
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Kita ngga bolos kok Momm kita emang dipulangin cepat karena ada rapat dadakan disekolah." Jawab jujur Wulan di iringi senyuman serta angguk kan dari 2 gadis lain nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Para tetuah menatap jam yang menempel di dinding. Di sana menunjuk kan pukul 10.10 pagi menjelang siang.
"Dah sana masuk ke dalam kamar masing-masing, ganti baju terus nyusul lagi ke sini!." Perintah Mommy Za pada anak-anak nya ini.
7 serangkai mengangguk kan kepala nya dan kemudian mereka pergi dari ruang santai yang tengah banyak orang itu.
Sepeninggalan 7 serangkai.
"Kalo liat anak-anak pada pulang sekolah cepet gini jadi inget dulu pas masih sekolah." Kata Mommy Za sambil terkekeh pelan.
"Hahahaha... iya, dulu kita semua sering banget pulang sekolah awal gini." Timbal Mama Akifa.
"Dulu kita kalo pulang sekolah awal kagak langsung pulang tapi masih main dulu ke mana-mana." Cetus Mama Tika ikut berbicara.
"Hahahaha... indah nya masa-masa sekolah kita dulu." Ucap Mami Alfi mengingat masa lalu.
"Indah banget lah!." Ucap Papi Abhi sambil memeluk istri nya dari belakang.
Suami-suami lain nya pun sama, mereka memeluk istri nya masing-masing, para pelayan yang melihat nya tersenyum bahagia.
Beberapa menit kemudian 7 serangkai turun dari lantai 2, melihat pemandangan para tetuah berpeluk kan seperti itu membuat mereka ikut tersenyum bahagia.
"Wah wah wah... peluk-peluk kan nih, ajak dong... ." Kata Kristal menganggu.
"Ya sini sini kalo gitu mari kita berpeluk kan seperti Teletubbies." Ajak Mama Akifa pada 7 serangkai.
Para tetuah pun merentang kan tangan nya menyambut peluk kan dari 7 serangkai.
Dengan segala rasa bahagia mereka berpeluk kan sangat erat satu sama lain, sampai... .
"Waduh? Apa nih? Hahaha... baru di tinggal kebelakang udah peluk kan aja." Cetus Kak Rain yang baru hadir di ruang santai, dia dari dapur tadi.
"Sini Kak Rain peluk kan sama Bunda Ayah." Ajak Bunda Raina lembut.
Tanpa di ajak 2 kali lagi, Kak Rain nimbrung ikut memeluk Bunda Raina.
2 menit kemudian.
"Dah! Berenti peluk kan ayo segera selesai kan semua pekerjaan ini." Celutuk Mama Tika merenggang kan peluk kan nya di ikuti yang lain nya juga.
Semua orang saling gotong royong dalam melaksana kan pekerjaan memasak untuk tasyakuran nanti pukul 15.30 sore.
Memepersiap kan segela keperluan untuk tasyakuran ternyata sangat banyak, tak seperti yang di bayang kan Agnez, gadis itu pikir yang nama nya tasyakuran tinggal gelar karpet terus doa habis itu makan, ternyata engga, dia sampai beberapa kali mengeluh lelah kepada Ibu dan Mamas nya, si Angkasa.
Angkasa dan Ibu Agnez juga lain nya yang mendengar keluhan manja Agnez terkekeh pelan sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
"Hah! Tadi pagi aja kata nya mau bantu in, ini belum seberapa aja udah ngelu, wah mana semangat nya anak Ibuk yang tadi pagi nih?." Ejek Ibu Agnez sambil terkekeh pelan.
"Yang ada di pikiran Agnez tadi yang nama nya syukuran ya cuma gelar tikar, baca doa, terus makan, eh ternyata... Allah... ribet buanget jeh persiapan nya." Kata Agnez dengan polos nya.
"Ah... Little girl tau nya cuma makan doang." Angkasa ikut-ikutan menggoda gadis nya.
"Iya dong, manusia lek ndak makan ya mati nanti." Balas Agnez yang kontan saja semua orang tertawa ngakak mendengar penuturan polos dari gadis nya Angkasa ini.
"Dah! Bentar lagi dzuhur nih, kalian siap-siap sana buat sholat dzuhur." Perintah Daddy Rafka yang di angguki oleh 7 serangkai kecuali Agnez juga lain nya.
