
Pagi ini Akifa Abdiel dan Abhi Alfi pindah sarapan ada di kediaman Rafka.
"Oy?!, kalian ber 4 ngapain ada di sini?." Tanya Rafka yang baru turun dari lantai 2 kamarnya.
"Hehehe, kita numpang sarapan." Jawab Akifa dengan cengengesan.
Rafka mengangkat alis kanannya bertanya 'kenapa?'.
"Kesiangan." Jawab Alfi dan Akifa kompak.
Kini giliran Zarine yang mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi seperti bertanya 'tumben?'.
4 orang itu menampilkan gigi putihnya.
"Tumben kesingan?." Tanya Zarine.
"Nih minta temenin liat film horor sampe jam 1 pagi tadi." Jawab Abdiel sambil menunjuk Akifa.
"Ya kan aku pensaran sama film nya, kamu juga pas filmnya udah habis ngga mau aku ajak tidur pengen nonton lagi." Sahut Akifa menyalahkan Abdiel.
Rafka Zarine saling memandang kemudian menggelengkan kepala menatap dua pasangan yang sedang saling menyalahkan itu.
"Ha?!, Lo Fs?, kenapa kesiangan?." Tanya Rafka.
"Bantu in Abhi nyari barang yang hilang, tapi sampe pukul setengah satu ngga ketemu." Jawab tenang Alfi.
"Ya udah lah Raf ngga papa kota numpang." Celutuk Abdiel.
"Hmm, sekalian sedekah ama fakir miskin." Cuek Rafka menyahut.
"Buset dah, iya in aja lah." Kata Abdiel.
Rafka terkekeh mendengar perkataan Abdiel
Dia kemudian melangkah menuju ke arah Zarine dan mengecup keningnya setelah itu ikut duduk di kursi meja makan.
"Aduh... sweet banget sih." Celutuk Akifa.
"Kamu juga mau aku gitu in?." Goda Abdiel.
"Apa an sih." Akifa menunduk malu mendengar godaan Abdiel.
"Pipi Lo kondisikan Fa." Kata Alfi ikut menggoda teman absurdnya itu.
"Udah deh ayo makan." Akifa mebgalihkan pembicaraan.
"Iya, ayo Al, Bhi makan." Ajak Zarine.
Kemudian Zarine, Akifa, dan Alfi melayani para suami mereka makan.
Rafka, Abdiel, dan Abhi tersenyum dengan mengucapkan terima kasih pada istri masing-masing
Mereka pun makan dengan tenang tanpa pembicaraan.
Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar.
Lalu pukul 06.15 mereka ber 6 pergi berangkat sekolah.
Saat Rafka Zarine masuk ke dalam mobil.
Akifa Abdiel dan Abhi Alfi ingin ikut masuk.
Tapi Rafka menghentikan langkah mereka ber 4.
"Eh.. eh.. kalian mau ngapain?!." Tanya Rafka.
"Kita mau ikut mobil Lo." Jawab enteng Abhi.
"Mobil kalian kenapa?." Tanya Zarine.
"Males nyetir Za." Jawab Abdiel.
Rafka memutar bola mata malas.
"Ayo." Ajak Rafka.
Mereka ber 4 masuk ke dalam mobil dan duduk nyaman di kursi.
'Huuffffh.' Rafka menghela nafas panjang.
Zarine terkekeh melihatnya.
"Sabar Yang." Ucap Zarine.
"Kalo sabar di sayang kamu kan?." Rafka mengatakan itu dengan mengedipkan matanya genit.
"Ish apa an sih." Zarine menunduk kan wajahnya malu.
Tiba-tiba jendela pintu belakang terbuka dan menyembul kepala Abdiel.
"Oy?!, mau sampe kapan kalian diam di sana?." Teriak Abdiel memecah keromantisan Rafka Zarine.
2 pasangan itu tersentak kaget dan kemudian masuk ke mobil.
'Dasar perusak suasana.' Batin Rafka.
Mobil pun melaju meningglkan pelataran rumah Rafka.
__ADS_1
Pukul 06.40 mereka sampai di sekolah.
Mereka ber 6 kemudian keluar dan berjalan ke kelas.
Di saat 6 serangkai melewati keridor.
Seluruh siswa siswi membicarakan sesuatu hal dengan menatap ponsel mereka dan menatap 6 serangkai secara bergantian.
