Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Ninety-six


__ADS_3

"Gua pikir tadi bakal kebakaran, rencananya Gua mau beli bom tadi." Kata Alfi.


"Kom beli Bom?." Tanya Zarine.


"Biar sekalian hancur tak tersisa, hahaha." Kata Alfi dan dia tertawa garing.


'Krik... krik... .' Akifa menirukan suara jangkrik.


"Kagak lucu yak? Sorry." Alfi memasang wajah datar nya.


"Hahaha." Tawa Akifa, Rafka, dan Zarine terdengar.


Bukan menertawakan lelucon Alfi, tapi menertawakan ekspresi Alfi yang kaku bak kanebo yang kering😂.


"Ini Bakpau nya Mbak-Mbak nya dan Mas nya." Penjual Bakpau memberikan pesanan 4 orang ini.


Rafka membayar dan sekalian mentraktir 2 teman wanita nya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Lalu mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing.


Rafka Zarine masuk rumah dan duduk di ruang santai.


Sebelum mendarat kan bokong nya di sofa, Zarine ke dapur untuk mengambil piring lalu kembali lagi ke ruang santai.


"Ayo Bunda, Rafka di makan." Kata Zarine.


Zarine menyantab bakpau dengan sangat lahap.


Sedang kan Bunda dan Rafka hanya mengangguk kan kepala, saling pandang, kemudian meneguk saliva kasar.


"Yang?." Panggil Rafka.


"Hm?." Sahut Zarine.


"Kamu masih belum kenyang kah tadi pas makan nasi goreng?." Tanya Rafka.


"Kenyang, tapi tadi pas denger ada orang jual bakpau, aku pengen makan, ya udah aku beli." Jawab Zarine ringan seringan dia bernafas.


Dan Bunda juga Rafka hanya bisa menggeleng kan kepala sambil mengelus dada sabar (Kasian banget yak😂 #AuthorGesrek).


Setelah menghabiskan 4 bakpau, Zarine baru berhenti makan.


"Udah Sayang?." Tanya Bunda.


"Alhamdulillah... udah Bun." Jawab Zarine.


Dia kemudian berdiri dan melangkah ke arah dapur kembali untuk mengambil air minum.


"Kaya nya bener deh Bun kalo Za itu isi (hamil)." Kata Rafka setelah Zarine tak nampak lagi.


"Kita akan tau besok, jangan lupa besok loh ya." Peringat Bunda.


"Siiap Bun." Jawab Rafka semangat.


Jam dinding sudah menunjuk kan pukul 16.45 sebentar lagi akan maghrib.


Sudah 10 menit Zarine di dapur tapi belum kembali.


"Kemana istri kamu? Coba tolong kamu cek di dapur Raf." Pinta Bunda pada menantu nya ini.


Rafka mengangguk kan kepala meng iya kan perintah Ibu mertua nya.


Dia berjalan ke arah dapur.


Saat sampai di sana... .


Terlihat Zarine sedang duduk sambil memakan masakan yang Bibi buat.


"Eh Yang sini deh, cumi nya enak banget sini coba in." Ajak Zarine.


"Yang? Udah yah nanti perut kamu sakit kalo banyak makan, ayo udah dulu makan nya ok." Kata Rafka.


"Masa sih aku banyak makan?." Tanya Zarine tak percaya.


"Nasi goreng sama Bakpau tadi bukan makanan kah?." Tanya balik Zarine.


"Ups! Hehehe iya deh aku berenti, sambung nanti." Kata Zarine yang tersadar.


Rafka dan Zarine pergi dari dapur lalu menuju kamar.


Sekarang kita beralih di kediaman Abhi Alfi.


2 pasangan ini duduk di sofa ruang santai sambil menonton, dan di temani 2 gelas teh manis hangat juga Bakpau hangat.


Hanya Abhi yang makan Bakpau Alfi tak ikut makan, dia malah makan keripik kentang balado.


"Yang? Kamu kok ngga ikut makan Bakpau nya? Tadi kan ini kamu yang minta.


"Aku ngga berselera makan itu." Jawab singkat Alfi.


"Ngga berselera? Terus tadi kenapa minta?." Tanya Abhi.


