Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Twenty-nine


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu.


Hari ini sekolah kembali aktif.


Rafka Zarine berangkat lebih awal untuk melihat letak kelas mereka.


Didepan MaDing sekolah, Rafka sedang menelusuri letak kelas atas nama Zarine istrinya.


Didepan MaDing belum terlalu ramai karena memang hari masih pagi.


"Zarine? Ahh ketemu!." Seru Rafka.


Lalu Rafka menelusuri namanya sendiri.


"Alhamdulillah." Lega Rafka karena satu kelas dengan Zarine.


Setelah menemukkan namanya Rafka mecari nama 4 sahabatnya yang lain.


Dan Rafka mengucap alhamdulillah lagi karena mereka ber 6 kembali satu kela.


Lalu dia bergegas menuju kehadapan Zarine.


"Gimana? Kita satu kelas kan?." Tanya Zarine antusias.


"Alhamdulillah, kita ber 6 satu kelas lagi." Beritahu Rafka.


"Kelas 12 IPS berapa kita?." Tanya Zarine lagi.


"12 IPS 1." Jawab singkat Rafka dengan menggandeng tangan istrinya dan membawanya naik kekelas baru mereka.


Sampai dilantai 3 kelas 12.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka dan Zarine.


Keadaan kelas masih belum ada siswa.


Rafka Zarine langsung memasuki kelasnya dan memilih tempat duduk.


Mata Rafka tertuju pada bangku nomer 3 dari depan sebelah selatan dekat jendela.


Dia langsung membawa Zarine duduk disana.


Selang 15 menit dari Rafka duduk, Akifa, Abdiel, Alfi, dan Abhi sampai di kelas 12 IPS 1.


"Assallammu'allaikum!." Seru heboh Akifa.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka Zarine.


"Udah dari tadi kalian?." Tanya Alfi pada Rafka Zarine.


"Sekitar 15 menitan yang lalu." Jawab Zarine.


Abdiel Akifa memilih duduk didepan Rafka Zarine.


Sedangkan Abhi Alfi duduk dibelakang Rafka Zarine.


"Ouh iya, Gua punya kabar nih buat kita semua." Beritahu Abdiel dengan menghadapkan tubuhnya kearah Rafka.


"Kabar apa?." Tanya Rafka.


"Rumah kita selesainya in syaa allah akhir bulan ini, awal bulan Agustus bisa kita tempati sebenernya, tapi... ." Ucapan Abdiel menggantung.


Semuanya yang paham arah pembicaraan Abdiel hanya menghela nafas berat.


'Huufffh.'


Zarine yang tidak tau apa-apa, menanyakan maksud Abdiel.


"Tapi apa Diel?." Tanya Zarine.


"Tapi pasti Mama Papa kita ngga akan ngijinin, kan beliau belum pernah jauh lebih dari 1 minggu." Kilah Alfi.


Rafka, Abhi, Abdiel, dan Alfi, Akifa tidak mau memberi tau hal yang sebenarnya pada Zarine.


Mereka takut Zarine kepikiran bahkan bisa saja ketakutan.


"Iya Yang, apa lagi Mama ngga akan ngebolehin kita pergi dari rumah dalam waktu dekat ini." Imbuh Rafka menjelaskan.


"Ouh, ya kita nunggu waktu yang pas aja kalo mau pindah, sampai kita punya Baby mungkin." Zarine memberi pendapat.


"Saran yang lumayan." Jawab Abdiel menyahuti.


Pembicaraan soal rumah itupun berganti topik hingga membahas yang nyleneh dan lucu.


Suasana kelas makin ramai dengan kedetangan murid lainnya.


Pukul 06.41 bel berbunyi.


Seluruh murid berkumpul dilapangan sepak bola untuk melaksanakan Upacada bendera.


Upacara itu ditujukan untuk penyambutan siswa siswi baru kelas 10.


Yang dipimpin oleh Rafka.


Seluruh adik kelas lebih fokus pada pemimpin Upacara dari pada pembina Upacara.


Pukul 07.07 Upacara selesai.


Semuanya masuk kekelas masing-masing.


Untuk awal masuk sekolah seperti saat ini, proses belajar mengajar belum aktif sampai hari selasa besok.


Hari senin ini digunakan untuk pemilihan pemimpin kelas dan pengurus kelas.


Didalam kelas Rafka Zarine ricuh terjadi voting tentang pemimpin kelas.


Tapi setelah perhitungan vot, yang terpilih menjadi ketua kelas adalah Rafka, wakilnya Zarine, untuk sekretaris 1 dan 2 dipeganga oleh Abhi Alfi, dan bendahara 1, 2 ditangani oleh Akifa Abdiel.


Jam istirahat tiba.


6 sahabat itu sekarang telah ada dikantin tepatnya dimeja pojok sebelah kiri kantin.


Mereka makan dengan bercanda dan tertawa.


Seluruh murid kelas 11 dan penghuni kantin lainnya seperti penjual dan pelayan tau kedekatan 6 orang itu hanya sebatas sahabatan.

