
6 serangkai dan Tika berangkat sekolah dengan satu mobil.
Lebih tepatnya menggunakan mobil Rafka yang besar.
Sampai di sekolah.
Mereka keluar dari mobil dan melangkah bersama ke kelas mereka masing-masing.
"Asli males bat sekolah." Keluh Akifa.
"Kita ngga boleh bolos Yang, bentar lagi kita ujian, kalo bolos nanti ada pengumuman apa-apa kita ngga tau." Jelas Abdiel lembut pada sang istri.
"Lagian kita sekolah ngga bakal sampe sore kok, paling-paling cuma habis sholat dzuhur kita pulang." Kata Alfi menerka-nerka.
"Semoga." Harap Akifa.
Tika berjalan di belakang 6 serangkai.
Pandangan dia tidak fokus ke jalan.
Dia fokus ke seorang gadis yang yang berjalan dengan temannya, Tika duga ia adalah murid baru, kedua gadis itu berjalan tidak jauh dari jaraknya dan 6 serangkai.
"Murid baru nih kayanya." Gumam Tika.
Gadis itu menatap lekat ke arah Rafka yang sedang bercanda dengan Zarine.
Tika mengikuti arah pandang gadis tersebut.
"Bau-bau perusak nih." Kata Tika.
Lalu si gadis berbelok ke arah yang berlawanan dari 6 serangkai dan Tika.
"Raf?, mohon hati-hati, ada yang mau ngrusak kalian lagi nih kayanya." Peringat Tika.
"Mata Lo tajam banget sih Tik bisa tau sekitar." Kagum Akifa.
"Hoho wajib dong, apalagi sama calon keluarga sendiri, makin jeli udah kek mata-mata Gua." Kata Tika.
"Lo tadi liatnya di kelas berapa?." Tanya Alfi.
"Adik kelad kita, kalo Gua perkirain, dia kelas 11 deh." Jelas Tika.
"Udah ah, jangan tuduh orang tanpa bukti, nanti jatuhnya fitnah." Kata Zarine.
"Buktinya udah ada Za, cewek itu tadi liat Rafka kaya gimana gitu, ngga bisa jelasinnya Gua." Keukeuh Tika.
"Udah ayo kita masuk kelas bentar lagi bel masuk bunyi." Putus Zarine.
Tika pasrah dengan perkataan Zarine.
Padahal dia jelas liat tadi kalo cewek itu menatap Rafka aneh, seperti orang jatuh cinta gitu.
Tika memisahkan diri dari 6 serangkai untuk pergi ke kelasnya.
Setelah masuk kelas masing-masing.
Bel berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah.
Semua siswa siswi SMA Merdeka mengikuti pelajaran dengan khusyuk.
Di kelas 11 IPS 5.
Seorang gadis sedang malamun memikirkan sesuatu.
"Bella?." Tegur teman sebangkunya.
"Huts!." Serunya lagi.
Gadis yang bernama Bella itu tersadar dari lamunannya.
Dia menoleh ke arah temannya itu.
"Apa an?." Tanyanya pada sang teman.
"Lo kenapa ngelamun sambil senyum?, jan gitu nakutin tau." Kata teman Bella yang ber name tag Zahra.
"Gua lagi suka sama seseorang." Cerita Bella.
"Widih, siapa?." Tanya kepo Zahra.
"Kak Rafka, kakak kelas kita." Jujur Bella.
Sekarang di kelas mereka sedang mengerjakan soal dan 2 gadis itu sudah selesai.
"Ka... kak... Rafka?!." Pekik kaget Zahra dengan suara pelan.
Bella mengangguk kan kepala di sertai dengan pipi yang merona malu.
"Jangan gila Lo Bell." Tegas Zahra.
"Emang kenapa?." Tanya heran Bella.
"Kak Rafka itu udah ngga single, Lo tau-." Belum selesai Zahra berbicara.
"Gua tau, dia udah punya gandengan kan?, namanya kalo ngga salah Kak Zarine, mereka hubungan udah hampir 2 tahun kan?." Bella menyerobot omongan Zahra .
"Kalo Lo tau, please jauhin aja, cari aja yang single." Suruh Zahra.
"Sebelum janur kuning melengkung, Gua masih bebas menikung Lo tau." Keukeuh Bella.
"Lo ngga tau aja Bell, temen-temennya Kak Rafka sama Kak Zarine ngga bakal biarin Lo deketin Kak Rafka, apalagi yang namanya Kak Alfi, dia itu tempramen nya tinggi, Lo mau celaka cuma gara-gara cowok?." Beber Zahra panjang lebar.
