Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 216


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Bener tuh, sekarang orang jujur ngga di hargai di SMA Merdeka tapi orang beruang yang selalu menang." Timpal Wulan ikut emosi.


"Di SMA Merdeka ada kaya gitu juga to ternyata?." Tanya Agnez yang ikut nimbrung.


"Ada lah, emang nya kenapa?." Tanya Angkasa bertanya pada gadis nya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Aku pikir ndak ada, soal nya hampir sama gitu loh sama kaya SMA ku di Yogya dulu, yang beruang di dahuluin, sedang kan yang ngga punya uang di acuhin, di abai kan gitu." Jelas Agnez panjang.


"Terus sekarang gimana?." Tanya Wulan ingin tau lebih lanjut.


"Sekarang kepala sekolah itu dipindah tugas kan entah ke mana, Agnez ndak tau, terus kepala sekolah diambil alih sama wakil kepala sekolah." Panjang Agnez berucap


"Kalo di SMA Merdeka kapan yah tuh kepala sekolah turun? Udah males aku sama tuh Bapak." Kata Kristal berbicara pada diri nya sendiri.


"Sabar, bentar lagi mungkin turun, lagi cari ini orang-orang, kalo tiba-tiba di keluarin tanpa alasan kan bisa-bisa kita kena juga, Pak kepala sekolah mana cerdik banget lagi, licik orang nya akal nya banyak, masa semua bukti di sembunyiin rapi, haduhhh, ikutan pusing." Keluh Damar sekaligus menghibur Kristal.


"Dah lah! Berenti bahas sekolah, sekarang kita bahas yang seru-seru aja." Kata Wulan menghenti kan obrolan yang membosan kan menurut nya itu.


"Dari pada gabut, kita nyanyi aja, Kak Rain bawa gitar tuh, sekalian Kak Rain nyumbangin suara nya lah." Ide briliant dari bibir Pamungkas keluar dengan amat sangat lancar.


"Bentar aku ambil dulu gitar nya di ruang TV tadi." Ijin Kak Rain yang di angguki oleh lain nya.


Beberapa menit kemudian.


Kak Rain kembali dengan gitar di tangan nya.


"Jangan aku lah yang nyanyi, suara ku udah sering keluar, salah satu dari kalian aja yang nyanyi, entar aku iringi pake gitar ku ini." Kata Kak Rain mengutara kan pendapat nya.


"Tapi-." Belum tuntas protes Kristal melayang, Kak Rain sudah memotong nya.


"Ayo lah! Sekali-kali, lagian kan ngga ada yang liat juga, cuma kita-kita aja di sini." Bujuk Kak Rain.


"Ngga ada yang merdu di sini Kak suara nya." Cetus Pamungkas.


Semua mata menatap Pamungkas dengan tatapan yan sulit di arti kan.


"Eh Paijo?! Kamu kan pinter tuh kalo di suruh nyanyi lagu nya Akad-Payung Teduh, nyanyi itu aja, sekalian unjuk bakat sama Kak Rain." Angkasa memberi masuk kan yang lebih tepat nya sebuah komporan untuk Pamungkas percaya diri.


Angkasa memberi kan komporan itu dengan bisik-bisik tentu saja agar tak di dengar oleh orang lain terutama Kak Rain.


Pamungkas memikir kan perkataan Angkasa sang sahabat.


'Bener juga apa yang di ucapin si Tarjo! Iya dah Gua nyanyi lagu itu sekalian ungkapin perasaan gitu, hehehe... .' Kekeh Pamungkas dalam hati.


"Ok deh! Aku aja yang nyanyi, tapi kalo fales jangan di ketawain yah, aku ngga terlalu bisa nyanyi soal nya, hehehe... ." Kata Pamungkas.


"Tenang, kalo salah ngga akan kita ketawa in, paling cuma kita tertawa kan, hahahha... ." Tawa Damar pecah, dan itu membuat semangat Pamungkas ciut.


Dan membuat Wulan, Kristal, Albhi, Angkasa, Agnez, juga Kak Rain menatap Damar dengan mata melotot tajam.


"Jangan gitu dong Bang! Itu nama nya menciut kan semangat sepupu sendiri, ngga baik tau!." Seru Wulan memperingat kan Abang kembaran nya ini.


