
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Nd... nda... ndak boleh ikut pokok e!." Jawab Agnez gugup menguasai hati dan jantung nya.
Di saat Angkasa hendak berbicara lagi, Wulan menutus perdebatan 2 pasang anak manusia ini.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Dah napa jangan berantem mulu, bentar lagi jam istirahat akan selesai, Agnez lanjutin makan kamu, acuhin dulu tuh depan kamu, jangan ladenin, bisa-bisa sampai lebaran monyet nanti ngga bakal selesai perdebatan unfaedah kalian!." Lerai Wulan berbicara panjang lebar.
Agnez pun menurut dengan omongan Wulan, yang di kata kan Wulan memang benar kalo dia meladeni Angkasa.
Angkasa memperhati kan Agnez yang tengah makan. Sungguh lucu sekali ekspresi dia saat menyuap satu bulatan bakso ke dalam mulut kecil nya, pipi nya menggembung imut.
Kali ini Angkasa bukan lagi tersenyum miring dengan pelit, dia tersenyum lebar bahkan terkekeh pelan.
Damar Wulan, Albhi, Kristal, Pamungkas, dan Citra, juga Lolita menatap Angkasa cengo, pasal nya mereka semua tak pernah melihat Angkasa tersenyum dengan orang selain sahabat dan para orang tua nya, juga orang tua sahabat-sahabat nya.
Ini kejadian sangat langkah, Angkasa bisa tersenyum lebar berkat seorang gadis mungil yang bicara Indonesia nya belepotan, gadis manis yang baru datang dalam kehidupan nya.
"Jangan senyum mulu! Orang-orang liatin nya aneh tau!." Seru Pamungkas menegur sang sahabat yang duduk tepat di sebelah nya.
Angkasa tersadar dari tingkah nya, dia menatap 5 sahabat nya ini, dan tak lupa memandang Citra juga Lolita.
"Apa?!." Ketus Angkasa berucap, dan itu langsung menciut kan nyali Lolita serta Citra.
Tiba-tiba... .
'Drttt... drttt... .' Ponsel Lolita berdering membuat lain nya menatap ke arah nya.
Dengan cepat Lolita menyambar ponsel nya lalu menjawab panggilan itu, sebelum menjawab, Lolita meminta ijin pada senior-senior nya itu.
"Assallammu'allaikum? Ada yang bisa saya bantu Bu Lutfi?." Sapa Lolita terlebih dahulu.
'... .' Lolita mendengar kan penuturan dari Bu Lutfi, seseorang yang menelfon nya.
"Iya Bu, saya sama Citra segera ke ruangan Ibu." Balas Lolita cepat.
'... .' Lolita diam kembali mendengar kan.
"Iya Bu, wa'allaikum sallam." Panggilan dari Bu Lutfi pun selesai.
"Citra? Ayo ikut aku ke ruangan nya Bu Lutfi." Ajak Lolita.
"Hmmm... ayo." Balas Citra cepat.
Dua remaja itu sudah akan berdiri dari duduk nya dan akan berpamitan pada 6 serangkai dan Agnez tapi... .
"Kalian ndak mau nunggu aku dulu? Tunggu bentaran lagi lah, aku mau selesai ini." Pinta Agnez memohon.
"Udah kamu balik sendiri aja ke kelas nya, ingat kan jalan nya? Aku sama Citra mau ke ruangan Bu Lutfi ada kerjaan, kami pamit dulu, semua nya assallammu'allaikum." Salam 2 gadis itu dan pergi meninggal kan Agnez bersama 6 serangkai tanpa mendengar jawaban salam.
"Wa'allaikum sallam." Jawab 6 serangkai semangat, sedang kan Agnez menjawab salam dengan lesu.
"Ngga usah lesu gitu! Kalo amnesia sama jalan ke kelas biar aku yang anter, 10 IPS 1 kan?." Kata Angkasa acuh, dia berbicara dengan menatap tajam mata Agnez.
