Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus duapuluh tujuh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™.


******************************


-


-


"Yang? Jawab jujur, gimana kabar nye sekarang?." Tanya Tika serius.


"Dia kerja di clup malam jadi sugar baby nya pemilik tuh clup." Jawab jujur Bang Idan yang sebenar nya dia sangat mualas mencerita kan si biang masalah itu.


"Kasian banget." Iba Tika.


"Ngapain kasian? Dia tuh perusak rumah tangga orang." Sungut Bang Idan.


"Itu kan masa lalu, kalo aku minta kamu balikin karier nya kamu-." Tika tak dapat melanjut kan ucapan nya karena bibir nya telat di bungkam dengan bibir Bang Idan.


"Jangan meminta hal aneh! Dia itu jadi model karena sifat licik nya dan murahan nya, bukan karena kecerdasan nya sendiri, dia sukses karena menjual tubuh." Dingin Bang Idan berucap setelah melepas ciuman nya.


Tika yang mendengar nya hanya bisa menghela nafas panjang.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Kamu ngga pernah ketemu sama dia kah?." Tanya Tika.


"Yang? Please?! Berhenti ngomongin dia, ngga guna soal nya." Tegas Bang Idan berucap.


"Huuuuhh." Dengus Tika.


"Kamu kenapa tanya-tanya soal dia sih?." Lembut Bang Idan bertanya.


"Yaaaa penasaran aja, dia kan kaya nyimpen dendam gitu pas kamu hancurin karier nya." Kata Tika.


"Udah berenti bahas dia, siap-siap gih sana buat berangkat sekolah." Suruh Bang Idan.


"Yang?." Panggil Tika.


"Apa?." Sahut Bang Idan.


"Aku... pengen makan masakan kamu." Lirih Tika berucap.


Bang Idan membulat kan mata nya lebar.


"Ma... ma... masakan aku?." Gagap Bang Idan berkata.


"He em." Angguk cepat dengan mata menunjuk kan binar bahagia.


"Ma... masak apa? Aku ngga bisa masak loh Ysng, nanti kalo masakan aku ke asianan atau kurang sesuatu gimana? Kamu ada-ada aja sih, minta Bibi aja deh yang masak." Kata Bang Idan.


"Aku mau nya kamu yang masak, masak nasi goreng aja." Keukeuh Tika pada permintaan nya.


'Huuffffhh.' Helaan nafas pasrah terdengar.


"Ok deh, kalo nasi goreng aja aku bisa, semoga." Kalimat terakhir yang di ucap kan Bang Idan seperti bergumam yang tak di dengar jelas oleh Tika.


Istri Bang Idan itu tersenyum bahagia mendengar suami nya setuju memasak untuk nya.


Tik berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.


"Adoyyy... ada-ada aja sih, mana Gua noob lagi sama masak memasak." Keluh Bang Idan sambil mengusap wajah nya kasar.


Bang Idan meninggal kan kamar dan berjalan menuju dapur, di sana sudah ada 2 ART yang sedang memasak.


"Ehem! Permisi, selamat pagi?." Sapa Bang Idan ramah.


"Eh? Den Idan? Ada apa Den? Ada yang bisa kami bantu?." Tanya ART yang bernama Bi Darmi, seorang wanita paruh baya yang dulu bekerja di rumah Mama Papa Bang Idan.


"Emm... begini Bi, saya... mau... minta tolong, untuk para ART biar saya yang nyiapin sarapan sendiri, dan jangan ada tang masuk dapur sebelum saya selesai." Permintaan Bang Idan membuat Bi Darmi dan 1 ART lain nya merasa bingung.


"Tumben Den Idan mau masak? Apa masakan Bibi ada yang kurang sampai membuat Aden pengen masak sendiri?." Tanya khswatir Bi Darmi.


"Bu... bukan gitu Bi, si Tika istri saya, pengen saya yang masak sarapan kali ini, jadi... saya mau masakin." Jelas Bang Idan.


