Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Fifty


__ADS_3

Teras rumah Shita sangat ramai di penuhi canda tawa para orang tua dan para laki-laki muda.


Shita dan Rendra duduk di tempat yang berbeda dari beliau semua.


"Ta?." Panggil Rendra.


"Hem?." Jawab Shita singkat.


"Lo besok pergi ke Jakarta kan?." Tanya Rendra.


Shita menghentikan aktivitas mengetik laptopnya.


Dia memandang Rendra yang ada di sampingnya.


"Iya." Jawab lesu Shita.


"Terus?, Lo bakal jual nih rumah ama penginapannya?." Tanya Rendra lagi.


"Menurut Lo gimana?." Shita meminta pendapat pada Rendra.


"Jangan jual." Kata Rendra.


Shita menatap lekat tepat pada bola mata hitam pekat milik Rendra.


"Gua yang akan ngeberesin dan mengawasi kondisi rumah ini, Gua juga minta bantuan Andi Panji ntar." Terang Rendra.


Shita diam.


Dia juga sebenarnya tidak ikhlas jika menjual rumah ini.


Karena rumah itu saksi perjuangannya dan Raina yang hidup tanpa dampingan orang tua.


"Lo beneran mau bantu ngurusin nih rumah?." Tanya Shita.


"Iya Ta." Jawab tegas Rendra.


Sejujurnya Shita sudah percaya pada Rendra.


Dia hanya menyakinkan hatinya saja.


"Ok kalo gitu, Gua titip rumah ini, dan sebelumnya makasih udah mau jaga in." Ucap Shita tulus.


"Kaya sama siapa aja Lo, tenang aja, Gua jaga in, Gua rawat juga." Balas Rendra.


Shita hanya membalasnya dengan senyuman manis.


"Besok sebelum keberangkatan, Gua kasih kuncinya." Ujar Shita kembali.


"Beres dah." Jawab Rendra.


"Oy kalian berdua?!." Panggil Abdiel pada Rendra Shita.


Mereka terkejut, kemudian menoleh secara bersamaan ke arah Abdiel.


"Jan berduaan mulu, mojok lagi." Ucap Abdiel.


"Iya, mending sini duduk sama kita." Ajak Bunda.


Shita mengangguk lalu menjalankan kursi rodanya ke arah Bunda di ikuti Rendra.


"Ouh iya, Tante semua mau novel kan?, bentar Shita ambilin dulu." Kata Shita.


Dia masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar untuk mengambil buku novel yang akan di beli para Ibu-ibu itu.


5 menit menunggu.


Shita keluar kamar dengan membawa kotak cukup besar di pangkuannya.


Dia meletak kan kotak itu di meja dan membuka gembok kunci kotak itu.


"Haaaa, silahkan di pilih para Ibu-ibu." Kata Shita.


Mama Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa,Tika, Mami Alfi, dan Bunda Zarine melongok kan kepalanya melihat isi kotak itu.


Si kotak itu ada 10 macam judul novel online milik Shita yang dicetak menjadi sebuah buku.


"Satu bukunya berapa ini Ta?." Tanya Mama Tika.


"Shita kasih gratis semuanya." Jawab Shita.


"Ya jangan dong Ta, ini kan barang jualan kamu." Tolak Bunda Zarine.


"Hehehe, sebenarnya itu memang Shita ambil buat koleksi, masing-masing satu judul novel 3 buku." Jelas Shita.


"Kita tetep bayar." Tegas Mami Alfi.


"Ok, kalo maksa mau bayar, Shita minta 50 ribu aja setiap masing-masing buku yang para Tante pegang itu." Putus Shita.


"Harga real nya berapa?." Tanya Mama Akifa.


"75 ribu." Jawab Shita.


"Kita bayar full aja." Keukeuh Mama Abdiel.


"Kalo bayar full, Shita ngga mau terima." Tegas Shita.


"Ok kalo gitu, 50." Pasrah Mama Rafka.


"Nah gitu dong." Cengir Shita tanpa dosa.


Lalu Shita menanda tangani buku-buku yang di beli oleh para Ibu-ibu itu dan mereka memberikan uang 50 ribu setiap orang.


"Kyaaa!, akhirnya dapet yang real." Heboh Mama Akifa.


"Kamu tau Ta, kamu itu salah satu penulis muda yang berbakat." Puji Mami Alfi.


"Makasih Te pujiannya, jangan puji terus Te nanti aku jadi terbang, hehehe." Kekeh Shita.


'Hahaha.' Semua orang tertawa pelan mendengar omongan Shita.


"Sebenernya aku itu cuma hobi dan iseng sekaligus ngembangin dunia halusinasiku aja Te, ngga ada niatan mau jadi penulis online gini, kerjaan ini juga hanya sampingan." Jelas Shita.


"Kerja an utama kamu apa sebelumnya?." Tanya Papa Tika.


"Jual kue online Om." Jawab Shita.

