Bunda Raina dengan suara lembut.
"Bu... Bunda?." Panggil balik Kak Rain.
"Iya ini Bunda, mending nurut aja sama Pamungkas, kasih aja alamat kamu ke Pamungkas biar nanti dia jemput kamu." Tutur Bunda penuh kelembutan.
"Tapi Bun-." Belum selesai Kak Rain berucap, suara nya kembali di potong.
"Ngga ada tapi-tapi an Nak, udah kasih aja." Cetus Bunda sedikit memaksa.
"Iya deh Bun, alamat rumah Rain ada di jalan xxx rumah paling ujung cat hijau putih pagar hitam, Rain tunggu Pamungkas ama yang lain di teras depan rumah." Jelas Kak Rain menjelas kan ciri-ciri rumah nya.
"Iya deh, makasih Kak alamat nya, kita bakal jemput, kita tutup dulu ya Kak, assallammu'allaikum." Bukan suara Pamungkas atau Bunda, tapi itu suara Wulan, tanpa mau mendengar jawaban dari seberang telpon, Wulan memati kan panggilan nya.
"Dah! Ayo berangkat." Ajak Wulan, sebelum pergi dia mencium punggung tangan oara tetuah di ikuti Kristal dan Agnez, langkah dengan jangka pendek itu keluar dari ruang santai setelah mengucap salam.
Semua orang menatap 3 gadis itu dengan gelengan kepala.
"Haduhhhhh ngga sabaran banget mereka buat ke mall nya." Kata Albhi jengah.
Tapi meski begitu 4 pria itu mengikuti langkah para gadis itu.
Tak lupa mereka mencium punggung tangan para tetuah berpamitan mengucap salam.
Dan para tetuah menjawab salam dengan kompak.
7 serangkai ke mall tentu saja mengguna kan mobil milik Damar dengan Pamungkas sebagai supir nya.
Di dalam mobil begitu tenang suasana nya di iringi dengan lagu yang di bawa kan oleh salah satu artis Indonesia yang bernama Anji.
'🎶Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
__ADS_1
Semua itu karena dia
Oh Tuhan, kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya
Untuk dia... .🎶'
Pamungkas sebagai supir mengikuti alunan lagu itu dengan tenang dan tersenyum sendiri bak orang gila.
Mungkin karena mau bertemu Kak Rain maka nya Pamungkas seneng nya bukan main.
Tadi si Angkasa yang kaya orang gila, sekarang Pamungkas, hadehhh emang macem nya orang lagi kasmaran tuh beda-beda reaksi nya.
Mobil yang di bawa Pamungkas melesat masuk ke jalan rumah Kak Rain.
"Apa tadi ciri-ciri rumah nya? Aku lupa nih." Kata Pamungkas dengan mata nya celinguk kam mencari rumah Kak Rain.
"Jalan xxx rumah paling ujung chat hijau putih pagar hitam, kita coba jalan ke ujung sana aja." Ujar Wulan menunjuk jalan ujung depan mobil yang ia tumpangi.
Pamungkas menurut dan menjalan kan mobil nya ke arah yang di tunjuk Wulan sang sepupu.
Tak lama menjalan kan mobil yang 7 serangkai tumpangi, mereka menemu kan rumah yang seperti ciri-ciri yang di sebut kan oleh Wulan tadi.
Semua orang keluar dari dalam mobil.
"Ini bener rumah nya kan?." Tanya Pamungkas dengan kepala nya celingak-celinguk mencari sang empu rumah.
"Kaya sih bener, pintu nya ke buka tuh, kita teriak aja dari sini." Balas Wulan yang di angguki lain nya.
Tapi... saat akan teriak memanggil Kak Rain, sang empu rumah keluar.
"Kak Rain?!." Pekik Wulan dan Kristal heboh dan antusias.
Agnez hanya tersenyum manis sambil menangguk kan kepala berarti menyapa.
"Assallammu'allaikum." Sapa 7 serangkai kompak.
"Wa'allaikum sallam, ayo masuk duduk dulu ngobrol dulu." Ajak Kak Rain, dia berlari kecil dan tangan mungil nya aktif membuka kunci gerbang rumah nya.
Dan semua kegiatan Kak Rain itu tak luput dari penglihatan teduh Pamungkas.
Mata pria tampan anak dari Bunda Raina itu menatap Kak Rain penuh dengan binar bahagia.
Setelah gerbanh terbuka, Kak Rain menyuruh 7 serangkai masuk ke dalam rumah nya.
Di dalam rumah, tepat nya tuang tamu.
"Wih di sini adem banget yah hawa nya, ndak perlu kipas angin atau AC, adem, sejuk aja gitu." Cetus Agnez mengutara kan perasaan nya saat memasuki rumah Kak Rain.
"Hahaha... Agnez ada-ada aja, terima kasih loh tapi sama penilaian nya, ayo semua nya duduk, maaf tapi yah ngga ada sofa nya, sengaja ngga pake sofa emang sih, enak kan gini lesehan, ngga papa kan?." Kata Kak Rain dengan perasaan tak enak hati.
"Ngga papa Kak, santai aja kali, kita juga lesehan gini malah seneng." Jawab Kristal di angguki oleh lain nya.
"Ouh kalian mau minum apa?." Tanya Kak Rain.
"Ngga usah deh Kak, kita langsung aja berangkat ke mall nya, males kalo siang-siang." Cetus Wulan menolak halus.
"Ouh mau langsung? Bentar yah, Kakak mau ambil tas sama HP dulu di kamar." Pamit Kak Rain sopan yang di iya kan oleh 7 serangkai.
Sedari tadi 7 orang yang terlibat pembicaraan dari 8 orang, ada 1 orang yang ngga memperhati kan ucapan orang lain malah fokus pada Kak Rain.
Siapa dia? Siapa lagi kalo bukan Pamungkas.
Pemuda itu masih saja bertingkah bak orang linglung.
Sampai... .
'Buk!.'
Tabok kan keras dari Damar di paha Pamungkas membuat anak Bunda Raina itu sadar.
"Apa an sih kamu Mar?! Sakit tau!." Pekik Pamungkas jengkel.
"Jangan kaya orang bodoh deh ekspresi nya! Bisa illfeel nanti Kak Rain liat kamu yang kaya orang linglung gitu!." Nasihat Damar yang masuk logika nya.
"Iya aku ngga ngelamun lagi, singkirin tangan kamu! Risih aku rasa nya!." Seru Pamungkas sambil menepis kasar tangan Damar dari paha nya.
Lama menunggu Kak Rain yang di tunggu pun muncul sambil membawa nampan berisi air putih sebanyak 7 gelas.
"Nah minum dulu, kalian pasti haus, maaf yah cuma air putih tadi aku tawarin mau apa kalian nolak." Ujar Kak Rain dengan senyum ramah nya.
"Ngga usah repot Kak, kita juga mesti air putih ngga papa, malah segeran kalo minum ini." Jawab Wulan dengan tangan nya meraih segelas air di ikuti oleh lain nya.
7 serangkai meminum air putih itu sampai habis tak tersisa.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Pamungkas.
Dia menaruh gelas kembali di atas nampan, begitu pun dengan lain nya.
"Ayo kalo gitu Kak kita berangkat, terima kasih air nya." Ucap Wulan tulus mewakili lain nya.
"Sama-sama, kalian tunggu di sini bentar, Kakak mau kembali in ini ke dapur." Kak Rain kembali pamit ke dapur nya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.