
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
4 pria itu pun mengangguk kan kepala setuju untuk tak melibat kan para gadis agar tak terjadi hal yang berbahaya pada mereka semua nanti nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Dah sana balik ke kamar kalian masing-masing, dah malam nih, tidur besok sekolah, begadang tuh ngga baik." Suruh Daddy Rafka yang ke dua kalinya.
Tanpa menjawab perintah Daddy Rafka atau membantah nya, 4 pria muda dan tampan itu beranjak dari tempat duduk nya di kursi ruang makan.
"Langsung tidur jangan main Hp loh!." Peringat Mommy Za pada anak-anak bujang nya itu.
"Iya Momm, kita ngga akan main Hp, lagian nih mata udah ngantuk banget." Balas Damar dengan memandang Mommy nya dengan tatapan sayu akibat mata ngantuk.
4 pria muda pergi dari ruang makan meninggal kan Mommy Za dan Daddy Rafka berdua di sana.
"Anak-anak dah balik ke kamar nya, sekarang giliran kita yang balik ke kamar, em... Momm?." Panggil Daddy Rafka dengan suara pelan tepat di telinga Mommy Za.
"Hmmm? Ada apa panggil-panggil?." Sahut Mommy Za.
Posisi kedua insan paruh baya ini masih belum berubah, mereka masih berpelukan, tapi... jika tadi mereka diam tak bergerak, kini mereka berjalan ke kamar dengan berpelukan mesra.
"Daddy udah lama nih ngga dapet 'itu' sekarang kasih dong Momm, udah lama loh Junior Daddy puasa." Pinta Daddy Rafka berbicara pelan di telinga sang istri tercinta nya ini.
"Ck! Dah tua juga, masih aja minta 'itu', emang nya Daddy ngga capek? Pagi sampe sore kerja, terus malam nya main." Kata Mommy Za berpura-pura membujuk suami nya agar tak melakukan kegiatan olahraga malam.
Sebenar nya Mommy Za juga lagi pengen, tapi Mommy Za sengaja menggoda suami tercinta nya ini.
"Kalo buat main mah ngga akan pernah capek, nanti kita kerja sama, pertama Mommy di atas, terus kalo udah capek gantian Daddy yang di atas, gimana?." Daddy Rafka menyusun strategi dalam olahraga malam nya bersama sang istri.
"Emm... gimana ya?." Mommy Za pura-pura berpikir.
"Ayo dong Momm... kurang beberapa hari lagi Daddy ke Jepang nih, takut nya sampai 7 hari di sana nya, ayo yah." Bujuk Daddy Rafka pada sang istri tercinta.
"... ." Mommy Za belum bersuara, beliau masih diam.
Dan... .
"Ayo." Setuju Mommy Za dengan berbicara berbisik di depan wajah suami nya, Rafka.
Dengan semangat yang tinggi Daddy Rafka yang semula berjalan berpelukan kini menggendong Mommy Za ala bridal.
Mommy Za sampai terpekik kaget, jika tak sadar ada anak-anak yang tidur, sudah di pasti kan, Mommy Za akan berteriak keras.
Malam yang dingin ini, tak semua orang melewati nya dengan hanya tidur berselimut tebal saja, tapi ada pula yang menghabis kan malam dengan penyatuan 2 tubuh, seperti Mommy Za dan Daddy Rafka ini.
Pagi hari pukul 05.00 di dapur rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Wulan, Kristal, Agnez, dan Kak Rain, membantu Mommy Za memasak di dapur.
Para pria duduk di kursi meja makan menunggu makanan nya.
"Kalian semua nanti ngga usah buru-buru pulang, kalo memang di sekolah masih banyak yang dilakukan, di sini udah ada, bahkan udah ada banyak tenaga yang di butuh kan." Kata Daddy Rafka.
"Tetap saja Dadd, kami akan pulang cepet buat ikut bantu-bantu." Cetus Damar tanpa menatap mata Daddy Rafka.
"Tasyakuran nya kalo ngga salah habis ashar, ya jam 15.00 gitu." Ujar Daddy Rafka.
"Semoga aja kita bisa pulang agak siangan, aamiin." Doa Pamungkas yang di aamiini oleh pemuda lain nya.
"Ck! Dasar kalian, kalo sekolah pulang awal aja seneng nya minta ampun." Sungut Daddy Rafka sambil menatap anak-anak nya yang duduk di depan nya ini.
"Hahahaha... emang Daddy sama lain nya dulu ngga gitu kah?." Tanya Angkasa dengan tertawa sedikit keras.
