
Tika makin memfokuskan pendengarannya.
"Denger Za!, Gua udah bilang dari awal sama Lo, berenti mencampuri urusan Gua kalo Lo ngga mau bantu, jangan buang waktu Gua dengan ocehan gak berguna Lo itu!." Suara tegas seseorang dihadapan Zahra.
Tika tidak tau nama cewek yang sedang berseteru dengan Zahra ini.
Yang dia tau bahwa cewek itu kemarin yang menatap Rafka dengan muka malu-malu sambil tersenyum.
"Cewek itu, Gua pikir dia temennya si Zahra." Gumam Tika.
Tika sudah ingin pergi dari lokasi tapi terhenti karena mendengar percekcokan mereka lagi.
"Lo temen Gua Bell, Kak Rafka sama Kak Zarine juga udah hampir 2 tahun jalin hubungan, jangan terlalu obsesi sama sesuatu Bell!!." Seru Zahra geram.
Tika diam mematung di tempat.
'Sekali lagi, orang kaya Sari ada lagi dan itu pun dengan target yang sama pula, Rafka Zarine.' Batin Tika.
"Gua ngga peduli!." Tekan Bella di setiap katanya.
"Lo akan nyesel Bell." Peringat Zahra.
Tika jengah dengan tingkah keras kepala Bella.
Dia muncul di tengah-tengah perdebatan 2 cewek itu.
Sontak saja Zahra terkejut dengan kehadiran Tika.
'Apa Kak Tika denger semuanya?.' Batin Zahra waspada.
Tika mendekat dan berdiri di hadapan Bella.
"Bella Dwi Hardjo." Baca Tika pada name tag Bella.
"Hai Kak." Sapa manis Bella.
Bella tau kalo Tika adalah teman Rafka.
Tika mengelilingi badan Bella dari depan sampai belakang dan kembali lagi kedepan.
Bella hanya tersenyum manis menanggapi tingkah Tika.
Sedangkan Zahra?.
Cewek satu ini menatap takut pada Tika.
'Kalo Kak Tika denger dan laporin Bella, yang bakal marah besar 2 orang nih, Kak Akifa dan Kak Alfi, mana Kak Alfi ganas banget lagi kalo marah.' Zahra gelisah di dalam hatinya.
'Semoga Kak Tika ngga ngadu deh.' Doa Zahra sambil memejamkan matanya sebentar dengan erat.
"Lo kenap Ra?." Tanya Tika yang membuyarkan pikiran Zahra.
"Ng... ng... ngga papa Kak, aku sehat." Jawab Zahra gelagapan.
Tika mengangguk kan kepala.
Dia maish fokus dengan cewek di depannya ini.
'Kakak ini kenapa sih?, aneh bat dah.' Batin Bella.
'Cantik sih, tapi ngga punya malu.' Pikir Tika.
Dia heran, kenapa seolah sejarah terulang kembali?.
Bella mengingatkan Tika pada Sari sang sahabat yang kini sedang berada di RS kejiwaan menjalani pengobatan psikisnya.
'Kenapa banyak banget orang yang ngga tau malu?!.' Keluh Tika dalam batinnya.
"Nyali Lo gede juga mau ngancurin hubungan temen Gua." Sinis Tika tajam menatap Bella dengan datar.
Jlep!.
Perkataan Tika tepat mengenai sasaran.
Bella menelan salivanya susah mendengar perkataan Tika yang tajam itu.
Dia bukan takut tapi hanya gugup.
"Denger, kejadian kaya gini di masa lalu mereka udah pernah kejadian, bukannya tertarik Rafka malah makin jijik liatnya, cara Lo rendahan sayang." Makin tajam saja perkataan Tika.
Suasana hening sejenak.
Bella tidak bisa melawan perkataan Tika.
Lidahnya keluh tak dapat berbicara.
Zahra yang berada di belakang Tika menunduk dengan sedikit gemetar.
Dia tau Kakak kelasnya ini sedang marah dan sangat marah pada temannya yang mencari masalah ini.
'Duh, habis sudah.' Rutuk Zahra di hatinya.
"Dengerin Gua Bella, Lo cantik, banget malah, tapi jangan murahan, Lo cari musuh yang salah, Rafka cuma mencintai Zarine, hanya Zarine." Tegas Tika dengan menekan kata 'hanya Zarine'.
"Lo kalo mau cari cowok, cari yang lain, cowok banyak di sekolah ini, tapi kalo Lo masih keukeuh sama Rafka, siap-siap Lo berurusan sama Gua dan 4 orang lainnya." Peringat Tika.