Agnez memasang wajah konyol nya saat mendengar omongan Angkasa sang senior nya ini.
"Mas Angkasa ndak usah repot-repot, aku masih hafal sama jalan ke kelas ku sendiri." Ujar Agnez ketus.
"Agnez? Kamu dari Jawa Tengah bagian mana nya?." Tanya Kristal kepo.
"Di Malioboro nya Mbak." Jawab Agnez singkat, pancaran bahagia di mata Agnez begitu nampak dengan jelas saat Kristal menanya kan asal daerah nya, terselip rindu di hati Agnez dengan kota nya itu, binaran mata itu membuat Angkasa tak kuasa menahan gemas.
Cowok tampan itu sampai menahan diri dengan mengepal kan ke dua tangan nya di paha nya agar tak mencubit dan mengacak rambut Agnez yang tepat di depan nya.
Damar yang melihat itu menepuk pundak Angkasa sedikit keras seperti menyalur kan kekuatan.
"Kontrol rasa pengen Lo buat kontak fisik dalam hal apa pun sama dia Bro!." Peringat Damar berbisik lirih di telinga sang sepupu.
Angkasa menarik nafas sebanyak-banyak nya dan menghembus kan nya secara perlahan.
"Di sana bahasa jawa nya kental banget yah Nez?." Tanya Wulan.
"Iya Mbak, apa lagi aku di rumah di wajib kan sama Ibu dan Ayah pake bahasa Jawa Krama Inggil, jadi yah gini deh, kalo ngomong bahasa Indonesia agak kaku, hehehe... ." Jelas Agnez panjang lebar di akhiri kekehan lucu nya.
"Ngomongin bahasa Jawa, Bunda aku dari Jawa juga, tepat nya Jawa Timur." Papar Pamungkas ikutan nimbrung di permbicaraan 3 gadis di depan nya ini.
"Berarti Mas nya bisa bahasa Jawa?." Tanya Agnez antusias.
"Hahaha... ya tentu aja dong... ." Gantung Pamungkas dengan tertawa keras.
Mata Agnez makin tampak berbinar terang, dalam hati nya dia sangat senang.
"Ya tentu aja dong ngga bisa, hahaha... ." Lanjut Pamungkas yang di respon dengan wajah kecut khas Agnez.
"Tak pikir Mas nya bisa." Cetus Agnez bergumam.
"Bisa nya bisa Nez, cuma beberapaa kata doang tapi, kaya 'Enggeh' 'Mboten' sama 'Peken' ya yang simple-simple aja." Jawab Pamungkas setelah berhasil menetral kan tawa nya yang meledak keras tadi.
"Peken itu apa emang Bang?." Tanya Wulan kepo.
"Peken itu bahasa Jawa nya pasar Wulan." Jawab Pamungkas.
Wulan hanya membalas dengan angguk kan kepala dan mulut nya membentuk huruf O tanpa bersuara.
Suasana di meja mereka hening sesaat hanya suata kecapan yang terdengar pelan.
"Agnez? Ikut kita yuk nanti ke Cafe ZAARA." Ajak Wulan semangat.
"Mau apa ke sana to Mbak?." Tanya Agnez polos.
"Mau latihan penahan." Bukan Wulan tentu saja yang menjawab, itu suara Angkasa dengan nada sengak nya berbicara menjawab pertanyaan dari gadis manis itu.
Agnez menatap Angkasa tajam.
__ADS_1
"Mas nya ini loh, kalo di tanya jawab nya utu mbok seng nyenengke ngunu loh! Jangan sewot bin sengak gitu jawab nya, ndak enak denger e Mas." Ucap Agnez jujur, bibir nya mengerucut lucu saat mengatakan isi hati nya dengan panjang.
"Lagian saya juga tau fungsi Cafe buat apa, maksud aku tuh, kita ke sana selain ngopi mau ngapain? Aku juga butuh alasan ben Ayah sama Ibu ijinin keluar." Lanjut Agnez berbicara.
