Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 217


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Peluk aja noh pohon di sebelah mu." Cetus Damar sambil tertawa pelan.


"Jahat banget!." Dengus Pamungkas pelan.


"Stt! Diem!." Sentak Wulan dan Kristal samberi melotot kan mata nya tajam.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Jangan banyak bicara dengerin dulu mereka mau ngomong apa!." Kata Wulan sambil berbisik menatap 3 cowok yang tengah memelihat ke arah nya saat ini.


"Ya tapi masa aku harus ikut nonton juga sih Wulan? Udah jomblo ngenes lagi, Allah!." Keluh Pamungkas.


"Pengen nangis aku rasa nya." Lanjut Pamungkas menatap nanar Angkasa dan Agnez.


Wulan dan Kristal terkekeh pelan mendengar keluhan Pamungkas yang memang benar ada nya.


"Kasian banget sih sepupu tersayangku." Ujar Wulan dengan menampak kan muka menggemas kan nya.


"Lanlan?! Jaga ekspresi wajah kamu!." Peringat Albhi yang tak suka Wulan menampak kan ekspresi wajah yang sangat menggemas kan di depan pria lain, sekali pun itu sepupu Wulan sendiri.


"Hehehe iya iya deh ngga gitu lagi." Ucap Wulan sambil cengengesan.


Kembali pada Angkasa dan Agnez.


"Nez? Kamu marah kah sama aku soal di teras tadi?." Tanya Angkasa dengan suara pelan.


'Huuuffhhhh... .' Helaan nafas terdengar dari bibir manis Agnez.


"Mas? Dengerin yah, aku itu sensitif kalo ada orang yang tanya 'Nez? Bisa goes sepeda ndak?' Karena apa? Karena aku dulu sering di bully gara-gara ndak bisa naik sepeda, dan gara-gara bullyan itu juga aku pernah memutus kan menutup diri dari dunia luar terus memilih main dalam rumah." Jelas Agnez panjang lebar.


"Maaf aku ngga tau beneran deh, niat ku cuma tadi bercanda doang." Papar Angkasa menjelas kan.


"Mas? Tak bilangin yah, yang menerut Mas Angkasa bercanda, belum tentu buat orang lain itu bercanda, maka nya, Mamas kalo ngomong itu di filter dulu, sadar atau engga, di sengaja atau engga, kadang kata-kata Mas Angkasa bikin sakit hati sebagian orang." Agnez berbicara panjang lebar menasihati Angkasa.


"Ya gimana lagi, aku udah kebiasaan kalo ngomong asal jeplak, blak-blak an gitu maksud nya." Tutur Angkasa sambil mata nya tengok kanan kiri menghindari tatapan Agnez.


"Mas Angkasa rem dong! Masa ndak bisa sih!." Seru Agnez jengkel pada Angkasa.


"Iya deh aku bakal belajar kendali in nih mulut ku, maaf sekali lagi soal di teras rumah tadi." Ucap Angkasa penuh penyesalan.


"Iya, udah Agnez maafin kok Mas, jangan ulangi lagi loh." Pesan Agnez sungguh-sungguh.


"Iya In syaa Allah." Balas Angkasa.


Di belakang Angkasa dan Agnez.


"Alhamdulillah akhir nya mereka baikan." Ucap penuh syukur terlontar dari bibir Wulan dan Kristal.


"Mereka udah baikan, sekarang mari kita pulang." Ajak Albhi tanpa menunggu protes dari Wulan.


"Kita tunggu in mereka dulu Bang Bhibhi!." Seru Wulan meminta.


"Ngga ada! Mereka bisa pulang sendiri." Tolak Albhi mentah-mentah.


"Ayo Dam kita balik ke tempat Agnez sama Pamungkas." Suara Kristal meminta pada Damar.


"Ngga ada! Kita balik aja ke rumah! Aku capek goes terus." Alasan melayang dari bibir Damar.


"Ck! Pelit! Ya udah ganti an aku deh yang goes, kamu berdiri di belakang aku." Tawar Kristal yang sayangb nya hanya di anggap angin lalu oleh Damar, Abang dari Wulan itu tak menanggapi omongan panjang bin lebar milik Kristal.


