
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA๐๐.
******************************
-
-
"Siapa Lo?!." Tanya Haris keras.
"Hahaha... Gua ngga akan jahat sama Lo Bang, santai aja kali, Gua ngga mau cari masalah, sini duduk di samping Gua, cerita aja ke Gua sesuka hati Lo, Gua orangnya pinter Lo kalo disuruh cari solusi masalah orang." Kata seseorang itu dengan sombong nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Haris diam seribu bahasa mendengar penuturan seseorang yang sangat sombong itu.
Sedang kan seseorang yang sombong itu duduk di aspal yang tak terkena sinar matahari agar bokong nya tak terbakar.
Haris yang di panggil oleh seseorang itu tak bergerak, dia menatap seseorang itu dengan pandangan waspada.
Seseorang itu menoleh ke arah Haris yang memandang nya waspada.
"Bang? Gua ngga bohong, Lu duduk sini aman, ngga ada siapa-siapa di sini selain kita, Lu kagak percayaan amat ama Gua, ya wajar sih Gua orang baru kenal Lo, tapi percaya lah sama Gua, Gua ngga bakal ngapa-ngapain Elu, suer dah." Kata seseorang itu dengan penuh ke yakinan.
Dia sampai menampak kan wajah serius nya sambil mengacung kan dia jari nya membentu huruf V.
Di rasa aman, Haris mendekat pada seseorang itu.
Pria muda itu kemudian ikut duduk manis di sebelah seseorang yang dia adalah seorang gadis ber rambut pendek ber poni panjang yang hampir menutupi sebagian wajah nya.
"Kenalan dulu dong Bang sebelum cakap-cakap banyak, kenalin nama Gua... Malika, kedelai hitam berkualitas yang di asuh seperti anak sendiri ama Bokap, hahahhaa... canda Bang canda, nama Gua Cindi, nama Lu siapa?." Tanya gadis itu yang ternyata bernama Cindi.
Haris awal nya menatap aneh gadis di sebelah nya ini, dia ngelawak sendiri, dan di ketawa in sendiri, ngelawak nya ngga masuk akal lagi, sehat ngga sih nih anak?. Haris membatin sambil menatap Cindi aneh dengan menaik kan sebelah alis nya tinggi-tinggi.
"Hehehe... Lu pasti mikir Gua aneh yah? Ya maklumin aja lah, Gua rada kurang anak nya." Kata Cindi lagi yang tau arti tatapan Haris, dia juga terkekeh pelan dengan ucapan nya sendiri.
Setelah 1 menit menatap Cindi aneh, Haris membuka suara nya.
"Nama Gua Haris." Jawab singkat Haris dengan melengos kan pandangan nya menatap arah depan.
"Kelas berapa? Kakak tingkat baru yah Lu?." Tanya Cindi kepo.
"Kelas 11, yah Lo bener, Gua anak baru, baru masuk hari ini." Jawab Haris tak menatap Cindi.
Cindi mengagguk-angguk kan kepala nya sambil mengelus dagu nya mengerti dengan omongan Haris.
Setelah perkenalan diri itu 2 orang ini diam tak bersuara lagi.
Mereka terdiam dalam lamunan masing-masing.
Tiba-tiba... Cindi memecah ke heningan dengan bertanya maksud ke datangan Haris ke atab sekolah.
"Lo ngapain di sini Bang?." Tanya Cindi ingin tau, leher nya menoleh pada pemuda di sebelah kiri nya itu dengan di sertai tatapan lembut nya.
Haris menoleh pada gadis di samping nya ini, kemudian dia kembali menatap ke depan sembari menjawab pertanyaan Cindi.
"Gua di sini bolos!." Jawab Haris singkat.
Cindi mengangguk kan kepala paham.
Diam lagi.
Sekarang ganti an Haris yang kepo, dan dia pun bertanya.
"Kalo Lo? Ngapain di sini?." Tanya Haris sedikit melirik Cindi.
"Jawaban kita sama, Gua bolos, kelas Gua mata pelajaran nya Pak Arifin sekarang, males ama beliau Gua, ya gini deh akhir nya, pelarian nya ke atab." Jelas Cindi panjang lebar.
"Lo kelas berapa emang?." Tanya Haris.
"Masih kelas 10." Balas Cindi acuh tak acuh.
"Kenapa?." Tanya Haris yang menangkap nada bicara Cindi acuh, seperti tak suka dia berada di kelas 10.
'Huufffhhh... .' Gadis berponi panjang itu menghembus kan nafas lelah nya.