"Ya jaman dulu sama jaman kalian sekolah ngga jauh beda, Daddy sama lain nya dulu ya sering doa kaya gitu, berharap pulang pagi atau pulang cepet, apa lagi kalo yang ngga ngerjain tugas rumah, harap-harap, guru nya ada rapat dadakan biar pulang cepet." Cerita Daddy Rafka mengingat masa remaja nya di sekolah.
Sedang asik bercerita tentang masa lalu Daddy Rafka, Mommy Za datang memberi perintah untuk bersiap-siap mandi berangkat ke sekolah dan kantor.
"Dah dah cerita nya di jeda dulu, sekarang mending kalian semua kembali ke kamar, mandi bersiap ke sekolah dan kantor." Perintah Mommy Za pada 5 pria di depan nya ini.
Tanpa di perintah dua kali para pria itu berlalu dari meja makan dan ruang makan.
Setelah menyuruh para pria kembali ke kamar, sekarang Mommy Za menyuruh para gadis kembali ke kamar masing-masing.
Pukul 05.45 pagi semua orang berkumpul di meja makan.
Di sana ternyata tak hanya ada Mommy Za dan Daddy Rafka saja.
Tapi juga ada Bunda Raina Ayah Rafa, juga lain nya.
"Pagi semua nya... ." Sapa Para gadis kompak.
Segera mereka memeluk orang tua masing-masing.
"Ayo duduk dan makan sarapan kalian." Perintah Daddy Rafka.
Sarapan pagi ini di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka ini tak ada pembicaraan barang sedikit pun.
Pukul 06.05 pagi semua orang bersiap hendak berangkat ke sekolah dan kantor.
"Kalian nanti ngga usah maksain buat pulang cepet, kita para tetuah ngga ke kurangan tenaga di sini buat acara pindahan Kak Rain dan Orang tua Agnez." Kata Mommy Za pada anak-anak nya.
"Tapi tetep kita mau bantu Mommy sama lainnya." Keukeuh Wulan menatap Mommy nya dengan penuh semangat.
"Hmmm... ya udah deh terserah kalian aja yang penting ngga ganggu waktu belajar kalian." Kata Daddy Rafka pasrah.
7 serangkai pergi ke sekolah. Sebelum ke sekolah mereka mengantar kan Kak Rain ke restoran tempat nya bekerja.
Di dalam mobil.
"Kak Rain kok pergi kerja? Kenapa ngga di rumah aja?." Cetus Pamungkas bertanya.
Kak Rain tersenyum mendengar perkataan Pamungkas si berondong tampan itu.
Sebelum menjawab perkataan nya.
"Kak Rain ngga kerja, ke Restoran cuma mau ijin aja." Jelas Kak Rain yang di angguki paham oleh 7 orang di dalam mobil ini.
"Kenapa ngga lewat ponsel aja ijin nya?." Tanya Wulan dengan menatap Kak Rain yang duduk di sebelah kanan nya.
"Ada yang mau di omongin kata nya." Jawab Kak Rain dengan mengedik kan bahu nya.
7 serangkai mengangguk-angguk kan kepala tanda paham pada penjelasan Kak Rain.
"Kak Rain ijin juga kah sama kerjaan di Cafe?." Tanya Kristal.
__ADS_1
"Yang di Cafe ngga ijin, cuma di ganti jam kerja nya, hari ini Kakak akan tampil lebih siang." Terang Kak Rain dengan menampak kan senyum manis nya.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kemudi kan Pamungkas berhenti di depan restoran.
Setelah memasti kan Kak Rain masuk ke dalam restoran, mobil yang di kemudi kan oleh Pamungkas kembali melesat jauh meninggal kan pelataran restoran.
Perjalanan menuju sekolah tak ada yang berminat bicara barang se kata pun, Agnez yang biasa nya paling ramai, cerewet, dan aktif kini ikutan diam.
Karena tak tahan dengan keterdiaman ini, Pamungkas berinisiatif untuk memulai obrolan.
"Hai? Ini kok malah jadi diam-diam an? Kaya kagak ada semangat sekolah aja." Kata Pamungkas yang masih menyetir mobil sambil sesekali melirik lain nya yang duduk di bangku belakang melalui kaca spion tengah.
"Ndak ada yang mau di bahas Mas, jadi diam saja wes." Jawab Agnez, dia tau kalau pertanyaan yang Pamungkas ucap kan tadi untuk diri nya.
