Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Forty-nine


__ADS_3

Sesuai rencana kemarin.


Hari para orang tua dan para muda-muda akan ke B29 bersama.


Mungkin bagi Rafka Zarine dan lainnya ini kegiatan yang le dua kalianya.


Tapi untuk para orang tua, berkunjung kesana baru pertama kali.


Pagi buta pukul 02.45 semua orang telah bermumpul di depan tempat penginapan.


"Ini yakin pagi buta kita kesana?." Tanya Mami Alfi dengan menggosok-gosok kan telapak tangannya mengurangi rasa dingin di tubuhnya.


"Sebenarnya kalo berangkat nanti siangan juga boleh, tapi kita ngga akan bisa liat matahari terbit di sana." Terang Raina.


"Kita juga kemarin berangkat jam segini Mi, dan setelah sampai disana, perjuangan ngga sia-sia, indah banget pemandangan matahari terbitnya." Terang Alfi.


"In syaa allah ngga akan menyesal pokoknya kalo mau bersabar." Celutuk Shita.


"Shita?, kamu beneran ikut?." Tanya Bunda Zarine.


"Iya Te, tapi Shita ngga naik, nanti biar aku ada di mobil aja." Jawab Shita.


Pukul 03.00 pagi mereka semua bersiap berangkat.


"Ini berapa jam perjalanannya?." Tanya Mama Tika sebelum masuk mobil.


"45 menit." Jawab Shita.


"Deket bener." Celutuk Papa Tika.


"Malahan anak sini kadang kalo pengen kesana milih jalan." Sahut Panji.


"Kamu pernah Pan?." Tanya Papa Rafka.


"Bukan pernah lagi Om, udah sampai bosen aku kesana jalan kaki." Terang Panji.


"Sama siapa aja biasanya kalo jalan kaki?." Tanya Papa Abdiel.


"Kadang sendiri, kadang sama mereka berdua." Tunjuk Panji pada Rendra dan Andi.


"Ayo segera naik semuanya!." Seru Bang Rafa dan Papa Rafka sebagai supir dari mobil mereka masing-masing.


Yang di teriaki pun segera naik dan menempatkan diri di kursi pilihannya masing-masing.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil para muda-muda suasana sangat ramai karena guyonan receh Akifa dan Abdiel.


45 menit kemudian.


Mereka sampai.


Adzan subuh juga sudah berkumandang.


Mereka semua turun dari mobil dan segera menuju masjid di sana.


Selesai sholat.


Para orang tua dan para muda-muda menaiki puncak untuk melihat ke indahan matahari terbit dari sana.


Sedangkan Rendra, Shita, Panji, dan Andi.


Mereka ber 4 tidak ikut dan memilih tinggal di dalam mobil.


"Kalian ber tiga kalo mau naik, naik aja Gua sendiri di sini juga gak papa." Suruh Shita.


"Diem Ta." Sungut Rendra.


Shita terkekeh pelan.


"Ya udah kalo kagak mau, tapi ngomong-ngomong, makasih udah mau di sini temenin Gua." Ucap Shita tulus.


"Sama-sama Ta, kaya ama siapa aja sih." Kata Panji.


Untuk para rombongan menuju puncak B29.


Mereka semua sangat antusias.


Tak perlu banyak waktu untuk ke puncak.


Mereka semua pun sampai di sana.


"Bentar lagi mataharinya muncul, ayo cari tempat yang pas buat liat." Ajak Alfi.


Semua orang mengangguk kan kepala.


Lalu mereka berjalan sedikit lagi dan matahari muncul malu-malu dari ufuk timur.


"Maa syaa allah." Puji Bunda Zarine.


"Begitu indah dan sangat indah di pandang." Puji Mama Abdiel.


Yang lain hanya tersenyum bahagia melihat ke indahan yang Allah ciptakan.


Cukup lama mereka melihat sampai matahari cukup tinggi.


"Ayo sarapan, setelah itu kita melihat-lihat lagi." Ajak Raina yang di angguki semua orang.


Rombongan Rafka sarapan di kantin yang ada di sana.


Di tempat Shita dan lainnya


Terlihat Rendra sedang menyuapi Shita makan.


"Gua bukan bayi Ren, ngapain sih segala di suapin?!." Sungut Shita jengkel.


"Diem dan buka mulut!." Perintah Rendra.


'Hehmm!.' Shita mendengus kasar.


