Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Sixteen


__ADS_3

Hari ini ujian terakhir, tepatnya hari Jum'at tanggal 07 Mei.


Pukul 09.30 pagi dilapangan basket SMA Merdeka.


"Haahhh, akhirnya kita selesai juga ujian." Lega Abdiel.


"Tinggal nerima raport, terus liburan, terus ngerayain hari idul fitri deh, yeyyy." Sambung Akifa lebih bahagia dan Abdiel menatapnya dengan gemas.


"Lo tuh lucu banget sih Fa, makin sayang aja Gua sama Lo." Celutuk Abdiel dengan lantang dan sambil menoel-noel pipi Akifa.


"Aduhhh, sakit Diel, udah berhenti!!." Kata Akifa mengaduh.


Rafka, Zarine, Alfi, dan Abhi saling pandang mendengar kata Abdiel lalu mengulum senyum.


"Apa Diel? Makin sayang?." Kata Abhi memperjelas kalimat Abdiel agar Akifa mendengarnya.


'Hufhhh.' Abdiel berhenti menoel pipi Akifa lalu menghela nafas dan menatap teman-temannya satu persatu lalu berhenti dimata Akifa yang mengusap-usap pipinya.


"Oklah kayaknya emang harus sekarang." Kata Abdiel yang langsung dipahami Rafka dan Abhi.


Abdiel berdiri dengan mengangkat lengan Akifa menyuruhnya ikut berdiri juga.


Lalu Abdiel berberlutut dan mengeluarkan kotak berwarna pink berisi cincin dan membukanya.


Akifa menatap Abdiel dalam, masih bingung dengan situasi yang dialaminya.


"Akifa Naila Shadeeq, Gua eh Aku mau jujur sama kamu." Kata Abdiel menjeda ucapannya mengambil nafas.


Sekarang ini Rafka, Zarine, Alfi, dan Abhi menatap Abdiel dengan jantung deg-deg an karena takut jika Akifa menolak Abdiel.


Dan Abdiel pun merasakan itu.


"Jujur apa an Lo? Dan kenapa Lo berlutut gitu? Mana aneh lagi panggilnya aku-kamu." Seru Akifa yang tak paham situasi.


"Aduh, dasar gak peka." Celutuk Alfi pelan.


Abdiel menarik nafas lalu... .


"Fa, aku ngga tau dari kapan aku merasakan ini, tapi aku ngga main-main kalo soal ini, aku juga pengen kaya Rafka Zarine, aku... ." Perkataan Abdiel dipotong Akifa.


"Diel?, ngga usah berbelit-belit, langsung to the point, Lo kena-."


"Gua mencintai Lo Akifa Naila Shadeeq, Gua sayang sama Lo, Gua mau Lo nikah sama Gua, jadi istri Gua, jadi Ibu dari anak-anak kita, dan hidup bareng sampe maut memisahkan kita, Lo mau kan Akifa?." Ungkap Abdiel dengan sekali tarika nafas.


Akifa membeku terkejut ditempat.


Dia memandang Abdiel dengan pandangan sulit diartikan.


'Abdiel ngelamar Gua?.' Batin Akifa.


"Fa?." Panggil Abdiel


"Eh, apa?." Kata Akifa sadar dari keterkejutannya.


"Lo denger kata Gua kan?." Tanya Abdiel.


"Ehem, Diel denger... ." Dehem Akifa dengan menjeda bicaranya.

__ADS_1


"Gua ngga bisa, Gua mencintai seseorang soalnya, sorry ya." Kata Akifa dengan nada yang sedih.


Abdiel menunduk kemudian mendongak dan tersenyum, lalu berdiri.


"It's ok santai aja." Kata Abdiel dengan mencengkram kotak cincin tadi.


Abdiel berbalik melngkah pergi.


Rafka, Zarine, Alfi, dan Abhi menatap sedih pada Abdiel.


Akifa mengulum senyum melihat kepergian Abdiel.


"Diel?! Lo ngga mau tanya siapa cowok yang dapet cinta dari Gua?." Panggil Akifa yang sukses membuat Abdiel berhenti ditempat dia berjalan.


"Siapa?." Tanya Abdiel datar dengan membalikan badannya menghadap Akifa.


'Meski ngga dapet cinta Lo, seenggaknya Gua harus pasti in kalo Lo hidup bahagia ama pilihan Lo itu.' Batin Abdiel.


'Gua pikir cinta Gua bertepuk sebelah tangan, ternyata engga, makasih Diel, Lo emang terbaik.' Batin Akifa dengan memasang senyum manisnya.


"Abdiel Justin Gilbert, si cowok paling konyol yang pernah Gua temuin, cowok yang hobinya ngajak ribut karena berebut makanan, Gua juga mencintai Lo Diel." Lantang Akifa dengan tegas dan menangis bahagia.


Abdiel berjalan mendekat kearah Akifa, menghapus air matanya sesaat kemudian memeluknya dengan erat.


'Terima kasih Ya Allah, terima kasih.' Batin Abdiel bahagia masih memeluk Akifa.


Akifa makin sesenggukan saat Abdiel memakaikan cincin dijari manis sebelah kirinya.


Keduanya kembali berpelukan dengan bahagia.