"Hehehe... canda doang Dek, iya deh iya, ngga bakal aku ketawain kok Kas, in syaa Allah." Akhir kalimat di ucap kan dengan nada lirih tapi masih biaa di dengar.


"Dah Paijo! Jangan dengerin si Lampu Obor (Damar) ayo Kak." Titah Angkasa tak sabar ingin melihat Pamungkas menyanyi.


Damar terkekeh pelan di panggil Lampu Obor oleh Angkasa, begitu lah Angkasa kalau sedang tak sabaran, emosi an.


Meninggal kan Bang Damar yang terkekeh sendiri, kini Kak Rain bersiap untuk mengiringi nyanyian yang akan Pamungkas nyanyi kan.


"Pamungkas mau nyanyi lagu apa?." Tanya Kak Rain lembut.


Pamungkas tak menjawab, dia terkesiap mendengar pertanyaan lembut yang keluar dari bibir mungil Kak Rain yang duduk didepan nya ini.


"Woy Paijo!." Kejut Angkasa yang jengah melihat sikap terkesiap Pamungkas.


Pamungkas yang terkejut, berbicara dengan tergagap.


"Ouh itu... anu Kak... la... lagu nya Akad-Payung Teduh." Sebut Pamungkas cepat.


Kak Rain menggeleng kan kepala nya pelan melihat tingkah Pamungkas.


'Dasar berondong.' Batin Kak Rain.


Petik kan gitar sudah dimulai, suara Pamungkas pun sudah mulai keluar.


🎶Betapa bahagia nya hatiku


Saat kududuk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Namunku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat-cepatlah sampaikan kepadaku


Agar kutak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saat nya t'lah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukkan diujung waktu


Sudihlah kau menjadi temanku


Sudihlah kau menjadi milikku


Sudihlah kau menjadi...


Istriku... .🎶 (Maaf kalo salah, Author ngga browsing karena ngga punya kuota, ini aja Author hospot😢😢 #AuthorGesrek).


Pandangan Pamungkas terus mengarah tepat pada manik mata coklat milik Kak Rain, mereka berdua saling lempar pandang dengan tersenyum sangat manis.


'Andai kamu tau Kak, lagu ini buat kamu.' Batin Pamungkas berseru.


Ia ingin sekali berteriak begitu tepat di depan muka Kak Rain, tapi masa iya baru kenal langsung ngajak nikah? Apa lagi si Pamungkas belum dapat kerja, masih sekolah pula tuh, sabar Pamungkas... semua butuh proses.


Wulan, Kristal, Damar, Albhi, Angkasa, dan Agnez menatap 2 orang yang tengah menyanyi ini dengan pandangan bahagia.


"Mereka berdua sweet banget sih." Bisik Agnez berbicara pada diri nya sendiri.

__ADS_1


"Kita juga bisa kaya gitu, mau kaya gitu juga kah?." Tanya Angkasa tepat di telinga Agnez.


"Apa an sih Mas Angkasa, geli tau!." Seru Agnez sambil mengibas-ngibas kan telinga nya.


Angkasa tersenyum geli melihat tingkah gadis kesayangan nya ini.


Setelah beberapa menit lagu yang di bawa kan Pamungkas pun berakhir.


'Prok prok prok... .' Tepuk tangan meriah bersautan dari Wulan, Kristal, Agnez, Angkasa, Damar, dan Albhi.


"Kerennn buanget!!." Seru Wulan heboh.


"Hehehe... ini semua karena suara nya Pamungkas, aku cuma ngiringin aja." Kata Kak Rain sambil terkekeh.


"Kalo cuma lirik tanpa musik semua juga bisa Kak, tapi kan petik kan gitar nya juga memengaruhi tau." Ujar Kristal antusias.


"Susah ngga sih Kak main gitar?." Tanya Wulan.


"Susah susah gampang." Jawab Kak Rain.


"Adek dulu Abang ajarin kagak mau, padahal seru loh." Cetus Damar berbicara.


"Haduh... kalo Wulan belajar sama Bang Damar, yang ada entar mata Wulan bengkak." Tutur Wulan yang membuat Kak Rain dan Agnez bingung.


"Mata bengkak? Apa hubungan nya to Mbak?." Tanya Agnez kepo.


