
Suasana malam minggu di rumah Rafka Zarine bergitu ramai.
Setelah makan malam dan sholat isya' tadi, semuanya berkumpul di ruang santai.
Kumpulan para orang tua duduk di sofa ruang santai.
Rafka, Abhi, Abdiel, Bang Rafa, dan Bang Idan duduk di karpet bulu agak jauh dari para orang tua.
Sedangkan Zarine, Alfi, Akifa, Tika, dan Raina duduk didekat jendela 3 meter jaraknya dari laki-laki.
Rafka dan lainnya sedang main game sambil rebahan, kalo para perempuan sedang ngemil dan bercerita tentang segala kegiatan masing-masing.
"Kak Raina?, Kakak usianya berapa?." Tanya Zarine.
"21 tahun Agustus nanti." Jawab Raina.
"Kalo sepupu Kakak usianya berapa?." Tanya Akifa.
"19 tahun Maret nanti, kalo kalian semua umurnya pasti sama kaya sepupuku, iya kan?." Tebak Raina.
"Iya, berarti sepupu Kakak masih sekolah SMA sekarang?." Tanya Alfi.
"Dia udah lulus satu tahun yang lalu." Jawab Raina.
"Wah, cepet banget." Heboh Tika.
"Dia waktu sekolah usianya kurang satu tahun, tapi karena dia murid yang cerdas dan pinter jadi, dia ngga ada ngga naik kelas." Jelas Raina.
"Sekarang kuliah berarti?." Tanya Akifa.
"Dia ngga sekolah lagi, dia memilih bangun penginapan dan jadi penulis novel online." Terang Raina.
"Sebenernya dia dapet beasiswa di Jakarta, tapi dia menolak dan lebih bertahan disana jaga in orang yang ngga pantes buat dijaga." Sambung Raina dengan nada kesal.
"Ngga pantes buat di jagain?." Tanya heran Zarine.
"Maaf aku ngga bisa cerita, kalau besok kita kesana, kalian semua bakal tau." Kata Raina.
"Udah berapa tahun sepupu Kakak jadi penulis?." Tanya Tika.
"Mulai dari kelas 2 SMP sampai sekarang." Singkat Raina.
"Dia selalu nulis tentang keluarga dan percintaan, apa yang dia tulis itu kisah nyata Kak?." Akifa bertanya lagi.
"Kebanyakan apa yang dia tulis itu nyata, ada juga yang dia karang sendiri." Jelas Raina.
"Aku pernah baca novel dia yang diterbitkan jadi buku, asli sakit banget, aku berasa jadi pemeran utamanya, nyesek." Curhat Alfi.
"Apa judulnya?." Tanya Raina.
"Menjemput Bahagia." Jawab Alfi.
"Itu sebagian ceritanya emang nyata dia alami sih, tapi sebagian ya, catet! Sebagian." Kata Raina dengan menekan kata 'sebagian'.
Semuanya mengangguk kan kepala pertanda paham.
"Hmmmmm, Kakak sendiri kenapa bisa ada di Jakarta?." Tanya Zarine.
"Kakak udah lama bergantung sama Shita, sebenarnya Shita nya sendiri ngga papa kalo Kakak ngga kerja, tapi tujuan Kakak ada di Jakarta bukan hanya untuk kerja, tapi juga nyiapin masa depan buat Shita, Kakak mau jauhin dia dari seseorang yang gak pernah nganggep Shita ada." Panjang lebar Raina.
Semuanya diam tak menjawab perkataan Raina.
Lama terdiam, seseorang memecah keterdiaman mereka.
"Kalian yang lagi rebahan dan sibuk ngegosip?!, mending tidur, ini udah jam 9 malam, tidur sana biar ngga kesiangan besok perjalanannya." Suruh Mama Rafka.
Semuanya menoleh ke arah Mama Rafka kemudian beralih menatap jam dinding yang ada di ruangan.
"Cepet bat yak?." Tanya heran Abdiel.
