Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 229


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA๐Ÿ™๐Ÿ™.


******************************


-


-


"Kita bahas nanti, sekarang kita lupain dulu masalah itu, jangan sampe para gadis tau." Kata Pamungkas yang di angguki oleh lain nya.


Mereka pun bersikap biasa seolah tak terjadi apa pun diruangan ini.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Para pria yang awal nya duduk berhadap-hadapan membubar kan diri duduk berbeda arah.


Dan di tangan masing-masing ada ponsel untuk meyakin kan para gadis.


Pintu ruang baca yang tertutup di buka oleh tangan lentik dan mungil milik Agnez.


"Assallammu'allaikum." Salam 4 gadis itu bersamaan.


"Wa'allaikum sallam." Balas para pria kompak.


Para gadis belum masuk ke dalam ruangan, mereka sedang menatap 4 pria yang tengah duduk di segala penjuru arah ruang baca satu persatu.


"Ada apa girl's?." Tanya Pamungkas sambil menaik sebelah alis nya ke atas.


"Kalian habis ngapain." Tanya Kristal curiga.


"Ngapain? Ngga ngapa-ngapain kok beneran deh." Jawab Damar meyakin kan.


Wulan, Kristal, dan Agnez menajam kan mata nya menatap pria mereka masing-masing.


"Beneran, kita dari tadi cuma diem-dieman, scroll IG, ama ngomong seperlu nya, kita ngga ngapa-ngapain." Albhi berkata serius di angguki oleh pria lain nya.


4 gadis itu mencari kebohongan di mata pria nya masing-masing, hanya kejujuran yang tampak di sana, di rasa apa yang di bilang Albhi benar, ke 4 gadis itu duduk membentuk lingkaran di bawah karpet berbulu.


Sebelum duduk mereka mengambil beberapa judul buku novel untuk di baca.


Ruang baca pun sunyi sepi tak ada obrolan.


Para pria yang menjaga gadis-gadis merasa bosan, pasal nya mereka memang tak terlalu suka membaca.


Bagi mereka mending baca perkembangan perusahaan dari pada buku novel, sangat membosan kan.


Tapi lain hal nya dengan para gadis, bagi para gadis, buku novel lebih menyenang kan dari pada membaca perkembangan perusahaan.


Ok kembali ke ruang baca.


Karena tak ada yang di lakukan di ruang baca, Pamungkas yang notabe nya sedikit konyol malah bermain di tangga ke lantai dua di ruang baca ini.


Kalo ada yang bertanya 'Ada lantai dua nya kah?' Maka jawaban nya adalah iya.


Tentu saja, di dalam ruang baca ini semua jenis buku ada.


Pamungkas mula-mula naik ke lantai dua, lalu dia turun dengan duduk di pegangan tangga seperti bermain perosotan.


Dia bermain sendiri, tertawa cekikikan sendiri, dan tentu saja hal konyol lain nya, dia melakukan kegiatan naik turun tangga itu beberapa kali.


Angkasa, Damar, dan Albhi menatap Pamungkas ikut cekikikan.


"Kaya nya mainan kaya Pamungkas gitu seru deh, ngikut kuy." Ajak Damar.


"Ayo lah." Balas Albhi semangat.


Dan kekonyolan yang sesungguh nya pun terjadi, di mana biasa nya 4 pria ini bersikap cool jarang senyum, malah sekarang tertawa cekikikan cukup keras.


Wulan, Agnez, Kristal, dan Kak Rain yang sedikit terganggu, mereka ber 4 mendongak kan kepala bermaksud menegur.


Tapi saat mengetahui kegitana konyol para pria, mata mereka terbelalak begitu lebar nya.


"Astaughfirullah hal adzim!! Apa yang kalian lakukan?!." Pekik Wulan sedikit keras.


Para pria yang di tanya, menatap balik 4 gadis itu dengan tatapan polos nya.


