Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Forty-one


__ADS_3

Pukul 15.30 sore.


6 serangkai sedang duduk ditribun basket outdoor SMA Merdeka.


"Liburan masih tanggal 20 Desember, kita bakal perang dulu sama soal ujian." Kata Abdiel dengan mendribel bola basket.


"Iya kamu bener, terus di bulan-bulan setelah Januari kita bakal sibuk sama try out, ujian nasional, dan lainnya." Timpal Akifa.


"Setelah ujian kita sibuk nyiapin ujian masuk Univ." Sambung Alfi.


"Kita para cewek bakal kuliah kalo belum hamil." Celutuk Akifa.


Para laki-laki menghentikan kegiatan bermain basket.


Lalu ikut duduk di samping istri masing-masing.


"Kalo kalian mau kuliah, kita ngga akan memaksa buat ada in baby dulu." Kata Abhi.


"Sebenarnya bisa kuliah sekalipun kalian berbadan dua." Kata Abdiel.


"Big no!." Seru Akifa dan Alfi.


"Kita maunya kalo udah ada baby, mau fokus ke baby aja, ngga mau fokusnya dipecah-pecah." Terang Zarine.


"Jadi mahasiswi, Ibu, dan Istri bersamaan itu ngga mudah, kita juga ngga jamin bisa mampu." Panjang lebar Alfi.


"Kita kan ada, apa gunanya suami kalau ngga bantu in istri?." Tanya Abhi.


"Kalian sudah lelah bekerja dari pagi sampe sore, malam waktunya kalian istirahat." Kata Alfi.


"Iya sih, tapi kan kalau bantu-bantu kalian jaga in baby kita mampu." Jawab Abdiel.


Para perempuan mengangguk meng iya kan.


Mereka berani membicarakan tentang masalah keluarga di lapangan basket Outdoor ini karena suasana sekolah sudah agak sepi.


Lagi, mereka membicarakan hal ini dengan pelan, jadi tidak ada yang akan tau.


Sedang asyik mengobrol.


Diseberang jalan Rafka melihat mobil Bang Idan.


"Kalian! Liat keseberang jalan!." Suruh Rafka pada sahabat-sahabatnya.


Semuanya melihat ke arah yang Rafka tunjuk.


"Bang Idan ngapain ada disini? Kalo di liat dari gerak geriknya dia kaya nau jemput seseorang." Kata Akifa.


Dari arah gerbang Alfi melihat Tika.


Dia berjalan ke arah Bang Idan.


Tika dan Bang Idan berbincang sebentar.


Gerak gerik mereka berdua tak luput dari mata 6 serangkai itu.


"Bang Idan gercep juga yak, ahahaha." Tawa pelan Abdiel.


"Padahal kemarin Gua bercanda loh soal jodoh-jodohin Tika sama dia, tapi Allah kabulin, alhamdulillah dah." Ucap senang Akifa yang diangguki semuanya.


"Eh Tika masuk mobil, mau kemana mereka?." Tanya Alfi.


Tiba-tiba ponsel Rafka berbunyi pendek.


Tanda ada notivikasi pesan masuk.


Bang Idan : 'Segera pulang kerumah Papa, kita kumpul disana.'


"Bang Idan nyuruh cepet pulang nih, pasti mau omongin tentang B29 itu." Beri tahu Rafka.


"Ayo pulang, aku juga mau ketemu sama Kak Raina nya Bang Rafa." Ajak Zarine.


Semuanya mengangguk setuju.


Mereka pergi ke parkiran mengambil mobil.


Setelah itu melajukan mobil keluar gedung sekolah untuk pulang ke rumah Mama Papa Rafka.


-


-


-


Suasama dimobil Bang Idan sunyi.


"Tika? Udah minta ijin sama orang tua belum?." Tanya Bang Idan memecah kesunyian.


"Udah tadi Kak." Jawab Tika singkat.


Suasana kembali sungi.


