
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Sini in gitarnya, Raf gitarnya Gua pinjem." Shita meminta ijin dengan merebut benda di tangan Rendra itu.
Rafka hanya mwngangguk mengiyakan saja saat Shita meminta ijin.
Shita mengatur tempat nyaman untuk memegang gitar di tangannya.
"Emang Rendra bisa nyanyi juga?." Tanya Abdiel.
"Engga."
"Bisa!."
Rendra dan Shita kompak menjawab dengan bawaban yang berbeda.
Rendra memasang wajah kecut saat mendengar jawaban berbeda antara mulutnya dengan mulut Shita.
Shita menatap tajam Rendra saat mendengar jawaban Rendra.
"Ngga usah nyangkal, Gua akan bukti in kalo Gua bener." Kata Shita.
"Ini mau nyanyi debat dulu ya ceritanya." Celutuk Zarine.
"Hahaha, yaaa beginilah mereka." Jawab Panji.
"Mulai dek." Pinta Raina.
Shita memetik gitar dengan lihainya, nada lagu yang di mainkan Shita seperti tidak asing di telinga mereka.
Rendra menatap Shita saat mengetahui lagu apa ini.
Shita mengangguk kan kepalanya menyuruh Rendra mulai bernyanyi.
Dia menurut dan mulai menyanyikan tiap bait lagunya.
Sekali lagi semua orang menatap takjub pada Rendra yang suaranya tak kalah indah dari Shita.
Semua orang menikmati lagu yang Rendra nyanyikan.
Hingga sampai pada reff lagu, Shita ikut bernyanyi.
'Andaikan...
Waktu bisa kuputar kembali...
Ku ingin...
Dirimu tetap ada disini...
Melewati semua...
Cinta yang kita jalani...
Ku tak mampu...
Bila dirimu pergi...
Terdiam...
Ku tenggelam...
Menitis sepi malam
Ku sendiri...
Menanggung semua beban kau berikan...
Mengalir air mata membasahi pipi...
Ku tepiskan senua dengan ikhlas hati...
Ku ikhlaskan engkau pergi...
Dalam hatiku...
Pun sudah rela...
Jika nanti... kau kembali...
Pintu hatiku... selalu terbuka... .'
(Kurang lebih seperti itu lagunya, maaf kalo salah, jangan bully yak😂, Authornya ngga nulis dari awal liriknya, soalnya ngga hafal😂).
'Prok... prok... prok... .'
Semua orang bertepuk tangan dengan pelan mendengar suara duet antara Rendra dan Shita.
Suara mereka sangat cocok jika di duetkan.
Tapi di akhir lagu tadi Rendra tak ikut bernyanyi dan malah fokus menatap Shita yang menghayati setiap kata dalam lagunya.
Dan sikap Rendra tadi tak luput dari pandangan Rafka Zarine dan lainnya.
"Lo kenapa ngga ikut nyanyi tadi di akhir?." Tanya Shita setelah lagunya selesai dan dia meletak kan gitar yang di pegangnya ke tembok di sebelahnya.
"Ngga papa." Singkat Rendra.
"Kenapa tadi kamu pilih lagu itu Ta?." Tanya Zarine.
"Suka aja." Jawab Shita dengan tersenyum metapa Zarine.
"Suara kalian cocok banget kalo jadi penyanyi duo atau duet gitu, ngga mau cobak ke dunia tarik suara kah?, kalo mau Gua punya kenalan produser yang bisa bantu kalian." Kata Bang Rafa panjang lebar.
"Ngga usah deh Kak, makasih atas penawarannya, jadi penyanyi itu padet, manggung sana sini, kegiatan ini, kegiatan itu, ribet pokoknya, enakan kaya gini, bisa nyanyi sesuka hati buat diri sendiri, ngga diatur sama siapa-siapa, dan yang paling utama kalo aku jadi penyanyi, aku bakal jauh dari kalian semua." Panjang Shita menjelaskan.
"Bener kata Shita, aku juga di rumah ada Ibu yang ngga punya temen di rumah." Sambung Rendra.
"Bagus kalo pilihan kalian keluarga, tapi jangan sampai keluarga jadi penghalang mimpi." Nasihat Bang Idan.
