Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 215


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Ouh orang Yogyakarta to." Beo semua Ibu-ibu.


"Agnez junior nya Angkasa kalo gitu?." Tanya basa basi Mama Tika lagi.


"Iya Ma, Agnez junior nya Mas Angkasa." Jawab Agnez dengan tersenyum manis.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Semua mengangguk kan kepala paham, setelah pembicaraan 2 wanita itu, kini giliran suara Pamungkas yang menanyai Kak Rain yang duduk tepat di samping Bunda nya.


Pamungkas, Angkasa, dan Damar duduk di karpet bulu menatap para wanita yang duduk di sofa.


"Kak Rain handphone nya sengaja di mati in yah?." Tanya Pamungkas.


"Memang kenapa?." Tanya Kak Rain heran.


Kak Rain belum tau jika Pamungkas adalah anak Bunda Raina.


"Aku telponin banyak kali ngga nyaut tuh." Jelas Pamungkas jujur.


Mendengar kejujuran dari berondong di depan nya ini, Kak Rain buru-buru mengecek ponsel yang ia letak kan di dalam tas gitar nya.


"Hehehe... maaf Pamungkas, HP nya aku mode silent, jadi ngga denger deh, maaf yah." Ucap Kak Rain tak enak hati.


Ke akraban 2 sejoli itu membuat Bunda Raina senang bukan kepalang.


'Kalo gini ngga usah jodoh-jodohin deh, tinggal lebih di dekat kan aja mereka habis itu nikah, hidup bahagia, punya anak banyak nemenin aku main.' Pikiran Bunda Raina kejauhan😂.


"Jangan kaya gitu lagi Kak." Tegas Pamungkas berucap memperingat kan Kak Rain.


Kak Rain melebar kan mata nya heran, tapi tak banyak bicara dia hanya mengangguk kan kepala meng iya kan peringatan yang di berikan oleh berondong ini.


'Nih berondong ada angin apa nasihatin aku pake bahasa tegas gitu? Nakutin banget, merinding bulu kuduk ku, hiii... .' Begitu lah batin Kak Rain di sertai gidik kan pelan.


Kristal tadi saat memasuki rumah Mommy Za juga terkejut saat melihat Kak Rain ada di sini, tapi dia memilih diam, menunggu penjelasan dari orang nya sendiri.


"Kalian udah saling kenal? Di mana? Kapan?." Tanya Bunda Raina menghilang kan suasana tegang yang di cipta kan oleh Pamungkas tadi.


"Kenal di Cafe Raibow Aunty, pas di hari kita pamit mau pulang lambat itu lohhh." Bukan Pamungkas tentu saja yang menjawab, tapi Wulan yang bercerita dengan sangat heboh.


"Ouh yang waktu itu kalian ngga bilang mau kemana itu kan?." Tanya Bunda Raina mengingat hari itu.


"Iya bener Bunda, hari itu." Jawab Kristal tak kalah heboh.


"Cerita nya udah kenal dulu nih." Goda Bunda Raina pada sang anak.


"Bunda apa an sih, udah ah." Pamungkas malu, dia melototi dua gadis yang mengungkap kebenaran itu, mereka malah hanya terkekeh pelan, lagian Pamungkas juga tidak serius marah nya.


"Aduh udah ah jangan tengang gini, kalian semua udah makan kan?." Tanya Mommy Zarine.


"Sudah Momm, kita makan siang sebelum sholat dzuhur tadi." Jelas Wulan singkat.


"Agnez? Kenapa diem aja? Ngomong dong sayang." Seru Mama Tika menegur gadis nya Angkasa.


Agnez yang mendapat perkataan seperti itu hanya cengengesan menampil kan deretan gigi putih dan bersih nya.


"Ma? Dia kalo belum kenal deket emang gitu, malu-malu tapi mau, kalo udah kenal malu-maluin." Cetus Angkasa yang membuat senua orang tertawa.


Sedang kan Agnez, dia melotot tajam pada Angkasa.


"Agnez? Mas Angkasa kalo di sekolah suka jailin kamu ngga sih?." Tanya Mama Tika.


"Mas Angkasa tuh orang nya nyebelin Ma, tukang maksa, orang ndak mau di paksa, ouh dan yang paling penting, Mas Angkasa tukang ngancem." Adu Agnez sejujur-jujur nya.


"Hahahaha... ." Tawa kembali terdengar walau tak seheboh awal.


"Kamu yang sabar yah sayang, Mamas mu memang gitu ngga bisa di rubah udah sifat nya, udah bawa an dari lahir." Cetus Mama Tika memberi semangat pada calon mantu nya.


