Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tigapuluh empat


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.


******************************


-


-


"Mungkin aja Allah kasian liat Lu mohon-mohon." Ledek perempuan.


"Hahaha... mungkin sih, atau Allah dah bosen sama curhatan Gua, entah lah apa aja terserah, inti nya Gua bahagai banget!." Seru pria nya dengan reflek memeluk wanita yang akan menjadi istri nya besok.


"Ouy?! Kalian berdua lepas dulu peluk kan nya belum mahram euy!!." Seru 2 jomblo ngenes yang melihat sepasang calon suami istri ini peluk kan.


"Iri? Bilang Bosss!!." Seru sang pria meledek.


"Anjim Lo Dra!." Umpat Andi jengkel.


"Ta?! Batalin aja dah acara nikahan nya!!." Teriak Panji memprovokasi.


"Ngga usah ikut-ikut Lo kutil Unta!." Rendra ikut bersuara.


Yah... yang sedang ada du sungai ini adalah Rendra, Shita, Andi, dan Panji.


Mereka sedang membicara kan tentang pernikahan Rendra Shita besok.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Ta?." Panggil Rendra.


"Hm?." Sahut Shita.


"Besok pas acara Ijab gimana kalo kita video call sama Kak Raina dan lain nya, nanti biar Andi atau Panji yang megangin handphone nya." Usul Rendra yang langsung mendapat angguk kan dari Shita.


"Aku setuju, jadi meski mereka ngga bisa dateng, se engga nya mereka bisa lihat lewat video call itu." Kata Shita.


"Nanti malam kita video call an sama mereka." Ucap Rendra dan Shita hanya mengangguk kan kepala saja menyetujui.


Cus kita kembali ke Jakarta. Tepat nya kediaman Rafka Zarine.


5 keluarga junior berkumpul di ruang santai dengan di temani berbagai camilan, dan tak lupa pula minuman nya.


"Eh? Gimana nih sama kumpulan yang kita rencana in?." Tanya Akifa.


"Kumpulin sekarang aja deh, aku kangen banget sama Mama tau." Ujar Tika.


"Hm... Gua juga, kumpulin sekarang aja deh, ini kan jammmm... 11.10 bilang aja pukul ba'da dzuhur kumpul di sini." Usul Alfi.


"Ok bentar." Kata Bang Rafa. Dia berniat memghubungi lewat grup WhatsApp.


ROOM CHAT


^^^'Bang Rafa : Assallammu'allaikum?.'^^^


'Mama Rafka : Wa'allaikum sallam, ada apa Bang? Tumben chat grup?.'


'Papa Rafka : Ada hal penting kah Bang?.'


^^^'Bang Rafa : Bisa nanti Ba'da Dzuhur para orang tua kumpul di rumah Rafka Zarine?.'^^^


'Mama Akifa : Ada apa Bang?.'


^^^'Bang Rafa : Ada berita besar yang akan kami sampai kan, ouh bukan kami semua tapi Bang Rafa Raina, dan Bang Idan Tika.'^^^


'Mama Tika : Kenapa ngga ngomong langsung di sini?.'


^^^'Bang Rafa : Kalo ngomong di sini ujung-ujung nya nanti kalian semua juga pasti bakal ke rumah juga😂.'^^^


'Mama Alfi : Kabar apa an sih Bang?.'


'Mama Akifa : Ngga baik bikin orang tua penasaran Bang.'


^^^'Bang Rafa : Kepo yaaa😂😂😂😂😂.'^^^


Dan setelah mengatakan itu Bang Rafa Off.


"Hahahaha... ." Tawa Bang Rafa menggelegar.


"Lu nape dah?." Heran Akifa.


"Sukses bikin orang tua penasaran Gua, hahaha... ." Kata Bang Rafa senang.


"Ngga baik tau Bang." Cetus Zarine meperingat kan.


"Hehehe... kaya nya ngga lama lagi mereka bakal sampai deh ke sini." Ucap Bang Rafa.


Lalu tiba-tiba.


'Ting... tong... ting... tong... .' Bel pintu berbunyi.