"Kalian berdua ngotot mau liatin si Agnez sama Angkasa buat apa sih? Mau cie cie in gitu? Udah ngga jaman!." Seru Pamungkas pedas.


"Diam!." Keras Wulan dan Kristal berucap.


Dan itu membuat nyali Pamungkas menciut, dia sampai melipat bibir nya ke dalam tanda tak kan bicara lagi.


Sementara 5 orang ini bertengkar, di tempat Angkasa dan Agnez, mereka berdua bercanda bersama.


Sampai Agnez mengajak Angkasa pulang untuk membantu nya mengerja kan tugas dari sekolah.

__ADS_1


Tanpa meminta dua kali Angkasa menggoes sepeda nya mengarah pulang ke rumah Rafka Zarine.


Di jalan.


"Mau belajar goes ini ngga?." Tawar Angkasa dengan bahasa penuh kelembutan pada Agnez little girl nya.


"Ndak mau." Tolak cepat Agnez dengan menggeleng-geleng kan kepala nya cepat.


"Ya udah lah kalo ngga mau ngga papa juga, tapi kalo Agnez mau belajar, bilang saja aku, biar aku ajarin sampai bisa." Kata Angkasa tulus.


"Iya, tunggu Agnez punya kemauan dulu deh, hehehe... eh ngomong-ngomong, Mas Angkasa udah bisa naik sepeda goes kaya gini kelas berapa?." Tanya Agnez penasaran.


"Udah lama banget, waktu dulu baru umur 5 tahun aku udah bisa." Jawab Angkasa singkat.


"Siapa yang ngajarin? Berapa hari belajar nya?." Tanya beruntun Agnez yang kepo kek wartawan.


"Yanh ngajarin Papa Zaidan, aku belajar ngga pake lama Nez, cuma butuh waktu 1 bulan lebih 15 hari, langsung lancar main sepeda nya." Tutur Angkasa sambil mata nya menatap lurus ke jalan menerawang jaman waktu dia kecil dulu.


Agnez membalas nya hanya dengan angguk kan kepala paham.


"Kalo Agnez sendiri? Waktu umur berapa belajar sepeda?." Tanya Angkasa hati-hati.


"Aku baru mau belajar pas umur ku udah menginjak 8 tahun Mas, satu tahun Ayah ngajarin aku ndak bisa-bisa, akhir aku pilih berenti belajar, eh pas kelas 3 SD aku malah di bully karena ndak bisa naik sepeda, karena itu juga deh aku mutusin ndak mau terlibat sama yang nama nya sepeda." Agnez kembali menjelas kan panjang lebar masa kecil nya.


"Ngga mau terlibat sama yang nama nya sepeda?." Beo Angkasa sambil berpikir.


"He em." Sahut Agnez cepat sambil mengangguk.


"Termasuk naik?." Tanya Angkasa.


"Iya, aku ngga pernah naik yang nama nya sepeda, dan sejujur nya, ini kali ke dua setelah beberapa tahun aku ndak naik kendaraan goes ini." Jujur Agnez pada Angkasa.


"Hahaha... kekuatan bullying memang dahsyat yah, bisa buat orang ketakutan yang amat besar." Celutuk Angkasa dengan tawa pelan nya.


"Ya gitu deh Mas, mereka yang suka membully itu ndak tau akibat dari yang mereka omongin, asal jeplak aja mulut nya kalo ngomong ndak di filter, jengkel aku!." Kesal Agnez jika mengingat anak-anak yang pernah membully nya dulu.


"Sekarang? Temen-temen masa kecil yang suka bully kamu itu kalo ketemu gimana?." Tanya Angkasa penasaran.


"Diem aja Mas, mereka malah kaya salah tingkah gitu kalo liat aku di jalan atau ndak sengaja ketemu di suatu tempat." Jawab Agnez singkat.


"Mereka ngga ada minta maaf gitu sama kamu?." Tanya Angkasa lagi.


