Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Ninety-three


__ADS_3

Mereka berdua tidak makan nasi, hanya makan dua potong roti dan segelas susu hangat.


Lalu mereka pamit pergi.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Di teras rumah Rafka Zarine keliar dengan handuk di leher mereka.


'Khemmmm... Ahhhhhh.' Zarine menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan.


"Good morning!." Sapa Abdiel Akifa, dan Abhi Alfi.


"Morning too." Jawab Rafka Zarine.


"Ayo kita ke taman kota." Ajak Akifa.


"Bang Rafa Kak Raina, sama Bang Idan Tika ngga di tunggu in?." Kata Zarine.


"Duh mereka cuma baca pesan kamu kemarin Za, ngga yakin aku kalo mereka bakal ikut." Celutuk Alfi.


"Ya udah lah ayo berangkat." Kata Rafka.


Mereka ke taman kota dengan berjalan kaki karena jarak nya cukup dekat dari rumah.


Baru 3 langkah mereka berjalan, suara teriak kan Bang Rafa dan Bang Idan menggema.


"Kira in ngga ikut." Kata Akifa.


"Ya ikut lah, di rumah mulu suntuk, kalo ikut kan banyak faedah nya." Jelas Tika.


"Ya udah ayo mulai jalan." Ucap Zarine.


Mereka kembali berjalan menuju taman, kali ini team perempuan dan team laki-laki terpisah.


"Kita nanti makan bubur yok di taman." Kata Akifa.


"Tapi aku lagi pengen Soto Ayam." Celutuk Zarine.


"Kalo pagi mending yang ada nasi nya." Nasihat Kak Raina.


"Emmm... Kak Rain bener juga, ya udah nanti kita makan Soto Ayam." Setuju Akifa.


"Belum lari, udah bahas makanan aja nih." Abdiel menyahut dari depan.


"Ya ngga papa dong, biar nanti ngga kelamaan mikir nya." Jawab Akifa.


"Iya deh iya." Abdiel mengalah dan dia terkekeh mendengar jawaban dari Akifa.


Sampai di taman kota.


"Wuhhh! Rame banget." Kata Tika.


"Iya tumben-tumbenan nih." Timpal Bang Idan heran.


Para perempuan saling lempar pandang dan tersenyum menyeringai


"Emmm... kita... para perempuan... ngga mau ikut lari deh." Ucap tiba-tiba Zarine yang di angguki oleh Akifa, Alfi, Kak Raina, dan Tika.


"Hah?!." Kompak para laki-laki terkejut.


"Te... terus kita ngapain ke sini kalo gitu?." Abdiel tiba-tiba tergagap.


"Yaaaaa kalian aja yang jogging, kita jalan-jalan aja." Celutuk Raina dan kembali Zarine, Akifa, Alfi, Tika mengangguk kan kepala nya.


'Khemmm... huufffffh.' 5 laki-laki itu kemudian menarik dan menghembus kan nafas lelah.


Kemudian mereka mengangguk menyetujui perkataan para istri masing-masing.


'Ngga lelah sekarang ngga papa, aku bakal bikin kamu lelah di rumah nanti.' Batin 5 cowok mengancam istri masing-masing.


"Ayo pergi, kenapa malah bengong dan natap gitu ke kita?, dendam sama istri tuh ngga baik tau." Kata Zarine mengingingat kan Rafka dan lain nya.


"Iya Yang... ini juga mau jalan, tapi kita mau pemanasan dulu." Ucap Rafka lalu mereka pun mulai melakukan gerakan-gerakan pemanasan.


10 menit kemudian mereka semua mulai melakukan lari-lari kecil berkeliling taman.


Dan para perempuan berjalan pelan sambil tertawa cekikikan.


Para laki-laki berlari pelan ada di belakang para istri masing-masing.


"Ini kita kenapa ngikutin mereka?." Tanya Abdiel.


"Takut hilang." Jawab Bang Idan.


"Takut di lirik orang." Jawab Abhi.


"Takut jatuh." Jawab Bang Rafa.


"Takut Za pengen jajan, dia ngga bawa uang soal nya." Itu jawaban panjang dari Rafka.