"Engga lah Kak, Kak Raina juga ngga pernah ngelarang aku apapun pilihanku, selagi itu baik dan ngga merugikan orang lian, Kakak setuju dan ngedukung aku, tapi memang untuk jadi penyanyi, aku ngga juga ngga tertarik." Kata Shita.
Semua orang menagngguk kan kepala pertanda paham dengan penjelasan Shita.
Suasana berganti hening sesaat.
Lalu Bang Idan menanyakan kabar seseorang yang membuat Rendra mununjuk kan wajah datar penuh emosinya.
"Emmm, kalo boleh tau, kabar Abang kamu yang di... sana... gimana Dra?." Tanya Bang Idan yang menanyakan kabar Bang Anton.
"Ouh iya kabar dia gimana?." Timpal Shita.
"Baik, dia di sana udah mulai taubat." Jawab Rendra dengan datar dan tangan terkepal emosi.
Dia masih tidak bisa melupakan pukulan yang Shita dapatkan dari Abangnya yang baji**an itu.
Rendra sangat-sangat malas sebenarnya membahas perkara Bang Anton.
"Jangan pernah nyimpan dendam sama saudara sendiri Ren." Nasihat Shita.
"Maaf yaaa kalo ikut campur, tapi bener kata Shita, emang sulit memaafkan tapi jangan sampai ada dendam di antara saudara." Timpal Bang Rafa.
"Dia emang selalu cari perkara, ngga cuma sekali dia celakain orang-orang terdekat Gua, udah banya korbannya." Geram Rendra menjelaskan.
"Tapi katamu tadi dia udah mulai taubat, bagus dong, kita doakan setelah keluar dari dalam sana, dia istiqomah sama taubatnya dan ngga nglakuin hal konyol lagi kaya yang udah-udah." Kata Raina.
"Aamiin, Gua juga berharap saudara satu-satunya yang Gua punya sembuh dari penyakit hatinya itu." Kata Rendra dengan tersenyum menatap orang yang duduk di sana satu per satu.
"Gini nih yang namanya orang asing seperti saudara, dan saudara seperti orang asing, hehehe." Rendra berbicara dengan diakhiri kekehan.
"Ya Lo bener, awal pertemuan kita awal persaudaraan antara kita." Timpal Rafka.
Para muda-muda itu berbincang hingga pukul setengah 11 malam.
Mereka memutuskan tidur di sana dengan beralaskan karpet.
Tempat laki-laki dan perempuan dipisahkan.
Para perempuan tertidur dengan lelap, tapi para laki-laki tak bisa tidur dan memutuskan duduk sambil menatap perempuan yang mereka cintai, kecuali Andi dan Panji, mereka berdua belum ada pasangan😂.
"Kak Zaidan?, boleh Gua tanya sesuatu?." Kata Rendra dengan menatap Bang Idan.
"Apa an?, tanya aja kalo bisa jawab, pasti Gua jawab." Kata Bang Idan.
"Apa yanh buat Lo yakin dan memutuskan nikahin cewek Lo sekarang?." Tanya Rendra.
"Gua ngerasa Tika emang sosok yang Gua cari selama ini, pertama kali Gua ketemu dia, masa Gua dipanggil Om?, emang Gua setua itu yak?." Tanya Bang Idan.
"Hahaha, ya engga sih, umur Lo 22 tahun kan sekarang?." Tawa Rendra pelan diakhiri dengan pertanyaan.
"Yaaa umur Gua sama Bang Rafa 22 tahun berjalan." Ralat Bang Idan.
"Lo usianya berapa Dra?." Tanya Rafka.
"Gua, Andi, Panji, dan Raina seumuran, kita 20 tahun." Jawab Rendra.
"Kalo Shita itu seumuran kita kan?." Tanya Abdiel.
"He em." Singkat Rendra.
"Dia lulus sekolah usia berapa?." Tanya Abhi.
"Dia dulu waktu sekolah dasar usia 6 tahun terus waktu SMK nya lulus pas usia kalo ngga salah 18 tahun." Jelas Rendra.
"Muda banget yak." Celutuk Bang Rafa.
"Yaaa gitu deh, dia satu sekolah sama Gua, Andi, Panji, Raina, juga dia juara pertama dalam meraih piala saat di adakannya lomba akademik maupun nonakademik." Panjang Rendra.
"Wihhh hebat yak." Puji Bang Idan.