Damar, Albhi, Pamungkas, Angkasa, Kak Rain, Wulan, dan Kristal sudah berdiri dari duduk nya, hanya tinggal Agnez saja yang masih betah duduk.
"Ayo Nez." Ajak Wulan lembut.
"Boleh ndak kalo Agnez minta makan dulu baru sholat?." Ujar Agnez dengan menampil kan wajah polos khas nya.
Semua orang kembali saling pandang satu sama lain nya. Kemudian kembali tertawa, kini tak sampai tertawa terbahak-bahak, hanya terkekeh ringan saja.
"Little girl? Kita akan makan bersama, tapi nanti setelah sholat dzuhur di laksanakan, ok?." Kata Angkasa memberi pengertian pada gadis cantik nya.
Agnez menatap Angkasa lekat kemudian mengangguk kan kepala nya tanda paham.
Setelah itu semua orang pun pergi ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap-siap sholat dzuhur berjamaah di mushollah rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Pukul 12.20 siang semua orang kembali berkumpul di ruang makan untuk makan siang tentu saja.
Di tengah makan siang para tetuah pria bertanya mengenai sekolah dari 7 serangkai.
"Daddy denger-denger Damar, Albhi, sama Angkasa ikut lomba basket antar sekolah ya?." Kata Daddy Rafka sambil menatap 3 bujang yang duduk di depan nya ini.
"Iya Daddy, alhamdulillah kita di pilih dalam lomba ini Dadd." Ucap syukur Damar dengan tersenyum manis.
"Sebenar nya yang ikut lomba cuma Albhi sama Damar Uncle, Angkasa sama Pamungkas ngga mau ikut." Angkasa menjelas kan tentang perlombaan itu.
"Lah? Kenapa ngga mau ikut?." Tanya Mami Alfi menatap wajah tampan milik anak nya itu.
Angkasa tak menjawab melalui kata-kata tapi melalui sorotan mata yang menatap Agnez, gadis kecil nya itu.
Para tetuah yang paham maksud dari tatapan mata milik Angkasa itu pun mengangguk mengerti.
"Ouh... takut ngga fokus ya lomba nya?." Tanya Papi Abhi yang di angguki oleh Angkasa.
"Haduh si Angkasa aja yang banyak alasan." Kata Albhi menatap Angkasa dengan tatapan mengejek.
"Ck! Ini bukan hanya sekedar alasan, tapi ini untuk jaga-jaga biar dia ngga dekat ama Agnez." Ucap Angkasa serius dengan suara yang lirih seperti berbisik.
Semua pria mengangguk kan kepala nya tanda paham pada omongan Angkasa.
Selesai makan siang semua orang kembali bekerja menyiap kan acara syukur yang akan mulai beberapa jam lagi.
Kini para tetuah dan para muda-muda menuju ke rumah baru Agnez sekeluarga dan juga rumah Kak Rain.
Semua persiapan di susun di sana.
Mungkin karena kelelahan 4 gadis yang tadi membantu sekarang jadi tepar di karpet bulu di ruang santai rumah Agnez.
Si hiper aktif Agnez juga ikut tidur dengan pose tak betul, kepala di bawah sedang kan kedua kaki nya berada di atas kursi.
Sedang kan para gadis lain nya alhamdulillah tidur dengan posisi normal.
Di dapur rumah baru Agnez.
"Loh?! Ini... 4 gadis di sini tadi pada ke mana?." Tanya Ibu nya Agnez sambil celinguk kan mencari.
"Eh? Iya loh mereka ngga ada ke mana mereka ini?." Bingung Bunda Raina.
Lalu Damar, Albhi, Pamungkas, dan Angkasa muncul dari pintu masuk dapur.
__ADS_1
Pamungkas menuju kamar mandi, dan 3 cowok lain nya berdiri mengambil gelas hendak minum air.
"Kalian lihat para cewek-cewek ngga?." Tanya Mama Tika menatap wajah tampan milik anak-anak nya ini satu per satu.
"Para gadis? Kita yang dari luar tadi ngga liat para gadis keluar dari rumah kok Ma." Jawab Angkasa serius.
"Bukan nya mereka tadi mereka diam di sini ya?." Tanya Albhi ikutan bingung.
