
Ke esokan paginya.
Pukul 3 pagi seorang cowok tampan sudah bangun dari kegiatan tidur indahnya.
Dia ke kamar mandi dan mencuci muka tak lupa juga menggosok giginya.
Setelah itu dia keluar kamar.
Di berjalan ke arah dapur rumahnya berada.
Di sana dia mendapati sang Ibu sudah memasak untuk di bawa berjualan di pasar.
"Ibu?." Panggil cowok itu.
"Rendra?, kenapa kamu bangun?, bukannya nanti kamu pergi ke Jakarta?." Tanya beruntun Sang Ibu.
Ya, cowok yang ada di dapur sedang duduk di sebuah kursi didekat kulkas ini adalah Rendra.
Dia bermaksud membantu Ibunya.
"Iya Bu, nanti ba'da subuh aku, Panji, sama Andi berangkat." Jawab Rendra.
"Terus, kenapa bangun?." Tanya sang Ibu lagi.
"Rendra mau bantu in Ibu masak kaya biasanya, apa yang bisa Rendra bantu Bu?." Tanya Rendra meminta pekerjaan.
Ibunya tersenyum menatap Rendra.
"Ngga usah di bantuin, Ibu bisa sendiri kok." Tolak Ibunya halus.
"Udah biar aku yang bagian goreng menggoreng, Ibu lainny aja." Putus Rendra sendiri.
Ibu nya pun pasrah.
Beliau mengijinkan Rendra membantu.
Mencegah pun percuma Rendra termasuk manusia keras kepala walau hanya sedikit.
"Denger ya Ren, laki-laki itu kerjaannya di depan, bukan di belakang." Kata Ibu Rendra.
"Yaaaa ngga papa lah sekali kali laki-laki dibelakang, emang apa ruginya?, malah kalo kerja di belakang banyak enaknya." Jelas Rendra.
"Enaknya bisa cicipin makanan kan?, hahaha udah bisa Ibu tebak sih." Ujar Ibu Rendra di akhiri tawa renyah.
"Hehehe." Rendra hanya membalas perkataan Ibuny dengan cengiran kudanya.
"Shita udah tau kalo kamu bakal kesana?." Tanya Ibu Rendra.
Beliau sedang mengulek bumbu untuk sayur lodeh, padahal di rumahnya ada alat penghalus bumbu, tapi si Ibu tidak mau memakainya, bukan tidak mau sih, beliau lupa karena kebiasaan mengulek jadi tidak ingat punya alat praktis penghalus bumbu (blender).
"Engga, kemarin pas aku telepon yang angkat malah Raina, Shita nya lagi tidur." Jawab Rendra sambil melihat ulek kan sang Ibu.
"Ibu kenapa ngga pake blender aja?." Tanya Rendr.
"Enak kan di ulek bumbunya Dra, kali di blen rasanya jadi agak beda." Jawab Ibu Rendra.
"Apa bedanya?, kan sama-sama hancur juga." Kata Rendra.
"Yaaa beda aja gitu rasanya, Ibu nga terlalu suka di blen." Jujur Ibu.
'Huuffffh.' Rendra mengehal nafas pasrah.
"Kenapa Ibu ngga mau berhenti?, udah Ibu berenti aja kerja jualan ini, atau Rendra bangunkan rumah maan buat Ibu, usaha yang di kelolah Ayah juga sudah berkembang dan maju, Rendra juga udah buka beberapa cabang di tempat-tempat sekitaran Lumajang." Kata Rendra menjelaskan sekaligus menawarkan.
Ibu nya Rendra ini memang keras kepala.
Rendra pernah menyuruh beliau untuk berhenti berjualan makanan di pasar.
Tapi beliau tak mendengar.
Alasannya... .
'Sebelum Ibu sama Ayah bisa punya segalanya seperti sekarang, ya jualan ini yang bikin kita bisa makan.'
Seperti itu lah alasannya.
Rendra juga sering kali menawarkan membuatkan Ibunya usaha rumah makan.
Tapi tetap tidak mau.
Beliau menolak dengan alasan... .
'Kalo buka warung makan tenaga Ibu udah ngga kuat, Ibu maunya kalo buka gituan yang masak Ibu sendiri.'
Sampai bingung sendiri Rendra memikirkan mau Ibunya ini.
Dan saat ini, Rendra sedang mengungkit lagi perkara yang sama.
Ibu Rendra hanya tersenyum manis menatap sang putra.
