
Hari terus berganti.
Tak terasa sekarang sudah akhir pekan.
Minggu 18 Juli.
Rumah Rafka Zarine ramai oleh suara cempreng Abdiel dan Akifa.
Soal yang tempo hari mengunjungi Sari, Rafka sudah menjelaskan segalanya.
Ngga semuanya sih, tapi hanya setengahnya.
Rafka ngga mengatakan tentang teror yang dilakukan Sari.
Hari ini pukul 09.00 pagi 6 serangkai dan orang tuanya berkumpul ditaman belakang rumah Rafka.
"Yang, jangan main comot dong, elah kebiasaan." Gerutu Akifa.
"Masih banyak juga itu ditoples yang kamu pegang Yang." Tunjuk Abdiel.
"Cocok deh, 2 tupai bersanding." Celutuk Alfi.
"Maksudnya tupai?." Tanya Akifa.
"Tupai kan makannya ka... cang." Kata Abdiel dengan memasukkan kacang kedalam mulutnya.
"Jadi maksud Lo tupainya kita?." Tanya Abdiel baru sadar.
"Syukur kalo udah paham." Jawab Alfi dengan wajah tanpa dosa.
'Hahahaha.' Tawa semua orang pecah melihat perdebatan antara 3 orang itu.
"Besok tanggal berapa ya?." Tanya Mama Rafka.
"19 Juli." Jawab Zarine dengan memasukkan buah kedalam mulutnya.
Semua orang diam menatap Zarine yang mengucapkan tanggal itu dengan santai.
Rafka pun demikian, dia hanya fokus mengupas buah untuk Zarine.
"Mereka berdua lupa atau emang ngga peduli?." Tanya Akifa berbisik pada Alfi.
"Mereka kan ngga terlalu peduli sama itu semua, tangga ulang tahun aja kalo bukan kita yang inget, dia juga lupa." Balas Alfi.
Semuanya saling pandang kemudian tersenyum penuh arti.
"Hehehe, mereka lupa ternyata." Kekeh Ayah Zarine.
"Biarin deh, kita rencanain kejutan buat mereka nanti." Kata Papa Rafka.
"Ouh ya, Ma Pa? Kapan Rafka sama Zarine bisa liat rumah yang dibangun itu?." Tanya Rafka.
"Akhir bulan ini sih seharusnya udah bisa." Jawab Papa.
"Tapi tetap, jangan coba-coba berharap buat pindah diwaktu dekat ini." Tegas Mama Rafka.
"Peraturan ini, bukan hanya berlaku buat Rafka Zarine aja, tapi ini juga buat kalian ber 4." Tunjuk Papa Rafka pada Abhi Alfi & Akifa Abdiel.
"Kita juga ngga mau kali Om kalo pindahannya ngga bareng." Balas Akifa yang diangguki Alfi.
"Bagus deh." Jawab Para orang tua.
Mereka berbincang dengan membahas berbagai topik.
"Aku ke toilet dulu semuanya." Pamit Zarine.
"Aku ikut Yang!." Seru Rafka.
Rafka Zarine pun pergi dari taman belakang.
"Rafka sama Zarine parah banget, masa mereka lupa sama hari jadi pernikahan mereka sendiri." Kata Akifa.
"Hehehe, kayanya mereka ngga peduli sama hari itu." Timpal Ayah Zarine.
"Terus? Kita mau biarin aja, atau buat surprise?." Tanya Mami Alfi.
"Harus buat dong Te." Heboh Akifa dengan nada rendah.
"Tapi surprise nya apa?." Tanya Bunda Zarine.
"Gimana kalo... ." Mama Rafka berpendapat.
Hingga tak lama.
"Setuju." Jawab para perempuan.
Sedangkan para laki-laki.
"Kita mah ngikut aja, urus deh semuanya." Kata Papa Rafka mewakili lainnya.
Dari pintu masuk taman Rafka Zarine datang.
Mereka berdua kembali duduk ditempat semula dan berbincang hingga adzan dzuhur berkumandang.
-
-
-
Ke esokan harinya semuanya berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya.
6 serangkai sekolah dan belajar di kelas.
Tapi hari ini ada yang aneh.
Firasat Alfi dan Akifa mengatakan akan ada hal yang terjadi.
"Al? Perasaan Gua kok ngga enak ya?." Tanya Akifa.
"Gua juga, rasanya kaya mau ada hal besar yang terjadi, tapi Gua ngga tau hal apa." Jelas Alfi.
"Udah, jangan berburuk sangka, banyakin doa ke Allah aja." Nasihat Abhi bijak.
"Lindungi kami semua ya Allah." Doa Akifa dan Alfi kompak.
"Aamiin." Ucap Abhi dan Abdiel mengaminkan doa istri mereka.
Rafka dan Zarine tidak bersama mereka saat ini.