"Shita ikut gituan sebenernya biar bisa sama Rendra terus, kalo Shita ikut lomba, berarti Rendra juga lomba." Ujar Andi.
"Kalo Rendra ngga ada di sekolah, Shita juga ikut ngga ada di sekolah, intinya dimana ada Rendra di situ ada Shita." Timpal Panji.
"Bisa gitu yak, hahaha." Tawa semua para laki-laki.
"Lo dulu katanya musuhan sama dia, bener itu Dra?." Tanya Rafka.
"Bener, alasannya Gua dulu tiap hari jauh dari kata selamat." Kata Rendra penuh dengan teka teki.
__ADS_1
"Jauh dari kata selamat?." Beo Rafka, Abdiel, Abhi, Bang Rafa dan Bang Idan.
"Iyaaa, jauh banget dari kata itu." Sambung Rendra.
"Kok bisa?, kenapa?." Tanya Abhi.
"Gua dulu ketua geng motor, banyak musuhnya, bahkan Ibu aja sampe di incar." Ungkap Rendra soal identitasnya dulu.
"Terus?." Tanya Abdiel yang penasaran.
"Shita ngga tau, Gua jauhin dia supaya dia bisa selamat, tapi... ." Ucapan Rendra menggantung.
"Cara dia jauhin Shita keterlaluan, sampe sering bikin Shita nangis." Sambung Panji.
"Jadi Lo suka sama dia udah lama?." Tanya Rafka.
"Lama banget, sebelum dia pindah ke desa Gua udah tau dia dan suka sama dia." Jawab Rendra.
"Berenti jadi ketua geng kapan?." Tanya Abdiel.
"Pas kalian pertama dateng ke Lumajang." Kata Rendra jujur.
"Ouh yang paginya Andi lari jemput Shita itu kah?." Tebak Bang Idan.
"Iya, malem jam 10 nya aku bubarin geng, terua pagi buta kalo ngga salah jam 1 Bang Anton gebukin Gua lagi." Jelas Rendra.
"Emang geng motor Lo itu suka ribut-ribut gitu kah?." Tanya Bang Rafa.
"Engga, malah geng kita bela kebenaran, tapi banyak yang ngga suka, yaaa jadinya orang terdekat kita jadi korban." Jelas Andi.
"Shita pernah kena?." Tanya Bang Rafa lagi.
"Pernah sekali, tusukan pisau di lengannya, pas kelas 11 SMK saa magang kalo ngga salah." Terka Panji.
"Kalian ikut gituan pas kelas berapa?." Tanya Bang Idan.
"6 SD kita udah main gituan." Jawab Rendra.
"Ibu kalian tau?." Tanya Abdiel.
"Tau." Jawab Rendra, Andi, Panji bersamaan.
"Pernah ketangkep polisi saat melakukan aksi ngga?." Tanya Abhi.
"Polisi temen kita, tapi ngga semua polisi sih." Kata Rendra.
"Kalo sekolah dulu, kalian ber 3 bareng terus?." Tanya Rafka.
"Engga terusan sih, cuma ada beberapa kepentingan privasi yang membuat kita kadang ngga bareng." Panji berbicara.
"Kalo cewek?, Rendra udah ada Shita, kalian berdua?, masa ngga ada sih?." Abdiel membahas masalah percintaan Andi Panji kali ini.
"Kalo Gua asli ngga punya." Jawab cepat Panji.
"... ." Andi diam tak menjawab.
Pandangan dia lurus ke depan dengan tatapan kosong.
Rafka dan lainnya menatap Andi dengan pandangan bertanya-tanya.
"Lo ngga papa kan Ndi?." Tanya Abdiel.
"Gua ok." Singkat Andi.
Hening sesaat.
"Gua dulu juga punya kaya yang Rendra punya." Jujur Andi masih dengan pandangan kosongnya.
Semua diam mendengarkan.
"Namanya Mentari Admaja." Sebut Andi dengan tersenyum manis.
"Dia anak panti yang tiap pagi jualan kue di dekat taman kota." Cerita Andi.
Masih belum ada yang menyela.
Rendra dan Panji diam karena dia tau semua cerita tentang Mantari.
"Dia sekarang dimana?." Tanya Abdiel hati-hati.
Andi diam tak bersuara.
Lalu setelah 3 menit diam dan suasana hening, Andi kembali membuka mulut.
