Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 227


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Ayo kalo gitu Kak kita berangkat, terima kasih air nya." Ucap Wulan tulus mewakili lain nya.


"Sama-sama, kalian tunggu di sini bentar, Kakak mau kembali in ini ke dapur." Kak Rain kembali pamit ke dapur nya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Kak? Kami tunggu di teras rumah aja yah, sekalian mau lihat-lihat tanaman punya Kakak di depan, boleh kan?." Tanya Wulan meminta ijin.


"Boleh silah kan." Ramah Kak Rain menjawab.


Dengan semangat 45, Wulan, Kristal, dan Agnez berlari kecil keluar di iringi tawa kecil mereka.


Kak Rain dan para pria tampan terkekeh pelan melihat tingkah kekanak kan ke tiga gadis manis itu.


Para pria bahkan sampai menepuk jidat nya sedikit keras lalu bersama-sama membaca 'Astaghfirullah! Dasar ke kanak kan!.' Ya seperti itu lah.


2 menit berlalu, Kak Rain pun keluar rumah.


"Udah siap Kak?." Tanya Pamungkas.


"Iya udah, tinggak ngunci pintu nih aja sama gerbang itu." Jawab Kak Rain sambil tersenyum sangat manis.


Pamungkas sampai tak berkedip di beri senyuman manis itu.


Sampai tepuk kan di bahu nya menyadar kan kembali dari terpesona nya.


"Jaga sikap Lu kalo ngga mau Kak Rain illfeel ke Elo." Bisik Damar lirih di telinga kanan Pamungkas.


"Iya, thanks udah ngingetin, Lo emang sepupu terbaik lah." Ucap Pamungkas tulus.


Dan hanya di balas senyum miring oleh Damar.


Jika di pintu ada Pamungkas yang terpesona oleh Kak Rain, maka di luar gerbang ada Wulan, Kristal, dan Agnez yang tengah terpesona dengan se ekor kucing entah milik siapa.


"Hii lucu banget, boleh ndak sih kalo di bawa pulang?." Tanya Agnez gemas dengan si kucing, dia mengelus bawah dagu sang kucing sehingga hewan itu merem melek ke enak kan mungkin.


"Kaya nya ngga bisa deh, liat itu di leher nya, dia udah ada yang punya, kalo di bawa pulang bisa-bisa di grebek kita ama yang punya." Kata Wulan dengan bahasa hiperbola nya.


"Hahaha... iya, Agnez juga baru ingat, Ibu Agnez alergi bulu kucing, bisa ndak jajan satu minggu Agnez kalo bawa hewan berbulu satu ini." Panjang Agnez bercerita.


"Ibu Dewi alergi bulu kucing?." Tanya Kristal tak percaya.


"Iya Mbak, bukan cuma bulu kucing sih, tapi semua hewan berbulu." Jelas Agnez singkat.


Wulan dan Kristal yang mendengar penjelasan dari Agnez membalas hanya dengan membulat kan mulut nya berbentuk huruf O.


Para pria dan Kak Rain yang melihat 3 gadis itu bercengkrama bermain bersama kucing menghampiri mereka.


Posisi Wulan, Kristal, dan Agnez tengah jongkok agak jauh dari gerbang.


"Ini kok pada main kucing? Jadi ngga nge mall nya?." Tanya Damar mengaget kan 3 gadis itu.


"Iya iya jadi, kita main kan cuma buat hiburan, kucing nya juga lucu." Kata Kristal dengan berdiri dari posisi jongkok nya di ikuti Wulan.


Angkasa yang melihat gadis nya masih tetap berjongkok bersuara.


"Ya udah kalo gitu kita main kucing aja ngga usah ke mall, di sini aja sambil main ama si bulu lebat satu ini." Cetus Angkasa yang kontan saja membuat Agnez berdiri tegak meninggal kan kucing yang tengah mengeong di bawah kaki nya.