"Kalian terlalu banyak ngonbrol, makanya ngga waktunya berlalu cepet banget." Kata Mami Alfi.
"Nanti aja deh Mi." Kata Alfi.
"Kita juga walaupun tidur selarut apapun, bangunnya juga subuh." Kini giliran Akifa yang berbicara.
"Ya udah terserah, tapi awas aja kalo besok pagi ngga bangun tepat waktu, kita ngga bakal bangunin kalian!." Ancam Mama Akifa.
"Iya, siiap." Jawab kompak semuanya.
"Kita semua mau ke kamar dulu." Pamit Mama Abhi.
"Iya." Jawab para muda-muda itu singkat.
Para orang tua masuk ke kamar masing-masing.
Kini di ruang santai 10 anak-anak muda sedang bingung ingin melakukan apa.
"Kita ngapain nih terus?." Tanya Abdiel.
"Rebahan aja lagi." Jawab Abhi.
Para laki-laki rebahan kembali.
Sedangkan para perempuan asyik bercerita.
"Duh, kacang Gua habis, Za?." Akifa memanggil Zarine.
"Ayo aku ambil kan di lemari dapur." Kata Zarine yang paham maksud Akifa memanggil namanya.
"Hehehe, ayo lah." Cengir Zarine.
"Kita semua ikut." Pinta Raina dan Tika kompak.
"Ayo." Ajak Zarine.
Para perempuan ke dapur bersamaan.
Abdiel yang melihat mereka pergi, memiliki ide jahil.
"Huts?." Panggil Abdiel pada Rafka dan lainnya.
"Apa an?." Tanya Bang Idan.
Mata Abdiel mengisyaratkan ke arah para perempuan yang pergi.
"Mereka pasti ke dapur ambil camilan." Beri tahu Abdiel.
"Ya terus?." Tanya Abhi belum 'ngeh'.
Semuanya juga memasang wajah bertanya-tanya.
"Duh." Keluh Abdiel dengan menepuk jidatnya sendiri pelan.
Rafka yang baru paham dia menyunggingkan senyum.
"Ayo!." Ajak Rafka.
"Kemana?." Tanya Bang Idan.
"Kerjain mereka!!." Seru Abdiel gemas dengan nada pelan.
"Ohhh, kuylah." Kata Bang Rafa.
Para laki-laki berjalan berpencar.
Zarine sudah ada di dapur sedang mencari camilan berisi kacang.
"Dapur kamu isinya lengkap banget Za." Kata Tika.
"Hehehe iya, aku masak sendiri kalo ngga lengkap aku sendiri nanti yang susah." Jawab Zarine.
Raina dan Tika masih belum tau kalo Zarine, Akifa, dan Alfi sudah menikah dengan Rafka, Abdiel, dan Abhi.
Yang mereka tau dan pikirkan adalah 6 orang itu berpacaran.
Tiba-tiba, lampu mati.
"Kyaaa!!." Seru 5 perempuan di dapur.
"Duh dasar lampu ngga bisa diajak kompromi!." Seru Akifa kesal.
Sekelebat bayangan berjalan di sekitar pintu dapur.
Cahaya yang remang-remang dihasilkan dari sinar bulan membuat suasana semakin horor.
"Itu tadi apa an yak?." Tanya Akifa takut.
"Kayanya kita dikerjain dah." Kata Alfi.
"Dikerjain gimana?." Tanya Tika.
"Ini pasti kerjaannya Rafka dan lainnya." Kata Zarine.
"Ouh, mau main-main mereka, ayo kita kerjain balik." Raina berucap dengan senyum miringnya.
"Tapi gimana caranya?." Tanya Alfi.
"Tika sama Alfi, kalian keluar dari dapur ke ruang santai terus Tika duduk di sofa sambil nangis pelan kaya yang di film-film, bisa kan?, berani ngga?." Kata Raina berbisik pelan.
"Berani Kak." Jawab Alfi.
"Ayo Tik." Ajak Alfi.
