Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus limapuluh tujuh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Nanti malam kita akan klarifikasi soal itu, kemarin kita udah minta siapin sama Asisten kita masing-masing, jadi malam ini kita tinggal berangkat untuk klarifikasi itu." Ujar Rafka menjelas kan panjang lebar.


Para tetuah mengangguk kan kepala paham dengan rencana yang di susun oleh Rafka suami dari Zarine ini.


"Lalu yang ke dua? Apa ada yang ingin di bicara in lagi?." Tanya Papa Abdiel.


"Ada, ini soal resep-." Ucapan Bang Idan terpotong oleh Rafka.


"Soal perusahaan Bang Idan di London." Sela Rafka cepat.


"Ada apa sama perusahaan kamu di sana Bang?." Tanya Papa Rafka khawatir.


Bang Idan melotot kan mata nya ke arah sang adik.


"Apa? Lo mau nyembunyi in dari mereka? Lama-lama juga bakal tau, jadi ngga guna buat di rahasiain, jadi mending di umbar aja sekalian biar ngga ada ribut lagi." Jelas Rafka yang memang benar ada nya menurut lainnya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Ada apa ini memang sih?." Tanya Mama Rafka.


"Kalian baik-baik aja kan Tika? Bang Zaidan?." Tanya Mama Tika.


"Alhamdulillah kita baik-baik aja Ma, bahkan sangat baik, ngga ada masalah di antara kita." Jawab Tika dengan menyungging kan senyum manis nya.


"Terus? Yang kalian sembunyi in dari kita itu apa?." Tanya Papa Tika.


Suasana tampak hening di ruang santai rumah Rafka Zarine ini.


"Bang Idan?." Panggil Papa Rafka pada anak sulung nya ini, beliau tidak sabaran ingin memdengar penjelasan dari Bang Idan.


"Perusahaan di London terancam bangkrut." Ungkap Bang Idan akhir nya yang membuat satu ruangan terkejut.


"Innalillahi." Seru para tetuah kompak.


"Kok bisa? Kenapa?." Tanya Papa Abdiel.


Bang Idan mencerita kan segela nya dari A sampai Z (sengaja ngga Author jabarin, karena Author ngga paham masalah nya, wkwkwkwkwk #AuthorGesrek).


"Terus rencana kalian gimana selanjut nya?." Tanya Papa Abhi.


"Bang Idan akan bawa Tika ke sana untuk beberapa tahun." Jawab Bang Idan jujur.


"Beberapa tahun? Ngga bisa kah kalo sampe perusahaan membaik?." Tawar Mama Tika dengan pandangan mata sedih.


"Maaf Ma ngga bisa, kenapa Bang Idan bilang beberapa tahun? Karena Bang Idan bukan hanya ingin memulih kan, tapi juga memasti kan sendiri semua nya baik-baik saja dan perusahaan stabil kalo perlu makin maju." Jelas Bang Idan panjang lebar.


"Tante jangan sedih dong, mereka ngga akan selamanya kok di sana." Hibur Akifa sambil mengelus kaki Mama Tika, yang memang posisi Akifa duduk di dekat kaki Mama Tika.


"Iya." Balas Mama Tika dengan memgelus pucuk kepala Akifa sambil menampilkan senyum manis nya.


"Kapan kalian berangkat ke London nya?." Tanya Mama Rafka.


"Rencana nya setelah Tika menerima Ijazah." Ujar Bang Idan menjelas kan.


"Setelah menerima Ijazah? Setelah resepsi aja deh, resepsi kita selenggara in di ballroom hotel nya Papa Tika sebelum ramadhan tiba, gimana setuju kan?." Papa Rafka menyampai kan pendapat nya.


Semua orang mempertimbang kan nya baik-baik.


Setelah lama berpikir.


"Kami setuju." Jawab Papa Tika dan Mama Tika.


"Kami juga." Papa Abdiel dan Mama Abdiel juga ikut.


"Kami juga setuju." Kompak Papa Abhi, Papa Akifa, dan Papi Alfi berucap.


"Bunda gimana?." Tanya Rafka.


"Setuju." Jawab Bunda dengan senyum manis nya.