Panji dan Andi dari kejauhan terkekeh geli melihat Shita dan Rendra.


"Dasar pasangan konyol." Kata Andi.


"Udah biarian aja, terserah aja lah." Timpal Panji.


Rendra menyuapi Shite dengan telaten dan sabar.


Dia juga menyuapkan nasi pada dirinya sendiri.


"Kita naik bentar lagi." Kata Rendra.


"Kita?, Lo kali sama Panji, Andi." Ralat Shita.


"Lo ngga tuli kan?." Gemas Rendra.


"Gua naiknya gimana Ren?, ngesot?, jangan mikir aneh-aneh." Kesal Shita.


"Kita naik sebentar lagi." Tegas Rendra dengan menekan setiap katanya.


"Terserah." Balas Shita dengan memutar bola matanya malas.


Sesudah makan Rendra bersiap untuk naik ke puncak B29 menyusul Raina dan rombongan lainnya.


"Andi?, tolong Lo bawa in kursi rodanya Shita, kita naik nyusul lainnya sekarang." Pinta Rendra.


"Ok, ayolah." Kata Andi.


"Kalian duluan naiknya." Suruh Rendra.


"Ok." Balas Panji dan Andi.


"Andi?!, thanks." Teriak Rendra pada Andi yang mau membawakan kursi rodanya Shita.


Andi hanya membalas dengan mengacungkan ibu jarinya.


Kini Rendra menatap Shita.


Yang di tatap hanya fokus pada laptobnya.


Inilah kebiasaan Shita.


Dimana pun dan kapan pun selalu novel yang pertama di dahulukan.


"Mati in laptob nya Ta, dan ayo kita naik." Suruh Rendra.


"Gua naiknya gimana Rendra?!, Lo keras kepala bat dah." Sungut Shita.


"Makanya beresin dulu itu laptob nya Ta." Sabar Rendra.


Shita menuruti perintah Rendra dengan mengomel.


"Ganggu aja sih, kalo mau naik juga pake apa?, lompat?, kan nggak mungkin, pocong kali a Gua." Dumel lirih Shita yang masih bisa di dengar Rendra.


"Ngga usah ngedumel, ayo!." Seru Rendra.


"Iya sabar." Jawab Shita.


2 menit menunggu.


"Dah, sekarang pake apa kita ke sana?." Tanya Shita.


Rendra ber jongkok.


Punggunya menghadap ke arah Shita.


Shita yang melihat dan paham maksud Rendra hanya mengangkat sebelah alisnya dan tertawa pelan.


"Gendong belakang gitu maksud Lo?." Tebak Shita.


"Ayo!." Ajak Rendra.


"Lo ngga papa?, Gua berat loh Dra." Kata Shita.


"Gak sampe 100 kilo kan?, ayo!." Seru Rendra lagi.


Shita mendengus ketika Rendra bilang begitu.


"Emang Gua lebar apa sampe beratnya segitu?." Sungut Shita dnegan menaiki punggung Rendra.


Rendra terkekeh geli sambil berdiri dari posisi jongkoknya.


"Lo tuh mungil Ta, kalo Gua gendong Lo kaya gendong kapas rasanya, ringan bat." Ledek Rendra.


"Sembarangan, Gua emang mungil, tapi berat badan Gua normal tau, cuma tingginya aja yang belum naik." Kilah Shita.


"Bukan belum naik, tapi emang dasarnya Lo badannya kek kurcaci, hahaha." Tawa Rendra.


Shita jengkel dia mencubit lengan kekar Rendra.


"Ihhh ngeselin!." Gemas Shita.


"Aush!, sakit Ta, hahaha, ok-ok maaf, jangan di cubit lagi, sakit soalnya." Kata Rendra.


Di perjalanan ke puncak B29 Shita dan Rendra bercanda tak henti-henti sampai Shita tertawa terbahak.


Mereka menjadi perhatian semua pengunjung yang melihat ke dekatan mereka.


Di puncak B29.


Andi dan Panji telah sampai di sana.


"Lah?!, kalian?, Shita sama Rendra gimana itu di tempat parkir?." Tanya Raina.


"Mereka OTW naik." Jawab Andi dengan meletak kan kursi rodo Shita.


"Pake apa Shita kesini?, ngga mungkin jalan kan?." Tanya Mama Rafka.


"Pake punggungnya Rendra." Jawab Panji.