Ekspresi ngambek Agnez membuat Angkasa bukan malah merasa bersalah malah membuat nya ingin mencium si Agnez.
Dia terkekeh pelan sampai membuat Agnez makin bertambah kejengkelan nya.
"Bukan nya minta maaf sudah bikin orang ngambek malah ketawa ndak jelas, Mbak Wulan, Mbak Kristal, Mas Pamungkas, Mas Albhi, sama Mas Damar, Agnez balik ke kelas dulu yah, maaf Mbak Agnez ndak mau ikut ke Cafe nya, permisi semua nya, assallammu'allaikum." Salam Agnez setelah menolak ajak kan Kristal untuk ke Cafe ZAARA.
"Wa'allaikum sallam, ok it's ok Nez, tapi lain kali harus ikut yah." Balas Wulan sambil menampak kan senyuman manis nya. Sebenar nya dalam hati Wulan mengutuk ke sengak an Angkasa.
"Hehehe... in syaa Allah ya Mbak, ndak bisa janji." Kata Agnez. Dia berjalan pergi.
Setelah membayar bakso nya pada Ibu kantin dia pergi keluar kantin dengan wajah masih cemberut merajuk.
Sepeninggalan Agnez.
"Ck! Ancur semua nya!." Seru Pamungkas jengkel.
"Bang Angkasa ngga bisa apa kalo jaga mulut pedes nya? Kasian tau Agnez." Ucap Wulan yang pandangan nya masih mengarah pada pintu keluar kantin.
"Tau nih! Mulut mu itu loh perusak suasana Paijo! Yang nama nya PDKT masa kaya gitu sih?." Jengkel Pamungkas.
"Lembut dikit bisa kali, dia cewek Angkasa." Datar Damar menasihati sepupu sekaligus sahabat nya ini.
"Liat muka ngambek dia bikin aku lupa diri, gemesin tau ngga kalo dia ngambek gitu, hahaha... ." Tawa Angkasa terdengar pelan.
"Ck! Jangan di ketawa in ah! Kasian! Mending nanti pulang sekolah Bang Angkasa bujuk dia, minta maaf yang lebih utama, biar dia balik senyum lagi." Saran Wulan pada Angkasa.
"Kasian banget si Agnez, baru pertama masuk di sekolah baru, eh malah di bikin bad mood ama si Angkasa, ngga punya hati kamu!." Seru Kristal mendramatisir suasana.
'Ring... ring... ring... .' Bel tanda masuk kelas telah berbunyi, semua murid bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran di kelas masing-masing.
Di kelas Agnez.
Gadis itu duduk di bangku nya yang bersebelahan dengan Rio.
"Nez? Kamu kenapa? Kok gitu muka nya, ngambek, bibir nya maju udah kaya Bebek aja." Goda Rio sambil terkekeh.
"Ndak papa kok cuma tadi aku ketemu sama orang ngeselin, dan sekarang memang aku lagi kesel, kamu jangan nambai kekesalan ku!." Peringat Agnez tajam pada Rio.
Cowok itu terkekeh pelan dan mengangguk kan kepala dengan bergaya mengunci resleting di depan mulut nya, yang mengarti kan dia akan diam tak banyak bicara.
Hal itu membuat Agnez tersenyum sembari mengacung kan jari jempol nya kepada Rio.
Waktu terus berjalan, tak terasa kini jam sudah menginjak angka 15.30 sore.
Semua siswa siswi SMA Merdeka bergegas untuk pulang, tidak semua nya sih, hanya sebagian, sebagian lagi masih tinggal di sekolah untuk melakukan ekskul.
Di koridor kelas dekat mushollah sekolah, Agnez berjalan hendak menuju gerbang untuk menunggu jemputan nya.