"Bang Damar kalo ngajarin itu orang nya ngga sabaran, ya gitu deh, kalo ngga bisa bakal di bentak, maka nya kalo ada apa-apa aku ngga mau belajar sama dia." Ungkap Wulan panjang.


Damar yang mendengar keluhan adik nya, dia hanya cengengesan sambil garu-garu leher yang tak gatal.


"Belajar sama aku juga bisa kali Lanlan, kenapa ngga minta?." Lembut Albhi berucap.


"Kalo adek ku belajar sama situ, yang ada bukan nya bisa, tapi malah digombalin terus! Dasar kang modus." Sahut Bang Damar cepat dan itu membuat semua orang tertawa kecuali Albhi tentu saja.


Dia menatap Damar dengan mata tajam nya siap menyerang.


"Ya se engga nya meski Lanlan ngga bisa aku ngga bentak dia." Cibir Albhi pedas menyindir Damar.


"Udah ah jangan berantem." Lerai Kristal pada 2 cowok tampan itu.


Kak Rain bahagia bisa berkumpul bersama dengan 7 serangkai ini, tapi seperti nya dia tak bisa berlama-lama lagi ada di rumah nya Mommy Za dan Daddy Rafka.


Begitu pun Agnez, dia dan Kak Rain sama-sama melihat jam yang ada di lengan kiri mereka masing-masing.


Terpampang pukul 14.39 di sana.


'Waduh aku belum ngerjain PR lagi, kalo ndak pulang cepet-cepet bisa-bisa ndak ngerjain aku nanti.' Batin Agnez berbicara.


'Lah? Udan setenga 3 aja, harus pulang nih, kalo engga bisa telat aku ke restaurant.' Kata Kak Rain.


"Emmm... maaf semua nya, seperti nya Kak Rain harus pulang nih." Pamit Kak Rain pada 7 serangkai.


"Iya Mas Mbak, Agnez juga mau pulang." Ijin Agnez sambil nyengir kuda.


"Kenapa pada mau pulang sih?." Tanya Wulan kecewa.


"Kak Rain harus kerja Wulan, kalo telat bisa di pecat nanti." Terang Kak Rain panjang.


"Kalo kamu Nez? Kenapa pulang?." Tanya Kristal.


"Hehehe... Agnez mau ngerjain tugas Mbak." Jujur Agnez.


"Agnez tetep tinggal sini aja deh." Tiba-tiba suara Mama Tika muncul.


"Hmmm bener tuh kata Mama Tika, Agnez tinggal sini aja." Antusias Wulan berseru.


Agnez tak menjawab, dia menetap Mama Tika intens, dalam pikiran nya dia bertanya 'Ini Ibu nya siapa to? Aku dari tadi ndak tau loh.' Begitu lah pertanyaan Agnez.


Gimana bisa tau, 6 serangkai memanggil Ibu-ibu itu sama, ngga ada beda nya. Sedari tadi Agnez dan Kak Rain tidak tau, yang mana orang tau Angkasa, dan mana orang tua Pamungkas.


"Gimana Nez? Mau yah?." Bujuk Mama Tika.


"Tapi-." Belum selesai Agnez ngomong, Angkasa menyela.


"Kalo ngotot pulang! Kita ngga akan anter kamu pulang!." Ancem Angkasa sekali lagi.


Agnez tercengang, dia bingung, 'Kalo ndak di anterin aku ndak tau daerah sini jeh, ouh tapi kan aku bisa bareng sama Mbak Rain.' Girang Agnez.


"Ndak papa ndak di anterin, aku bisa bareng sama Mbak Rain kok, iya kan Mbak?." Tanya Agnez senang.


"Kak Rain kan di anter sama Mas Pamungkas, Kak Rain juga ngga tau daerah sini." Bunda Raina ikut nimbrung pembicaraan mengcegah Agnez pulang.


"Aku udah ijin sama Ayah dan Ibu kamu, jadi kamu tenang aja, ngga usah khawatir." Kata Angkasa yang tau maksud omongan Agnez.


'Huufffhhh... .' Helaan nafas pasrah terdengar.


Kemudian... .


"Yo wes lah, Agnez tinggal." Kata Agnez menyerah, percuma dia ngotot pulang, karena Angkasa selalu punya 10.000 alasan untuk menahan nya.