"Gua ngga takut." 3 kata tapi membuat Zahra kesal juga khawatir dengan gadis di depannya ini.
"Ambisi dan Obsesi Lo jangan terlalu tinggi Bell, jatoh itu sakit soalnya." Peringat Zahra.
"Lo ngancam Gua?, denger yak, Gua ngga bakal nyerah gitu aja sebelum perang, dan mulai hari ini, Gua akan usaha dapetin Kak Rafka." Kata Bella.
Mereka berbicara dengan nada berbisik lirih agar tak di dengar guru.
"Terserah Lo udah lah." Pasrah Zahra.
"Tapi kalo Lo jatuh nanti, jangan pernah bilang kalo Gua ngga ingetin Lo." Tegas Zahra.
"Iya, dasar bawel." Gerutu Bella.
"Apa yang bakal Lo lakuin buat Kak Rafka?." Tanya Zahra.
"Sebelum ke Kak Rafka, Gua mau ke Kak Zarine dulu, dia penggangu di antara Gua ama Kak Rafka." Rencana Bella.
'Huuffffh.'
Zahra menghela nafas lelah.
Dia tak habis pikir dengan ambisi temannya ini.
Bella baru di SMA Merdeka pada awal bulan November kemarin.
Dia melihat Rafka di kantin yang sedang bercanda dengan Zarine.
Bella jatuh cinta pandang pertama pada Rafka.
Dan di situ lah dia berambisi akan mendapatkannya dengan cara apapun itu.
'Kaya Kak Sari aja obsesi dan ambisinya tinggi, ngomong-ngomong Kak Sari, kabar dia gimana yak?.' Batin Zahra menanyakan kabar Sari pada dirinya sendiri.
'Semoga Kak Sari bisa sembuh, aamiin ya Allah.' Doa untuk kesembuhan Sari terucap dari Zahra.
Jam istirahat telah tiba.
Siang ini 6 serangkai dengan Tika duduk di tribun basket dengan banyak mananan di samping mereka.
"Soal bahasa inggris tadi kaya materinya kelas 10 deh, iya ngga sih?." Tanya Akifa membahas soal try out.
"Emmm, kayanya sih, aku udah lupa sama materi kelas 10 apa aja." Jawab Zarine.
Di tempat lain.
Seorang gadis sedang berjalan ke arah kelas 6 serangkai.
"Bella?!." Panggil Zahra dari belakang Bella.
Bella menoleh ke arah belakang dengan mengangakat sebelah alisnya bertanya 'ada apa?' kepada sahabatnya ini.
Zahra dan Bella ini adalah sahabat dari jaman SMP dulu.
Dan saat SMA kelas 10 dulu dia sekolah di rumah neneknya, tapi bulan November kemarin dia pindah lagi bersekolah dengan Zahra karena neneknya meninggal.
"Lo mau ngapain di lantai 4?." Tanya Zahra curiga.
"Mau main ke kelasnya Kak Rafka." Singkat Bella.
"Lo masih waras kan?!, jangan gila Bell!." Seru Zahra.
Bella hanya memutar bola matanya malam.
"Dah lah males debat sama Lo, buang waktu tau ngga." Sungut Bella.
"Gua tau rencana Lo Bell, Lo mau berbuat yang engga-engga kan sama Kak Zarine?." Curiga Zahra tepat sasaran.
Bella tersenyum miring mendengar ocehan temannya ini.
"Kalo iya emangnya kenapa?." Tanya Bella.
"Jangan macem-macem Bell, Lo ngga tau marahnya 6 serangkai yang sekarang bertambah 1 anggota itu, udah jangan bertindak gak guna, ayo pergi." Ajak Zahra dengan menarik tangan Bella.
"Eh apa an sih Ra?!, lepas!!." Seru Bella dengan berusaha melepas tarikan tangan Zahra.
Zahra tak menggubris.
Dia tetap berjalan dengan menyeret Bella.
Untung keadaan koridor lantai 4 sepi, jadi mereka bebas berteriak.
"Lepas Zahra!." Seru Bella dengan menghentak kan keras tangan Zahra.
Zahra dan Bella saling tatap dengan pandangan penuh emosi.
"Lo kalo ngga mau bantu Gua, ngga usah halangin rencama Gua!." Marah Bella.