Zarine menatap sekelilingnya dengan pandangan heran dan bertanya-tanya.
Begitupun Rafka dan lainnya.
Mereka semua bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya.
Dari arah depan.
Tika berlari tergopoh-gopoh menghampiri 6 serangkai.
"Hai Tik, sela-." Ucapan Zarine terpotong karena Tika menarik tangannya untuk mengikuti langkah Tika.
"Eh.. eh.. kita mau kemana?." Tanya Zarine.
"Ikut aja jangan banyak tanya dulu." Kata Tika.
Rafka Zarine dan lainnya mengkuti langkah cepat Tika ke arah kelas yang masih kosong.
"Ada apa?." Tanya Zarine setelah Tika melepas genggaman tangannya.
Tika membuka ponselnya dan menunjuk kan sebuah video.
6 serangkai menonton video itu dengan terkejut.
Tika menunjuk kan sebuah video dimana Zarine yang mendapat cekikan dari Sari kemarin sore di halaman sekolah.
Di bawah video itu ada tulisan "Karena Tidak Mendapatkan Cintanya, Gadis Berbaju RSJ Itu Menjadi Monster Gila."
Caption itu mengatakan M****onster Gila karena penampilan Sari sangat kacau dan berantakan.
Memang video itu tidak ada sangkut pautnya dengan Zarine.
Tapi melihat tatapan siswi-siswi di koridor tadi membuat hati Zarine tak nyaman.
"Udah, berita ini juga bukan menceritakan seluruhnya tentang kamu Za, jadi tenang ok." Kata Akifa menenangkan.
"Si.. si.. siapa yang sebarin?." Tanya Zarine gugup.
"Anak kelas 12 IPS 7." Jawab Tika.
"Cewek apa cowok?." Tanya Akifa.
"Cewek, yang aku tau dia benci sama Sari." Terang Tika.
"Apa satu sekolah juga tau kalo... ." Ucapan Abhi menggantung.
"Iya, jelas aja tau di video itu nyata terpampang mobil ambulans RS yang ngrawat Sari." Imbuh Tika.
"Ayo kita bantu Sari." Pinta Zarine dengan wajah penuh air mata.
Rafka yang melihat Zarine menangis langsung menariknya ke dalam dekapannya.
"Gimana caranya Yang?, kita mau nolongin gimana caranya?." Tanya Rafka dengan suara lembut pada sang istri.
"Apa seluruh sekolah tau?." Tanya Abdiel.
"Engga, para dewan guru ngga ada yang tau, dan lagi kayanya cewek itu hanya nyebarin ke muris SMA Merdeka." Jawab Tika.
'Huuffffh.'
Rafka, Abhi, Alfi, Akifa, dan Abdiel menghembuskan nafas pelan.
Zarine masih sesenggukan.
"Udahlah ayo kita masuk ke kelas masing-masing dan bersikap biasa." Ajak Alfi pada orang-orang di sekitarnya.
Mereka semua mengangguk setuju dan mulai berjalan ke arah kelas.
Di tengah perjalanan menuju kelas Zarine berbicara yang membuat 6 orang di dekatnya menatap dirinya dengan tajam.
"Andai aku ngga hadir dia pasti ngga bakal sakit kaya gini." Kata Zarine.
"Kamu ngomong apa sih Yang, udah aku bilang, ini murni salah dia, sebelum kamu datang kesini udah banyak orang yang jadi korbannya." Lembut Rafka dengan memeluk Zarine lagi.
"Iya Za, ini buka salah kamu." Timpal Tika dengan tersenyum ke arah calon Adik Iparnya itu.
"Udah kamu jangan nangis." Ucap Rafka dengan menghapus air mata Zarine lalu mengecup kedua kelopak mata Zarine lembut.
Sebelum ke arah kelas, Zarine diantar oleh Rafka ke kamar mandi.
Di sana banyak siswi-siswi menatap Zarine dengan berbagai pandangan yang sulit diartikan.
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, Zarine keluar kamar mandi dengan muka agak membaik meski bengkak di bawah matanya samar terlihat.
"Ngga usah dengerin opini orang yang jelek tentang kamu ok, mereka semua ngga tau kenyataannya, mereka cuma tau sebagian ceritanya." Lembut Rafka mengatakan kaliamat itu untuk membuat hati sang istri tenang.
