
Siang ini di kantin SMA Merdeka suasana cukup ramai.
6 serangkai masih berdiri di pintu masuk kantin.
"Rame bat yak?." Tanya Akifa.
"Kita pergi ke kedai depan aja deh." Ajak Alfi.
"Kuylah!." Seru Akifa.
Mereka pun meninggalkan kantin dan pergi ke kedai depan sekolah.
Disana ternyata juga ada Tika yang sedang makan Baso Aci.
"Kita kesana aja yuk duduk sama Tika." Ajak Zarine yang diangguki lainnya.
Sebelum duduk di meja yang sama dengan Tika, mereka semua memesan Baso dulu.
Kemudian mereka berjalan menghampiri Tika.
"Hai Tika." Sapa Zarine yang berdiri disamping Tika.
"Oh, hai Za." Sapa balik Tika.
"Boleh ikut duduk disini?." Tanya Zarine.
"Boleh, silahkan aja." Jawab Tika ramah dengan senyum manisnya.
6 serangkai duduk.
Alfi dan Zarine duduk disebelah kanan kiri Tika, Alfi duduk disebelah kiri Zarine.
Sedangkan para laki-laki duduk di depan perempuan.
"Tika?." Panggil Akifa.
"Hmm? Iya, ada apa?." Tanya Tika dengan masih makan Baso Acinya.
"Lo berapa lama temenan sama si Medusa?." Tanya Akifa.
Mendengar pertanyaan Akifa, Tika terkejut sampai tersedak.
"Uhuk.. uhuk.. ."
"Nih minum." Beri Zarine dengan mengambil aqua di depan Tika.
"Pelan-pelan aka makannya." Tegur Zarine lembut.
"Terima kasih Za, kenapa tiba-tiba Lo tanya gitu Fa?." Tanya balik Tika.
"Ya heran aja, dibilang temen, Gua jarang liat Lo bareng ama dia." Jawab Akifa.
"Emangnya kalo temen harus bareng terus gitu?." Tanya Alfi.
"Ya engga lah, tapi yaaa, heran aja gitu." Kata Akifa.
Tika diam belum menjawab.
Dia seperti ragu untuk bicara.
"Ngga usah ragu Tik, kita ngga maksa kamu buat jawab kok." Ucap Zarine yang tau keraguan yang ada diwajah Tika.
'Khemmmmm, huuufffffh.' Tika menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Gua ama dia sebenernya sahabat, sama kaya kalian ber 6, Gua sering pulang bareng, nginep dirumah satu sama lain, kemana-mana bareng... ." Tika menjelaskan kemudian menjeda ucapannya.
6 serangkai masih dengan setia menunggu kelanjutan cerita Tika tanpa menyela.
"Tapi itu dulu, saat kita masih kelas 2 SMP." Lanjut Tika.
"Kenapa?." Tanya Alfi yang menayakan tentang sebab Sari berubah.
"Itu sejak dia mengenal cowok yang namanya Adrian." Jawab Tika dengan raut wajah jengkel.
"Adrian?." Beo Abhi.
"Sari dulu suka sama dia, dia melakukan apapun yang Drian mau dan katakan, Gua udah sering nasihatin dia kalo Drian itu ngga baik, Adrian itu cowok yang sering gonta-ganti cewek, dan selali ngajakin Sari ketempat yang ngga seharusnya dia kunjungi, tapi Sari malah memutuskan pertemanan kita dan beranggapan Gua mau merebut Drian dari dia." Jelas Tika.
"Sampai akhirnya, Adrian ninggalin Sari karena harus melanjutkan sekolah di LA, Sari makin kacau, dia berubah sifat dan sikap, sampai Gua sendiri ngga ngenalin dia lagi." Sambung Tika.
"Berarti Tika ngga sejahat apa yang kita lihat?." Tanya Akifa.
"Ya, dia sebenarnya baik, murah senyum, dan ramah." Jawab Tika.
"Kamu tau kalo Sari masuk RS?." Tanya Zarine.
"Iya, Gua tau soal itu, Gua kaget denger dia sakit gituan." Sedih Tika.
"Tapi kalo mengenang semua apa yang udah dia lakukan kekalian semua terutama Lo Za, dia pantes dapetin itu semua." Sambung Tika.
"Kita doa in aja biar dia kembali lagi jadi Sari yang dulu." Ucap Zarine.
"Aamiin." Balas Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, Alfi, dan Tika.
Baso Aci pesanan 6 serangkai telah datang.