2 perempuan keluar dapur.
Sehingga menimbulkan banyang.
"Tugas kita apa an?." Tanya Akifa.
"Pura-pura takut." Jawab Raina.
Tika dan Alfi keluar dari dapur dengan berlari cepat, sehingga seperti menghasilkan banyangan.
Para laki-laki yang ada di dekat tembok dapur agak terkejut melihat bayangan hitam itu.
"Siapa tuh?." Tanya Abdiel pada lainnya.
"Dikerjain balik nih kayaknya." Celutuk Abhi.
"Diel, Lo ke dapur lagi sana." Suruh Bang Rafa.
"Iya bentar." Jawab Abdiel.
Abdiel kembali kedapur.
"Apa an tuh Kak Rain?." Suara Akifa dibuat ketakutan.
"Duh, mana aku tau Fa, jangan dorong-dorong dong, gelap ini, aku juga takut." Kaya Raina ribut.
Abdiel kembali kebelakang tembok.
"Mereka semua masih di dapur." Beri tahu Abdiel.
"Lah terus tadi siapa yang lewat?." Tanya Rafka.
"Lo itung ngga tadi mereka?." Tanya Bang Idan.
"Ya mana bisa Gua ngitung, Gua kan perannya hantu, kalo ngitung ketahuan dong Gua." Kata Abdiel.
Tiba-tiba.
'Huhu.... hiks.. huhuhu... .' Suara tangis seseorang di ruang santai.
"Suara siapa tuh?." Tanya Bang Rafa.
'Duk... duk... duk... .' Suara langkah kaki menapaki tangga.
"Kok Gua merinding yak?." Kata Abhi dengan mengusap tengkuknya yang bulu kuduknya meremang berdiri.
"Ayo kita cek didapur." Ajak Rafka.
Mereka semua kedapur satu persatu mengecek dan menghitung jumlah perempuan.
Di meja makan.
"Pas ada 5, terus ini suara siapa?." Tanya Bang Idan.
Di dapur 3 perempuan itu cekikikan.
"Bisa juga kamu Za, tiruin suara Tika, Kak Raina juga hebat bisa niru in Alfi." Puji Akifa.
"Ayo kita tuntasin ini permainan biar mereka semua kapok." Kata Raina.
Mereka semua keluar dapur dengan pelan dan berbaris kebelakang memegang erat baju orang di depannya.
__ADS_1
Sedangkan semua para laki-laki berjalan kearah sofa yang di duduki Tika.
"Mbak? Permisi? Mbak hantu apa orang nih?." Tanya Abdiel ngaco.
"Liat kondisi napa kalo nglawak." Kata Bang Rafa yang tawanya hampir pecah.
"Mbak?." Panggil Abdiel sekali lagi.
Dari arah belakang mereka, tiba-tiba.
"Boom!!!." Seru Zarine, Akifa, Raina dan bersamaan Alfi mengidupkan lampu.
Hampir saja 5 laki-laki itu berteriak jika saja tak ada telapak tangan yang mencegahnya.
'Emmhh.' Jerit tertahan 5 laki-laki.
"Ngga usah jail kalau ujung-ujungnya gagal." Kesal Alfi.
"Hehehe, ya maaf Yang." Cengir Abhi.
"Ayo kembali ke duduk tempat masing-masing!." Seru Raina.
Para laki-laki menurut.
Mereka duduk ditempat semula.
5 perempuan sedang berdiri di depan laki-laki.
Lampu sudah dikembalikan ke keadaan semula.
"Untung kita cepet sadar kalo itu kalian." Ucap Raina.
"Iya, kita minta maaf udah nakut-nakutin." Pinta Bang Rafa.
"Ide siapa ini?." Tanya Akifa menyipitkan matanya menatap Abdiel.
"Nih biang keroknya." Tunjuk Bang Idan, dan lainnya ke arah Abdiel
"Udah ketebak sih." Celutuk Akifa.