"Cuma alasan Rafka yang yang nyambung, alasan lain nya di luar nalar." Celutuk Abdiel.


"Dan Lo?... kenapa ngikutin mereka." Tanya Bang Rafa sambil melirik Abdiel.


"Gua sebenernya ngikutin kalian, ngga enak kalo lari sendiri." Begitu lah jawaban santai Abdiel.


"Ngga ngikutin Akifa?." Tanya Abhi.


"Buat apa?, Gua percaya sama dia, dia juga udah dewasa ngga mungkin bakal ngelakuin hal-hal yang kalian buat alasan tadi." Jelas Abdiel.


Semua laki-laki itu diam dan hanya mengangguk kan kepala nya.


Dan benar saja dugaan Rafka, Zarine dan lain nya berhenti di kedai penjual nasi ketan.


"Tuh kan, bilang nya nanti mau makan soto, tapi malah makan ketan di sini." Celutuk Rafka.


"Udah lah, cuma makan ketan doang ngga bakal buat Lo bangkrut juga." Kata Bang Idan.


"Ini bukan masalah bangkrut ngga bangkrut, tapi ini masalah nya kalo Za makan itu, nanti ngga mau makan lagi, sedangkan ketan itu kan cuma cemilan." Jelas Rafka di rundung khawatir.


"Udah lah ayo lanjut lari, Lo kasih uang sana sama Za, dia bakal makan nanti percaya deh sama Gua." Suruh Bang Idan.


Rafka pun mangangguk, lalu berjalan ke arah Zarine.


"Yang?, ini uang nya, kamu kan ngga bawa uang tadi dari rumah." Kata Rafka sambil berbisik dan menyerahkan uang pecahan.


"Oh iya lupa, makasih Yang, kamu mau ini?, enak banget loh." Tawar Zarine.


"Engga deh kamu makan aja, aku mau lanjut lari, bye, love you." Pamit Rafka sambil mengecup pipi kiri Zarine kemudian berlari menjauh.


Sedangkan Zarine melanjutkan makan ketan nya.


Rafka dan lainnya melanjutkan lari pagi nya yang tertunda.


Di tempat Zarine, Akifa, Alfi, Tika, dan Kak Raina.


Ada 2 orang, laki-laki dan perempuan menyapa mereka.


"Hai, fokus bener sama ketan nya." Sapa sang perempuan.


"Sari?!." Pekik senang Zarine dan Tika.


Sari dan Roy pun ikut duduk berkumpul dengan Zarine juga lain nya.


"Kamu apa kabar?." Tanya Zarine sambil memeluk Sari.


"Alhamdulillah sehat wal'afiat." Jawab Sari.


Mereka lalu terlibat obrolan seru, dan keberadaan Roy sama sekali tak di anggap oleh mereka semua.


'Dasar perempuan, kalo udah kumpul satu spesies nya aja, udah kek kambing congek Gua di sini.' Batin Roy menggerutu.


"Emmm... Yang? Aku mau cari Rafka sama yang lain dulu ya, kamu tunggu sini sama mereka, ok?." Pamit Roy oada Sari.


"Iya ok, pergi aja sana." Sari semakin mengusir.


'Buset di usir Gua, Ya Allah... iya deh iya.' Roy mendengus pelan dan kemudian pergi mencari Rafka dan lain nya.


"Sar, Lo sama Roy kapan nikah?." Tanya Alfi.


"Hehehehe... tunggu kabar aja deh, kalo udah siap, aku sendiri nanti yang bakal sebar undangan ke rumah kalian masing-masing." Kata Sari sambil tersenyum bahagia.


"Bener ya? Janji." Kata Tika.


"In syaa allah." Jawab Sari.


"Oh iya Sar, kenalin, ini namanya Kak Raina istri nya Bang Rafa." Kata Zarine memperkenalkan.


"Aku udah dari tadi sebenernya mau tanya Kakak ini, tapi malah ke asikan ngobrol sama kalian sampa lupa, hehehe." Kata Sari di akhiri dengan kekehan nya pelan.


Zarine dan lain nya hanya nyengir kuda sambil menggarul tengkuk leher nya yang tak gatal.


"Hai Kak Rain, aku Sari." Kata Sari sambil mengangkat tangan nya mangajak Kak Raina berjabat tangan.