"Cepet banget sampe nya? Apa jangan-jangan mereka terbamg dateng kemari?." Perkataan polos Akifa sukses membuat lain nya menyoraki diri nya.


"Huuuuu... Akifa ngaco." Ucap Zarine.


"Tau Lu, haluuuu nyaa." Imbuh Alfi.


"Aduhh jangan di gitu in dong bini Gua." Abdiel membela.


"Udah buka pintu sana Tuan Rumah." Perintah Tika.


Dari arah dalam Bunda keluar.


"Kalian duduk aja, biar Bunda yang buka pintu." Kata beliau.


"Ouh? Iya deh Bun." Jawab Rafka.


Di depan teras.


Bunda membuka pintu dan tampak di sana pemuda yang se umuran Bang Idan berdiri di sana dengan berpakai an ala pos.


"Assallammu'allaikum Bu, permisi, apa benar ini rumah nya Rafka Fathan?." Tanya pemuda itu sopan.


"Ouh iya bener Mas." Jawab Bunda cepat.


"Ada kiriman paket paket untuk Mas Rafka, Ibu siapa nya Mas Rafka?." Tanya lagi sang kurir itu.


"Saya Ibu mertua nya, atau saya panggil kan Rafka nya langsung? Kebetulan dia ada di rumah." Tawar Bunda.


"Sama Ibu aja lah, saya cuma mau ngenter ini." Kurir menolak bertemu Rafka dan menunjuk kan barang kiriman nya, Bunda menerima dengan hati-hati.


"Silah kan Ibu tanda tangan di sini." Ucap sang kurir dan Bunda pun mengikuyi intruksi nya.


Setelah beberapa saat kemudian, kurir pun pamit lalu Bunda masuk ke dalam rumah.


"Rafka? Ada paket nih Nak." Beri tahu Bunda setelah sampai di ruang santai.


"Tumben? Siapa gerangan yang mengirim?." Heran Rafka.


"Entah, Bunda juga ngga tau, kurir nya ngga bilang dari siapa." Jujur Bunda berucap.


"Coba Raf buka, kepo Gua." Suruh Bang Idan.


Rafka membuka paket nya.


"Eh? Undangan." Seru Akifa.


"Dari siapa nih?." Tanya Bang Rafa.


"Jangan-jangan dari Shita, besok kan dia nikah." Antusias Raina berucap.


"Ah iya bener liat nih, Rendra Shita." Tunjuk Zarine pada nama mempelai yang ada di bagian depan.


"Sayang nya kita ngga bisa dateng." Lesu Zarine.


"Kita kan udah minta maaf sama mereka kalo ngga bisa dateng, mereka juga maklumi kita, toh juga nanti kalo resepsi salah satu di antara kalian Shita Rendra bakal dateng." Bunda menghibur anak gadis nya.


"Emm... bener juga sih." Balas Bang Rafa.


"Ouh iya Bun, bentar lagi, para orang tua mau berkunjung ke sini, Bang Rafa Raina, sama Bang Idan Tika ada yang mau kita sampai kan." Info Bang Rafa.


"Iya tadi Bunda buka grup rame bahas itu, apa sih yang mau kalian sampe in?." Tanya Bunda kepo.


"Bentar lagi Bunda bakal tau." Bang Idan berteka teki.


"Aduhhh iya deh terserah kalian, udah adzan dzuhur, pada siap-siap gih buat sholat." Suruh Bunda yang di jawab angguk kan oleh semua nya.


Sesuai jadwal perkumpulan yang di atur Bang Rafa tadi, ba'da dzuhur para orang tua benar-benar datang ke rumah dengan segudang rasa penasaran yang tinggi.


"Ada apa nih?." Heran Bang Rafa.

__ADS_1


"Berhenti beracting Bang, cepet kasih tau berita penting itu apa?." Desak Mama Rafka.


"Tunggu! Kalian semua udah makan kan?." Tanya Zarine.