"Oalah... gitu toh, ya udah kita ngga akan ganggu Aden, tapi kalo butuh apa-apa panggil salah satu dari kita ya Den buat bisa bantu." Pesan Bi Darmi.


"Siiap Bi, kalo nasi goreng aja mah, aku pasti bisa." Semangat Bang Idan.


Bi Darmi meninggal kan dapur.


Sekarang hanya tinggal Bang Idan di sana sendiri an, dia mulai memasang celemek oada tubuh nya dan bersiap untuk mulai memasak.


"Aduhhh... semoga hasil nya ngga akan mengecewa kan dah, terakhir masak sendiri kan pas masih ada di London, semoga rasa nya enak." Doa Bang Idan di sela-sela kegiatan memaasak nya.


Bang Idan yang fokus memasak, tak terasa jika seseorang tengah memeluk nya dari arah belakang.


'Grep!.' Tangan mungil seseorang bertengger manis di atas perut Bang Idan.


Tanpa kata sang empu tangan mengusap kan wajah nya di punggung Bang Idan.


Sedang kan Bang Idan menghirup aroma segar menenang kan dari arah belakang nya.


"Gimana masakan nya? Udah jadi?." Tegur Tika, yip seseorang yang memeluk Bang Idan itu tak lain dan tak bukan adalah Tika sang istri tsrcinta.


"Bentar lagi selesai, kamu tunggu di meja makan aja sana, habis mandi jangan nginjekin kaki di dapur, nanti seragam nya bau asap kompor loh." Bang Idan penuh kelembutan pada Tika.


"Aku mau liatin suami ku masak." Tolak Tika dengan mengerat kan pelukan nya.


"Ya deh terserah, tapi mending kamu nunggu nya sambil duduk kalo berdiri terus capek tau." Bang Idan menyaran kan istri nya ini untuk menunggu nya sambil duduk.


"Engga! Aku nyaman peluk kamu." Manja Yika berucap.


'Tapi aku yang ngga nyaman, 'itu' kamu menpel di punggung aku, rasa nya tuh... akhhh.' Frustasi Bang Idan, yang di maksud 'itu' oleh Bang Idan adalah 2 benda kenyal di dada Tika.


Setelah beberapa menit kemudian, masakan Bang Idan oun sudah siap, Tika duduk di meja makan sambil memegang sendok garpu di tangan kanan kiri nya, dia sudah mencuci tangan nya di wastafel tadi.


"Nah nasi goreng nya, selamat mencoba." Ucap Bang Idan.


'Semoga rasa nya memuas kan, tadi pas aku cicip rasa nya pas semoga lidah Tika suka.' Batin Bang Idan.


Tika masih belum memakan nya, dia hanya memandangi nasi goreng itu.


"Yang? Ini udah hampir siang loh, ayo makan." Lembut Bang Idan mengingat kan.


"Kita makan berdua, dan kamu suapin aku." Pinta Tika sambil memberi kan sendok garpu nya pada Bang Idan.


Suami Tika itu pasrah dan dia pun duduk di sebelah Tika, tadi Bang Idan berdiri di sebelah Tika.


Tika dan Bagmng Idan mambaca doa sebelum makan, lalu Bang Idan menyuapi Tika.


Tika mengunyah dengan sangat lamban sambil memejam kan mata nya.


"Hmmmm... ." Dia bergumam, Bang Idan menatap Tika dengan harap-harap cemas.


"Gimana rasa nya? Enak ngga?." Tanya Bang Idan.


"Enak!." Jawab senang Tika sambil membuka mata nya.

__ADS_1


Bang Idan menatap mata sang istri mencari kebohongan di sana, tapi nihil tak ia temu kan.


Suami Tika ini kemudian memelih mencicipi nasi goreng nya sendiri.


"Hmmm... lumayan." Kata nya.


"Tuh kan, aku ngga bohong tau!." Seru Tika, Bang Idan hanya menanggapi nya dengan kekehan kecil.