Mereka makan dengan di selingi canda tawa.
*Pukul 15.30 sore.
SMA Merdeka sudah agak sepi.
Dilapangan basket 6 serangkai sedang berkumpul disana.
__ADS_1
Rafka, Abhi, dan Abdiel duduk ditribun.
Sedangkan Zarine, Alfi, dan Akifa bermain bola basket.
"Zarine?! Bolanya dipantulin bukan dibawa lari!." Seru Akifa dengan berlari ingin merebut bola ditangan Zarine.
"Ini kan cuma main-main bukan tanding beneran, jadi ngga papa dong!." Balas Zarine dengan sedikit berteriak dan tertawa pelan.
Mereka bertiga tertawa dengan segala kelakuan absurd mereka sendiri.
Di atas tribun.
Rafka, Abhi, dan Abdiel terkekeh melihat istri mereka.
"Alhamdulillah sekarang kita bisa hidup tenang." Ucap syukur Abdiel.
"Tapi ujian pasti ada Diel." Sahut Rafka.
"Ya kalo itu aku ngerti, maksud Gua tuh, ujian yang berat udah kita selesai kan, jadi sekarang semuanya berjalan normal dan semestinya." Kata Abdiel.
Mereka bertiga kembali diam dan hening tercipta.
"Try out-try out akan dimulai sebentar lagi, kita bakal sibuk." Beri tau Abhi memecah keheningan yang tercipta.
"Gua sebenernya bukan mikir itu." Kata Rafka.
"Apa an yang Lo pikirin? Baby ya?." Tanya Abdiel tepat sasaran.
"Iya." Jawab Rafka.
"Gua juga kepikiran sih." Timpal Abhi.
"Lo ngga kepikiran Diel?." Tanya Rafka.
"Apa yang harus dipikirin emangnya?, ya wajar dong kalo kita punya baby, kan udah nikah." Jawab Abdiel enteng.
"Jadi Ayah itu ngga mudah Diel!." Kata Abhi.
"Iya Gua tau, tapi jadi Ibu juga ngga kalah susah." Timpal Abdiel.
"Gua juga sudah mikirin itu bahkan sejak Gua belum nikah ama Akifa, Gua juga sempet punya pikiran ngga usah punya anak." Sambung Abdiel panjang lebar.
"Lo udah rundingin sama Akifa?." Tanya Abhi.
"Udah, dan dia diamin Gua, ngga ngomong sama Gua semaleman." Jawab Abdiel.
"Ya jelas aja dia diemin Lo, Lo ngomongnya ngaco sih, ngga mau punya anak, terus kalo Lo tua nanti siapa yang bakal ngerawat Lo? Mau Lo di rawat di panti jompo yang belum tentu perawatnya baik?." Jelas panjang lebar Abhi.
"Ya engga sih, tapi coba kalian liat, badan mereka tuh kecil ramping, bahkan tingginya ngga sampe pundak kita, apa mereka kuat nahan sakitnya melahirkan?." Tanya Abdiel dengan menunjuk kepada cewek yang main basket di sana.
"Kalo Gua tanya sama Alfi kemarin, dia jawabnya gini, 'bagi seorang wanita mengandung dan melahirkan itu adalah hal yang indah dan istimewa di dalam hidup'." Sahut Abhi dengan masih menatap kearah sang istri.
"Kalo Zarine, emang ngga pernah jelasin apapun sama Gua soal mengandung dan ngelahirin, tapi kalo kadang Mama atau Bunda bahas Baby, mata dia berbinar senang walaupun dia nunduk, kalian semua juga taukan, Za itu suka anak kecil." Jelas Rafka.
Setelah pembicaraan tentang Baby itu senuanya diam membisu.
Sampai kehadiran 3 perempuan yang sedang bermain basket tadi memecah kebisuan suami-suami mereka.
"Kalian kok ngelamun sih?." Tanya Akifa.
"Udah selesai?." Tanya balik Abdiel.
"Iya udah, ayo pulang, aku gerah." Ajak Akifa.
Mereka semua pulang kerumah masing-masing.
-
-
-
Malam ini Rembulan menyinari malam yang dingin dan sepi.
Di dalam kamar Rafka Zarine.
Mereka sedang ada dibalkon untuk menikmati suasana yang menenangkan ini.
"Yang?." Panggil Rafka pada Zarine.
"Ada apa?." Tanya Zarine dengan menolehkan kepalanya kearah Rafka sang suami.
"Apa kamu siap jadi seorang Ibu?." Tanya Rafka.