"Gini ya Dra, kalo Ibu berenti Ibu mau kegiatan apa?." Tanya Ibunya.
"Kan masih ada kegiatan yang Ibu-ibu karang taruna lakukan, yang biasanya ada di rumah Bu RT itu, Ibu ikut aja ada di sana, duduk bareng sambil cerita ngalor ngidul kaya para Ibu-ibu lainnya, jangan nge ghibah tapi." Kata Rendra.
"Hahaha, Ibu-ibu sama ngegosip itu ngga bisa di pisahin Dra, mereka itu identik." Jawab Ibu.
"Ya ikut aja gitu disana, ngga usah jualan, bukan maksud Rendra malu dengan Ibu jualan, sama sekali ngga ada kaya gitu di hati Rendra, tapi emang Ibu udah berumur, harusnya Ibu sekarang cuma duduk diam menikmati hasil dari Rendra." Panjang lebar Rendra dengan menatap Ibunya dalam.
'Anak ku makin dewasa, baru kemarin rasanya dia masih nakal ngga bisa di atur, sekarang pikirannya sudah dewasa.' Batin Ibu Rendra senang.
Beliau tersenyum manis menatap Anaknya ini.
'Andai Anton ada di sini.' Batin beliau berucap lagi.
'Huufff.' Ibu mengehal nafas pelan.
"Ibu?." Panggil Rendra.
"Ouh iya apa?." Terkejut beliau cepat.
"Ibu ngelamunin apa?." Tanya Rendra.
"Ngga ada kok Ren, kamu tadi minta Ibu berenti kerja kan?, Ibu ada permintaan." Kata Ibu dengan senyum manis di bibirnya.
"Apa?." Tanya Rendra.
"Nikah dulu sama Shita, baru habis itu Ibu berenti kerja." Ujar Ibu.
"Beneran?, Ibu janji?." Tanya Rendra dengan mata berbinar terang.
"Ya, Ibu janji." Jawab Ibu.
"Gampang kalo soal nikah mah Bu, calon udah ada, modal in syaa allah siiap, Rendra juga sebenernya ke Jakarta juga mau bahas itu sama Shita." Ungkap Rendra jujur.
"Semoga lancar deh, pulang bawa kabar baik ya Nak." Pinta sang Ibu.
Keduanya lalu saling melempar senyum.
"Ouh iya, yang katanya Raina mau nikah itu kapan?." Tanya Ibu yang teringat pada kakak sepupu calon menantunya.
"Aku ngga tau Bu, kemarin pas ada di B29 katanya nikahnya dibulan Januari ini, pertengahan katanya." Terka Rendra.
Ibu hanya mengangguk angguk kan kepala paham.
Kemudian suasana dapur di landa keheningan.
Ibu Rendra terus mencuri pandang ke arah sang anak.
Beliau ingin menanyakan kabar tentang Anak sulungnya yang sedang ada di dalam jeruji besi, tapi beliau seperti ragu-ragu.
"Ibu mau tau kabar Anton?." Tanya Rendra.
Dia sedari tadi mengetahui sang Ibu mencuri pandang dan ingin menyakan sesuatu tapi seperti ragu-ragu.
"Hmm... itu... gimana kabar Abang kamu di sana?." Tanya Ibu lirih.
"Sehat alhamdulillah." Jawab Rendra datar dengan tak menatap Ibunya.
Matanya fakus ke penggorengan di depannya.
"Ibu sering kesana kan jengukin Bang Anton?." Tanya Rendra tiba-tiba.
"Ah... i... iya... ." Gugup Ibu takut kena marah.
"Rendra ngga marah Ibu sering kesana, Ibu mana yang tega anaknya di penjara?, benarkan?." Tanya Rendra pada sang Ibu yang di angguki oleh wanita paruh baya di depannya itu.
"Apa Abangmu ngga bisa bebas Dra?." Tanya Ibu.
"Bisa, tapi tunggu 2 tahun lagi." Jawab Rendra.
"... ." Ibu tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ibu sabar aja, dia di sana ngga baik-baik aja kok, kata polisi yabg mengawasinya, dia sudah banyak berubah jadi lebih baik lagi, Ibu doain aja setelah keluar dari sana dia ngga berulah lagi." Jelas Rendra.
"Iya, Ibu selalu doa in anak-anak Ibu yang terbaik." Jawab Ibu.
Adzan subuh berkumandang.
