Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Eighteen


__ADS_3

Masih dihari yang sama tapi waktu berbeda.


Orang tua Zarine, Alfi, Akifa, Abdiel, dan Abhi belum pulang dari kediaman orang tua Rafka, begitu pula anak-anaknya, mereka sedang ada dimusholla rumah Rafka.


"Guys?." Panggil Akifa.


"Pa an Fa?." Tanya Alfi mewakili semuanya.


"Kita ngga bakal pisah kan? Kita bakal bareng terus kaya gini kan?." Tanya Akifa menatap Rafka, Zarine, Alfi, Abhi, dan Abdiel bergantian.


"Kenapa kamu tanya gitu Fa?." Heran Zarine.


"Yaaaa, kan bentar lagi kita bakal sibuk ama urusan sendiri-sendiri, pasti jarang ada waktu bareng." Jawab Akifa lesu.


"Ada cara buat kita ngga pisah." Kata Alfi.


"Kita kuliah aja dikampus yang sama." Sambung Zarine antusias yang diangguki Alfi.


"Iya ya, bener juga tuh! Gua setuju, Gimana menurut kalian?." Setuju Abdiel.


"Gua ikut." Kata Abhi.


"Kita ikut." Celutuk Rafka.


"Tapi Gua ngga yakin kalo Zarine bakal ikut kuliah." Celutuk Abdiel.


Semua mata memandang Abdiel heran.


"Kok bisa? Kenapa gitu?." Tanya Akifa penasaran.


"Zarine bisa aja kuliah, kalo lakinya ngga hamilin dia, ahahahaha." Kata Abdiel dengan tawa ngakaknya, yang menurut lainnya ngga lucu sama sekali.


"Iya juga sih, Lo ngga papa Za kalo ngga kuliah?." Tanya Akifa.


"Aku ngga papa, itukan konsekuensinya nikah muda." Balas Zarine.


"Lo juga bentar lagi nikah Fa, kalo hamil Lo nggak kuliah gimana?." Giliran Alfi bertanya pada Akifa.


"Gua juga gak papa, udah pusing juga ama yang namanya sekolah Gua, ahahaha." Balas Akifa enteng dengan diakhiri tawa pelan.


"Kamu beneran ikhlas?." Tanya Abdiel menatap Akifa.


"Aku ngga papa lagi Diel, bener kata Zarine, hamil muda itu resikonya nikah muda." Balas Akifa bijak.


"Kalo kalian berdua ngga ada, Gua ama siapa? Males banget bareng sama mereka bertiga." Tunjuk Alfi pada Rafka, Abdiel, Abhi.


"Terus maunya gimana? Ngga kuliah?." Tanya Abhi gemas dengan ekspresi cemberut Alfi.


"Nikah aja, terus minta hamilin sama suami Lo, mudah kan?." Celutuk Abdiel asal.


'Pletak!.'


"Wadaww!!, aduh sakit Fa, kenapa dijitak sih?!." Sungut Abdiel dengan mengusap kepalanya yang dijitak Akifa.


"Kamu tuh ngomongnya jangan asal jeplak aja." Jengkel Akifa.


Semua yang melihat kelakuan meraka berdua terkekeh geli.


"Nikah? Lo pikir cari calon kaya nyari cincin? Kalo bagus dibeli, kalo dah udah bosen dijual, ngga segampang itu Abdiel." Geram Alfi dengan kekonyolan Abdiel.


"Ngapain nyari kalo sebelah Lo ada?." Tanya Rafka spontan.


"Apa an sih." Balas Alfi dengan menunduk malu.


Pasalnya dia tau siapa yang dimaksud Rafka.


Alfi tidak mau terlalu berharap, dia mencintai Abhi udah lama, bahkan tidak tau mulai kapan?.


Alfi juga merasa perasaan dia bertepuk sebelah tangan.


"Lo mau ngga nikah sama Gua Al?." Tanya Abhi tiba-tiba.


Semuanya yang mendengar pertanyaan Abhi terkejut.


Bagaimana tidak? Dia mengucapkan kalimat itu dengan santai dan tenang (Abhi sendiri sebenernya deg-deg an).


"Apa an sih, mana ada ngajak nikah kaya ngajak makan?." Sungut Alfi dengan wajah merah malunya.


"Hahahaha parah Lo Bhi." Tawa Abdiel ngga habis pikir.


"Gua serius!." Seru Abhi tegas.