"Udah tadi sebelum ke sini, niat nya mau makan bareng kalian, tapi ART dah masak, kasian kalo ngga di makan masak kan nya." Jawab Mama Akifa.


"Ok kami mau memberi kabar bahwa... ." Ucapan Bang Rafa menggantung.


"Kasih liat Yang." Suruh Bang Idan pada Tika.


"Gih kasih tau." Suruh Bang Rafa pada Raina.


Kemudian dengan kompak nya, Tika dan Raina menunjuk kan foto USG dan hasil test pack mereka kemarin.


Mata semua orang terbelalak dan senyum bahagia memancar dari bibir masing-masing.


"Alhamdulillah Ya Allah!!." Seru Mama Rafka, Mama Tika dan Bunda bersamaan.


"Hahahaha... ." Tawa para orang tua laki-laki pecah.


"Kalian kenapa sih?." Tanya Mama Rafka heran.


"Ini anak-anak aneh banget sih, masa nikah nya barengan, hamil nya barengan, nanti pas lahiran jamaah lagi, kalian semua janji an?." Cetus Papa Abdiel.


"Kalo nikah nya memang janji an, tapi kan kalo hamil nya ini engga Pa, lahiran nya juga ngga bakalan massal kok, selisih tau mereka ber 5 nih hamil nya, walau ngga terlalu jauh sih." Jelas Abdiel.


"Ini Raina sama Tika udah berapa minggu?." Tanya Mama Tika.


"Tika 5 minggu Ma." Jawab Tika cepat.


"Kalo Raina baru 2 minggu Te." Balas Raina.


"Kalian sekarang dah hamil semua, di jaga baik-baik loh yah, anjuran dokter harus di ikutin biar kalian dan juga Baby nya sehat." Nasihat Bunda menggema.


"Iya Bun." Jawab 5 wanita ini bersamaan.


"Ouh iya, kami tadi juga dapet undangan nikahan nya Rendra Shita." Beri tahu Rafka.


"Wah sayang ya kita ngga bisa dateng." Cetus Papi Alfi.


"Di sana mereka juga udah maklumi kita kok Pi, nanti kan kapan-kapan mereka bakal ke sini." Ucap Alfi menenang kan.


Rafka memberi kan selembar kertas pada para orang tua.


"Raina, coba kamu video call mereka." Pinta Bunda yang di angguki oleh istri tercinta nya Bang Rafa ini.


Kak Raina mengambil ponsel yang ada di meja depan tv, baru saja akan menghidup kan ponsel nya, tiba-tibs sebuah panggilan video call dari Shita terpampang jelas di sana.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru mau telepon dia nya udah nelepon dulu an." Beri tau Raina.


Segera Raina memposisi kan letak ponsel nya agar semua orang terlihat oleh Shita.


Kak Raina menggeser tombol biru untuk mengangkat video call itu.


"Assallammu'allaikum Kak Raina, eh? Pada ngumpul yah, assallammu'allaikum semua nya." Sapa Shita dengan wajah terlihat begitu bahagia.


"Wa'allaikum sallam, iya nih kita pada ngumpul, Lo dimana tuh Dek?." Tanya Raina.


"Kita lagi ada di jembatan sungai." Beri tau Shita dengan membalik kan kamera menghadap ke arah Andi dan Panji yang tengah berpose konyol lalu Rendra yang memfoto kan mereka.


"Hahaha... ." Raina dan lain nya tertawa pelan melihat tingkah 3 cowok di sana.


Kamera kembali menghadap Shita.


"Ouh iya Kak, undangan nya udah sampe kan?." Tanya Shita.


"Iya udah nih." Raina menunjuk kan lembaran kertas berwarna gold.


"Kalian semua di sana apa kabar?." Tanya Shita lagi.


"Alhamdulillah sehat." Jawab Zarine senang.


"Lo sendiri gimana di sono?." Tanya Abdiel.


"Sehat wal'afiat alhamdulillah, eh? Terus bumil nya tambah ngga?." Tanya Shita semangat.


Raina dan Tika tersenyum penuh misteri ke arah Shita.


