
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Papa tau kau membawa seorang gadis kecil di dalam rumah bahkan dia masuk ke kamar mu, iya kan? Papa saja tidak pernah kau biar kan masuk, malah-malah si Dimas yang sering keluar masuk kamar mu." Ucap Papa Haris mengutara kan kecemburuan nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Wah! Apa anda sedang cemburu pada calon menantu anda sendiri Tuan Andrean Candra?." Ejek Haris memandang Papa nya dengan senyum miring nya.
"Yah bisa di kata kan seperti itu." Jawab Papa Haris dengan nada suara merendah, beliau tidak malu mengakui bahwa ia cemburu pada calon anak menantu nya.
Papa Haris memang licik dan picik pikiran nya tapi jika bersama anak nya, beliau juga punya sisi suka bercanda.
Asisten pribadi Haris yang sedari tadi mendengar kan percakapan 2 pria berbeda usia itu hanya menatap ke dua nya tanpa banyak kata.
"Papa tau? Gara-gara kelakuan Papa yang mengirim penculik itu aku sudah lama tak mendengar suara Cindi, dia merajuk pada ku, entah karena hanya ingin menjahili ku atau memang dia merajuk tak percaya dengan diri ku, ini semua karena Papa! Aku minta pertanggung jawaban dari Papa!." Seru Haris jengkel sambil menampil kan wajah penuh amarah.
"Hahaha... itu masalah mu urus saja sendiri aku tidak mau ikut campur." Kata Papa Haris yang semakin membuat Haris jengkel.
"Sudah lah, Dimas? Siap kerja segala nya! Aku mau pu-." Ucapan Haris terpotong karena selaan dari sang Papa.
"Jangan pulang dulu, nanti malam saja kau pulang, aku punya rencana yang dapat membuat gadis kecil mu itu memaaf kan mu." Ucap Papa Haris menyeringai penuh misteri.
"Apa? Aku tidak akan melakukan apa-apa jika rencana yang Papa susun bertele-tele." Kata Haris dengan nada suara yang tegas.
"Aku tidak akan merencana kan hal-hal yang kau pikir kan, kau cukup pulang malam saja, sekitar pukul 11 malam nanti." Ucap Papa Haris sambil menatap jam yang menempel di dinding ruang santai ini.
"Ya sudah lah, aku juga ingin membeli dia sesuatu, aku beli kan di sini saja." Tutur Haris menuruti rencana Papa nya.
Adzan dzuhur berkumandang merdu di seluruh masjid di kota Pasuruan ini. Papa Andre, Haris, dan asisten Dimas pergi masuk ke dalam kamar masing-masing.
Di dalam kamar, Haris hendak menelepon Cindi tapi ponsel Haris keburu di rampas oleh sang Papa.
"Papa?! Sungguh anda sangat tidak sopan masuk ke dalam kamar saya tanpa ijin terlebih dahulu." Kata Haris tegas.
"Ck! Kelamaan kalau Papa harus ketuk, Papa hanya mau memberi tahu mu, jangan hubungi gadis kecil mu dulu." Kata Papa Haris menatap sang anak serius.
"Kenapa?." Tanya Haris dengan polos nya.
"Biar kan dia merasa kan rindu pada mu, Papa tau, yang selalu mengutara kan perasaan hanya kau kan? Dia jarang melakukan nya, sekarang gantian, dia yang harus mengutara kan perasaan nya." Ucap Papa Haris serius.
"Tapi aku sangat merindu kan nya Pa." Kata Haris lesu.
"Percuma juga kau menelpon nya, dia tak kan mau berbicara." Haris menghembus kan nafas lelah nya kemudian dia mengangguk kan kepala meng iya kan perkataan Papa nya.
"Sudah tahan dulu rindu mu itu, hanya sebentar saja setelah itu kau bebas hendak memeluk gadis kecil mu itu." Kata Papa Haris sambil berjalan meninggal kan kamar Haris sambil membawa ponsel anak nya.
"Pa?! Kembali kan ponsel ku!!." Pekik Haris keras.
"Nanti saat kau akan pulang Papa akan mengembali kan nya!!!." Papa Haris ikut-ikutan berteriak saat menjawab perkataan Haris.
Di Jakarta rumah Haris, ba'da dzuhur.
Seorang gadis tengah duduk di ruang makan sambil celinguk kan mencari keberadaan seseorang, siapa lagi yang di tunggu gadis itu jika bukan Haris?.
