Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 260


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Uhuy! Gagal mesra-mesra an deh, yang ada cuma nelen ke kecewaan." Ejek Bang Damar lagi.


"Diem kalian berdua! Udah jangan banyak omong! Ngga bilang sabar, atau apa gitu kata-kata buat nenangin temen yang lagi kecewa, eh ini malah ngolok-ngolok." Ucap Angkasa kesal pada 2 pria di samping kanan kiri nya ini.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.


Hari sudah menyentuh senin, hari yang sangat mengeri kan bagi sebagian bahkan seluruh umat manusia.


Terutama untuk anak-anak sekolah, hari senin udah kek musuh mereka.


Bangun pagi, berangkat sekolah lebih awal, upacara, kalo ngga bawa atribut lengkap di jemur di depan seluruh siswa siswi.


Seperti saat ini, sekarang ini, di SMA Merdeka.


Pagi ini seluruh umat SMA Merdeka mengada kan rutinan yaitu upacara bendera sang saka merah putih.


Yang paling menjengkel kan dari upacara, selain di jemur adalah mendengar kan amanat panjang kali lebar, kali tinggi yang di sampai kan oleh guru yang mengucap kan amanat.


Di barisan kelas 12 tepat nya di tempat 6 serangkai, mereka sudah ribut mengeluh pegal karena berdiri terus-terusan.


"Duh! Kaki Gua mau lepas anjir rasa nya!." Jerit tertahan Monic salah satu teman di kelas 6 serangkai.


"Ck! Sabar napa Mon, Lu pikir Lu doang yang capek? Gua juga pegel diri di sini lama banget!." Seru Temen di samping kanan nya yang bernama Firna.


"Bentar lagi juga bakal selesai, kalian sabar aja." Wulan ikut menimpali ke 2 teman nya yang berdiri di depan nya ini.


"Huhuhuhu.... Wulannn kagak kuat asli nih kaki Guaaa." Keluh Monic sambio sedikit menoleh kan kepala nya ke belakang, ke arah Wulan dan Kristal yang ada di belakang.


Kristal dan Wulan hanya terkekeh pelan di belakang.


Beberapa menit berlalu.


Akhir nya upacara selesai.


Semua siswa menghela nafas lega sambil berlari kecil berlindung dari sinar matahari di koridor kelas.


Ada juga sebagian siswa langsung menuju kelas masing-masing atau berlari menuju ke kantin sekedar menghilang kan dahaga atau sarapan bagi yang belum sarapan.


Kalau 6 serangkai langsung kembali ke kelas setelah Angkasa apel pagi dengan Agnez dan habis itu mengantar kan Agnez ke kelas nya.


Di dalam kelas 12 IPS 3.


"Kalian nanti kan mau rapat kan kita boleh ikut ngga sih?." Tanya Kristal pada Damar dan Albhi.


2 cowok itu saling pandang, kemudian berpikir sebentar dan lalu mengangguk kan kepala tanda menyetujui ucapan Kristal.


"Kita ber 7 ijin nanti sama guru piket, biar ngga di tulis bolos nanti di buku point, tapi nanti kalian tunggu di ruangan ku aja yah, jangan keluar-keluar, diem duduk di sana aja." Peringat Damar yang di angguki oleh 4 orang di lain nya.


"Kalau boleh tau di rapat nanti ada siapa aja?." Tanya Wulan ingin tahu.


"Ada banyak pasti nya lah Lanlan." Jawab acuh tak acuh Albhi.


"Iya tau, banyak orang tuh siapa aja tapi?." Tanya Wulan keukeuh pengen tau.


"Ada Haris nanti di sana." Balas Damar gamblang.


"Eh? Iya yah, tuh cowok ke mana? Dia ngga masuk lou ngomong-ngomong." Kata Kristal yang baru sadar bahwa pria yang suka menganggu Wulan juga Agnez itu tak masuk.


Damar, Albhi, Pamungkas, dan Angkasa melihat sekeliling kelas, celinguk kan mencari Haris.


"Bagus deh kalo dia ngga dateng, jadi nya dia ngga bakal ganggu Agnez lagi." Cuek Angkasa berucap kemudian dia bermain ponsel nya mengacuh kan sekitar nya.

__ADS_1


"Hmmm... bener kata Angkasa, alhamdulillah deh dia ngga datang." Timpal Damar yang di angguki oleh Pamungkas dan Albhi.


"Jahat banget sih kalian ber 4! Emang nya si Haris itu punya masalah apa sih sama kalian? Sampai punya dendam kesumat gitu." Tanya Wulan sambil menatap satu per satu pria yang duduk di depan, samping kiri kanan nya ini.


"Udah yah Lanlan, jangan bahas dia! Ngga penting!." Seru Albhi tak berniat menjawab omongan gadis nya.


"Huuufffhhhh... ." Kristal dan Wulan saling pandang kemudian menghembus kan nafas lelah nya sambil menepuk pelan dahi masing-masing.


Setelah lama mengobrol, kelas 6 serangkai ini pun ke datangan guru pengajar, dengan semangat, sebagian siswa menyambut guru dengan antusias, ada juga yang malas-malasan, dan ada juga yang biasa saja.