'Duh! Canggung banget sih, Gua harus ngomong nih kalo tujuan kita bukan ke tempat makan, tapi kerumah Gua.' Oceh batin Bang Idan.


'Kenapa nih Om-om? Kok kaya gelisah gitu? Dari pada penasaran mending tanya aja dah.' Batin Tika.


"Om kenapa? Kok kaya gelisah gitu?." Tanya Tika.


"Ah.. itu.. Tika.. ada yang mau Kakak sampe in." Gagap Bang Idan karena gugup.


"Apa?." Tanya Tika.


"Kakak ngga bawa kamu ke tempat makan, tapi Kakak mau bawa kamu pulang kerumah Kakak." Beri tahu Bang Idan.


"Ngapain?." Tanya Tika yang mulai diserang rasa panik takut diapa-apa in.


"Kamu tenang ok, jangan panik, gini, bentar lagi kan liburan akhir tahun, jadi Kakak mau ajak kamu liburan bareng sama Adek ku dan teman-temannya." Terang Bang Idan.


"Kenapa Kakak ajak aku?." Tanya Tika masih takut.


"Kakak ngga punya temen cewek lagi, mau bawa temen cowok, adek aku, dan temen-temennya, juga temen aku bawa cewek semua, kesannya kaya gimana gitu kalo aku bawa temen cowok." Kata Bang Idan.


"Kalo boleh Tika tau, Adeknya Kakak siapa sih namanya?." Tanya Tika lagi.


"Rafka." Sebut Bang Idan.


"Rafka Arsha Fathan?." Tanya Tika memastikan.


"Iya, dia Adek ku." Jawab Bang Idan.


"Berarti Kakak dapet nomerku dari salah satu temennya?." Tebak Tika lagi yang diangguki Bang Idan.


"Aku tau nomer kamu dari Alfi." Jelas Bang Idan.


Tika diam menatap Bang Idan menyelidik.


"Kak Zaidan ngga bohong kan?." Tanya Tika curiga.


"Iya! Demi Mama ku dirumah Tik, aku ngga bohong sama kamu, dan kamu jangan marah soal traktir itu ya." Pinta Bang Idan.


"Kakak beneran mau ajak kamu liburan untuk kabaikan kamu yang sudah menumpangi ku ke kantor waktu itu." Ucap Bang Idan yang sesekali melirik Tika disebelahnya.


"Ya udahlah udah terlanjur juga, aku udah duduk dimobil juga, mau turun aku lupa ngga bawa dompet tadi pagi." Pasrah Tika.


"Aku ngga bakal ngapa-ngapain kamu Tik, percayalah." Ucap Bang Idan tegas.


Tika memandang Bang Idan dari samping.


Dia tersenyum samar kemudian memandang ke arah depan mengalihkan pandangan.


'Ngga tau kenapa, Om-om ini kalo ngomong tegas gitu Gua deg-deg an, Gua juga nyaman kalo dideket Om ini, dasar Tika gila baru 2 kali ketemu udah nyaman aja, tapi emang itu yang aku rasain, aku nyaman kalo didekatnya.' Tika berperang dengan hatinya.


Tika mencuri pandang pada Bang Idan yang fokus menyetir.


Suasana mobil Bang Idan kembali hening, hanya terdengar suara deru mobil.


-


-


-


Di sebuah Cafe tempat kerja Raina, Bang Rafa duduk meminum kopi mocacino nya.


Dia menunggu seseorang.


5 menit sudah Bang Rafa duduk, seseorang yang ditunggunya pun muncul.


"Ayo." Kata Raina seseorang yang ditunggu Bang Rafa.


"Udah?." Tanya Bang Rafa.


"Iya udah." Jawab singkat Raina.


Ponsel Bang Rafa tiba-tiba berbunyi.


"Bentar." Kata Bang Rafa.


Dia membuka ponselnya, ada pesan masuk dari Ayahnya.


Ayah : 'Kumpulnya di rumah Mertua Adek kamu.'