__ADS_1


"Kue online?." Beo Papi Alfi.


Shita mengangguk kan kepalanya.


"Kue apa?." Tanya Mama Akifa.


"Kue dengan resep racikan sendiri, aku lebih fokus ke kue basah, kalo kue kering sesekali." Jawab Shita.


"Nanti di Jakarta mau kerja apa?." Tanya Mama Akifa.


"Aku juga masih mikir Te, belum tau mau kerja apa, hehehe." Kekeh Shita.


"Kamu dulu sekolah menengah apa?." Tanya Papa Rafka.


"Kejuruan Om, lebih tepatnya tata boga." Jawab Shita.


"Emmmm, kalo kamu nau usaha kue ngga ada modal biar Ayah aja yang modalin Ta." Kata Ayah Zarine menawarkan.


"Waduh, ngga usah repot-repot Om, aku udah ada tabungan yang emang udah aku siapin buat modal buka toko kue, jadi Ayah ngga usah repot-repot, tapi aku ucapkan terima kasih untuk Om karena udah tawarin." Ujar Shita dengan tersenyum manis.


"Santai aja lah Shita, kalo butuh apa-apa kamu hubungi aja salah satu di antara kami, kamu sudah kita anggap bagian dari keluarga besar kami." Timpal Ayah.


"Bener itu Ta." Sahut Papa Rafka.


Shita mengangguk kan kepala dengan tersenyum manis.


Di teras rumah Shita obrolan absurd terjadi.


Mulai dari topik yang ber faedah sampai unfaedah.


Suasana di pasar.


Pagi ini pasar lumayan ramai.


Raina, Zarine, Akifa, Alfi, Tika, Andi, dan Panji sedanga ada di psar bagian sayur dan buah.


Mereka memilih jagung dan buah-buahan, para penjual menimbangnya serta menungkusnya kemudian Raina membayarnya.


"Udah lengkap nih kayanya." Kata Panji yang membawa belanjaan para gadis-gadis di bantu Andi.


"Ada yang belum." Seru Raina.


"Apa yang belum?, udah semua nih." Kata Andi.


"Pesanan Shita belum, ayo kita ke tempat jajanan." Ajak Raina.


Tika, Zarine, Alfi, Akifa, juga 2 pemuda di belakang yang repot dengan bawa annya mengikuti langkah Raina.


"Ini kenapa kita di jadi in kaya bodyguard gini?." Tanya Panji.


"Hehehe, sekali kali ngga papalah, jan banyak ngedumel, kalo Raina denger di telen Lo hidup-hidup." Kekeh Andi.


"Oy?!, jan ngrumpi disana!." Seru Raina.


"Iya-iya." Jawab Andi Panji bersamaan.


Mereka pergi ke lapak para penjual jajanan.


"Wuih, masih lengkap." Ucap antusias Raina.


"Bu, beli semua jenis." Pinta Raina.


Setelah berbelanja, mereka semua menuju tempat terparkirnya mobil lalu meletak kan belanjaan di dalam bagasi.


Kemudian mereka masuk mobil dan meluncur pulang.


"Wuuuuh, capek juga ya." Keluh Andi yang duduk di sebelah Panji bagian pemegang kemudi.


"Gitu aja capek, mental tempe Lo." Ledek Raina.


"Lo mah enak cuma jalan doang, lah kita?, udah kek body-."


"Lo ngga ikhlas?!." Pekik Raina dengan mendelik kan matanya lebar-lebar.


"I.. i.. ikhlas kok, ikhlas, kita ikhlas, ridho lillahi ta'ala." Gagap Andi dan Panji bersamaan.


"Hahahaha." Tawa gadis-gadis sebelah Raina pecah.


'Dasar Lampir.' Batin Andi Panji bersamaan tanpa bekerja sama.


20 menit mengendarai mobil.


Mereka pun sampai di rumah.


Panji dan Andi menurunkan belanjaan dan membawa masuk ke rumah.


"Assallammu'allaikum!!." Seru Akifa dan lainnya.


"Wa'allaikum sallam!." Jawab kompak semua orang.


"Mana?." Tagih Shita pada Raina.


"Bentar, aku bikinin sama minumnya." Kata Raina.


Raina masuk ke dapur, Andi dan Panji langsung duduk selonjoran di lantai.


"Aduhhh, pegel bat betis Gua." Keluh Panji.


"Di perbudak ye?." Ledek Shita.


"Diem Lo!." Sungut Andi.


"Hahaha." Tawa semua orang pecah.


"Sekali-kali bantu para cewek belanja, itu dapat pahala tau." Celutuk Papi Alfi.


"Bantu belanja sering Om, tapi ngga sampe bikin kaki pegel kek gini." Ujar Panji.


"Dah jan ngeluh, ayo minum dan makan jajanan." Ajak Raina yang keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan makanan dan minuman.


Zarine langsung berdiri dari duduk dan membantu Raina membawa nampan.


Raina ikut duduk di sebelah Shita.