"Tadi aku waktu denger Abang Bakpau lewat pengen beli, terus habis beli tiba-tiba aku ngga berselera maka." Jelas Alfi.


"Ngge berselera?." Beo Abhi.


'Ini kenapa bini Gua ikutan aneh?.' Batin Abhi bersuara.


Karena Alfi yang kata nya tak berselera makan Bakpau, maka yang menghabis kan nya adalah Abhi.


Hingga tinggal 2 gigitan lagi, saat Abhi sudah ingin menyantap nya Alfi mencegah.


"Tunggu!." Kata nya.


"Ada apa Yang?." Tanya Abhi.


"Mana sini in Bakpau nya." Minta Alfi sambil menengadah kan tangan nya.


"Cuma tinggal 2 gigitan Yang, mau aku beli in lagi? Biar aku cari sekarang." Tawar Abhi.


"Aku ngga mau makan yang baru, aku cuma mau makan yang ada di tangan kamu itu, mana sini in?!." Pinta Alfi.


"Kamu yakin? Ini bekas ku loh, biar aku beli in baru aja yak." Kata Abhi.


"Engga! Udah sini in." Paksa Alfi, dia merebut Bakpau yang tinggal 2 gigitan itu dari tangan Abhi.


Setelah dapat Alfi memakan nya lahap.


"Emmmm... enak." Kata Alfi.


"Tadi bilang nya ngge selera, giliran tinggal 2 gigitan di minta, dasar aneh." Gumam Abhi sambil minum teh hangat nya.


Alfi mendengar gumaman itu tiba-tiba... .


"Adudududuh! Yang lepasin! Sakit tau, Yang?!." Kata Abhi mengaduh kesakitan.


"Siapa suruh ngedumel? Kamu ngga ikhlas kasi Bakpai tadi?." Tanya Alfi.


Dia sedang menjewer teling Abhi dan masih belum melepaskan nya.


"Iya aku ikhlas kok beneran, cuman aneh aja, kamu tadi bilang nya ngga selera, giliran udah tinggal dikit kamu minta, kan aneh Bee." Jelas Abhi.


Alfi yang seperti nya menerima penjelasan Abhi, dia melepas jeweran dan berpikir tentang sifat nya yang aneh ini.


"Iya yah, aku baru sadar kalo sifat ku agak aneh." Kata Alfi.


"Nah." Kata Abhi menimpali sambil mengusap-usap telinga nya yang terasa panas akibat jeweran sang istri.


"Tapi Bee, entah mengapa, kalo aku liat kamu makan itu rasa nya kaya enak buanget gitu dan pengen makan yang kamu makan juga, kaya Bakpau tadi contoh nya, aku beranggapan kalo makanan yang udah kamu makan terus aku makan itu rasa nya lebih enak." Panjang lebar kali tinggi Alfi menjelas kan.


"Aneh Bat, pantes aja kalo aku makan apa pun itu kamu minta satu piring berdua." Kata Abhi.


'Allahu Akbar... Allahu Akbar... .'


Adzan maghrib berkumandang.


Abhi Alfi menghenti kan perbincangan, memati kan TV, lalu naik ke kamar untuk menunai kan ibadah sholat maghrib.


Abhi memutus kan untuk sholat di masjid, dia ingin bisa mengobrol jika bisa bertemu dengan Abdiel dan Rafka.


Dan benar saja, Abhi bertemu mereka bukan hanya Rafka, Abdiel, tapi juga ada Bang Rafa tak lupa pula Bang Idan, setelah sholat, dzikir, dan mengaji di masjid, mereka duduk di pos dekat dengan masjid.


"Gua mau cerita nih." Kompak Rafka, Abdiel, dan Abhi.


Mereka bertiga terkejut dan saling pandang, begitu pun dengan Bang Rafa dan Bang Idan.

__ADS_1


"Oy satu-satu, ok Rafka dulu." Putus Bang Rafa menunjuk Rafka.


"Ini tentang Zarine." Kata Rafka.


"Kenapa adek Gua? Lu apa in dia?." Tanya Bang Rafa sambil memasang wajah khawatir dan cemas.


"Dia ngga Gua apa-apa in Bang santai aja kali, dia tadi sore makan udah melebihi kapasitas nya." Cerita Rafka.