Bang Rafa : 'Iya Yah.'


Bang Rafa gelisah, dia melamun.


'Kalo Raina ngga mau gimana?.' Batinnya berucap.


Raina yang menyadari Bang Rafa melamun dia menepuk pundak Bang Rafa.


Bang Rafa yang melamun pun tersadar.


"Ada apa? Kenapa kamu melamun?." Tanya Raina.


"Rain? Kita ngga jadi ker rumah ku, kita bakal berkumpul di rumah temen Ayahku, di sana juga ada sahabat-sahabat Ayah yang lain." Beri tahu Bang Rafa hati-hati.


Raina diam memandang Bang Rafa.


'Di rumah temennya Ayahnya? Kalo aku di-.' Lamunan Raina buyar saat Bang Rafa berbicara.


"Kamu ngga akan diperlakukan buruk sama beliau semua Rain, Ayah Bunda ku sangat menghargai profesi orang, begitupun sahabat-sahabat Ayah, beliau semua tidak akan merendahkan kamu atau menjatuhkan kamu." Tegas Bang Rafa, tapi masih nada kembut.


Raina masih ragu.


"Gini aja, kita bikin kesepakatan, kalo kamu diperlukakan tidak baik pada beliau semua, aku akan mengantar kamu pulang dan hari ini adalah pertemuan terakhir kita." Kata Bang Rafa yakin.


Raina menimbang-nimbang ucapan Bang Rafa.


"Baik, ayo!." Seru Raina.


Bang Rafa senang bukan kepalang.


Dia keluar dari Cafe dengan menggandeng tangan Raina erat.


'Tangannya hangat dan aku... nyaman.' Gumam batin Raina dengan menatap tangannya yang digenggam Bang Rafa.


Bang Rafa membuka kan pintu mobil untuk Raina.


Raina masuk sembari tersenyum tulus.

__ADS_1


Bang Rafa berlari mengitari mobil lalu masuk ke kursi kemudi.


Bang Rafa menjalankan mobilnya meninggalkan perkiran Cafe.


Di mobil, suasana hening tak ada obrolan, mereka bingung mau mulai pembicraan dari mana, maka dari itu mereka memilih diam.


-


-


-


Dari arah Selatan, 5 mobil memasuki halaman rumah Rafka secara berbaris rapi.


Di belakang mobil yaang baru masuk itu, mobil Abdiel hampir bersenggolan dengan mobil Bang Idan.


"Oy Bang Idan! Et dah, kira-kira napa?!, ringsek baru tau rasa Lo!!." Seru Abdiel.


"Sory Diel." Teriak Bang Idan.


"Huh, hampir aja, kamu ngga papa kan Yang?." Tanya Abdiel pada Akifa.


Abdiel tadi mengerem mendadak mobilnya.


"It's ok aku fine." Jawab Akifa.


"Alhamdulillah." Lega Abdiel.


5 mobil terparkir sempurna di halaman rumah Mama Papa Rafka yang luasnya udah kek lapangan bola itu.


Penghuni mobil keluar.


"Wih beneran bawa calon nih." Goda Akifa.


"Hehehe." Bang Rafa dan Bang Idan hanya terkekeh dengan nyengir kuda.


Semuanya berjalan untuk memasuki rumah dengan bergandeng tangan.


Bang Rafa, Bang Idan juga menggandeng tangan Tika dan Raina dengan erat.


Terutama Raina.


Tangan Raina berkeringat dingin pertanda gugup.


"Semuanya akan baik-baik aja, percayalah." Tenang Bang Rafa lembut dengan berbisik.


5 pasangan itu masuk ke ruang santai rumah Rafka dengan menucap salam bersamaan.


"Assallammu'allaikum." Salam 5 pasangan yang baru sampai itu.


"Wa'allaikum sallam." Jawab para orang tua yang duduk di sofa ruang santai.


10 orang yang baru datang itu menyalami para orang tua.


