Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 205


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


Yang tadi nya Wulan hanya berniat kekantin membeli jajanan, kini dia harus menghabis kan waktu sedikit lebih lama lagi di luar.


"Mbak Wulan di kelas 11 apa?." Tanya Agnez ingin tahu.


"Aku di kelas 11 IPS 3." Jawab singkat Wulan di iringi senyuman.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Agnez hanya mengangguk kan kepala sebagai jawaban bahwa dia mengerti maksud sang Senior nya itu.


Setelah lama berkeliling memperkenal kan denah sekolah, Wulan benar-benar mengantar kan Agnez ke kelas nya yaitu kelas 10 IPS 1.


"Agnez ini kelas kamu, semoga nyaman dan betah yah sekolah di sini." Doa Wulan tulus.


"Iya Mbak, aamiin, makasih Mbak udah nganterin dan ajak keliling tadi, maaf merepot kan." Ucap Agnez tak enak hati.


"Hahaha... apa an sih Agnez, ngga papa santai aja kali, iya sama-sama, dah sana masuk, apa perlu aku temenin ke dalam?." Tawar Wulan di iringi senyum nya yang manis.


"Ngga usah Mbak, Agnez bisa sendiri kok." Tolak Agnez halus, dia tak mau merepot kan Wulan kembali.


"Ya udah aku balik kelas, semangat belajar nya, bye Agnez, assallammu'allaikum." Salam Wulan, dia pun meninggal kan Agnez sambil melambai kan tangan nya.


"Wa'allaikum sallam, Mbak Wulan semangat juga yah belajar nya!." Balas Agnez sedikit berteriak.


"Ha a! Sampai jumpa di kanti nanti Agnez!." Seru Wulan masih sempet-sempet nya.


Sepeninggalan Wulan, Agnez menghadap pintu masuk kelas 10 IPS 1.


Dia menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan, gadis mungil itu gugup, jantung nya berdebar kencang dari biasa nya.


"Bismillah!." Gumam Agnez pada diri nya sendiri.


Tangan Agnez mulai mengetuk pintu lalu me dorong sedikit pintu itu.


"Asaallammu'allaikum? Apa benar ini kelas 10 IPS 1?." Tanya Agnez memasti kan.


"Wa'allaikum sallam, iya benar, silah kan masuk, kalo boleh tau kamu siapa?." Tanya balik seorang gadis kuncir kuda yang berdiri di depan papan tulis tangah menghapus coret-coretan di papan, dia menyuruh Agnez masuk ke dalam kelas.


Sebelum menjawab, Agnez masuk ke dalam kelas dan berdiri si tengah kelas.


"Aku... Agnez Oktavian murid pindahan dari SMA Negeri di Yogya, baru pindah hari ini, kata Pak Kepala sekolah aku di tempat kan di kelas ini, salam kenal semua, aku harap kita bisa berteman." Jelas Agnez panjang lebar masih mengguna kan bahasa medok Jawa nya yang kental.


"Kalo gitu salam kenal juga, nama Gua Lolita, ketua kelas di kelas ini." Kata Lolita, gadis kuncir kuda yang berdiri di depan papan tulis tadi, dia mendekat pada Agnez mengajak nya bersalaman, dan dengan senang hati Agnez menerima uluran tangan itu.


"Salam kenal juga Agnez." Ucao satu kelas kompak menyambut Agnez.


"Betah-betah di sini yah Nez." Ucap seorang pria ramah, tertera nama Rio di seragam pria itu.


"Terima kasih semua, in syaa Allah aku bakal betah." Balas Agnez tak kalah bahagia.


Setelah basa basi, Agnez mendapat tempat duduk satu meja dengan cowok yang bernama Rio yang tadi menyapa nya.


Semua siswa siswi satu kelas 10 IPS 1 antusias kedatangan teman baru, bahkan mereka langsung mengakrab kan diri pada Agnez agar gadis mungil itu tak sendiri an, dan suasana itu membuat Agnez sangat nyaman serta tak henti-henti memampang kan senyuma manis nya.


Kita beralih ke kelas 11 IPS 3.


Wulan baru saja datang dan langsung mendarat kan bokong nya di bangku nya di sebelah Albhi.


"Dari mana aja kamu Lanlan?." Tanya Albhi dingin dan datar.


"Tadi kamu ijin nya cuma ke kantin deh! Kenapa lama? Ke mana dulu kamu?." Imbuh Bang Damar dengan suara yang tak beda jauh dengan Albhi.