"Maaf Yang, cuma iseng ngerjain tadi, ampun." Kata Abdiel dengan wajah memelas karena di mendapat tatapan tajam dari Akifa.
"Iya, kita udah maafin, tapi lain kali ngga usah punya niat ngerjain!, untung kita semua ngga terlalu kaget." Sungut Akifa.
"Kita juga minta maaf udah ngerjain kalian balik." Kompak 5 perempuan yang bediri ini.
"Iya." Jawab para laki-laki.
"Ya udah sekarang kita tidur aja." Ajak Bang Rafa.
"Ayo." Jawab mereka kompak.
Mereka masuk ke kamar masing-masing dan tidur.
Tika dan Raina tidak sadar jika Rafka Zarine, Akifa Abdiel, dan Abhi Alfi masuk ke kamar masing-masing dengan bersamaan, mereka terlalu mengantuk hingga tak menyadari itu.
-
-
-
Subuh pukul 03.40 adzan berkumandang.
Semua orang sudah bangun, mandi, wudhu, juga ganti baju untuk sholat.
Mushollah rumah Rafka Zarine ramai hari ini.
Selesai sholat, pukul 04.30 pagi 6 serangkai, Bang Idan, Bang Rafa, Raina, dan Tika bersiap berangkat ke Lumajang.
"Kalian ngga nunggu sarapan dulu nih?." Tanya Mama Rafka.
"Nanti kita bakal mampir buat makan di rumah makan Ma." Jawab Bang Idan.
Posisi mereka saat ini sedang ada di halaman rumah.
Para laki-laki sibuk memasukkan koper ke bagasi mobil travel.
"Jangan sampe lupa loh!." Peringat Bunda Zarine.
"Iya Bunda ku sayang." Jawab Zarine dan Bang Rafa bersamaan.
Bunda tersenyum mendengar perkataan anak-anaknya.
Saat melihat ke arah tas ransel milik Raina, Bunda heran kemudian bertanya.
"Raina?, itu kamu bawa apa aja di tas ransel?." Tanya Bunda.
"Ini hadiah buat Shita Bun, dan juga titipan Shita." Jawab Raina.
Bunda menjawab hanya membulatkan mulutnya berbentuk 'O' tanpa suara.
Pukul 5 kurang 15 menit pagi, semua para muda-muda sudah siap berangkat.
Semuanya berpamitan pada para orang tua.
"Tunggu kita tanggal 22." Kata Papa Rafka.
"Siap Pa." Jawab Bang Idan dan Rafka.
Kemudian 3 keluarga junior serta 2 calon pasanga itu membaca doa bersama sebelum naik ke mobil dan memulai perjalanan.
"Assallammu'allaikum." Salam kompak mereka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab para orang tua.
"Hati-hati nyetirnya Bang Idan!!." Pesan Mama Rafka juga lainnya.
"Iya!!." Jawab Bang Idan.
Mobil keluar dari rumah Rafka dan hilang dibelokan.
"Kita isi bensin, isi perut, sama beli camilan di jalan bentar lagi, gimana? Setuju?." Tanya Bang Rafa.
"Setuju!." Jawab kompak semuanya.
Mereka semua melakukan yang direncanakan tadi.
Sampe pukul 05.30 pagi mereka jalan ke Lumajang.
"Kira-kira nyampenya kapan Rain?." Tanya Bang Rafa yang duduk disebelah Bang Idan yang sedang menyetir.
"Sore paling cepat." Kata Raina.
"Lama banget." Kaluh Alfi.
"Udah nikmatin aja." Celutuk Akifa.
"Tika?, udah pamit lagi sama Mama Papa belum?." Tanya Bang Idan.
"Udah Kak, nanti kalo udah nyampe di suruh ngabarin lagi." Jawab Tika.
"Ok deh." Balas singkat Bang Idan.
Para muda-muda ini duduk dengan formasi laki sendiri perempuan sendiri.
Supirnya Bang Idan, sebelahnya Bang Rafa.