3 keluarga junior duduk di sofa yang kosong.


Sedangkan Bang Rafa, Bang Idan, dengan Tika, Raina masih berdiri.


"Bi!!, tolong bawakan 10 jus lagi!." Pinta Mama Rafka dengan sedikit berteriak.


Para orang tua manatap 4 orang calon pasangan ini.


"Jadi?." Tanya Mama Rafka.


"Ouh iya, kenalin semaunya, ini Tika, temen SMA nya 6 serangkai." Kata Bang Idan memperkenalkan Tika.


"Tika, beliau Mama Papa ku." Kata Bang Idan menunjak Mama Papa nya dengan Ibu Jari.


"Salam kenal Om, Tante, semuanya." Ucap Tika dengan menundukkan kepalanya.


"Salam kenal." Jawab para orang tua.


"Dan ini, di sebelah Bang Rafa ini, dia Raina, in syaa allah calon." Kata Bang Rafa diakhiri dengan gumaman yang hanya di bisa didengar oleh dirinya sendiri.


"Apa Bang?!, jangan bergumam kita ngga denger." Goda Ayah dengan terkekeh pelan yang sebenarnya dia denger.


Kebetulan posisi Ayah ada di sebelah Bang Rafa berdiri.


Sehingga Ayah mendengar.


"Hahaha, engga Yah, ngga ada." Elak Bang Rafa dengan tertawa sumbang karena gugup.


"Dan Raina, beliau ini orang tuaku." Kata Bang Rafa dengan menunjuk Bunda Ayah dengan ibu jari juga.


ART datang membawa pesanan majikannya.


10 jus dengan tambahan camilan diletakkan diatas meja dan nampannya di bawa lagi ke belakang.


Semua memandang ke arah Tika dan Raina berdiri.


Yang ditatap gugup segugup gugupnya.


"Ehem!." Akifa berdehem.


Semua mata menatap ke arah Akifa.


"Persilahkan duduk dulu itu mereka ber 4, kasian berdiri mulu, kesemutan entar." Kata Akifa.


"Ouh iya lupa, ayo duduk kalian ber 4." Suruh Mama Rafka.


4 orang itu kemudian duduk di sofa yang tersisa.


"Ayo diminum dulu." Kata Papa Rafka.


Tika, Raina tersenyum mengangguk.


Mereka meminum jusnya lalu meletakkan kembali di meja.


"Iya Te." Jawab Tika dengan menganggukkan kepala meng iya kan.


"Tau kalo Bang Idan Abangnya Rafka kapan?." Tanya Mama Rafka lagi.


"Tadi pas mau perjalanan kesini." Jawab Tika dengan tersenyum.


Semuanya kembali diam.


Tiba-tiba Bunda Zarine berdiri dari duduknya dan pindah duduk di sebelah Raina.


"Bang Rafa geser dulu ya, Bunda mau duduk sama Rain." Pinta Bunda.


Bang Rafa menganggukkan kepala.


Bunda duduk disebelah Raina.


"Raina orang mana?." Tanya Bunda lembut.


Raina memandang Bunda Zarine dengan tatapan tak terbaca.


"Ra.. Ra.. Raina asli Jawa Timur Te, tepatnya kota Lumajang." Jawab Raina tergagap.


"Udah berapa lama disini?." Tanya Bunda Zarine lagi.


"3 tahun berjalan Te." Jawab Raina lagi, kali ini tidak gagap, dia sudah bisa menetralkan sikapnya.


"Orang tua kamu masih ada?." Giliran Ayah bertanya.


Raina diam membeku.


Dia memainkan matanya kesana kemari menahan air mata yang mendesak ingin keluar.


"Ra.. Raina cuma tinggal ber 2 dengan sepupu di kampung Te, untuk orang tua, kami tidak tau dimana keberadaan beliau." Jawab Raina dengan tersenyum miris.


Raina menunduk memikirkan orang tuanya.