"Aku sebener nya masih kelas 3 SMP Bang, umur Gua masih 15 tahun asal Lo tau, Gua ngga suka masuk SMA dulu an, itu jelas! Siapa sih yang mau lompat kelas?! Ngga ada!." Seru Cindi jengkel jika mengingat usia dan kelas yang dia tempati sekarang.
"Kenapa Lo bisa masuk SMA dulu an?." Tanya Haris makin panjang, dia makin penasaran dengan perjalanan pendidikan Cindi, gadis yang baru ia kenal beberapa saat lalu.
"Gua di paksa ikut sekolah yang cuma dua tahun waktu SMP, tapi Gua belum 2 tahu udah lulus, dan gini deh jadi nya, Gua dulu waktu SD juga lompat kelas, Gua ngga ada kelas 4, tapi langsung kelas 5." Jelas Cindi sedikit detail.
"Kemauan Lo?." Kepo Haris makin dalam.
"Bukan lah! Itu semua mau nya, ouh ralat bukan mau, tapi obsesi nya dan ambisi nya Bokap Gua yang pengen Gua pinter dan selalu nomer satu." Jawab Cindi datar, sedih dan tak berdaya jika mengingat semua kenangan nya di masa lalu.
"Kenapa Lo ngga lawan? Kenapa ngga nolak?." Lagi-lagi Haris kepo.
Jawaban Cindi hanya gelengan kepala sambil menatap lurus ke dapan dengan pandangan kosong nya.
Baru beberapa menit memang mereka berkenalan, tapi mereka bak sudah kenal lama, Haris yang banyak tanya, dan Cindi yang sudah mencerita kan sebagian perjalanan hidup nya.
Jawaban gelengan Cindi atas pertanyaan Haris membuat Haris merasa kan ke ganjalan dalam hati nya.
Dia ingin tau lebih dalam, lebih luas, dan lebih detail tentang Cindi.
__ADS_1
Entah lah karena apa alasan nya, mungkin karena kasihan? Ya mungkin saja karena itu.
Setelah berbicara bercerita tentang diri Cindi, kini Cindi ingin tau tentang Haris, maka dia pun mulai mengaju kan pertanyaan satu demi satu.
"Kalo Lo sendiri Bang? Pindahan dari mana?." Tanya Cindi sambil menatap penuh ke arah Haris.
Haris balas menatap Cindi meski cuma sebentar, kemudian dia menjawab yang membuat Cindi mendengus kesal.
"Ngapain Lo kepo? Ngga usah kepo! Orang kepo tuh bisa mempercepat mati!." Sewot Haris menakut-nakuti Cindi.
Alis Cindi mengkerut hampir menyatu, dia pun menjawab perkataan Haris tak kalah sewot nya.
"Ngga adil nih! Aku udah cerita in kisap sekolah Gua ke Elu! Bahkan hampir sepenuh nya! Eh Elu malah ngga mau cerita apa-apa, ngga adil nih nama nya!." Sungut Cindi tak terima.
'Huufffhh... .' Helaan nafas lelah terdengar.
"Repot kalo ngomong ama Bocil SMP, bawa an nya baperan!." Ejek Haris yang membuat Cindi makin terbawa emosi.
"Terserah! Lo kagak cerita juga Gua ngga bakal rugi!." Pekik Cindi kesal.
Dia menghadap kan kembali tubuh nya ke depan dengan wajah masih dengan tertekuk cemberut.
Haris diam-diam menyungging kan senyum miring nya dengan sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat selain oleh Allah tentu nya.
Dia senang melihat wajah cemberut Cindi yang menggemas kan menurut nya.
Karena tak tega melihat muka tertekuk milik Cindi, Haris pun memilih menjawab pertanyaan Cindi.
"Gua pindahan dari negara A." Jawab Haris yang membuat Cindi membulat kan mata nya tak percaya, bahkan dia sampai menghadap kan kembali badan nya ke arah Haris.
Wajah nya terpasang dengan penuh tanda tanya dan ke antuasiasan.
Gadis berponi panjang itu melupa kan rasa kesal nya pada Haris yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Kenapa Lu pindah Bang? Ngga punya duit yak buat ngelanjutin di sana?." Pertanyaan yang di layang kan Cindi membuat Haris sukses terkekeh pelan.
Wajah polos Cindi membuat Haris ingin menculik Cindi memasuk kan nya dalam karung beras dan membawa nya pulang untuk di jadi kan mainan di rumah.
Tapi itu semua hanya tersusun di otak nya.
Haris yang terkekeh pelan membuat Cindi sedikit tersentak kaget sampai bengong.
Menyadari perubahan sikap Cindi yang membeku dan menatap nya terkejut, Haris kembali pada sikap awal nya, yaitu dingin, datar, cuek, tak ada senyum.