"Kita main, kalo nunggu kalian bisa-bisa sampe pukul 3 sore nanti ngga selesai, sana deh kalian baca aja kita main." Kata Albhi dengan ringan nya.


"Dah jangan mainan itu! Sini!." Panggil Wulan dengan melambai kan tangan nya.


Dengan semangat 45, 4 pria itu mendekat ke pada gadis-gadis itu.


"Ayo tidur di sini dekat kita." Kata Kristal sambil menepuk tempat sebelah nya di ikuti lain nya.


Para pria menurut, mereka tidur di sebelah gadis nya masing-masing dengan berbantal kan paha nya.


Hanya satu pria yang tak tidur dan memilih duduk di sebelah gadis nya.


"Pamungkas? Ngga ikut tiduran juga?." Tanya Kak Rain menatap berondong satu ini.


"Emang boleh?." Tanya balik Pamungkas dengan pandangan mata berbinar.


"Ya boleh aja, siapa yang mau ngelarang?." Cetus Kak Rain merasa aneh dengan pertanyaan Pamungkas.


"Tidur dengan bantal paha Kak Rain boleh kah?." Tanya Pamungkas dengan binaran mata bahagia di wajah nya.


"Ya tentu aja dong bo-, eh?!." Se akan tersedar akan sesuatu Kak Rain menghenti kam ucapan nya.


"Tidur di pangkuan aku gitu maksud kamu?." Tanya Kak Rain memperjelas.


"He em." Balas Pamungkas dengan mangangguk kan kepala cepat.


"Ma-." Belum selesai Kak Rain berucap, Wulan sudah memotong nya.


"Udah Kak ijinin aja, cuma tidur aja dari pada mereka melakukan hal konyol tadi? Udah ijinin aja." Wulan mengompori Kak Rain agar mau.


"Bener tuh Kak, udah mau aja." Timpal Kristal ikut-ikutan mengompori.


Kak Rain menghela nafas pelan kemudian terkikik geli sendiri.


Gadis berusia 22 tahun itu bukan tak paham maksud dari Wulan dan Kristal yang mengompori nya untuk mengijin kan Pamungkas tidur di paha nya, dia sangat paham kalo itu di tuju kan untuk membantu Pamungkas.


Sedari awal, saat pertemuan pertama nya dengan Pamungkas, Kak Rain sebener nya sudah bisa merasa kan bahwa Pamungkas menyukai nya.


Awal nya Kak Rain mengelak prasangka itu, ia takut salah, tapi makin ke sini, mereka makin dekat, dan dalam hati nya pun tak bisa di tampik lagi bahwa Kak Rain juga menyukai Pamungkas, berondong tampan di depan nya ini.


Tapi entah lah, semua sudah di atur oleh Allah.


Jika perasaan mereka atau salah satu di antara mereka berubah suatu hari nanti, maka ya sudah lah, begitu pikir Kak Rain.

__ADS_1


Kita kembali ke ruang baca.


"Gimana Kak? Boleh kah?." Tanya Pamungkas.


Tanpa menjawab mengguna kan kata-kata, Kak Rain mengangguk kan kepala pertanda meng iya kan.


Dengan senang hati dan penuh semangat Pamungkas berbaring di lantai berbantal kan paha Kak Rain.


Semua orang melihat itu merasa senang karena Pamungkas berhasil membujuk Kak Rain, tentu saja di bantu Wulan dan Kriatal.


Setelah drama itu, para wanita kembali membaca buku di tangan masing-masing.


Tanpa sadar, tangan para gadis mengelus dan menyisir rambut para pria yang ada di pangkuan mereka masing-masing dengan jari mereka.


Para pria yang di perlakukan manis seperti itu makin lama makin mengantuk, mata mereka berat, dan mereka pun menelusup kan kepala ke perut gadis mereka masing-masing dan tidur.


Waktu terus merangkak naik, tak terasa jam sudah menunjuk kan angkasa 14.30 siang dan yang menyadari itu adalah Agnez.