Bunda tiba-tiba memeluk Raina dengan sesenggukan.


"Maafin Ayah ya karena ingatin kamu ke hal yang sakit, maaf." Ucao Bunda tulus.


"Ngga papa Te, seharusnya Raina yang ngga usah cerita, maafin Raina Te." Kata Raina.


Bunda melepas pelukan.


"Jangan panggil Tante, panggil Bunda Ezzah." Kata Bunda Zarine.


"Tapi-."


"Iya in aja Rain, biar calon mertua kamu seneng." Celutuk Mama Abdiel.


Rainan tertunduk malu mendengar Mama Abdiel menyebut Bunda Bang Rafa sebagai calon mertunya.


"Bu.. Bunda." Panggil Raina terbata.


Bunda Bang Rafa tersenyum senang, lalu memeluk Raina lagi, yang in syaa allah akan jadi menantunya itu.


10 menit berlalu, akhirnya acara melow-melow nya selesai.


"Kak Raina asli beneran dari kota Lumajang?." Tanya Alfi.


"Iya." Jawab singkat Raina.


Bunda disebelah Raina terus mengelus kepala Raina.


Beliau sudah berhenti menangis, dan sudah cuci muka menghilangkan jejak air mata di pipinya.


"Ada wisata apa aja Kak di sana?." Tanya Akifa heboh.


"Wisata ya? Banyak sih, tapi aku ngga hafal semuanya, yang populer itu B29 nya." Jawab Raina.


"Kakak pernah kesana?." Tanya Zarine.


"Hehehe, engga." Raina menjawab dengan tertawa dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalo Om, Tente dan lainnya beneran mau kesana akhir tahun ini, aku akan hubungi Adik sepupu ku untuk mengosongkan penginapan miliknya agar ditempati Om, Tante dan lainnya." Kata Raina lagi.


"Penginapan?." Tanya Mama Abdiel.


"Iya Te, kalo nyewa hotel, perjalanannya ke B29 jauh, hotelnya kan di kota, kalau penginapan punya Adik sepupu ku agak dekat dengan B29, perjalanan ngga akan makan waktu banyak kalo dari sana." Panjang lebar Raina.


"Adik sepupu kamu cewek cowok?." Tanya Papa Akifa.


"Cewek Om." Jawab Raina.


"Namanya?." Tanya Mami Alfi.


"Shita Ayuningsih." Jawab singkat Raina.


"Kaya pernah denger namanya." Kata Mama Rafka.


"Ya dia cukup terkenal di dunia novel online." Jawab Raina.


"Nama penanya Bintang Redup, benarkan?." Tebak Mama Abhi.


"Iya, Tante benar." Jawab Raina membenarkan.


"Kyaaaa!!, kita harus ikut kesana!!." Teriak Mama Akifa heboh.


"Bener tuh, kita bisa beli bukunya plus minta tanda tangannya langsung dari penulisnya." Timpal Mama Rafka.


"Memangnya siapa sih itu Bintang Redup? Apa hubungannya sama Shita Ayuningsih sepupunya Kak Raina." Tanya Alfi.

__ADS_1


"Novel yang biasanya kamu baca sampai nangis itu loh Al, panulinya adalah Shita Ayuningsih tapi nama penanya Bintang Redup." Jawab Mama Alfi.


"Yang kata Mama berawal dari novel online disalah satu platfrom terus diterbitkan jadi buku itu?." Tebak Akifa.


"Nah!." Seru Mama Akifa membenarkan.


"Wah, beneran dia Adik sepupu Kak Raina?." Heboh Akifa.


"Iya." Jawab Raina.


"Kyaaaa!!." Teriak Akifa heboh.


"Yah, heboh deh." Celutuk Papa Akifa.


"Jadi ikut semua ini ceritanya?." Tanya Papa Rafka.


"Harus." Jawab kompak Mama Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, Bunda Zarine, dan Mami Alfi.