"Makan apa aja dia?." Tanya Abdiel.


"Sore, habis Bang Rafa mergokin Gua sama Zarine mesra an di balkon, dia minta nasi goreng buatan Gua, udah Gua buatin dengan porsi cukup kalo di makan 2 orang, niat nya Gua mau makan bareng, tapi... tuh nasi habis dia lahap Gua cuma kebagian satu suap doang." Cerita Rafka.


"Kasian." Kata 4 orang yang duduk di depan Rafka, memasang ekspresi mengejek.


"Gua ngga sedih karena ngga kebagian nasi nya, tapi heran aja gitu, dia kuat makan nasi goreng itu, terus habis makan nasi goreng, dia masih minta Bakpau, udah habis 4 Bakpau eh dia malah ngemilin masakan Bibi, karena takut sakit perut Gua suruh berhenti makan." Rafka berhenti sebentar.


"Dan aatu lagi, habis masak dia peluk Gua dan bilang 'jangan mandi' gitu." Sambung Rafka sambil meniru kan suara sang istri.


"Berarti Lo ngga mandi dong ini?." Tanya Abdiel menampak kan wajah jijik nya.


"Ya mandi lah ogeb, masa sholat Gua bau asap kompor sama nasi goreng?." Balas Rafka.


"Kira in." Sahut Abdiel acuh sambil menaik kan bahu nya.


"Kenapa Lo ngga di bolehin mandi?." Tanya Bang Idan.


"Kata nya bau badan Gua wangi, padahal jelas-jelas badan Gua bau asap, tapi dia bilang wangi." Jawab Rafka.


Bang Rafa serta Bang Idan manggut-manggut paham.


"Ayo lanjut, giliran Lo Diel yang cerita." Suruh Bang Idan.


"Ini soal diri Gua sendiri." Pembukaan Abdiel.


"Lo?! Kenapa? Lo sakit?." Tanya Abhi, Rafka, Bang Idan, dan Bang Rafa.


Mereka ber 4 memberi respon lebay pada pembukaan cerita Abdiel.


Bang Idan menempelkan punggung tangan nya pada jidat Abdiel lalu menyamakan suhunya dengan ketiak nya.


"Sama kok suhu nya." Cekutuk nya.


"Bang Idan gila!." Seru Abdiel.


"Hahaha ok ok lanjut." Kata Bang Idan.


"Gua ngerasa aneh sama diri Gua sendiri, kalian semua tau kan Gua kalo sama makanan agak pemilih, banyak makanan yang Gua ngga suka, tapi beberapa hari ini Gua pengen makan makanan yang ngga Gua suka itu." Jelas Abdiel.


Ini lah Abdiel, dia laki-laki yang sangat pemilih makanan, banyak makanan yang sangat dia tidak sukai, contoh nya gado-gado tadi siang, lalu makanan yang pedas, makanan yang manis, dan makanan yang berkuah santan, menurut nya jika dia memakan makanan jenis itu tenggorokan nya panas dan sakit.


Bang Rafa juga Bang Idan kembali memanggut-manggut kan kepala nya sambil mengusap-usap dagu mulus nya.


"Ayo giliran Lo Bhi." Kata Bang Rafa.


"Ini soal Alfi, dia tadi kan beli Bakpau, tapi dia ngga ikut makan dan malah Gua yang habisin, pas tinggal 2 gigitan lagi, eh malah di minta sama dia, kata nya dia lagi suka makan bekas makan Gua, aneh banget dia tuh bingung Gua kata nya lagi, kalo makan bekas makanan yang Gua makan rasa nya tambah enak." Panjang Abhi bercerita.


"Bini kalian aneh bener dah, kagak paham ama masalah ini Gua." Kata Bang Rafa pusing.


"Mungkin Bunda bener, kalian bertiga uji kan besok test pack nya, mungkin hormon kehamilan, tapi sebelum itu coba kalian tanya apa mereka telat datang bulan? Kalo iya tanya udah berapa minggu, paham?." Tanya Bang Rafa sambil memgangkat kedua alis nya ke atas.


Dan 3 pria itu mengangguk kan kepala cepat.


"Dah yuk pulang pasti pada nunggu in nih para istri-istri kita." Ajak Bang Idan.