"Weee Mbak-mbak? Sudah jam setengah 3, cepet yah ndak kerasa." Ujar Agnez pelan.


"Iya ndak kerasa saking asyik nya kita baca nih buku sampe lupa waktu." Timpal Wulan.


"Buset dah! Nih cowok-cowok enak banget tidur nya! Moga-moga kagak ileran, hihihi... ." Kata Kristal bercanda.


"Emang Mas-mas kalo tidur suka ileran kah?." Tanya Agnez dengan muka polos nya.


"Alhamdulillah engga Nez, mereka meski pun cowok kalo tidur sopan, ngga mendengkur apa lagi ileran, jadi Agnez sama Kak Rain tenang aja okay, jangan takut baju nya kotor." Jelas Wulan dengan senyuman manis nya.


Agnez dan Kak Rain menjawab perkataan Wulan dengan angguk kan beberapa kali.


Suasana ruang baca hening kembali mesku sesaat.


Para gadis sibuk memandang ciptaan yang begitu indah di pangkuan masing-masing.


"Mas Angkasa tuh kalo lagi tidur gini ganteng pake banget yah, kalo bangun sebener nya ndak kalah ganteng, tapi ya gitu jahil nya maa syaa Allah, bikin orang istighfar tiap menit bahkan detik." Gerutu Agnez pelan dengan tangan nya sibuk menyisir lembut rambut Angkasa mengguna kan jari nya.


"Pamungkas juga gitu, dia lebih ke bayi lagi tidur kalo gini, hihi... gemes, saking gemes nya sampai mau buang ke laut, hahaha... ." Tawa sedikit keras mengudara dari Kak Rain di ikuti oleh 3 gadis lain nya.


"Kaka Rain gimana sih perasaan nya ke Pamungkas?." Tanya Kristal di akhir tawa nya.


"Agnez juga? Perasaan kamu ke Angkasa gimana?." Tanya Wulan sambil menatap mata Agnez dalam-dalam.


Sunggingan senyum dan tawa pelan terdengar dari 2 gadis yang sedang di tanya oleh Wulan dan Kristal ini.


"Mas Angkasa tuh lucu, Agnez ndak paham gimana perasaan Agnez sendiri, yang Agnez tau kalo deket Mas Angkasa jantung Agnez debar nya ndak normal, itu kenapa yah Mbak?." Tanya Agnez menatap Kristal, Wulan, dan Kak Rain.


'Wah berarti perasaan Bang Angkasa terbalas nih, tapi si Agnez nya ngga tau itu apa, maklum aja sih sifat dia masih kaya bocah.' Wulan berbicara dalam hati.


"Gini Nez, pertanyaan itu maaf Mbak Wulan sama Mbak Kristal juga Mbak Rain ngga bisa jawab, kamj tanya aja sama Mas Angkasa." Papar Wulan dengan wajah serius nya.


Agnez pun manggut-manggut paham.


"Kalo Kak Rain? Gimana sama Pamungkas?." Tanya Kristal menanya kan pertanyaan nya kembali.


"Liat ke depan nya aja deh, jodoh itu ngga kemana kan? Jadi yah selow aja, santai aja, santuy." Celutuk Kak Rain masih penuh ke misteriusan.


"Yah! Kak Rain main rahasai-rahasian, ngga asik ah!." Rajuk Wulan bercanda.


Kak Rain membalas nya hanya dengan kekehan pelan nya.


Tiba-tiba pintu ruang baca terbuka lebar, dan di tengah pintu menampak kan 5 wanita paruh baya yang masih cantik meski sudah berumur.


"Kalian ngapain?." Tanya Mommy Za pelan.


"Habis baca buku Momm, nih Abang-abang ngga masih belum bangun, ya gini deh jadi nya, duduk lebih lama." Curhat Wulan panjang.