__ADS_1


"Halo, aku Raina." Balas Kak Rain menyambut tangan Sari ramah.


"Ouh iya bahas soal nikahan, aku mau tanya ini pribadi sih sifat nya." Kata Sari dengan volume suara yang mengecil.


"Kamu mau tanya soal malam per... uhmm." Belum selesai Akifa berbicara, mulut nya sudah di bekap dengan telapak tangan Tika.


"Huts! Jangan keras-keras." Seru Sari, pipi dia sudah memerah bak tomat menandakan bahwa Sari tengah di landa malu.


"Ok ok, kamu mau tau soal malam itu?." Tebak Akifa dengan suara berbisik.


Sari mengangguk pelan.


Zarine, Akifa, Alfi, Tika, dan Kak Raina saling melempar pandang.


"Kita cerita mulai dari Kak Rain dulu." Putus Alfi.


Semua mata mengarah ke Raina duduk.


"Ehem... jujur aku sebenernya malu kalo di tanya soal ini, tapi karena... ah udah lah aku mulai cerita aja, gini Sari... sebelum aku jawab pertanyaan kamu yang buat aku malu sendiri, jawab dulu pertanyaan ku." Panjang Kak Raina berucap.


"Pertanyaan apa Kak?." Tanya Sari.


"Kamu mau jawaban bohong atau jawaban jujur nih?." Tanya Kak Rain.


"... ." Sari tak bersuara.


"Kalo jawaban bohong nya apa?." Kepo Sari.


"Kalo jawaban bohongnya, malam itu enak." Kak Raina menjawab dengan pipi bersemu merah malu.


"Kalo bohong nya enak, jujur nya sakit dong?." Pekik Sari pelan.


"Aku jujur ya, memang awal nya sakit, tapi kalo terbiasa mungkin kamu bakal minta lebih." Akifa ikut berbicara.


"Uhhhh omongan Lo bikin Gua malu sendiri Mak Ipah." Kata Tika.


6 perempaun di kedai nasi ketan ini menutupi wajah nya dengan telapak tangan dan memekik pelan menyebut nama Allah.


Orang-orang di sekitar mereka menatap dengan pandangan aneh sambil menggelengkan kepala nya pelan.


5 menit bertingkah aneh, 6 perempuan itu pun dapat menetral kan diri lagi.


"Kita pergi kuy, nunggu di kursi taman aja." Ajak Kak Rain.


"Ayo." Seru Zarine dan 3 cewek lain nya kompak.


Mereka berdiri dari duduk, membayar makanan, kemudian pergi dari kedai nasi ketan itu.


Sampai di kursi taman.


"Kita beli in suami kita minum dulu kuy, kasian habis lari pasti capek kan." Kata Akifa.


Zarine dan lain nya setuju dan pergi membeli air mineral, lalu kembali ke kursi taman.


"Emmm... aku boleh tanya lagi ngga soal yang tadi?." Kata Sari.


"Boleh tanya aja, tapi jangan tanya soal malam itu ya, malu sendiri jadi nya." Kata Zarine.


"Iya engga bakal tanya malam itu deh." Jawab Sari.


"Zarine nikah udah hampir 2 tahun, dan kalian berdua nikah udah hampir satahun, untuk Kak Rain kan baru 1 bulan yang lalu, untuk Zarine, kamu udah siap kah jadi Mama Muda?." Tanya Sari.


Sebelum menjawab pertanyaan Sari yang lumayan berbobot, Zarine tersenyum manis.


"Dengan aku menikah muda, berarti aku udah siap sama yang namanya jadi Mama Muda, aku ngga akan menyesali keputusan ku ini, apa lagi suami aku sayang banget sama aku, jadi aku siap-siap aja kalo di titip in seorang baby di pernikahan ku dan Rafka." Jawab Zarine.


"Kalo kalian bertiga?." Tanya Sari sambil menatap Akifa, Alfi, Tika.


"Gua malah pengen banget bisa ngerasa in perut buncit dan tendangan-tendangan kecil dari si Baby." Jawaban Akifa.


"Siap banget kalo Gua mah." Lantang Alfi menjawab.