Di belakang supir ada Rafka, Abdiel, Abhi.
Di belakang lagi ada Akifa, Tika, Alfi.
Yang terakhir ada Zarine juga Kak Raina.
Suasana mobil begitu hening dan sunyi.
"Betah bat sih kalia diem-dieman?." Sungut Akifa jengkel.
"Pasang lagu gih biar kagak mati bosen disini." Kata Akifa lagi.
"Iya bawel!." Seru Bang Rafa.
"Bawel-bawel gitu kesayangan Bang." Bela Abdiel pada Akifa.
"Haduhhh, bucin deh." Celutuk Bang Idan ikut menimpali.
"Nanti Lo rasain aja kalo udah sah sama yang ono noh dibelakang, kalo sampe Lo bucin, Gua orang pertama yang bakal ngakak sampe nangis." Tantang Abdiel.
"Hahaha." Tawa pelan para perempuan.
Bang Idan memutar lagu.
Para perempuan menirukan suara penyanyi yang sedang bernyanyi itu.
Mobil ramai bukan hanya suara bising pemutar lagu dimobil.
Tapi juga ramai oleh pendengarnya yang ikut bernyanyi.
-
-
-
Berjam-jam sudah perjalanan terlewati dengan banyak berhenti untuk sholat, berganti menyetir, dan makan serta sebagainya.
Pukul 21.00 malam mereka hampir sampai di desa tempat tinggal Raina.
"Stop dulu!." Seru Raina mengejutkan Abdiel yang kali ini bagian kemudi.
"Ada Rain?." Tanya Bang Rafa.
"Tunggu sini, jangan ada yang keluar." Kata Raina.
Raina keluar dari mobil.
Semua yang ada di dalam mobil masih terheran-heran dengan Raina.
Karena penasaran, mereka membuka jendela mobil.
Di luar terlihat seorang gadis sedang celingukan mencari seseorang.
"Shita?!." Panggil Raina.
"Ouh dia sepupunya." Kata Akifa.
"Liat deh, penampilannya kacau gitu, cari siapa dia malam-malam begini?." Tanya Alfi.
"Kamu ngapain ada disini?!." Tanya Raina agak sedikit membentak.
"Kak Rain?, ada liat dia ngga tadi pas kesini?." Tanya Shita.
"Berhenti ngomongin dia yang ngga akan pernah nganggep kamu ada Ta!!, ayo pulang!!." Raina sudah kehabisan kesabaran.
'Selalu saja dia dia dia dan dia, apa hebatnya?!.' Batin Raina.
Raina menyeret Shita agak kasar.
Shita mengikuti langkah Raina dengan masih celingukan.
Raina menghampiri mobil Bang Rafa dan lainnya.
"Kalian ikuti aku." Titah Raina.
"Kakak ngga naik aja? Biar sekalian gitu." Kata Zarine.
"Ngga usah, aku jalan aja, bentar lagi sampe ini." Jawab Raina dengan tersenyum.
Raina berjalan dengan menyeret Shita.
"Kak?, kau mau cari dia." Ronta Shita yang masih dapat didenger orang di mobil.
"Nyari kemana kamu malem-malem gini?, dia bakal pulang sendiri tanpa kamu cari sekalipun!." Tegas Raina.
"Nyari siapa sih?." Tanya kepo Akifa.
"Ya mana kita tau Yang." Jawab Abdiel.
Mobil berjalan mengikuti langkah 2 perempuan yang sedang jalan kaki itu.
Sepupu Raina juga sudah tenang dan tidak memberontak lagi, cekalan Raina pun mulai mengendur dan lembut.
"Kakak apa kabar?." Tanya Shita.
"Kakak baik." Jawab singkat Raina dengan nada lembut.
__ADS_1
"Itu yang dimobil teman Kakak?." Tanya Shita.
"Iya, tanggal 22 para orang tua mereka akan datang juga kesini." Jelas Raina.
5 menit berjalan mereka semuapun sampai di penginapan milik Shita.