Semua orang tersenyum senang, terutama Angkasa, dia paling lebar senyum nya.


"Nah untuk Kak Rain, biar Pamungkas antar ke tempat kerja nya yah?." Pinta Bunda Raina.


Baru saja akan membuka mulut hendak protes Pamungkas sudah angkat bicara.


"Ngga ada penolak kan Kak! Kakak milih aku anter, atau tinggal di sini sama kaya Agnez?." Tawar Pamungkas tegas.


"Iya deh aku pilih di anter kamu aja." Jawab Kak Rain menyerah.


'Nih berondong yak, kalo udah mau nya ya mau nya, kagak bisa di tawar.' Batin Kak Rain berseru.


"Emmm... sebelum pergi, apa Rain boleh tanya Bunda?." Tanya Kak Rain pada Bunda Raina.


"Boleh, mau tanya apa sayang?." Tanya Bunda Raina lembut.


"Yang mana satu Ibu nya Pamungkas? Maaf kalo lancang." Kata Kak Rain.


"Iya, Agnez juga mau tanya itu dari tadi, Ibu nya Mas Angkasa yang mana?." Agnez ikut-ikutan mengutara kan isi hati nya.


5 Ibu-ibu yang berkumpul di taman belakang ini saling pandang kemudian mereka tertawa pelan menertawa kan kebingungan Kak Rain dan Agnez.


Tapi mereka memaklumi, pasal nya memang 6 serangkai selalu memanggil dengan sebutan Mama, Mami, Mommy, dan Bunda, patut saja mereka bertanya yang mana satu Ibu nya Pamungkas dan Angkasa.


"Sayang, kita kenalan satu-satu yah, ini Tante yang pake hijab ini nama nya Mommy Zarine, Mommy nya si twins Damar Wulan, yang di sebelah Bunda ini nama nya Mama Akifa, Mama nya Kristal, kalo Bunda ini Bunda nya Pamungkas, di sebelah kiri Bunda ini nama nya Mami Alfi, Mami nya Albhi, samping nya lagi itu Mama Tika, Mama nya Mamas kamu Agnez, Mama nya Mas Angkasa." Jelas Bunda Raina panjang lebar.


"Ouhhhhh... iya-iya sudah paham, terima kasih penjelasan nya, maaf lancang bertanya." Kata Kak Rain dan Agnez bersamaan.


"Hahah... ngga papa kok sayang, wajar memang kalo kalian ngga tau, dan bertanya." Papar Mama Tika sambil mengusap kepala Agnez dan Kak Rain.


"Kalo gitu, Rain pamit semua nya, assallammu'allaikum, ouh iya salam buat Om-om semua nya yah Bunda, maaf Rain ngga bisa pamit secara langsung." Salam Kak Rain sambil menyalami semua Ibu-ibu itu.


"Wa'allaikum sallam, iya nanti di sampai kan, sering-sering main ke sini yah Kak Rain." Pesan Bunda Raina.


"In syaa Allah Bunda." Balas Kak Rain.


"Pamungkas anter Kak Rain dulu Bun, assallammu'allaikum." Pamit Pamungkas.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati Nak." Kata Bunda.


Saat Kak Rain dan Pamungkas bersiap pergi, Agnez mengendap-ngendap hendak mengikuti Kak Rain pulang.


Tapi... .


"Eits! Mau ke mana kamu little girl? Kaya kucing habis nyolong ikan aja pergi ngga pamit! Kamu kan tinggal di sini, nanti jam 5 sore aku anter pulang." Kata Angkasa sambil memegang kerah belakang seragam Agnez.


Semua orang yang melihat tingkah Agnez dan Angkasa terkekeh geli.


"Ck! Mas jangan kaya gini lah! Kaya kucing aja, lepas ah!." Seru Agnez jengkel.


"Wulan? Pinjemin baju kamu dong nih kucing kecil." Pinta Angkasa pada sepupu nya itu tanpa menghirau kan seruan Agnez, tangan Angkasa masih bertengger manis di kerah belakang baju Agnez.


"Siiap Bang laksanakan! Ayo Nez ikut aku ke kamar." Ajak Wulan pada gadis mungil itu.