"Ya udah sekarang kita tentu in tanggal dan untuk masalah baju pengantin, dekor, pelaminan, dan makanan nya serahin semua nya sama para Ibu-ibu ini deh." Ujar Papa Abdiel.


"Iya deh biar kita yang urus segala nya, ini ngomong-ngomong, resepsi nya jadi di ada in bareng langsung 5 pasang?." Tanya Mama Abdiel.


"Jadi lah, maka nya kita cari ballroom hotel yang luas, dan itu ada di hotel nya Papa nya Tika." Kata Papa Rafka.


"Oh ok deh, jadi? Tanggal berapa nih?." Tanya Mama Abhi.


"Ramadhan jatuh di tanggal berapa?." Tanya Mami Alfi.


"Ramadhan? Kalo ngga salah 13 Mei." Jawab Mama Tika.


"Kita ada in tanggal 11 Mei, sekarang kan tanggal 29 April, seminggu cukup lah untuk mempersiap kan segala nya." Jelas Mama Rafka.


"Ya nanti kita minta bantu an sama beberapa staf hotel juga, gimana?." Imbuh Mama Akifa.


"Kalo sudah di atur oleh Ibu negara kita cuma bisa nurut aja deh." Pasrah Papa Tika.


"Bener nih milih pasrah?." Tanga Mama Rafka sekali lagi.


"Ya kami ngikut aja." Kompak para pria yang tua-tua bersuara.


"Berarti kalian para pria tak boleh protes jika kita banyak pake uang kalian." Ujar Bunda menerang kan.


"Iya, kita ikut aja." Jawab Papi Abhi.


"Nanti kalian berangkat nya pas ramadhan aja, pasti Ijazah Tika udah keluar tuh, biasa nya jarak antara lulusan dan keluar nya Ijazah tuh ngga akan lama." Kata Mama Rafka.


"Iya Ma, kita ikut Mama aja deh." Cetus Bang Idan pasrah.


Perbincangan pun di lanjut kan dengan membahas berbagai hal.


Sampai... .


"Ouh iy ada satu hal lagi yang pengen kita kasih tau." Ujar Papa Rafka.


"Apa Pa?." Tanya Rafka penasaran.


"Tanggal 28 Mei tepat nya hari Sabtu, kami akan berangkat ke Jerman untuk bertemu dengan CEO perusahaan ternama di sana." Ucap Papa Rafka memberi tau.


"Siapa aja yang berangkat?." Tanya Bunda.


"Aku, Papa nya Abdiel, Akifa, Tika, Abhi, sama Papi nya Alfi." Jelas Papa Rafka menyebut kan.


Semua yang baru tau hanya mengangguk kan kepala paham.


Sedang Istri para tetuah itu sudah tau sejak awal memang.


Zarine, Akifa, Alfi, Tika, Kak Raina saling pandang dengan bibir terkatup diam tak bersuara.


Batin ke 5 ibu hamil itu berucap 'Kenapa perasaan ku kaya ada yang ganjel gini? Apa akan ada sesuatu? Semoaga aja semua nya cuma perasaan ku aja, lindungi kami semua ya Allah.' Batin mereka berucap sama meski tak merencanakannya.


Pandangan mata Papa Abdiel terarah kepada para bumil muda itu.

__ADS_1


"Kalian ber lima kenapa?." Tanya Papa Abdiel heran.


"Bisa ngga kalo ngga usah pergi Pa?." Tanya Akifa sang menantu.


"Kenapa?." Tanya Papa Akifa heran.


"Ya ngga usah pergi aja dulu, di pending, ngga bisa kah?." Tawar Zarine.


"Ngga bisa sayang, ini soal nya CEO nya jarang-jarang bisa di temu in, kalian pasti tau kan, beliau orang sibuk jadwal nya padet banget, satu kesempatan besar bisa ketemu sama beliau." Ujar Papa Rafka menjelas kan pada menantu nya ini.


5 ibu hamil itu hanya bisa diam pasrah sambil mengangguk kan kepala nya paham.


Saat asik berbincang tiba-tiba bel pintu rumah Rafka Zarine ada yang membunyi kan nya.


'Ting tong ting tong... .'


"Siapa nih yang bertamu pagi-pagi?." Tanya Mama Akifa.


"Biar Za aja yang buka." Ujar Zarine.