Rafka sedang menemani Zarine ke toilet, sebenarnya Zarine sudah menolak, tapi Rafka keukeuh dan ngotot mau nganterin.
__ADS_1
15 menunggu akhirnya Rafka Zarine kembali dari toilet.
"Lain kali aku mohon ngga usah anter lagi ya, malu tau aku diliatin." Pinta Zarine dengan pipi memerah malu.
"Hahaha, susah deh kalo udah BuCin." Ejek Rafka.
"Jangan ngolok-ngolok, kualat baru tau rasa Lo." Celutuk Rafka.
"Hahaha." Tawa Akifa pecah melihat wajah kecut suaminya.
"Ring... ring... ring... ." Bel masuk berbunyi.
Semua siswa-siswi masuk kekelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran.
Di kelas, Alfi dan Akifa tidak bisa fokus kepelajaran.
Pikiran 2 cewek sahabat Zarine ini gelisah.
Hati mereka tidak tenang.
Dan ada rasa yang sulit dijelaskan yang menganjal dihati mereka ber 2.
Pukul 15.30 sekolah selesai.
6 serangkai pulang kerumah masing-masing.
Saat sampai dirumah.
Mama menyapa.
"Hai anak-anak Mama, gimana hari kalian disekolah?." Tanya Mama ceria, beliau juga sama sebenarnya dengan Akifa dan Abhi.
Beliau gelisah dan tidak tenang.
Tapi tidak tau hal apakah itu yang membuatnya tidak tenang itu.
"Ouh ya, kalian nanti ba'da isya' datang ke kantor Papa ya." Suruh Mama.
"Ngapain?." Tanya Rafka heran.
"Papa ngadain acara disana, tepatnya dirooftopnya." Jelas Mama.
"Acara apa Ma?." Giliran Zarine bertanya.
"Entahlah, Mama juga tidak tau." Bohong Mama.
"Tapi Papa kok ngga-."
"Udah!, kamu kok cerewet sih Raf? Sejak kapan seorang Rafka cerewet? Udah nanti ba'da isya', jangan lupa!." Tegas Mama diakhiri dengan cengirannya.
"Dah sana masuk kamar." Suruh Mama.
Rafka Zarine yang bingung pun tetep menjalankan perintah menuju kamar.
"Mama kenapa ya? Kok kaya ada yang ditutup-tutupi gitu?." Tanya Zarine pada Rafka.
"Entahlah, aku juga ngga tau." Jawab Rafka.
"Yang penting kita laksanain aja deh perintah Mama tadi." Sambung Rafka tanpa curiga.
-
-
-
Ba'da maghrib tadi, Mama Papa pamit berangkat dulu ke tempat acara.
Dan sekarang ba'da isya' giliran Rafka Zarine berangkat.
"Yang? Udah belum?." Panggil Rafka.
"Iya bentar!." Jawab Zarine.
Zarine turun dari lantai dua.
Rafka yang melihat Zarine turun terpaku ditempat.
Pasalnya malam ini sungguh penampilan Zarine sangat cantik.
Gamis putih, jilbab lebar berwarna senada dengan gamisnya, make up natural yang membuat wajahnya makin cantik.
"Cantik." Puji Rafka saat Zarine tiba dihadapannya.
"Kamu juga ngga kalah, ganteng." Puji balik Zarine.
Malam ini Rafka memakai pakaian formal, yaitu kemeja putih dan jas hitam, celana yang warnanya senada dengan jasnya dan jangan lupakan dasi yang menjuntai berwarna hitam polkadot.
"Hehe, udah ayo kita berangkat." Ajak Rafka dnegan menggandeng tangan Zarine.
Mereka bedua berangkat dengan menggunakan mobil Rafka yang disupiri oleh Rafka sendiri.
Tanpa mereka sadari, bahaya sedang menggancam didepan mata.
Hanya Allah yang tau apa yang akan terjadi pada kedua manusia yang berbahagia itu.
Rafka mulai mengemudikan mobilnya.
Membelah jalanan yang agak sepi dimalam ini.
Mereka bedua bercanda disepanjang jalan dengan bergandeng tangan.
Membicarakan hal konyol yang membuat mereka tertawa bahagia.
Lalu, dari arah depan datang truk pengangkut kayu melaju dengan kencang.
Karena asik bercanda, fokus Rafka teralihkan.
Dan yang terjadi... .
"Rafka?!, awas didepan!!." Seru Zarine yang menyadari truk itu.
Rafka menoleh kedepan, saat Rafka ingin menghentikan mobil, rem mobilnya blong.
"Yang? Remnya blong." Beritau Rafka.
"Kamu lompat dari sini Yang cepat!!, aku akan dekatkan mobilnya direremputan." Suruh Rafka.
"Enggak! Aku ikut kamu ada disini." Seru Zarine.
Dan akhirnya terjadilah hal yang tak di inginkan.