Tika berjalan ingin meninggalkan Bella dan Zahra.
Sebelum itu... .
"Nasihatin temen Lo Ra, ini perintah! Wajib Lo lakuin, Lo tau kan gimana Alfi kalo udah ngamuk?." Tika mengingatkan kemarahan Alfi pada Zahra.
Zahra mengangguk kan kepalanya cepat pertanda memahami perkataan Tika.
Tika pergi ke kelasnya.
Zahra menghela nafas lega.
"Ini baru peringatan Bell dan untungnya masih Kak Tika yang ngingetin, kalo sampe Kak Alfi sendiri yang turun tangan, Gua ngga bisa jamin Lo bakal hidup enak lagi." Beber Zahra dan meninggalkan Bella di taman belakang sendirian.
Bella menggeram kesal.
"Ahhhh!!." Teriak nya marah.
"Gua ngga akan nyerah, ngga akan pernah!!." Teriak Bella sedikit kencang.
Untung suasana taman belakang ini sepi dan agak jauh dari gedung sekolah, jadi tidak akan ada orang yang mendengar teriakannya.
Di kelas 12 IPS 1.
Di bangku sebelah utara tempat 6 serangkai duduk.
Kelas mereka sedang sibuk mengerjakan soal Sejarah yang di berikan oleh Bu Silvi tadi.
"Uaaaa." Abdiel menguap lelah.
"Ngantuk Gua liat soal sejarah." Keluh Abdiel.
Bu Silvi sedang keluar kelas, suasana kelas berubah agak riuh karena satu kelas sibuk membuka ponselnya menjadi jawaban dari soal di google.
Sedangkan 6 serangkai hanya berbekal buku paket untuk mencari jawaban.
"Udah kerjain aja." Kata Zarine dengan tertawa kecil mendengar suami sahabatnya ini mengeluh.
Abdiel hanya menjawab dengan anggukan malas dan helaan nafas lelah.
"Yang jawab in soal aku dong." Pinta Abdiel manja pada istrinya.
"Ogah, aku sendiri aja pusing, soalnya cuma satu baris, jawabannya asli bikin orang pingsan nulis." Akifa melebih-lebihkan ucapannya.
"Dasar lebay." Celutuk Alfi.
Perdebatan antara Akifa dan Alfi pun terjadi.
Para suami berusaha melerai.
Lalu pada akhirnya perdebatan berubah menjadi perundingan soal yang meraka kerjakan.
Zarine dan Rafka menggelengkan kepala melihat para sahabatnya ini.
Pundak Zarine tiba-tiba ada yang mencolek menggunakan pulpen dari samping.
Zarine menoleh.
Dia mendapati Kania dengan senyum lebarnya menatap Zarine.
"Ada apa?." Tanya Zarine.
"Gua pinjem buku catatan sejarah Lo dong, punya Gua ngga lengkap nih Za." Pinta Kania.
"Ok tunggu aku cari kan." Kata Zarine yang diangguki Kania.
Zarine merogoh laci mejanya.
Dia menemukan bukunya dan langsung memeberikannya pada Kania.
"Gua pinjem, makasih Za." Ucap Kania.
"Iya sama-sama." Jawab Zarine.
Zarine tidak hanya menemukan bukunya di dalam laci.
Tapi dia menemukan secarik kertas bertuliskan 'JAUHI RAFKA!!!' ditulis dengan spidol warna merah.
Rafka ikut membaca tulisan itu.
Dia geram dan mangambil kertas itu dari tangan Zarine.
"Yang?." Rafka tak menghiraukan perkataan istrinya itu.
"Guys?!." Panggil Rafka pada 4 orang temannya.
Mereka menoleh dan Rafka menujuk kan tulisan itu.
"Cewek ngga punya malu!, kita cari dia." Dingin Alfi berkata.
"Ngga usah susah-susah, calon istrinya Bang Idan pasti tau soal ini." Kata Rafka tak kalah dingin.
"Udah ngga usah di perpanjang, pelaku paling-."
"Jangan terlalu baik dengan maafin orang yang punya niatan mau ngrebut Rafka Za!." Potong Akifa cepat dengan suara rendah.
Semarah apapun 5 orang di hadapan Zarine ini, mereka ngga akan sanggup kalo sampe bentak-bentak Zarine, karena sedari kecil Zarine tidak pernah terkena bentakan sekalipun dari orang tuanya.