"Dia... dia udah di jemput... ." Gantung Andi.
"Di adopsi?." Tebak Abdiel.
"Dia di jemput sama Allah, tepat usianya 17 tahun." Sambung Andi lagi.
"Innalillah." Ucap Rafka dan lainnya kompak.
"Ya udahlah, ngga perlu di tangisin juga, yang ngga ada ya berarti udah hilang." Tegar Andi.
"Dia cinta pertama Lo kah?." Tanya Rafka.
"Yaaaaa, dia yang pertama." Jawab Andi.
"Pasti bakal ketemu gantinya, percaya deh." Hibur Rendra.
Bang Rafa dan Rendra menepuk pundak kanan dan kiri Andi untuk menyalurkan kekuatan.
Rendra tersenyum menganggukkan kepala.
"Udah berapa tahun dia ngga ada?." Tanya Rafka.
"Udah dari tahun 2019." Jawab Andi.
"Lo ngga mau cari pengganti?." Tanga Abhi.
"Belum nemu aja, nanti juga kalo ketemu bakal ada." Jawab Andi bijak.
Rafka, Abdiel, Abhi, Bang Rafa, dan Bang Idan mengagguk kan kepala paham atas ucapan Andi.
Yaaa, seperti itulah cinta, tidak semuanya berakhir indah dengan menikah, ada juga yang berakhir dengan menikahi kematian seperti Mentari nya Andi ini.
Tidak ada yang mengetahui apa takdir yang Allah rancangkan untuk kita.
Skenario-Nya tersembunyi, kita hanya bisa berencana, tapi jika Allah tak berkehendak, rencana itu tak kan berjalan.
Ok, berhenti bahas kehidupan yang rumit ini, mari kita back ke story.
"Ya udah ayo kita tidur, udah setengah satu dini hari ini." Kata Bang Rsfa.
Semua mengangguk kan kepala lalu mulai berbaring ikan asin yang di jemur, para laki-laki mulai terlelap tidur nyenyak.
Malam yang dingin ini, menambah kesan tersendiri setelah mendengar kisah Andi yang kehilangan sosok seseorang istimewa dalam hidupnya.
Mereka juga berdoa agar Andi mendapat se sosok perempuan yang terbaik sebagai pengganti dia mengikhlaskan Mentari.
-
-
-
Qiroah subuh berkumandang.
Semua muda-muda yang tidur di ruang santai beranjak bangun dan pindah ke kamar masing-masing dan bersiap untuk sholat subuh berjamaah.
Pukul 5 lebih 15 menit baik yang muda maupun yang tua sudah melaksanakan kewajiban.
Mereka semua kembali ke kamar bertujuan mengemas baju-baju yang akan di bawa 2 hari ke Puncak.
Pukul setengah 6 pagi para orang tua dan muda-muda berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Ini bukannya jam segini seharunya kita udah berngkat yaa?." Tanya Akifa.
"Nanti aja jam 7 pagi, lagi pula perjalanan dari sini ke puncak ngga nguras waktu banyak." Kata Papa Rafka.
"Kalian para muda-muda tidur jam berapa kemarin malam?." Tanya Papi Alfi.
"Jam... setengah 11 kalo ngga salah Pi." Jawab Alfi.
"Kalian yang laki-laki?." Tanya Mami Alfi.
"Setengah 1 pagi Mi." Jawab Abhi sang menantu dengan cengiran tanpa dosanya ke pada para orang tua.
"Untung bangun subuh, kalo telat udah kita tinggal kalian." Kata Papa Rafka.
"Papa jahat banget sih." Sungut Bang Idan.
"Udah ayo sarapan setelah itu kita berangkat." Lerai Mama Rafka.
7 keluarga senior, 3 keluarga senior, dan lainnya memakan sarapannya tanpa suara, hanya ada suara denting sendok, garpu yang bersentuhan dengan piring yang terdengar.
Selesai sarapan semua orang menyeret koper masing-masing dan keluar dari rumah Rafka Zarine.
Para laki-laki mengambil mobil di garasi.
Semua membawa mobil masing-masing dengan pasangannya.
Rendra, Panji, Andi, dan Shita menumpang di mobil Rafka Zarine.
Sedangkan para pengantin menaiki mobil berdua.
Pukul 9 pagi mereka sampai di villa.