"Tumben?." Tanya heran Pamungkas.
"Hehehe... ." Agnez hanya menanggapi pertanyaan heran Pamungkas dengan kekehan pelan.
Pukul 06.25 tepat mobil yang di kemudi kan oleh Pamungkas sampai di parkiran sekolah.
Semua orang yang di dalam mobil keluar.
Dan bertemu dengan orang yang sangat tak di harap ke hadiran nya.
Orang itu menyapa 7 serangkai dengan muka sok polos yang di miliki nya.
"Hai kalian semua? Selamat pagi?!." Sapa seseorang yang tidak di ingin kan kehadiran nya itu.
Tapi Agnez, Wulan, dan Kristal yang notabe nya orang yang ramah jadi mereka ber tiga membalas sapaan orang itu.
"Hai Haris! Selamat pagi juga!." 3 gadis itu menyapa dengan suara riang.
Yup orang yang menyapa 7 serangkai itu adalah Haris, kalau 3 gadis itu menyapa dengan riang lain hal nya dengan para pria yang menatap tak suka dengan kehadiran orang itu.
"Kamu baru datang juga ya Ris?." Tanya Wulan basa basi dengan tersenyum secerah mentari pagi.
"Iya nih aku baru datang." Jawab Haris membalas senyuman Wulan dengan tak kalah manis.
Setelah menyapa Wulan, tatapan mata Haris beralih pada Agnez.
Pemuda itu tersenyum antusias lalu merogoh tas yang ia sampir kan pada pundak kanan nya.
Haris mengambil sesuatu dari dalam tas nya itu, lalu memberi kan nya pada Agnez.
"Hmmm... Agnez?." Panggil Haris pada gadis yang di juluki si hiper aktif itu.
Agnez yang semula sibuk dengan ponsel nya dia menatap Haris.
"Ada apa Mas?." Tanya Agnez sambil tersenyum manis.
Angkasa menatap Haris tidak suka saat bibir pemuda itu menyebut nama gada nya.
Sadari tadi 4 pemuda yang tengah berdiri di belakang para gadis itu menatap Haris dengan tajam, kalau saja ini di film-film pasti sekarang mata 4 pemuda itu mengeluar kan leser merah yang dapat membuat takut si Haris.
"Nih! Aku tadi mampir ke super market beli minum, dan di depan kasir kan ada cokelat jadi aku beliin kamu ini, di terima yah jangan lupa di makan." Kata Haris dengan nada suara lembut.
Mata Agnez berbinar melihat cokelat yang ada di tangan Haris saat ini.
Angkasa panas melihat adegan di depan mata nya ini, dia menggenggam tangan Agnez gadis manis nya yang terulur hendak mengambil cokelat itu.
Agnez menatap Angkasa yang tengah berdiri di belakang nya dan menatap nya dengan pandangan lembut tapi penuh ketegasan.
"Jangan terima cokelat nya little girl!." Pinta Angkasa lembut.
"Kenapa?." Tanya Agnez sambil menatap Angkasa lesu.
"Nanti aku beliin yang lebih banyak, tapi syarat nya Little girl nggak boleh nerima cokelat dari dia." Kata Angkasa sambil menunjuk pada Haris mengguna kan dagu nya.
Agnez diam hanya menatap mata Angkasa dalam-dalam mencari kebohongan di sana.
Di rasa Angkasa berkata dengan serius Agnez pun mengangguk kan kepala nya meng iya kan dan menuruti permintaan Angkasa untuk menolak cokelat dari Haris.
"Mas Haris? Maaf ya Agnez ndak di bolehin terima cokelat nya, kata nya nanti Agnez mau di beliin yang banyak, maaf ya Mas." Agnez menolak pemberian Haris dengan nada suara yang sopan.
Agnez tersenyum sambil mengangguk kan kepala kuat pertanda dia tidak akan pernah merubah keputusan yang diambil ambil.
"Nah... karena Agnez ngga mau... mending cokelat nya buat aku aja, sini!." Pamungkas merebut paksa cokelat di tangan Haris.
"Kalian para gadis pergi ke kelas gih, ouh iya Wulan? Kristal? Tolong anterin Agnez ke kelas nya yah." Pinta Angkasa yang di angguki paham oleh para gadis.
"Kita ke kelas dulu, assalammu'allaikum!." Pamit para gadis kompak.
Sebelum berlalu dari tempat parkir Angkasa, Albhi, dan Damar mencium pucuk kepada para gadis masing-masing. Haris dan Pamungkas menatap nanar kepada ke 6 pasangan romantis ini.