Semua yang ada dimobil keluar menatap kagum pada bangunan ini.
"Indah banget." Puji Akifa.
"Iya." Sahut Zarine.
"Ayo masuk." Ajak Shita ramah.
Semuanya menatap Shita dari bawah hingga atas.
Penampilan kacau, rambut berantakan, dan seperti belum mandi.
"Maaf penyambutan kalian ngga baik." Kata Shita yang tau tatapan para teman-teman Raina.
"Kamu ke dalam aja sana, kunci rumah kasih ke aku aja." Shita memberi kunci tempat penginapan ke tangan Raina.
Lalu setelah itu Shita masuk ke rumah sebelah yang sangat sederhana setelah berpamitan.
Raina membuka pintu dan mempersilahkan Rafka dan lainnya masuk.
"Tempat ini ngga disewakan selama kalian semua ada disini, jadi kalian boleh memilih kamar yang mana saja." Jelas Raina.
"Ok, makasih Rain." Ucap Bang Rafa.
"Sama-sama, kalian istirahat sana, aku mau ke Shita dulu." Pamit Raina.
Setelah itu Raina benar-benar pergi.
Semuanya masuk ke kamar pilihannya masing-masing.
Tika melihat Rafka Zarine masuk ke kamar yang sama.
Dia terkejut.
"Hey?!, kalian kok masuk di kamar yang sama?!." Tanya Tika.
"Tika, besok kita jelasin ya, sekarang kita semua istirahat dulu aja deh, Gua capek Tik." Kata Akifa.
Tika mengangguk lalu ikut masuk ke kamar untuk istirahat.
Di rumah sebelah tempat penginapan.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Shita duduk diluar rumah dengan memegang laptobnya.
Pandangannya kosong kedepan, dia melamun sampai kehadiran Raina Kakak sepupunya saja dia dia tidak menyadarinya.
"Berhenti ngelamunin dia!." Tegur Raina.
"Kakak berangkat jam berapa dari sana?." Tanya Shita mengalihkan pembicaraan.
"Setengah 6 pagi." Jawab Raina singkat.
"Jual penginapan itu Ta, dan ikut Kakak ke Jakarta." Titah Raina nada memerintah.
Shita langsung menoleh ke arah Kakak sepupunya itu.
"Ini perintah!, bukan tawaran, atau permintaan." Kata Raina.
"Kalo jodoh dia bakal balik ke kamu." Imbuh Raina.
Shita menghela nafas pasrah.
"Ok, aku ikut sama Kakak." Setuju Shita.
"Sedang apa kamu tadi di jalan depan?." Tanya Raina.
"Andi bilang dia ada masalah." Jawab singkat Shita.
'Khemmmm, huuffffh.'
Raina menghela nafas panjang.
"Ayo masuk, ini udah malem, besok mereka semua mau ke B29." Beri tahu Raina.
"Ok, ayo masuk." Kata Shita.
Mereka berdua masuk rumah, lalu tidur di kamar masing-masing.
-
-
-
Pagi menjelang.
Burung bernyanyi diatas pohon dengan merdunya.
Ayam jantan berkokok dengan suara nyaringnya.
Dari arah luar rumah Shita.
Seorang laki-laki berkemeja biru dan celana jeans hitam menggedor pintu rumah Shita.
'Tok.. tok.. tok.. .'
"Shita?!." Panggil seseorang sedikit berteriak.
Rumah Shita dan tempat penginapannya agak jauh dari rumah lainnya.
Jadi jika membuat keributan di rumah dan tempat penginapan, orang-orang tidak akan tau.
'Ceklek.' Pintu terbuka.
"Mbak Raina?, Mbak, Shita nya mana?." Tanya Andi.
"Ngapain kamu pagi-pagi cari Shita?." Tanya balik Raina.
Di tempat penginapan, semua penghuninya keluar.
"Ini gawat Mbak!, dia-."
"Pulang sekarang!." Perintah Raina.
"Tapi-."