Hanya Sari seorang yang berani membantak Zarine bahkan sampe mencelakainya.
"Lo emang mau kehilangan orang yang Lo cinta dan sayang?." Tanya Alfi.
"Aku bukan ngga takut kehilangan, tapi aku ngga mau ada keributan, dan lagi aku percaya sama Rafka, dia ngga akan berbuat aneh-aneh di belakangku." Jawab Zarine tegas.
"Terlalu percaya." Sungut Akifa.
"Emang kamu ngga percaya sama aku Yang?." Tanya Abdiel.
"Percaya, tapi ngga 100%." Jawab Akifa.
"Kita bahas nanti." Putus Rafka.
Bu Silvi masuk kelas, jadi obrolan terhenti.
'Aku bersyukur punya kamu Yang.' Batin Rafka bahagia atas kepercayaan yang Zarine berikan padanya.
'Aku ngga akan buat kamu kecewa, karena emang cuma ada kamu di hati dan pikiran ku.' Sambung Rafka.
Hari ini adalah hari jumat.
Sekolah pulang pukul 10.00 pagi.
6 serangkai sudah ada di tempat perkir menunggu Tika.
__ADS_1
"Lama banget sih Tika, ngapain coba di kelas." Rungut Akifa.
Padalnya mereka sudah menunggu sekitar 10 menit yang lalu.
Sebelum itu Rafka mengirimi Tika chat.
2 menit kemudian.
"Sorry telat, ada apa?." Ucap Tika dengan nafas yang tersengal.
Zarine memberikan Tika air mineral.
"Thanks Za." Tika meminum air itu hingga sisa setengah.
"Lo bawa mobil?." Tanya Rafka setelah melihat Tika suda normal, Rafka mengabaikan tak menjawab petanyaan Tika di awal.
"Gua dianter Papa tadi, kenapa emang?." Tanya Tika.
"Bagus, ayo ikut mobil Gua." Ajak Rafka.
"Wah wah adik ipar Gua baik banget, makasih Lo." Ledek Tika.
Mereka pun masuk mobil dan meluncur meinggalkan gedung SMA Merdeka.
Di perjalanan suasana dalam mobil tampak hening.
Semaunya sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Tika yang tidak betah dengan situasi pun memulai pembicaraan.
'Ehem.' Dehem Tika pelan.
"Kalian ada apa nih?, tumben diem semua?." Tanya Tika.
"Al?." Panggil Rafka.
Dia mengangguk kan kepala lalu merogoh saku roknya dan mengeluarkan secarik kertas kecil dan memberikannya pada Tika.
Tika menerima dan membacanya.
Tulisan 'JAUHI RAFKA!!!' membuat dia menghela nafas lelah.
Tika memijit pelipisnya pelan.
"Gua heran, kaya dunia cowoknya cuma satu aja." Gerutu Tika.
"Lo pasti tau ini perbuatan siapa, iya kan?." Tanya Rafka.
"Hmm, Lo bener." Jawab Tika malas.
Wajahnya berubah masam dan malas untuk membahas masalah ini karena sudah lelah dengan yang dulu.
"Sejarah terulang kembali." Kata Tika dengan memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Yaa Lo bener." Sahut Alfi.
"Semoga yang ini ngga se parah yang lama." Doa Akifa.
"Kalo bisa dia sadar dan milih ngga cari masalah." Dingin Alfi berucap.
"Kapan dapet surat ini Za?." Tanya Tika pada calon adik iparnya ini.
"Baru tadi." Jawab singkat Zarine.
"Dimana?." Tanya Tika lagi.
"Laci meja ku." Cepat Zarine menjawab.
Tika membolak balik kan kertas.
'Huufffffh' Semua orang dalam mobil menghela nafas lelah.
"Kita bahas nanti aja, Gua capek, anterin Gua ke rumah Raf." Pinta Tika.
"Kita bakal jemput Rendra nanti sore, Lo harus ikut, langsung aja ke rumah Gua, ijin sana sama Mama Papa Lo." Perintah Rafka tegas.
"Hmm." Jawab Tika.
Dia mengirim pesan ke Mama Papanya.
Setelah mendapat jawaban 'iya' Tika langsung mematikan ponselnya.
"Ouh iya, Lo ngga fitting baju buat nikahan Lo Tik?." Tanya Akifa.
"Udah, semua acara nikah yang atur Mama Papa Gua, Mama Papa Kak Zaidan dan WO, Gua sama Kak Zaidan terima beres." Jawab Tika.