"Hah?!." Seru semua orang yang belum ngeh mendengar perkataan Panji.

__ADS_1


"Rendra gendong Shita kesini." Jelas Andi.


"Ouh." Jawab semua orang.


Selang 10 menit dari kedatangan Andi Panji.


Raina mendengar teriakan kesal Shita.


"Dra!, Lo kalo gila jangan ajak teman, gila aja sendiri!!." Teriak Shita kencang.


"Pake suara oktaf yang ke berapa tuh?." Heran Alfi.


"Hahaha, biasalah, Shita emang kalo kesel ngga bisa di kontrol suaranya." Kata Raina.


Sampai di tempat Rafka dan lainnya.


"Andi?!, kursi rodanya tolong." Pinta Rendra cepat.


"Iya." Jawab Andi.


Shita di turunkan perlahan di kursi nya.


"Duh Ta, ngga usah pake nyubit kalo kesel." Gemas Rendra dengan menarik hidung mungil Shita.


"Sakit!, dasar Rendra gila!." Seru Shita.


"Duh, kalo akur aja, nempelnya udah kek lem ama prangko, jan ribut mulu, udah makan belum kalian ber empat?." Raina melerai peperangan yang terjadi antara Shita dan Rendra.


"Udah tadi." Jawab Rendra.


Shita menjalankan kursi rodanya menjauh dari kerumunan.


"Mau kemana Ta?." Tanya Rendra.


"Cari tempat teduh." Jawab Shita.


"Kebiasaan." Sungut Rendra.


Dia menyusul Shita yang sedang menjalankan kursi rodanya.


"Mereka ribut jatohnya ngga nyeremin tapi bikin iri dan gemes." Celutuk Panji.


"Kok gitu?." Heran Zarine.


"Iya, satunya kalo marah orang di dekatnya di cubitin, kalo satunya malah makin gencar ngledekin." Jelas Panji.


"Gua yakin mereka udah jadi bahan tontonan tadi di jalan." Kata Andi.


"Hahaha, kalo itu udah pasti." Tawa renyah Panji.


"Tuh liat, mereka ribut lagi." Tunjuk Raina ke arah Rendra Shita.


Rendra sedang mengangkat tinggi-tinggi tas ransel Shita yang di yakini semua orang itu adalah laptob.


"Rendra?!!, balikin!!." Seru Shita jengkel.


"Ayo ambil." Ledek Rendra.


Semua orang terkekeh geli melihat itu semua.


"Dasat gila, Gua kagak bisa jalan ogeb!!, balikin oy!!." Seru Shita makin jengkel.


"Duh padahal jauh tapi suaranya sampe sini loh." Kata Bang Rafa dengan tertawa terbahak.


"Yaaa, Shita kalo di suruh teriak jagonya." Timpal Raina.


Rendra berjalan kembali ke tempat Raina dan lainnya.


Shita di belakangnya mengekori dengan sumpah serapahnya menyumpahi Rendra.


"Sehari aja Ta Lo lepas dari nih laptob, masa ngga bisa sih?." Pinta Rendra.


"Kagak!, itu hobi Gua dan Gua ngga mau berenti." Jawab Shita.


"Dasar keras kepala!." Seru Rendra.


"Kaya Lo ngga aja, sadar diri Bambank." Jengkel Shita.


"Udah!, kalian ini ribut mulu." Lerai Raina dengan melototkan matanya karena sudah jengah mendengar perdebatan Rendra Shita.


"Noh si Bambank ngeselin, Gua mau kerja di recokin." Adu Shita.


"Ayo kita keliling aja." Rendra mengalihkan pembicaraan.


Dia berjalan terlebih dahulu dengan mendorong kursi roda Shita.


Semua orang mengikuti langkah Rendra.


Dia juga menjelaskan apa saja ke unikan di sana.


Para orangtua berfoto juga di spot-spot foto disana.


Mereka semua di sana sampai senja tiba.


Di momen sunset yang indah ini.


Kejutan tak di sangka datang dari Bang Rafa.


"Ehem!, denger semuanya, Bang Rafa mau semua orang yang di sini jadi saksi." Kata Bang Rafa pada para keluarganya yang sedang berdiri di belakangnya.


"Saksi apa Bang?." Tanya Bunda.


Bang Rafa tidak menjawab.


Dia mengeluarkan kotak beludru dari saku celana dan mengambil isinya.