Gadis itu menghela nafas kecewa saat yang di tunggu tak muncul-muncul.
"Huhhh... ." Helaan nafas itu sangat jelas terdengar oleh pelayan yang berseliweran di ruang makan ini untuk melayani Nona Muda mereka makan.
Cindi, gadis yang tengah menunggu ke datangan Haris itu memandang sepiring nasi lengkap dengan lauk nya dengan tatapan malas.
Bibir Cindi melengkung ke bawah tanda bahwa sekarang dia sedang sedih dan kehilangan mood untuk makan.
'Apa dia marah dan lelah menghadapi sikap kekanak-kanak kan ku? Di mana dia sekarang? Apa sedang bersama dengan wanita yang lebih dewasa dan cantik di luaran sana?.' Batin Cindi bertanya-tanya dengan berbagai pertanyaan negatif.
"Aku tidak mau makan, terima kasih atas pelayanan dan perhatian kalian semua." Ucap Cindi sambil mendorong se piring nasi lengkap dengan lauk nya yang ada di depan nya.
"Nona Muda Cindi? Jika tidak makan nanti perut anda sakit, jangan hanya karena Tuan Muda tidak ada di rumah Nona Muda tidak makan, sekarang pasti Tuan Muda sedang makan, anggap saja Nona Muda makan bersama tapi di tempat berbeda dengan Tuan Muda." Kepada pelayan dan para pelayan lain nya berusaha membujuk Cindi agar mau makan.
Para pelayan membujuk Cindi bukan hanya semata-mata agar tak di memarahi oleh Haris sang Tuan Muda, tapi para pelayan melakukan itu karena memang peduli pada Cindi, mereka suka dan sudah menganggap Cindi sebagai Nona Muda resmi di rumah Haris ini.
Walau pun Haris tidak mengatakan apa pun tentang Cindi, tapi para pelayan sudah merasa sayang dan nyaman bersama Nona Muda Cindi ini.
Setelah di bujuk rayu seperti itu oleh para pelayan, Cindi masih menggeleng-geleng kan kepala nya tanda tak mau makan.
Para pelayan melihat Cindi dengan tatapan sedih.
"Bi? Apa Haris sudah tidak mau bersama ku lagi? Apa dia sudah ada yang lain di luar sana?." Tanya Cindi dengan pikiran negatif nya.
"Tidak Nona Muda! Kami sangat yakin kalau Tuan Muda Haris tidak akan melakukan hal rendah seperti yang Nona Muda kata kan, Tuan Muda Haris adalah pria yang menjunjung tinggi-tinggi martabat dan harga diri wanita, Nona Muda harus percaya pada Tuan Muda Haris." Kata para pelayan membela Haris.
Bukan karena Haris majikan mereka jadi mereka membela nya, tapi memang Haris adalah pria yang sangat menghormati semua perempuan.
Cindi menghembus kan nafas panjang.
"Bagaimana bisa aku positif thinking jika sampai sekarang aku belum diketahui kabar dari nya, dia seperti hilang di telan belok setelah tadi berpamitan hendak pergi pada ku, apa kalian tau dia pergi ke mana?." Tanya Cindi penasaran. Dia berharap bisa mendapat kan jawaban dari para pelayan di depan nya ini.
Dengan menyesal para pelayan menggeleng-geleng kan kepala nya masing-masing tanda tidak tahu ke mana kepergian Haris.
"Apa Nona Muda sudah menelepon Tuan Muda atau asisten Dimas?." Tanya salah satu seorang pelayan.
"Huh! Aku? Nelpon duluan? Big no! Ge-er lagi dia nanti kalau aku merindu kan nya, tapi memang aku rindu sih, hahhhhh!! No! Aku ngga akan telepon dia engga! Garis keras yah engga!!." Seru Cindi masih menjunjung tinggi-tinggi gengsi nya.
Para pelayan menggeleng-geleng kan kepala pelan tak paham dengan kemauan sang Nona Muda.
__ADS_1
"Huaaa Haris!!." Pekik Angkasa keras menggemah di seluruh penjuru rumah.
"Stttt Nona Muda tenang yah nanti Tuan Muda Haris akan pulang kok." Cetus para pelayan menenang kan gadis manis nya Haris ini sambil menepuk pelan pundak dan punggung kecil milik Cindi.
Cindi tak menangis betul-betul dia hanya berteriak saja dalam rumah.