Kamar mandi cewek di lantai satu sudah sepi hanya mereka berdua yang ada di sana.
Zarine yang mendapat kata-kata penenang dari snag suami menjadi sedikit bisa tenang.
__ADS_1
Rafka mengecup bawah mata Zarine lembut dan berjalan kembali ke arah kelas.
-
-
Suasana kantin saat ini tidak nyaman bagi 6 serangkai juga Tika.
Mereka ber 7 sekarang sedang istirahat dan berada di meja favoritenya.
"Kasian ya Kak Zarine, Kak Sari pantes dapat itu." Ucap salah satu siswi yang sepertinya angkatan kelas 11.
"Iya bener, biarin aja kalo bisa ngga usah sembuh tuh Kak Sari." Tambah teman di sebelahnya yang di angguki lainnya.
Mereka menggunjing Sari dan hal itu yang membuat mereka ber 7 tidak nyaman.
'Khemmmm huuffffh.' Rafka Zarine dan lainnta menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Mereka sangat tidak nyaman.
Nafsu makan mereka ber 7 juga mendadak hilang karena ucapan orang di seluruh kantin pada Sari.
"Sari emang salah dan perbuatannya bikin orang naik pitam, tapi asli yang nyebarin video itu jahatnya ngga ketulungan." Umpat Tika.
"Seharusnya kalian seneng dong dengan berita ini." Seru seseorang yang tiba-tiba berbicara menyahuti Tika dari meja kantin samping 7 orang itu.
Rafka Zarine dan lainnya menoleh ke arah suara itu.
Mereka menatap seorang cewek ber name tag Anika Purnama itu dengan intens.
"Lo yang sebarin?." Tanya Alfi tenang.
Cewek itu tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum sinisnya.
"Kenapa?." Tanya Zarine dengan nada serak menahan tangis.
"Karena dia pantas mendapat itu." Tegas Anika.
"Dia punya salah apa sama Lo?." Tanya Tika pelan.
"Dia udah berusaha ngrebut calon suami Gua." Jawab Anika dengan menatap nyalang ke depan.
"Tapi ngga harus kaya gini kan, kamu jahat banget tau." Kata Zarine dengan tangisan yang pecah.
"Lo terlalu pemaaf atau bodoh sih Za?, dia aja hampir rebut nyawa Lo dan merebut Rafka dari Lo!, jangan buta Za, di dunia itu yang namanya kejahatan apalagi yang namanya pelakor udah meraja lela, kalo sifat baik Lo berlebihan Gua yakin Lo akan mudah di tindas." Tegas Anika menjelaskan.
"Tapi dia juga manusia yang punya salah dan dosa kan?, dia juga bisa berubah kalo kita kasih kesempatan." Bela Zarine.
"Udah!, Gua ngga mau ngomong lagi, tapi yang pasti Gua akan kirim video itu ke orang-orang tertentu yang bisa bikin dia malu kalo dia sembuh nanti, Gua ngga yakin sih kalo dia bakal sembuh." Kata Anika dengan senyum mengerikannya.
Kemudian dia bangkit berdiri lalu pergi dari kantin.
Anika pergi dan membuat suasana kantin makin tak nyaman rasanya bagi 7 orang ini.
Zarine menangis dengan berusaha memendam suara tangisnya itu.
Karena melihat tatapan seluruh orang di kantin mengarah ke mereka.
7 orang itu lalu memutuskan pergi dan beralih ke atab gedung.
Di sana Zarine menumpahkan semua air matanya di dada Rafka.
Akifa, Akfi, Tika hanya bisa mengembuskan nafas lelah melihat ini semua.
Mereka semua juga memikirian perkataan Anika pada Zarine.
"Ada benernya juga si Anika." Celutuk Akifa memulai pembicaraan di tengah keheningan yang terjadi.
"Tapi cara dia balas dendam apa ngga bisa dengan cara lain?." Lesu Tika.
"Udahlah ogah bahas Gua, sekarang yang bisa kita lakuin adalah, pura-pura tuli dan pura-pura buta." Putus Alfi.
Kemudian mereka semua terdiam kembali tak ada yang berbicara.
Hanya suara senggukan Zarine yang terdengar.
7 orang itu di atab gedung sekolah sampai jam sekolah habis dengan di tandai adzan asyar yang menggena di telinga.
Setelah sholat asyar selesai, 7 orang itu pulang ke rumah masing-masing.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.