"Rain, aku ini mungkin bagi kamu terlalu cepat, tapi bagiku ini adalah waktu yang pas, aku bukan cowok yang romatis, dan terkesan blak-blak an dalam bicara, Raina?.. ." Bang Rafa menjeda ucapannya.


"Duh Bang Rafa ingetin aku pas masa kamu nglamar aku." Bisik Akifa pada Abdiel.


"Hehehehe." Abdiel hanya terkekeh mengenang masa itu.


Kembali lagi ke Bang Rafa.


'Khemmmm, huhhhffh.' Bang Rafa menarik nafas pelan dan mengehembukan perlahan, dia gugup.


"Raina?, aku mencintaimu Raina, maukah kamu jadi istriku juga Ibu dari anak-anak kita nanti?." Tanya Bang Rafa langsung.


Jantung Raina berdetak lebih kencang dari biasanya.


Dia memang jatuh cinta dengan Bang Rafa, bahkan mungkin mencintai.


Singkat memang pertemuan mereka hanya sekitaran 4 bulanan.


Tapi Raina sudah mencintai Bang Rafa.


Dia tak berharap lebih pada Bang Rafa karena di pikirannya laki-laki itu begitu sempurna.


Jika dibandingkan dengan Raina, dia merasa seperti bulan dan matahari bersanding dengan Bang Rafa.


Tapi sekarang dia terkejut.


Bang Rafa orang yang dia cintai melamarnya tepat di hadapan para keluarganya.


"Raina?." Panggil Bang Rafa.


"Ah, iya?." Raina bangun dari lamunannya.


"Gimana?." Tanya Bang Rafa.


Raina menatap seluruh keluarga Bang Rafa.


Mereka semua tersenyum bahagia.


Lalu Raina beralih menatap Shita adik sepupunya.


Shita yang paham arti pandangan Raina yang meminta persetujuannya, dia tersenyum menanggapinya.


"Shita akan bahagia kalo jawaban Kak Raina 'iya', tapi tetap keputusan ada pada diri Kak Raina sendiri." Kata Shita.


Raina kembali menatap Bang Rafa.


2 menit diam dia mulai berbicara.


"Iya, aku mau." Jawab tegas Raina.


"Alhamdulillah." Ucap syukur semua orang.


Bang Rafa sangat bahagia.


Dia memasangkan cincin yang dia bawa tadi.


"Makasih." Ucap Bang Rafa tulus.


"Buat apa?." Tanya Raina.


"Karena udah mau nerima aku." Jawab Bang Rafa.


"Aku harusnya yang berterima kasih karena kamu mau nerima perempuan yang ngga tau orang tuanya dimana." Sedih Raina.


"Kamu tenang aja Raina, soal orang tua kamu, kita semua akan mencarikannya buat wali nikah kamu." Hibur Ayah Zarine.


"Raina ngga yakin kalo mereka masih hidup Yah." Lesu Raina.


"Kok gitu?, kenapa?." Tanya Bunda.


"Raina udah pernah cari dengan bantuan polisi, tapi hasilnya nihil, ada yang bilang kalo mereka sudah meninggal, entahlah mana yang bener, Raina udah capek nyari." Jelas Raina.


'Huuufffffh.' Semua menghela nafas lelah.


"Ini udah malem, ayo ke masjid dan sholat setelah itu pulang." Ajak Panji.


Mereka semua mengangguk kan kepala.


Pukul 18.05 mereka semua pulang ke rumah.


Di tempat penginapan.


7 keluarga senior, 3 keluarga junior, Bang Rafa Raina, dan Bang Idan, Tika, Shita duduk di meja makan sedang menikmati makan malam.


Di meja makan itu para orang tua membahas pernikahan Raina dan Bang Rafa.


"Gimana kalo nikahnya pertengahan Januari?." Usul Bunda.


"Ngga terlalu cepet Bun?." Tanya Ayah.


"Hal baik itu ngga boleh di tunda." Jawab Bunda.


"Kita tetap harus tanya calonnya." Ujar Ayah.


"Kalian berdua gimana?." Tanya Bunda.


"Aku setuju sama Bunda, lebih cepat lebih baik." Jawab Bang Rafa.


"Raina ikut Rafa sama Ayah Bunda aja." Jawab Raina dengan tersenyum manis.


"Pernikahan Bang Rafa sama Raina sedang di rencanakan, itu yang satu yang sebelah kiri Bang Rafa kapan?, jan digantungin terus anak orang Bang." Ledek Akifa.