"Bang? Lo tadi senyum kan? Iya kan? Lo bisa senyum juga?." Tanya Cindi tak percaya.
Gadis itu sampai menempel kan telapak tangan nya ke pipi Haris dan menepuk-nepuk nya pelan.
Haris terkejut dan reflek menepis tangan Cindi kasar.
"A... apa yang Lu lakuin ha?! Ngga sopan banget sih pengang-pegang! Emang Gua cowok apa an?! Kita baru kenal! Ngapain Lu kontak fisik ama Gua?! Jauh-jauh sana!!." Haris membentak Cindi karena memang reflek.
Jujur saja, dia baru kali ini di sentuh dengan perempuan kecuali sang Ibunda yang telah tiada.
Bentak kan yang di beri kan Haris pada Cindi adalah bentuk keterkejutan, Haris saja sampai mundur dari duduk nya di samping Cindi.
Melihat reflek lebay dari Haris, Cindi menyungging kan senyum penuh makna nya.
'Wah kaya nya nih Abang-abang masih lemah kalo berbau perempuan, masih ada aja laki kaya gini, hehehe lucu deh.' Kekeh Cindi dalam hati.
Dia mengalih kan pandangan nya tak menatap Haris lagi, dia kembali menatap lurus ke depan menatap langit, awan, dan burung-burung yang terbang bebas tak ada beban.
Sedang kan Haris? Pria muda itu tertunduk malu, ada sedikit semburat merah di pipi nya karena di puji memiliki senyum manis oleh Cindi.
"Lo ngga pernah di gitu in ama cewek yah? Maka nya reflek nya lebay sampe bentak-bentak gitu?." Tanya Cindi menebak.
"Diam!." Seru Haris membuat Cindi kicep di tempat.
Suasana kembali hening.
Haris dan Cindi diam tak bicara, hanya angin dan cuitan burung di awan yang terdengar.
Karena bosan tak ada yang bicara, Cindi membuka ponsel nya dan mencari sebuah lagu di ponsel nya.
Semua kegiatan Cindi di intai oleh mata tajam Haris.
1 menit berlalu Cindi kembali meletak kan ponsel nya dan alunan musik dari ponsel mengalun merdu memenuhi telinga ke dua remaja beda gender itu.
Lagu melow yang jika di hayati mampu membuat orang menangis itu menggemah di telinga Haris dan Cindi.
3 menit mendengar kan lagu itu lagu selanjut nya berputar.
Lagu ini membuat Haris dan Cindi sama-sama tersenyum kecil, dan tanpa sadar mereka juga ikut bersenandung.
'Menari lah dan terus tertawa
Walau dunia tak se indah surga
Bersyukur lah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia.'
Suara mereka tak merdu, tapi cukup baik jika bernyanyi.
Sepenggal lagu Laskar Pelangi itu membuat Haris dan Cindi melamun, sampai lagu nya selesai dan suara lagu tak ada lagi.
Cukup lama 2 anak manusia itu dalam keterdiaman, sampai Haris duluan yang membuka suara memecah suasana hening tak enak itu.
"Lagu yang Lo puter tadi bener, kita harus terus menari dan ketawa meski pun dunia ngga se indah surga." Kata Haris sembari tersenyum miring tanpa menatap ke Cindi.
'Huufffhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar dari Cindi.
Dia tak mau menjawab dan tak ada niatan menjawab omongan Haris, gadis itu mengabai kan omongan Haris.
"Bang? Hal yang paling Lo sesalin di dunia ini apa?." Cindi mengalih kan pembicaraan.
Haris yang tau itu tak mempermasalah kan nya dan memilih menjawab omongan Cindi.
"Hal yang paling Gua sesalin seumur hidup itu... Gua ketemu Lo di sini." Balas Haris yang tak serius.
Dia bercanda saja, bukti nya Haris menatap Cindi dengan senyum mengejek nya.
Cindi yang tau itu cuma terkekeh pelan sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Kalo Lo sendiri? Hal apa yang buat Lo nyesel di dunia ini?." Tanya Haris.
"Lahir di dunia mungkin? Hahaha... kagak Bang becanda, yang paling Gua sesalin adalah... ." Ucapan Cindi menggantung kaya tali jemuran, bukan tali bra loh yah๐ (canda tali bra๐ญ) AuthorGesrek.
"Adalah apa?." Penasaran Haris.
"Adalah... ngga ada yang Gua sesalin sih alhamdulillah." Jawab Cindi dengan wajah tak yakin.