"Ada lah, malah Mak Bapak nya sampai datang ke rumah buat meminta maaf atas nama anak nya, dulu yang nama nya anak-anak habis minta maaf pasti di ulangi lagi." Cerita Agnez lagi.


Saking seru nya dua sejoli itu bercerita di jalan, tak terasa mereka telah sampai di rumah Rafka Zarine.


Telihat di teras sudah ada para tetuah dan para muda-muda.


Sampai di pelataran, Agnez dan Angkasa ketawa-ketewi entah apa yang mereka ketawa kan, tapi tingkah mereka membuat semua para tetuah dan para muda-muda bahagia.


"Habis bikin nangis anak orang untung aja bisa balik senyum." Kata Pamungkas pelan di telinga Damar di sela-sela mengunyah camilan yang di sedia kan oleh para Ibu-ibu.


"Ya gitu deh, kita liat aja nanti perkembangan nya mereka gimana." Balas Pamungkas.


Angkasa dan Agnez ikut bergabung duduk di teras setelah memarkir kan sepeda di garasi.


"Jalan-jalan ke mana aja tadi Agnez?." Tanya Mama Tika pada Agnez dengan antusias.


"Keliling komplek aja Ma, di sini ke asri an nya di jaga banget yah, beda sama perumahan di tempat tinggal ku." Cerita Agnez memuji ke asri an komplek perumahan di tempat 6 serangkai.


"Agnez pindah sini aja kalo gitu, bilang sama Ayah Ibu nanti habis pulang dari sini." Usul Bunda Raina yang di angguki lain nya.


"Ide Tante bagus, tapi ndak bakal bagus kalo Agnez yang bilang, bisa 7 hari 7 malem entar Agnez kena ceramah sama Ibu, hehehe... ." Kata Agnez di akhiri kekehan nya pelan jika mengingat Ibunda nya yang super cerewet di rumah.


"Ibu Agnez cerewet banget kah?." Tanya Mama Tika kepo.


"Endak sebener nya Ma, beliau cerewet juga karena Agnez yang salah, ndak mau dengerin nasihat beliau, wajar aja seh, hehehee... ." Jawab Agnez lagi-lagi dengan kekehan kecil nya.


"Biasa nya Ibu Agnez kalo ceramah kalo Agnez buat keselahan apa?." Tanya Bunda Raina.


"Asik main HP sampe ndak buat PR." Jawab Agnez jujur.


Semua orang mengangguk-angguk kan kepala pertanda paham.


Beberapa menit setelah Agnez mengucap kan itu, di sadar sesuatu.


"PR?!." Beo Agnez terkejut.


"Ayo aku bantu in kerjain biar cepet selesai." Ajak Angkasa pada gadis mungil di depan nya ini.


Dengan binaran mata bahagia Agnez mengangguk kan kepala semangat, siapa yang tak mau di bantu mengerjakan tugas, Agnez juga harap-harap di beri jawaban nya langsung, hahaha... males mikir si Agnez, maka nya mengharap jawaban langsung dari Angkasa.


"Ayo sekalian kita ikut, tadi di kelas kita juga ada PR dari Bu Rini guru Sosio." Ajak Wulan pada Kristal, Pamungkas, Damar, dan Albhi.


"Tunda dulu nanti malem aja lah Lanlan." Tawar Albhi yang tengah malas beranjak dari tiduran nya di pangkuan Wulan.


Posisi Albhi saat ini adalah sedang rebahan dengan paha Wulan sebagai bantal nya, tangan mungil Wulan sedang membelai manja rambut Albhi penuh cinta dan kasih sayang.


"Ngga ada tunda-tunda! Ngga baik tau Kak suka nunda pekerjaan, nanti ngga selesai, terus kita di hukum! Ngga ada kaya gitu! Ayo berdiri dan mari kita kerjakan PR kita, kalo udah selesai kita bisa rebahan sampai nanti malem." Kata Wulan panjang.