"Gua ngga bisa romantis kaya Abdiel, tapi apa yang Gua bilang tadi itu serius." Sambung Abhi.

__ADS_1


Alfi diam.


"Gua mencintai Lo Al, baik dulu, sekarang, nanti, dan in syaa allah selamanya, Gua ngga akan panjang lebar kaya Abdiel, cinta Gua bukti nyata, bukan omong doang." Jelas Abhi.


"Ouy! Lo pikir cinta Gua palsu gitu? Sembarangan aja Bambank kalo jeplak." Sungut Abdiel.


"Gua ngga bilang cinta Lo palsu, cuma-."


"Udah! Berantem aja." Lerai Akifa.


"Jawaban kamu apa Al?." Tanya Zarine.


Alfi masih diam.


"Sory Gua ngga bawa apa-apa buat ngungkapin ini, tapi kalo emang Lo mau, Gua langsung bukti in, kalo perlu kita nikah dihari yang sama kaya Abdiel." Kata Abhi.


"Gua... Gua mau... jadi... istri Lo." Jawab Alfi dengan menundukkan kepala.


"Alhamdulillah, akhirnys nyatu juga." Kata Akifa, Abdiel, Rafka, dan Zarine bersamaan.


"Makasih Al." Kata Abhi dengan memeluk Alfi erat.


'Terima kasih ya Allah, aku pikir cinta ini bertepuk sebelah tangan, ternyata engga.' Batin Alfi dengan menangis bahagia.


Dipintu musholla, semua orang tua tersenyum bahagia melihat bersatunya anak-anak mereka.


"Ehem, Abhi? Cepet kerumah, Om tunggu." Sahut Papi Alfi memecah suasana haru itu.


"Om? Sejak kapan?." Tanya Abdiel heran.


"Sejak Abhi ngelamar anak Om satu-satunya itu." Balas Papi Alfi.


"Om Tante, sama Mama Papa merestui kan?." Tanya Abhi dengan menatap orang tuanya dan calon mertuanya.


"Iya ya lah Bhi, kami semua merestui kalian." Balas Mama Alfi.


"Makasih Om Tante, Ma Pa." Ucap Abhi senang.


"Selamat buat kalian." Kata para orang tua dan teman-teman Abhi Alfi.


"Selamat juga buat 2 keluarga yang dipersatukan." Ucap mereka semua yang ada disana kepada orang tua Abhi Alfi.


"Ayo kita sholat dulu, setelah itu makan." Ajak Ayah Zarine.


6 keluarga sholat berjamaah.


"Ouh iya Ma, Pa, Bun, Yah, hari kamis tanggal 20 Mei ambil raport kesekolah." Beritahu Rafka pada orang tuanya dan mertuanya.


"Raf? Bukannya ada undangannya ya?." Tanya Abhi.


"Ketinggalan diapart, hehehe." Cengir Rafka tanpa dosa.


"Hmm ok ok, ouh ya kalian ber 6 mau liburan kemana?." Tanya Papa Rafka.


"Ngga kemana-kemana Pa, dirumah aja." Balas Rafka yang diangguki lainnya.


"Ouh iya, itu kakaknya Rafka sama Zarine ngga pulang?." Tanya Mama Akifa pada orang tua Rafka Zarine


"Ngga tau, kemarin ditanya jawabnya cuma in syaa allah." Balas Mama Rafka.


"Iya, si Rafa juga gitu, ditanya kapan pulang? In syaa allah Bun, ya udah deh ditunggu aja." Timpal Bunda Zarine.


Dipintu ruang makan mucul 2 pemuda yang tidak disadari semua orang.


"Wahhh, puding coklat pandan, Te? Bagi dong pudingnya." Kata pemuda satu.


"Makanan mulu Lo Raf." Celutuk pemuda dua.


"Abang?." Panggil Zarine dan Rafka bersamaan dengan muka terkejut.


Tak jauh beda dari Rafka Zarine, seluruh meja makan juga terkejut.


"Ya allah anak Bunda." Kata Bunda lalu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Bang Rafa kemudian memeluknya erat.


Mama Rafka juga memeluk Bang Idan erat.


"Kenapa pulang ngga ngabarin?." Semprot Bunda, Mama pada anaknya secara bersamaan.


"Surprise!!." Seru Bang Rafa dan Bang Idan kompak.


"Udah telat kali Bang." Celutuk Abdiel santai.