"Ya udah ayo makan lagi, bentar lagi kamu langsung ke rumah nya Rafka Zarine aja, aku mau mandi." Tutur Bang Idan, Tika mengangguk kan kepala sekali dan fokus pada nasi goreng.


Selesai sarapan, Tika membawa piring bekas makan nya ke wastafel, saat akan mencuci nya, Bi Darmi datang.


"Udah Non Tika, biar Bibi aja seragam nya basah loh nanti Non berangkat sekolah aja gih, past Den Rafka sama temen Non lain nya nunggu in." Kata Bi Darmi.


"Makasih ya Bi, Tika mau pergi sekolah deh, assallammu'allakum Bi Darmi." Manja Tika berucap.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bi Darmi.


Tika kembali ke depan, di sana sudah ada Bang Idan yang menanti.


"Kata nya mandi?." Tanya Tika.


"Mau ngasih ini ke istri manja ku." Celutuk Bang Idan sambil menunjuk kan uang kertas berwarna merah sebanyak dua lembar.


"Wah! Uang jajan ku naik!." Seru Tika bahagia, dia sudah ingin mengambil uang itu tapi Bang Idan mencegah nya dengan menaik kan uang itu ke atas.


"Yang?." Manja Tika.


"Ngga ada naik-naik, 2 lembar buat besok!." Tegas Bang Idan.


Tika nyengir kuda sambil berucap "Aku pikir uang jajan naik."


"Itu buat jaga-jaga kalo aku lupa ngasih kamu uang, jangan boros yang ngga baik." Petuah Bang Idan.


Tika mengangguk kan kepala meng iya kan.


Tiba-tiba Bang Idan berjongkok mensejajar kan tinggi nya dengan perut Tika.


"Anak Papa jangan buat Mama susah yah, jangab mual bikin mual Mama kalo di sekolah." Bang Idan berbicara dengan perut Tika sambil mengelus nya lembut.


"Siiap Papa, Baby ngga bakal bikin Mama susah, Papa kerja nya yang semangat yah biar bisa beli mainan banyak buat Baby." Tika membalas ucapan Bang Idan dengan suara meniru kan anak kecil.


"Pasti!." Semangat Bang Idan, dia kemudian mencium perut Tika lembut, dan berdiri menyamai Tika.


"Kalo ada apa-apa, minta tolong anak-anak, jangan simoen sendiri." Pesan tegas Bang Idan, raut cemas masih menyelimuti wajah Bang Idan.


"Iya aku bakaal hati-hati di sekolah, ya udah aku berangkat ke sekolah dulu, ouh iya pesan aku... kamu jangan genit nanti di kantor, jauh-jauh ama yang nama nya perempuan!." Seru Tika.


"Emang aku pernah kaya gitu ke cewek selain kamu? Aku udah punya istri cuantik banget, ngapain selingkuh? Kurang kerjaan banget, apa lagi aku calon Ayah, ngga mau salah langkah aku, entar karma nya ke anak kita lagi." Panjang Bang Idan berucap.


"Aku percaya sama kamu, aku berangkat dulu, assallammu'allaikum." Salam Tika sambil mencium punggung tangan Bang Idan dan di balas kecupan di wajah secara bertubi oleh calon Ayah ini.


"Wa'allaikum sallam." Balas Bang Idan.


Tika pun berangkat sekolah, sedang kan Bang Idan bersiap berangkat ke kantor.


Saat selesai mandi, ponsel Bang Idan berdering.


'Tring... ring... ring... .'


"Bang Rafa?." Beo nya.


"Assallammu'allaikum, apa an Lu telepon Gua?." Tanya Bang Idan.


"Gua ada kabar baik Bang!." Pekik Bang Rafa senang.


"Kabar apa an dah?." Tanya Bang Idan dengan dia sibuk bersiap memakai baju.


"Raina hamil Bro!." Seru orang di seberang heboh.