Dengan malas, Albhi bangun dari rebahan nya, jadi gerak kan Albhi lamban, dan itu membuat Wulan gemas, kemudian dia membantu Albhi berdiri dari duduk nya, setelah sudah berdiri tegak, Albhi malah tak mau berjalan, dengan semangat membara pula Wulan mendorong tubuh kekar Albhi.


"Uhhh! Bang Albhi makan nya batu yah?." Tanya Wulan yang kesulitan mendorong punggung Albhi untuk menyuruh nya berjalan.


"Enak aja, aku sama kok makan nya kaya kamu, makan nasi, sama 4 sehat lima sempurna lain nya." Jawab Albhi dengan di akhiri kekehan pelan nya.

__ADS_1


"Kalo makanan nya sama kenapa badan Bang Bhibhi berat banget?! Udah kaya dorong batu besar aja aku, ngga kuat." Cetus Wulan masih dengan berusaha mendorong tubuh Albhi untuk jalan.


"Bukan aku yang berat, kamu aja yang ngga punya tenaga." Sahut cepat Albhi menyalah kan gadis nya ini.


"Huh iya deh terserah! Ayo masuk dan ngerjain PR." Keukeuh Wulan berucap.


Melihat drama yang membuat para tetuah tertawa itu, Wulan pun berhasil membuat Albhi berjalan dan masuk ke dalam di iringi oleh Kristal, Pamungkas, dan Damar.


Di teras, para tetuah masih tertawa pelan melihat tingkah mereka.


"Semoga saja mereka berjodoh ya." Doa Mami Alfi.


"Aamiin ya Allah, Aamiin." Jawab semua orang.


"Dah ayo masuk! Kita liat drama apa selanjut nya yang akan mereka tayang kan." Tutur Daddy Rafka sambil tertawa.


"Jadi nostalgia waktu masih muda dulu, iya ngga sih?." Tanya Papa Abdiel.


Lain nya mengangguk setuju, tapi beda hal nya dengan Mama Akifa.


"Waktu muda dulu? Maksud kamu kita sekarang tua gitu?." Tanya Mama Akufa se akan tak terima di bilang tua.


"Ya iya lah! Anak-anak kita udah 17 tahun, masa ngga mau ngaku tua sih?." Cetus Papa Abdiel berucap.


Saat akan berdebat, Mami Alfi sudah mencegah nya.


"Sttt! Udah! Cukup Agnez sama Angkasa aja yang bikin pusing! Kalian jangan ikut-ikutan, kita semua udah tua Fa! Mau ngga mau, suka ngga suka, tapi itu kenyataan nya." Suara Alfi lantang terdengar.


Habis mengata kan itu, Alfi masuk tak mau mendengar perdebatan 2 sahabat nya itu.


"Istri kamu tuh Bhi!." Ketus Mama Akifa berucap, lalu dia mengikuti Mami Alfi masuk ke dalam rumah.


"Lah? Yang tadi di ajak debat siapa? Yang kena getah nya siapa? Apes-apes." Celutuk Papi Abhi pelan.


"Sabar Bro! Wanita memang gitu." Ucap Papa Abdiel sambil merangkul pundak Papi Abhi bak orang tanpa dosa.


"Ini semua gara-gara kamu, coba aja jangan nyindir masalah tua tadi!." Ketus Papi Abhi berucap sambil menyingkir kan tangan Papa Abdiel dari pundak nya.


Daddy Rafka dan lain nya di buat tertawa lagi oleh tingkah 4 pasang suami istri itu.


Biang kerok dari perdebatan konyol itu pun ikut-ikutan ketawa, tidak merasa bersalah.


Emang dasar ye si Papa Abdiel tuh kagak berubah! Hobi nya bikin kesel orang mulu😂.


Di dalam rumah, tepat nya di ruang santai.


7 serangkai bersiap untuk duduk di karpet bulu hendak mengerjakan tugas.


Tas ada di pundak mereka masing-masing.


"Ck! Tunda aja dah nugas nya." Albhi kembali menawar.


Wulan merespon dengan delik kan mata tajam pada Bang Bhibhi nya ini.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2