
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Hahaha... engga, kalian cari Rain sama lain nya yah? Tuh liat di gerobak siomay warna orange itu." Tunjuk Bang Rafa kepada seseorang di sana.
"Buset? Mereka ngga makan siang tadi kah? Lahap banget makan nya." Cetus Shita sambil menggeleng kan kepala heran.
"Mereka emamg gitu, semenjak hamil ini mereka lapar mata, apa yang mereka lihat pengen mereka beli dan makan, apa lagi si Zarine, bueh! Kalo itu nafsu makan nya naik drastis hampir ngga terkontrol gitu, Gua aja bisa takut sendiri kalo dia makan banyak gitu." Jelas Rafka panjang sambil meringis menatap sang istri yang lahap makan siomay.
"Udah lah nama nya juga Ibu Hamil, pasti gitu, kalo Gua mending kaya mereka sih, ngga pilih-pilih makanan." Cetus Shita membela Zarine dan 4 wanita lain nya.
"Ya nakutin aja gitu Ta." Kata Bang Rafa yang menunjuk kan raut muka kekhawatirannya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Nakutin? Maksud nya nakutin gimana tuh?." Tanya Shita sambil memicing kan mata nya tajam.
Para pria diam tak menjawab dan malah saling lempar pandang satu sama lain dengan wajah menunjuk kan kegugupan yang kental.
"Maksud nya kalian takut para wanita gemuk gitu?." Tanya Shita.
"Ngga gituuuu... kita cuma-." Ucapan Bang Rafa di potong oleh Shita.
"Suts! Alasan!." Shita mencela ucapan Bang Rafa dengan di iringi delik kan mata tajam.
Kemudian Shita pergi menyusul Kak Rain dan lain nya, tak lupa tangan Shita menyambar tangan Dini yang di gandeng oleh Andi.
Para pria hanya menatap nya dengan mata yang mengikuti langkah Shita.
"Sabar yak kalian, Gua minta maaf atas nama Shita, lagian Lu ngomong nya sensitif tau Bang!." Seru Rendra sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
"Udah ah ayo kita pulang, kalian baru sampe pasti capek." Bang Rafa mengalih kan pembicaraan.
"Eh? Ngomong-ngomong, itu beneran Dini?." Tanya Abdiel yang menunjuk Dini dengan dagu nya.
"Tolong bro ngga usah jelalatan." Rafka menutup mata Abdiel dengan tangan nya agar Abdiel tak memandang Dini.
"Ish! Tangan Lu Raf! Lepas!." Jengkel Abdiel sambil memukul-mukul tangan Rafka.
Tangan Rafka pun terlepas.
"Iya dia Dini." Jawab Andi sambil tersenyum sendiri menatap gadis yang dia cintai.
"Kapan Lu nikahin dia? Jangan gantungin cewek Bro, dia juga bisa bosen tau." Cetus Abdiel memberi tahu.
"Gua ngerasa belum mampu aja gitu kalo nikahin dia, Gua kerja aja ngga nentu sering libur." Andi menjelas kan isi hati nya yang mengganjal.
Semua pria memandang Andi dengan tersenyum memberi semangat.
"Lu bisa Ndi! Semangatin aja kerja, gini yah, ganteng doang tapi ngga kerja? Ngga ada apa-apa nya, dan yah memang ngga semua hal butuh duit, tapi dengan duit kita bisa hidup, iya kan?." Bang Idan menyemangati Andi sambil menepuk pundak nya.
Andi menyungging kan senyum nya dan kemudian mengangguk meng iya kan.
"Iya Gua yakin Gua mampu!." Semangat Andi membara.
"Bagus!." Seru Rafka tak lupa sambil tersenyum.
"Dah lah, besok kalian resepsi, lupain masalah Gua ini, ayo balik, capek asli pengen ketemu kasur empuk." Ajak Andi dengan sedikit merengek tentu nya.
"Bentar, Gua panggilin ciwi-ciwi dulu, kalian langsung ke parkiran aja." Suruh Abdiel.
"Engga! Kita tunggu sini aja, Lu cepet gih panggil." Peirntah Rafka yang di angguki Abdiel.
Di gerobak siomay.
"Girl's?." Panggil Abdiel.
Tanpa jawab, 7 wanita itu menoleh ke arah Abdiel bersamaan tanda bertanya 'Ada apa?' Kurang lebih seperti itu.
"Ayo pulang, itu si Andi pengen ketemu kasur kata nya, capek banget deh kaya nya." Beri tahu Abdiel pada para wanita cantik ini.
"He em." Balas 7 wanita itu bersamaan, mereka meninggal kan gerobak dan berjalan menuju ke gerombolan Rafka.