"Masih banyak cowok lain yang ngantri sama Lo Bell, ngapain Lo ngejar yang ngga pasti?!, dia sama Kak Zarine udah pacaran hampir 2 tahun Bell, Lo harus sadar itu!!." Zahra menasehati Bella sahabatnya ini dengan suara tegas keras dan penuh peringatan.
Senyum miring terbit di bibir Bella.
Dia berjalan mendekat ke arah Zahra.
Hingga jarak meraka hanya tinggal satu langkah, baru Nella berhenti.
"Mau 2 tahun pacaran lah, atau 1000 tahun lah, Gua ngga peduli, selagi Gua belum nerima atau ngeliat undangan Kak Rafka langsung, Gua ngga bakal berenti berjuang." Tegas Bella.
(Makin banyak aja macamnya perusak ya😂). #AuthornyaMunculKekJaelangkung
"Penyesalan itu adanya di belakang Bell, jangan sampe Lo ngalamin penyesalan itu." Peringat Zahra.
__ADS_1
"Khem, Gua ngga takut dan ngga akan pernah takut sama yang namanya penyesalan." Sinis Bella berucap.
"Ouh, ok kalo gitu, yang penting Gua udah bilangin Lo, sekaranh terserah Li semua deh, tapi ingat pesan Gua Bell, Lo bakal malu sendiri suatu saat nanti, liat aja, waktu bakal tunjukin segalanya!." Seru Zahra dengan suara keras.
Kemudian dia pergi dari hadapan dan dari lantai 4 itu.
"Khemm, penyesalan, Gua ngga akan mengalami itu, ngga lama lagi juga Gua bakal bisa ngedapetin si Rafka." Angkuh Bella.
Lama dia terdiam di tempat di berdiri.
Kemudian dia sadar.
"Ouh iya, tuggas mulia Gua belum terwujud." Katanya.
Bella kembali melangkahkan kakinya ke arah kelas 6 serangkai.
Masuk ke dalam kelas dan mulai mencari tempat duduk Zarine.
"Yang mana nih?." Bingung Bella.
Lalu di bangku bagian utara, nomer 3 dari depan Bella melihat tas berwarna Biru yang biasa dipakai Zarine.
"Tuh dia." Senang Bella.
Dia melangkahkan kakinya kearah bangku itu.
Lalu meletak kan sepucuk surat di lacinya.
"Ehm, Gua ngga akan menyesal pernah lakuin ini, Lo akan jadi milik Gua Rafka." Yakin Bella.
(Halunya ketinggian si Bella, hati-hati jatoh Neng, kalo jatoh sakit loh😂). #NumpangLewat😂.
"Kalo sampe dia ngga acuh sama pesan Gua, berarti Lo ngajak perang Zarine, Lo akan nyesel." Kata Bella.
Kemudian dia pergi meninggalkan kelas 12 IPS 1 itu dan kembali ke kelasnya sendiri.
Di kantin.
Dari kejauhan Zahra melihat romantisanya Rafka dan Zarine.
Zahra serba salah sendiri jika mengingat keukeuhnya Bella soal Rafka.
"Apa Gua bilangin aja sama mereka semua?." Monolog Zahra.
Dia bingung.
"Bella termasuk orang yang ngga main-main, kalo sampe di celakain Kak Zarine dan lainnya gimana?, duh pusing Gua, ini semua gara-gara si Bella!." Gerutu Zahra.
"Lo kenapa Ra?." Tanya seseorang dari arah belakang Zahra.
"Eh?!, Kak Alfi." Sapa canggung Zahra.
"Kenapa Lo berdiri?, duduk Ra, Lo bisulan di pantat yak sampe ngga duduk?." Bercanda Akifa.
"Hahaha, Kak Ifah bisa aja, ngga kok Kak aku ngga bisulan, cuma... bentar lagi aku pergi dari kantin makanya ngga duduk, permisi Kak aku pergi dulu, bye Kak." Pamit Zahra lalu dia pergi dengan berlari.
"Aneh bat tuh anak." Kata Alfi.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa dia berdiri terus liatinnya ke arah tempat kita duduk lagi." Akifa bertanya-tanya.
"Ya mungkin aja dia gemes liat si Rafka ama Zarine, liat tuh mereka lagi suap-suapan." Tunjuk Alfi.
"Hahaha, bener juga sih." Tawa Akifa.
Akifa dan Alfi berjalan ka arah tempat duduk mereka dengan tertawa.