5 orang itu mengangguk kan kepala, dan beranjak dari pos.


Sepanjang jalan mereka bercerita tentang masalah-masalah istri mereka.


Sampai di rumah masing-masing, mereka langsung makan.


Kita kembali ke rumah Rafka Zarine.


Selesai makan 2 sejoli ini pergi ke kamar, Bunda juga ikut masuk ke kamar nya sendiri.


Adzan isya' berkumandang, mereka segera melaksanakan sholat berjamaah di dalam kamar.


Setelah selesai Rafka Zarine ganti baju, menyikat gigi nya lalu saat selesai naik ke ranjang.


Rafka yang terbih dahulu naik ke ranjang, dia sedang menanti sang istri sambil memain kan ponsel nya.


Lalu suara pintu ruang ganti berbunyi, tanda ada orang yang keluar dari sana.


"Udah sele-." Belum selesai Rafka berbicara dia sudah menghentikan perkataan nya sendiri karena terkejut.


Mulut Rafka sampai menganga saking terkejut nya.


'Duh iman Gua lumpuh nih kalo di suguhi pemandangan se indah ini.' Batin Rafka sambil menguk saliva nya susah.


Bagaimana tidak, Zarine hanya memakai celana pendek se paha dan baju kemeja Rafka yang sangat kebesaran di tubuh mungil nya.


Zarine tersenyum manis ke arah Rafka yang membuat yang di tatap salah tingkah dan sesuatu di bagian bawah nya menegang.


'Allahu Akbar ujian apa ini? Kenapa Engkau suguh kan pemandangan indah ini di mata hamba mu yang sulit menahan nafsu ini.' Batin Rafka menangis.


Rafka terpaku menatap Zarine dari atas hingga bawah.


Sedangkan Zarine, dia mamanggil-manggil suami tapi tak di dengar kan.


Karena jengkel, Zarine menghampiri Rafka dan berdiri di hadapan nya lalu menggoncang-goncang kan tubuh Rafka.


"Rafka?!." Seru Zarine sedikit berteriak.


"Ah iya kenapa Yang?." Tanya Rafka, dia tersadar dari lamunan nya.


"Kamu kenapa? Kamu sehat kan? Ngelamunin apa sih?!." Tanya Zarine beruntun.


"Ouh engga, ngga ngelamunin apa-apa kok." Jawab Rafka tergagap.


Dari dalam hati nya sebener nya dia mau teriak 'aku shock loat kamu pake gini an!!' tapi Rafka tak mampu mengatakan itu, dan jadi lah di menyampai kan hal lain.


"Ya... Yang?." Panggil Rafka gugup.


"Hm?." Sahut Zarine.


"Ka... kamu... kok pa... pakai ba... ba... baju kaya gitu sih?." Tanya Rafka tergagap.


"Aku pengen pake baju kamu." Jawab singkat Zarine sambil naik ke atas ranjang.


"Kenapa emang nya? Ngga bagus ya?." Tanya Zarine sambil menunduk sedih.


"Bukan ngga bagus, ta... ta... ta... tapi... ." Ucapan Rafka menggantung.


"Tapi apa?." Tanya Zarine penasaran dan memandang Rafka dengan binar mata yang terang.


"Huuuuuhhh... ." Rafka menghembus kan nafas berat untuk meredam debaran jantung nya yang dag dig dug.


"Bukan jelek atau ngga cocok atau sejenis nya, kamu kalo pake gitu an bikin aku tegang." Jawab Rafka dengan bergumam pelan.


"Tegang?." Beo Zarine.


Rafka mengangguk kan kepala cepat.


Zarine mencerna ucapan Rafka baik-baik dan dia pun paham.


"O... ohh itu maksud nya, maaf Yang, ya udah aku ganti baju dulu deh." Kata Zarine, dia sudah ingin beranjak dari ranjang tapi tidak jadi karena Rafka menangkap tangan nya dan mencegah nya berdiri.


Rafka membawa Zarine berbaring di ranjang dengan pelan.


"Udah ngga perlu ganti, aku suka kamu pakr baju itu, cantik nya makin tambah berkali-kali lipat." Kata Rafka mengeluarkan jurus rayuan tapi memang fakta nya seperti itu.