Angkasa, Pamungkas, dan Kristal hanya diam menonton adegan di depan mereka tanpa merasa terganggu atau berusaha menghenti kan adegan itu.


Bukan nya menjawab pertanyaan dari dua pria yang dia sayangi dan cintai, Wulan malah terkekeh pelan melihat ke possesive an mereka.


"Jawab dong Lanlan! Jangan ketawa! Ngga ada yang lucu!." Sergah Albhi masih mempertahan kan nada suara nya yang datar dan dingin.


"Iya maaf lama, aku tadi habis nganterin junior baru kita ke kelas nya dia ngga tau arah jadi minta tolong deh sama aku." Jelas Wulan jujur apa ada nya tanpa ada yang di tutup-tutupi sama sekali.


"Junior?." Tanya Damar dan Albhi bersamaan sambil memicing kan mata nya curiga.


"Cowok, cewek?." Tanya Albhi dan Bang Damar kompak masih memicing kan mata nya tajam menatap sang gadis.


Wulan terkekeh lagi sebelum menjawab.


"Bang Bhibhi, Bang Damar udah ah possesive nya! Aku nganerin junior cewek ke kelas 10 IPS 1, kalo ngga percaya, ayo aku tunjukin anak nya." Ajak Wulan serius, dia sudah siap keluar dari bangku nya yang di apit Albhi, tapi Albhi menarik Wulan menyuruh nya duduk, karena dua pria itu percaya.


"Jangan negatif thiking mulu napa sih kalian berdua!." Seru Kristal memberi pembelaan pada Wulan.


"Jelas dong kita pikiran nya negatif mulu Kris, dia bilang keluar cuma mau beli jajanan di kantin, tapi lebih dadi 30 menit, siapa coba yang ngga khawatir? Mana HP di tinggal, kalo Wulan mendapat bully an dari Duo Ulat Bulu tanpa sepengetahuan kita kan ngga baik." Panjang Damar berucap menjelas kan pikiran nya dengan nada lembut pada Kristal.


"Junior?." Beo Angkasa yang dapat di dengar oleh 5 orang lain nya.


Tiba-tiba jantung Angkasa berdebar tak menentu mendengar kata junior dari Wulan.


"Iya junior kita, emang kenapa sih Bang? Ada yang aneh kah?." Tanya Wulan sambil menatap Abang Angkasa sepupu kesayangan.


"Engga, ngga papa kok." Balas Angkasa mencoba bersikap biasa saja walau sebenar nya jantung dan hati nya tak baik-baik saja.


Saat akan bertanya lagi, bel tanda pelajaran pertama akan di mulai berbunyi nyaring di seluruh SMA Merdeka.


Semua guru masuk ke dalam kelas masing-masing untuk memberi kan materi pada anak didik.


Waktu berlalu sangat cepat, tak terasa sudah menginjak jam istirahat, semua kelas di SMA Merdeka berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.


Tak terkecuali di kelas 10 IPS 1.

__ADS_1


"Agnez? Ayo kekantin." Ajak Lolita.


"Ayo, kebetulan banget, perut ku sudah banget ini." Jawab Agnez dengan medok Jawa nya yang khas.


Di perjalanan menuju kantin.


"Sekolah ini gede banget yah ternyata, lebih gede dari di sekolah lama ku jeh." Celutuk Agnez terkagum-kagum dengan bangunan SMA Merdeka.


"Masa sih?." Tanya Citra, teman baru Agnez.


"Iya beneran lah, pas tadi aku masuk sini, sempet ndak percaya kalo ini sekolahan, haha... " Tawa pelan Agnez yang menggemas kan terdengar sangat indah di telinga Lolita dan Citra.


"Agnez? Rumah kamu di mana?." Tanya Lolita penasaran.


"Di dekat taman kota." Balas Agnez singkat.


Lolita dan Citra yang tak puas mendapat kan jawaban singkat itu, mereka meminta penjelasan lebih dari Agnez.


Dan dengan senang hati Agnez menjelas juga memberi tahu letak alamat rumah nya.


Sampai di kantin sekolah.


"Yah penuh." Ucap Citra lesu.


"Ayo kita ke kantin yang satu lagi, sekolah kita ini kan punya 2 kantin dengan kapasitas bisa menampung banyak orang setiap kantin nya." Ajak Lolita di sertai penjelasan yang cukup panjang dan lebar.


3 gadis itu pun keluar kantin dan berjalan ke arah kantin satu nya lagi.


Di kantin sekolah SMA Merdeka satu nya lagi.


6 serangkai duduk di meja pojok seperti biasa, kali ini mereka ke kantin ke dua di sekolah karena ke inginan dari Angkasa.