"Selamat makan!." Seru Abdiel.

__ADS_1


"Baca doa dulu Yang." Cegah Akifa saat Abdiel akan menyantap makanannya.


Abdiel cengengesan lalu segera membaca doa setelah itu langsung makan.


"Habis ini kita ngapain nih?." Tanya Mama Abdiel.


"Mancing ikan mau ngga?." Kata Panji.


"Mancing?." Beo Para perempuan.


"Beli aja deh jangan mancing." Suruh Mama Rafa.


"Emang kalo mancing, yakin bakal dapet?." Ledek Mami Alfi.


"Ngga yakin sih." Tawa garing Papi Alfi.


"Mending beli dari pada susah-susah." Kata Mama Akifa.


"Iya deh, nanti kita ke rumah Pak Sampurno buat beli ikannya." Sahut Andi.


"Boleh tuh, ikan-ikan yang beliau jual pada masih seger juga." Timpal Rendra.


Semua orang berbicang dengan canda tawa.


"Ouh iya besok kita balik ke Jakarta nya pukul berapa?." Tanya Akifa.


"Pukul 5 pagi." Jawab Papa Rafka.


"Ouh iya, Shita?, kamu ngga konsul ke dokter soal punggung kamu?." Tanya Mama Akifa.


"Wah, aku lupa soal itu." Kata Shita.


"Ayo aku anterin." Sahut Rendra.


"Ayo, aku ikut." Seru Raina.


Raina menyiapkan keperluan Shita untuk cek up ke dokter.


Bang Rafa juga ikut berdiri.


"Kamu mau kemana Bang Rafa?." Tanya Bunda.


"Mau ikut Rain." Jawab Bang Rafa.


"Ayo deh." Sambung Bang Rafa lagi.


"Semuanya, kami pamit ke rumah sakit dulu, assallammu'allaikum." Salam Raina.


"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.


4 orang itu sudah melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah.


Diteras rumah Shita, semua orang masih betah ada disana.


"Panji, Andi?, kalian sahabatan sama Rendra dari mulai kapan?." Tanya Mama Abdiel.


"Dari kecil, mungkin sejak masih bayi, soalnya rumah kita kan dekat alias tetangga an." Jawab Panji.


"Kalo soal Rendra Shita, apa yang kalian tau?." Tanya Mami Alfi.


"Rendra Shita?, Shita itu sebenarnya bukan dari desa Singo Joyo ini." Jujur Andi.


"Terus?." Kepo Mama Abdiel.


"Mereka datang ke sini saat umur Shita 10 tahun dari desa yang cukup jauh dari sini, awalnya mereka tinggal di tampung di rumah pak KaDes, mereka di sana sampe usia 17 tahun, lalu bangun rumah ini." Terang Panji.


"Kalo soal kisah cintanya mereka, kalian tau ngga?." Tanya Mama Tika.


"Kisah cinta?." Beo Andi dan Panji kompak.


Mereka berdua lalu saling tatap satu sama lain.


"Kalo itu... hanya sedikit yang bisa kita ceritakan." Jawab Panji.


"Apa?." Tanya Abdiel kepo.


"Shita suka sama Rendra sejak umur 10 tahun, Shita itu jatuh cinta pandang pertama sama si Rendra yang usianya 11 tahun kala itu." Terang Andi.


"Terus?!." Seru para perempuan kompak.


"Banyak temen-temen yang tau kalo Shita menyukai Rendra." Lanjut Andi.


"Kalo Rendra nya gimana?." Tanya Alfi penasaran.


"Dia itu kaya balok es orang nya, dia memang sahabatan lama sama kita berdua, tapi kalo untuk cerita soal perasaannya dia ngga pernah, tapi kita udah liat jelas di mata dia." Ujar Andi lagi.


"Dia itu pinter kalo di suruh pura-pura ngga tau." Sambung Panji.


"Bisa di bilang si Rendra itu susah di tebak sifatnya, kadang baik ke Shita, kadang juga ngga peduli, dan kadang dia nunjukin hal-hal lainnya yang membingungkan orang." Jelas Andi.


"Hahaha, ribet yak mereka, kenapa ngga to the point aja?." Tawa Alfi pelan.


"Yang bikin ribet itu Rendra nya, kalo Shita mah blak-blak an, dia pernah sekali ngungkapin perasaannya ke Rendra, si balok es itu ngga jawab anak orang di gantungin, hahaha." Tawa pecah Panji.


"Tapi kalo pikiran ku, si balok es itu maunya ngungkapin perasaannya secara nyata ngga melalui kata-kata." Celutuk Andi.


"Atau bisa juga Rendra itu mau ngungkapin perasaan tapi ngga tau caranya." Timpal Abdiel ikut berbicara.


"Hahaha, ngga tau dah ribet kalo ngurusin mereka berdua, bisa-bisa 5 purnama ngga kelar-kelar." Kata Panji menghentikan obrolan tentang Rendra Shita.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2