"Ayo kita berangkat Agnez udah siap." Ajak semangat gadis manis itu.


Tapi... .


'Meooonngg.' Suara kucing di bawah kaki Agnez terdengar menggemas kan dan itu membuat Agnez hendak berjongkok lagi untuk mengelus bawah dagu hewan itu.


Tapi saat sadar bahwa ia akan ke mall, buru -buru dia berlari ke dekat mobil agar tak terpancing akan ke imutan kucing itu lagi.


"Ayo!." Seru Agnez sambil melambai kan tangan nya.


Dengan kekehan pelan nya, semua orang berjalan ke arah mobil dan meninggal kan rumah juga kucing yang masih duduk di depan rumah Kak Rain dengan mata nya menatap mobil yang di bawa Pamungkas pergi.


Di dalam mobil perjalanan ke mall tentu saja sangat ramai, apa lagi ada nya Kak Rain, beuh tambah dah ramai nya.


"Kak Rain? Kakak kerja nya hari apa aja sih?." Tanya Wulan ingin tahu, di otak nya tengah merencana kan sesuatu hal maka nya dia bertanya.


"Kerja yah... gini, Kakak tuh di Restaurant ngga pernah libur, dan shift nya ngga nentu, kadang malam, kadang pagi, kadang juga sore, pokok nya ngga nentu deh, kalo di Cafe... sama sih, ngga nentu juga kapan manggung nya, kalo di panggil dadakan ya hadir, biasa nya Kakak kalo Cafe tuh jadwal nya sore, lagian di Cafe Kakak ngga lama, hanya 2-3 jam an lah." Jelas Kak Rain panjang lebar.


"Jadwal ndak nentu kaya gitu, ndak mumet Mbak ngatur nya? Kalo ada yang tubruk kan, maksud ku jadwal nya berangan gitu gimana? Ndak pusing emang nya?." Tanya Agnez dengan muka polos nya.


"Hahaha... sering banget Nez kaya gitu, jadwal Cafe sama jadwal Restaurant tabrak kan, ya harus ijin salah satu buat undur jam, aku kalo ngatur sih gitu, alhamdulillah nya Bos di Cafe mau pun di Restaurant tuh baik banget, Bos pemilik Resto kasih aku ke istimewaan, kata nya sebagai balas budi dulu waktu aku bantu in anak perempuan nya yang kecelakaan, Kakak donorin darah karena memang darah nya cocok." Cerita Kak Rain panjang.


"Wah, alhamdulillah kalo gitu Mbak, jadi bisa di atur jadwal nya." Agnez menanggapi dengan antusias.


"Pemilik Resto sama Cafe itu orang nya umur berapa?." Tanya Pamungkas dengan suara dingin nya.


'Kalau sampai yang punya itu laki-laki muda, udah aku pasti kan aku bakal minta Bunda sama Ayah buat pindahin dia ke Cafe ZAARA saja.' Batin Pamungkas bersuara.


Damar, Albhi, dan Angkasa mengetahui bahwa Pamungkas tangah di landa rasa cemburu.


"Pemilik Resto itu pria paruh baya, ada sekitar usia 45 an." Jelas Kak Rain.


"Kalo pemilik Cafe nya?." Tanya Pamungkas lagi masih dengan suara tajam.


"Usia nya 30 an, dia udah punya istri, dan beliau juga sangat mencintai nya, dulu istri nya pernah cemburu sama Kak Rain, tapi setelah di jelas kan panjang lebar, baru deh mereka baik kan." Jelas Kak Rain panjang.


Hembusan nafas lega Pamungkas terdengar sangat jelas, Kak Rain yang duduk di depan menemani Pamungkas yang tengah menyetir menatap heran.


"Kenapa? Ada apa?." Tanya Kak Rain sambil menaik kan sebelah alis nya ke atas.


"Ngga ada apa-apa." Singkat Pamungkas menjawab sambil tersenyum sangat manis.