Rendra dan Ibunya bersiap untuk berjamaah di masjid.
Lalu pukul 04.10 Panji dan Andi telah berdiri di depan rumah Rendra.
Mereka memang merencanakan untuk berangkat pagi-pagi sekali.
Para orang tua juga ada berkumpul di rumah Rendra mengantarkan anaknya berangkat.
"Kalian beneran ngga ada yang ketinggalan kah?." Tanya Ibu Panji.
"Ngga ada Bu." Singkat Panji menjawab.
__ADS_1
Diam beberapa saat.
"Ini Rendra ngapain sih!." Gerutu Andi.
"Sabar kenapa sih, Gua cari jaket kagak ketemu di lemari." Sahut Rendra dari dalam rumah berjalan ke luar menemui temannya dan Ibu-ibu yang berkumpul di teras rumahnya.
"Lo udah kabarin Shita belum kalo kita OTW kesana?." Tanya Andi.
"Udah kemarin, tapi yang angkat Raina." Jawab Rendra.
"Lah?, terus gimana dong?." Tanya Panji.
"Kita berangkat aja, nanti Rafka yang bakal jemput." Terang Rendra dengan memakai sepatunya.
"Ouh iya, kalian mau tinggal dimana di sana nanti kalo udah sampe?." Tanya Ibu Andi.
"Rendra yang booking kamar ho-." Perkataan Panji terpotong.
"Kita ngga jadi di hotel." Sela Rendra cepat.
"Terus?." Tanya Panji, Andi, dan para Ibu-ibu.
"Kita bakal nginep di apart nya si Rafka." Terang Rendra.
"Lo minta sama dia?." Tanya Panji.
"Gua juga punya rasa malu kali Ji, mana mungkin Gua minta, dia nyuruh kita ada di sana, Gua udah nolak, tapi dia keukeuh, yaaaa Gua terima akhirnya." Jelas Rendra.
"Kirain Lo minta." Gumam Andi pelan.
"Ngga pernah Gua minta-minta sama orang." Celutuk Rendra yang mendengar gumaman temannya ini.
Andi hanya myengir kuda dan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal karena gumamamannya terdengar di telinga Rendra.
"Denger aja Lo, padahal udah pelan banget itu." Dengus Andi.
"Udah jan debat, bentar lagi ojek kita sampe." Beri tahu Panji.
"Ojol mana subuh-subuh mau nerima orderan?." Tanya heran Andi.
"Bukan ojol, Gua minta bantuan sama Faris, Fahmi, sama Fauzi buat anter kita ke stasiun." Jelas Panji.
"Gua kira ojol." Kata Andi.
"Ojol jam segini ojolnya Mbak Kunti kali, hahaha." Ibu Rendra ikut menyahuti perdebatan kecil itu.
"Hehehe, Tante bener juga." Cengir Andi.
"Bu?, Rendra berangkat, doa in Rendra selamat sampai tujuan." Rendra berpamitan dengan mencium punggung tangan sang Ibu, lalu berlaih mencium kening, dan kedua pipinya.
"Pasti, Ibu di sini bakal terus doa in kamu." Jawab Ibu.
Andi dan Panji juga berpamitan dengan cara yang sama pada Ibu masing-masing.
"Kalian berdua jangan nyusahin di sana." Tegas Ibu Andi pada Andi dan Panji.
"Bener tuh, hati-hati di kota orang." Pesan Ibu Panji.
"Kita di sana ngga lama kok Te, mungkin 3 hari atau 4 hari an, setelah itu kami bakal balik." Jelas Rendra.
"Ya tetep aja, mau lama kek atau sebentar kek, yang namanya pergi ya pergi." Sahut Ibu Rendra.
"Iya deh iya yang muda ngalah." Pasrah Rendra.
"Jangan sampe telat makan kalian disana, sholatnya juga jangan pernah di tinggal." Kini giliran Ibu Rendra yang memberikan petuah.
"Siiap 86 komandan." Jawab tegas Rendra, Andi, Panji dengan sikap hormat bak seorang Polisi.
"Udah kaya mau berangkat merantau yang pulangnya lama aja kita." Bisik Andi pada Panji dan Rendra.
Tapi mereka berdua hanya terkekeh menanggapi ocehan Andi.
Tak lama Faris, Fahmi, dan Fauzi datang.
'Tin... tin... .' Suara klakson motor 3 orang laki-laki itu terdengar.