'Gua pengen lari ke luar sekolah jemput Kak Rain buat Gua cium pucuk kepala nya!.' Jerit Pamungkas menangis dalam hati sambil menggigit keras cokelat yang ia pegang di tangan kanan nya.
'Allah!! Cepat pertemukan aku dengan gadis yang Engkau takdir kan untuk ku!! Aku tak kuasa menatap adegan penuh kemesraan di depan mata ku ini.' Haris ikut-ikutan menjerit histeris di dalam hati nya.
Setelah adegan manis itu, para gadis pun pergi.
Tinggal 5 pria sekarang yang berdiri di parkiran dengan memancar kan tatapan permusuhan.
"Lu ngga laku kah sampe caper ke cewek-cewek kita?." Apa perlu Gua bantuin Lu cari cewek?!." Pekik Angkasa tak suka.
"Woww selow lah... Gua kan udah pernah bilang kalo sasaran Gua sekarang ngga cuma ada satu, tapi ada dua, Wulan dan... Agnez!." Kata Haris dengan tersenyum miring.
Tangan Pamungkas, Damar, Albhi, dan Angkasa mengepal erat sampai buku jari tangan nya memutih.
"Mereka berdua bukan mainan Anjir!." Pekik Angkasa keras.
"Hahahaha... yang bilang kalo mereka mainan siapa? Hahahaha... aneh banget kalian semua." Kata Haris dengan tertawa kencang.
Albhi yang sudah tidak bisa mengontrol emosi nya dia pun hendak menonjok muka menyebal kan Haris.
Pamungkas, Damar, dan Angkasa mencegah Albhi dengan memegangi lengan Albhi erat.
"Udah Al! Dia cuma mau bikin kita emosi! Ngladeni dia bisa hipertensi kita semua!." Kata Pamungkas menenang kan dan meredam amarah Albhi.
"Lepas! Gua mau bogem wajah nya yang ngeselin itu! Muak Gua rasa nya!." Kata Albhi yang berusaha melepas cekalan tangan 3 pria di samping kanan kiri nya ini.
"Sabar Al! Dia emang suka bikin kita emosi kagak ada guna nya kita ladenin, buang masa tau aja!." Seru Damar menenang kan Albhi.
Bohong kalau Pamungkas, Damar, dan Angkasa ngga emosi, mereka juga emosi bahkan sangat emosi tapi mereka tak meladeni Haris karena memang itu yang Haris mau, melihat mereka marah.
'Tring... tring... tring... .' Bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah sampai ke daerah tempat parkir.
"Masalah kita belum selesai! Awas Lu!." Ancam Albhi serius.
4 pria itu berlalu dari tempat parkir sekolah dan melangkah menuju ke kelas.
Setelah kepergian 4 pria itu hadir seorang gadis yang kemarin bertemu dengan Haris di atap sekolah.
"Ck ck ck... mending Lu udahan deh akting pura-pura jadi orang yang jahat, sudahi jahat mu bertaubat lah bersama ku, hahahaha... ." Tawa gadis itu pecah menggemah di seluruh area parkir.
"Diem bocah!." Seru Haris kesal sambil mengapit kepala Cindi.
"Lepas tolol!." Balas Cindi tak kalah kesal.
Haris melepas kan apitan nya di kepala Cindi lalu mengacak rambut Cindi.
"Lu kagak capek akting jahat kaya tadi?." Tanya Cindi sambil menyampir kan lengan nya ke pundak kekar Haris.
'Huhhh... .' Haris hanya membalas dengan desahan keras.
"Dunia tuh memang panggung nya sandiwara." Kata Cindi menatap lurus ke depan dengan tatapan mata kosong.
Haris melirik Cindi sambil menaik kan sebelah alis nya ke atas.
"Ngga Lo doang kok Bang yang bersandiwara kaya tadi, Gua hampir tiap hari ngelakuin kaya gitu, capek? Itu pasti." Sambung Cindi sambil menghembus kan nafas panjang.
__ADS_1
Diam. 2 anak manusia ini diam tak mengeluar kan suara. Mereka juga masih berdiri di tempat parkir sekolah.
"Masuk kelas dah telat nih kita. Mending ke atap sekolah aja dah, kuy Bang." Ajak Cindi pada Haris.
"Ayo deh!." Setuju Haris dengan menggandeng tangan Cindi.