"🎶Cemburu tanda cinta


Marah tanda nya sayang

__ADS_1


Kalau curiga


Itu kar'na ku takut kehilangan


Kalau dekat bertengkar


Kalau jauh ku rindu


Jadi serba salah


Buat ku dilema


Tapi aku s'lalu


Aishiteru... (maaf kalau salah dalam penulisan, harap maklum yah, ngirit kuota, ngga browsing😭).🎶"


Angkasa dan Damar kompak menyanyi lagu itu untuk menyindir Pamungkas.


Orang yang merasa di sindir oleh dua pria itu tentu saja menatap dengan pandangan mata yang tajam dan dingin dari kaca spion tengah dalam mobil.


Setelah lama menaiki mobil, kendaraan roda 4 milik Damar yang di supiri oleh Pamungkas sang sepupu sendiri, 8 orang itu telah sampai di mall terbesar di kota ini.


"Wuh udah lama banget Kakak ngga main ke sini, akhir nya bisa berkunjung juga, terima kasih yah udah ajakin main ke sini." Ucap Kak Rain tulus untuk 7 orang di depan nya ini.


"Sama-sama." Jawab mereka serempak di iringi dengan senyuman manis ala mereka.


"Dah! Ayo masuk mari kita habisin uang di dalam, hahaha... ." Ajak kan iblis dari siapa lagi itu kalo bukan dari Pamungkas.


Pemuda itu memang sifat nya tak bisa di tebak, tadi saja di mobil menjadi sosok yang dingin, cuek, dan datar.


Sekarang? Di luar? Dia bersikap ceria, penuh tawa, dan hangat, bahkan sangat hangat.


Sembari berjalan ke dalam mall mereka menyusun rencana ingin beli atau ingin ngapain dulu di mall.


"Kita main aja wes ndak usah belanja, Agnez ndak ada tujuan mau beli apa soal nya." Pendapat gadis Angkasa menggemah.


"Aku juga pilih main." Jawab Wulan di iringi senyum manis nya.


Albhi yang melihat itu ikut-ikutan tersenyum, lalu tangan nya terarah mengusap kepala Wulan yang terbungkus oleh hijab.


"Aku juga pilih main aja deh." Antusias Kristal berucap, bak anak kecil.


Damar terkekeh melihat nya, dia merangkul pundak Kristal mengerat kan pada pundak nya, hampir saja dia mencium pelipis gadis nya tapi buru-buru dia sadar.


Untung hanya Damar sendiri yang sadar akan tingkah laku nya, kalau sampai semua orang sadar, bisa malu dia.


"Jadi main semua nih?." Tanya Kak Rain memasti kan.


"Iya!." Semangat Wulan, Agnez, dan Kristal bersuara.


"Ayo kalo gitu." Ajak Angkasa sambil menarik tangan mungil milik gadis nya.


Dan lain nya juga mengikuti sambil berpasang-pasangan.


Di belakang sendiri ada Pamungkas dan Kak Rain berjalan bersama dengan ke heningan.


Sebelum pertanyaan dari Kak Rain memecah suasana hening di antara mereka.


"Mereka ber 6 depan kita nih pacaran kah?." Tanya Kak Rain dengan mendongak kan kepala nya menatap Pamungkas yang menjulang tinggi di samping nya.


Pamungkas itu memang tinggi, dan Kak Rain hanya sebatas bahu nya.


Pamungkas dan Kak Rain berhenti berjalan, mata mereka saling memandang begitu dalam se akan tenggelam di mata yang mereka lihat.


Sampai akhir nya Pamungkas sendiri yang memutus pandangan itu.


'Nih jantung ugal-ugalan banget sih! Tenang napa! Malu kalo di dengar Kak Rain, image dong!.' Seru Pamungkas dalam hati nya.


'Duh! Jantung ku kok kaya habis lari maraton gini sih?! Please dong kontrol! Kalo brondong di samping ini dengar kan malu! Berenti berdetak cepat!." Kata Kak Rain juga di dalan hati.