"Ibu-ibu, kami berangkat dulu, jaga kesehatan masing-masing, jangan terlalu capek, Assallammu'allaikum." Pamit Rendra dan 2 temannya itu kompak.
"Iya, kalian juga hati-hati, banyak-banyak baca doa biar ngga ada gangguan perjalanan." Pesan Ibu Rendra.
Rendra, Panji, dan Andi mencium kembali punggung tangan 3 wanita paruh baya ini.
Lalu mereka naik ke atas motor orang yang akan mengantar mereka.
"Ati-ati bawa motornya Faris, Fahmi, Fauzi." Pesan Ibu Panji pada orang pembawa motor.
"Siiap Te, ya udah kita pergi dulu Te, assallammu'allaikum." Pamit Fahmi.
Mereka pun meluncur pergi dari rumah Rendra.
Jalanan masih lumayan sepi karena memang hari masih pagi buta.
"Ada kebutuhan toko yang barangnya hanya ada di sana, Gua mau beli itu." Jawab Rendra.
"Ouh, berapa hari Lo disana?." Tanya Fahmi lagi.
"Kurang lebih 3 sampai 4 hari an lah." Jelas Rendra.
"Gua denger-denger Shita juga ada di sana ya?." Kata Fahmi.
"Lo kepo banget sih Mi, kaya Mak-mak aja, hahaha." Rendra mengejek Fahmi yang banyak tanya.
"Namanya juga pengen tau, apalagi Gua ngga pernah liat Shita ada di desa kita, Gua denger dari nyokap Gua kalo Shita ikut Raina ke Jakarta." Panjang lebar Fahmi.
"Hmm, iya Shita ada di sana, Gua juga kesana mau nyamperin dia." Jujur Rendra.
"Lo bisa ngerasain kangen juga?." Tanya Fahmi tak percaya.
"Lo pikir Gua manusia berhati batu?, Gua juga punya rasa kangen kali Mi, sembarangan aja Lo kalo ngomong." Jengkel Rendra.
Dia memasang wajah kecut di belakang Fahmi.
"Hahaha, Lo kan dulu sama Shita udah kek Kucing ketemu Tikus, berantem mulu, terus sekali akrab Lo nya tiba-tiba ngejauh lagi." Fahmi menjabarkan sifat dan sikap Rendra dulu kepada Shita.
"Itu kan dulu Mi, sekarang beda lagi ceritanya." Kata Rendra.
"Hahaha iya dah terserah." Fahmi tertawa pelan dengan perkataan Rendra.
10 menit perjalanan, 3 motor itu pun sampai di stasiun.
Rendra, Panji, dan Andi turun dari motor lalu membayar untuk upah 3 ojek itu.
"Thanks ya." Ucap Fahmi dan 2 lainnya.
"Yoi." Jawab Rendra, Andi dan Panji hanya mengangguk kan kepala.
"Kalian boleh langsung pulang deh, kita mau masuk ke kereta dulu, makasih udah mau repot subuh-subuh anter kita." Ucap Rendra pamit.
"Ita, kagak papa lagi Dra, ati-ati kalian berdua." Balas Fahmi.
Rendra pun masuk ke stasiun.
Setelah beberapa proses untuk masuk ke kereta.
Merek pun sudah duduk di kursi masing-masing.
"Kita nyapenya jam berapa ini kira-kira?." Tanya Panji.
"Sore udah nyampe in syaa allah." Jawab Rendra.
"Udah kabarin Rafka lagi Lo?." Tanya Andi.
"Nanti aja pas udah nyampe di tujuan, Gua udah jelasin segalanya sama dia kemarin, kalo kita berangkat jam setengah 5 pagi." Terang Rendra panjang lebar.
"Ouh gitu, ok lah." Singkat Andi menjawab.
Kereta pun mulai melaju dan meninggalkan stasiun.
Di tempat Rafka Zarine.
Pukul 06.30 mereka berangkat ke sekolah.
Seperti kemarin juga, Akifa Abdiel, dan Abhi Alfi menumpang mobil Rafka Zarine.
Di dalam mobil.
"Raf?, jam berapa nanti kita jemput Rendra, Andi, ama Panji?." Tanya Abhi.
"Merek berangkat dari sana jam setengah 5 pagi, kita jempunta jam setengah 4 an lah kira-kira." Jelas Rafka.
"Shita masih belum tau kalo Rendra mau dateng?." Tanya Akifa.