"Aku siap!." Seru Tika antusias.


"Kenapa aku ngga di tanya?." Kak Raina cemberut dengan memajukan bibirnya macam bebek😂.


"Kak Rain kan udah cukup umur kalo nikah, jadi untuk punya Baby udah siap banget." Jelas Sari.


"Hehehe aku cuma bercanda lagian." Cengir Kak Raina menjawab.


"Dan ini untuk kamu Tik, apa alasan kamu nerima Bang Idan?." Tanya Sari, ini yang membuat dia penasaran setelah mendengar Tika menikah dengan Bang Idan.


"Emmm... karena dia ganteng." Jawab Tika mantab setelah lama berpikir.


"Itu alasan klasik." Celutuk Akifa.


"Iya, kasih kita alasan lain nya." Pinta Sari.


"Ok ok... karena dia kaya, hahaha." Jawab Tika dengan tertawa jahat.


"Ngga cocok Lo ketawa kek gitu." Kata Akifa dengan mengusap wajah Tika kasar.


"Masa sih?." Akifa mencium telapak tangan nya sendiri.


"Mana?, engga ada Ketiak, tangan Gua wangi tau bau handbody." Sambung Akifa.


"Hahahaha." Tika tertawa kecil karena berhasil menjahili Akifa.


"Guys? Balik ke topik, aku tanya serius loh Tik." Frustasi Sari karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Ok aku jawab kali ini serius, alasan kenapa aku nerima Kak Zaidan karena diaa... ngga ada alasan, ouh karena aku jatuh cinta sama dia dari pertama bertemu." Jelas Tika.


"Bukan nya pertama bertemu kamu manggil dia Om ya?." Tanya Akifa.


"Habis nya kaya keliatan udah tua gitu, mana tau aku kalo dia masih muda." Alasan Tika.


"Hahahaha." 6 perempuan tertawa pelan mendengar perkataan Tika.


"Kalo Kak Rain? Apa alasan Kakak terima Bang Rafa?." Tanya Tika pada Raina.


"Entahlah, ngga ada alasan sih kalo aku." Jawab nya.


"Kakak ngga ada jatuh cinta gitu?." Tanya Akifa.


"Rasa itu jelas ada lah, udah dari pertama liat malah aku ngerasa in perasaan itu." Kata Kak Raina sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Cieeee." Goda Zarine dan lainnya kompak.


'Ahahahaha.' Lalu tawa ke 6 nya pun terdengar menggemah.


"Wah wah... ada apa nih sampe ketawa nya kedengeran dari jauh." Kata Roy bertanya.


Di tempat para laki-laki.


"Tumben Lo Roy ada di sini?." Tanya Rafka.


"Sari yang ngajak, kebetulan Gua juga jarang olah raga maka nya Gua setuju di ajak kemari." Jawab Roy.


6 laki-laki itu berbincang dengan berlari.


"Udahan kuy, capek bat Gua." Ajak Abdiel.


"Ok deh ayo lah." Setuju lain nya.


Mereka pergi mencari para perempuan di kedai nasi ketan tadi.


"Lah? Pada ngilang, kemana mereka?." Tanya Abdiel.


Lalu dari kejauhan terdengar suara tertawa Akifa, Alfi, Tika, dan Sari.


"Buset suara bini Lo pake toa ya Diel?." Ejek Bang Rafa.


"Entahlah, Gua juga heran, itu suara Akifa apa speaker masjid, hahaha." Kata Abdiel.


Rafka dan lain nya menghampiri 6 perempuan itu.


"Wah wah wah... happy banget yak, suara ketawanya sampe kedengeran dari jauh loh." Kata Bang Rafa.


"Masa sih?." Tak percaya Zarine.


"Iya." Jawab kompak para laki-laki.


"Ya udah lah biarin, tuh di meja buat kalian, ambil satu-satu." Kata Raina menunjuk 6 botol air mineral di meja depan mereka.


"Widih... makasih girl's." Ucap 6 laki-laki itu.


"Sama-sama." Jawab mereka.


Rafka dan lain nya menenggak hampir habis air itu.


Lalu... .


"Nah! Udah minum semua kan? Sekarang mati kita cari Soto Ayam." Ajak Zarine semangat.