"Wah... tambah yah! Selamat buat kalian berduaaa!!." Pekik Shita bahagia.


"Kita belum ngomong apa-apa Lu kok udah tau sih kalo kita berdua hamil?." Sungut Raina.


"Shita gitu loh, apa sih yang ngga Gua tauuuuu." Sombong Shita berucap.


"Huuu... iya dah iya." Pasrah Tika kemudian yang di sambut tawa pecah Shita.


"Ouh iya, aku mau sampe in, besok Ijab Qobul nya jam tujuh tiga puluh pagi, aku sama Rendra punya rencana, gimana kalo waktu proses itu kita video call kaya gini, jadi meski kalian ngga ke sini, tapi masih bisa liat dari sana." Ungkap Shita.


"Ide bagus tuh, kenapa kita ngga kepikiran dari tadi yah." Kata Tika menimpali.


"Yah Nanti biar Andi yang video call pake handphone Gua, terus untuk resepsi kalian gimana? Masih mau ngadain satu per satu atau langsung 5 nih?." Tanya Shita.


"Kaya langsunh lima aja deh Ta, kasian para bumil nya kalo sering-sering ngadain pesta." Jawab Mama Rafka.


"Dimana nanti lokasi nya?." Shita bertanya lagi.


"Di rumah." Jawab Papa Rafka.


"In syaa allah kita bakal ke sana kalo resepsi kalian di selenggarakan barengan." Ucap Shita dengan di iringi senyuman khas milik nya.


"Harus dan wajib Lo dateng Ta, kalo engga... siap-siap aja beberap hari kemudian rumah Lo kita acak-acak." Ancam Akifa.


"Hmmm... bener banget tuh." Imbuh Alfi.


"Wuh sadis yah." Shita agak bergidik mendengar ancaman itu.


"Hahahaha... becanda kali Ta, gitu aja takut." Tawa Akifa dan lain nya pecah karena melihat ekspresi Shita.


"Huhhh udah dilanda risau Gua tuh tadi." Jengkel Shita.


"Shita?! Lo ngapain cemberut gitu? Kagak cocok euy!." Seru Rendra iseng.


Shita mendelik kan mata nya ke arah Rendra.


"Sini kalian ber tiga, kagak mau nyapa Rafka ama lain nya kah?." Panggil Shita dengan melambai kan tangan nya.


Kontan saja Rendra dan Panji berlari sampai mendorong Andi dan ngenes nya Andi malah jatuh ke sungai.


Byurrr!!!.


"Wahahahaha... sorry Ndi, sengaja." Ucap Rendra dengan ketawa ngakak.


"Siapa tuh yang kecebur?." Tanya Abdiel kepo.


"Si Andi." Jawab singkat Shita di sela tawa nya.


"Jahat Lu pada yah, kalian jangan solimi." Kata Andi masih sempet melucu.


"Solimi solimi, bukan solimi, ini nama nya sholeh, hahahaha... ." Tawa kembali pecah di pinggir sungai ini, sedang kan di tempat Raina, mereka semua hanya terkekeh mendengar celotehan Rendra, Panji, dan Andi.


Kini 3 cowok itu mendekat ke arah Shita.


"Andi? Jaga jarak! Gua ngga mau basah juga." Tegas Shita.


"Lu anak manusia apa anak garem sih? Takut banget sama air!." Cetus Andi menyahut.


"Anak garem Gua." Balas Shita sewot.


"Iya in dah biar cepet." Pasrah Andi, dan dia pun menjaga jarak dengan Shita.


"Wah wah! Gimana Ndi rasa nya nyebur kali? Seger bat yak?." Kata Rafka.


"Ini semua gara-gara 2 orang yang ngga ada akhlak itu tuh." Tunjuk Andi pada Rendra dan Panji.


"Elah, sorry Ndi, main-main kita." Ucap Panji.


"Kalian dah pada tua, main nya kok ke kali, cebur-ceburan lagi." Ujar Raina sambil geleng kepala.


"Ya mending main air dong dari pada main hati cewek." Sahut Andi membela.