"Aku tidak akan makan sebelum Haris kembali ke rumah, aku ingin makan di suapi oleh Haris." Kata Cindi lirih tapi penuh dengan keseriusan di setiap kata yang di ucap kan oleh bibir nya.
Para pelayan menghela nafas panjang. Jika sudah begini mau dengan cara apa pun para pelayan tidak akan berhasil membujuk Cindi agar mau makan.
Mereka hanya bisa mengangguk kan kepala nya meng iya kan saja ucapan Cindi.
Cindi pun pergi dari ruang makan.
"Kalian beres kan semua ini, aku akan menghubungi Tuan Muda." Titah kepala pelayan pada bawahan nya ini.
Tanpa di perintah dua kali mereka melakukan apa yang di ucap kan oleh kepala pelayan itu.
Kepala pelayan berjalan menjauh dari meja makan menuju dapur.
Kepala pelayan itu mengutak atik ponsel nya kemudian menempel kan pada telinga kanan nya.
'Tut... tut... tut... .' Ponsel di seberang berstatus berdering.
Kemungkinan setelah menunggu beberapa detik ponsel Tuan Muda nya di angkat oleh seseorang.
"Halo Tuan Muda? Assalammu'allaikum." Salam kepala pelayan menyapa terlebih dahulu.
"Wa'allaikum sallam, ini bukan Tuan Muda kepala pelayan Zia!." Seru sesekali di sertai dengan suara bass nya.
Ziana adalah nama kepala pelayan Haris.
Yang menerima panggilan telepon dari kepala pelayan bukan Tuan Muda nya tapi Tuan Besar, Papa Haris, ponsel Haris masih di sita oleh sang Papa.
"Tuan Besar bisa bicara dengan Tuan Muda Haris?." Tanya kepala pelayan Zia dengan sopan.
"Apa ini menyangkut calon menantu ku?." Tanya Papa Haris kepo.
"Iya Tuan Besar, ini tentang Nona Muda Cindi." Jawab kepala pelayan Zia.
"Hmmm... baik lah aku panggil kan dulu Haris." Ucap Papa Haris di seberang sana.
"Iya Tuan Besar saya tunggu." Balas kepala pelayan Zia dengan sopan.
Tak berapa lama suara Haris muncul mengganti kan suara bass dari Tuan Besar.
"Ada apa kepala pelayan Zia? Cindi tidak ke napa-napa kan?." Tanya Haris cemas.
"Tenang saja Tuan Muda, Nona Muda Cindi in syaa Allah aman bersama kami semua di sini." Jawab kepala pelayan Zia membuat Haris sedikit tentang dia bisa bernafas lega.
"Lalu ada apa kepala pelayan Zia menelepon?." Tanya Haris di landa penasaran.
"Nona Muda Cindi menolak untuk makan siang Tuan Muda, Nona mengatakan tidak akan makan sebelum Tuan Muda Haris pulang ke rumah, Nona Muda mengatakan bahwa dia merindu kan anda, bahkan Nona Muda Cindi berpikiran negatif tentang anda tadi, mohon cepat pulang Tuan, Nona Muda harus makan karena sedari tadi pagi dia tidak makan." Beri tahu kepala pelayan Zia yang membuat Haris melebar kan mata nya.
"Bibi tidak sedang berbohong kan?." Tanya Haris tegas.
"Tidak Tuan, saya berkata jujur, Nona belum makan pagi tadi, kami sampai lelah membujuk Nona Muda agar mau makan, tapi semua bujuk kan kami hanya di anggap sebagai angin lalu." Kata kepala pelayan Zia detail.
"Aku-." Belum selesai Haris bicara Papa Haris sudah merebut ponsel di dalam genggam anak nya itu.
"Bersiap lah sana untuk pulang, Papa juga akan ikut kau pulang ke Jakarta." Perintah Papa Haris pada anak semata wayang nya ini.
"Tidak jadi melanjut kan rencana pulang malam Pa?." Tanya Haris senang.
"Tidak jadi Papa tidak mau anak gadis Papa sakit." Jawab Papa Haris acuh sambil berjalan meninggal kan Haris yang masih duduk di ruang santai.
"Kenapa Papa ikut pulang?!." Tanya Haris tajam.
"Buat apa lagi kalau bukan buat onar? Iya kan? Bukan nya itu lah tugas seseorang saat ingin membalas dendam?." Tanya Papa Haris dengan menerbit kan senyum licik nya.