Karena kejadian tatap-tatapan itu, Kak Rain lupa dengan pertanyaan nya, dan malah sibuk mengondisi kan detak jantung nya.


Sedang kan Pamungkas yang ingat pertanyaan itu, memilih menjawab nya agar tak terjadi canggung di antara ke dua nya.


"6 orang di depan kita nih ngga ada hubungan Kak, Damar, Albhi, mau pun Angkasa ngga ada yang nyatain perasaan ke para cewek-cewek nya, tapi para cewek-cewek nya juga ngga nuntut penjelasan, dan lagi mungkin mereka pikir cinta itu di bukti kan lewat tindak kan." Panjang Pamungkas menjawab.


Kak Rain manggut-manggut paham.


Kemudian dia kembali berucap.


"Tapi kami para wanita biasa nya juga butuh status, kalo cuma bukti biasa nya masih kurang, Kak Rain yakin suatu hari nanti para ciwi-ciwi itu minta kejelasan status." Tutur Kak Rain yang memang ada benar nya.


"Bener juga sih, kalo di pikir memang iya, kesan nya kalo jalin hubungan ngga ada status atau kejelasan tuh kaya taman tanpa bunga gitu ngga sih? Sunyi sepi kosong dan di injak sesuka hati sama orang lain." Timpal Pamungkas serius.


Kak Rain yang memdengar penuturan serius dari pemuda di samping nya ini tersenyum kecil.


Lama berjalan 8 orang itu telah sampai di time zone dalam mall ini.


Para ciwi-ciwi bermain berbagai game di sana, di belakang mereka stay para cowok yang akan membayar semua koin yang mereka pakai.


Kak Rain yang awal nya mau membeli koin itu tidak di perboleh kan oleh Pamungkas.


Berondong tampan itu mengata kan "Buat apa cowok kerja kalo jalan sama cewek nya, si cewek yang bayar? Simpen aja uang nya buat keperluan lain nya." Kak Rain terbengong menatap Pamungkas.


Tapi sesaat kemudian ia sadar, perdebatan pun terjadi, dan di menang kan oleh Pamungkas.


Akhir nya pria itu yang membeli koin untuk Kak Rain main.


Dasar ribet! Mau beli koin buat main aja pakr ribut! (AuthorGesrek).


Iri? Bilang karyawa! (PamungkasGans).


😑 (AuthorGesrek).


Segela permainan di tima zone di jelajahi oleh 4 cewek cantik ini.


Para pria juga tak kenal lelah mengikuti mereka ke sana dan ke mari, mencoba game ini dan mancoba game itu.


Bagi mereka, lelah tak masalah asal senyum gadis mereka tak padam.


Bucin memang, tapi ya sudah lah, itu hak mereka.


Kita pindah haluan yuk, kita ke suatu tempat yang agak jauh dari mall tempat 8 serangkai main.


Yaitu di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.


Para tetuah itu sedang membicara kan kepergian beliau semua ke negara Jepang, biasa perjalanan bisnis.


"Para wanita ngga usah ikut deh, di sini aja, kita para cowok di sana juga tak lama." Ujar Abdiel.


"Emang harus banget berangkat gitu?." Tanya Akifa lesu.


Wanita paruh baya itu tak mau di tinggal kan sang suami.


"Kita semua di sana cuma 3 hari Yang, in syaa Allah kalo urusan nya cepat selesai kita akan pulang cepat juga, tapi kata asisten ku sih 3 hari tuh udah cukup buat ke sana." Abdiel memberi kan pengertian pada sang istri tercinta.


"Gini deh, kalo di tinggal cewek semua aku khawatir, kita ber dua akan tinggal, kalian pasti ingat kan sama yang nama nya si Andre, pemilik Candra grup, yang dulu menewas kan Ayah? Dia telah kembali setelah lama di penjara, kalo sampe dia ngapa-ngapain para perempuan dan anak-anak kita gimana? Jadi aku sama Bang Rafa akan tinggal di rumah." Papa Zaidan menjelas kan begitu panjang dan detail.