"Dah sana semua nya siap-siap mandi, kita bakal sholat ashar jamaah bentar lagi." Suruh Mami Alfi yang langsung di laksanakan tanpa banyak bicara oleh 7 serangkai.


Pukul 15.30 sore semua orang berkumpul di teras depan rumah Rafka Zarine.


Para muda-muda bingung hendak berbuat apa untuk mengisi waktu luang sore ini.


Kemudian di otak Wulan terlintas sebuah ide.


"Dari pada kita bengong kaya orang punya banyak hutang gini, mending kita sepedaan keliling komplek." Ujar Wulan sambil menatap 6 orang di hadapan nya ini.


"Se... sepeda?." Beo Agnez sambil meneguk saliva nya kasar.


"Iya sepeda." Jelas Wulan antusias.


"Se... sepeda kayuh itu ta Mbak?." Tanya Agnez lagi.

__ADS_1


"Iya, kenapa sih Nez?." Tanya Wulan heran.


Pasal nya raut mula Agnez seperto gugup takut gitu.


"Bisa main lain nya ngga? Sepatu roda, jalan kaki, atau skeatboard (Bener ngga sih tulisan nya?😂) mungkin?." Tanya Agnez menawar.


"Kenapa nawar-nawar? Ngga bisa kayuh sepeda yah?." Tanya Angkasa dengan senyum mengejek nya.


Agnez menatap tajam Angkasa kemudian mata nya mengembun, dia malu dan siap untuk meluncur kan kristal bening dari mata nya.


"Eh?! Ja... jangan nangis, maaf little girl, jangan nangis yah, maaf." Ucap Angkasa sambil menarik tubuh mungil Agnez ke dalam dekapan hangat nya.


Agnez memang sangat sensitif jika membahas tentang ketidak mampuan nya dalam bersepeda, mendengar seseorang mengata kan dia tak pandai main sepeda saja ia langsung berkaca-kaca hendak menangis.


Karena dulu saat di Yogya, dia sering di bully seperti itu, di kata-katai tak pandai main sepeda sampai Agnez tak mau bermain lagi dan lebih suka bermain dengan ponsel nya.


Bully itu kejam bro! Aku udah pernah ngerasain gimana rasanya😑 #AuthorGesrek.


"Angkasa? Kamu apa kan Agnez?." Tanya Mama Tika marah.


Mama Tika baru keluar dari dalam rumah karena memang ingin melihat aoa yang di lakukan para muda-muda.


Saat melihat Agnez dalam peluk kan Angkasa yang seperti dalam ke adaan menangis membuat beliau curiga, 'Pasti ada yang ngga beres nih.' Itu lah yang membuat Mama Tika bertanya pada Angkasa sang anak.


"Anu Ma, ngga sengaja, niat nya main-main doang sumpah beneran!." Bak anak-anak yang tak mau di salah kan, Angkasa sampai mengacung kan 2 jari nya membentuk huruf V.


"Dudukin dulu itu Agnez nya, kasian kalo berdiri gitu." Kata Mama Tika menyruh Angkasa menduduk kan calon menantu nya itu.


Setelah Agnez duduk.


"Ini tadi apa masalah nya sih? Kok bisa nangis? Kamu apa in sih Angkasa?." Tanya Mama Tika yang mengambil alih memeluk Agnez dari peluk kan Angkasa.


"Maaf Ma, tadi niat nya cuma becanda beneran deh, suer, maafin aku little girl, bukan maksud aku buat bikin kamu nangis, please berenti yah nangis nya." Bujuk Angkasa panjang.


Agnez masih belum membalas, tapi dia sudah berhenti menangis, hanya tinggal sesengguk kan saja.


5 menit kemudian, Agnez menegak kan kepala nya.


"Maaf ya Nez." Ucap Angkasa tulus, dia menunjuk kan wajah memelas nya dan itu membuat Agnez tak tega, dia pun mengangguk kan kepala meng iya kan.


"Agnez mau cuci muka Ma." Ijin Agnez pada Mama Tika.


"Iya deh biar Kak Wulan yang anter kamu, gih Wulan." Pinta Mama Tika pada Wulan.


Wulan mengangguk kan kepala kemudian dia menggandeng Agnez dan membawa nya ke kamar mandi dapur.