"Za? Ikut!." Seru Tika sambil tergopoh bangun dari duduk nya.


"Ayo!." Ajak Zarine.


"Ngga usah lari Tika!." Peringat Bang Idan.


Yang di nasihati hanya menampil kan senyum jenaka nya.


"Astaghfirullah, kalo di bilangin yah tuh anak." Jengkel Bang Idan.


"Sabar Bang." Ujar Papa Tika menghibur.


"Hahaha... iya Pa." Balas Bang Idan dengan tawa pelan nya.


Di depan pintu.


"Siapa yah kira-kira?." Tanya Tika.


"Sari sama Roy mungkin?." Tebak Zarine.


"Wah, semoga saja, biar aku aja deh yang buka." Tika berjalan di depan Zarine.


"Ets, aku aja yang buka, Kakak Ipar di belakang aja." Zarine mendahului Tika, dan terjadi lah drama perebutan membuka pintu.


(Dasar! Udah berenti woy, kalian tuh mau jadi Mama, kok tingkah masih kaya Baby aja!). AuthorGesrek.


(Apa an sih Thor? Biarin lah wlek). Tika.


(Iya, Author ngikut aja!). Zarine.


(Astaghfirullah-_-). AuthorGesrek.


Lalu pintu di buka oleh ke dua saudara ipar ini.


"Assallammu'allaikum Nona." Salam 5 orang pria seumuran (hanya beda beberapa tahun lebih tua) dengan Bang Rafa dan Bang Idan dengan kompak.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Tika dan Zarine kompak.


"Hancur harapan, aku kira tadi kalian Sari dan Roy." Tampak raut kekecewaan dari muka Tika dan Zarine.


"Maaf membuat anda kecewa Nona." Kata mereka ber 5 sopan dengan menunduk.


"Ok lah ngga papa." Ujar Tika dengan di iringi senyum manis nya.


"Ayo masuk, jangan ngobrol di depan pintu." Ajak Zarine pada 5 pria itu.


Mereka masuk kembali ke ruang santai rumah Rafka Zarine.


"Siapa yang dateng Yang?." Tanya Rafka pada sang istri setelah sampai di depan nya.


"Aku pikir tadi Roy sama Sari, ternyata eh ternyata-." Jawaban Zarine terpotong oleh suara Tika.


"Judi itu haram." Sahut Tika melawak.


"Hahahaha... ." Tawa semua orang terdengar.


5 Asisten yang berdiri di belakang sofa itu juga ikut tertawa tapi menahan nya dan metralisir dengan deheman.


"Eh, Bang Abang yang berdiri di belakang sofa itu kalo mau ketawa ya ketawa aja jangan di tahan, nanti keluar nya malah di bawah lagi." Peringat Akifa dengan sisa-sisa tawa nya.


"Kalian? Ada apa kemari?." Tanya Rafka.


"Kami ingin menyampai kan pada Tuan sekalian, kalau semua persiapan untuk jumpa pers klarifikasi soal semalam sudah siap." Balas Asisten nya Bang Rafa.


"Kenapa ngga telepon aja?." Tanya Abdiel dengan mengangkat sebelah alis nya tinggi.


"Ponsel Tuan tidak aktif semua." Suara Asisten nya Abdiel terdengar.


"Oh iya kita ngga ngidupin HP, hahahaha... maaf yah." Ucap Abdiel dengan tawa nya.


"Kenapa ke sini semua? Kenapa ngga satu aja?." Tanya Abhi datar.


"... ." Asisten Rafka juga lain nya diam tak menjawab.


'Iya yah, kenapa kita ke sini semua? Astaghfirullah, ini kenapa suasana nya jadi tegang?.' Batin para Asisten.


"Udah sih kalian, kaya polisi aja ngintrogasi detail begini, kalian berlima? Jumpa pers nya kapan bisa di mulai?." Tanya Papa Rafka yang menyelamat kan para Asisten itu.


"Jumpa pers nya bisa di laksanakan ba'da dzuhur Tuan besar." Jawab Asisten Rafka.


"Ini kalian butuh pendamping ngga?." Tanya Papa Rafka.


"Butuh dan itu jelas Pa, gini deh para tetuah laki-laki ikut jumpa pers." Pendapat Rafka.