"Maaaa?." Panggil Kristal pada sang Ibunda yang di balas hanya dengan mengangkat sebelah alis nya tinggi, pertanda bertanya 'Apa?.' Begitu kurang lebih.


"Kita capek." Keluh Kristak sambil menampil kan puppy eyes nya.


"Iya, tolongin dong Momm." Pinta Wulan ikut-ikutan menampak kan mata kucing nya.


"Ndak tega Ma." Jawab singkat Agnez dengan tangan nya mengusap kening Angkasa yang tertutup rambut dengan lembut dan penuh ke hati-hati an.


Wulan, Kristal, dan Kak Rain setuju dengan ucapan Agnez, mereka tak tega membangun kan para pria.


"Ya sudah kalo ngga tega, kalian di sana aja sampai mereka bangun." Acuh Mami Alfi pura-pura tak peduli.


"Mi? Tolongin dong Mi." Pinta Wulan memelas.


Dengan cekikikan geli, para wanita paruh baya itu pun akhir nya membantu para gadis yang tengah kesusahan itu.


"Ya udah kita bantu, kalian duduk anteng aja biar kami yang bangunin mereka." Ujar Mami Alfi yang di angguki antusias dan semangat oleh oara gadis.


"Anu Ma, emm... itu... Agnez minta tolong jangan keras-keras bangunin Mas Angkasa nya yah Ma." Pinta Agnez pada Mama Tika.


"Ha bener tuh Mi, jangan keras-keras." Timpal Wulan menyahut.


Kristal dan Kak Rain pun meminta hal yang sama pada Mommy Za, dan Bunda Raina.


"Siiap sayang, udah kalian semua tenang aja." Cetus para wanita paruh baya itu menenang kan para gadis.


Dengan penuh ke hati-hati an sesuai permintaan para gadis, 5 wanita paruh baya yang adalah seorang Ibu pun membangun kan anak-anak nya dengan kelembutan.


15 menut berlalu 4 pria itu akhir nya bangun dan duduk sambil mengusap-usao mata nya juga sambil meregangkan otot-otot tubuh nya yang pegal.


"Jam berapa sih emang sekarang?." Pertanyaan itu keluar dari bibir indah Bang Damar.


"Udah jam 3 kurang, liat aja tuh di dinding." Tunjuk Mommy Za pada jam dinding yang menempel dengan sangat manis dan indah nya di dinding sebelah barat.


"Ya udah ayo balik ke kamar masing-masing buat siap-siap sholat jamaah di mushollah." Ajak Pamungkas ringan.


Saat 4 pria itu akan berdiri para Ibu-ibu mencegah nya.


"Apa lagi Ma?." Tanya Angkasa.


"Tau nih Mami, orang mau mandi kok di cegah sih?." Tanya Albhi.


"Enak aja mau pergi, liat tuh gadis-gadis kalian ngga bisa berdiri, kaki nya lemes kelamaan di pake buat bantalan kepala, tanggung jawab!." Seru Mama Tika sambil menunjuk para gadis yang tengah duduk selonjoran sambil memijat paha nya masing-masing.


Paha para gadis itu memang seperti mati rasa, tak bisa merasa kan apa-apa.


Udah kek lagu nya Mpok Alfa aja๐Ÿ˜‚


๐ŸŽถMati rasa diriku


Tak bisa merasa kan apa-apa... .๐ŸŽถ๐Ÿ˜‚ (Canda mati rasa๐Ÿ˜‚).


Ok back to story.


"Ouh iya kah? Maaf kan kami, mana yang sakit?." Dengan ke khawatiran tingkat tinggi-tinggin sekali.


Para pria berjongkok di depan gadis mereka masing-masing sambil ikut memijit paha mereka.


Bukan paha mereka sih yang di sentuh, tapi tangan para gadis yang mereka sentuh.


Mereka masih punya tata krama dengan para gadis untuk tak menyentuh area terlarang, salah satu nya ya paha ini.


