
Suasana pagi di rumah Rafka Zarine sama seperti hari-hari kemarin.
Harmonis dan damai.
Saat makan di meja makan, Rafka melihat isi piring Zarine.
"Kenapa makannya cuma segitu?." Tanya Rafka yang melihat piring Zarine yang hanya berisi nasi goreng setengah centong nasi.
"Aku males sarapan." Jawab Zarine.
"Tumben?." Heran Rafka.
Setelah mengatakan itu, Rafka mengambil alih piring sarapan Zarine.
"Yang?." Panggil Zarine.
"Aaa... buka mulut, kalo kamu makan sendiri kelamaan, kita bisa telat." Kata Rafka.
Zarine hanya tersenyum dan kemudian membuka mulutnya.
Rafka sudah menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.
Baru dapat 5 suap nasi goreng, Zarine sudah tidak mau membuka mulutnya.
"Udah." Tolak Zarine.
"Yang?, ngga baik tau sisa in makanan, tinggal 3 suap lagi, ayo buka mulut, aaaa... ." Bujuk Rafka lembut.
Dengan terpaksa Zarine membuka mulutnya.
Entah mungkin bosan dengan menu sarapannya atau karena malas sarapa, Zarine tidak tau, yang di tau di tidak mood untuk sarapan.
Setelah makanan di piring Zarine habis, Rafka memberikan susu yang sudah ada di sediakan untuk Zarine di depannya.
"Ayo segera berangkat." Ajak Zarine.
"Ayo." Jawab Rafka.
Mereka berdua meluncur pergi ke sekolah dengan menggunakan mobil.
20 menit kemudian mereka sudah sampai di tempat parkir SMA Merdeka.
Rafka Zarine turun dari mobil dan akan menuju ke kelas mereka di lantai 4.
Sesampainya di kelas.
Suasana kelas agak sepi, karena para siswa siswi lebih memelih ada di kantin sekolah menunggu bel upacara berbunyi.
"Assallammu'allaikum." Salam Rafka Zarine setelah memasuki kelas.
"Wa'allaikum sallam." Jawab orang yang ada di dalam kelas.
Rafka Zarine duduk di tempatnya yang berada di belakang bangku Abdiel Akifa.
"Kita turun kuy nunggu bel nya di kantin sambil kita ngemil." Ajak Akifa.
"Ayo." Jawab kompak Alfi dan Zarine.
3 perempuan itu keluar kelas.
Sebelum sampai di pintu Akifa berhenti mendadak.
"Kalian para cowok ngga mau ikut?." Tanya Akifa yang berbau ancaman 'Kalo kalian ngga ikut awas aja!.' Begitu nada tanya Akifa dan di tanggapi anggukan oleh Alfi dan Zarine.
"Hehehe iya Yang ini mau berdiri kok." Jawab Abdiel kelabakan.
Akifa tersenyum manis dan pergi dari kelas menuju kantin di ekori Alfi Zarine.
"Ayo ikut, nanti kalo sampe Ibu Ratu murka berabe bisa bahaya kita." Kata Abdiel.
3 cowok itu juga ikut keluar kelas dan menyusul Ibu Ratu mereka.
Di kantin.
6 serangkai duduk di bangku pojok kantin, tempat favorite mereka ber 6.
Selang 5 menit duduk.
Tika datang masuk ke kantin.
__ADS_1
Zarine yang melihat Tika segera melambaikan tangannya.
Memberi tahu bahwa dirinya duduk di bangku pojok kantin.
Tika menghampiri Zarine dan lainnya kemudian duduk di sebelah Alfi.
"Hai semua, hehehe." Tika menyapa 6 setangkai di sertai cengiran kudanya.
"Wah.. wah.. CaKIp nih." Ledek Abdiel.
"CaKIp?." Tanya Akifa dan lainnya kompak.
"Iya CaKIp, Calon Kakak Ipar." Jelas Abdiel.
"Ada-ada aja sih Yang kamu." Kekeh Akifa.
"Ya walaupun Gua bakal jadi Kakak Ipar kalian berdua tetep panggil Gua pake nama aja, jan pakek kata 'Kak', bayangin aja geli Gua." Pinta Tika di akhiri gidik kan bahu pada Rafka Zarine
"Hahaha, iya deh." Jawab Zarine.
"Lagian Lo ngga cocok di panggil 'Kakak'." Timpal Rafka jujur.
Tika hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan tersenyum garing.
"Hahahaha." Tawa Akifa, Abdiel, Abhi, juga Alfi pecah, Zarine hanya terkekeh lucu melihat raut muka Calon Kakak iparnya.
'Kring... ring... ring... .'
"Ayo kelapangan." Ajak Tika yang di angguki oleh 6 serangkai.