Mobil langsung masuk ke garasi samping Villa dan semua orang dalam mobil keluar.
"Huuuuuu!!!." Seru Akifa sedikit berteriak.
"Aaaa!!!!." Abdiel mengikuti sang istri berteriak.
"Husss!!, jangan teriak-teriak." Delik Mama Akifa pada anak mantunya ini.
"Hehehe." Cengir keduanya tanpa dosa.
Sesuai namanya, villa ini memang terletak di puncak, di bawah mereka ini terdepat pemandangan indah yang sangat menyejuk kan mata, hembusan angin membuat mereka ingin merentangan tangan sambil berteriak sekeras mungkin, tapi tidak yang mereka bisa lakukan hanya merentangkan tangan tanpa berteriak.
"Kita jalan-jalan kuy." Ajak Akifa.
"Kemana?." Tanya Tika dan Zarine kompak.
"Muter-muter aja." Kata Akifa.
"Ayo kita ijin dulu." Ajak Abdiel.
Mereka menghampiri para orang tua yang duduk di teras villa.
__ADS_1
"Ma, Pa sem-." Belum selesai Abdiel berbicara.
"Iya pergi aja kalo mau jalan-jalan." Papa Rafka sudah menyela terlebih dahulu.
"Kaya diusir jatohnya yak." Celutuk Bang Idan.
'Hehehe.' Semua orang terkekeh mendengar celutukan Bang Idan itu.
"Bang Rafa sama Bang Idan, tolong di jagain pasukannya." Pesan Mama Rafka.
"Pasukan-pasukan, emang kita bebek apa Ma?." Sungut Rafka.
"Ayo pasukan berjajar yang rapi, kita akan segera meluncur pergi jalan-jalan." Kata Bang Rafa yang mengangkat ke dua tangannya persis menggiring bebek yang berkoar di tengah jalan.
"Hahahaha." Tawa para orang tua pecah melihat tingkah mereka semua.
"Assallammu'allaikum!." Salam para muda-muda kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.
3 keluarga junior dan lainnya berjalan menyusuri pemandangan yang indah nan menyejuk kan mata itu.
"Maa syaa allah, ini indah banget." Kagum Shita dengan menghirup udara di sana dalam-dalam dan mengehembuskannya pelan.
'Khemmmmm, huuuuffffffh.'
Semuanya mengikuti Shita menghirup udara sejuk di sana.
"Wuhhhh, asli ini mah, aaaaa!!!!!." Jerit Akifa sekuat tenaga.
"Kita main kemana lagi nih?." Tanga Alfi.
"Kita jalan-jalan aja dulu." Ajak Abhi.
Alfi dan lainnya mengangguk mneg iya kan ajakan Abhi.
Mereka berjalan bersama dan menyusuri perkebunan.
Para muda-muda bercanda di sepanjang jalan.
Lalu tiba-tiba Andi berhenti berjalan dan memandang terus ke arah utara.
Bang Rafa yang menyadari Andi berhenti dia ikut berhenti dan semuanya ikut berhenti.
"Ada apa sih Bang?." Tanya Rafka.
"Liat Andi." Tunjuk Bang Rafa ke arah Andi.
Semuanya menoleh pada objek yang di tunjuk Bang Rafa.
"Dia liatin apa?." Tanya Abdiel.
"Mentari Admaja." Kata Shita.
"Mana?!, jangan ngada-ngada kamu dek, dia udah lama ngga ada." Seru Raina dengan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang di sebutkan Shita.
Shita menunjuk ke arah utara.
Di sana terdapat sesosok gadis berusia kurang lebih 18 tahun, itu perkiraan dari Rafka Zarine dan lainnya.
"Ayo kita hampiri Andi." Ajak Panji.
Semuanya berlari mendekat ke arah Andi.
Rendra menepuk pundak sang sahabat agak kuat.
Andi menoleh kan wajahnya ke arah Rendra dan lainnya.
"Dra?, apa dia hidup lagi?." Tanya polos Andi dengan menunjuk gadis yang tadi di tatap Andi.
"Lo tau pemakamannya, bahkan Lo yang ikut nguburin, ngga mungkin dia hidup lagi." Jelas lembut Rendra.
"Ta... tapi, wa... wa... wajah dia mirip sama Mentari." Gagap Andi menjawab.