"Kirain kamu udah kenyang Yang." Heran Rafka.


"Mana ada?, ketan tadi itu kan cuma camilan, aku juga cuma habis 2 piring, dan masih belum kenyang, ayo cari Soto." Ajak Zarine.


"D... du... dua piring cuma?!." Pekik Rafka dan Bang Rafa terkejut.


Pasal nya dua laki-laki itu paling tau Zarine.


Dia tak pernah makan sampai sebanyak itu, biasanya kalo sudah habis satu macam makanan sebanyak satu piring dia tak kan menambah lagi dan bilang 'sudah cukup aku kenyang' tapi sekarang?! Sungguh sulit tuk di percaya.


Zarine sudah berjalan terlebih dahulu.


Sedangkan 5 perempuan dan 6 laki-laki masih tertinggal di belakang.


"I... itu beneran istri Gua bukan sih?." Gagap Rafka.

__ADS_1


"A... Adek Gua kenapa jadi banyak makan gitu?." Tanya Bang Rafa heran.


"Kita tadi pas dia tambah satu piring lagi heran, tapi yaa udah lah yah, Zarine nya mampu ya udah deh." Jelas Akifa.


'Hemmmm... .' Semua nya heran khusus nya Rafka dan Bang Rafa.


"Oy?! Kenapa masih berdiri di sana? Ayo! Aku udah laper!." Seru Zarine sedikit berteriak.


"Ahaaha.. iya Yang kita nyusul nih!, ayo!." Rafka mengajak lain nya.


Dan di tempat penjual Soto Ayam, Zarine kembali makan dua piring Soto.


Mereka yang melihat nya hangmya melebar kan mata tak percaya dengan penglihatan nya.


Selesai makan, mereka beranjak pulang, Sari dan Roy memisahkan diri dari 5 keluarga ini.


Belum jauh dari taman, Zarine menarik tangan Rafka suami nya ke arah seberang jalan, otomatis 4 keluarga lain nya juga mengekor di belakang.


"Kita mau kemana Yang?." Tanya Rafka bingung.


"Huts! Udah kamu ikut aja." Seru Zarine.


Rafka pun diam dan hanya mengikuti langkah istri nya ini.


"Ada apa sebenernya dengan Zarine? Kenapa dia malah banyak makan melebihi porsi biasa yang dia makan?." Tanya Bang Rafa masih di rundung kebingungan.


"Apa... jangan-jangan Zarine... ." Ucapan Tika tak ia teruskan.


"Ya alhamdulillah kalo itu beneran." Seru Raina yang paham maksud dari Tika.


"Ma... maksud kalian jangan-jangan si Zarine ha... hamil?!." Kata Bang Rafa tergagap dan senyum kebahagian mulai muncul di wajah nya.


"Tapi itu hanya dugaan ku saja Kak, belum pasti." Peringat Tika.


"Semoga beneran ya allah." Doa Bang Rafa.


"Aamiin." Jawab mereka kompak.


"Kalian aamiin apa?." Tanya Zarine heran sambil mengangkat kedua alis nya.


"Engga, ngga aamiin apa-apa kok." Elak Bang Rafa cepat.


Mereka sampai di gerobak tukang bubur ayam.


Rafka juga menatap heran pada teman-teman dan Bang Rafa, Bang Idan, Kak Raina, Tika.


"Bang? Aku bubur nya satu bungkus ya." Pesan Zarine bahagia.


"Iya, di tunggu ya Neng." Kata sang penjual.


Rafka kembali melebarkan mata nya sambil menelan saliva susah.


"Yang? Kamu yakin mampu makan bubur ini? Kamu udah makan Soto habis 2 mangkok loh." Peringat Rafka pada sang istri tercinta.


"Tapi aku mau bubur." Manja Zarine.


Rafka tersenyum lalu mengelus kepala Zarine yang tertutup kerudung.


Dia pun mengangguk kan kepala meng iya kan kemauan Zarine.


4 keluarga di belakang Rafka Zarine ikut tersenyum gemas pada mereka berdua.


Selesai memasan satu bungkus bubur, mereka segera pulang kerumah masing-masing.