"Saya tidak mengijin kan anda ikut pulang ke Jakarta, lebih baik habis kan masa tua anda di sini sambil merenung kan ajak kan perdamaian dari saya." Dengan nada suara yang tegas Haris berucap.
"Kau tega membiar kan lelaki tua ini sendiri di sini?." Tanya Papa Haris menatap sang anak dengan tatapan yang dalam dan penuh kesedihan di mata Papa Haris.
"Tidak usah menunjuk kan mata penuh kesedihan itu di depan mata ku." Ujar Haris menatap tajam pada Papa nya ini.
"Papa mu ini sudah tua Haris, Papa mau tinggal bersama kamu Haris." Kata Papa Haris menatap wajah tampan milik anak nya ini.
"Dulu kata nya mau menyendiri." Cibir Haris sambil mengangkat salah satu alis nya.
"Ya kan dulu Ris sekarang Papa mu yang sudah tua ini ingin bersama dengan anak nya." Papa Haris masih menatap wajah tampan milik Haris dengan tatapan intens.
"... ." Haris memperhati kan Papa nya dari atas hingga bawah lalu kembali lagi ke atas.
'Huuffhhh... .' Haris menghela nafas panjang dan kemudian... .
"Ya sudah ayo ikut Haris pulang ke Jakarta, tapi!! Kalau sampai Papa buat ulah jangan harap Haris akan diam saja!." Seru Haris memperingati sang Papa.
"Papa tidak bisa berjanji untuk hal-hal semacam itu, lagian kalau kamu mengusir Papa dari rumah kamu, ada Cindi yang akan membela Papa." Percaya diri Papa muncul ke permukaan.
Dan itu membuat Haris mendengus kesal mendengar nya.
Setelah pembicaraan itu 3 orang itu pergi dari rumah menuju bandara.
Sampai di bandara.
"Tuan Besar? Di mana asisten Riyadi?." Tanya asisten pribadi Haris sambil celinguk kan mencari keberadaan asisten Riyadi.
"Dia ada kepentingan, nanti bakal nyusul ke Jakarta." Jawab Papa Haris.
3 orang itu kemudian masuk ke dalam jet pribadi Haris dan meluncur kembali menuju Jakarta.
Di rumah Haris Jakarta.
Tepat nya di kamar Haris.
"Gua kangen Elu Harisss!!!." Teriak Cindi lantang memenuhi seluruh penjuru kamar.
"Awas aja Lu Haris kalo macem-macem di luaran sana, kalo sampe Lu sama cewek lain, habis Lu!." Ancam Cindi dengan menunjuk kan tatapan tajam.
Pukul 14.00 Papa Andre, Haris, dan asisten Dimas sampai di depan rumah.
Asisten Dimas membuka kan pintu untuk Tuan Muda nya dan Tuan Besar nya.
Para pelayan yang melihat pintu utama terbuka berlari terbirit-birit menghampiri siapa yang membuka pintu.
Sampai di dekat pintu para pelayan sudah hampir membuka suara untuk menyambut Tuan Besar serta Tuan Muda nya yang baru datang.
__ADS_1
Tapi baru saja membuka mulut, tangan kanan Haris sudah terangkat ke atas pertanda bahwa jangan ada yang bersuara.
Setelah menerima kode tersebut, tentu saja para pelayan langsung berhenti bicara.
"Di mana Cindi?." Tanya Haris sambil menatap satu per satu wajah pelayan nya.
"Nona Muda sedang ada di kamar anda Tuan." Jawab kepala pelayan Zia.
"Tolong panggil kan dia ke sini." Pinta Papa Haris pada salah satu pelayan.
Kepala pelayan Zia berjalan menuju lantai 2 rumah milik Haris ini.
Sampai di depan kamar Haris.
'Tok tok tok.' Kepala pelayan Zia mengetuk pintu kamar tiga kali kemudian tak berselang lama Cindi membuka pintu kamar dengan rambut berantakan dan wajah sembab.
"Ada apa kepala pelayan Zia?." Tanya Cindi lesu.
"Nona Muda? Anda di panggil oleh seseorang di bawah sana." Kata kepala pelayan Zia pada Cindi.
Cindi mengangguk kan kepala nya lalu berjalan masuk kembali ke dalam kamar.
Tak terlalu lama kemudian Cindi keluar kamar dengan penampilan rapi nya dan siap turun menemui seseorang yang kata nya sedang menunggu nya.
Di dalam hati Cindi dia bertanya-tanya heran.