"Ouh iya kita dari tadi ngomong sendiri aja, Agnez sama Kak Rain belum kenalan loh." Kata Mama Akifa.


"Ya Allah iya lupa, ayo dong kalian kenalan." Seru Bunda Raina.


Agnez dan Kak Rain saling melempar senyum canggung, kemudian karena tak ada pergerak kan dari ke dua nya, Mami Alfi memilih jalan alternatif nya.


"Agnez tau Kak Rain ini ngga waktu masih di Yogyakrta sana?." Tanya Mami Alfi.


"Hehehe... tau Tante, temen-temen sekelas Agnez suka bahas Kak Rain yang suara nya merdu banget." Cetus Agnez antusias saat mencerita kan Kak Rain.


"Merdu? Merusak Dunia kali." Kata Kak Rain merendah di akhiri kekehan pelan nya.


"Loh?! Ndak gitu Mbak, emamg iya kok, suara nya Mbak Rain merdu, aku aja suka dengerin, maka nya tadi agak ndak percaya ada Mbak Rain di sini" Mata Agnez malu-malu.


Yah, saat melihat Kak Rain duduk di sebelah Bunda Raina tadi Agnez sempat tak percaya bahwa itu dia, karena dia terlalu fokus dengan gugup nya bertemu Ibunda Mas Angkasa, jadi Kak Rain tak terlalu di hirau kan oleh Agnez.


"Wah berarti Kak Rain nih sampe luar Jakarta yah terkenal nya." Bangga Wulan.


"Hahaha... entah lah, aku juga ngga tau Wulan, sibuk cari uang aku soal nya, jadi ngga terlalu ngurusin gitu an, hehehe... ." Kekeh pelan Kak Rain.


"Agnez dulu sekolah di mana waktu di Yogya sana? Di daerah mana nya sih rumah nya Agnez kalo di sana?." Tanya beruntun Ibunda Damar, yaitu Mommy Za.


"Agnez tinggal di Yogyakarta, Malioboro nya Te, sekolah di salah satu SMAN di sana, tapi cuma beberapa minggu terus pindah ke sini deh." Jelas Agnez panjang.


"Pindah ke sini gara-gara apa sih Nez kalo boleh tau?." Tanya Mami Alfi.


"Faktor pertama Agnez ndak dapat temen di sana Te, terus faktor ke dua nya ikut Ibu sama Ayah." Jelas Agnez detail.


"Ngga dapet temen maksud nya?." Tanya Mama Tika yang kurang paham.


Agnez hanya cengengesan seperti tak mau menjawab.

__ADS_1


"Maksud nya kamu di jauhi temen gitu?." Tebak Mommy Za blak-blak an.


"Hehehe... ya kaya gitu deh." Kata Agnez pelan di barengi garu-garu leher yang tak gatal.


"Alasan nya apa sampe di jauhi temen gitu?." Tanya Mami Alfi.


"Agnez juga ndak tau pasti nya Te, mereka kalo Agnez mendekat pengen ikut ngobrol mereka langsung bubarin diri, kalo ada mau nya aja Agnez di butuhin." Cerita Agnez panjang, tersirat kesedihan di akhir kata-kata nya saat dia bicara tadi.


"Ngga papa Nez, udah jangan di pikirin lagi, di sana kamu ngga punya temen, tapi di sini kan udah banyak, iya kan?." Tanya Wulan sambil tangan nya merangkul Agnez.


Mendengar perkataan Wulan, Agnez tampak bahagia, dia mengangguk semangat, binar mata bahagia terlihat jelas di mata Agnez.


Dan itu membuat Angkasa gelisah sendiri karena tak tahan ingin mencium Agnez, berusaha di tahan ke inginan itu dengan memakan camilan yang ada di meja di hadapan nya ini.


"Lagi mencoba mengalih kan perasaan pengen cium yah? Hahaha... selamat menderita." Ejek Pamungkas tepat di telinga Angkasa.


"Diem Lu! Udah puas-puasin sana liatin Kak Rain sana, dasar Berondong Kadal Buntung Lu." Cecar Angkasa ikutan berbisik.


"Berondong Kadal Buntung Lu panggil Gua?! Elo tuh, pedofil ngga ada akhlak!." Kata Pamungkas yang yak mau kalah.


"Kagak ada cerita nya beda setahun di sebut pedofil, ada nya elo tuh suka sama Tante-tante!." Seru Angkasa tak mau kalah.


"Tante-tante tuh usia nya 30 an ke atas Tarjo! Kalo masih 22 tahun itu nama nya Ka-kak!." Pamungkas mengeja kan panggilan Kak Rain pada Angkasa.