__ADS_1


Tapi bagi mereka kelas 10 kedekatan mereka seperti sepasang kekasih.


"Kakak-kakak itu sweet banget sih." Bisik siswi jarak 1 meja dari tempat Rafka.


"Kakak yang nyuapin pacarnya pake hijab itu, bukannya pemimpin Upacara tadi ya?." Tanya teman disebelahnya.


"Iya itu dia." Jawab satunya lagi.


Dan masih banyak lagi omongan yang didengar oleh 6 sahabat itu walau berbisik.


Mereka sama sekali tidak terusik selagi itu bukan ancaman untuk nyawa mereka.


Disebelah Rafka, Zarine yang tadi tertawa mendengar lelucon Abdiel, tiba-tiba terdiam.


Dia celingak celinguk menelusuri seluruh penjuru kantin, mencari seseorang.


"Kamu cari siapa Yang?." Tanya Rafka penasaran.


"Sari mana yah? Kok aku ngga liat dia?." Tanya Zarine.


Seluruh penghuni meja Zarine diam mendengar pertanyaan tentang Sari.


Masih dimode celingak celinguk.


Dari arah pintu masuk Kantin Zarine melihat Tika masuk.


"Tika?!." Panggil Zarine dengan berteriak pelan.


Tika yang dipanggil mendekat.


"Ada apa Za?." Tanya Tika.


"Aku kok ngg liat Sari? Dia kemana?." Tany balik Zarine.


"Emmmmm, Sari... dia... a.. aku ngga tau." Tika tergagap menjawab.


Zarine mengangguk-anggukan kepala pertanda mengerti.


"A.. aku pergi duduk ya Zarine, bye... ." Pamit Tika terburu-buru sebelum Zarine mengucapkan terima kasih.


"Eh? Tika terima kasih!." Teriak Zarine pelan pada Bella yang belum jauh.


Tika hanya mengangkat jempolnya pertanda iya.


Dia duduk jauh dari meja Rafka.


"Ya Allah... aku deg-deg an memjawab pertanyaan Zarine." Kata Tika.


Pasalnya dia telah diperingatkan oleh Mama Papanya untuk tak ikut campur urusan temannya itu.


Flashback 1 minggu sebelum masuk sekolah.


Mama Papa Tika tau masalah teman anaknya dari Mama Sari sendiri, beliau bercerita hal yang menimpa anaknya hingga masuk RS kejiwaan.


"Tika Sayang, kalo ada yang nanya, 'Tika, Sari mana? Kok ngga masuk sekolah?' Jawab aja ngga tau gitu ya, Mama sama Papa ngga mau kamu ikut masuk kedalam masalah Sari, ya Nak ya? Ingat pesan Mama." Kata Mama Tika.


Mama Papa Tika iba mendengar ceritanya.


Tapi akar masalah yang dialami Sari adalah dari dirinya sendiri dan karena itu Mama Papa Tika tak ingin anaknya terlibat masalah juga.


Dikantin suasana makin ramai.


20 kemudian bel masuk berbunyi.


Seluruh sekolah masuk kekelas masing-masing.


Pukul 10 pagi, bel pulang berbunyi.


Seantero sekolah berbondong-bondong untuk keluar gedung dan pulang kerumah masing-masing.


Tak terkecuali kelas 12 IPS 1.


Setelah mendengarkan pesan wali kelas, mereka keluar kelas.


Rafka, Zarine, Alfi, Abhi, Abdiel, dan Akifa berjalan kearah parkir.


Saat akan masuk Mobil ponsel Abhi berbunyi.


"Kring... ring... ring... ."


"Hallo?." Sapa Abhi.


"..."


"Bentar, Gua tanyain ama yang lain." Jawab Abhi.


"Raf? Roy ngajakin ketemuan di Cafe Pelangi, gimana?." Tanya Abhi.


"Iya in." Jawab Rafka.


Abhi kembali berbicara pada Roy ditelepon.


"Iya boleh." Beritahu Abhi pada Roy.


"..."


"Ok." Balas singkat Abhi.


"Kita udah ditunggu." Kata Abhi setelah sambungan teleponnya terputus.


"Ayo." Ajak Rafka.


"Ini para ciwi-ciwi gimana?." Tanya Abdiel.


"Ya ngikutlah!." Seru Akifa yang diangguki Alfi dan Zarine.


"Ok ayo deh." Kata Abhi.


6 sahabat itu melajukan mobil keluar gedung sekolah dan menuju Cafe Pelangi.


Sampai disana mereka langsung masuk dan melihat Roy dibangku pojok sedang melambaikan tangan, memberitau jika dia ada disana.


"Kalian para ciwi-ciwi duduk sendiri ya." Kata Abdiel.


"Idih, ngusir Lo?." Tanya Akifa sewot.