"Kenapa?." Tanya Abhi pada sang istri setelah dia duduk di sampingnya.
"Ngga ada." Jawab singkat Alfi tak mau bercerita dan memilih lanjut makan ciloknya tadi.
Abhi beralih manatap Akifa meminta jawaban.
"Ehem, tadi di sana Zahra anak kelas 11 IPS 5 ngeliatin si Rafka ama Zarine, dia kaya diam terpaku gitu." Jelas Akifa.
Tika diam mencerna omongan Akifa.
"Liatin?." Tanya Tika pada Akifa.
"Hmm." Singkat Akifa.
Tika melamun.
'Tadi yang liatin Rafka sambil wajah malu-malu deket juga sama si Zahra, Gua harus introgasi si Zahra, dia pasti temannya si Zahra.' Batin Tika berucap.
"Oy Ketiak?!." Panggil Akifa sedikit berteriak pada Tika.
Tika terkejut.
"Asem Lo, kaget Gua Ipah, nama Gua Tika, bukan ketiak." Ralat Tika jengkel.
"Ya Lo ngapain ngelamun aje?, banyak utang Lo?, mau Gua bantu in bayarin?." Tawar Akifa dengan senyum mengejek.
"Cerewet Lo, diem ah." Sungut Tika.
"Kamu mikirin apa sih Tika?." Tanya Zarine.
"Ada deh, adik ipar ngga perlu tau, Gua cabut dulu dah, ouh iya Raf?, bayarin yak hehehe, thanks Rafka, Lo terbaik." Teriak Tila dengan berlaro menjauh dari 6 serangkai.
"Dasar kakak ipar ngga ber akhlak." Sungut Rafka.
"Hahaha, udahlah Yang bayarin aja." Ucap Zarine lembut membujuk.
"Ok, lagi pula si Tika ngga pesen banyak makanan." Tenang Rafka.
"Si Tika perut apa an sampe pesen makanan satu kantin?, ahahaha." Tawa Abdiel pecah.
'Ring... ring... ring... .' Bel masuk berbunyi.
Semua murid yanh berada di kantin berdiri dari bangkunya dan meninggalkan kantin.
-
-
-
Tebakan Alfi benar.
Sekolah bubar pukul 12.30 setelah sholat dzuhur berjamaah.
6 serangkai dan juga Tika sampai di rumah Rafka Zarinepukul 12.50.
"Assallammu-." Salam heboh Abdiel terhenti.
"Huts!!!." Seru Bang Rafa pada Abdiel.
Lalu mereka melihat ke arah Raina yang tertidur di paha Bang Rafa dengan nyenyaknya.
"Assallammu'allaikum." Salam Abdiel di gantikan dengan Akifa, dia mengucapkan salam dengan pelan.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bang Rafa.
6 serangkai duduk di sofa untuk melepas lelah dengan materi sekolah.
"Lo kapan pulangnya Bang?." Tanya Abhi.
"Tadi jam 11 siang." Singkat Bang Rafa.
"Kenapa pulang awal?." Tanya Alfi dengan senyum mengejek dan alis naik turun menggoda Bang Rafa.
Bang Rafa tak menjawab.
Dia hanya nyengir kuda.
"Jangan nyengir, gitu." Kata Abhi.
"Kaya ngga ada waktu lagi aja." Ejek Akifa.
"Hehehe, udah ah jangan di goda in terus." Lerai Zarine dengan terkekeh.
Zarine clingak clinguk melihat sekitar.
"Kemana semua orang?." Tanyanya pada Abangnya ini.
"Lagi siap-siap di rumah Abang dan Bang Idan." Jawab bang Rafa dengan membelai lembut surai hitam Raina.
"Ini Kak Raina tidur apa pingsan?, ouh iya, Kak Idan nya ikut pulang ngga?." Tanya Tika.
"Bang Idan ke pulang ke rumah kalian berdua, tasyakuran nanti diadakan di rumah kalian, Raina ngga pingsan, dia tidur habis sholat dzuhur tadi." Jelas Bang Rafa panjang lebar.
"Shita mana?." Tanya Alfi.
"Ikut ke rumah Bang Idan." Singkat Bang Rafa.
Semua mengangguk kan kepala mengerti.
"Ya udah kita pamit ke kamar dulu Bang, mau ganti baju." Pamit Rafka pada Kakak iparnya ini.
"Ya kalian ganti baju sana semuanya." Usir Bang Rafa.
6 serangkai dan Tika berganti pakaian.