"Kayanya belum deh, Gua juga kagak tau." Jawab Rafka.
"Bakal jadi surprise nih." Kata Akifa.
"Atau bisa jadi Shita malah ngambek?, ngga ada yang tau kan?." Sahut Alfi.
"Hehehe, makanya doanya jangan jelek." Tegur Zarine dengan terkekeh.
"Hah, dengerin tuh." Kata Akifa.
6 serangkai diam memakan makanannya yang ada di atas meja sambil meikirkan sesuatu.
Tiba-tiba.
"Hok yahhh!!." Tika datang dengan menggebrak meja 6 serangkai.
Sontak saja mereka semua berjingkat kaget.
__ADS_1
"Ketiak?!." Seru Akifa jengkel.
"Hahaha, sory-sory, habisnya kalian seru benget ngelamunnya." Tawa Tika pecah.
"Dasar gila." Umpat Rafka.
"Eh... adik ipar ngga boleh durhaka sama kakak ipar, di kutuk jadi kodok loh nanti." Tika menakut-nakuti Rafka dengan duduk di sebelah Zarine.
"Kagak takut Gua, emang dasarnya Lo juga biang keroknya, ouh ya dan satu lagi, Lo masih 'calon kakak ipar' ingat itu, jadi aja belum tentu." Sungut Rafka jengkel sambil diakhiri gumaman dan dengan menekan kata 'calon kakak ipar'.
"Hahaha, ok ok Gua minta maaf, jangan gitu dong Raf, bisa-bisa serangan jantung di tempat Gua kalo ngga jadin nikah sama Kak Zaidan, gini deh sebagai gantinya biar Gua yang bayarin semua makanan kalian." Kata Tika dengan menaik turun kan alisnya dan tersenyum manis.
"Wah... wah... royal nya keluar nih." Celutuk Akifa.
"Hehehe, pesen dah apa mau kalian, Gua yang yabar." Sombong Tika bermaksud bercanda.
"Bayar Tik, bayar." Ralat Alfi.
"Iya dah apa aja terserah." Kata Tika dengan cengiran kudanya.
Akifa dan Abdiel tanpa malu atau pun segan lagi.
Mereka memesan banyak makanan dan memakannya lahap.
"Buset dah laper apa doyan sih?, perut apa an kalian?!." Cengo Tika melihat betapa antusias dan semangatnya dua pasangan ini soal makanan.
"Ck... ck... ck... asli kagum Gua sama tuh perut." Celoteh Tika.
Abhi, Akifa, Zarine, dan Rafka terkekeh geli atas tingkah 3 orang di depannya.
2 orang sibuk makan sampe berebut kaya orang ngga pernah makan satu minggu.
Sedangkan satunya lagi melongo dengan mata membulat tak berkedip dan mulut menganga.
Tika juga sampai menelan salivanga terheran.
"Udah ngga usah peduli in mereka." Kata Rafka pada calon istri kakaknya ini yang berarti calon kakak iparnya juga.
"Ah iya deh, liat mereka makan mendadak kenyang Gua, ouh iya tadi kalian ngelamunin apa sih?." Tanya Tika kepo.
"Ngga ada yang di lamunin 'kak Tika'." Elak Zarine dengan menggoda Tika.
"Ihhh, jangan panggil Kak dong Za, tua banget apa Gua?." Cemberut Tika.
"Hahaha." Tawa 6 serangkai meledak dengan pelan.
"Yaaa ngga terlalu sih, Bang Idan aja umurnya masih 22 an, palin loh yaaa, Gua kurang paham sama umur tuh bujang lapuk." Jelas Abdiel dengan sedikit makanan ada di mulutnya.
"Jorok Lo, makan jangan ngomong Abdiel!." Seru Abhi.
"Kalo mau makan habisin dulu itu di mulut kamu Yang, jangan jorok ah, aku tenggelamkan ke laut kamu nanti, mau?1." Ancam Akifa.
"Jadi janda muda dong kamu entar." Jawab Abdiel asal dengan suara pelan.
Akifa jengkel, dia mendelik kan kedua matanya lebar-lebar.
"Hehehe, peace Yang." Kata Abdiel dengan membentuk jarinya menjadi buruf V.
"Hahaha." Tawa kembali terdengar pelan dari meja kantin pojok tempat 6 serangkai.
Dipintu masuk kantin, seseorang memperhatikan interaksi 7 orang itu dengan wajah memerah dan tangan terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih.