"Iya sayang, mereka tadi memang ada di sini, tapi entah deh sekarang ke mana?." Kata Mami Albhi, Mami Alfi.
"Mungkin minggu lagi tidur Mama, ayo kita liat mereka di ruang santai." Ajak Pamungkas yang baru keluar dari kamar mandi dan sedang mencuci tangan di wastafel dapur.
Semua orang mengangguk kan kepala meng iya kan ajak kan Pamungkas.
Di ruang santai.
"Allah... ." Semua orang menyebut nama Allah dengan kompak.
"Udah lah biarin aja mereka capek banget kek nya, ayo kita lanjut kan memasak kita, biar di sini 4 pemuda ini yang jaga." Ujar Mommy Za pada para tetuah wanita lain nya yang berdiri di sebelah nya.
"Ingat Boy!! Hanya jaga in! Jangan di ganggu atau di recokin, kalau sampai ini para gadis bangun dan ngadu habis kalian recokin, awas aja kalian!!." Ancam Mami Alfi serius, tak lupa beliau menatap tajam mata milik 4 pria muda itu.
4 pria itu mengangguk kan kepala nya takut akan ancaman Mami Alfi.
Setelah mengatakan ancaman itu Mami Alfi pergi bersama lain nya berlalu kembali ke dapur.
Sepeninggalan para tetuah wanita.
"Ck! Gagal dah mau jahilin mereka." Decak Pamungkas sambil menghela nafas panjang.
"Huhu!! Mereka semua lucu banget kalo lagi tidur gini." Kata Angkasa gemas.
"Udah jangan banyak cakap, atur posisi cewek Lo noh biar kagak sakit leher nya!." Suruh Damar menunjuk Agnez mengguna kan dagu nya.
Tanpa perlu di perintah dua kali Angkasa memposisi kan Agnez tidur dengan pose yang benar.
Saat akan bangun dari setengah jongkok nya, Agnez menarik tangan Angkasa hingga terjatuh di badan mungil Agnez, untung saja Angkasa menyangga badan nya agar tak menindih tubuh mungil Agnez.
"Mas Angkasa jangan pergi, di sini aja." Gumam Agnez masih dengan mata tertutup.
Angkasa tersenyum mendengar permintaan dari gadis nya itu. Angkasa pun tak jadi pergi dan memilih duduk di karpet bulu di bawah sofa yang di tiduri Agnez.
Tangan Angkasa di genggam erat oleh Agnez bahkan membawa nya dalam pelukan nya.
Tangan Angkasa yang bebas di pakai untuk membelai kepala dan rambut Agnez yang tergerai.
Jika 7 serangkai sedang bersantai dan tidur, lain hal nya dengan Cindi dan Haris yang tertangkap basah tengah bermain di time zone dalam mall.
Sudah dapat di tebak apa yang terjadi bukan? Papa Cindi marah besar bahkan hampir saja memukul Cindi jika Haris tak menangkis nya.
Sekarang Haris dan Cindi sedang berada di dalam rumah Cindi, lebih tepat nya ruang tamu rumah Cindi. Gadis itu dan Haris tengah mendapat kan ceramah dari Papa Cindi.
"Papa sudah bilang sama kamu, jangan kalo perlu ngga usah main! Kamu harus belajar!!! Dapat kan nilai tinggi dan jadi nomer satu di kelas!!!!." Teriak Papa Cindi menggemah di seluruh area ruang tamu ini.
Cindi hanya diam menunduk sambil bermain pinggiran taplak meja. Haris melirik Cindi dari samping dengan tatapan iba, kasihan.
"Kamu bukan nya belajar malah keluyuran, bolos sekolah main ke mana-mana sama cowok ngga jelas sebelah kamu ini!!! Mau jadi apa kamu?!!! Mau jadi anak bandel?! Hah?! Jawab Papa kalo lagi di tanya!! Punya kuping ngga?!." Papa Cindi membentak Cindi dengan nada suara keras dan tinggi.
Cindi tak menjawab perkataan Papa nya dan masih bermain pinggiran taplak meja.
Papa Cindi yang geram dengan kelakuan anak nya itu kembali membentak Cindi.
"Cindi?!!! Jawab Papa!!!." Seru Papa Cindi marah sampai urat-urat di pelipis nya terlihat.