Agnez berjalan dengan di iringi gumaman lagu indah dari bibir nya. Seperti nya mood nya kembali naik, bukti nya di perjalanan dia menyapa senior-senior nya dengan ramah baik senior laki-laki dan senior perempuan.
Tapi sayang nya sapaan ramah Agnez tak ada yang membalas nya, terutama senior cowok, mereka memilih membuang muka dan berlari menjauh dari Agnez.
"Kenapa semua nya lari to? Aku nakutin kah? Kaya e ndak deh." Monolog Agnez terheran-heran.
Gadis manis itu tak merasa jika langkah nya di ikuti, dan kenapa sapaan ramah nya tak di jawab terutama pada senior laki-laki? Tanya kan jawaban nya pada Angkasa yang tengah berjalan di belakang Agnez sembari menatap tajam semua siswa siswi yang di sapa Agnez terutama para cowok.
Sedari tadi saat masih ada di mushollah, Angkasa mengikuti Agnez dalam diam, langkah nya bahkan tak bersuara sama sekali, si Angkasa memang hebat dalam menguntit seseorang.
Agnez yang merasa aneh karena semua orang yang di sapa nya selalu menatap belakang nya, dia pun berhenti dan spontan menoleh.
Angkasa juga reflek berhenti dan mematung di tempat saat aksi nya sudah di ketahui Agnez.
Sedang kan Angkasa, dia malah menyengir lebar bak orang tanpa dosa.
"Mas Angkasa ngapain di belakang aku? Kurang kerjaan banget buntutin orang mau pulang!." Dengus Agnez masih jengkel pada Angkasa.
"Ayo ikut aku!." Sebuah ajak kan, ouh ralat! Maksud nya sebuah perintah yang tak dapat di tolak Agnez.
Tangan Agnez sudah di tarik lembut oleh Angkasa.
"Eh Mas?! Mau ke mana? Agnez mau pulang! Ndak mau ikut Mas Angkasa!." Seru Agnez menolak, dia ingin berontak tapi sayang dengan lengan nya yang akan sakit, jadi mau tidak mau dia mengikuti langkah Angkasa.
"Dah jangan banyak protes, aku ngga bakal macem-macem! Percaya deh." Angkasa menenang kan Agez dengan perkataan lembut nya.
Agnez sedikit tercengang mendengar penuturan lembut dari senior yang beberapa jam lalu membuat nya merajuk.
"Mas Angkasa kerasuk kan apa to? Kok jadi lembut gini? Nakutin banget! Dan lagi yah kalo Mas Angkasa mau macem-macem, aku bakal aduin ke Ayah biar Mas di sunat lagi." Ucap Agnez serius.
Angkasa tak menyahut, tapi hanya membalas omongan nya Agnez dengan kekehan pelan nya.
Lama berjalan, Agnez dan Angkasa sampai di atap sekolah.
Genggaman tangan Angkasa merenggang dan membiar kan Agnez berjalan ke tengah atap.
"Waaahh! Ini di mana Mas?." Tanya Agnez takjub.
"Ini di atap sekolah." Jawab Angkasa cepat.
"Cantik banget jeh! Banyak angin juga di sini, jadi sejuk." Puji Agnez dengan binaran mata bahagia.
"Ini tempat nongkrong aku dan tempat bolos sama lain nya kalo lagi ngga mood sama pelajaran dan ngga mood sama kantin." Papar Angkasa jujur.
Agnez menjawab dengan mengangguk-angguk kan kepala.
Beberapa saat keheningan terjadi di antara Agnez dan Angkasa, Agnez sibuk menatap keindahan di atas sini.
Beberapa menit kemudian.
"Ouh iya Mas, Mbak Wulan, Mbak Kristal sama Mas-mas lain nya ke mana?." Tanya Agnez yang ingin tahu.
"Mereka kaya nya udah pulang." Ujar Angkasa menebak-nebak.
"Loh? Mas Angkasa ndak ikut pulang." Tanya Agnez heboh.