Setelah itu mereka berjalan ke arah dapur untuk mengambil camilan di dapur Rafka Zarine.
"Bunda tadi masak makan siang kalian." Kata Bang Rafa dari pintu masuk dapur.
"Ok." Jawab singkat Rafka.
"Makasih udah ngasih tau Bang." Ucap Zarine dengan tersenyum manis.
"Ehem." Dehem Rafka.
"Buset, possesive amat sih si Bambank, hahaha." Bang Rafa mengejek Rafka.
Rafka menatap tajam ke arah Bang Rafa.
"Sory sory Raf, dah selamat makan siang deh buat kalian." Bang Rafa pergi dari meja makan.
"Dasar perusuh." Gerutu Rafka.
"Ngaca woy, wlekk." Bang Rafa menyembulkan kepalanya dan dengan menjulurkan lidahnya.
"Huhm, pergi sana, hus hus." Usir Rafka seperti mengusir ayam.
"Udah kek ayam aja Gua." Kesal Bang Rafa dan dia pun benar-benar pergi kembali ke ruang santai menemani Raina tidur.
Di meja makan 6 serangkai dan juga Tika makan bersama.
Pukul 15.30 ba'da ashar, acara tasyakuran terlaksana dengan hikmat dan khusyuk.
Para tetangga berkumpul duduk di tikar yang tekah di gelar di ruang tamu rumah Bang Idan dan Tika.
Pukul 16.00 acara selesai.
__ADS_1
Tetangga sudah berpamitan pulang.
Semua orang bergotong royong membersihkan ruang tamu sang tuan rumah.
30 menit membersihkan dan mengembalikan semuanya.
Semua para laki-laki terkapar lelah dan mengeluh pinggang sakit, terutama para orng tua.
"Aduh Ma, pinggang Papa encok nih." Keluh Papa Abdiel.
"Iya nih, pinggang ku juga." Kata Papa Abhi.
'Krek.' (Anggap suara pinggang yang di putar yak😂).
"Wuh." Keluh Papa Rafka.
Para perempuan dan jiwa-jiwa muda menahan tawa mendengar suara dari pinggang Papa Rafka.
"Contoh Adib sama Bram dong kalian ber tiga." Celutuk Mama Rafka berbicara pada suaminya, Papa Abdiel, dan Papa Abhi.
Semua orang cekikikan.
Papa Abdiel menatap Ayah Zarine dan Papa Tika.
"Mereka itu juga sebenarnya sakit, tapi bukan di punggung." Jelas Papa Abdiel.
"Hahaha, iya deh." Tawa Ayah Zarine dan Papa Tika bersamaan.
"Ini para orang tua mau nginep atau balik?." Tanya Bang Idan.
"Duh punggung ku, kita pulang aja deh Bang." Kata Papa Rafka.
"Pulang abis makan malam lebih tepatnya." Sahut Mama Rafka.
'Drttt... drttt... .'
Ponsel seseorang bergetar diatas meja yang ada di ruang tamu itu.
"Ponsel siapa tuh?." Tanya Abdiel.
"Punya Shita, Ta hand-." Ucapan Raina terhenti.
"Allahu Rabbi udah jatoh aja." Kata Raina.
"Capek dia pasti." Ucap Akifa.
"Ya udah lah, biar aku aja yang angkat." Ujar Raina.
Dia mengambil ponsel Shita dan mengeceknya.
Tertera nama 'Rendraaaaa.'
"Siapa?." Tanya Bang Rafa.
"Rendraaaaa." Jawab Raina dengan menunjuk kan layar ponsel Shita.
"Angkat dan speaker Rain." Antusias Mama Akifa.
"Kenapa Mama antusias banget?." Tanya Akifa.
"Hehehe penasaran aja." Jawab beliau dengan nyengir kuda.
Raina tertawa kecil lalu mengangguk meng iya kan.
Dia menerima telepon itu dan men speaker suaranya.
"Assallammu'allaikum Ta?." Sapa Rendra.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang dengan suara lirih.
Mereka tau mau Rendra mendengar suaranya.
"Ta?, besok aku ke jakarta, ada sesuatu yang pengen Gau omongin sama Lo Ta." Jelas Rendra panjang lebar.
"Habis aku-kamu malah ganti Lo-Gua, dasar aneh mereka berdua." Gerutu Akifa lirih.
"Hihihi, mereka emang gitu." Jawab Raina.
Mereka berbicara dengan suara lirih berbisik.