"Wah! Alhamdulillah, ngomongin kabar, Gua juga punya kabar baik juga buat Lo." Kata Bang Idan.


"Apa?." Giliran Bang Rafa bertanya.


"Bukan Lo doang yang bakal jadi Papa, Gua juga mau jadi Papa dong." Pamer Bang Idan.


"Belum tentu sama, coba Lo ke dokter Lexa buat cek udah beraoa minggu bini Lo hamil." Suruh Bang Idan.


"Iya nih kita mau ke dokter Lexa, sekalian kuy bareng sama Lo." Ajak Bang Rafa.


"Kkagak bisa Gua, Lo lupa si Tika ujian, baru dua hari, ujian terakhir lagi." Ujar Bang Idan.


"Terus kapan Lo bisa nya?." Tanya Bang Rafa.


"Mungkin hari jum'at." Jawab singkat Bang Idan.


"Eh ngomong-ngomong kita bikin kejutan kiy di grup WA keluarga besar." Ide Bang Idan mengajak.


"Tunggu lengkap sama foto USG nya aja, kalo cuma test pack doang Gua ngga mau." Tolak Bang Rafa.


"Iya deh, Lo berarti ngga ke kantor hari ini?." Tanya suami Tika ini.


"Ke kantor, tapi mungkin cuma sedikit waktu nya." Jelas Bang Rafa.


"Hmmm... mending Lo duduk diam aja di rumah, dari pada Lo ke kantor ujung-ujung nya juga ganggu in Gua di kantor." Saran Bang Idan.


"Huuuhhh Lo kalo ngga ada kesepian tau, percaya deh, Gua tuh penghibur orang-."


'Tut... tut... tut... .'


"Halo? Halo?! Bang Idan?! Shit! Di mati in, awas aja tuh si Bang Idan!." Gemas Bang Rafa.


"Kamu sih panjang banget ceramah nya, Bang Idan jadi jengah denger nya di mati in deh, hahaha... ." Tawa Raina pecah.


Bang Rafa mengerucut kan bibir nya kesal kepada sahabat nya itu.


"Udah jangan ngambek, hilang deh ganteng nya suami ku." Gida Bang Rafa.


Di rumah Bang Idan.


"Rasa in Lo Gua mati in, ngemeng aja sih dari tadi, pengang rasa nya telinga ku denger suara Bang Rafa, suara nya terlalu merdu, merusak dunia maksud nya, hahaha... ." Bang Idan tertawa terbahak sendiri dengan sibuk memakai dasi di leher nya.


"Kanan apa kiri yah?." Bingung Bang Idan.


"Adoyyy gini nih Gua kalo ngga ada Tika, ngga bisa apa-apa!." Jengkel nya, kemudian dia membuang kain panjang itu dan berangkat bekerja tanpa memakai dasi, padahal dia ada rapat hari ini dengan klien๐Ÿ˜‚.


Kita ke Bang Rafa dan Raina.


"Yang? Kamu udah buat janji sama dokter Lexa?." Tanya Raina.


"Ouh ya allah, untung kamu ingetin, ngga usah deh Yang kita antre aja kaya lain nya, ayo kita ambil antre an nya sekarang, kalo nomer nya masih jauh kita mampir ke kantor ku." Bang Rafa menyusun Rencana.


"Ok lah aku ikut kamu aja." Pasrah Raina.


Mereka pun pergi ke rumah sakit tempat dokter Lexa praktik, Bang Rafa tetap menghubungi dokter Lexa untuk memberi tahu bahwa dia akan ke tempat nya, dan dokter Lexa meng iya kan.


Di kantor saat memasuki lobby, karyawan yang tak tau Raina, mereka memghujat nya dan berbisik yang tidak-tidak, walau tak terdengar jelas tapi Bang Rafa Raina tetap bisa mendengar nya.


'Eh? Liat deh wanita yang di gandeng Pak Rafa, siapa tuh?.'


'*Simpanan nya kali.'