"Huuu... ." Sorak Shita sambil menyenggol lengan Andi yang masih basah.


Shita dan Raina membahas segala hal dalam video call mereka, sampai pada pukul 13.30 siang mereka baru meng akhiri nya.


Waktu terus berputar, tak terasa hari minggu pun telah tiba.


Di kediaman Rendra.


Shita sedang ada di kamar Rendra dan sedang di rias.


"Ta? Lo ngga makan dulu?." Tanya Rendra yang berdiri di pintu kamar nya yang di huni oleh Shita serta para perias.


"Aku udah makan Ren, eh? Kalo boleh tau ini jam berapa yah?." Tanya Shita.


"Jam... enam lebih empat puluh lima menit, kenapa sih?." Tanya balik Rendra.


"Kamu bilangin sama Andi Panji, nanti jam tujuh lebih sepuluh menit minta tolong video call Kak Rain." Pinta Shita.


"Ok ok Gua sampe in dulu ke mereka." Balas Rendra dan dia pun pergi.


"Mbak Shita?." Panggil si perias.


"Iya ada Bu?." Tanya Shita.


"Itu Mas Rendra manggil nya kok Lo-Gue gitu?." Tanya si perias.


"Dia tuh orang nya gitu Bu, ngga bisa romantis, kaku lidah nya kalo ngomong aku-kamu." Jelas Shita.

__ADS_1


"Hahaha... masa sih Mbak?." Si perias tidak percaya.


"He em, dia kalo ngomong aku-kamu bisa di hitung jari." Kata Shita lagi.


"Cowok emang gitu Mbak." Timpal perias satu nya lagi.


Pukul 07.10 rumah Rendra sudah di penuhi oleh orang.


Andi sudah mulai video call Raina.


"Ndi? Shita mana? Kok kita cuma liat Rendra?." Tanya Zarine.


"Shita nya lagi di kamar nya Rendra, riasan nya belum kelar." Jawab Andi.


"Kalian bisa masuk ngga?." Tanya Raina.


"Kalo boleh sih kita bakal masuk Rain, tapi Mak kita-kita pada jaga di depan pintu, kagak di ijinin masuk kita." Kata Andi kecewa.


"Saabar dah, bentar lagi Ijab Qobul bakal di lansana in." Hibur Panji.


Lalu... setelah Rendra membaca kan surah Ar-Rahman atas permintaan Shita, Ijab Qobul pun di laksana kan.


(Maaf ngga Author jabar kan karena ribet😂, males ribet aing😂 #AuthorGesrek).


Raina yang melihat secara live pelaksanaan nya dia menangis terharu.


"Akhir nya Adek sepupu Gua nikah sama orang yang dia cintai." Ungkap nya, Bang Rafa di sebelah nya memeluk Raina untul menenang kan.


"Gua juga ikutan terharu nih." Ujar Andi.


"Jangan nangis Ndi, ih cowok cengeng." Ledek Panji memecah momen haru mereka.


"Merusak suasana Lo Ji." Sungut Akifa.


"Hehehe... jan nangis lah Lu pada, ini hari happy, kok malah mewek sih." Kata Panji memperingat kan.


"Hem... Lo bener, ini emang hari happy nya mereka, dan kita ngga boleh ngerusak nya dengan tangisan gini." Raina berbicara dengan mengusap air mata nya.


"Eh pengantin perempuan nya dateng." Heboh Mama Rafka yang duduk di sofa.


"Widih! Cantik banget sih." Puji Zarine.


Shita duduk di sebelah Rendra. Memasang cincin nikah, Menanda tangani dokumen nikah dan terakhir, Shita mencium penggung tangan Rendra, dan Rendra mencium kening Shita.


Pak Uztad membaca kan doa untuk pengantin baru ini.


Kemudian acara di lanjut dengan sungkeman, Raina dan lain nya tak dapat membendung lagi tangis haru nya kepada 2 suami sitri yang baru sah ini.


"Kak Rain, aku minta maaf atas semua perilaku ku ke kamu, tutur kata yang kurang sopan, dan sering nyakitin kamu." Ucap Shita tulus.