"Udah ngga terlalu pegel lagi kok, udah ngga papa." Ujar Kak Rain menang kan Pamungkas.


"Iya paha ku juga mendingan sekarang." Wulan ikut menimpali omongan Kak Rain.


"Ayo kita ke kamar masing-masing kalo gitu, buat siap-siap sholat." Ajak Agnez.


Para gadis mengangguk dan berusaha berdiri dengan bantuan lengan kokoh para pria.


Saat sudah bisa berdiri, kaki mereka malah tak bisa di ajak berjalan.

__ADS_1


Dan berakhir mereka hampir jatuh, jika para pria tak sigap, mungkin bibir manis mereka sudah menyentuh dingin nya lantai.


"Dah! Kalian ngga akan bisa jalan nih." Kode Mommy Za yang di pahami oleh para pria.


"Waduh terus gimana nih? Mosok iyo mau ngesot?." Kata Agnez yang masih berdiri memegang lengan Angkasa.


"Buat apa kita ada kalo kalian jalan nya masih ngesot?." Cetus Angkasa yang di angguki 3 pria lain nya.


"Hah? Maksud nya?." Kompak para wanita bertanya tak paham.


Tanpa menjawan pertanyaan para gadis, 4 pria itu menggendong gadis masing-masing ala bridal style (Bener ngga sih?).


"Kyaa!!." Pekik para gadis terkejut.


Tanpa ingin mendengar protesan para pria pun berjalan meninggal kan ruang baca mengantar kan para gadis ke kamar mereka masing-masing.


Saat akan melayang kan ucapan minta turun dari bibir mereka, para pria sudah menyela nya, bahkan para gadis baru menarik nafas dan membuka mulut nya.


"Jangan bicara apa pun kalo ngga mau aku lempar dari sini ke luar!." Seru para pria mengancam.


Para gadis kontan saja langsung kicep diam tak bersuara dan memilih mengikuti ke mau an para pria.


Itung-itung tanggung jawab karena udah buat kaki lumpuh tak bisa berjalan, bayang kan saja, dari makan jam selesai makan siang, sampai pukul 14.30 sore paha para gadis di tindih.


Sebener nya para gadis pun tau kalau omongan para pria itu hanya ancaman belaka, tapi tetap saja sangat menakut kan, para gadis sampai-sampai merinding mendengar ucapan para pria tampan yang tengah menggendong tubuh mungil mereka.


Sampai di kamar gadis masing-masing.


Di kamar Agnez.


Angkasa menduduk kan Agnez di pinggir kasur dengan sangat hati-hati.


"Terima kasih Mas Angkasa." Ucap Agnez tulus dari hati nya.


"Iya, sama-sama, apa sih yang engga buat kamu, tapi aku beneran minta maaf soal paha kamu itu, maaf banget yah." Kata Angkasa penuh penyesalan, raut wajah nya bahkan sanhat sedih.


"Ndak papa Mas, udah ah jangan sedih gitu muka nya, entar ganteng nya ilang loh." Hibur Agnez di iringi elusan lembut di rambut Angkasa kemudian tangan lembut Agnez mengusap pipi Angkasa.


Pria nya Agnez itu memejam kan mata nya menikmati elusan tangan lembut yang Agnez beri kan.


"Dah sekarang Mas Angkasa balik ke kamar sana, bentar lagi kita mau sholat ashar jamaah." Suruh Agnez dengan lembut di iringi senyum manis nya.


Angkasa menghela nafas malas mendengar perintah Agnez, ia sebener nya tak mau beranjak dari kamar Agnez, tapi memang tak mungkin Angkasa terus berada di sana.


Mau ngapain kalo Angkasa menetap? Kecuali kalo Angkasa suami dari Agnez, itu tak masalah, ini jangan kan suami, pacaran aja engga.