Para perempuan memang menyukai novel buatan Bintang Redup alias Shita Ayuningsih itu.


"Kenapa sepupu Kak Raina ngga ikut kesini?." Tanya Tika yang sedari tadi.


"Salah satu faktor dia menetap disana adalah, untuk mengurus penginapan, tapi ada satu faktor utama yang maaf aku tidak bisa mengatakannya, mungkin kalo kesana, semuanya akan tau." Panjang lebar Raina.


"Ohhh." Jawab Semua orang membulatkan mulutnya.


"Kayanya setelah aku pulang kesana, aku akan bawa dia kesini." Ucap Raina.


"Ya itu lebih baik, agar dia bisa dekat denganmu." Sahut Mami Alfi.


Mereka berbincang lama hingga pukul 17.00 sore.


Tika dan Raina kompak menatap jam dipergelangan tangannya.


"Kenapa?." Tanya Bunda pada kedua gadis muda itu.


"Udah sore Bun, Rain mau pulang." Ucap Raina.


"Tika juga harus pulang Om, Tante." Kata Tika.


"Ngga mau nunggu sampe makan malam?." Tanya Mama Bang Idan.


"Tika tadi pamitnya sampe jam 5 sore Te." Kata Tika lagi.


"Kalau Rain?." Tanya Bunda.


"Rain ngga biasa pulang malam Bun." Jawab Raina.


"Ya udah deh kalian boleh pulang, asal besok-besok main lagi ok?." Pinta Mama Rafka.


"In syaa allah Te." Jawab kompak Tika dan Raina.


"Dah sana, kalian anter pulang." Suruh Mama Rafka pada anaknya dan Bang Rafa.


"Siiap." Jawab ke dua pemuda itu kompak.


Bang Rafa, Bang Idan mengantarkan Tika, Raina pulang.


Di dalam mobil Bang Rafa.


"Gimana?." Tanya Bang Rafa yang membuat Raina bingung.


"Gimana apanya?." Tanya Raina balik.


"Gimana keluarga ku? Kaya yang kamu bayangkan ngga?." Jelas Bang Rafa.


"Hehehe, kamu benar, beliau semau baik dan ramah." Jawab Raina.


"Apalagi Bunda, aku kaya punya seoarang Ibu kalo ada didekatnya." Sambung Raina.


"Kamu boleh loh sering-sering ke rumahku ketemu Bunda, aku yakin Bunda bakal seneng." Kaya Bang Rafa.


'Bukan hanya Bunda yang seneng, aku juga seneng pakek banget.' Batin Bang Rafa tersenyum sendiri.


"Tapi kita tadi ngga bawa sesuatu buat beliau semua yang disana, ngga papa tuh? Aku terlalu gugup tadi sampe lupa." Kata Raina khawatir.


"Hahaha, ngga papa Rain, mereka semua yanh ditunggu tuh kehadiran kamu sama si Tika tadi." Kata Bang Rafa.


Raina tersenyum menatap Bang Rafa.


"Di mana kontrakan kamu?." Tanya Bang Rafa.


"Di depan belok kiri." Jawab Raina.


Bang Rafa menurut pada Raina.


"Stop!, kita udah sampe." Beri tahu Raina.


Bang Rafa menatap rumah sederhana disampingnya.


Rumah itu bercat hijau putih.


"Inu rumah kamu sendiri atau-."


"Ini rumahku sendiri dari tabunganku saat di kampung." Raina memotong ucapan Bang Rafa.


Bang Rafa menjawab hanya membulatkan mulutnya tanpa suara.


"Makasih udah nganterin hati-hati kalo pulang." Pesan Raina.


Raina sudah melepas seatbelt dan sudah membuka pintu bersiap keluar.


"Kamu ngga nawarin aku masuk?." Tanya Bang Rafa.


"Ngga!." Tegas Raina.


"Why?." Tanya Bang Rafa heran.


"Kita bukan mahram, apa kata tetangga kalo dirumahku ada cowok masuk?." Kata Raina.