"Pulang Ndi!." Suruh Raina yang kedua kalinya.
Shita keluar dari dalam rumah.
"Shita, dia-."
"Maaf Ndi, aku ngga bisa bantu in dia lagi." Potong Shita.
"Dia butuh kamu Ta." Kata Andi teman 'Dia'.
"Kamu denger kan apa kata Shita?, pergi sekarang." Suruh Raina.
Shita ikut pergi dari teras rumah menghindari Andi.
"Rendra digebukin lagi sama Bang Anton Ta!!." Seru Andi.
Deg!. Shita membeku di tempat.
"Dimana?." Tanya Shita yang sudah meneteskan air mata.
"Di rumah Panji sekarang dia." Beri tahu Andi.
Shita berlari dengan kencang di ikuti Andi tanpa berpamitan pada semua yang ada di teras depan.
"Shita?!!, kembali Ta!!." Seru Raina yang tak digubris Shita.
"Dia mau kemana?." Tanya Bang Rafa.
"Aku minta maaf sebesar-besarnya ke kalian, niatnya liburan malah dihadapin masalah-masalah Adek sepupuku, maaf yaa, aku mohon maaf banget atas kesalahan Shita dan tidak kenyamanan kalian." Kata Raina merasa bersalah.
Dia mengatupkan kedua tangannya di dada untuk meminta maaf.
"It's ok lagi Kak, kita ngga papa, kita paham sama keadaan Shita." Kata Alfi yang diangguki lainnya.
"Kalian tungu sini, aku mau cari makan dulu sambil jemput dia pulang, kapan kalian maunya ke B29?." Tanya Raina.
"Besok aja deh, badan masih pegel nih karena perjalanan berjam-jam kemarin." Putus Bang Idan yang diangguki semuanya.
"Sekarang kita keliling desa aja kuy." Ajak Akifa.
"Ayo." Kata Raina.
Mereka semua berjalan melihat pemandangan indah di kanan kiri.
"Apa nama desa ini Kak?." Tanya Zarine.
"Desa Singo Joyo." Jawab Raina.
"Singo Joyo?." Beo Abdiel.
"Keren bat namanya." Celutuk Abhi.
"Hehehe, dulu, desa ini pendirinya bernama 'Mbah Singo Joyo', terus sekarang orangnya sudah meninggal." Terang Raina.
"Keturunannya dimana Kak?." Tanya Abdiel.
"Kalo kata para sesepuh, beliau itu tidak punya keturunan." Jawab Raina.
"Gimana caranya beliau bangun desa seluas ini?." Tanya Abhi.
"Percaya sama yang namanya kekuatan magic orang terdahulu ngga?." Kata Raina.
"Percaya ngga percaya sih." Jawab Abdiel.
"Kata para sesepuh, beliau bangun desa ini ya dengan magic-magic gitu." Terang Raina.
"Ina?, kapan balik kesini?." Tanya tetangga yang menanyai Raina (Ina).
"Kemarin malam Bu, mari Bu kami permisi." Pamit Raina yang tersenyum di ikuti oleh Rafka dan lainnya.
Setelah agak jauh dari para tetangga.
"Ina?, itu nama panggilan kamu Rain?." Tanya Bang Rafa.
"Hahaha iya, Raina terlalu ribet bagi mereka, jadi di ambil akhirnya deh, 'Ina'." Terang Raina.
Lama berjalan mereka sampai di jalan agak besar.
Disana banyak orang menjual sarapan.
"Kalian mau makan apa nih?." Tanya Raina.
"Emmmm, soto enak kali ya." Kaya Akifa.
"Kalian sebaiknya makan disini aja, kalo di bawa pulang keburu dingin." Usul Raina.
"Iya deh boleh." Jawab Bang Rafa diangguki semuanya.
Mereka makan soto di tempat.
Setelah itu mereka berjalan kembali untuk pulang.
"Eh katanya mau nyari Shita?, ngga jadi nih?." Tanya Zarine.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1