Entah ada apa dengan bujang lapuk satu ini, dia bersikukuh ingin makan di kantin ke dua sekolah.


"Kamu tumben sih Angkasa mau makan di kantin ini?." Tanya Kristal yang sedari tadi bertanya namun tak kunjung mendapat jawaban dari Angkasa.


"Ck! Kamu masih bisa ngomong kan Paijo? Jawab ngapa jangan bikin orang penasaran!." Cetus Pamungkas yang gemas dengan keterdiaman Angkasa.


"Panggilan untuk Bang Angkasa ganti lagi Bang?." Tanya Wulan melantur.


"Iya, ngga enak kalo di panggil Huruf, enak di panggil Paijo aja." Balas Pamungkas acuh.


"Kalian tadi ngga liat di kantin rame?." Celutuk Angkasa angkat bicara.


"Kapan? Tadi pas kita baru dateng kantin lenggang kok, alesan nya yang masuk akal dong Paijo!." Seru Pamungkas gemas.


'Huufffhhh... .' Helaan nafas lelah Angkasa erdengar sangat jelas di telinga 5 sahabat lain nya.


"Aku mau cerita sama kalian, tapi kalian harus janji jangan beri tahu Mama Tika dan Papa Zaidan." Ucap Angkasa serius, suara nya di pelan kan agar tak di dengar oleh orang lain.


"Cerita apa sih emang?." Tanya Kristal sambil mengerut kan kening nya dalam.


"Ck! Turutin aja ngapa sih! Mau aku cerita in ngga?." Desis Angkasa jengkel pada Kristal yang cerewet.


Kristal mengerucut kan bibir nya kesal mendengar decak kan jengkel dari Angkasa.


"Kami janji ngga akan bilang sama Mama Tika dan Papa Zaidan apa pun rahasia yang akan kamu ucap kan." Kompak Damar Wulan, Kristal, Albhi, dan Pamungkas berucap.


Angkasa memamer kan senyum manis nya dan mengangguk kan kepala senang.


Saat akan berbicara menjelas kan hal semalam dia bertemu gadis aneh, pandangan mata Angkasa mengarah tepat pada pintu masuk kantin.


Terlihat dengan jelas oleh netra hitam Angkasa gadis semalam yang bertemu dengan nya di taman kota sedang berbicara, bercanda, bahkan tertawa dengan riang nya bak manusia tanpa beban dengan dua gadis di kiri kanan nya.


"Agnez." Gumam lirih Angkasa yang hanya di dengar oleh nya.


Yah, gadis yang di pandangi oleh Angkasa adalah Agnez, melihat gadis yang aneh menurut nya itu, jantung nya berdebar tak menentu dan pandangan nya tak dapat teralih kan selain pada Agnez.


Msndengar teriak kan Wulan, Angkasa tertarik kembali ke alam sadar nya. Dia menatap 5 sehabat nya yang tengah duduk anteng menanti cerita nya, tapi pandangan Angkasa juga mengikuti gerak gerik Agnez.


"Bang Angkasa liat apa sih? Kita di sini loh, di depan Kakak, eh mata Kakak natap nya ngga karuan." Ucap Wulan kesal.


"Cinta pandang pertama itu memang ada dan aku percaya itu." Ujar Angkasa tiba-tiba yang membuat 5 sahabat nya cengo di buat nya.


"Cinta pandang pertama?." Beo Wulan, pandangan mengikuti netra Angkasa menatap.


Dan... .


"Ouh diaaa to, gadis Yogya yang kalo bicara medok Bahasa Jawa kental." Ucap pelan Wulan senang.


"Dia siapa Lanlan?." Tanga Albhi yang hanya sekilas menatap gadis yang di ucap kan Wulan.


"Dia Agnez, dan dia lah junior yang aku anter ke kelas nya tadi pagi, kesan pertama aku ngobrol sama dia tuh asik dan lucu, bahasa nya itu loh bikin gemes." Panjang lebar Wulan berucap dengan menahan senyum di bibir nya.


"Kemarin malem, aku beli martabak manis di taman kota, dan aku ketemu sama dia, di sana pertemuan kita, pas pulang dan mau tidur mata ku ngga bisa di pejamin, tiba-tiba terlintas muka binaran polos dia, jantung ku juga debaran nya ngga nentu, dan aku rasa... aku jatuh cinta sama dia, sama wajah polos nya." Panjang lebar Angkasa mencerita kan hal semalam sedetail mungkin.