Beberapa menit perjalanan.
Mobil Rafka pun sampai di rumah Rafka dan langsung masuk ke garasi.
Mereka yang ada di dalam mobil segera keluar.
Zarine membuka pintu dan masuk terlebih dahulu bersama Tika.
Saat Abdiel Akifa dan Alfi Abhi ingin ikut masuk ke rumah Rafka, tuan rumah mencegah.
"Pulang ke rumah masing-masing." Suruh Rafka.
"Ck, kita ngga akan pulang sebelum Tika cerita in segalanya." Tolak Alfi tegas tak terbantah.
Zarine muncul lagi dari dalam rumah.
"Lah?, kok belum masuk sih kalian, ayo semuanya masuk!." Seru Zarine.
"Ayo... ." Akifa dan Abdiel masuk dalam rumah Rafka tanpa menghiraukan tatapan Rafka.
Abhi dan Alfi pun juga ikut masuk.
"Astaughfirullah." Rafka beristighfar kemudian ikut masuk.
Mereka berkumpul di ruang santai depan tv.
"Bener tuh kata Tika, ayo aku bantu Yang." Ajak Zarine pada Rafka.
"Ceritanya kapan ini?!." Gemas Abdiel.
"Nanti habis sholat jumat... ." Perkataan Tiks menggantung.
"Ok deh." Jawab Abdiel.
"Dan makan siang." Sambung Tika sambil menaik turun kan alisnya membuat Abdiel jengkel.
"Au ah gelap." Kesal Abdiel dan dia pun pergi dari ruang santai di ikuti lainnya yang akan bersiap ke masjid.
Tersangka yang membuat Abdiel jengkel malah terbahak sampai berguling-guling di sofa.
"Sorry guys!!." Seru Tika berteriak.
Rafka yang mendengar ucapan Tika menggerutu.
"Keterlaluan tuh anak, bikin kesel terus." Gerutunya.
"Hehehe, sabar Yang, ayo aku bantu bersiap buat ke masjid." Kata Zarine.
"Kita bagi kamar mandi yaa." Manja Rafka meminta.
"Janji cuma mandi ok?, ngga ngapa-ngapa in!." Tegas Zarine.
"Iya cuma mandi." Binar senang terpancar di mata Rafka, persis seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru.
Khotbah di masjid terdengar.
3 cowok itu pergi ke masjid bersama dan 4 cewek sholat dzuhur di rumah secara berjamaah.
Pukul 12.30 mereka makan siang bersama.
Selesai makan mereka berkumpul dan membicarakan hal tadi di sekolah.
"Tadi pas Gua mau balik ke kelas, di taman belakang si Zahra berantam ama temenny." Pembukaan Tika.
"Mereka berantem karena si Bella temennya Zahra itu ada niatan ngrusak hubungan kalian." Kata Tika menunjuk pada Rafka dan Zarine.
Tika berhenti bercerita sebentar.
"Ayo Tik lanjut." Akifa tak sabar menyuruh Tika melanjutkan.
"Sabar napa, terus Gua yang tadinya nguping mutusin buat kasih dia peringatan, tapi kayanya dia ngga bakal nyerah deh." Sambung Tika yakin.
Semuanya diam memikirkan semua hal yang bisa saja terjadi.
"Dan untuk kertas itu, bisa ketebak dah dari siapa." Kata Tika.
"Kita bakal diem aja nih?." Tanya Akifa.
"Ngga!, kita harus bertindak." Tegas Alfi.
"Kita nasehati aja dia jangan peke cara nglabrak, males ribut akunya." Zarine dengan cara baik dan simplenya.
"Ada satu cara agar dia ngga deketin atau berusaha lagi." Kata Tika dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa?." Tanya Akifa dan Abdiel kompak.
"Bilang ke dia kalo kita semua istri dan nunjukin buku nikah, itu kan cara yang Lo maksud?." Tebak Rafka tepat sasaran.
"Lo bener." Ujar Tika.
"Tapi kalo bilang ke dia yakin dia bakal jaga rahasia?." Tanya Alfi.
"Itu dia masalahnya." Sahut Tika.
"Gimana kalo bilang kita tunangan?." Usul Zarine.
"Bisa juga, kalo dia minta bukti kasih tau aja cincin yang kalian pake di jari." Semangat Akifa.
"Kalo dia beraksi lagi Gau sendiri yang bakal ngomongin kaya gini ke dia." Datar Rafka tegas.
Semua orang mengangguk kan kapala setuju.