'Huts! Kalian kalo ngomong di jaga, Pak Rafa aja ngga pernah punya pacara gimana mau punya simpanan*!.'


Bang Rafa yang jengkel dia pun berhenti dan tanpa menatap para karyawan, dia menegur dengan suara dingin bin datar nya.


"Apa kalian di sini hanya untuk bergosip? Kerja kan tugas masing-masing, jangan kebanyakan bergosip atau akibat nya fatal." Tegas Bang Rafa berucap.


Senyap!. Kata itu lah yang cocok mewakili saat sekarang, suara bisik-bisik sudah hilang dan sekarang hanya keheningan yang tercipta.


Bang Rafa menggandeng Raina msuk menuju lift khusus milik presdir.


Setelah sampai di ruangan Bang Rafa.


Terlihat jelas oleh Raina bahwa sang suami sedang bad mood parah gara-gara karyawan bergosip di lobby tadi.

__ADS_1


"Udah lah Yang, mereka kan emang ngga tau kebenaran nya, maklumi aja." Ujar Raian menenang kan.


"Kalo ngga di peringatin kaya gitu, bisa-bisa mereka nglunjak, aku ngga suka kalo mereka bergosip, kaya ngga ada kerja an nya aja, mereka di sini di gaji kan buat kerja bukan nge gosip, kalo bergosip mending-." Ucapan Bang Rafa tak dia lanjut kan karena Raina membungkam bibir nya lewat ciuman singkat.


"Udah?." Tanya Raina.


"Kamu mau goda in aku di sini? Hm?." Tanya balik Bang Rafa.


Dia bergerak cepat memeluk Raina yang ingin menghindari nya.


"Aku ngga goda kamu, cuma mau berhenti in kamu ngomong aja, kepanjangan tau keluhan kamu, cerewet nya udah ngalain Mak-mak." Kata Raina.


Tanpa mejawab perkataan istri nya ini, Bang Rafa tiba-tiba menggendong Raina dan mambawa nya masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Kyaa! Yang?! Turunin, entar aku jatuh loh." Peringat Raina.


"Emang kamu seberat apa sampai aku ngga kuat gendong kamu? Udah percaya sama aku, ngga bakal jatuh in syaa allah." Yakin Bang Rafa.


Raina pasrah, dan malah mengalung kan tangan nya ke leher suami tercinta nya ini.


Bang Rafa membawa masuk Raina ke tempat istirahat nya ternyata, di sana tersedia ranjang berukuran berukuran King Size.


Raina di letak kan di tengah ranjang dengan sangat hati-hati.


"Aku pikir ini kamar mandi tadi." Cetus Raina, mata nya berkeliling meneliti setiap sudut ruangan.


"Kamu dulu sebelum nikah sama aku, sering nginep sini kah?." Tanya Raina, tapi tak mendapat jawaban dari Bang Rafa.


Merasa tak mendapat jawaban, Raina menoleh kearah sang suami dan terkejut.


"Ya... Yang?." Gagap Raina berucap.


Posisi Bang Rafa sedang ada di atas Raina dan sedang menatap nya dengan pandangan... penuh gairah? Tapi Raina buru-buru memaling kan wajah nya.


"Aku mau kamu." Suara manja yang serak milik Bang Rafa terdengar.


"Kita lakuin di rumah aja ok, jangan di sini, aku ngga nyaman." Bujuk Raina memelas.


"Uhhhmm... iya deh iya, tapi kalo cium-cium sama main 'ini' boleh yah?." Pinta Bang Rafa sambil menujuk benda yang ada di dada Raina.


"Ngga lebih!." Tegas Raina.


"He em, janji." Bak anak kecil yang sedang membujuk Ibu nya, tingkah Bang Rafa amat sangat menggemas kan di mata Raina.


Raina pun membuka kancing baju nya dan menuruti permintaan Bang Rafa.


"Engh... jangan di gigit Yang sakit tau." Ketus Raina berucap.