Mereka bertengkar dengan suara sangat lirih, jadi nya seperti bisik-bisik tetangga gitu.


Mereka bertengkar sampai-sampai menyatukan kening dan mendorong satu sama lain. Dan tingkah mereka itu membuat para wanita yang duduk di sana heran.


Sedang kan Damar? Cowok itu hanya menggeleng kan kepala pelan dan kemudian menepuk dahi nya pelan.


"Berawal dari candaan jadi beneran, dasar gila emang mereka nih!." Seru Damar lirih.


Lalu... .


"Woy?! Kalian berdua ngapain sih?! Kagak jelas banget dah kelakuan kalian!." Tegur Damar pada ke dua sepupu sengklek nya itu.


2 cowok aneh ini pun sadar, mereka saling tatap dengan ke adaan kening yang masih menyatu.


"Ihhh... aku masih normal!!." Pekik Pamungkas menjauh kan kening nya dari kening Angkasa.


"Dih?! Kok bisa sih?! Aku juga masih normal yah! Ngga mau jeruk sama jeruk!." Seru Angkasa ketus.


"Tadi kalian bahas apa sih? Sampai kening nya nyatu gitu?." Tanya Mommy Za ingin tau.


"Biasa Momm mereka debatin hal ngga mutu! Unfaedah!." Kata Damar memberi tahu.


Di tengah-tengah ke asik kan mereka berkumpul, suara deruan mobil masuk ke garasi terdengar sangat nyaring.


"Itu seperti nya para Bapak-bapak kalian pulang." Cetus Mama Tika memberi tahu.


Kak Rain dan Agnez menegang di tempat. Mereka berdua gugup kembali dan tingkah mereka itu di sadari oleh para Ibu-ibu.


"Rilex aja kalian berdua, ngga usah gugup gitu, para Bapak-bapak itu ngga akan jahatin kalian." Hibur Mommy Za pada 2 gadi muda itu.


Agnez dan Kak Rain hanya tersenyum menanggapi omongan Mommy Za.


Tiba-tiba dari arah pintu ruang santai... .


"Assallammu'allaikum! Kami pulang!." Teriak para Bapak-bapak itu heboh.


"Wa'allaikum sallam." Jawab semua penghuni ruang santai rumah Rafka Zarine ini dengan lantang.


"Wah udah pada ngumpul, ini yang sekolah kapan pulang nya? Kok pulang nya ba'da dzuhur sih?." Tanya Papa Abdiel beruntun.


"Kita udah pulang lumayan lama Pa, di pulangin awal soal nya ada rapat di sekolah." Cerita Kristal lancar.


"Tunggu-tunggu, ini personil kita ada tambah dua yah?." Tanya Ayah Rafa.


Semua Bapak-bapak memperhati kan yang duduk di atas sofa.


"Ouh iya, ada tamu." Kata Papa Angkasa dengan menatap Agnez dan Kak Rain.


Dengan cepat, 2 gadis itu mendekat pada Papa Zaidan dan Ayah Rafa, mencium punggung tangan beliau berdua.


"Siapa yang bawa mereka nih?." Tanya Ayah Rafa melirik Angkasa dan Pamungkas dengan senyum penuh arti nya.


Angkasa dan Pamungkas yang di tatap seperti itu salah tingkah, mereka nyengir kuda bak orang tanpa dosa.


"Sebelum jawab pertanyaan, kenalan dulu, ini yang sebelah aku nama nya Agenz, dan yang di sebelah Bunda Raina itu nama nya Rain, pasti kalian udah kenal kalo ama Kak Rain." Sebut Mama Tika jelas.


"Ayah tau ngga? Ini Rain gadis beberapa tahun lalu yang aku kasih kalung itu loh." Cerita Bunda Raina senang.


"Maa Syaa Allah, alhamdulillah deh feeling Bunda ngga salah, alhamdulillah akhir nya kita bisa di pertemu kan lagi." Ucap syukur Ayah Rafa tulus dari hati.


Di tengah kebahagiaan itu, Papa Abdiel menatap Agenz lekat, dalam hati dan pikiran nya, beliau seperti pernah bertemu dengan Agnez sebelum nya, tapi entah di mana, beliau lupa.


Karena tak mau di landa penasaran, Papa Abdiel pun memutus kan bertanya saja.


"Itu Agnez kaya nya aku pernah liat deh, tapi di mana yah? Nak Agnez? Apa sebelum nya kita pernah bertemu?." Tanya Papa Abdiel to the point.


Agnez yang merasa tak pernah bertemu menjawab dengan gelengan kepala sambil mengatakan.