"Ayo kita samperin biar Lo ngga penasaran lagi." Ajak Abhi.
Andi mengagguk antusias.
"Jaga emosi Lo, jangan tiba-tiba Lo peluk dia, paham?." Tegas Rendra.
"Iya." Singkat Andi.
"Lo harus janji Ndi!." Tegas Shita.
"Iya Gua janji, Gua juga masih sadar, ngga bakal nglakuin hal bo**h itu." Jawab Andi.
Mereka mulai berjalan menghampiri gadis yang sedang memeyik teh di sana, memang villa yang mereka tempati ini dekat dengan perkebunan teh.
"Ini beneran Mentari." Gumam Andi yang masih di dnegar lainnya.
"Kontrol emosi Lo." Tegas Panji.
Sesampainya mereka di dekat gadis di itu.
"Ha... ha... hai." Sapa Andi gugup.
Gadis itu tak menyahut, dia masih fokus dengan tanaman teh di depannya.
"Lo pelan banget nyapanya, gagap lagi." Gemas Abdiel dengan berbicara pelan.
"Biar Gua aja." Putus Rendra ikut berbicara pelan.
"Engga!." Cegah Andi dengan cepat dan berbisik
"Makanya yang punya tenaga kalo manggil!." Delik Abhi.
"Iya-iya ini OTW." Jawab Andi.
Andi menarik nafas pelan dan menghembuskannya pelan.
"Ck, cepet Ndi." Gemas Raina.
"Iya sabar, Gua gugup Nyet." Umpat Andi.
'Huuuuu.' Helaan nafas Andi kembali terdengar
"Ehem, pe... pe... permisi." Sapa Andi.
Gadis itu menoleh.
"Iya?." Jawab sang gadis.
"Mentari." Panggil Andi.
Sang gadis mengernyitkan keningnya dalam.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?." Tanya Gadis itu.
"Emmm, kalo boleh tau, nama kamu siapa?." Tanya Shita to the point.
Menunggu Andi sadar dari lamunannya terlalu lama, dengan mulut blak-blakannya, Shita bertanya pada orang di hadapannya ini.
"Namanku Dini Kak, memangnya ada apa?, apa kalian carj seseorang?." Tanya Dini.
"Lo denger kan Ndi?, dia Dini, bukan Tari." Kata Shita tak menjawab pertanyaan Dini.
"Kita ngga mau cari siapa-siapa kok Din, hanya mau bertanya nama kamu aja." Jawab Zarine lembut dengn tersenyum manis.
"Emmm, apa kita pernah bertemu sebelumnya?." Tanya Dini.
"Engga." Jawab singkat Panji.
"Wajahmu sama dengan seseorang di masa lalu ku." Ungkap Andi.
Andi lalu mengeluarkan dompetnya dari dalam saku dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
Dia menunjuk kan foto seorang gadis tersenyum manis di sana.
"Dia bernama Mentari Admaja." Beri tahu Andi.
Dini terkejut dan dia menyentuh wajahnya sendiri.
"Sama." Kata Dini.
Suasanaa tampak hening sesaat.
Bukan hanya Dini saja yang terkejut, 3 keluarga junior, Bang Rafa, Bang Idan, dan Tika juga terkejut.
"Apa sebelumnya kamu punya kembaran?." Tanya Raina.
"Kembaran?, engga punya Kak." Jawab Dini.
Diam lagi.
"Sebaaiknya kita bicara di sana, jangan berdiri seperti ini." Usul Rafka dengan menunjuk pondok yang luas di tengah perkebunan ini.
Semuanya mengangguk kan kepala dan mulai berjalan ke arah pondok.
Mereka duduk di sana dengan kembali menatap foto di tangan Dini.
"Mirip banget, 1 orang di bagi 2." Kata Akifa.
"Tapi Ibu ku tidak pernah mengatakan aku punya kembaran, kerabatku, maupun nenek kakek ku pun tidak pernah membahas." Beri tahu Dini dengan detail.
Andi tersenyum menanggapi perkataan Dini.
"Udahlah, lagi pula banyak kan wajah yang mirip di dunia ini." Kata Andi dengan meminta kembali foto di tangan Dini.
"Emang Mentari itu kemana?." Tanya Dini.
"Di jemput Allah." Jawab Andi.
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.