"Maaf, habis nya aku gemes banget." Ucap Bang Rafa dengan cengiran milik nya.


Kembali Bang Rafa melanjut kan aktifitas ke suka an nya, Raina merespon dengan elusan lembut pada kepala dan rambut Bang Rafa.


"Kalo Baby kita udah lahir, kamu jangan iri yah sama dia." Celutuk Raina tiba-tiba.


"In syaa allah" Singkat Bang Rafa menjawab.


"Lah? Masa kamu mau rebutan sama anak sendiri? Hahaha... ngga bayangin aku gimana nanti nya." Tawa Raina pelan.


"Untuk sementara, masa-masa kamu kasih ASI aku akan ngalah sama si Baby, tapi kalo udah saat nya si Baby lepas ASI, ini bakal jadi milik aku lagi." Sifat Arogan Bang Rafa muncul.


"Huuu... iya deh iya, terserah kamu, aku iya aja." Pasrah Raina.


"Dasar bayi besar." Gumam Raina lirih, untung saja Bang Rafa tak mendengar karena dia fokus dengan kegiatan nya.


Pukul 10.00.


Bang Rafa dan Raina meluncur ke rumah sakit, untuk memperisa kan Raina.


Sampai di ruangan Dokter Lexa.


"Wah wah! Kamarin yang ke sini 6 serangkai, pake acara petak umpet lagi, sekarang Abang nya yang kemari, ikut main petak umpet kah sama yang satu nya lagi?." Tanya dokter Lexa menggoda Bang Rafa Raina, yang di maksud satu nya lagi adalah Bang Idan Tika.


"Hehehe.... kita ngga main petak umpet kok Dok." Kata Bang Rafa terkekeh pelan.


"Ini kenapa bisa barengan gini hamil nya? Nanti kalo lahiran massal lagi." Kelakar Dokter Lexa setelah melihat test pack hasil urine Raina.


"Jangka nya pasti beda kan Dok? Masa sama sih?." Tanya Bang Rafa.


"Zarine, Akifa, Alfi cuma beda beberapa minggu saja." Jelas Dokter Lexa.


"Jarak mereka bertiga pasti jauh sama istri saya dok." Yakin Bang Rafa.


"Semoga saja yah." Ujar dokter.


"Suster, tolong siap kan alat USG." Minta Dokter Lexa pada asisten yang berdiri di sebelah nya.


"Ayo Nona Raina, silah kan berbaring di ranjang itu, Bang Rafa tolong bantu in istri nya naik yah." Intruksi Dokter.


"Baik dok." Jawab Bang Rafa.


Dia pun menuntun Raina ke arah ranjang dan membantu nya naik ke atas nya.


"Di golongan junior yang nikah, tinggak siapa yang belum ada isi perut istri nya?." Tanya Dokter Lexa.


"Alhamdulillah udah isi semua Dok, Bang Idan sama Tika istri nya, ngga bisa dateng ke sini karena si Tika nya sedang ujian akhir sekolah." Terang Bang Rafa.


"Wah! Alhamdulillah... tambah rame nih rumah kalo ada banyak Baby-baby." Dokter Lexa bahagia.


"Hmmm... dokter bener, yang paling bahagia pasti Bunda, beliau kesepian di rumah pas Zarine Rafka sekolah, butuh temen." Kata Bang Rafa, dia teringat almarhum Ayah nya jika seperti ini.


"Ok mari kita mulai pemeriksa an nya." Dokter Lexa mengalih kan pembicaraan agar Bang Rafa tak merasa kan kesedihan lagi.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys๐Ÿ˜.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf kalo garing๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf typo di mana-mana๐Ÿ™๐Ÿ˜ข.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan๐Ÿ˜ข.


Maaf gantung cerita nya๐Ÿ˜‚.


Di lanjut besok ya readers๐Ÿ˜‚.


Jangan marah karena di gantung yak guys๐Ÿ˜‚.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya๐Ÿ˜Š.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa๐Ÿ˜.


__ADS_2