"Ngga, nanti aja, ada 'Anak Bayi' lagi ngambek tadi, aku mau bujuk sama minta maaf sama 'Anak Bayi' itu." Jelas Angkasa sambil menekan kata 'Anak Bayi'.
Agnez yang paham maksud dari senior nya itu menunduk kan kepala dan pipi nya tiba-tiba memanas, pipi Agnez berubah warna menjadi merah bak kepiting rebus.
Angkasa yang melihat itu semakin di buat gemas.
"Aku minta maaf sama kamu udah bikin bad mood." Ucap Angkasa dengan manatap mata Agnez teduh.
Agnez yang ada di depan Angkasa tercengang sampai tak dapat berkata apa-apa lagi. Dalam hati dan pikiran nya berkecamuk bertanya-tanya 'Apa benar yang di depan nya ini adalah Angkasa? Pria yang dari pertemuan pertama sudah mengacak-ngacak mood nya?' Agnez seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar.
Karena Angkasa melihat Agnez melamun, pria itu menegur nya dengan menepuk pucuk kepala nya perlahan sebanyak 2 kali.
Agnez tersadar lalu tersenyum jenaka menatap Angkasa yang menjulang tinggi di depan nya.
"Iya ngga papa Mas udah aku maafin, lagi an cuma masalah kecil, tapi emang sih sifat Mas nya ngeselin." Ujar Agnez panjang.
Angkasa terkekeh lirih mendengar ucapan jujur Agnez gadis kecil nya.
Tunggu dulu?! Angkasa bilang gadis kecil nya?! Heh! Sejak kapan?! Allahu Rabb suka banget klaim orang jadi milik nya! Dasar si Angkasa.
Anak Mama Tika itu telah mengakui sisi Agnez, udah kek perusahaan aja di akui sisi, emang si Agnez barang?! Tau Mak Bapak nya kena gibeng tuh si Angkasa.
__ADS_1
"Agnez? Tinggi nya berapa?." Tanya Angkasa sambil mengelus pucuk kepala gadis nya itu.
"160, emang ada apa seh Mas?." Tanya balik Agnez kepo.
"Pantes aja... ." Cetus Angkasa menggantung dengan lirih.
"Pantes apa?." Kata Agnez meminta jawaban yang jelas.
"Pantes aja pendek!." Jawab Angkasa cepat di akhiri dengan cubitan di pipi Agnez dan kemudian cowok tampan itu berlari sambil tertawa.
Agnez yang tak terima di panggil pendek, walau memang itu kenyataan, dia mengejar Angkasa yang berlari sangat kencang di sekitaran atap ini.
"Mas Angkasa?! Baru aja minta maaf udah buat salah lagi! Sini kamu!." Seru Agnez geram.
Dia mengejar Angkasa dengan langkah yang tentu saja kalah dari Angkasa, satu langkah kaki Angkasa sama dengan dua kali langkah Agnez.
20 menit bermain 2 sejoli itu berhenti dengan nafas tersengal-sengal.
"Udah ah Mas! Aku capek!." Seru Agnez menyerah, dia memilih duduk sambil lonjoran di tengah-tengah atap.
Matahari semakin condong ke arah barat, 2 sejoli yang tengah duduk bersama sambil saling bercanda itu menatap matahati dengan pandangan takjub.
Saat tersadar waktu, Agnez terjingkat.
"Astaghfirullah Mas! Ini udah mau surup! Aku pasti di cari in nih sama Ibu mana ndak pamit lagi." Agnez cemas.
Angkasa memegang ke dua pundak Angnez bermaksud menenang kan.
"Ada aku, kamu ngga usah cemas, ayo aku anter pulang." Ajak Angkasa.
"Loh? Kata nya sahabat-sahabat Mas udah pulang?." Kata Agnez heran.
"Mereka ngga pulang, mereka nunggu in kita di parkiran, percaya deh." Balas Angkasa meyakin kan.