Suasana hening.
"Ehem bahas pelako udah, sekarang apa kabar sama yang nau nikahan besok minggu ini." Goda Akifa pada Tika.
"Apa an sih kalian." Tika bersemu merah di goda seperti ini.
"Hahaha." Tawa 6 serangkai meledak.
"Emmm, Gua boleh tanya ngga sama kalian para cewek-cewek?." Kata Tika.
"Tanya apa?, soal malam kan?." Tebak Akifa.
Tawa mereka kembali meledak dan Tika makin malu di buatnya.
"Udah dong jan ledekin Gua mulu." Sungut Tika.
"Ok ok, Lo mau tany apa?." Serius Akifa dengan sisaa tawanya.
"Apa sakit waktu ngelakuin itu?." Tanya Tika.
"Cuma bentaran, ngga usah takut lagi, itu hak suami dan kewajiban istri buat ngasih." Panjang lebar Akifa menjelaskan.
"Nanti juga Lo bakal tau rasanya, udah jan dipikirin sakit atau engganya." Timpal Alfi menenangkan.
"Gua kepikiran itu terus dari pas tanggal nikah udah di tentu in." Curhat Tika.
"Lo takut?." Tanya Alfi.
"Engga sih, cuma... gimana ya... cuma kepikiran aja." Kata Tika.
3 cewek disana menggukkan kepala paham.
__ADS_1
Para laki-laki tidak ikut berbicara karena merasa Tika seharusnya berbicara ini pada Zarine dan lainnya.
"Eh udah setenagah 2 nih, siap gih, kabarin Bang Idan, Bang Rafa, sama Kak Raina, ouh jangan lupa pemeran utama harus diajak." Suruh Akifa, dan orang yang di sebut pemeran utama adalah Shita.
"Iya siiap." Jawab Abdiel.
Dia mengabari orang yang disebutkan sang istri tadi dan menjelaskan rencana yang di susun oleh mereka tadi di sekolah.
"Bakal jadi kejutan nih buat Shita." Antusias Akifa.
"Asli Gua ngga yakin lo." Celutuk Alfi meredupkan kesenangan Akufa.
"Bikin orang down aja Lo." Jengkel Akifa.
"Semuanya udah beres, gih kalian siap-siap." Suruh Abdiel.
"Kita semua pake ini aja deh, tinggal ambil tas doang dan nunggu habis itu berangkat." Kata Alfi.
20 menit menunggu 4 orang yang itu pun datang.
"Assallammu'allaikum." Salam mereka kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Penghuni rumah.
Bang Idan dan lainnya langsung masuk ke ruang santai rumah Rafka Zarine.
"Ayo kalo gitu, perjalanan dari sini ke sana agak memakan waktu." Ajak Bang Rafa.
"Kamu dari kapan ada di sini Yang?." Tanya Bang Idan pada Tika.
"Dari tadi habis pulang sekolah." Jawab Tika.
"Kenapa ngga ngasih tau?." Introgasi Bamg Idan.
"Maaf aku ngga kepikiran ngabarin kamu." Kata Tika dengan wajah memelas mohon maaf.
"Huuffffh, jangan ulangi lagi." Tegas Bang Idan yang diangguki Tika kemudian mereka berpelukan.
"Ehem!!." Dehem Shita cukup keras.
"Eh, hahaha maaf, ngga sadar kalo ada kalian." Kata Bang Idan Idan dengan tertawa tanpa dosa.
Semua orang menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
"Maaf semuanya, kita ini mau kemana?, kenapa aku juga diseret-seret?." Tanya Shita.
"Lo ikut aja dulu." Jawab Alfi misterius.
Lalu Raina tertawa jahil pada Shita.
Shita khawatir.
"Tunggu dulu!." Seru Shita dengan berhenti berjalan dan menghentak kan tangan sang kakak sepupunya itu.
"Duh Ta!, ayo berangkat telat ini nanti kita." Gemas Raina.
"Ka... ka... kalian ngga mau buang aku kan?." Khawatir Shita.
"Ya engga lah Ta, udah ayo." Raina sudah geregetan dengan Shita yang mulai bertanya kemana-kemana karena penasaran.
Raina seperti menarik kambing yang tak mau menurut pada gembalanya.
Shita berusaha melepaskan.
"Gua ngga mau ikut!!." Seru Shita.
"Shutttt!!!!, berisik Shita!, silent!." Raina mendelik kan matanya pada Shita.