"Ayo aja kalo Om sih Raf." Sahut Papa Abdiel.


"Kita juga mau ikut!." Seru Zarine.


"Hem, bener tuh, kita mau ikut." Timpal Akifa kemudian di angguki lain nya.


"Kalian di sini aja, ngga usah ikut, banyak kamera pasti di sana, duduk diam lihat di TV aja." Tegas Abdiel bersuara.


Jika Abdiel sudah mengeluar kan aura yang tegas seperti ini, Akifa hanya bisa diam tak bisa membantah dan hanya bisa mengangguk kan kepala patuh.


"Bang Raf? Bang Idan? Ngga sekalian kalian umumin status kalian di sana?." Tanya Mami Alfi.


2 pria dewasa itu saling pandang.


"Kalian ngga mau ngungkap status karena takut dan malu yah?." Tanya Tika dengan memicing kan mata nya tajam menatap 2 pria itu.


"Bener kah seperti itu?." Tanya Kak Raina dengan pandangan mata kekecewaan.


"Ish apa an sih kalian berdua, mikir nya ngga usah jauh-jauh ke sana, aku bukti in kalo argumen kalian salah, kita bakal publikasi kan status kita." Tegas Bang Idan berucap.


"Ngga usah jauh-jauh mikir nya, kebiasaan banget punya pikiran kaya gitu." Bang Rafa berucap dengan mencubit hidung Kak Raina yang tak mancung juga tak pesek itu.


"Ya kan siapa tau aja gitu." Ujar Kak Raina dengan mengelus hidung nya pelan.


"Kalian mending berangkat sekarang sekalian ke kantor jengukin ruangan kalian." Suruh Mami Alfi.


"Ini di usir nih kita cerita nya Mi?." Tanya Papi pada istri nya ini.


"Ya bisa di simpulin kaya gitu, udah sana." Usir Mami Alfi lagi.


"Astaghfirullah, kalo ada di usir-usir, kalo ngga ada di cari in, kok yah masih ada istri yang kaya gini." Gumam Papi Alfi pelan.


Meski pun berupa gumaman, tapi semua orang masih bisa dengar.


Zarine dan lain nya hanya terkekeh pelan mendengar nya sedang kan Mami Alfi langsung melotot kan mata nya tajam ke arah suami yang sudah memberi nya satu putri itu.


"Ayo kita pergi sekarang kalo gitu." Ajak Papa Rafka.


"Kota ikit yah Pa." Zarine masih menawar.


"Ngga usah Yang, kamu duduk diam di rumah aja, liat kita dari TV." Rafka tetap melarang.


"Kalian juga jangan lupa bawa bukti buku nikah sama lain nya." Ucap Papa Rafka memperingat kan anak-anak nya itu yang langsung di angguki oleh mereka.


"Ngga sekalian bawa pengacara?." Tanya Mama Akifa yang berniat bercanda.


"Ada kita juga bawa kok Ma." Ujar Abdiel menjawab.

__ADS_1


"What?!." Tanya para perempuan kompak.


"Padahal tadi Mama niat nya bercanda loh." Celutuk Mama Akifa lirih.


"Hahaha... ." Tawa se isi ruangan kompak.


"Ya udah sana berangkat." Usir Mami Alfi lagi.


"Astaghfirullah, iya Mi ini juga OTW." Balas Papi Alfi.


"Eh?! Tunggu dulu?!." Panggil Mami Alfi.


"Apa lagi? Belum juga sampe pintu depan udah teriak aja, kangen kah?." Tanya Papi Alfi nyleneh.


"Ngga kangen! Kalian siaran nya di TV channel apa?." Tanya Mami.


"Ouh kira in, pasti channel xxxx, iya kan?." Kata Papi Alfi yang di angguki benar oleh para Asisten.


"Ya udah makasih, udah sana cus berangkat." Ujar Mami.


"Assallammu'allaikum." Salam semua pria.


"Wa'allaikum sallam." Jawab para wanita.


Di lua rumah.


"Ini para Bapak-bapak bisa berangkat dulu deh ke kantor, kita mau ambil buku nikah nya dulu." Ujar Bang Idan mengintruksi.


"Iya deh, kami tunggu kalian di ruang rapat kantor nya Rafka." Cetus Papa Rafka.