Upacara kali ini terlaksana agak memakan waktu lama karena amanat dari kepala sekolah yang panjang udah kek rel kereta.
Pukul 7 lebih 15 menit upacara baru di bubarkan.
6 serangkai langsung melangkah pergi menuju kelas.
"Eh?, kalian udah ambil paket belum?." Tanya Akifa.
"Belum." Jawab Rafka Zarine dan Alfi Abhi.
"Kuylah ambil di TU." Ajak Akifa.
Ke tiga cowok itu turun ke lantai dasar ke ruang TU.
Sementara di kelas Akifa, Alfi, Zarine ngerumpi di bangku masing-masing.
"Guru pertama yang masuk siapa nih?." Tanya Alfi.
"Pak Andi." Jawab Akifa.
Akifa membulatkan matanya.
"Tunggu!.. Pak Andi?!, duh pagi-pagi kok sarapannya angka sih!." Gurutu Akifa.
"Hehehe, sabar." Kekeh Zarine.
Akifa cemberut dan menggembungkan pipinya.
"Udah jan di gembungin tuh pipi, jatohnye kek ikan buntal tau, hahaha." Tawa pecah Alfi.
Akifa memasang wajah kecut mendengar ledekan Alfi.
Pak Andi datang dan di belakangnya di ikuti Rafka, Abdiel, dan Abhi.
"Assallammu'allaikum." Salam kompak 4 orang laki-laki itu.
"Wa'allaikum sallam." Jawab seluruh murid di kelas.
"Kalian bertiga sejak kapan ada di belakang saya?!." Tanya Pak Andi terkejut dengan kehadiran Rafka, Abhi, dan Abdiel.
Mereka ber tiga saling pandang heran.
"Kita bertiga udah dari tadi di lantai dasar ada di belakang Bapak." Jawab Rafka.
"Masa sih?." Tanya ragu Pak Andi.
"Buat apa kita bohong Pak?." Gemas Abdiel.
"Kok saya ngga ngeliat kalian?." Tanya Bapak curiga.
__ADS_1
"Lah?!, kita kira Bapak udah tau kalo kit ada di belakang Bapak." Jawab Abdiel.
"Udah Pak jangan ribut, nanti darah tingginya naik loh." Lerai Akifa.
Satu kelas tertawa cekikikan mendnegar kalimat candaan Akifa.
Pak Andi melototkan matanya pada Akifa.
"Pak, jangan dilebarin matanya, nanti lepas loh dari tempatnya." Kini Abdiel yang memperingatkan.
"Hahahaha." Tawa satu kelas dengan pelan.
"Aduh, udah, ini masih pagi, saya ngga mau nguras energi lebih banyak lagi buat kalian semua, kalian bertiga! Pergi duduk sana, bikin tambah pusing aja." Suruh Pak Andi sudah jengkel.
Rafka, Abdiel, dan Abhi duduk di bangkunya dengan memberikan sebagian buku yang di bawanya kepada istri-istri mereka.
"Makasih, sayangku." Lirih Akifa kepada Abdiel.
"Kembali kasih Yang." Jawab Abdiel dengan tersenyum manis.
"Makasih." Ucap tulus Alfi.
"Kembali." Jawab Abhi dengan senyumannya.
"Makasih Yang." Zarine mengucapkan lirih.
"Sama-sama." Jawab Rafka dengan mencubit hidung Zarine pelan.
Pak Andi melihat ke 6 siswa siswi nya itu menggelengkan kepalanya.
"Ayo semuanya buka buku paket kalian halaman 20, mohon di berhentikan dulu kemesraannya dan hadap ke papan tulis." Perintah Pak Andi bernada menyindir 6 serangkai.
Seluruh siswa siswi di kelas melaksanakan perintah Pak Andi.
"Pak Andi sirik." Bisik Akifa ke arah Alfi.
"Huts diem, udah biarin aja, hadap depan sana." Suruh Alfi.
Akifa mendengus jengkel.
Pelajaran matematika yang penuh angka terlewati dengan lancar.
Sebagai tugas, seluruh kelas di perintahkan mengerjakan lembar soal yang terdapat 45 butir soal di sana.
"Besok pagi haru ada di meja kantor saya." Tegas Pak Andi.
"Hah?!." Seru satu kelas mengeluh.
"Jangan mengeluh, kalo mengeluh saya kurangi waktunya." Tagas Pak Andi.
"Iya Pak siap." Lesu satu kelas menjawab.
"Saya akhiri kelas kita hari ini, assallammu'allaikum." Pamit Pak Andi dan pergi dari kelas.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua siswa siswi.
Suasana kelas 12 IPS 1 sangat gaduh.
6 serangkai memilih mengerjakan tugas dari Pak Andi dari pada ikut gaduh.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1