Sesampai di rumah, Zarine segera ke mej makan untuk memakan bubur yang di beli tadi.


"Kamu ngga mau mandi dulu?." Tanya Rafka lembut.


"Kalo aku mandi, bubur nya nanti dingin." Jawab Zarine.


Rafka hanya mengangguk membernarkan ucapan sang istri.


Dari arah pintu belakang, Bunda muncul dengan kening berpeluh keringat.


"Assallammu'allaikum Bunda." Salam Rafka Zarine.


"Wa'allaikum sallam, eh? Udah pulang aja, gimana lari nya? Seru?." Tanya Bunda.


"Yang lari cuma laki-laki nya Bun, kita cewek-cewek nya cuma duduk manis sambil ngemil." Jujur Zarine sambil di akhiri cengiran khasnya.


"Hahaha ngga papa deh meski cuma duduk doang, yang penting ikut ke taman, kalian udah sarapan kan?." Tanya Bunda.


"Udah Bun." Jawab Rafka.


"Bunda mau bubur?." Tawar Zarine.


"Engga deh, kamu makan sendiri aja, Bunda kenyang, alhamdulillah kalo udah sarapan, tapi kok... Za makan lagi? Kamu ngga ikut sarapan tadi?." Tanya Bunda heran.


"Ikut sarapan kok Bun, tapi Za masih laper." Jawab Zarine.


Bunda mengernyit kan kening dalam.


'Masih laper? Tumben Zarine makan sampe lebih dari satu makanan.' Gumam batin Bunda.


'Pasti Bunda juga heran.' Suara hati Rafka.


Sedang kan orang yang sedang di bicarakan dalam hati, malah asik dan dengan santai nya memakan bubur tanpa melihat sekitar.


'Apa jangan-jangan Za udah isi?, alhamdulillah kalo iya.' Batin Bunda seneng, beliau mengembangkan senyuman manis di bibir nya.


"Ya udah Bunda tinggal dulu ya, setelah makan kalian cepet mandi." Kata Bunda yang di angguki Rafka Zarine kompak.


"Hemmm... nyam... nyam, ini enak banget, kamu wajib coba, ayo buka mulut, aku suapin." Pinta Zarine pada Rafka.


Dia sudah mengangkat satu sendok penuh mengarah tepat pada mulut Rafka.


Dan Rafka yang sebenarnya sudah kenyang, terpaksa membuka mulut agar Zarine sang istri tak kecewa.


Lalu... .


'Hap!.' Rafka memakan bubur yang masih sedikit hangat dari suapan Zarine.


"Hem iya kamu bener ini enak." Kata Rafka.


Zarine senang dan kembali memakan bubur, sesekali dia menyuapi Rafka.


Bubur pun habis.


Mereka berdua segera ke kamar dan membersihkan diri karena sudah amat sangat gerah juga tak nyaman.


Untuk menghemat waktu, mereka berdua memutuskan untuk mandi bersama.


Ingat! Hanya mandi, tak melakukan apa pun!.


Selesai mandi Zarine melirik jam di dinding kamar.


09.10 pagi.


Dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang nya yang empuk dan nyaman.


Di sana Zarine berguling-guling hingga hampir jatuh jika saja Rafka tak menangkap nya.


"Hati-hati dong Yang." Nasihat Rafka.


Kemudian Rafka ikut duduk sambil memangku laptop di paha nya dan dia pun larut dalam huruf dan angka-angka yang ada di sana.


Zarine yang sepeti tak dianggap, dia menjahili Rafka.


Mula-mula dia memeluk pinggang nya.


Rafka diam tak menunjuk kan reaksi apa pun.


Merasa gagal, Zarine beralih menusuk-nusuk perut rata Rafka.


"Ada apa Yang?." Tanya Rafka tanpa menoleh.


"Taruh laptop nya." Pinta Zarine manja.


"Aku lagi kerja, bentar lagi ya, dikit lagi." Kata Rafka.


Mungkin karena lelah menunggu tanpa sadar Zarine tertidur dengan memeluk pinggang Rafka erat.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalo garing😢🙏


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Maaf banget kalo makin hari ceritaku ngga menarik.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.


Selamat tahun baru untuk kalian semua pembaca setia ku🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2