Shita ikut mobil Bang Rafa dan Raina.
Raina menamani Shita duduk dibelakang kursi kemudi.
"Ck, udah kek tahanan aja Gua." Gerutu Shita.
Shita mengatakan itu karena kedua lengannya di cekal dengan kuat oleh Raina.
"Lepas Kak sakit oy." Keluh Shita.
Raina menyengir kuda lalu melepaskan cekalannya.
'Khemmmm, huufffffh.' Shita menghela a nafas pasrah.
Setelah cukup lama berkendara.
5 mobil itu sampai di tujuan.
Kok bisa 5 mobil?, itu karena Rafka Zarine, Akifa Abdiel, Bang Idan Tika, dan Alfi Abhi mengendarai mobil masing-masing.
"Stasiun?." Bingung Shita.
Dia menatap Bang Rafa dan Raina bergantian.
"Kita mau jemput siapa?." Tanya Shita dengan rasa penasaran yang memuncak.
Tapi 2 orang yang di tatap hanya tersenyum tak menjawab.
Rafka Zarine dan lainnya menghampiri Bang Rafa, Raina, Shita.
"Dasar gila, ditanya bukan jawab malah senyum." Umpat Shita pelan.
"Gua denger lo Ta." Celutuk Raina.
Shita mengusap wajahnya kasar.
'Ring... ring... ring... .' Ponsel Rafka berdering.
Dia menerima telepon itu.
"... ."
"Wa'allaikum sallam, udah nyampe?." Tanya Rafka.
"... ."
"Tunggu di sana, kita semua OTW." Kata Rafka pada orang di sana.
"... ."
"Wa'allaikum sallam." Rafka mengakhiri telepon.
"Udah nyampe?." Tebak Tika.
"Ayo." Jawab Rafka dengan memimpin jalan memasuki stasiun menjemput Rendra.
Shita kembali di tarik oleh Raina dan Shita terseok mengikuti langkah Raina.
Di tempat Rendra.
"Alhamdulillah akhirnya nyampe." Ucap syukur Panji.
"Aduh pinggang Gua sakit bat Allah." Keluh Andi.
"Dra?, Lo udah kabarin si Rafka belum?." Tanya Panji.
"Udah, lagi OTW katanya, kayanya mereka dateng rame an deh." Kata Rendra menjelaskan.
Dari kejauhan 3 cowok itu melihat 11 orang berjalan ke arah mereka.
Salah satunya sedang berwajah kecut.
Dan wajah itu yang di rindukan Rendra.
Rendra tersenyum melihat Shita yang sedang cemberut.
"Kaya mau jemput tamu spesial aja sampe rame an gini." Bisik Panji pada Andi dan Rendra.
"Hahaha, udahlah nikmatin aja." Kata Andi.
Lalu 11 rombongan itu berhenti dengan jarak 3 meter dari 3 cowok itu.
Shita menghentak kan tangannya yang di cekal Raina.
"Sakit tau!." Serunya mendelik kan matanya pada Raina.
Shita mengusap usap tangannya.
Semua orang diam.
Shita menatap Raina dan lainnya.
Dia tak menyadari Rendra tepat di depannya.
"Kenapa kalian diem?." Tanya Shita.
Hanya di balas senyuman oleh Raina dan lainnya.
"Lo ngga kangen sama Gua?." Tanya Rendra.
Shita menatap asal suara.
Dia membeku di tempat dengan mulut sedikit terbuka.
Shita mengedip ngedipkan matanya takut-takut dia berkhayal (dasar Shita lebay😂).
'Lucu banget calon istri Gua.' Batin Rendra dengan terkekeh geli melihat reaksi Shita saat melihatnya ada di hadapannya.
"Rendra?, Panji?, Andi?." Panggil Shita memastikan penglihatannya.
"Apa?." Jawab ketiganya.
"I... i... ini bener kalian?!." Kata Shita masih tak percaya.
"Ngga usah drama Ta, mereka asli dan nyata." Celutuk Raina.
"Gua ngga drama, Gua cuma terkejut." Jawab Shita.
"Pasti in aja sana kalo Lo ragu." Suruh Alfi.
Shita berjalan menghampiri Rendra, Panji, dan Andi.
Dia mencubit lengan 3 cowok itu dengan keras
"Aduy!." Pekik ketiganya.
"Bener, ini nyata, kyaaaa!!." Shita memeluk Rendra erat dan Rendra pun membalasnya.
"Yeayyy!!! Happy ending!!." Seru Akifa senang.
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1