Rafka memeluk Zarine dari belakang dan menenggelam kan kepala nya di ceruk leher sang istri.


Tangan nya mengusap perut rata Zarine pelan.


'Daddy menunggu mu.' Batin Rafka.


Lalu tiba-tiba Zarine berbalik dan meneggelam kan wajah nya di dada bidang Rafka.


Dia mengendus-ngendus bak kucing sambil mengeunyel-unyel kan kepala nya di sana.


"Geli Yang jangan gitu." Rafka tertawa cekikik kan mendapat serangan dari Zarine.


Sedang sang pelaku tak mau berhenti dan makin menggencar kan aksi nya.


"Yang?." Tegur Rafka dengan suara serak.


Rafka sudah terbakar api gairah seperti nya.


Dan di bawah tubuh Zarine tepat di bagain intim nya yang tertutup celana pendek, dia merasakan sesuatu yang keras sedang menyentuh di sana.


Zarine terkekeh, merasakan itu.


Rafka semakin mengerat kan pelukan nya untuk meredam rasa ingin menjamah.


"Kalo kamu ngga tahan, dan pengen lepas, aku ngga papa." Kata Zarine lembut.


"Tapi aku ngga mau kamu sakit, kamu tadi habis makan banyak, kalo aku minta nanti perut kamu sakit." Tolak Rafka.


"Terus? Mau nya gimana?." Tanya Zarine.


"Udah tidur aja." Putus Rafka.


Zarine yang memang sudah mengantuk dan posisi nya sangat nyaman, dia pun mulai memajam kan mata nya dan terlelap ke pulau mimpi.

__ADS_1


Mendengar dengkuran halus dari Zarine, Rafka melonggarkan pelukan nya dan mencium kening Zarine kemudian ikut tidur dan jatuh ke alam mimpi juga.


-


-


Pukul 03.30 Rafka Zarine bangun, tapi Zarine masih ada di atas ranjang karena masih malas beranjak.


Kalau Rafka, dia pergi ke ruang ganti dan keluar membawa sesuatu di tangan nya yang di lihat oleh sang istri.


"Apa itu Yang?." Tanya Zarine.


Rafka belum membuka suara, dia duduk di ranjang dan mulai berbicara.


"Kamu sekarang cuma taruh air pipis kamu di wadah kecil ini, dan celup kan alat ini ke dalam nya." Suruh Rafka sambil memberikan test pack dan wadah kecil bening.


"Ini... ini test pack kan?." Tanya Zarine memastikan.


"Iya, ini test pack, aku curiga kaya nya kamu lagi hamil, mengingat kamarin sifat kamu seperti orang ngidam." Jelas Rafka.


Zarine menerima 2 alat itu dan memperhati kan nya dengan seksama.


"Yang? Kalo boleh tau... kamu terakhir datang bulan kapan?." Tanya Rafka.


"Datang bulan?." Beo Zarine sambil berpikir.


"Tolong ambil kan kalender itu Yang." Pinta Zarine sambil menunjuk kalender di meja belajar nya.


Rafka mengambil kan nya dan memberi kan nya pada Zarine.


Istri nya itu sibuk membolak-balik kan kertas kalender itu.


"Bulan kemarin aku telat, dan sekarang juga telat." Kata Zarine.


"Biasa nya kamu kalo haid kapan? Awal bulan? Akhir bulan? Atau Tengah Bulan?." Tanya Rafka beruntun.


"Aku kalo haid awal bulan biasa nya." Singkat Zarine.


Mata Rafka berbinar terang.


"Ya udah gih sana kamu cek." suruh Rafka.


"Ya sekalian aku mau mandi, kamu mandi di kamar mandi lain ya, hehehe." Zarine menyengir kuda.


Rafka mangangguk.


"Oh iya Yang, kata Bunda kalo mau hasil dari alat itu, tunggu 5 menit, atau nunggu habis sholat subuh selesa aja deh biar kita sama-sama liat nya." Kata Rafka.


"Ok ok." Jawab Zarine sambil menunjuk kan ibu jari nya.


Dan Zarine pun masuk ke kamar mandi.


Dia melakukan apa yang Rafka instruksi kan.