"Tunggu Girl's? Kalian... udah bayar kan?." Tanya Abdiel dengan muka cemas nya.
"Udah dong Yang, apa guna nya tadi Rafka dompet tebel kalian?." Kata Akifa jengah sambil memutar bola mata malas.
"Hehehehe... ya kira in kan." Abdiel cengengesan menjawab perkataan Akifa yang memang benar ada nya.
Rafka dan lain nya pun meluncur pulang.
Rendra Shita, Dini, Andi, dan Panji berada di mobil Bang Rafa Kak Raina.
Sepanjang perjalanan hanya di isi ke heningan di dalam mobil Bang Rafa ini.
Shita yang biasa nya aktif berceloteh kini diam dan hanya memain kan ponsel nya saja.
"Kalian tadi berangkat jam berapa dari rumah?." Tanya Kak Raina memecah keheningan.
"Kita berankay jam... ba'da subuh tadi." Jawab Rendra singkat, habis itu mobil kembali hening.
"Kaya nya nanti ba'da maghrib kita bakal ke hotel deh." Cetus Kak Raina berbicara lagi.
"Ngapain?." Tanya Shita.
"Hehehe... kita acara nya kan pagi Ta, kalo ke sana nya besok bisa amburadul acara nya." Kata Kak Raina panjang.
"Kita bakal nginep di sana dong ini cerita nya?." Tanya Panji.
"Yah kaya gitu deh kurang lebih." Jawab istri Bang Rafa itu.
"Bakal banyak yang dateng yah pasti acara kalian?." Tanya Andi.
"Iya, kenapa sih? Kalian gitu banget tanya nya." Tanya kak Raina heran.
"Kita liat berita klarifikasi kemarin itu, yang live di TV." Beri tahu Shita dengan memejam kan mata nya dan bersandar pada sandaran mobil.
"Terus? Masalah nya apa?." Tanya Bang Rafa serius.
'Huuufffhhhhh.' Helaan nafas lelah Shita terdengar jelas di telinga Bang Rafa dan lain nya.
"Kalo aja lidah ada tulang nya mungkin aja udah aku patahin lidah wartawan yang nanya hal nyakitin kemarin, kalo aja aku punya pintu kemana saja udah aku lempar dia ke Antartika." Jengkel Shita, alis nya berkerut dalam pertanda dia kesal sampai ke ubun-ubun nya.
"Ya udah sih Dek, Kakak kan ngga papa." Cetus Kak Raina menenangkan.
"Mulut bisa bilang ngga papa, tapi hati mu pasti ngga tenang, jangan bohong." Ujar Shita dengan nada datar dan dingin nya.
"Tenang aja Dek, aku udah selesai kan semua madalah itu kok, aku udah tutup semua akses untuk menjangkau kehidupan Kakak kamu ini, ngga lupa juga kita udah tutup akses tentang kalian semua, jadi tenang aja, ngga akan ada yang tau kok in syaa allah." Ujar Bang Rafa menenang kan.
"Gara-gara berita itu juga TV di kamar kita rusak tau jadi nya." Ketus Rendra berucap.
"Ru... rusak?." Beo Kak Raina tergagap.
__ADS_1
"Kok bisa rusak?." Tanya Bang Rafa yang penasaran.
"Nih pelaku nya nih, masa TV nya di lempar pake sepatu, kalo sepatu nya ringan sih ngga masalah, ini sepatu nya berat, kontan aja kaca TV nya pecah." Cerita Rendra panjang lebar.
"Pffftt... ." Bang Rafa dan Kak Raina menahan tawa nya yang hampir meledak.
"Sampe segitu nya yah." Ujar Kak Raina.
"Ck! Kan udah aku bilang, ganti saluran nya, kamu ngotot pengen liat, lagi an yah tu TV udah aku ganti, aku juga udah minta maaf juga sama kamu." Jelas Shita dengan muka cemberut nya.
"Ya memang kamu udah minta maaf, kalo bisa kontrol emosi kamu Dek." Nasihat Kak Raina.
'Huuufffhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar di telinga semua orang di mobil.
"Andai aja bisa kaya gitu, tapi nyata nya nihil, apa lagi itu berhubungan dengan kalian, aku ngga akan bisa kontrol, susah rasa nya." Cetus Shita nemapak kan raut sedih dan frustasi nya.
Begitu lah Shita, seorang wanita muda yang tak dapat, ouh ralat maksud nya sulit mengontrol emosi, apa pun itu yang menyangkut Kakak sepupu nya atau siapa pun itu yang mendapat perlakuan tak adil atau di mata nya tak baik, dia akan marah.