Memang tadi Angkasa mendapat WA dari Damar bahwa mereka menunggu di parkiran sekolah, Damar juga sudah ijin kepada para tetuah akan pulang lebih sore.
Agnez sempat ragu, tapi melihat keyakinan Angkasa, Agnez pun mengangguk mempercayai.
Mereka berdua kemudian turun dari atap berjalan ke arah parkiran sekolah.
Hampir tak percaya rasa nya bahwa dua makhluk Allah itu akur, mengingat tadi siang mereka bak Tom & Jerry, tiba-tiba saja sekarang akur, rencana Author memang kadang indah😂.
Di parkiran mobil.
"Ck! Lama banget sih mereka berdua! Karatan nih aku nunggu nya!." Seru Kristal kesal.
"Sabar Kris, maklumin aja, mereka kan 2 orang remaja yang kagi kasmaran, ya pasti lah kalo berdua ngga akan inget waktu." Ucap Wulan menenang kan sang sahabat tercinta nya.
"Gimana mau tenang coba! Ini udah jam setengah 5 loh! Aku ngga lagi khawatirin Angkasa nya Wulan, tapi khawatirin si Agnez." Jelas Kristal yang di jawab angguk kan kepala paham oleh Wulsn, Damar, Albhi, dan Pamungkas.
Sedang kan di rumah Agnez.
"Loh? Mas Bambang? Agnez nya mana?." Tanya Ibu Dewi, Ibu nya Agnez.
"A... anu Bu... Mbak Agnez ngga ada di sekolah jeh, saya sudah ke sana 2 kali, HP nya juga ndak bisa di hubungi, nomer nya ndak aktif." Panjang Mas Bambang berucap.
Setelah mengatakan itu Mas Bambang ijin pamit masuk ke dalam rumah hendak ke kamar mandi.
"Ck! Kemana dulu seh anak ini! Udah di kasih pesen kalo mau main bilang dulu, ini malah buat Ibu, Ayah sama supir nya cemas, mana udah mau surup lagi." Sang Ibu cemas, guratan ke khawatiran jelas tersirat di wajah nya.
"Dia sudah besar Bu... Ibu harus percaya sama dia, yakin deh bentar lagi pasti si Genduk cah ayu pulang, mbok yah yang lebih sabar dikit." Ayah menang kan sang istri.
"Ck! Ayah ini loh! Gimana Ibu ndak cemas coba! Kota ini masih asing buat dia, kalo ilang gimana? Kalo di culik? Kalo di-." Ucapan Ibu di potong oleh Ayah.
"Sttt! Ibu mikir nya coba yang baik-baik! Omongan Ibu itu doa loh! Jangan gitu ah sama anak sendiri, dan yah! Ayah peringati sama Ibu, jangan di marahin nanti kalo cah ayu sudah pulang, tanya baik-baik anak nya biar ndak ketakutan." Nasihat Ayah Cakra lembut.
Ibu mengangguk dan beliau mulai tenang, ikut duduk di sebelah suami nya.
20 menit kemudian.
"Ayo kita cari saja dia Yah! Ibu ndak tenang iki loh!." Ajak Ibu Dewi mulai cemas lagi.
Saat akan berbicara, suara deru mobil berhenti tepat di depan rumah Agnez.
Ibu dan Ayah saling pandang.
Kemudian, pandangan Ibu Dewi terkejut melihat Agnez turun dari mobil itu di ikuti oleh 6 orang lain nya.
"Assallammu'allaikum." Salam Agnez dan 6 serangkai kompak.
"Wa'allaikum sallam! Ya Allah Agnez!! Dari mana aja kamu hah?! Udah di bilangin kalo mau main pamit dulu, ini ditelpon ndak bisa, dicariin disekolah juga ndak ada! Kamu bikin Ibu jantungan tau ndak!." Panjang Ibu Agnez berbicara sambil menjewer telinga Agnez.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1