"Seperti nya tidak pernah Om, Agnez baru beberapa hari ini di Jakarta." Jawab Agnez di akhiri kekehan, bahasa nya masih sama, medok dengan bahasa Jawa yang sangat kental.


"Ouh iya buat pertanyaan Ayah Rafa, siapa yang bawa mereka, yang bawa Agenz tadi Angkasa, yang bawa Nak Rain itu Bunda." Jelas Bunda Rain detail.


"Awal nya Pamungkas yang mau bawa Kak Rain, tapi Kak Rain nya di hubungi ngga nyaut, eh pas pulang Kak Rain nya udah di sini aja." Pamungkas menggerutu panjang.


"Aduhhh gitu aja di ributin, lebay kamu Kas." Kata Angkasa sambil meninju pelan lengan Pamungkas hingga dia sedikit terhuyung ke kanan.


"Buk-." Belum selesai Pamungkas berucap Papa Abdiel berseru dengan heboh nya mengaget kan semua orang.


"Ouh aku inget, Agnez? Nama Ayah kamu Pak Cakra yah? Pemilik warung makan terkenal di Yogya sana itu, iya kan?." Tanya Papa Abdiel semangat.


Semua orang memandang Papa Abdiel dengan pandangan heran, kemudian tertawa kencang bersama.


"Papa nih apa an sih? Ngagetin aja tau ngga!." Kata Kristal masih dengan tawa nya.


"Hehehe... maaf kalo ngagetin, tapi bener kan Agnez?." Tanya Papa Abdiel di landa penasaran.


"Iya Om benar." Jawab Agnez di iringi senyum manis nya.


"Ngga salah berarti." Cetus Papa Abdiel.


"Papa Abdiel tau dari mana?." Tanya Angkasa ikut di landa penasaran.


"Alhamdulillah kita lagi jalin kerja sama buat bangun cabang restaurant baru di daerah Semarang sana, yang nanganin Ayah nya si Agnez ini." Cerita Papa Abdiel senang.


"Ouh yang bulan lalu kamu ijin ke Yogya ngga ngajak aku itu alasan nya?." Tanya Mama Akifa sewot.


Papa Abdiel membalas nya dengan hanya angguk kan kepala di sertai cengengesan bak orang gila.


"Yang kamu cerita sama kita waktu itu, beliau orang nya ramah itu yah Diel?." Tanya Daddy Rafka.


"Nah iya itu, dia nih anak nya, kemarin waktu ketemuan di kantor Pak Cakra, Agnez ini datang juga ke kantor." Jelas Papa Abdiel sambil menatap Agnez.

__ADS_1


"Kok Agnez ndak liat Om yah?." Tanya Agnez dengan suara lirih, dia berucap.


"Kamu ngga liat Om, tapi Om liat kamu, terus Ayah kamu juga kenalin kamu pas kamu udah pulang." Sahut Papa Abdiel kembali menjelas kan.


Agnez kemudian hanya membalas dengan ber oh ria dan mengangguk kan kepala saja.


"Gimana kabar Ayah Ibu kamu Agnez?." Tanya Papa Abdiel ramah.


"Alhamdulillah Om sehat wal'afiat." Jawab jujur Agnez di sertai senyuman.


Setelah saling sapa itu obrolan seru kembali terjadi, kini Angkasa dan Agnez yang mendominasi, sifat Agnez yang polos dan lugu membuat semua orang tertawa.


Setengah 2 siang, para tetuah memutus kan pergi ke kemar masing-masing, sedang kan para muda-muda nya beralih ke taman belakang, bermain di sana.


Di kamar Papa Zaidan dan Mama Tika.


"Rasa nya baru kemarin Mama gendong Angkasa Pa, sekarang Angkasa udah bawa calon mantu aja ke depan kita." Kata Mama Tika se akan tak percaya.


"Waktu itu terus jalan Ma, ngga diem di tempat nunggu kita, bentar lagi anak-anak udah mau 17 tahun, kita harus siap sama semua ini." Kata Papa Zaidan sambil memeluk pinggang Mama Tika yang masih ramping.


Posisi 2 sejoli paruh baya itu sedang berdiri di dekat jendela kamar yang ada di rumah Rafka Zarine.


Mama Tika sangat suka posisi seperti ini, apa lagi dengan kepala nya bersandar pada dada bidang Papa Zaidan, itu membuat dia tenang dan rilex.


Di kamar Ayah Rafa dan Bunda Raina pula mereka tengah duduk di tepi ranjang sambil menatap foto Pamungkas uang masih tengkurap di figura yang menggantung di kamar ini.