"Hehehe, iya yah." Kekeh Bang Rafa.


"Dah aku masuk ke rumah dulu, hati-hati." Kata Raina.


Raina turun dari mobil dan masuk kerumah.


Bang Rafa masih ditempat, setelah Raina masuk ke dalam rumah baru dia melajukan mobilnya untuk pulang kerumah.


-


-


-


-


Bang Idan telah sampai dirumah Tika.


"Kak makasih udah mau ajak aku liburan, nanti aku minta ijin Mama Papa, ouh ya Kak, tadi aku kerumah Kakak ngga bawa apa-apa, ngga pap tuh?." Tanya Tika khawatir.


"Ngga papa Tik, kita lupa tadi, kamu juga tadi kaya gugup gitu, Mama aku ngga pernah mau dibawain apapun kalo ada seseorang yang datang kerumah, dengan kehadiran kamu aja Mama aku udah seneng." Tenang Bang Idan.


Tika tersenyum.


"Ya udah Tika turun dan masuk ke rumah dulu, Kakak pulangnya jangan ngebut, dan hati-hati, Kakak mau mampir?." Tawat Tika.


"Ngga deh, ini udah mau maghrib, kapan-kapan aja aku mampir, ouh iya, kalo Mama Papa kamu ngga ngijinin kamu liburan, bilang sama aku, biar aku yang ijinin." Kata Bang Idan.


"Iya." Jawab singkat Tika.


Setelah mengatakan itu, Tika turun dari mobil dan berlari masuk rumah.


Saat dipintu Tika berbalik dan melambaikan tangannya pada Bang Idan yang dibalas anggukan serta senyuman oleh Bang Idan.


Setelah benar-benar masuk kerumah, Bang Idan pulang.


Dirumah Bang Idan.


Seluruh keluarga di ruang santai tersenyum mengingat kejadian beberapa menit lalu.


"Ngga lama lagi bakal ada yang naik pelaminan, ngga hanya satu, tapi dua sekaligus, ahahaha." Tawa seluruh keluarga pecah.


"Alhamdulillah, akhirnya anak-anak kita naik juga kepalaminan." Kata Mama Rafka ikut bahagia.


"Ini udah maghrib, mandi gih kalian, terus kita sholat maghrib jamaah di mushollah rumah." Suruh Mama Rafka pada 6 serangkai.


6 serangkai mengangguk kan kepala.


Lalu berdiri dari duduk dan berjalan ke kamar masing-masing.


"Ngga kerasa ya, anak-anak kita semua udah pada nikah." Ucap Mama Akifa.


"Ya, rasanya baru kemarin aku gendong si Abdiel, sekarang dia udah dewasa aja." Timpal Mama Abdiel.


"Semoga kita sehat selalu untuk bisa melihat mereka jadi Orang tua juga." Ucap Mami Alfi.


"Aamiin." Jawab semua orang tua.


Setelah perbincangan berhenti, para orang tua itu masuk ke kamar masing-masing.


Lalu tak lama, Bang Rafa dan Bang Idan sampai di rumah.


Mereka langsung kekamar masing-masing untuk mandi.


Selesai mandi dan bersiap sholat.


6 keluarga senior dan 3 keluarga junior juga Bang Rafa, Bang Idan pergi ke mushollah rumah kemudian menunaikan sholat Maghrib.


Selesai sholat mereka semau pergi ke meja makan untuk makan malam.


Setelah makan malam, semuanya berbincang kembali di meja makan dengan memakan puding.


Mereka semua bercanda menggoda Bang Rafa, dan Bang Idan.


Ba'da isya'.


5 keluarga senior dan 3 keluarga junior pulang setelah sholat isya'.


Mereka tidak menginap karena memang tidak berancana menginap.


Sampai di rumah masing-masing, mereka tidur mengistirahatkan tubuh yang lelah.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


Spesial 3000 kata😊.


__ADS_2