"Siiap." Balas para pria muda-muda.


"Kalian para Asisten, dulu an aja dulu sana." Usir Abdiel yang di angguki mereka kompak.


Semua nya sudah pergi, hanya tinggal Rafka, Abdiel, Abhi, Bang Rafa, juga Bang Idan.


"Kita semobil seperti biasa, sekarang cepet ambil buku nikah kalian!." Perintah Rafka.


Dengan langkah lebar Abdiel, Abhi, Bang Rafa dan Bang Idan kembali ke rumah masing-masing untuk mengambil buku nikah itu.


Beberapa menit kemudian, semua nya kembali berkumpul dan masuk mobil Rafka.


Rafka menghidup kan mesin mobil dan menjalan kan nya meninggal kan perlataran rumah nya ini.


Di perjalanan.


"Kenapa yah cewek tuh pikiran nya negatif mulu?." Tanya Bang Rafa tiba-tiba.


"Soal kata-kata Kak Raina tadi?." Tebak Abdiel yang langsung mendapat angguk kan dari Abang kandung Zarine itu.


"Kalo menurut Gua, kadang mereka negatif thinking itu karena takut kehilangan, overthinking tuh ngga bisa di pisahin tau sama cewek, pasti paham lah kalian." Jelas Abdiel panjang.


"Lo kok paham bener sih Diel ama urusan cewek?." Tanya Bang Idan sambil terkekeh geli.


"Jelas aja lah paham, Akifa tuh sering banget kaya gitu ke Gua, Gua liat HP sambil senyum aja dia udah ngambek mikir yang engga-engga, udah kebal Gua ama yang nama nya gitu an." Kata Abdiel sombong.


Suasana mobil hening tak ada suara.


"Eh Boy's?." Panggil Abdiel serius.


"Apa?." Tanya mereka kompak.


"Perasaan Gua agak ngga enak tau pas para tetuah laki-laki bilang mereka mau ke Jerman." Ujar Abdiel mengingat kan hal tadi.


Saat ini mobil tengah berhenti karena lampu merah.


"Iya loh, Gua juga ngerasa in." Jawab Bang Idan.


"Tadi juga istri kita kaya cemas gitu pas denger beliau semua mau ke Jerman." Timpal Rafka menambahi.


"Semoga aja ngga ada apa-apa, masih lama juga kan, tanggal 28 Mei." Cetus Abhi datar, sebener nya hati nya juga sedang di landa cemas tapi dia berusaha menutupi nya.


"Jangan sampai Mama kita tau tentang pikiran kita ini." Dingin Abhi memperingat kan.


"Hem, bener kata Abhi, nanti pada kepikiran lagi, ngga baik buat kesehatan soal nya kalo banyak pikiran." Kata Bang Rafa.


Setelah beberapa menit perjalanan mobil Rafka sampai di tempat parkir perusahaan Rafka.


Mereka semua kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor.


Di Lobby.


Melihat Rafka dan lain nya masuk beberapa orang berbisik menggunjing 5 pria calon Ayah itu.


'Itu pasti Nona Zarine dan teman-teman nya hamil dulu an deh maka nya nikah nya di sembunyi in.' Kata salah satu karyawan di sana.


'Tapi kalo memang benar, kenapa ngga lahir-lahir anak nya?.' Salah satu karyawan bertanya.


Dan saat akan di jawab lagi, suara Rafka menyahut.


"Kalian saya gaji di sini untuk bekerja atau untuk bergosip?!." Dingin Rafka berucap.


Suasana lobby mendadak hening tak ada suara.


"Jangan bergosip! Kembali bekerja!." Tegas Rafka berucap.


Dan kontan saja para karyawan kembali ke pekerjaan nya masing-masing.


Sampai di ruang rapat kantor Rafka.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka juga lain nya.


"Wa'allaikum sallam." Jawab orang di dalam.


"Kenapa muka kamu muram gitu Raf?." Tanya Papa Rafka heran.


"Gara-gara karyawan nya Om." Balas Bang Rafa.


"Udah lah, toh tuduhan itu kan ngga bener." Papa Rafka menenang kan Rafka yang kini sudah duduk di sebelah nya.


"Ya tetep aja, Aku ngga suka." Dingin Rafka berucap.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2