Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Fifty-four


__ADS_3

Sore hari pukul 15.30 siswa siswi SMA Merdeka pulang ke rumah masing-masing.


"Guys?, kuylah ngumpulin tugas dulu baru pulang." Ajak Akifa.


"Ayo." Jawab kompak Zarine dan Alfi.


"Tunggu!." Seru Rafka pada Akifa, Zarine, dan Alfi.


"Apa?." Tanya tiga cewek itu.


"Kalian tunggu di parkiran biar kita yang kumpulin tugasnya." Kata Rafka.


Zarine, Akifa, Alfi saling pandang lalu mengangguk.


Kertas soal mereka sudah di berikan pada 3 cowok itu.


Mereka berpisah menuju tujuan masing-masing.


Saat berjalan ke arah parkir, Akifa celingak cekinguk melihat sekitar.


"Nih sekolah tumben sepi bat jam segini?." Tanya Akifa heran.


"Ya mungkin mereka capek dan langsung pulang?." Tebak Zarine.


"Ya bisa jadi." Celutuk Alfi.


Dari arah gerbang depan SMA Merdeka seseorang datang dengan berlari dan sesaat setelah tiba di hadapan Zarine seseurang itu mencekik lehernya.


"Lo harus mati Ja**ng!!." Seru seseorang itu.


"Medusa!!, lepasin dasar gila." Umpat Alfi.


Dia dan Akifa berusaha melepaskan cekikan tangan Sari.


Zarine tersengal.


Dia menepuk tangan Sari yang mencekik lehernya.


"Sari!!!." Teriak Rafka dari jauh.


Kemudian dia berlari dan menghempaskan tangan Sari yang mencekik leher Zarine.


Sari terlempar tapi kemudian dia di tangkap seseorang sehingga dia tidak terjatuh.


"Uhuk... uhuk... ." Zarine terbatuk dan luruh ke tanah.


Alfi memberikan air pada Zarine.


"Maaf Za, maaf banget Raf." Ucapan maaf dari seseorang yang menangkap Sari tadi.


Pihak RS dan orang tua Sari ada di tempat.


"Lepasin Gua Roy!!!, dia harus mati!!, dia Jala** yang ngga tau malu!." Sari berontak di genggaman Roy.


Dokter Hamid datang kemudian menyuntik kan obat penenang pada Sari.


Setelah penyuntik kan obat itu.


Sari lunglai luruh ke tanah.


Roy mengangkat tubuh Sari yang lemas itu.


Zarine masih terbatuk-batuk karena ulah Sari.


Sari dibawa oleh ambulans untuk kembali ke RS.


Roy tertinggal di tempat.


Untung suasana sekolah sudah jarang orang jadi kejadian tadi tak ada yang melihatnya.


"Za Gua minta maaf sebesar-besarnya sama Lo, dia tadi tiba-tiba lari dari taman RS dan keluar RS, maaf banget atas kejadian ini." Ucap Roy tulus pad Zarine.


"Ngga... papa kok Kak Roy." Jawab Zarin terbata-bata karena masih belum normal sempurna nafasnya.


"Kalo gitu Gua pamit mau ke RS lagi, sekali lagi Gua minta maaf sama kalian semua terutama Lo Za, maaf atas kejadian ini." Setelah mengucapkan itu Roy pergi.


"Ayo pulang." Ajak Abhi yang diangguki lainnya.


Zarine yang ingin bangun dari duduknya di tanah, di cegah oleh Rafka.


Rafka memberikan kunci mobilnya pada Zarine.


"Nanti buka in pintu mobilnya, kamu aku gendong aja." Kata Rafka.


Zarine hanya pasrah dan menuruti ucapan Rafka sang suami.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil masing-masing kemudian mobil melaju meninggalkan gedung SMA Merdeka.


Sampai di rumah 3 keluarga junior itu langsung masuk ke dalam rumah masing-masing.


Rafka menggendong Zarine sampai kekamar mereka.


Dia membaringkan Zarine di ranjang denga pelan.


Kemudian Rafka ikut duduk di sebelah Zarine.


Rafka menatap Zarine dengan pandangan khawatir.

__ADS_1


Zarine tersenyum melihat tatapan sang suami.


"Aku ngga papa Raf." Kata Zarine.


"Ngga papa gimana?!, dia hampir bikin kamu... ." Rafka tak melanjutkan ucapannya dan memilih menunduk kan kepalanya.


"Yang?, dengerin aku, liat aku, aku ngga papa, aku sehat, dan aku baik-baik aja karena kamu tadi dateng di waktu yang tepat." Jelas Zarine.


Rafka memeluk Zarine.


"Kamu beneran udah baikan?." Tanya Rafka pada sang istri.


"Iya beneran, kamu datengnya juga diwaktu yang tepat." Jawab Zarine dengan tersenyum.


Rafka ikut tersenyum.


Dia menatap Zarine lekat dan kemudian mendekat ke arah wajah Zarine.


Rafka mengecup bibir kecil Zarine.


Cukup lama kecupan itu berubah menjadi ******* kecil.


Zarine diam tapi tak menolak, dia menikmati sang suami menciumnya, dia memejamkan matanya.


Karena tak ada balasan, Rafka menggigit pelan bibir bawah Zarine.


Zarine membuka mulutnya dan sedetik kemudian, Rafka langsung menelusupkan lidahnya ke mulut Zarine.


Rafka bermain di sana cukup lama.


Zarine pun sudah ikut membalas permainan lidah sang suami.