"Ta?, Shita?, Shita?!." Panggil Rendra sedikit berteriak.
"Shita Ayuningsih?!!." Seru Rendra.
Karena tidak dapat menahan tawa lagi.
Semua orang tertawa terbahak mendengar seruan Rendra yang gemas.
'buaahahahaha." Tawa semua orang pecah.
"Huts... huts... jangan kenceng-kenceng, Shita lagi tidur." Bunda mengenhentikan tawa.
"Rain?, kenapa Lo yang angkat?, Shita mana?." Tanya Rendra beruntun.
"Hahaha, ehem, Shita nya lagi tidur, Lo kalo mau kesini besok mau tinggal di mana?." Tanya Raina dengan sisa-sisa tawanya.
"Gua punya duit kali." Sungut Rendra.
"Gaya nya Lo mau tidur di hotel, berapa hari emnag Lo di sini?." Tanya Raina lagi.
"Kurang lebih 3 hari an lah." Jawab Rendra.
"Kamu nanti kesininya sama siapa Dra?." Tanya Mama Akifa.
"Eh?, Tante?." Kaget Rendra.
"Rain?, Lo... ." Pertanyaan Rendr menggantung.
"Hahaha iya Gua speaker." Tawa pelan Raina.
Di tempat Rendra.
"Dasar Rain gila." Umpat Rendra.
Back to tempat Raina.
"Saya kesana nya sama Panji, Andi Te." Jawab jujur Rendra.
"Naik apa ke sini Dra?." Tanya Bang Rafa.
"Kereta." Singkat Rendra.
"Lo ngga usah bilang sama Shita kalo kesini Bro, biar Gua sama temen-teman yang bakal jemput kalian di stasiun, soal tempat tinggal, Gua pinjemin apart punya Gua dah." Kata Rafka.
"Waduh jatohnya ngrepotin Gua nih, kagak usah lah Raf, Gua sama Panji, Andi ada di-."
"Gua ngga nawarin Dra, tapi merintah Lo." Potong cepat Rafka.
"Bener itu Dra, pas kita di kota kalian aja, kita di sambut baik, masa kita sebaliknya." Kata Mama Rafka.
"Tapi-."
"Rejeki ngga boleh di tolak Dra." Suara Ayah Zarine terdengar.
'Huufffh.' Rendra menghela nafas pasrah.
"Iya deh iya kita mau." Putus Rendra.
"Bagus." Kompak para orang tua terdengar di telinga Rendra.
Dia terkekeh.
"Terus soal Shita gimana?." Tanya Rendra.
"Gampang kalo itu, biar kita semua yang urus." Jawab Raina dengan tersenyum jahil yang terlihat jelas oleh orang sekelilingnya.
"Ada Udang di Balik Bakwan nih bau-baunya." Curiga Rendra tept sasaran.
"Jangan asal nuduh Lo kutil Onta!." Seru Raina.
"Iya in dah biar cepet, denger Rain, Gua ngga mau sampe dia ngambek gara-gara Lo nanti, boleh jail, asal tau batasannya." Tegas Rendra.
"Asyiapp." Jawab Raina.
"Ya udah semuanya, aku tutup dulu teleponnya, assallammu'allaikum." Pamit Rendra.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semau orang.
Telepon terputus.
"Allahu Akbar, padahal kita ketawanya lumayan keras loh tadi, tapi kok Shita masih nyenyak bahkan ngga bergerak dari posisinya." Kata Alfi.
"Dia emang gitu, mau sekeras apapun teriaknya dia ngga bakal bangun, ini salah satu yang ngga aku suka dari Shita, kalo tidur kek mayat." Sungut Raina.
"Maklum aja, dia capek seharian kerja terus, tapi bangunin gih, bentar lagi maghrib." Suruh Bunda lembut.
"Iya Bun." Jawab Raina.
Semua orang pergi dari ruang tamu satu per satu.
Raina membangunkan Shita.
Untung saja Shita cepat bangun, jiak tidak Kak Raina berencana menyiramnya tadi.
Adzan maghrib berkumandang.
7 keluarga senior, 3 keluarga junior, 2 calon pasangan serta Shita sholat berjamaah.
Selesai sholat mereka makan malam bersama.
Kemudian ba'da isya' mereka semua pulang ke rumah masing.
Rumah baru Bang Rafa Raina dan Bang Idan Tika hanya di tinggali oleh ART dan pekerja lainnya.
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1