"Ya udah aku balik ke kamar dulu, kamu kalo butuh bantuan aku telepon aja ok?." Ujar Angkasa yang di balas angguk kan kepala pelan oleh Agnez.


Angkasa pun berdiri dari posisi jongkok nya, lalu dia melangkah kan kaki nya keluar kamar.


Sepeninggalan Angkasa, Agnez berniat ke kamar mandi, saat di bawa berdiri tanpa menyanggah, paha Agnez gemeteran.


"Ini kalo di diemin terus bisa-bisa ndak sholat ashar aku nanti, haduh Allah!." Agnez pun berusaha agar bisa berjalan ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian, dia sudah sampai dalam dan langsung mandi.


Pukul 15.25 semua penghuni rumah Daddy Rafka dan Mommy Za baru saja melaksana kan ibadah sholat ashar.


Saat ini para tetuah sedang duduk di teras, sedang kan para muda-muda tengah bermain di halaman rumah.


Tertawa terbahak-bahak bersama.


Para tetuah yang melihat ikut tertawa walau tak tau apa yang para muda-muda bicara kan.


"Ouh iya Raf? Itu rumah baru orang tua Agnez sama punya Rain gimana?." Tanya Ayah Rafa.


"Semua nya beres, kalo mau tanya lebih detail nya langsung aja ke Papa Zaidan." Daddy Rafka melempar semua jawaban kepada Papa Zaidan.


"Semua nya udah selesai kok Fa, orang tua Agnez setuju mau tinggal di rumah yang aku saranin, besok beliau berdua bakal pindah ke sini, jadi dekat ama kita dan kita bisa awasin sekalian, tinggal kita harus bilang ke Rain sekarang." Ujar Papa Zaidan sambil menatap Ayah Rafa.


"Tunggu-tunggu, kenapa kalian ngga runding sama kita kalau mau mindahin orang tua Agnez sama Rain ke sini?." Tanya Mama Tika yang di angguki oleh para Ibu-ibu lain nya.


Para pria menatap para wanita dengan tatapan sulit di arti kan, antara takut dan bahagia.


Takut nya karena takut di marahi, bahagia karena berhasil membuat para wanita terkejut, karena memang kepindahan orang keluarga Agnez, dan Kak Rain itu kejutan.


"Kami sebelum nya minta maaf karena ngga bilang dulu, tapi asli kepindahan mereka kami lakukan agar mereka semakin terawasi, ingat kan kalo Andre mulai mengincar kita terutama anak-anak kita, Agnez dan keluarga nya dan Kak Rain juga sekarang bagian dari kita, jadi haru ekstra ketat penjaga an." Jelas Ayah Rafa panjang lebar.


"Jangan marah yah." Ucap Papa Zaidan pada Mama Tika.


5 pria paruh baya itu menunduk siap menerima semprotan.


"Ngga papa kok, kita ngga marah, kita malah seneng." Ucap Mama Tika di angguki Ibu-Ibu lain nya dengan senyuman manis mereka terpatri indah di bibir.


"Tapi tinggal satu nih kerjaan kita." Cetus Bunda Raina.


"Apa?." Tanya lain nya kompak.


"Gimana cara nya biar Ksk Rain mau pindah, itu yang harus kita pikirin." Kaya Bunda Raina.


"Kita omongin yang se jujur-jujur nya aja, apa susah nya, jangan bohong, kita omongin aja se jujur-jujur nya." Jawab serius Ayah Rafa.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk๐Ÿ˜.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf kalo garing๐Ÿ˜ข๐Ÿ™.


Maaf typo di mana-mana๐Ÿ™๐Ÿ˜ข.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan๐Ÿ˜ข.


Maaf gantung cerita nya๐Ÿ˜‚.


Di lanjut besok ya readers๐Ÿ˜‚.


Jangan marah karena di gantung yak guys๐Ÿ˜‚.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah๐Ÿ™๐Ÿ˜Š.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa๐Ÿ˜.


__ADS_2