Sifat itu juga yang membuat nya dulu jarang mendapat teman, meski Shita kelihatan tenang di luar tapi nyata nya? Jauh dari realita.
"Ok! Berenti bahas TV, bahas lain nya." Shita mengalih kan topik tentang dia yang merusak TV.
"Dini?." Panggil Kak Raina pada calon nya Andi itu.
"Iya Kak? Ada apa?." Tanya Dini menyahut.
"Kenapa kamu mau nerima Andi?." Tanya Kak Raina kepo.
"... ." Tak ada jawaban dari Dini, di tempat duduk nya, Dini kebingungan menjawab pertanyaan Kak Raina.
'Duh! Jawab apa nih? Emang cinta butuh alasan kah?.' Batin Dini kebingungan.
"Din?." Panggil Kak Raina sekali lagi.
"Iya Kak?." Sahut Dini cepat.
"Kenapa diem? Ayo jawab, jangan diem aja, aku penasaran tau." Kak Raina mendesak Dini.
"Ngga dapet jawaban nya Kak, bukan ngga dapet sih, tapi emang aku ngga punya jawaban, hahahaha... maaf yah Kak Raina." Tawa Dini terdengar lirih.
"Dini kenapa tiba-tiba ada di desa Singo Joyo?." Tanya Kak Raina masih kepo.
"Ibu Dini pengen balik ke sana Kak kata nya, Ibu dulu asal nya dari sana." Jelas Dini panjang.
"Ouh ngga ada niatan balik lagi ke tempat yang pas kita ketemu dulu kah?." Tanya Bang Rafa.
"In syaa allah engga Bang, Ibu sama Dini bakal menetap selama nya di desa Singo Joyo sana." Jawab Dini di iringi senyum yang mereka di setiap katanya.
Beberapa menit perjalanan akhir nya sampai juga di kediaman rumah Bang Rafa.
"Shita?!." Teriak Mama Akifa dari kediaman Rafka Zarine.
Shita yang baru kelyar dari mobil Bang Rafa merasa nama nya di panggil dia menoleh ke arah para tetuah yang memanggil nya itu.
Senyum Shita merekah indah, tangan nya melambai bermaksud menyapa para tetuah.
"Bentar yah Ibu-ibu yang cantik, ini tamu nya di suruh masuk dulu, mau taruh koper dulu, sabar yah." Teriak Bang Rafa bermaksud menenang kan.
"Habis taruh koper langsung ke mari loh, awas kalo ngga!." Ancam Mami Alfi.
"Siiap Te! Laksanakan." Seru Shita sambil tersenyum manis.
Setelah mengatakan itu Shita Rendra, Andi, Dini, juga Panji masuk ke rumah Bang Rafa Kak Raina.
Sampai di ruang santai.
"Ini ngga salah?." Tanya Shita sambil menatap ke seluruh penjuru rumah.
"Ngga salah apa nya?." Tanya Bang Rafa heran dan bingung.
"Kalian cuma tinggal berdua di rumah segaban ini? Yang bener aja!." Pekik Shitab tak percaya.
"Kita ngga tinggal cuma berdua Shita." Ralat Kak Raina.
"Masa sih?." Tak percaya Rendra.
"Hahahaha... iya yah." Shita ikut tertawa membenar kan ucapan Kakak sepupu nya ini.
"Taruh deh itu barang-barang kalian di kamar sebelah sana." Tunjuk Bang Rafa pada 4 pintu kamar.
"Kita tunggu di sini, hsbis taruh koper langsung balik ke sini, kita ke rumah Rafka Zarine buat kenalin si Dini sama para tetuah." Jelas Bang Rafa yang di angguki oleh 5 orang di depan nya ini.
5 menit kemudian Rendra Shita dan lain nya menghampiri Bang Rafa dan Kak Raina.
Lalu mereka berangkat ke rumah Rafka Zarine.
Setelah sampai di sana.
"Assallammu'allaikum." Salam Rendra Shita dan lain nya kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka Zarine juga lain nya tak kalah kompak.
Rendra Shita, Dini, Andi, dan Panji mencium punggung tangan para tetuah.
"Ayo silah kan duduk kalian semua." Zarine mempersilah kan 5 tamu nya ini.
"Alhamdulillah akhir nya sampe juga di sini." Ucap syukur Bunda Zarine.
"Hehehe iya Te, alhamdulillah, ouh iya semua nya, kenalin ini di sebelah aku nih nama nya Dini, in syaa allah calon nya Andi." Shita memperkenal kan Dini.