'Siapa yah yang nyariin Gua? Gua temen aja kagak punya, kalau Haris yang dateng biasa nya dia langsung masuk ke kamar, jadi ini siapa yang mau nemuin Gua? Kaya orang penting aja Gua.' Ucap Cindi sambil terkekeh pelan.
Di anak tangga hendak turun Cindi bertanya pada kepala pelayan Zia.
"Bi Zia? Siapa yang ingin bertemu dengan saya?." Tanya Cindi penasaran.
"Seseorang Nona, nanti jika sudah sampai di ruang tamu anda akan bertemu dengan beliau." Kata kepala pelayan Zia sambil terus menuntun jalan Cindi yang berjalan tak memperhati kan jalan melain kan menatap ke arah kepala pelayan Zia.
Sampai di ruang tamu rumah Haris.
Cindi menatap Haris dengan tatapan yang sulit di baca, kemudian gadis itu berlari menuju ke arah Haris dan mendatar kan peluk kan nya pada tubuh kekar itu.
"Hiks! Maafin aku Bang Haris aku udah ngga marah lagi kok sama Lu, jangan tinggalin Gua, Gua takut sendirian, Gua ngga mau sendirian lagi, cuma beberapa jam doang Lu tinggalin Gua sendiri tanpa kabar, Gua nyadar kalo Gua kagak mau kehilanga Lu... hiks! Gua kagak mau jauh sama Lu, Gua sayang sama Lu Bang Haris, maafin tingkah kekanak kan Gua." Ucap Cindi dengan berderai air mata.
Haris tergagu mendengar penuturan panjang Cindi, pria itu sampai tak membalas peluk kan gadis nya.
Mata Haris menatap Papa Andre, Papa Andre tersenyum dan menyuruh Haris membalas peluk kan Cindi.
Dengan semangat 45 Haris membalas peluk kan Cindi, dia sampai mengangkat tubuh mungil Cindi sambil memutar-mutar kan nya sebentar sebelum kemudian Haris menurun kan tubuh gadis mungil nya itu.
"Kamu dari mana aja? Kamu marah banget yah sama aku sampai ngga telepon aku? Kamu pergi sama cewek-." Belum selesai Cindi berucap, Haris sudah memotong pembicaraan.
"Berhenti membahas hal-hal unfaedah, aku pergi ke Pasuruan nemuin Papa aku buat lurusin semua masalah di antara kita, biar kamu percaya kal-." Belum selesai Haris bersuara, Cindi sudah membekap bibir merah Haris sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
"Aku percaya sama kamu Bang, aku ngambek itu cuma jahilin kamu aja, maafin aku." Ucap Cindi sambil kembali memeluk erat tubuh kekar Haris, Cindi menelusup kan wajah nya ke dada bidang Haris sambil melingkar kan tangan nya ke leher Haris.
"Aduhhh kalian mesra-mesraan sampai lupa kalau di sini ada orang tua yang berdiri dengan tongkat di tangan nya, hei kalian berdua! Ayo peluk Kakek tua ini!." Pinta Papa Andre sambil merentang kan tangan nya meminta di peluk.
Haris dan Cindi melepas peluk kan meraka dan kemudian menoleh ke arah sumber suara yang menegur minta di peluk oleh mereka.
Cindi menatap pria paruh baya yang tengah berdiri di depan nya ini dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya 'siapa Bapak ini?.' Begitu dalam hati nya.
"Hai sayang, perkenal kan nama-." Belum selesai Papa Haris memperkenal kan diri nya pada Cindi, Haris sudah memotong pembicaraan nya.
"Cindi? Perkenal kan, pria tua di sebelah ku ini adalah Papa ku, Papa Andrean Candra, panggil saja dia si Tua Bangka." Ucap Haris ringan tanpa beban, dia mengucap kan kata-kata itu dengan mimik wajah flat tanpa ekspresi, sangat-sangat membuat Cindi jengkel.
Cindi pun memukul lengan Haris keras.
"Ashh... Baby? Kenapa di pukul? Aku hanya berkata jujur." Kata Haris sambil mengusap-usap lengan nya yang sedikit panas karena mendapat pukulan keras dari tangan mungil Cindi.
"Beliau ini Papa kamu, kalo manggil yang sopan dong!." Ketus Cindi pada pria di depan nya.
"Baru saja baik kan, eh bentrok lagi." Gumam Papa Andre lirih yang sayang nya masih bisa di dengar oleh Haris yang memiliki indra pendengaran yang tajam.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1