Yah begitu lah suasana kelas 12 IPS 3 ini, penuh warna.


Di sebuah rumah besar yang di huni oleh 5 orang keluarga inti dan beberapa pelayan, pagi ini rumah itu cukup ramai sebab teriakan 1 orang keluarga inti, bukan seluruh rumah yang ramai, hanya bagian kamar saja.


"Bang?!!! Kita telat!!!." Jerit seseorang dengan suara menggelegar nya, untung nya kamar ini kedap suara, jika tidak... bisa di pasti kan semua orang akan terkejut dan berakhir berlari menuju kamar itu.


"Sssstttt!!!! Diem Baby girl! Kita ngga telat, aku sengaja pasang alarm pukul 07.30 pagi biar ngga telat." Ujar Haris santai sambil masih memeluk tubuh ringkih Cindi.


Yah seseorang yang berteriak tadi adalah Cindi, dia terkejut bukan main saat melihat jam di dinding kamar, ingin bangun tapi sayang nya peluk kan Haris sangat erat susah untuk keluar dari peluk kan pemuda itu, udah seperti di lilit ular.


"Kita kesiangan Bangggg... ." Kata Cindi memberi tahu sambil menggeliat kan tubuh nya agar terlepas dari lilitan Haris.


"Ck! Baby girl? Aku udah kirim surat ijin kita, guru udah tau kalau kita ngga masuk dengan alasan ada urusan keluarga, kita tidak akan di cariin." Haris berkata masih dengan memeluk Cindi.


"Kenapa aku juga ikut-ikutan ngga masuk sekolah? Aku mau sekolah!." Ujar Cindi malah menelusup kan kepala nya di dada bidang milik Haris.


"Buat apa sekolah rajin-rajin sih? Kamu ngga capek? Udah lah nikmatin aja bolos di sini sama aku." Ajak kan sesat keluar dari mulut Haris.


"Aku tinggal sama Bang Haris hampir tiap hari cuti sekolah tanpa alasan, alasan nya udah basi lagi kalo di pake, urusan keluarga." Cetus Cindi menjawab.


"Kali ini aku beneran, kamu ikut aku rapat nanti, aku malas kalo berangkat sendiri, udah saat nya 7 serangkai lihat kamu, tau kamu, biar mereka ngga nuduh-nuduh aku sembarang se enak jidat nya." Papar Haris dengan menunjuk kan senyum manis nya pada Cindi.


Cindi tersenyum dan kembali menelusup kan kepala nya ke dada bidang Haris sambil mengunyel-unyel nya pelan.


"Sayang Bang Haris banyak-banyak." Ucap Cindi seperti gumaman, tapi sangat terdengar jelas di telinga Haris.


"Hahahhaa... masa sih? Aku ngga sayang tuh." Ucap Haris dengan jahil nya menggoda gadis cantik nya ini.


"Ya udah kalo ngga sayang juga ngga papa, aku cari yang baru." Balas Cindi acuh.


"Berani bertindak seperti itu kamu akan aku hukum big Baby, bukan kamu aja yang bakal aku hukum, tapi juga pria yang kamu dekati juga aku hukum." Tegas Haris berucap sampai membuat Cindi terpaku diam di peluk kan hangat Haris.


Merasa kan Cindi yang kaku di tempat membuat Haris tersenyum miring karena berhasil membuat Cindi ketekutan.


"Baby? Apa yang udah jadi milik aku... ngga akan aku lepasin gitu aja, sekali ku genggam tak kan ku lepas, tapi sekali ku lepas tak kan ku kejar lagi, satu hal juga yang harus kamu tau Baby, kamu itu... first love ku, paham kan Baby? Kalau kamu macem-macem di belakang aku, aku ngga akan segan-segan hukum kamu, jelas kan? Paham kan?." Tanya Haris dengan suara mengeri kan.


"I... iya aku paham." Balas Cindi dengan nada bicara tergagap.


"Hah good Baby." Ucap Haris dengan suara yang kembali normal.


'Bang Haris nyeremin orang nya kalo ngancem, tapi... ngomong-ngomong... aku... first love nya? Beneran itu? Jangan-jangan bohong lagi.' Batin Cindi bersuara.


Dari pada di landa penasaran, Cindi memutus kan untuk bertanya pada Haris.


"Bang Haris beneran itu?." Tanya Cindi pelan yang membuat alis sebelah kanan Haris terangkat ke atas.


"Beneran apa nya Baby?." Tanya Haris terus terang.


"Itu yang bilang aku cinta pertama Abang." Gumam Cindi lirih yang masih dapat di dengar oleh telinga Haris yang sensitif suara.


"Iya sayang... aku serius, aku pria yang tidak pernah berhubungan dengan wanita, di sekolah ku dulu bahkan aku di juluki pria gay karena saking tidak pernah nya berhubungan dengan wanita, aku bukan nya tidak tertarik menjalin hubungan dengan seorang wanita, tapi memang aku tidak menyukai wanita di tempat ku dulu, aku lebih suka produk lokal, dari pada luar negeri." Ucap Haris panjang lebar sambil mengecupi pucuk kepala Cindi penuh dengan sayang.