Rafka melepas hijab yang dikenakan Zarine secara perlahan.


Dia beralih bermain pada leher putih mulus Zarine.


Posisi Zarine yang sedang di tindih oleh Rafka membuatnya tidak bisa bergerak.


Zarine terlena dengan perbuatan dari sang suami.


"Yang?, boleh kah?." Rafka meminta persetujuan Zarine.


Zarine menatap dalam pada manik mata Rafka yang terbalut kabut gairah.


Zarine kemudian mengangguk dengan tersenyum malu.


"Ya aku mngijinkannya" Balas Zarine.


"Aku ngga bakal kasar, kamu tenang aja." Jawab Rafka dengan suara serak.


Rafka mulai mencium bibir Zarine lagi.


"Tenang ok, maaf buat kamu sakit." Kata Rafka dengan nada serak.


Mereka berdua melakukan kegiatan itu tak cuma sekali.


Rafka selalu merasa kurang dan kecanduan dengan Zarine.


Hari ini, mereka berdua sudah seutuhnya saling memiliki.


Mereka melepas segalanya atas rasa saling mencintai satu sama lain.


Pukul 5 sore mereka baru selesai melakukan kegiatannya.


Nafas keduanya tersengal dan tubuh mereka lelah bercucuran keringat.


Rafka ambruk di samping tubuh Zarine.


Dia memeluk Zarine.


Zarine menenggelamkan wajahnya kedada bidang nan polos milik Rafka.


Zarine malu mengingat segalanya tadi.


"Terima kasih, aku mencintaimu." Ucap Rafka dengan mengecup kening juga bibir Zarine.


"Kembali kasih, aku juga mencintai kamu." Balas Zarine dan kembali menenggelamkam wajahnya di dada Rafka.


Mereka berdua masih berpelukan di atas ranjang dan menutupi tubuh masing-masing dengan selimut tebal.


"Aku mau mandi, badanku lengket semua." Kata Zarine yang berusaha bangun dari posisi berbaringnya.


"Ya udah ayo kita-." Ucapan Rafka terpotong.


"Engga mau!." Tolak Zarine dengan muka memerah, dia tau apa kemauan sang suami.


"Buat mempersingkat waktu Yang, bentar lagi maghrib soalnya." Kata Rafka.


"Kamu mandi di kamar lainnya aja ya, aku mau mandi sendiri." Bujuk Zarine dengan memelas.


"Hahaha, ok deh kalo gitu." Setuju Rafka.


Zarine hendak beranjak berdiri.


Dia sudah menurunkan kakinya ke lantai.


"Sshh." Zarine meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Ayo aku bantu." Kata Rafka.


"Engga, aku bisa sendiri." Tolak Zarine.


Rafka masih ada di kamar melihat sang istri yang berusaha berdiri.


Zarine sudah berdiri dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Zarine ingin melangkah tapi belum melakukannya, bagian bawah punyanya terasa perih dan nyeri.


"Ashhh." Zarine kembali meringis.


Rafka yang melihat itu jadi gemas sendiri.


Dia berjalan menghampiri Zarine dan langsung membawa tubuh mungil Zarine ke dalam gendongannya.


"Maaf." Ucap Rafka.


"Buat apa?." Tanya Zarine.


"Karena udah bikin kamu sakit." Jawab Rafka.


Zarine tersenyum dan mencium pipi Rafka.


"Kalo udah berendam pasti membaik." Tenang Zarine.


Rafka membawa Zarine ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk sang istri berendam.


"Dah sana kamu keluar mandi di kamar lain." Usir Zarine.


"Yakin nih aku disuruh keluar." Goda Rafka.


"Uhhh, Rafka apa an sih." Balas Zarine dengan muka memerah malu.


"Hahaha, ok kalo gitu aku keluar, kalo udah kamu panggil aku aja, jan lama-lama berendamnya keburu telat nih kita sholat maghribnya." Pesan Rafka.


"Iya." Jawab singkat Zarine.


Rafka keluar kamar dan Zarine mulai mandi.


Rafka menatap ranjang saksi bisu kegiatan tadi dirinya dan sang istri.


Dia tersenyum bangga melihat noda darah di ranjang.


Rafka mengganti sprei dan meletakkan sprei kotor di keranjang baju kotor.


30 menit sudah Zarine ada di kamar mandi.


Dia kemudian keluar dengan sudah berpakaian lengkap.


Zarine berjalan dengan langkah agak tertatih.


"Yang mandi gih." Suruh Zarine pada Rafka sang suami.


"Lah?, kenapa kamu ngga manggil aku kalo udah mandinya?, aku bisa gendong kamu, liat jalan aja masih kaya robot gitu." Kata Rafka.


"Aku ngga papa Raf, udah sana kamu mandi setelah itu kita sholat maghrib." Suruh Zarine.


"Kamu udah ambil wudhu juga kah?." Tanya Rafka.


"Iya udah." Jawab Zarine.


Rafka kemudian beranjak ke kamar mandi.


15 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi juga sudah nenggunakan pakaian lengkap.


Kamar mandi dan ruang ganti baju menjadi satu, jadi tidak usah keluar kamar mandi untuk mengambil baju ganti.


Mereka melukakan kewajiban sebagai umat islam.


Selesai sholat mereka turun ke bawah untuk makan malam.


Zarine memasak makanan simple tapi mengenyangkan.


Mereka makan dengan lahap.


Setelah makan, mereka bersantai di kamar.


Pukul 9 malam mereka tidur karena kelelahan akibat kegiatan panas sore tadi.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2