'Khemmmmm... huuffhhh... .' Cindi menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan.
Dan... .
"Bang? Mending Lu pulang aja sana jangan di sini ngga baik buat kesehatan telinga Lo, dah sana balik." Cindi mengusir Haris dengan lembut.
"Gua-." Belum selesai Haris bicara Papa Cindi menampar Cindi keras.
'Plaakkk!.' Tampar keras mendarat di pipi kanan Cindi.
Haris berdiri dari duduk nya dan menatap tajam Papa Cindi.
"Tau apa kamu tentang mendidik anak?! Sedang kan kamu juga seorang anak!! Masih ngga tau apa-apa!! Ngga usah nasihatin saya!!." Teriakan Papa Cindi kembali menggemah.
Saat akan menjawab lagi, tangan Haris di genggam oleh tangan seseorang.
"Udah Bang kagak usah belain Gua, Lo mending pulang aja deh." Suruh Cindi dengan suara serak menahan tangis.
Haris sudah ingin angkat bicara lagi tapi tangan besar Papa Cindi lagi-lagi ingin mendarat di pipi Cindi dan langsung saja Haris mencekal tangan Papa Cindi kuat.
"Om! Kalo Om masih aja keras dalam mendidik Cindi, saya bisa lapor pada pihak berwajib atas kekerasan terhadap anak dan perempuan, anda bisa di tuntut, dan di penjara, atau bisa saja Cindi meninggal dunia karena ngga kuat ada di samping Om lagi, pikir kan semua omongan saya! Yang nama nya penyesalan ada nya di belakang Om!." Tegas Haris berucap.
Papa Cindi diam seribu bahasa mencerna apa yang di ucap kan oleh Haris.
"Dan Om! Dengerin saya ngomong yah! Cindi ini anak semata wayang Om kan? Bayangin kalo Om kehilangan dia karena kesalahan Om sendiri! Mungkin Cindi akan bahagia bisa lepas dari genggaman Om yang terasa nyakitin dia baik fisik maupun mental, dia juga akan bahagia bisa bertemu dengan Mama nya di sana, tapi bayangin kesedihan Om, penyesalan Om, dan yang paling penting... kecewa nya almarhum istri Om! Mau minta maaf sama siapa kalo udah kaya gitu? Batu nisan Cindi? Atau batu nisan nya istri Om?." Tanya Haris yang membuat Papa Cindi sedikit membuka mata hati nya.
"Pikir kan semua yang saya omongin tadi Om! Jangan sampai Om menyesal di kemudian hari! Untuk saat ini saya akan membawa Cindi ke rumah saya agar Om jernih dalam memikir kan apa yang tadi saya sudah ucap kan! Setuju atau pun tidak! Saya akan membawa Cindi, saya permisi dulu, assalammu'allaikum!." Salam Haris dan tanpa menunggu balasan dari Papa Cindi pemuda itu menarik tangan Cindi untuk mengikuti nya keluar dari rumah ini.
Di pintu utama Haris dan Cindi tentu saja tidak bisa keluar dengan mudah. Mereka berdua di halang oleh satpam.
Saat Haris hendak membuka mulut menyuruh satpam itu minggir Papa Cindi lebih dulu membuka suara.
"Biar kan mereka pergi!." Ucap pria paruh baya itu.
Satpam itu pun mengangguk kan kepala kemudian menyingkir dari tengah jalan.
Haris kembali menyeret Cindi dengan lembut, Cindi yang di tarik pun mengikuti langkah Haris, sebelum benar-benar pergi, Cindi menoleh ke belakang menatap wajah tampan milik Ayah nya yang sudah menua. Mata Cindi dan Papa nya saling menatap, jika Cindi dengan tatapan kecewa, sedih, dan ingin menangis lain halnya dengan Papa Cindi, beliau menatap wajah Cindi dengan tatapan sulit di arti kan.
Cindi memutus kan pandangan mata mereka dan kembali melihat kearah depan, ia dan Haris pun meninggal kan kediaman Papa Cindi.
Flashback beberapa menit yang lalu sebelum pertengkaran itu.
Di jembatan.
"Eh? Ba'da dzuhur nanti main ke main yuk." Ajak Cindi semangat.
"Ke mana? Mending kita pulang aja deh Gua takut Lu kena marah lagi ama Bokap Lu." Tolak Haris dengan melirik Cindi dari samping.