Zarine mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Kenapa sih kamu tanya itu?." Tanya Zarine balik.
"Aku mau tau aja, apa kamu siap?." Kata Rafka.
"Dengerin aku, setiap wanita itu ingin jadi Ibu, tapi ngga semua wanita bisa, kalo menurutku, seorang wanita itu sempurna jika sudah merasakan mengandung dan melahirkan." Jelas Zarine.
"Dan untuk pertanyaan kamu apakah aku siap jadi Ibu, maka jawabannya, iya aku siap jadi Ibu, tapi hanya untuk anak-anak kita nanti." Sambung Zarine lagi.
Rafka tersenyum mendengar jawaban Zarine.
"Udah makin dingin nih, ayo masuk." Ajak Rafka.
Zarine dan Rafka masuk lalu menutup pintu balkon.
Setelah itu mereka ber dua naik ke atas ranjang dan tidur untuk menyambut hari yang indah besok.
-
__ADS_1
-
-
Hari ini suasana rumah Rafka terlewati seperti biasa, romantis dan harmonis.
Berbeda dengan dirumah Ayah Bunda Zarine.
Di sana Ayah dan Bang Rafa berebut perhatian Bunda.
"Bunda, tolong Ayah ambilin sayur di depan Bunda itu." Pinta Ayah.
"Bunda, Rafa juga mau, Rafa dulu deh." Kata Bang Rafa tak ingin kalah.
"Harusnya kamu cari istri Bang biar ada yang layanin makan, jangan sendiri mulu, jadi bujang lapuk entar lama-lama." Ejek Ayah.
"Proses Yah, nyari jodoh yang pas itu ngga segampang beli buah mangga dipasar." Balas Bang Rafa dengan wajah kecut.
"Aduhhh, kalian ini, jangan berdebat pagi-pagi." Lerai Bunda.
"Iya Bun." Jawab Ayah dan Bang Rafa kompak.
Setelah sarapan Ayah dan Bang Rafa berangkat ke kantor masing-masing.
Sampai di tempat parkir, Bang Rafa segera keluar dari mobil.
Sebelum masuk ke dalam kantor.
Bang Rafa pergi berjalan kaki ke Cafe depan kantor untuk membeli kopi.
Kegiatan itu sudah dia lakukan sejak pertama kali merasakan kopi di Cafe yang akan dia kunjungi sekarang.
Saat akan masuk dari arah kiri jalan seseorang menerobos ingin masuk kedalam Cafe.
Bang Rafa terkejut dan kemudian menarik kerah baju seseorang itu.
"Gantian Mbak kalo mau masuk, permisi saya duluan." Kata Bang Rafa yang suda ingin memginjakkan kakinya dipintu.
Gantian kali ini seseorang itu menarik jas Bang Rafa.
"Pak? Saya dulu aja deh ya, saya sudah udah telat ini." Kata seorang perempuan itu.
Dan hal konyol pun terjadi.
Mereka bertengkar ditengah pintu ditonton oleh semua orang.
Lalu setelah lama bertengkar, mereka berdua masuk ke dalam Cafe secara bersamaan.
"Dasar keras kepala." Dengus Bang Rafa.
"Dih, ngga sadar diri." Dengus perempuan itu.
"Raina?!." Panggil seorang gadis teman perempuan disebelah Bang Rafa.
Gadis yang baru Bang Rafa ketahui bernama Raina itu pergi meninggalkan Bang Rafa menghampiri temannya.
"Hei Raina! Aku pesen kopi mocacino satu, tolong ya." Pinta Bang Rafa pada Raina dengan sedikit berteriak.
Cafe masih agak sepi, jadi Bang Rafa berani sedikit berteriak.
"Iya tunggu." Kata Raina.
"Thanks ya." Cengir Bang Idan.
15 menit kemudian kopi mocacino pesanan Bang Rafa sudah jadi.
"Thanks ya Raina." Ucap Bang Rafa lalu dia menyerahkan uang pembayaran kopi pada Raina.
"Pak, uanganya lebih ini." Kata Raina.
"Ambil buat jajan beli siomay." Jawab Bang Rafa.
"Makasih Pak." Ucap Raina tulus.
"Sama-sama, aku permisi dulu, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Raina.
Bang Rafa kembali ke kantor sedangkan Raina kembali pada pekerjaannya.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Maaf jika ada kata yang membuat kalian tersinggung readers
Kalau seandainya memang ada, mohon komen🙏
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1