Dan dia mandi, ganti baju, lalu sholat subuh berjamaah dengan Rafka di kamar.


Lalu pukul 05.40 saat Rafka Zarina akan bersiap memakai seragam sekolah nya, tapi Rafka mengingat kan Zarine dengan test pack nya.


Dan Zarine mengambil alat itu dan tak melihat terlebih dahulu, dia ingin melihat nya bersama Rafka.


Kemudian Zarine memberi kan alat itu pada Rafka.


"Apa hasil nya?." Tanya Rafka antusias.


"Aku belum liat, hasil nya, kamu dulu aja deh." Kata Zarine.


Rafka menerima test pack nya dengan posisi mata terpejam, dia menarik nafas dalam lalu menghembus kan nya perlahan.


"Bismillah." Doa Rafka.


Perlahan mata Rafka terbuka dan... .


Tak ada reaksi dari Rafka.


Dia hanya diam membeku tak berkedip sambil melototkan mata nya.


Rafka sampai menitih kan air mata nya terharu, dia sampai memeluk Zarine saking senang nya.


Tapi berbeda dari sudut pandang Zarine.


Melihat Rafka menangis dan memluk nya, dia menebak bahwa hasil nya negatif.


"Maaf." Ucap Zarine.


Rafka melepas pelukan lalu menghapus air mata bahagia nya.


"Kenapa kamu minta maaf?." Tanya Rafka.


Saat akan menjawab Rafka menyela.


"Kamu pasti ngira hasil nya negatif, iya kan?." Tebak Rafka.


Zarine mengangguk kan kepala lesu.


"Nih kamu liat sendiri hasil nya." Kata Rafka sambil menyerah kan test pack nya.


Zarine menerima lalu melihat hasil nya.


Kemudian... .


"Kyaaaa!!!!." Zarine berteriak sekeras-keras nya.


"Huaaaa!!!!." Dia juga menangis dan langsung manghambur ke pelukan Rafka.


Teriakan Zarine menggema ke seluruh rumah, Bunda yang ada di dapur terkejut mendengar teriakan sang putri tercinta nya.


Beliau langsung lari terbirit-birit menuju pintu kamar Rafka Zarine.


Seaampai nya di depan pintu.


'Tok... tok... tok... .' Bunda mengetuk pintu dengan cepat dan keras.


"Rafka?! Zarine?! Nak?! Buka pintu nya, kalian baik-baik saja kan?!." Tanya Bunda khawatir.


Sedangkan situasi di dalam kamar.


"Ups!." Seru kedua nya pelan.


"Cepat buka pintu nya, biar Bunda ngga makin khawatir." Suruh Rafka.


Zarine mengangguk kan kepala lalu membuka pintu.


Setelah terbuka.


"Ada apa Za? Semua baik-baik saja kan?." Tanya Bunda.


"Iya Bun semua baik, nanti aku kasih tau pas pulang sekolah ya, kita kumpulin keluarga besar di rumah sini." Panjang Zarine menjawab.


Bunda masih bingung.


"Udah Bunda sabar aja ok, Za mau masuk dulu, mau bersiap ke sekolah, dah Bunda, love you." Kata Zarine dan langsung menutup pintu pelan.


"Tung-, huufffh... ya udah lah sabar aja nunggu berita nya." Kata bunda.


Lalu beliau kembali ke dapur.


Di dalam kamar Rafka Zarine kembali berpelukan dan menangis bersama.


"Alhamdulillah sayang, kita bakal jadi Mommy and Daddy." Senang Zarine.


"Alhamdulillah." Kata Rafka bahagia.


"Ya udah, ayo bersiap ke sekolah, dan usaha kan jangan ada yang tau dulu selain kita." Sambung Rafka yang mendapat angguk kan cepat Zarine.


Mereka berdua pun bersiap untuk sekolah.


Hasil dari test pack tadi adalah 2 garis merah.


Kalau mau tau hasil test pack Akifa dan Alfi, in syaa allah besok, sabar aja yaaa, hari ini sampe sini dulu, akhir-akhir ini aku ngga nemu terlalu banyak ide cerita dan terkesan hilang semangat nulis.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalo garing😢🙏


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Maaf banget kalo makin hari ceritaku ngga menarik.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2