"Wah Andi udah ngga jomblo, itu yang di sebelah Andi kapan punya calon?." Tanya Papa Akifa.
Panji tak menjawab hanya menunjuk kan cengiran kuda nya.
"Proses Om, cari calon istri kan ngga bisa di samaain kaya cati sandal jepit, saya mau nya satu seumur hidup, bukan satu buat 1 bulan doang." Jelas Panji masuk akal.
"Kalo yang udah punya calon pesen Om jangan takut buat nikah! Nikah tuh enak tau, percaya deh sama Om." Cetus Papa Rafka.
"Wah kata-kata nya ambigu yah, hahahaha... ." Tawa Abdiel garing.
"Tau nih Papa." Celutuk Bang Idan dengan menggeleng-geleng kan kepala nya.
"Hahahaha... ." Papa Rafka dan Bang Idan hanya menanggapi dengan tertawa terbahak.
"Kalian ber 5 di sini sampai kapan? Maksud nya berapa hari?." Tanya Papi Alfi.
"Ngga lama Om, cuma 2 atau 3 hari aja di sini, kalo lama kasian Ibu mertua saya dirumah sendirian." Jelas Shita.
"Berarti kalo ngga tanggal 13, 14 nya kalian pulang?." Tanya Akifa.
"Iya kurang lebih tanggal segitu an." Jawab Rendra.
"Jangan pulang dulu lah, kalian pulang tanggal 15 nya aja, yah? Tolong lah." Pinta Akifa dengan momohon.
Rendra Shita, Dini, Andi, dan Panji yang melihat Akifa memohon jadi tak enak sendiri.
"I... iya deh kita bakal tinggal sampe tanggal 15, masalah orang rumah nanti kita bicaraan in lewat telepon." Rendra menyerah dan memilih tinggal.
"Yeyyy, alhamdulillah." Ujar Zarine, Akifa, Tika, dan Kak Raina senang.
Alfi hanya menyungging kan senyum manis nya pertanda ikut senang atas tinggal nya Rendra Shita di sini.
"Dini? Kok diem aja? Ngomong dong." Kata Mama Rafka sambil tersenyum ke arah Dini.
Dini tak membalas hanya tersenyum menampak kan deratan gigi putih dan rapi nya.
"Dini umur berapa?." Tanya Mami Alfi.
"17 Hampir 18 Te." Jawab Dini singkat.
"Wah selisih dua tahun ama 7 serangkai." Cetus Mami Alfi.
"Masih kelas 12 SMA dong?." Tanya Mama Abdiel.
"Udah lulus SMA Te." Balas Dini dengan terseyum manis.
"Alhamdulillah, terus kegiatan nyaaoa sekarang?." Tanya Mama Tika.
__ADS_1
"Ikut kerja Kak Shita di toko kue nya." Jawab Dini dengan tersenyum simpul.
"Ngga mau kuliah kah?." Tanya Mami Alfi.
"Hehehe... udah capek sama materi Te, jadi milih kerja aja, saya juga lulusan SMK." Jelas Dini panjang.
"Ummm... jawaban nya sama kaya Zarine, Tika, Akifa, Alfi yah, kalo di tanya kenapa ngga ngelanjutin kuliah? Jawaban nya capek sama materi dan tugas, hahaha... ." Tawa Mama Rafka pecah.
Perbincangan terus berlanjut sampai adzan ashar berkumandang.
"Ba'da ashar kita pergi ke hotel, sekali an kita liat-liat dekorasi resepsi kalian." Cetus Papa Rafka memberi tahu.
"Siiap Pa." Jawab Bang Rafa sembari hormat bak pada sang saka merah putih.
Ba'da Ashar.
Semua orang pergi ke hotel tempat resepsi 5 keluarga junior yang akan di gelar esok hari.
Sampai di hotel.
"Ini kalo boleh tau, undangan nya berapa orang?." Tanya Shita dengan mata menatap segala arah di saat memasuki lobby.
"Berapa orang?." Beo Bang Rafa.
"Kalo ngga salah ada sekitar 2000 orang." Sebut Bang Idan yang sontak membuat Shita dengan cepat menatap Bang Idan.
"Beneran?." Tanya Shita tak percaya.
"Iya, kita nanti juga bakal siaran live di TV, dan sebener nya muales banget." Cetus Bang Rafa malas.
"Sebanyak apa tuh 2000 orang?." Tanya Shita polos.
"Pertanyaan kamu konyol tau Yang." Kekeh Rendra sambil mengacak rambut Shita gemas.
"Banyak banget pasti nya." Cetus Dini yang juga takjub akan undangan 5 keluarga junior sang empu acara resepsi besok.