"Diem Lo bocil!." Seru Bang Idan.


'Hahahaha." Tawa seluruh orang di meja makan itu.


Pasalnya orang yang duduk di sebelah kiri Bang Rafa adalah Bang Idan.


Dia memasang wajah kecut mendengar sindiran Akifa.


"Dih, Gua bukan anak kecil ya, masa Lo kalah sama kita semua?, sadar umur Bang, bentar lagi Lo tua." Sinis Akifa.


"Bener tuh." Timpal Abdiel.


"Laki, bini klop deh, sama-sama ngeselin." Celutuk Bang Idan.

__ADS_1


"Laki, bini?." Tanya heran Mama Papa Tika.


"Hahaha, kalian ngga usah kaget gitu, mereka ber 6 ini emang udah nikah, yang lama nikahnya Rafka Zarine, udah 1 setengah mereka nikah." Jelas Mama Rafka.


"Nikah muda?!." Tanya Mama Tika tak percaya.


"Yak, benar!!." Jawab Mami Alfi.


"Bentar lagi juga Tika kayanya nikah muda." Celutuk Papa Rafka.


"Ya kita sih tinggal tanya anaknya aja, kalo pendapat kita pribadi ya setuju-setuju aja, asal lakinya bener." Balas Papa Tika dengan menatap Bang Idan yang fokus makan.


Dia pura-pura tak menghiraukan padahal informasi ini yang dia ingin tau.


"Ya kita doa kan aja ada orang yang serius sama Tika." Ucap Bunda.


"Aamiin." Jawab semua orang serentak.


Setelah makan malam, semua orang melaksanakan sholat isya' berjamaah di mushollah rumah.


Selesai sholat semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka.


Untuk Raina dan Shita, mereka berdua pulang ke rumah mereka sendiri beristirahat juga.


-


-


-


-


-


Pagi yang indah ini, semua penghuni rumah sedang mengepak pakaian mereka ke dalam koper.


Besok pagi-pagi Rafka dan lainnya akan kembali pulang ke Jakarta.


Di rumah Raina Shita, mereka berdua juga menyiapkan segala kebutuhan.


"Kalo aku ikut kesana, rumah ini siapa yang jaga Kak?." Tanya Shita.


"Di jual aja, kamu ngga kan pernah balik ke sini." Jawab Raina.


Deg!.


Shita membatu di tempat dia mengepak pakaian.


"Kalo soal Rendra, biar dia yang cari kamu ke sana." Lanjut Raina.


"Kakak yakin mau jual rumah ini?." Tanya Shita.


"Kenapa engga?, rumah ini kan hasil usaha kita berdua, bukan warisan dari orang tua kita, ouh atau kalo ngga di jual biarin aja Rendra, Andi, dan Panji yang urus, kamu terima beres aja." Tanyak balik Raina.


"Tapi aku ngga mau ikut Kakak ke Jakarta, di sana aku mau ngapain?, mau kerja apa?." Tanya Shita.


"Apa aja, kamu kan lulusan sekolah kejuruan, pasti ada kerjaan untuk kamu disana." Jelas Raina.


'Khemmmm, huuffffh.' Shita mengehela nafas pasrah.


Suasana hening tidak ada suara.


"Kak?." Panggil Shita.


"Hem?." Sahut Raina.


"Ada fakta yang harus Kakak tau soal orang kita." Ucap Shita tegas.


"Apa itu?." Tanya Raina.


Shita menepuk tepi ranjang miliknya.


Mengisyaratkan Raina agar duduk di sampingnya.


Raina menurut.


Dia duduk disebelah Shita.


Shita menggenggam tangan Raina erat.


"Beliau semua udah meninggal." Beri tahu Shita.


Raina tertegun dan menatap Shita tak percaya.


Dia ingin menyangkal perkataan adik sepupunya itu, tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan.


"Selama kepergian Kakak, aku mengutus orang untuk mencari beliau semua... ." Shita menggantungkan ucapannya.


"Terus?." Tanya lirih Raina.


"Orang suruhanku menemukan tempat tinggal beliau semua, tapi tetangga mengatakan Ibu, Ayah, Om, dan Tante sudah meninggal karena di bunuh orang disana, saat orang suruhanku mencari kasusnya di kantor polisi setempat, polisi bilang almarham-almarhumah di bunuh karena mencuri." Jelas Shita.