'Kenapa si Zarine malah makin lengkat?!, apa dia ngga baca ancaman Gua di lacinya?.' Tanya Bella heran.
Karena jengah memandang interaksi antara incarannya dengan cewek lain, Bella pun memilih pergi dari kantin.
Kembali ke meja 7 orang yang sedang tertawa riang itu.
"Kita ngga lagi ngalmunin apa-apa Tik." Alfi berucap.
"Tapi dari jauh muka kalian kaya nglamun gitu." Keukeuh Tika.
"Lo kepo banget sih ketiak ama urusan orang?." Kata Akifa dengan tertawa kecil karena panggilannya kepada tika.
"Yaaa pengen tau aja, Gua juga pengen bantu kalo kalian tertimpa ujian." Jelas Tika.
"Kalo aku tadi emang sempat melamun." Jujur Zarine.
"Nah kan?, apa yang kamu lamunin Za?." Tanya Tika antusias karena tebakannya pas.
"Nanti sore Rendra kan dateng, aku pengen Rendra sama Shita ketemu gitu, tapi aku ngga dapet ide sama sekali." Terang Zarine dengan senyuman manisnya.
"Pemikiran aku jug kaya kamu." Kafa Rafka.
"Nah sekarang mari kita susun rencana bareng." Kata Abdiel serius.
"Apa?, Lo punya ide kah,." Tanya Alfi.
Hening sesaat.
Lalu... .
"Gua punya." Kata Tika dengan menggebrak meja.
6 serangkai kembali terkejut.
"Hobi banget sih Lo... kaget Gua ketiak." Gemas Akifa yang duduk di sebelah kanan Tika dengan memiting kepala Tika.
"Aduyh, Mak Ipah!, lepas Mak." Seru Tika.
Akifa pun melepaskannya.
Dia juga sebetulnya tidak keras memiring kepala Tika.
"Jangan suka nggebrak meja, salah salah fasilitas sekolah rusak Lo yang bakal ganti ntar." Kata Akifa.
"Ampun Mah Ipah." Jawab Tika dengan mengatupkan kedua tangannya meletak kan di depan wajah Akifa.
Zarine dan lainnya hanay terkekeh melihat 2 cewek ini.
"Jadi?, apa rencananya?." Tanya Alfi.
"Gini... ." Tika menceritakan isi otaknya dengan tersenyum jahil.
10 menit kemudian.
"Wah ide Lo bagus juga." Kagum Akifa.
"Thanks Mak Ipah." Jawab Tika meledek Akifa dengan memanggilnya Mak Ipah.
"Nurunin sifatnya Bang Idan ini mah." Gumam Rafka.
"Hahaha, jelas dong, Gua kan calon bininya, lagi pula jodoh itu cerminan diri sendiri." Ceramah Tika panjang.
"Bener Lo ketiak, kagum Gua sama Lo." Puji Akifa dengan mengacungkan ibu jarinya dan menempelkannya di dahi Tika.
Tika terdorong sedikit ke belakang.
"Kira-kira Mak, Gua ngga mau jatoh." Kesal Tika.
'Ring... ring... ring... .' Bel tanda masum berbunyi.
Semua siswa siswi di kantin berdiri dari duduknya dan pergi ke kelasnya masing-masing.
"Udah masuk aja." Kata Tika.
"Ayo pergi." Ajak Zarine yang diangguki lainnya kecuali Tika.
"Kalian duluan aja, Gua mau beli minum, kering bat rasanya tenggoronkan Gua." Kata Tika.
6 serangkai menurut.
Mereka meninggalkan Tika sendiri di kantin.
Kemudian Tika berjalan ke arah penjual yang menerima pesanan 6 serangkai untuk membayarnya susuai janji.
Setelah itu dia mangambil minuman dingin di kulkas sang penjual, membayarnya lalu meminumnya hingga sisa setengah.
"Alhamdulillah." Lega Tika.
Dia berjalan untuk ke kelas.
"Berenti ganggu mereka!!." Teriak seseorang dengan keras dari arah taman belakang sekolah.
"Buset, pake oktaf keberapa tuh., untung udah sepi" Gumama Tika.
Tika berhenti sejenak dari langkahnya untuk mendengar pembicaraan lebih lanjut.
"Masih banyak kali cowok yang ngantri di belakang Lo, ngapain Lo mau jadi pelakor?." Kata seseorang itu.
'Kaya suaranya Zahra.' Batin Tika.
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.