"Ayo kita ke ballroom hotel ini." Ajak Papa Tika.
Semua orang mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Papa Tika.
Sampai di ballroom hotel ini.
"Maa syaa allah... indah banget." Puji Zarine. Shita dan lain nya hanya berdecak kagum melihat dekorasi ballroom ini.
"Asli kalo ini mah, indah banget." Cetus Shita dengan mulut menganga.
"Jadi Raja dan Ratu sehari tuh emang enak sih rasa nya." Celutuk Akifa kemudian dia terkekeh pelan.
"Tapi kalian para Bumil nih, jangan maksa in diri besok,;kalo sekira nya capek duduk aja." Pesan Shita yang di angguki oleh semuanya.
"Iya pasti, kita kalo capek pasti duduk aja cuma nontonin, hahaha... ." Tawa Tika menggemah di seluruh are ballroom.
"Foto-foto kuy." Ajak Akifa semangat.
"Besok juga kita bakal foto-foto Yang, udah besok aja." Kata Abdieo mencegah, tujuan nya agar para Bumil tak kelelahan.
"Bener tuh, besok aja." Setuju Bang Rafa dan juga lain nya.
"Ck! Bentar aja loh." Manja Akifa meminta, dia sampai menampil kan wajah memelas nya hanya untuk ijin berfoto di atas pelaminan.
'Huuufffhhh... .' Helaan nafas pasrah terdnegar dari hidung 5 pria tampan itu.
"Ok deh, hati-hati tapi." Pesan Rafka pada para bumil di hadapannya ini.
"Iya iya pasti." Cetus Zarine sambil mengacung kan jari jempol nya ke arah sang suami.
Setelah mendapat ijin, para wanita itu berjalan ke arah pelaminan dan foto-foto di sana.
"Kalian harus hati-hati jaga mereka, besok di acara kalian bakal banyak media, hati-hati." Pesan Papa Rafka tegas pada para pria di hadapan nya ini.
"Siiap Pa, itu pasti, tanpa Papa komando sekali pun kita bakal lindungin tuh ciwi-ciwi." Ujar Bang Idan menunuk para wanita dengan dagu nya.
"Kalian kalo mau ikut naik ke pelaminan, naik aja gih sana, tapi hati-hati yah." Pesan Mama Rafka.
"Hati-hati? Kenapa emang nya Ma?." Tanya Bang Idan sambil mengerut kan kening nya heran.
"Hati-hati di jadi in photografer dadak kan, hahahaha... ." Tawa Mama Rafka pelan.
"Udah pasti kalo itu ma, ini para tetuah kalo mau ke kamar dulu silah kan dah, biar nanti nih para ciwi-ciwi biar kita yang urus." Kata Bang Idan.
"Ya sudah, kita pamit dulu, kalian baik-baik jaga mereka, assallammu'allaikum." Salam Mama Akifa.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Radka dan lain nya kompak.
8 pria itu kemudian pergi ikut menuju pelaminan, dan sesuai tebak kan Mama Rafka, mereka di jadi kan photografer dadak kan.
Setelah puas berfoto para wanita ini meminta berkeliling hotel ini, yang tentu saja langsung di tolak mentah-mentah olah para pria.
"Ngga ada! Ayo balik ke kamar!." Tegas Rafka yang membuat para wanita langsung menuruti omongan para pria.
Dengan seluruh rasa ke jengkelan, para wanita berjalan di depan pria dengan wajah cemberut.
"Khawatir ngambek Gua." Bisik Abdiel pada Rafka yang berjalan tepat di sebelah nya.
"Udah ngambek kali, udah lah biarin aja, kalo ngga di tegesin gini, mereka bakal minta lebih dari keliling, bisa-bisa mereka minta renang lagi di kolam hotel ini, ngga ada kaya gitu." Sewot Rafka berucap.
"Dasar para pria possesive, mereka tuh ngga asik! Males ah," Akifa ngomel-ngomel dengan suara agak keras.
"Iya! Padahal cuma keliling loh, ngga minta renang juga." Kesal Tika ikut menyahut.
"Huuuuh... udah lah terima aja, mereka pasti takut kalian kecapek an, kalian kan dalam kondisi berbadan dua,;jadi wajar kalo mereka possesive." Shita menenang kan para wanita di sebelah kanan kiri nya ini.
"Ck! Emang kamu ngga bosen di perlakukan possesive gitu?." Tanya Tika pada Shita.
"Menurut ku merska possesive tuh tanda sayang sama kita, bayangin aja kalo mereka cuek ngga peduli, nakutin kalo gitu." Kata Shita yang ada benarnya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.