'Ahahahaha.' Tawa seisi meja makan, menetawai tingkah Rafa dan Zaidan.

__ADS_1


Bang Rafa, dan Bang Idan menyalami serta menyapa seluruh meja makan.


"Yuk makan dulu." Ajak Mama Rafka, pada kedua orang yang baru datang itu.


"Udah tadi Te." Tolak Bang Rafa halus.


"Tapi Rafa, mau Te kalo pudingnya, hehehehe." Kata Bang Rafa dengan cengirannya.


"Makan mulu Lo." Celutuk Bang Idan.


"Biarin." Balas Bang Rafa.


"Buset, dah tua masih aja kek anak kecil, sadar umur oy!." Seru Abdiel dengan diakhiri tawa pelan.


"Iya in aja biar seneng." Balas Bang Idan.


"Eh iya, apa kabar adek Abang yang cantik ini?." Tanya Bang Rafa dengan menyuruh Akifa menyingkir dari kursinya.


"Fa, Lo pindah gih sana, Gua mau sapa Zarine." Suruh Bang Rafa.


"Ogah." Balas Akifa.


"Jahat bat Lo, Lo udah tiap hari ama Zarine, Gua yang jauh nih kasian dikit kek?." Kata Bang Rafa memelas.


Akifa yang jengah dengan muka memelas Abang dari sahabatnya itu, memilih pergi.


"Thanks Fa, Lo makin cantik aja." Goda Bang Rafa.


"Oy?! Punya Gua itu, Gua tonjok tau rasa Lo." Sungut Abdiel marah.


"Hah?! Kalian pacaran?." Tanya Bang Idan kaget.


"Bukan pacaran, bentar lagi mereka nikah, Lo kapan Bang?." Tanya Rafka pada Bang Idan dan Bang Rafa dengan wajah mengejek.


"What?! Buset, pada nikah muda semua, kalo Lo tanya Gua kapan? Jawabannya nanti, kalo Gua udah punya calonnya." Balas Bang Rafa.


"Adek Abang apa kabar?." Tanya Bang Rafa dengan memeluk Zarine erat.


Rafka yang melihat sedikit cemburu.


Bang Rafa yang manyadari muka masam Rafka terkekeh geli.


"Ngga bakal Gua bawa pergi Raf, santai aja kali." Kata Bang Rafa lalu melepas pelukannya kepada Zarine.


Rafka memutar bola mata malas dengan meneruskan memakan pudingnya.


Sedangkan Zarine terkekeh geli melihat sifat cemburu suaminya.


"Suami kamu cemburuan Dek." Bisik Bang Rafa yang masih didengar Rafka.


Sontak saja Rafka mendelik mendengar ucapan Abang iparnya itu.


"Udah Raf, jan bangunin macam tidur." Sahut Bang Idan dengan santai tanpa melihat ekspresi adiknya yang kesal.


"Udah jangan digadain mulu, Zarine baik Bang, Abang sendiri apa kabar?." Tanya Zarine.


"Alhamdulillah sehat." Balas Bang Rafa.


"Bang Idan apa kabar?." Tanya Zarine menghadap ke arah kakak iparnya.


"Alhamdulillah baik juga." Balas Bang Idan.


Setelah lama sapa menyapa, mereka semua bersiap kemasjid untuk tarawih.


Pukul 20.00 orang tua Zarine, Alfi, Akifa, Abdiel, dan Abhi pulang.


Bang Rafa juga ikut pulang kerumah Bunda Ayah.


Dirumah kini hanya ada 5 orang saja.


"Ma? Itu beneran si Akifa Abdiel bakal nikah?." Tanya Bang Idan penasan dengan tiduran dipangkuan Mamanya.


"Iya, bahkan Abhi Alfi kayanya bakal nyusul, tadi dimushollah rumah Abhi ngelamar Alfi." Beritahu Mama.


"Kamu kapan Bang?." Tanya Papa dengan terkekeh.


"Entar deh Pa, nyari calon kan ngga mudah." Balad Bang Idan.


"Lagi pula umur Idan juga masih 21, masih muda banget." Sambung Bang Idan.


"Iya deh iya, tapi jan kelamaan jadi bujang lapuk entar kamu." Mama menimpali ucapan Papa.


Keluarga Fathan berbincang melepas rindu dengan anak-anaknya.

__ADS_1


Baru pukul 22.00 semuanya naik kekamarnya masing-masing dan tidur.



__ADS_2