Haris menatap Cindi intens, sebalik nya, Cindi juga menatap Haris intens.
Tiba-tiba, kata-kata yang hampir tak pernah terucap untuk lawan jenis dari seorang Haris, kini di Haris mengucap kan kata-kata itu dengan hati yang tulus.
"Bocil? Lo mau jadi temen Gua ngga?." Tanya Haris serius.
Mata Cindi berbinar terang, tapi dia tak langsung menjawab pertanyaan, ouh?! Itu Haris nanya apa minta sih?, pertanyaan itu tiba-tiba muncul di otak kecil tapi encer milik Cindi.
"Bang? Lu tadi nanya apa minta?." Tanya Cindi dengan tatapan polos nya.
"Kalo Gua minta Lo mau ngga kah?." Tanya Haris balik.
"Lo serius atau mo main-main nih? Gua ngga mau di ghosting atau di PHP-in atau yang lain nya, entar kalo Gua serius Lo main-main lagi." Cindi ragu menerima ajak kan pertemanan dari Haris.
"Lo kagak percaya an banget ama Gua! Lo udah kek orang yang tiap hari di boongi aja ampe segitu nya ngga percaya sama orang." Jutek Haris berucap.
'Karena itu Bang! Karena Gua sering di boongin maka nya Gua nanya ke seriusan Lo temanan ama Gua.' Batin Cindi membenar kan ucapan Haris yang tak sengaja terucap.
"Ya kan jaga-jaga aja, nanti pas Lu bosen pergi lagi, mending ngga usah lah." Kata Cindi acuh.
"Gua serius." Ucapan singkat Haris mampu membuat Cindi tenang.
Gadis itu kemudian mengangguk kan kepala tanda setuju untuk berteman dengan Haris.
*Ck! Minta temenan aja kaya orang ngajak pacaran, ribet amat dah! (AuthorGesrek).
*Diem Lu Thor! Mending Lo cerita in asal usul Gua dari pada bacotin kita di sini! (CindiCans).
*Hmmmm... _- (AuthorGesrek).
Kita ke datangan tamu baru nih readers.
Readers : Kebanyak kan tamu Lu Thor! Awas lupa Lo ama nama-nama tokoh nih novel!.
AuthorGesrek : Doa in aja biar inget semua, jangan doa in yang jelek-jelek, ngga baik.
Ouh iya, 6 hari ke depan Author ada ujian kenaikan kelas, kalau ngga up jangan di marahin yah, ini aja Author nyuri-nyuri waktu buat ngetik.
Doa in semua yang Author rencana kan lancar, koment yang baik-baik yah readers, aku tanpa kalian bukan apa-apaโบ koment kalian bikin semangat (jika ngga nylekit setiap kata nya๐).
Ok back to story.
Gadis yang bersama Haris di atab ini nama nya Cindi, lengkap nya adalah Cindi Nanda Maharani.
Terlahir dari keluarga menengah ke atas, Ayah Cindi pebisnis yang handal di bidang nya (males nyebutin).
Cindi gadis yang baru berusia 15 tahun, alasan nya dia sudah masuk SMA di usia yang masih Bocil sudah di sebut kan tadi, Author males nulis lagi.
Selama dia menjadi pelajar, hidup dia di tuntut untuk menjadin yang pertama dan tak boleh kalah.
Otak Cindi memang jenius, tapi dia juga seorang remaja putri yang juga ingin bermain dengan anak se pantaran nya bukan?.
Bohong jika Cindi tak pernah mogok untuk belajar, atau bahkan tak pernah membantah sang Ayah.
Gadis itu sering melakukan hal itu, tapi ujung-ujung nya yang di dapat kan oleh gadis itu dari sang Ayah adalah hukuman, kalau tidak berupa pukulan, maka kurungan tanpa makan hanya boleh minum ait putih.
Kejam memang, tapi itu lah kenyataan nya, Ayah Cindi orang gila ambisi akan nomer satu, dan Cindi benci itu.
Ke gilaan Ayah Cindi itu terjadi saat Ibu Cindi tiada, Ibunda Cindi tiada saat usia Cindi menginjak usia 7 tahun yang lalu. Ambisi nya menjadi kan Cindi anak nomer satu menjadi tujuan dalam hidup nya.
Dalam ke adaan apa pun dan bagaimana pun Cindi harus menjadi nomer satu.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk๐.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung๐ข๐.
Maaf kalo garing๐ข๐.
Maaf typo di mana-mana๐๐ข.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan๐ข.
Maaf gantung cerita nya๐.
Di lanjut besok ya readers๐.
Jangan marah karena di gantung yak guys๐.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah๐๐.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa๐.