Raina yang mendengarnya menangis.


"Di.. dimana? Di kota mana mereka semua di bunuh?." Tanya Raina dengan air mata berjatuhan.


"Bukan di kota, tapi di pulau Bali." Jawab Shita.


"Bali?." Tanya tak percaya Raina.


"Iya, aku sendiri juga sudah memastikannya." Jelas Shita.


"Ayo kita kesana, kita ke makam mereka, kalo bisa di pindahkan ke sini, kita bawa pulang ke Jawa." Pinta Raina.


"Kejadian itu udah lama Kak, kalo ngga salah udah 3 tahun yang lalu dan parahnya lagi, pelaku memutilasi orang tua kita juga diberikan sebagai makanan hewan peliharaannya." Terang Shita dengan suara serak menahan tangis.


"Pelakunya udah di tangkap?." Tanya Raina.


"Pelaku sudah meninggal juga karena tertabrak mobil." Kata Shita.


Raina menangis sesenggukan mendengar kabar yang menyayat hatinya itu.


Shita menarik Raina untuk memeluknya.


Mereka ber dua berpelukan dengan berliang air mata.


Raina tak menyangka bahwa orang tuanya dan orang tua sepupunya itu akan tiada secara tragis.


Di luar kamar Shita.


Bang Rafa dan lainnya mendengar semua pembicaraan Shita.


Mereka terkejut dan Bunda langsung menangis tanpa suara.


Beliau langsung masuk lalu ikut berpelukan dengan Shita dan Raina.


"Sabar ya Sayang, kami ada untuk kalian berdua." Ujar Bunda menghibur.


Suasana sedih menyelimuti ruangan kamar Shita.


Lama mereka semua dalam situasi ini, sampai seseorang mencairkannya.


"Udah, kalian berdua harus bangkit, berdoa saja semoga Allah mengampuni dosa-dosa kedua orang tua kalian." Kata Ayah Bang Rafa.


"Ya, Ayaj bener." Kata Raina.


Dia melepas pelukan lalu mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Kita harus bangkit, ayo lupakan yang lalu dan bangkit menuju lebih baik!." Seru Raina.


"Ayo!." Jawab semua orang dengan semangat.


Kemudian semuanya tertawa pelan dengan tingkah masing-masing.


"Eh, malam nanti kan tahun baru, gimana kalo kita buat acara malam ini?." Usul Bang Idan.


"Acara apa?." Tanya Abhi.


"Barbeque?." Tebak Alfi.


"Iya, gimana?." Kata Bang Idan.


"Boleh, aku udah ada alatnya, tinggal beli keperluan yang lain aja." Setuju Shita.


"Kita belanja sekarang aja." Ajak Raina.


"Ayo." Jawab Shita.


"Kalian cuci muka dulu sana, muka kalian semua sembab." Perintah Mami Alfi.


"Iya." Jawab Raina Shita bersamaan.


Bunda dan lainnya keluar dari kamar Shita.


Raina membantu Shita mencuci muka.


Baju-baju Shita tadi sudah di masuk kan ke dalam koper dan tas.


Setelah mencuci muka mereka berdua keluar dari kamar dan pergi ke teras.


"Kita belanja di mana?." Tanya Abdiel.


"Kita?." Tanya heran Shita.


"Iya." Jawab Abdiel.


"Maksudnya kalian para cowok mau ikut ke pasar?." Tanya Shita.


'Hahahaha.' Tawa pelan Shita terdengar.


"Kalian jangan ikut deh, tunggu di sini aja." Kata Raina.


"Dan kamu Ta, kamu juga ngga boleh ikut kesana." Tegas Zarine.


"Lah?, kok?." Protes Shita.


"Nurut aja kurcaci ngga usah ngebantah." Sahut Rendra dari jauh.


'Hehmm.' Shita mendengus kesal.


"Iya, ngga ikut." Pasrah Shita.


"Kalian ke pasar sama Andi Panji aja." Kata Rendra.


"Ayoklah." Seru Andi.


"Nih kunci mobilnya." Bang Idan melempar kan kunci ke arah Andi.


"Ok, ayo semuanya." Ajak Andi.


"Kak Rain, nitip kue pasanya!!." Teriak Shita.


"Siiap." Jawab Raina.


Para perempuan muda berangkat ke pasar dan lainnya tinggal di rumah.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2