"Ck! Ayo lah Bang kita main, udah lama banget Gua kagak keluar rumah." Bujuk Cindi sambil menatap Haris dengan tatapan menghiba.
"Kagak ada!." Tolak Haris tegas.
Cindi terus membujuk Haris sampai dia melakukan hal-hal konyol.
Di rumah Papa Cindi. Papa Cindi sedang menerima panggilan telepon dari sekolah, lebih tepatnya wali kelas Cindi.
Wali kelas Cindi mengatakan bahwa Cindi tak mengikuti pelajaran di kelas tanpa ijin.
'Apa Cindi sedang sakit Pak?.' Tanya wali kelas Cindi di seberang telepon.
"Cindi alhamdulillah baik-baik saja Bu, tadi pagi dia berangkat sekolah di antar supir." Jawab Papa Cindi serius.
'Baik Pak kalau begitu, saya akan tanya-tanya pada teman sekelas nya, siapa tau mereka tau, saya akhiri dulu telpon nya Pak, assalammu'allaikum.' Pamit wali kelas Cindi itu.
"Iya-iya bu, wa'allaikum sallam." Jawab Papa Cindi cepat.
Panggilan pun putus.
Mendengar anak nya tak ada di sekolah sejak pukul 06.30 pagi tadi, Papa Cindi meradang, beliau marah.
"Bagas?!!." Panggil Papa Cindi dengan nada suara keras dan tinggi.
Orang yang di panggil berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur menghampiri Papa Cindi.
"Ada apa Tuan Besar?." Jawab Bagas, asisten pribadi Papa Cindi dari sejak jaman dahulu.
"Cari gadis nakal itu! Dia keluar dari sekolah tak mengikuti pelajaran dari pukul setengah tujuh tadi, bawa pulang dia! Jika dia menolak pulang angkut paksa!." Perintah Papa Cindi tegas pada bawahan nya ini.
"Baik Tuan laksanakan!." Seru Bagas menjawab.
__ADS_1
Bagas pun pergi dari samping Tuan nya untuk mencari keberadaan Nona Muda nya.
Ditempat berdiri Papa Cindi, beliau menatap kedepan dengan tatapan penuh amarah.
"Dasar gadis nakal! Papa masih bisa memaaf kan mu jika kau membolos satu mata pelajaran, tapi Papa tak bisa memaaf kan jika kamu bolos keluar sekolah! Kenapa juga aku sampai tak memberi kan nya pengawasan dari bodyguard?! Seperti nya aku terlalu percaya pada gadis nakal itu! Aku pikir dia akan takut dan tunduk pada ku, ternyata aku terlalu meremeh kan mu gadis nakal! Tunggu saja hukuman dari Papa Cindi!." Ancam Papa Cindi berbicara sendiri.
Kembali pada Haris dan Cindi.
Setelah sholat dzuhur dan makan siang didekat mall, mereka masuk ke dalam mall dan pergi ke time zone.
Cindi berhasil membujuk Haris agar mau membawa nya bermain dimall.
"Dah sana Lu puas-puasin dah main dimari!." Kata Haris sambil menunjuk segala permainan di time zone ini.
"Ayo dong Bang ikut main, masa Gua main sendiri sih? Kagak seru tau!." Ajak Cindi pada Haris dengan menunjuk kan wajah memohon nya.
"Hahhhh iya-iya! Ayo main!." Ucap Haris terpaksa menerima ajakan gadis yang dia sebut Bocil ini.
Senyum manis Cindi terbit di sertai binar bahagia di mata nya.
Cindi dan Haris bermain berbagai game ditime zone ini. Yang awal nya Haris terpaksa bermain, kini pemuda itu malah menikmati setiap waktu bermain nya dengan tertawa bahagia bersama Cindi.
Yah... secara tidak langsung bahagia nya Haris dengan Cindi.
Ditengah rasa bahagia nya 2 orang ini, ada 5 orang berseragam serba hitam serta dengan 1 pimpinan nya sedang mengitari mall yang sama dengan Cindi dan Haris.
Entah tau dari siapa mereka jika Nona Muda nya sedang ada di sana, Bagas yang sebagai pemimpin menyuruh anak buah nya berpencar untuk mempermudah menemu kan Nona Muda nya.