"Wadidaw, au au dia junior kan? Jia kutuk kan Gua manjur Ya Allah terima kasih." Ujar Pamungkas senang bukan kepalang.


"Ck! Diam! Iya deh kamu menang!!." Seru Angkasa sewot, dia sampai melotot kan mata nya tajam pada Pamungkas.


"Hahaha... ." Tawa 5 sahabat Angkasa di depan nya ini dengan sedikit keras.


Di kejauhan mata Wulan menangkap pandangan Agnez dan dua teman nya hendak mencari duduk setelah memesan makanan.


Di otak pintar Wulan terlintas ide yang akan membuat Angkasa seneng, mungkin, tapi semoga saja iya.


"Agnez?!." Teriak Wulan memanggil Agnez.


Gadis yang di panggil celinguk kan dan pandangan nya dengan Wulan pun bertemu, dengan senyuman cerah nya, Agnez berjalan mendekat pada Wulan.


"Kenapa kamu panggil sih Wulan!." Seru Angkasa salah tingkah.


Wulan terkekeh melihat sikap salah tingkah Abang sepupunya ini.


Wajah Anglasa yang seharus nya bahagia melihat dang pujaan hati, kini malah sebalik nya, wajah sepupu kesayangan Wulan ini malah datar dan memancar kan aura dingin, juga tajam, atmosfer di sekitar Angkasa berubah ikut dingin, dasar Angkasa aneh, malu-malu mau tuh.


"Smile ngapa Paijo! Jangan dingin-dingin." Bisik Pamungkas lirih di telinga Angkasa.


"Diam!." Desis Angkasa menatap tajam Pamungkas.


"Hai Mbak Wulan? Wah ketemu lagi kita, hehehe... ." Kata Agnez menyapa sambil menampak kan senyum cengengesan nya.


"Kalian bertiga duduk sini dong." Pinta Wulan pada 3 junior yang berdiri di belakang Angkasa dan di depan Wulan.


"Iya sini aja, kebetulan tuh bangku nya sisa 3, jadi pas." Imbuh Kristal dengan menunjuk tempat di sebelah Wulan.


"Boleh emang Mbak?." Tanya Agnez polos.


"Kalo ngga boleh kenapa tadi kita nawarin kamu? Udah sini duduk manis di sebelah aku!." Perintah Wulan tegas tak ingin di bantah.


Agnez, Lolita, dan Citra saling pandang kemudian mengangguk meng iya kan, mereka pun duduk, sebelum Agnez mendarat kan bokong nya di samping Wulan, tangan Agnez di tarik oleh Wulan agar duduk di sebelah kanan Wulan tepat di depan Angkasa.


"Gimana hari pertama masuk kelas?." Tanya Kristal ceria.

__ADS_1


"Alhamdulillah Mbak semua temen satu kelas ku ramah-rsmah oranh nya, dan yang lebih penting aku sudah dapat teman, hehehe... ." Jelas Agnez di iringi kekehan bahagia nya.


Krista mengangguk kan kepala sebagai jawaban dari penjelasan Agnez.


"Ouh iya, kita belum kenalan, hai nama ku Kristal, panggil sesuka hati kamu aja deh, dan di depan kamu ini juga teman satu, ini nama nya Pamungkas, ini Damar Abang nya Wulan, itu Albhi someone nya Wulan, dan yang terakhir dia! Nama nya Angkasa." Kristal memperkenal kan para pria satu persatu dengan menunjuk orang nya agar dapat di ingat Agnez.


Agnez menanggapi perkenalan dari Kristal dengan angguk kan kepala dambil menatap 4 pria itu yang di balas angguk kan dingin oleh 4 pria ini.


Saat tatapan mata Agnez bersirobak dengan Angkasa, pikiran Agnez kerkelana.


'Kaya nya pernah liat Mas ini deh, tapi di mana yah?.' Pikir Agnez lupa.


'Dia kaya nya lupa ama pertemuan pertama kita di taman kota kemarin malam.' Angkasa ikut membatin.


'Uh Mas nya guanteng banget jeh, tapi sayang, orang nya kaya balokan es, dingin, ndak ada senyum nya sama sekali, apa ndak kaku itu pipi nya?.' Entah lah batin Agnez ini tengah memuji atau memaki, tak ada beda nya.


'Liat pandangan mata polos itu, pengen bat Gua karungin terus bawa pulang, lucu banget sih Lu Nez.' Cetus Angkasa di dalam hati nya.


2 orang itu terpesona dengan ke indahan di wajah masing-masing.


Sampai... .


"Apa liat-liat?! Ngga pernah liat cowok ganteng?!." Sengak Angkasa berbicara.