Nb: Lupa dengan Pak Andre dan Candra Grup? Baca di part Seventy-six kalo ngga salah😂.

__ADS_1


"Kenapa dulu tak di musnah kan saja tua bangka itu?! Geram aku mendengar nama nya." Dingin Alfi berucap.


"Almarhumah Bunda dulu sudah ikhlaa, jadi asisten pribadi Ayah cume menjeblos kan pria itu ke dalam penjara, tapi yang aku dengar bukan dia kali ini yang turun tangan buat masuk nya ke penjara, tapi anak nya yang akan kita lawan." Info kambali terlontar dari bibir Papa Zaidan.


"Kalo begitu kita harus ekstra menjaga anak-anak, apa lagi kita sudah dapat calon menantu, kalo Agnez ada Ayah dan Ibu yang akan melindungi nya, maka Rain juga harus dapat pengawalan ketat dari kita, calon menantu ku ngga boleh kenapa-napa." Tegas Bunda Raina berucap meminta perlindungan untuk Kak Rain pada sang suami.


"Itu pasti, aku bakal kasih Rain pengawalan ketat." Serius Ayah Rafa berucap.


"Berarti yang ke Jepang cuma aku, Abhi, sama Abdiel dong nih?." Tanya Daddy Rafka memasti kan.


"Iya, biar Aku sama Papa Zaidan ada di sini." Jawab cepat Ayah Rafa.


"Tapi tunggu deh, aku tepat di hari keberangkatan ada rapat ama perusahaan Wirayudha grup." Cetus Daddy Rafka mengingat-ingat jadwal kantor nya.


"Astaughfirullah iya! Aku juga ada!." Seru Papi Abhi yang baru saja mengingat jadwal kantor nya.


"Terus siapa dong yang bakal hadir?." Tanya Mommy Za.


"Ada Damar sama Albhi kan?." Papa Zaidan bertanya, lebih tepat nya mengingat kan bahwa Damar dan Albhi bisa mengurus nya.


"Tapi... ." Ucapan menggantung dari Daddy Rafka di potong cepat oleh Papa Zaidan.


"Mereka harus mulai belajar dan harus tau cara susah nya cari uang, kalo ngandelin kita aja gimana mereka mau sukses nanti!." Celutuk Daddy Rafka entang.


"Sekalian kita liat sisi lain dari 4 pria yang akan memegang kendali perusahaan, seganas apa sih Singa yang kita punya? Ganas banget? Atau cuma ganas?." Lanjut Daddy Rafka berucap dengan bibir nya menyungging kan senyum penuh ke misteriusan.


"Yah, kamu bener Raf, kita harus tau anak-anak kita sendiri." Sahut Papa Zaidan.


"Dari ke empat pria yang sedang kita bicara kan, aku takut dengan sifat yang di miliki... Albhi." Ucap Mami Alfi lirih.


"Yah dia paling menakut kan di banding Damar, Angkasa, dan Pamungkas." Jawab Mama Tika membenar kan ucapan Mami Alfi.


"Gimana ngga nakutin, gen darah nya sebagian ngalir darah ku, dari Ibu nya yang memiliki sifat tempramental." Lesu dan sedih terdapat jelas di suara Mami Alfi.


"Hei! Sifat itu di kamu udah ngga ada, bahkan seperti nya hilang ngga berbekas, jangan sedih lagi, Albhi mungkin akan punya sifat itu, tapi aku yakin tidak untuk gadis nya, tapi sifat itu di tuju kan pada para musuh nya yang mengganggu gadis nya dan keluarga nya, kamu harus percaya itu, kalo Albhi berani nyakitin si Wulan, aku sendiri yang bakal pisahin mereka, itu janji aku ke kamu Yang." Tegas, penuh ke yakinan, dan serius Abhi berucap.