Yah! 5 orang berseragam serba hitam dan 1 orang pimpinan nya ini adalah orang suruhan Papa Cindi.
Bagas mengerah kan tenaga ke mall karena instring nya mengatakan bahwa Nona Muda nya datang ketempat ini.
Kemana lagi coba anak gadis seusia Nona Muda nya pergi jika bukan kemall? Ya kan? Itu lah pemikiran Bagas, asisten pribadi Papa Cindi ini.
Sudah berbagai tempat dimall di jelajah oleh orang-orang suruhan Papa Cindi.
Tapi mereka tak kunjung menemu kan Nona Muda nya.
Mereka berkumpul didekat toilet pria.
"Tuan Bagas? Bagaimana ini? Nona Muda belum di temukan, apa yang kita lakukan sekarang?." Tanya salah satu bawahan Bagas.
"Apa semua tempat sudah kalian masuki?." Tanya Bagas serius.
"Iya Tuan." Jawab bawahan Bagas dengan kompak.
Bagas mengangguk kan kepala nya tanda paham. Kemudian pria itu diam berpikir apa langkah mereka selanjut nya.
Tapi tiba-tiba... .
"Tuan? Seperti nya masih ada satu tempat yang belum kita injak lantainya." Beri tahu salah satu bawahan Bagas.
"Apa itu? Bagian mana?." Tanya Bagas antusias.
"Time zone Tuan." Jawab bawahan Bagas itu.
"Kita ke sana sekarang! Cepat!." Seru Bagas berlari kecil keluar dari toilet diikuti oleh 5 orang bawahan nya.
Sampai di time zone.
"Berpencar!." Perintah Bagas yang langsung diangguki oleh para bawahan nya.
Disalah satu game ditime zone ini seorang gadis tak sengaja melihat Bagas yang berdiri didepan pintu masuk time zone ini. Jarak mereka tak terlalu jauh hanya beberapa meter saja.
"Mampu!." Umpat Cindi yang membuat Haris menoleh ke arah nya.
"Apa? Siapa yang Mampus?." Tanya Haris bingung.
"Ayo kita harus pergi dari sini, ada Bagas, orang suruhan Bokap Gua disini!." Ajak Cindi sambil menaik-narik lengan kekar Haris.
"Yang mana sih orangnya? Kepo Gua pengen tau!." Seru Haris sedikit keras.
"Stttt!!! Jangan keras-keras ngomong nya ogeb!." Pekik Cindi yang ikutan sedikit keras nada bicaranya.
Bagas yang sangat jeli terhadap suara Nona Muda nya segera menoleh ke asal suara dan... .
"Nona Muda Cindi?!." Panggil Bagas sedikit keras.
"Ancur semua!." Seru Cindi dengan membulat kan mata nya lebar-lebar dengan tubuh nya sedikit menegang.
Cindi menoleh pada Bagas dan sesaat kemudian berlari sambil menyeret Haris.
"Nona Muda tunggu!." Seru Bagas ikutan mengejar Cindi dengan langkah lebar.
"Itu yang nama nya Bagas?." Tanya Haris di tengah kegiatan berlari nya sambil ngos-ngosan.
"Iya dia yang nama nya Bagas, sekarang Lu turutin kata-kata Gua, lari dari sini, tinggalin Gua disini, biarin Gua hadapi semua nya sendiri, pergi dari sini cepat!!." Suruh Cindi sambil mendorong-dorong tubuh kekar Haris.
Haris yang tak mau meninggal kan Cindi pun tak menuruti kata-kata Cindi. Saat Cindi berhenti agar di tangkap, Haris ikut-ikutan berhenti.
Cindi terkejut dan kembali mengusir Haris dengan kasar.
"Haris gila!! Lari anjir! Jangan ikutan berenti, ini masalah Gua jangan ikut-ikutan!." Seru Cindi dengan suara terengah-engah.
"Kalo Lu di tangkap Gua pun harus ikut serta." Kata Haris tegas.
Dan... bisa di bayang kan apa yang terjadi selanjut nya? Yup! Cindi dan Haris tertangkap, sebenar nya Cindi sudah meminta agar Bagas melepas kan Haris, tapi Haris tetap ngotot minta ikut terlibat.
Flashback off.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.