"Iya Dek, aku maafin, walau kamu ngga pernah berbuat seperti itu ke aku." Balas Raina tak kalah tulus.


"Untuk kalian semua juga aku minta maaf yah." Kata Shita.


"Udah kita maafin Ta, bener kata Raina, kamu ngga pernah bikin salah sama kita kok di sini." Ujar Mama Rafka yang di angguki oleh lain nya.


"Resepsi nya nanti sore kan?." Tanya Mami Alfi mengalih kan pembicaraan.


"Iya Te, jam 2 siang kalo ngga salah." Jelas Shita.


"Kami doa kan dari sini, semoga pernikahan kalian sakinah, mawadda dan warahma, aamiin." Doa Mama Abdiel yang di aamiini oleh lain nya.


"Aamiin, makasih Te." Balas Rendra Shita.


"Aamiin." Andi Panji ikutan.


"Untuk kalian para 2 jomblo ngenes, semoga cepet di datang kan jodoh nya." Doa Akifa.


"Aamiin aja dah kalo Gua mah." Timpal Panji.


"Andi masih nunggu Dini tuh kaya nya." Kata Bang Rafa.


"Kagak ada, Gua ngga lagi nunggu siapa-siapa." Cetus Andi cepat.


"Tinggal bilang iya apa susah nya sih Ndi?." Goda Bang Idan.


"Udah ah, Gua mau makan dulu, laper." Andi pergi tak mau terlibat lagi obrolan ngawur dengan Raina dan lain nya.


"Ndi? Nitip Soto dong!." Pinta Panji.


"Ambil sediri." Seru Andi.


"Dasar anak orang!." Dengus Panji.


"Kalo bukan anak orang terus anak siapa Ji?." Tanga Abdiel.


"Mungkin aja Andi anak nya Mbak Kunti pohon mangga." Entang Panji menjawab.


"Hahaha... ." Semua orang tertawa mendengar celotehan Panji.


Sampai pada pukul 9 pagi video call.


Semua orang di rumah Rendra sibuk di dapur, ada juga yang sibuk di depan mengurus sount sistem (Bener ngga sih tulisan nya?😂).


Sedang kan pengantin baru nya? Duduk diam di kamar sambil bercanda.


"Lo kok di sini sih Dra? Ngga mau bantu in orang-orang di luar?." Tanya Shita.


"Gua yang punya hajat, masa Gua juga yang musti turun tangan." Ketus Rendra berucap.


"Yah kan partisipasi gitu maksud nya." Bela Shita.


"Ta? Lo nanti mau punya anak berapa?." Tanya tiba-tiba Rendra.


"Kenapa tanya gitu an?." Tanya balik Shita.


"Jawab aja sih, ngapain balik nanya." Jengkel Rendra.


"2 anak cukup." Jawab Shita.


"Kagak kurang tuh?." Gumam Rendra.


"Lu mau anak berapa? 11? Ya kali, kagak mau Gua, orang ngelahirin tuh susah Yang." Lembut Shita menjelas kan.


"Bikin nya enak yak." Goda Rendra.


"Pikiran Lu bikin mulu, sekarang tuh apa-apa mahal, kalo anak kita 11 Lu mampu emang? Kalo Gua jujur kagak mampu Dra." Imbuh Shita.


"Gua juga ngga minta anak 11 Ta, Gua cuma mau 2 atau 3 lah maksimal." Kata Rendra.


Tiba-tiba... .


"Hayooo loh lagi pada ngapain tuhhh?!." Seru Andi sambik mendorong pintu kamar Rendra.


"Untung Gua kagak latah kaget nya." Ucao syukur Rendra yang di angguki Shita.


"Asik bener yak pengantin baru, laki nya tiduran di paha bini nya, di elus-elus rambut nya, ck ck ck... ." Panji berdecak sambil menggelang-geleng kan kepala.


"Iri? Bilang Boss." Ejek Rendra.


"Sombong amat." Ketus Andi sambil melengos.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2