"Aku liat tadi si Pamungkas senyum terus ke arah Rain, aku harap mereka berjodoh." Doa Ayah Rafa yang kontan saja langsung di aamiin kan oleh Bunda Raina.


"Kaya emang Rain juga deh alasan Pamungkas senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini kalo lagi sendiri, iya ngga sih?." Tanya Bunda Raina.


"Ahahaha... definisi cinta itu gila, Pamungkas jatuh cinta, ya gitu deh jadi nya, gila, hahaha... ." Tawa Ayah Rafa menggelegar di seluruh kamar mereka ini.


Bunda Raina tersenyum kemudian mengangguk kan kepala tanda meng iya kan.


Di taman belakang.


"Agnez? Di Malioboro sana suasana nya gimana?." Tanya Kak Rain yang penasaran dengan kota asal Agnez.


"Di sana? Menurut Agnez sama aja kaya di sini Mbak, rame." Jawab Agnez.


Dia dan Kak Rain hanya sekejap mata langsung akbrab, ke dua nya memang mempunyai sifat mudah bergaul.


"Ok skip aja, sekarang aku tanya, kapan kamu ketemu sama Angkasa?." Tanya Kristal penasaran.


"Pertama ketemu?." Beo Agnez sambil berusaha mengingat masa-masa itu.


Beberapa menit kemudian setelah mengingat.


"Ouh iya! Beberapa hari lalu sebelum Agnez masuk sekolah, kita ketemu di taman kota." Cerita Agnez sambil mengingat-ingat malam pertemuan mereka.


"Ketemu nya gimana? Cerita in lebih detail dong." Pinta Kristal antusias.


"Nggs ada!." Sela Angkasa cepat secepat kilat.


"Kenapa engga? Ayo dong Tarjo jangan pelit." Mohon Pamungkas ikut bicara.


"Kalian udah aku cerita in detail banget kemarin-kemarin, jangan aneh-aneh, diem!." Perintah Angkasa tegas sambil melotot kan mata nya.


"Dih! Dasar jahat! Pelit." Seru Wulan yang di angguki oleh lain nya.


Di tengah perdebatan panjang yang entah apa masalah nya, Kak Rain terkekeh pelan dan menatap 7 serangkai dengan tatapan sendu.


"Kalian kalo lagi bareng berantem terus kaya gini yah?." Tanya Kak Rain yang akhir nya menghenti kan perdebatan.


"Ngga setiap hati sih Kak, kalo lagi gabut aja kita debat, tapi ya gitu, kita ngga tau apa yang kita debatin, tiba-tiba kalo sadar kita ketawa kenceng deh." Jelas Wulan terus terang.


"Enak yah kalo ada temen gini, rame, aku aja dulu sebelum kenal kalian, berdoa setiap hari sama Gusti Allah biar di kasih temen buanyak gini, alhamdulillah sekarang di kasih, ndak tanggung-tanggung rasa nya bukan temen lagi, tapi udah kaya saudara." Panjang Agnez bercerita.


"Aku juga tiap hari doa sama Allah biar ngga sendiri lagi, sekali nya di kasih temen jiwa muda-muda kaya kalian, alias berondong." Kata Kak Rain di akhiri kekehan pelan nya.


"Kak Rain dulu sekolah nya di SMA mana kalo boleh tau?." Tanya Pamungkas kepo.


"SMA Merdeka, di sekolah kalian sekarang, Kakak masuk karena bes siswa, jadi yah... gitu deh... ngga terlalu di anggap, di sana kan anak orang berduit semua yang masuk, anak bea siswa cuma 3 dari semua siswa siswi." Cerita Kak Rain mengenang masa sekolah nya di SMA Merdeka.


"Anak-anak orang berada yang sekolah di sana ngga semua nya cerdas, dan pinter Kak, orang tua mereka kadang menghalal kan segala cara buat masukin anak-anak nya ke sekolah itu." Cetus Damar berkata jujur.


"Hmmm... bener banget tuh, apa lagi sekarang kepala sekolah di jaman kita sekarang orang nya lebih berpihak sama yang berada dari pada orang yang memang membutuh kan, hukum di sana pun ngga adil! Masa ke adilan berpihak cuma sama yang beruang dari pada yang memang jujur." Gerutu Kristal panjang lebar.


"Bener tuh, sekarang orang jujur ngga di hargai di SMA Merdeka tapi orang beruang yang selalu menang." Timpal Wulan ikut emosi.


"Di SMA Merdeka ada kaya gitu juga to ternyata?." Tanya Agnez yang ikut nimbrung.


"Ada lah, emang nya kenapa?." Tanya Angkasa bertanya pada gadis nya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2