Sepeninggalan Agnez dan Wulan.


"Tadi bahas apa sampe buat calon mantu Mama nangis gitu?." Tanya Mama Tika pelan.


"Tadi bahas naik sepeda Ma, Angkasa tanya sama Agnez, kamu ngga bisa naik sepeda yah? Eh tapi kaya nya pertanyaan Angkasa bikin Agnez ngingat sesuatu hal mengeri kan waktu di Yogya, maka nya dia nangis." Dengan detail Angkasa menjelas kan panjang lebar.


'Huuufffhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar dari hidung Mama Tika.


"Minta maaf nanti sama Agnez, ini belum apa-apa udah bikin nangis aja, gimana nanti kalo kalian tinggal bareng!." Seru Mama Tika berucap.


"Ya ngga bakal Angkasa bikin nangis lah Ma, in syaa Allah Angkasa usaha kan agar Agnez bahagia kalo sama Angkasa." Tegas Angkasa berucap sambip menatap ke teras rumah Rafka Zarine dengan pandangan kosong.


"Ya semoga saja, ya sudah kalo gitu, Mama tinggal dulu ke dalam, ingat Angkasa! Minta maaf!." Peringat Mama Tika.


"Iya Mama ku sayang, iyaaaahhh." Balas Angkasa penuh sayang.


Setelah drama nangis nya Agnez, 7 serangkai melanjut kan niat nya untuk bersepeda dengan berboncengan.


Albhi dengan Wulan, Damar dengan Kristal, Angkasa dengan Agnez, Pamungkas?.


Hahaha... jomblo satu ini mengayuh sepeda nya sendirian tak ada teman, bagaimana mau ada teman? Kak Rain sedang bekerja, tak kan Pamungkas menjemput nya hanya untuk bermain sepeda😂.


Posisi nya saat ini mereka berbaris memanjang bak semut.


Di belakang sendiri, Pamungkas menggerutu kesal.


"Allah?! Kenapa sih aku sendirian mulu! Mereka enak ada temen buat ngobrol, lah aku?! Masa harus ngobrol ama angin?! Astaghfirullah😣." Begitu lah keluhan yang melayang dari bibir Pamungkas.


Di depan Pamungkas, ada Angkasa dan Agnez, mereka berdua senyap tak ada pembicaraan.


Posisi Agnez saat ini tengah ada di depan Angkasa, duduk menyamping dengan pandangan mata mengamati sekitaran komplek.


"Gimana cantik kan?." Tanya Angkasa mencair kan suasana senyap di antara ke dua nya.


"Iya Mas cantik, banyak tanaman nya di setiap rumah, kalo di perumahan tempat Agnez jarang Mas, bahkan hampir ndak ada." Kata Agnez berbinar senang.


Diam kembali menyerang di antara ke dua nya.


"Nez?." Panggil Angkasa lirih.


"Hm?." Tanya Agnez tanpa menatap Angkasa.


"Maafin aku soal tadi waktu di teras, aku ngga ada niat apa-apa, asli aku tadi cuma bercanda, maaf kalo itu nyakitin hati kamu." Ucap Angkasa tulus dari hati.


Agnez tersenyum sambil mendongak kan kepala nya menatap Angkasa.


Tiba di lapangan komlek.


"Stop dulu Mas!." Pinta Agnez.


Dengan spontan, Angkasa mengerem sepeda nya.


Diam! Itu lah yang mereka lakukan sekarang.


Agnez sibuk memindahi semua hal yang ada di lapangan begitu pun Angkasa.


Di belakang mereka sudah ada 3 sepeda berhenti menatap Angkasa dan Agnez.


"Harus yah aku ikutan liatin mereka berdua?." Tanya Pamungkas malas.


"Ck! Diem!." Seru Wulan dan Kristal pelan dan kompak.


"Aku pergi aja deh, mana aku sendiri an lagi, ngga cocok kalo liat yang romantis-romantis gini, nanti kalo aku baper aku peluk siapa?." Kata Pamungkas sedih.


"Peluk aja noh pohon di sebelah mu." Cetus Damar sambil tertawa pelan.


"Jahat banget!." Dengus Pamungkas pelan.


"Stt! Diem!." Sentak Wulan dan Kristal samberi melotot kan mata nya tajam.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2