"Pisahin?." Beo Mami Alfi, hati nya di landa kesedihan mendengar Albhi akan di pisah kan dari Wulan jika pria itu menyakiti nya.


"Aku rasa jangan ada kan acara perpisahan begitu, bisa gila nanti Albhi kalau di pisah kan dari Wulan." Mami Alfi bersuara.


"Kalo anak aku di sakitin ama anak kamu, aku sama Damar ngga akan diem aja Bhi, apa lagi kalo sampe Albhi berani main fisik! Udah aku pasti in dia ngga akan lagi bisa dan mampu menggerak kan ke dua tangan nya." Tegas Daddy Rafka berucap dengan pandangan mata nya tajam ke depan.


"Hmm aku tau." Jawab Papi Abhi singkat.


"Kita memang sahabat, tapi soal anak? Kita bukan lagi sahabat, tapi berperan sebagai seorang Ayah yang menyayangi darah daging nya." Kata Daddy Rafka lagi dengan menatap Papi Abhi tajam dan dingin.


"Udah ah jangan tegang-tegangan gini, ngeri tau aku liat nya!." Seru Mama Akifa berusaha mencair kan suasana yang mendadak menjadi mencekam itu.


"Tau nih kalian! Udah jangan kaya anak kecil gini! Kita doa kan saja 8 serangkai hidup bahagia, jalan kehidupan nya lancar, ujian dari Allah ngga terlalu berat dan mereka bisa melewati nya, dan yang paling penting, kita doa kan semua nya saling setia dengan pasangan nya, aamiin." Doa Mommy Za panjang.


"Aamiin ya Allah, kabul kan doa kami." Balas Mama Tika sedikit keras.


"Eh? Emang kapan sih keberangkatan kalian ke Jepang?." Tanya Mami Alfi ingin tau.


"Abhi ngga ngomong ke Elo kapan jadwal ke sana?." Tanya Papa Abdiel balik sambil menatap Abhi penuh maksud.


Mami Alfi membalas pertanyaan dari suami Mama Akifa itu hanya dengan gelengan kepala pelan di iringi tatapan polos nya.


Kemudian di lanjut menatap tajam sang suami.


"Ma... maaf Yang, aku lupa bilang, berangkat nya ke Jepang 2 minggu lagi, maaf banget aku lupa kasih tau." Dengan wajah memelas nya Papi Abhi memohon maaf.


"Wah wah payah Lu Bhi ngga ngasih tau." Papa Abdiel mengompori Mami Alfi agar lebih marah.


"Diem!." Seru Papi Abhi tajam dengan delik kan mata nya yang hampir lepas dari tempat nya.


"Maaf Yang, aku lupa." Ucap Abhi kembali memohon lengkap dengan wajah bal kucing kecil tak meminta makan.


Papa Abdiel yang melihat itu geli sendiri dan tertawa kecil sedikit terbahak.


"Dasar takut istri!." Cetus Papa Abdiel.


Tapi tiba-tiba setelah Papa Abdiel mengata kan itu, tangan Mama Akifa ada di telinga Papa Abdiel, tak lupa Mama Akifa menarik dan memutar daun telinga suami nya ini.


Dan... .


"Adehhh Ma! Lepas Ma sakit!!." Teriak Papa Abdiel sambil menepuk-nepuk tangan Mama Akifa agar lepas dari telinga nya.


"Sok-sok an ngejek Abhi takut istri! Kamu ngga takut emang nya? Ngga dapet 'jatah' baru tau nyahok entar!." Ancam Mama Akifa sambil menekan kata jatah.


"Iya Ma ampun Ma, ngga lagi-lagi deh, lagian kan aku ngga takut sama Mama, cuma Papa menghormati Mama biar di kasih 'itu' ngga di kasih juga ngga papa." Papa Abdiel berbicara dengan meringis-meringis kesakitan.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2