Tentu saja Agnez yang di tegur jadi terkejut, dia terkesiap mendengar kata-kata sengak dari Angkasa.


Alis nya berkerut lucu dalam batin Agnez kembali berucap, 'Benar, Mas ini yang aku temuin di taman kota kemarin, di tanya baik-baik jawab nya ndak ngenake! Bikin hipertensi aja.' Kata Agnez panjang.


"Mas nya ndak usah kepede an! Di bandingin sama Ayah ku, sampean kalah jauh dari beliau!." Sewot Agnez yang kontan saja membuat Kristal dan Wulan menahan tawa nya yang hendak pecah.


Angkasa yang mendapat perkataan Agnez yang sangat sewot membalas nya dengan melotot kan mata nya sampai hampir keluar.


"Jangan di gitu in mata nya Mas, kalo lepas kan bahaya, mata ndak punya pabrik soal nya!." Cetus Agnez cuek tanpa memandang Angkasa.


Saat akan membuka suara lagi, pengantar makanan pesanan Agnez, Lolita, dan Citra datang.


Mereka bertiga pun makan dengan lahap tak melihat sekitar.


Tanpa di sadari Agnez, 6 pasang mata menatap nya intens, siapa lagi kalo bukan Damar Wulan, Albhi, Kristal, Pamungkas dan tentu saja Angkasa.


Angkasa terlihat sangat bahagia hanya karena menatap Agnez makan dengan lahap dalam diam nya.


Tapi... bukan Angkasa nama nya jika hati dan mulut nya tak sinkron.


"Lahab banget makan nya Mbak? Belum makan berapa hari?." Tanya Angkasa jahil di iringi seringai jahil nya.


"Iya Mas! Udah 3 minggu ndak makan!." Tekan Agnez di setiap kata nya di lengkapi dengan pelototan mata tajam nya.


Dan itu berhasil membuat seorang Angkasa tersenyum, walU senyum nya hanya sedikit, pelit emang si Angkasa tuh, senyum nya udah kek barang-barang limited edision dari brand ternama, mahal!.


5 sahabat lain nya yang melihat ikutan senang dengan tingkah Agnez dan Angkasa.


"Agnez? Rumah kamu di mana?." Tanya Kristal ingin tau.


"Deket taman kota Mbak, ayo Mbak kapan-kapan main ke rumah Agnez, Agnez sendiri an di rumah kalo Ibu sama Ayah kerja." Jawab Agnez sekalian mengajak 6 senior nya itu ke rumah nya, ajak kan itu tadi sudah ia layang kan pula kepada Lolita dan Citra.


"Iya kapan-kapan kita main ke rumah kamu." Jawab Wulan lembut.


"Ndsk usah ngajak Mas yang itu ya Mbak! Ndak suka aku." Kata Agnez blak-blak an tak mengajak Angkasa.


Pamungkas, Albhi, dan Damar hampir saja kelepasan tertawa terbahak.


Tapi untung 3 pria itu busa menahan nya, dalam batin ke toga pria itu, 'Mampuss Lu Angkasa! Terang-terangan di tolak di Bocil!.' Ucap mereka kompak tanpa bekerja sama.


Wulan dan Kristal hanya bisa menahan tawa nya, sedang kan Citra juga Lolita melotot kan mata nya tak percaya dengan ucapan berani Agnez, pasal nya di sekolah ini tak ada yang berani menolak Angkasa dalam hal apa pun, lah ini?! Siswi masih baru ngga ada takut-takut nya sama Angkasa.


"Kenapa aku ngga boleh ikut?." Tanya Angkasa tajam. Agnez yang mendengar peratanyaan itu langsung menatap Angkasa.


Mata mereka bersirobak sekali lagi, ada getaran aneh yang menyapa di hati masing-masing.


'Ini jantung ku kenapa to? Perasaan pas aku cek kesehatan kemarin waktu masih di Jawa Tengah semua nya baik-baik aja, ndak ada penyakit serius, ini ada apa?.' Batin Agnez berbicara.


sebenar nya jantung Agnez berdebar tak karuan sedari semalam pula, tapi dia sangat pintar menutupi nya dari orang-orang di sekitar nya.


"Heh! Jawab!." Seru Angkasa membuyar kan semua lamunan Agnez.


"Nd... nda... ndak boleh ikut pokok e!." Jawab Agnez gugup menguasai hati dan jantung nya.


Di saat Angkasa hendak berbicara lagi, Wulan menutus perdebatan 2 pasang anak manusia ini.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2