"Dah jan nangis." Kata Abdiel menenangkan Akifa.


"Sirik aja Lo Maimunah." Balas Akifa yang sudah berhenti menangis.


Rafka, Zarine, Abhi, dan Alfi menatap pasangan baru ini dengan bahagia.


Mereka ber 4 berdiri dari duduknya lalu menghampiri Abdiel Akifa.


"Selamat buat kalian, semoga kedepannya hubungan kalian ngga ada kata bosen." Kata Zarine dengan memeluk Akifa disusul Alfi.


"Aamiin." Kata Alfi dan Akifa kompak


"Selamat Diel, cepet-cepet deh Lo halalin, kalo halal lebih sah mau peluk, jan pacaran lama-lama." Kata Rafka.


"Iya secepatnya Gua bakal lamar dia secara resmi, terus langsung nikah aja kaya Lo ama Zarine." Balas Abdiel.


"Bagus tuh, lebih cepat, lebih baik." Sahut Abhi.


"Lo kapan nyusul Bhi?." Tanya Abdiel dengan nada mengejek.


"Iya Bhi, masa Alfi dikacangin mulu?." Celutuk Rafka dengan diakhiri kekehan.


"Secepatnya Gua bakal nyusul kalian." Balas Abhi yakin.


"Pulang yuk, bentar lagi kalian para cowok-cowok sholat jum'at." Ajak Zarine.


Rafka melihat jam tangannya lalu mengangguk meng 'iya' kan.

__ADS_1


Mereka ber 6 menuju parkiran lalu.


Disatu sudut lapangan basket, seseorang keluar dari persembunyiannya dangan muka memerah karena marah.


"Gua harus cepet-cepet jalanin rencana, kalo bisa 3 cewek itu kena semua, tunggu aja kalian ber 3." Kata seseorang itu.


"Sebaiknya Lo berhenti Sar, Lo masih beluk tau marahnya Rafka, Abhi, ama Abdiel, lebih baik Lo udahin aja niat buruk Lo itu." Sahut Tika dari belakang.


"Diem Lo Tik, ngga usah ikut campur!!." Seru Sari dengan melangkah pergi.


"Kapan Lo sadar sih Sar? Obsesi Lo terlalu besar." Kata Tika lalu pergi juga untuk pulang kerumah.


Rafka Zarine sampai diapart.


Pukul sudah menunjukkan jam 11.10, Rafka langsung mandi dan Zarine menyiapkan baju untuk Rafka kemasjid.


Pukul 20.30 Rafka Zarine duduk berdua diruang TV dengan mengobrol dan menonton.


"Tadi aku pikir Akifa bakal nolak, ternyata... ahahaha." Kata Rafka pelan jika memgingat ekspresi Abdiel tadi.


"He em, aku pikir juga bakal ditolak, alhamdulillah deh satu persatu diantara kita udah ada pasangan." Timpal Zarine.


"Tinggal 1 pasang lagi nih Yang." Kata Rafka mengingatkan.


"Abhi Alfi? Kayanya 2 orang itu punya caranya sendiri Yang buat bersatu, kita tunggu aja waktunya." Balas Zarine.


"Yang? Mama nyuruh kita pulang, katanya ngerayain hari fitrinya kumpul disana, semuanya juga hadir Ayah Bunda kamu, orang tua Abhi, Alfi, Akifa, sama Abdiel juga ikut hadir, jadi kapan kita kesana?." Tanya Rafka dengan mendongak kearah Zarine yang duduk diatasnya.


"Emm, aku ikut kamu aja, tapi kalo boleh usul senin pagi aja kita kesananya." Kata Zarine.


"Oklah kita kesana hari senin pagi aja." Setuju Rafka.


"Kamu udah bilang Mama Papa, Bunda Ayah belum soal ambil raport hari Kamis tanggal 20 Mei ini?." Tanya Zarine.


"Belum, besok aja sekalian." Jawab Rafka.


"Ok deh, jangan ampe lupa loh." Peringat Zarine pada suaminya itu.


"Mulai besok kita udah liburan sampe bulan Juli tanggal 12, kita mau kemana?." Tanya Rafka.


"Kita dirumah Mama Papa atau Bunda Ayah aja deh Yang, jangan kemana-mana." Kata Zarine.


"Gimana kalo kita mulai program punya momongan." Usul Rafka dengan senang kepada istrinya.


"Aku ngikut kamu aja." Balas Zarine dengan menundukkan kepala, mukanya memerah malu.


Sejujurnya Zarine malu jika membahas soal anak.


Kalo ditanya apa Zarine sudah siap, jawabannya sudah.


Karena setelah menikah Zarine sudah tau konsekuensinya harus siap hamil dan mungkin putus sekolah.


Ternyata suaminya begitu pengertian, Rafka lebih menahan nafsunya, dia tidak mau egois, dan Zarine bangga pada suaminya itu.


"Hehehe, kita lakuin kalo udah semester 2 deh." Kata Rafka dengan mengelus kepala Zarine yang tertunduk, dan Zarine hanya menganggukkan kepala dengan tersenyum manis.


Setelah pembicaraan tentang momongan itu, Rafka Zarine menuju kamar dan tidur untuk melaksanakan sahur besok dini hari.

__ADS_1



__ADS_2