__ADS_1
'Brak!!!!!!!.' Mobil terguling.
Truknya juga ngga kalah parah rusaknya.
Tapi supirnya selamat dan melarikan diri.
-
-
Ditempat acara, semua bingung dan bertanya-tanya.
"Kemana mereka berdua?." Tanya Mama Rafka.
"Iya kok lama banget sih." Timpal Bunda Zarine.
"Perasaan Gua tambah ngga karuan nih Al." Beri tahu Akifa.
"Yang telepon Rafka." Pinta Alfi pada Abhi.
Abhi meengangguk patuh lalu mulai menelepon.
'Tut... tut... tut... .'
Lama menunggu akhirnya terjawab.
"Hallo?." Sapa seseorang diseberang telepon yang didengar semua orang, karena Abhi menspeaker.
"Halo? Siapa ini? Dimana yang punya telepon?." Tanya Abhi bersikap tenang tapi sebenarnya panik .
Pasalnya Rafka tidak akan membiarkan ponselnya dipegang oleh orang lain, kecuali Zarine.
Lagi, di seberang telepon suasananya sangat ramai.
"Masnya temannya yang punya telepon kah?." Tanya seseorang di seberang telepon.
"Iya, kemana orang yang punya HP Pak?." Tanya Abhi.
"Teman Mas kecelakaan!." Beritahu Orang itu.
Deg!!.
Semua orang terpaku ditempat.
"Sekarang teman Mas dibawa ke RS Kasih Bunda." Beritau orang diseberang telepon.
Bunda Zarine langsung pingsan mendengar anak menantunya kecelakaan.
Sedangkan Mama Rafka, beliau langsung luruh kelantai dan menangis dengan kencang.
"Kalian yang muda-muda tunggu disini, temani para perempuan, sedangkan yang tua ayo kita ke RS itu." Kata Ayah Zarine.
Dilokasi kecelakaan, korban sudah dibawa ke RS dengan ambulans.
Mobil Rafka Zarine ringsek tak terbentuk.
Disana juga sudah ada pihak berwajib yang menangani kecelakaan.
Di RS Kasih Bunda.
Rafka Zarine langsung ditangani oleh dokter.
30 menit setelah kedatangan Rafka Zarine di RS.
Ayah Zarine dan Papa Rafka datang ditemani sahabanya.
"Dok? Pasien yang baru kecelakaan apakah ada disini?." Tanya Papa Rafka pada resepsionis.
"Ada diruang IGD Pak." Jawab Resepsionis.
"Terima kasih." Ucap Ayah Zarine.
6 orang tua laki-laki itu berlari menyusuri koridor RS.
Hingga sampailah didepan ruang IGD.
"Jadi ini perasaan yang dirasakan oleh para istri-istri kita dan anak-anak kita." Kata Papa Abdiel.
"Semoga mereka tidak parah." Doa Papi Alfi.
"Aamiin." Ucap 5 orang lainnya.
Sedang panik menunggu, seseorang dari pihak berwajib datang kearah 6 orang tua laki-laki itu.
"Permisi? Dengan wali korban?." Panggil Pak Polisi itu
"Iya, kami walinya Pak, Pak?, bagaimana bisa kecelekaan ini terkadi?." Tanya Ayah Zarine.
"Bagaimana Pak kronologonya? Bisa tolong jelaskan?." Tanya Papa Rafka.
"Dari hasil penyelidikan saya dan para tim, serta dibantu oleh saksi ditempat kejadian, diduga kecelakaan ini bukan kecelakaan biasa, melainkan kecelakaan terencana." Terang Pak Polisi.
"Karena mobil anak bapak melaju sesuai kecepatan normal, dan rem mobilnya sengaja dirusak, tim saya sudah mengeceknya tadi." Sambung Pak Polisi itu lagi.
"Pelakunya kemana sekarang Pak?." Tanya Ayah Zarine.
"Dia lari Pak, tadi kata saksi, pelakunya masih muda sekisaran usia 22-23 tahunanlah." Jawab Pak Polisi.
"Apa mungkin Rendy." Gumam Ayah Zarine.
"Apakah palakunya pakai topi yang ditengahnya bergambarkan huruf R?." Tanya Ayah Zarine.
"Saya tidak tau jelasnya Pak, yang saya tau dari saksi, dia memang memakai topi, pakaian dia serba hitam dari atas sampai bawah." Terang Pak Tono.
Semuanya menduga-duga, tapi tidak mau langsung menunjuk siapa pelakunya.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Maaf ngga nyambung😢🙏
Jaga kesehatan readers
__ADS_1
Like & komennya ditunggu
Ouh iya, ada yang harus readers tau, bab visual dinovel NMKP ini telah Author hapus, tapi semuanya udah taukan pemerannya siapa aja? Jangan bosen sama ceritaku yaaa, ViCa sayang kalian😍.