Cindi yang di genggam tangan nya menjadi membeku se saat kemudian sadar kembali dan mengikuti langkah Haris yang menuntun nya ke atap sekolah.
Jantung Cindi deg-degan 2 kali lebih cepat dari biasa nya.
Tatapan Cindi terus mengarah pada tangan nya yang di gandeng oleh Haris yang notabe nya orang yang baru saja dia kenal.
Sampai di atap sekolah.
"Lo bolos kaya gini bokap Lo ngga marah emang?." Tanya Haris dengan menatap wajah Cindi dari samping.
"Ck! Gua juga butuh rileksasi kali Bang, capek serius mulu." Cetus Cindi ketus.
Haris hanya membalas dengan anggukan kepala paham.
"Gua pengen teriak deh!." Kata Cindi tiba-tiba.
Kontan saja Haris menoleh pada Cindi yang duduk di sebelah kanan nya.
"Teriak gimana maksud nya?." Tanya Haris bingung.
"Ya teriak kaya biasa nya itu loh." Kata Cindi gemas sendiri dengan Haris.
"Ouh... mau ngga keluar dari sekolah? Kita kan lagi bolos nih, tanggung kalo cuma di area sekolah, mending kita keluar dari sekolah biar sekalian." Haris mengajak Cindi menuju jalan sesat.
Cindi berpikir menimbang-nimbang ajak kan sesat Haris.
'Gua juga pengen ngerasain bebas, sekali-kali kagak masalah lah kalo nanti Papa marah ya nasib.' Batin Cindi bersuara.
"Ayo deh Bang kita keluar dari sekolah." Setuju Cindi dengan memancar kan tatapan seneng.
Tanpa berbicara dua kali Haris dan Cindi keluar sekolah dengan mengguna kan mobil Haris. Cindi ke sekolah dengan di antar jemput oleh supir.
Di dalam mobil Haris.
"Kita mau ke mana nih Bang?." Tanya Cindi penasaran.
"Diem aja ya Bocil, Gua kagak bakalan ajak Lu ke tempat yang aneh kok." Cetus Haris dengan tatapan mata menelanjangi Cindi.
Cindi yang merasa tatapan mata milik Haris menakut kan begitu, dia merasa sedikit takut.
"Bang? Jangan macam-macam! Gini-gini Gua bisa bela diri loh!." Peringat Cindi serius.
"Hahahaha... Lo takut Gua apa-apa in?." Tebak Haris dengan tertawa kencang.
"Ya iya lah takut, siapa coba yang ngga takut kalo di tatap dengan pandangan menelanjangi gitu!." Sungut Cindi kesal.
"Rugi tau ngga Gua mau ngapa-ngapin Lo! Badan Lo tuh kek tulang terbungkus kulit dong! Kagak ada isi nya! Dada Lo juga rata! Ngga nafsu Gua, sorry aja ya!." Haris berbicara dengan bahasa blak-blakan tanpa ada kata yang di sensor.
"Biarin aja dah Gua tepos yang penting hidup dan selalu sehat wal'afiat." Ujar Cindi dengan membusung kan dada nya.
"Iya in aja dah biar cepet!." Pasrah Haris berucap.
"Hahahaha... ." Tawa Cindi pecah di dalam mobil mewah milik Haris.
Di tengah perjalanan membolos nya, Haris membebas kan Cindi mengutak atik mobil nya. Tapi tangan Cindi memilih untuk mengutak atik radio dalam mobil Haris.
Gadis manis itu mencari lagu yang dia ingin kan, sampai dia menemu kan lagu yang pas di telinga nya.
(Author ngga mau ngetik panjang jadi ini singkat nya aja lagu nya) AuthorGesrek.
🎶Kita di pertemukan oleh cinta
Kita tak saling ingkar janji
Kita saling melengkapi
Hingga tua nanti
Oh
Denganmu ku mengerti arti cinta
Arti cinta sesungguhnya
Tumbuh di setiap saat
Dan mengerti makna cinta
Makna cinta yang abadi
Kan kujaga cinta ini.🎶
Cindi mengikuti lagu yang tengah ia dengar kan itu dengan suara yang pas-pasan meski begitu Cindi tak malu dan terus saja bernyanyi.
Haris ikut mendengar kan suara pas-pasan milik gadis di sebelah nya ini.
Mobil terus melaju membelah jalanan yang agak lenggang karena memang sekarang waktu nya bekerja dan sekolah.
Cindi terus menyanyi tak menghirau kan Haris yang tenang menyetir mobil.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.