"Emmmm... ." Balas Cindi singkat.


"Kalau kamu? Siapa first love nya?." Tanya iseng Haris.


Sebener nya dia sudah tau siapa cinta pertama Cindi, hanya saja Haris iseng bertanya.


"Bang Haris sebener nya udah tau kan siapa cinta pertama nya aku? Pertanyaan itu cuma buat mancing aku ngomong kan?." Cecar Cindi yang di jawab kekehan oleh Haris.


"Hahahah... udah pinter ya sekarang, pinter nya banget malah." Puji Haris yang lebih ke ejek kan.


"Huh! Itu pujian apa ejek kan?." Sewot Cindi jengkel.


"Hahhaha... ." Tawa Haris kembali pecah memenuhi kamar.


"Jadi? Siapa first love nya Cindi?." Tanya Haris masih keukeuh ingin Cindi mengucap kan nya dari bibir tipis nya itu.


"Huh keukeuh banget sih pengen aku ngomong, iya deh iya, cinta pertama ku Bang Haris, emang siapa lagi cobak?." Sungut Cindi mengucap kan.


Pipi Cindi langsung merah mengata kan kebenaran yang sangat tak mau dia sampai kan pada Haris, tapi pemuda itu memaksa, dan ini hasil nya.


Dia malu sendiri, saking malu nya sampe-sampe dia tak mau mendongak kan kepala nya menatap Haris malah memilik menelusup kan wajah nya lebih dalam ke dada bidang Haris.


'Kruyukkkk... .'


Suara perut Cindi yang lapar terdengar di telinga Haris.


"Ayo mandi, setelah itu makan." Ujar Haris lembut.

__ADS_1


Cindi mengangkat kepala nya guna menatap Haris.


"Aku duluan atau Bang Haris dulu yang mandi?." Tanya Cindi dengan mengerjap kan ke dua mata nya yang bulat.


"Mandi bareng gimana?." Tawar Haris sambil mengedip kan mata nya menggoda.


"Dalam mimpi! Minggir!." Seru Cindi sewot, dia mendorong Haris agar menyingkir dari tubuh nya.


Dengan tawa nya yang menggelegar di seluruh kamar, Cindi pergi berlari menuju kamar mandi dan mengunci nya.


"Dasar big Baby, mana ada aku mau macem-macem, aku ngga bakal nyentuh kamu lebih dari peluk dan ciuman sebelum kita halal Baby, tenang aja." Ucap Haris sambil tersenyum manis.


Ciuman maksud Haris adalah kening, pipi, dan pucuk kepala, kalau kiss di bibir dia ngga pernah ngelakuin, masih paham batasan si Haris ini.


"Hahhh... Gua mandi di ruang kerja aja lah, dari pada nunggu si big Baby, bisa-bisa 30 menit lama nya." Monolog Haris.


Setelah itu pemuda itu turun dari ranjang dan meninggal kan kamar.


"Pagi pemalas!." Sapa Papa Haris tepat di pintu kamar Haris.


"Hmm... pagi juga Tuan Besar Andrean Candra!." Sapa balik Haris menekan nama Papa nya.


Yang di sapa balik hanya terkekeh pelan sambil berjalan meninggal kan kamar anak nya.


"Ada apa Papa ada di depan pintu kamar ku pagi-pagi?." Tanya Haris tanpa melihat sang Papa.


Papa nya Haris yang mendapat pertanyaan seperti itu dari anak nya kontan saja langsung berhenti dari kegiatan berjalan nya dan menoleh kan sedikit kepala nya ke belakang menatap anak nya dengan lirik kan ekor mata nya.


"Tidak ada, hanya ingin bertanya, apa benar kalau kamu mendapat cap jelek dari 4 pemuda generasi Adib?." Tanya Papa Haris pelan.


"Apa peduli anda? Fokus saja pada balas dendam anda, jangan peduli kan saya." Datar Haria berucap, dia jengkel, pagi-pagi sudah membahas hal-hal sensitif begini, bikin tensi darah naik aja.


"Jawab Papa dengan sopan Haris, Papa serius." Seru Papa Haris sambil membalik kan seluruh badan nya ke arah Haris anak semata wayang nya dari istri ke dua nya.


"Iya! Benar! Aku mendapat cap jelek dari mereka! Puas?!." Sewot Haris sambil menoleh kan muka nya ke arah Papa nya kemudian dia melengos pergi ke ruang kerja menjalan kan niat nya untuk mandi.


Ditempat nya, Papa Haris mematung sambil mengedipkan matanya 2 kali.


Lalu beliau kembali melanjutkan jalannya untuk menuju kamarnya sendiri sambil bergumam sendiri dalam hati.


'Aku yang berbuat anakku yang menuai, tapi dia tak membenciku, seharusnya aku memberikan nama baik padanya, bukan nama yang buruk dimata mereka semua.' Batin Papa Haris bersuara, beliau mulai sadar akan kesalahannya alhamdulillah, jadi pintu perdamaian makin didepan mata.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2