__ADS_1


"Bukan gitu Yang, pembicaraan ini agak bersifat pribadi." Jelas Abdiel yang tau Roy mengajaknya dan Rafka, Abhi bertemu untuk membahas tentang Sari.


3 perempuan itu duduk disebelah meja laki-laki namun jaraknya agak jauh.


Dimeja laki-laki, Roy membuka percakapan.


"Sebelum bahas soal Sari, Gua ucapin selamat buat Lo Abhi, Abdiel atas pernikahan kalian." Ucap Roy.


"Thanks." Jawab Abdiel dan Abhi singkat.


"Ke intinya langsung." Kata Rafka.


"Gua atas nama Sari, minta maaf ama kalian, terutama Lo Raf, Gua minta maaf sebesar-besarnya." Ucap Roy tulus.


'Huufff.' Rafka, Abhi, dan Abdiel menghela nafas dan saling pandang.


"Roy, ini bukan salah Lo, Gua emang marah sama cewek itu, tapi Gua ngga benci sama dia, ngga penting buat Gua benci ama orang, maaf Lo atas naman Sari itu Gua maafin, istri Gua juga ngga pernah dendam sama dia, lagi... Zarine itu kalo udah phobianya kambuh dan pingsan atau dibawa tidur, dia aka lupa, Lo santai aja." Jelas Rafka panjang lebar.


"Kita juga udah maafin si Medusa itu, bener kata Rafka, ngga ada gunanya dendam sama orang." Abdiel ikut menimpali perkataan Rafka.


"Medusa?." Tanya Roy.


"Hahaha, sorry Roy udah kebiasaan soalnya." Tawa Abdiel garing.


"Iya ngga papa, emang dia kaya gitu." Kata Roy.


"Lo udah ke RS?." Tanya Abhi.


"Belum sempet." Jawab Roy.


"Kita kesana bareng giman?." Tawar Rafka.


"Tapi ngga sekarang, besok aja pulang sekolah." Lanjut Rafka.


"Iya deh Gua ikut." Kata Roy.


"Kalian berdua omongin nanti sama istri kalian." Suruh Rafka.


"Iya beres." Jawab Rafka.


"Ya udah Roy, kita pamit pulang deh, kalo keterusan disini para ciwi-ciwi ngga mau pulang nanti." Pamit Abdiel yang diangguki Rafka Abhi.


Dimeja tempat Zarine, Akifa, Alfi.


Mereka ber 3 asyik makan kue dengan bercanda.


Mereka sepakat mengerjai suami-suami mereka dengan memesan menu spesial Cafe ini yang tentu saja harganya lumayan.


Rafka, Abhi, dan Abdiel menghampiri mereka.


"Wah, seru banget Bu Ibu ini, kuy pulang, apa mau nih di tinggal?." Kata Abdiel.


"Ok ayo." Jawab Akifa, Alfi, dan Zarine, mereka langsung berdiri setelah kue yang dimakannya habis.


Para suami mengikuti dari belakang.


Hingga saat hampir sampai di pintu keluar, seorang pelayan menghentikan jalan mereka bertiga.


"Mas.. mas.. tunggu." Panggil Pelayan.


"Iya?." Jawab Abdiel.


"Pacarnya tadi belum bayar." Beritahu Pelayan.


Mereka bertiga saling pandang lalu menghela nafas kasar.


"Hahahahaha." Dipojok Cafe Roy tertawa terbahak melihat ekspresi lelah Rafka, Abhi, dan Abdiel.


"Diem Lo jomblo!." Seru Abdiel.


Suasana Cafe hari ini sepi karena, memang telah dibooking oleh Roy untuk 2 jam.


Jadi mereka ngga malu untuk berteriak bahkan tertawa.


"Berapa Mbak?." Tanya Rafka.


"250.000 ribu Mas." Jawab Pelayan.


"Buset, pesen apa aja mereka?." Tanya Abdiel terkejut.


"Pacar-pacar Mas tadi, pesen menu spesial di Cafe ini." Jawab Pelayan.


"Nih Mbak." Rafka memberi uang cash pada Pelayan itu.


"Makasih Mas." Ucap Pelayan sopan.


Rafka, Abhi, dan Abdiel keluar dari Cafe menuju tempat parkir.


"Dikerjain kita **** ama bini sendiri." Kata Abdiel dengan tertawa pelan.


"Hahaha, biarain deh, ngga seberapa juga." Balas Rafka.


Lalu mereka masuk kedalam mobil masing-masing.


Didalam mobil, istri mereka tertidur dengan nyenyak dan sangat pulas.


"Capek sama kekenyangan ya? Ya udah tidur aja." Kata Rafka berbicara sendiri saat melihat istrinya tertidur disamping kursi kemudi dengan kepala kearah jendela mobil.


Rafka, Abhi, dan Abdiel pun meluncur pulang kerumah masing-masing.


-


-


-


-


-


...Bersambung......


...Jangan lupa lika & komennya😊...


...Jaga kesehatan reders☺...

__ADS_1


...Salam sayang dari ViCa😚....


__ADS_2